CRS Rinitis Allergika.doc

download CRS Rinitis Allergika.doc

of 21

  • date post

    12-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    11
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of CRS Rinitis Allergika.doc

CASE REPORT SESSION (cRs)RINITIS ALERGIKAPreseptor:

Hj. Tety H. Rahmi, dr., Sp.THT-KL. M.Kes, M.H.KesDisusun Oleh:

Rizki Trya Permata

12100111011Eganata Nugraha

12100111043

M. Ifan Romli

12100111010

BAGIAN ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK - KEPALA LEHER

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG

RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH BANDUNG

2013ANATOMI HIDUNG

Merupakan bagian dari respiratory track superior yang terletak di belakang palatum durumdan terdiri dari organ penciuman perifer.Secara anatomy terdiri dari 2 bagian:

Eksternal

Nasal cavity, dimana nasal cavity dibagi lagi menjadi 2 bagian yaitu kiri dan kanan yang dipisahkan oleh nasal septum.Fungsi hidung:

Penciuman Bernapas Menyaring debu

Pelembab udara inspirasi

Menerima dan mengeluarkan secret dari paranasal sinus dan duktus nasokrimal

External nose

Hidung yang terlihat dari luar, skeletonnya cartilaginous

Dorsum, memanjang dari nasal root hingga apex (ujung) hidungpear

Permukaan inferior berbentuk piriform (pear-shaped) terbuka membentuk nares/ nostrils/ aperture yang terikat di lateralnya pada alae (wings) of the nose.

Tulang bagian superiornya termasuk akarnya ditutupi oleh kuilt tipis

Untuk bagian cartilagonya ditutupi kulit yang lebih tebal yang banyak mengandung kelenjar sebacea

Kulit memanjang ke vestibule, yang merupakan daerah hidung yang banyak terdapat rambut (vibrissae) yang berfungsi untuk menyaring udara karena daerah ini lembab (moist)Skeleton of external nose

Sistem skeleton pada hidung terdiri dari bone, dan hyaline cartilage.

Tulang Nasal bones

Frontal process of maxillae

Nasal part of frontal bone & its nasal spine

Bony part of nasal septum

Kartilago, terdiri dari 5 kartilago utama

2 lateral cartilage

2 alar cartilage

1 septal cartilage

Bentuk U dari alar cartilage itu bebas dan dapat digerakkan, dapat mendilatasi dan mengkonstriksikan lubang hidung ketika otot otot hidung berkontraksi.

Nasal septum

bagian hidung yang memisahkan kedua lubang hidung

terdiri dari bagian tulang dan kartilago lunakKomponen utama nasal septum :

Perpendicular plate of ethmoid yang tipis membentuk bagian superior dari nasal septum. Mulai dari cribiform plate hingga ke atas menuju crista galii.

Vomer, flat bone, tipis, membentuk bagian posteroinferior nasal septum dengan kontribusi dari nasal crest of maxillary & palatine bones

Septal cartilage ( memiliki tonjolan & grove articular dengan ujung bony septum

Nasal Cavity

Nasal cavity terdiri atas kiri dan kanan yang dipisahkan oleh septum nasal

Ujung posterior terbuka ke nasofaring melalui choana. Nasal cavity dilapisi oleh lapisan mukosa kecuali nasal vestibule yang dilapisi oleh kulit

Nasal mucosa terikat pada periosteum & perichondrium

Nasal mucosa terus melapisi hingga ke nasopharynx, paranasal sinus, lacrimal sac dan conjuncativa.

2/3 bagian inferior nasal cavity merupakan respiratory area dan 1/3 bagian superior merupakan olfactory.

Boundaries of the nasal cavity

The Roof ( curved and narrow kecuali bagian posterior, dibagi menjadi 3 bagian, (frontonasal, ethmoid, sphenoid)

The floor ( lebih luas dibandingkan dengan roof, dibentuk oleh processus palatine & horizontal paltes of palatine bone.

Medial wall (dibentuk oleh nasal septum

Lateral wall ( irregular owing to the bony plates

Gambaran Kavitas NasalNasal conchae

Terdapat 3 nasal conchae : superior, middle, inferior, yang membentuh curve inferomedially

Nasal cavity memiliki 5 passage:

Sphenoethmoidal recess (posterosuperiorly)

3 nasal meatus (laterally) ( superior, middle, inferior

A medially common nasal meatus

Inferior concha

Terpanjang dan terluas, ditutupi oleh mucus membran yang mengandung ruang vascular besar yang dapat membesar untuk mengontrol caliber of nasal cavity ketika terinfeksi / teriritasi. Mukosa akan membengkak dengan cepat dan dapat menutup passage.

Sphenoethmoidal recess, terletak superoposterior dari superior concha, menerima opening dari sphenoidal sinus.

Superior nasal meatus ( passage sempit diantara superior dan middle nasal concha

Middle nasal meatus ( lebih panjang dan lebih dalam dari superior nasal meatus. bagian anterosuperiornya menuju funnel-shaped opening (ethmoidal infundibulum) yang menghubungkan dengan fontal sinus (frontonasal duct)

Semilunar hiatus ( merupakan semi circular groove which frontal sinus open

Ethmoidal bulla ( tonjolan bulat yang terletak di superior dari hiatus. Akan terlihat ketika middle concha diangkat.

Bulla dibentuk dari cell middle ethmoidal yang membentuk ethmoidal sinus.

Inferior nasal meatus ( horizontal passage dibagian inferolaterall dari inferior nasal concha.

Nasolacrmal duct ( open into the anterior part of inferior meatus

Common nasal meatus ( bagian tengah dari nasal cavity diantara concha dan nasal septum.

Vaskularisasi dan Inervasi HidungSuplai arteri untuk dinding medial dan lateral of the nasal cavity berasal dari 5 sumber.

1. anterior ethmoidal artery (cabang dari ophthalmic artery)

2. posterior ethmoidal artery (cabang dari ophthalmic artery)

3. sphenopallatine artery (cabang dari maxillae artery)

4. greater palatine artery (cabang dari maxillae artery)

5. septal branch of the superior labial (cabang dari facial artery)

tiga arteri pertama dari urutan diatas, terbagi menjadi bagian lateral dan medial (septal branch)

greater palatine artery mencapai septum lewat incisive canal melalui hard pallatum

anastomosis pleksus dari arteri-arteri (5 arteri) terdapat di anterior nasal septum (kiesselbach area)

external nose juga menerima supply darah dari (1) & (5) juga nasal branch dari infraorbital artery dan lateral nasal branches dari facial artery.

A rich submucosal venous plexus terdapat di dalam nasal mucosa ( drainase ke sphenopalatine , facial dan ophthalmic vein.

Inervasi Mukosa hidung untuk inervasi, dibagi menjadi 2 bagian, posteroinferior dan anterosuperior.

Bagian posteroinferior mendapatkan innervasi dari

1. maxillary nerve

2. nasopalatine nerve

3. nasal septum

4. superior lateral nasal

Bagian anterosuperior menerima inervasi dari

1. cranial nerve V (trigeminal)-1

2. allae ( cranial nerve V (trigeminal)-2

Olfactory nerve (CN I)muncul dari sel sel di olfactory epithelium yang berada di bagian atas dinding lateral & septal nasal cavity

RINITIS ALERGI

Definisi Rinitis Alergi

Rinitis Alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitasi dengan alergen yang sama serta dilepaskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan alergen spesifik tersebut (Von Pirquet, 1986).

Definisi menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2001, Rinitis alergi adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin (sneezing), rhinorea, rasa gatal (itching) dan tersumbat (obstruction) setelah mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh IgE.

Epidemilogi Rinitis alergi terjadi pada 10% orang Amerika.

80% pasien mengalami gejala rinitis alergi sebelum usia 20 tahun.

Resiko meningkat pada pasien dengan riwayat orang tua alergi/atopi. Prevalensi rinitis alergi sekitar 15% pada laki-laki dan 14% pada wanita tetapi bervariasi pada tiap negara mungkin karena perbedaan geografik, tipe dan potensi alergen.

Rinitis alergi dapat terjadi pada semua ras, prevalensinya berbeda-beda tergantung perbedaan genetik, faktor geografi, lingkungan serta jumlah populasi.Patogenesis & Patofisiologi Rinitis Alergi

Reaksi alergi di hidung diawali dengan tahap sensitisasi, kemudian diikuti reaksi alergi yang menghasilkan mediator antara lain molekul histamin yang terlepas dari kompleks Ig E-mastosit dan atau Ig E-basofil yang berkontak ulang dengan alergen spesifiknya. Reaksi alergi terdiri dari dua fase yaitu reaksi alergi fase cepat (immediate phase allergic reaction) yang berlangsung sampai satu jam setelah kontak dengan alergen dan puncaknya pada 15-20 menit pertama. Reaksi alergi fase lambat (late phase allergic reaction) yang berlangsung sampai 24 jam bahkan sampai 48 jam kemudian, dengan puncak pada 4-8 jam pertama.

Fase Sensitisasi

Alergen yang menempel pada permukaan mukosa saluran pernafasan ditangkap oleh sel penyaji (APC)(Terbentuk fragmen peptida imunogenik.

(Fragmen pendek peptida + HLA kelas II ( MHC kelas II yang berada di permukaan sel APC(Komplek peptida-MHC-II dipresentasikan Helper-T cells (TH0).

(Apabila sel TH0 memiliki reseptor spesifik terhadap molekul komplek peptida-MHC-II tersebut, maka akan terjadi penggabungan kedua molekul tesebut.

(Sel APC akan melepas sitokin IL-1.

(IL-1 akan mengaktivasi TH0 menjadi TH1 dan TH2.

(Sel TH2 melepas sitokin antara lain IL-3, IL-4, IL-5 dan IL-13.

(IL-4 dan IL-13 ditangkap reseptornya pada permukaan limfosit-B.(Aktivasi limfosit-B. Limfosit-B aktif ini memproduksi IgE.Reaksi Alergi Fase Cepat

Molekul IgE beredar dalam sirkulasi darah.(Memasuki jaringan & ditangkap oleh reseptor IgE di permukaan sel mastosit atau sel basofil.(Degranulasi sel mastosit dengan akibat terlepasnya mediator alergi (terutama histamin)

Histamin menyebabkan hipersekresi mukosa & kelenjar goblet ( rinore. Histamin merangsang resept