Csr Retinopati Diabetikum

download Csr Retinopati Diabetikum

of 32

  • date post

    01-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    91
  • download

    10

Embed Size (px)

description

retinopati

Transcript of Csr Retinopati Diabetikum

BAB ITINJAUAN PUSTAKA

1. Anatomi dan Histologi RetinaRetina adalah lembaran jaringan saraf berlapis yang tipis dan semitransparan yang melapisi bagian dalam dua per tiga posterior dinding bola mata, yang berhadapan dengan vitreus, dan membentang ke anterior dan berakhir pada ora serrata dengan tepi tidak rata (Gambar 1).6 Retina mempunyai ketebalan 0,1 mm pada ora serrata dan 0,56 mm pada kutup posterior. Pada dewasa, ora serrata berada 6,5 mm di belakang garis Schwalbe pada sisi temporal dan 5,7 mm pada sisi nasal.6

Gambar 1.1 Anatomi Retina

Retina terdiri dari 10 lapisan. Berikut lapisan retina dimulai dari sisi dalam adalah sebagai berikut:61. Lapisan membran limitan internaLapisan membran limitan interna merupakan lapisan paling dalam yang membatasi retina dengan vitreus. 2. Lapisan serat saraf dari sel ganglionLapisan serat saraf dari sel ganglion mengandung akson-akson sel ganglion yang nantinya melewati lamina kribosa menuju ke nervus optikus.3. Lapisan sel ganglionLapisan sel ganglion terdiri dari badan sel ganglion. Ganglion terdiri dari dua tipe yaitu midget ganglion cell dan polysynaptic ganglion cell. Midget ganglion cell terdapat pada makula, sedangkan polysynaptic ganglion cell terdapat pada bagian perifer 4. Lapisan flexiform dalamLapisan flexiform dalam mengandung sambungan sel ganglion dengan sel bipolar dan sel amakrin.5. Lapisan inti dalamLapisan inti dalam mengandung badan sel bipolar, amakrin, dan horizontal.6. Lapisan flexiform luarLapisan flexiform luar mengandung sambungan antara fotoreseptor dengan sel bipolar dan sel horizontal.7. Lapisan inti luar sel fotoreseptorLapisan inti luar sel fotoreseptor terdiri dari inti sel batang dan kerucut.8. Lapisan membran limitan eksternaLapisan membran limitan eksterna merupakan membran yang dilewati oleh sel batang dan kerucut. 9. Lapisan fotoreseptorLapisan fotoreseptor terdiri dari sel fotoreseptor batang dan kerucut yang merupakan end organ penglihatan. Sel batang terdiri dari rhodopsin dan berfungsi untuk penglihatan perifer serta penglihatan pada iluminasi yang rendah (scotopic vision). Sementara itu, sel kerucut lebih berespon pada penglihatan sentral (photopic vision) serta warna.10. Epitel pigmen retinaEpitel pigmen retina merupakan lapisan terluar yang terdiri dari selapis sel berpigmen. Lapisan ini melekat dengan lamina basalis (membran Bruch) dari koroid. Epitel pigmen retina bertanggung jawab untuk fagositosis segmen luar fotoreseptor, transportasi vitamin, mengurangi hamburran sinar, serta menjadi sawar selektif antara koroid dan retina. Gambar 1.2 Lapisan Retina

Di tengah-tengah retina bagian posterior terdapat makula dengan diameter 5,5-6 mm. Secara klinis, makula merupakan daerah yang dibatasi cabang pembuluh darah retina temporal, sedangkan secara histologi merupakan bagian retina yang ketebalan lapisan sel gangglionnya lebih dari satu lapis. Secara anatomis, makula merupakan daerah berdiameter 3 mm yang mengandung pigmen lutel kuning xantofil.6 Pada makula, terdapat fovea, daerah avaskuler retina pada fluoresens dengan diameter 1,5 mm. Pada daerah ini, terdapat penipisan lapisan inti luar akibat akson-akson sel fotoreseptor yang berjalan miring (lapisan Henle). Pada fovea tidak ditemukan sel batang sedangkan sel kerucutnya tebal, berbeda dengan retina bagian perifer yang lebih banyak ditemukan sel batang. Di tengah fovea, 4 mm dari diskus optikus, terdapat foveola yang berdiameter 0,25 mm, yang dengan oftalmoskop tampak cekukan yang menimbulkan pantulan khusus. Sel kerucut pada area ini besar dan dibatasi membran limitan interna, sedangkan lapisan retina lain tidak ada (Gambar 3). Di foveola, terdapat hubungan hampir 1:1 antara fotoreseptor kerucut, sel ganglionnya, dan serat-serat saraf yang keluar, sedangkan pada retina bagian perifer, beberapa fotoreseptor dihubungkan pada sel ganglion yang sama.6

Gambar 1.3 Anatomi dan Histologis Fovea

Pembuluh darah retina berasal dari cabang arteri optalmika sedangkan pembuluh darah venanya akan mengalir menuju vena sentralis retina. Retina menerima perdarahan dari 2 sumber, yaitu:6a. KoriokapilarisKoriokapilaris berasal dari arteri siliaris posterior berevis, cabang dari arteri oftalmika. Pembuluh darah ini berada tepat diluar membran Bruch, memperdarahi sepertiga luar retina, yaitu lapisan inti lapisan epitel pigmen retina, fotoreseptor, membtran limitan eksterna, dan lapisan inti luar.

b. Cabang arteri sentralis retinaArteri sentralis retina merupakan cabang dari arteri oftalmika. Arteri ini masuk melalui cup disk optik dan kemudian memiliki empat cabang yaitu superior-nasal, superior-temporal, inferior-nasal, dan inferior temporal. Arteri-arteri tersebut merupakan end artery, tidak memiliki anastomose. Percabangan arteri sentralis retina ini memperdarahi dua pertiga dalam retina.

Gambar 1.4 Sumber Perdarahan Retina

Retina dapat diperiksa dengan oftalmoskop direk ataupun indirek. Pada oftalmoskop direk, gambaran fundus diperbesar menjadi 15 kali. Saat pemeriksaan, pertama kali dicari diskus optikus dengan mengikuti salah satu cabang utama pembuluh darah ke arah nasal. Kemudian diteli bentuk, ukuran, warna, tepi, dan bagian sentral yang lebih pucat (cawan fisiologik). Dalam keadaan normal, diameter diskus optikus sekitar 1,5-2 mm dan rasio cawan terhadap ukuran diskus optikus (cup to disk ratio) yaitu 0,5.6 Daerah makula terletak sekitar dua kali diameter diskus optikus di sebelah temporal tepi diskus. Fovea sentralis ditandai dengan adanya refleks putih kecil. Fovea dikelilingi oleh makula, daerah berpigmen yang lebih gelap dan berbatas kurang tegas. Cabang-cabang pembuluh darah retina mendekati segala arah tetapi berhenti tepat di dekat fovea.6 Pembuluh darah retina diperiksa dan diikuti sampai ke distal pada masing-masing kuadran, superior, inferior, temporal, dan nasal. Pada pembuluh darah tersebut, perlu diperhatikan warna, kelokan, dan adanya kelainan seperti aneurisma, perdarahan, ataupun eksudat. Vena terlihat lebih gelap dan lebih lebar dibandingkan arteri. Perbandingan lebar arteri dengan vena kurang lebih 2:3 (Gambar 5).6

Gambar 1.5 Gambaran Oftalmoskopik Retina

2. RETINOPATI DIABETIK2.1. DefinisiRetinopati diabetik adalah suatu mikroangiopati progresif yang ditandai oleh kerusakan dan sumbatan pembuluh darah kecil, meliputi arteriol prekapiler retina, kapiler-kapiler dan vena-vena.5

2.2. Epidemiologi Diabetes telah menjadi penyebab kebutaan utama di Amerika Serikat yaitu sekitar 5000 orang pertahunnya, biasanya mengenai penderita berusia 20-64 tahun. Sedangkan di Negara berkembang setidaknya 12% kasus kebutaan disebabkan oleh karena diabetes. Resiko ini jarang ditemukan pada anak dibawah umur 10 tahun, dan meningkat setelah pubertas. Hal ini terjadi setelah 20 tahun menderita diabetes. Komplikasi lanjut ini timbul setelah 5-15 tahun menderita diabetes, dengan angka kejadian 50 % dan akan meningkat menjadi 90% setelah menderita diabetes selama 17-25 tahun.1,5Di Inggris retinopati diabetik juga menjadi penyebab kebutaan tersering pada pasien berumur 30-65 tahun, dan merupakan penyebab kebutaan nomor 4 dari seluruh penyebab kebutaan.1 Pandangan bahwa hiperglikemia kronik pada diabetes mellitus merupakan penyebab utama timbulnya retinopati diabetik didukung oleh hasil pengamatan bahwa tidak terjadi retinopati pada orang muda dengan diabetes tipe I (dependen insulin) paling sedikit 3-5 tahun setelah perjalanan penyakit sistemik ini.22.3. Etiologi Retinopati diabetik terjadi karena diabetes melitus yang tak terkontrol dan diderita lama. Pada makula terjadi hipoksia yang menyebabkan timbulnya angiopati dan degenerasi retina. Angiopati dapat menyebabkan mikroaneurisma dan eksudat lunak.6 Faktor resiko retinopati diabetik antara lain:31. Durasi diabetes, adalah hal yang paling penting. Pada pasien yang didiagnosa dengan DM sebelum umur 30 tahun, insiden retinopati diabetic setelah 50 tahun sekitar 50% dan setelah 30 tahun mencpai 90%.2. Kontrol glukosa darah yang buruk, berhubungan dengan perkembangan dan perburukan retinopati diabetik. 3. Tipe Diabetes, dimana retinopati diabetik mengenai DM tipe 1 maupun tipe 2 dengan kejadian hampir seluruh tipe 1 dan 75% tipe 2 setelah 15 tahun.4. Hipertensi yang tidak terkontrol, biasanya dikaitkan dengan bertambah beratnya retinopati diabetik dan perkembangan retinopati diabetik proliferatif pada DM tipe I dan II5. Faktor resiko yang lain meliputi merokok, obesitas, anemiadan hiperlipidemia.

2.4. KlasifikasiSecara umum klasifikasi retinopati diabetik dibagi menjadi: 61. Retinopati diabetik non proliferatifMerupakan stadium awal dari proses penyakit ini. Selama menderita diabetes, keadaan ini menyebabkan dinding pembuluh darah kecil pada mata melemah. Pada retinopati nonproliferatif ringan ditandai dengan timbul sedikitnya satu tonjolan kecil pada pembuluh darah (mikroaneurisma) yang dapat pecah sehingga membocorkan cairan dan protein ke dalam retina. Pada Retinopati nonproliferatif sedang terdapat mikroaneurisma luas, perdarahan intraretina, gambaran manik-manik pada vena dan bercak-bercak cotton wool berwarna abu-abu atau putih akibat menurunnya aliran darah ke retina menyebabkan. Pada Retinopati nonproliferatif berat ditandai oleh bercak-bercak cotton wool, gambaran manic-manik pada vena dan kelainan mikrovaskular intraretina (IRMA). Stadium ini terdiagnosis dengan ditemukannya perdarahan intraretina di empat kuadran, gambaran manic-manik vena di dua kuadran, atau kelainan mikrovaskular intraretina berat di satu kuadran.6

Gambar 1.6 Retinopati diabetik non proliferatif

2. MakulopatiMakulopati diabetic bermanifestasi sebagai penebalan atau edema retina stempat atau difus, yang terutama disebabkan oleh kerusakan sawar darah-retina pada tingkat Endotel kapiler retina, yang menyebabkan terjadinya kebocoran cairan dan konstituen plasma ke retina sekitarnya. Makulopati lebih sering dijumpai pada pasien DM