Bakat Numberik

of 55/55
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan adalah suatu usaha atau kegiatan yang dijalankan dengan sengaja, teratur dan berencana dengan maksud mengubah atau mengembangkan perilaku yang diinginkan. Sekolah sebagai lembaga formal merupakan sarana dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Melalui sekolah, siswa belajar berbagai macam hal. Dalam pendidikan formal, belajar menunjukkan adanya perubahan yang sifatnya positif sehingga pada tahap akhir akan didapat keterampilan, kecakapan dan pengetahuan baru. Hasil dari proses belajar tersebut tercermin dalam prestasi belajarnya. Namun dalam upaya meraih prestasi belajar yang memuaskan dibutuhkan proses belajar. Proses belajar yang terjadi pada individu memang merupakan sesuatu yang penting, karena melalui belajar 1
  • date post

    27-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    798
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Bakat Numberik

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan adalah suatu usaha atau kegiatan yang dijalankan dengan sengaja, teratur dan berencana dengan maksud mengubah atau mengembangkan perilaku yang diinginkan. Sekolah sebagai lembaga formal merupakan sarana dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Melalui sekolah, siswa belajar berbagai macam hal. Dalam pendidikan formal, belajar menunjukkan adanya perubahan yang sifatnya positif sehingga pada tahap akhir akan didapat keterampilan, kecakapan dan pengetahuan baru. Hasil dari proses belajar tersebut tercermin dalam prestasi belajarnya. Namun dalam upaya meraih prestasi belajar yang memuaskan dibutuhkan proses belajar. Proses belajar yang terjadi pada individu memang merupakan sesuatu yang penting, karena melalui belajar individu mengenal lingkungannya dan menyesuaikan diri dengan lingkungan disekitarnya. Menurut Irwanto (1997 :105) belajar merupakan proses perubahan dari belum mampu menjadi mampu dan terjadi dalam jangka waktu tertentu. Dengan belajar, siswa dapat mewujudkan cita-cita yang diharapkan. Belajar akan menghasilkan perubahan-perubahan dalam diri seseorang. Untuk mengetahui sampai seberapa jauh perubahan yang terjadi, perlu adanya penilaian. Begitu juga dengan yang terjadi pada seorang siswa yang mengikuti suatu pendidikan selalu diadakan penilaian dari hasil belajarnya. Penilaian1

terhadap hasil belajar seorang siswa untuk mengetahui sejauh mana telah mencapai sasaran belajar inilah yang disebut sebagai prestasi belajar. Pengukuran prestasi belajar ini sangat komplesk, banyak faktor yang mempengaruhi prestasi belajar. Bakat, seperti juga minat dan intelgensi merupakan faktor penentu prestasi belajar peserta didik. Sehingga untuk mengetahui bakat atau potensi yang dimiliki oleh individu perlu diadakan penyaringan sebelum masuk ke SMA, SMK atau Universitas agar dapat memilih jurusan yang tepat sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Salah satu landasan dan rasionalisasi perlunya sistem penyaringan, secara eksplisit dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 pasal 5 ayat 4 menyatakan bahwa "warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus". Di samping itu juga dikatakan bahwa "setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat dan

kemampuannya" (pasal 12, ayat 1b). Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa bakat merupakan salah satu faktor yang harus dipertimbangkan dalam usaha pengembangan diri disamping faktor yang lain. Pernyataan itu juga

mengisyaratkan perlunya sebuah sistem seleksi untuk pendidikan dan pelatihan dengan berdasarkan karakteristik internal seseorang. Hal senada dikatakan oleh Dedi Herdiana H (1988 : 5), yang menyatakan bahwa untuk menunjang keberhasilan proses dan hasil belajar maka siswa perlu diseleksi terlebih dahulu berdasarkan kriteria psikologis calon siswa yang sudah pasti adanya keragaman.

2

Bakat, sebagaimana minat dan intelegensi, merupakan faktor yang besar pengaruhnya terhadap proses dan hasil belajar seseorang. Sumadi Suryabrata, (1978 : 77). Pendapat tersebut didukung oleh penelitian E. Khodijah (1992 : 54), yang menyimpulkan bahwa bakat khusus memiliki urunan yang berarti terhadap prestasi belajar siswa. Penelitian lain oleh Uun Sunarti (1997 : 62) menyimpulkan bahwa kemampuan hitung teoritis (NA) memiliki korelasi yang tinggi terhadap variabel prestasi belajar matematika. Juga penelitian yang dilakukan Pudjiono (1982) tentang daya prediksi bakat, menyimpulkan bahwa bakat Verbal Reasoning (VR) dan bakat Numerical Ability (NA) mempunyai daya prediksi lebih tinggi dibanding daya prediksi berdasarkan tes prestasi belajar siswa. Dalam kenyataannya, sistem seleksi penerimaan siswa baru SMA sampai sekarang, hanya berdasarkan pada minat dan nilai prestasi belajar siswa di SLTP atau yang sederajat, tanpa memperhitungkan bakat calon siswa tersebut. Hal ini tentunya akan menimbulkan berbagai masalah, baik dari segi proses maupun out put belajar. Salah satu permasalahan yang dapat ditimbulkan dari sistem seleksi yang sekarang adalah adanya peluang salah pilih jurusan, dalam hal ini bahwa jurusan yang dipilih tidak sesuai dengan bakatnya. Fenomena ini akan menimbulkan permasalahan baru yang lebih komplek. Bagi individu yang belajar akan menimbulkan kesulitan dalam penyesuaian dengan lingkungan belajar sehingga sulit belajar, tidak optimalnya semua potensi dan kemampuan yang dimiliki dan prestasi belajar lebih rendah dari yang seharusnya dapat dicapai serta cenderung lambat dalam menyelesaikan studinya.3

Ditinjau dari segi relevansi, gejala salah pilih jurusan merupakan gejala awal berkurangnya relevansi pendidikan dengan dunia pendidikan. Dilihat dari pandangan bahwa pendidikan merupakan investasi manusia (human investment), salah pilih jurusan merupakan kegagalan dalam investasi modal untuk memperoleh tenaga kerja yang produktif, kreatif, cakap, dan terampil. Pada penelitian ini, penulis menggunakan sampel pada SMAN 2 Sumbawa Besar, berdasarkan nilai pelajaran Ipa Fisika nilai Ulangan Umum murni semester 1 kelas X tahun ajaran 2010/2011. Dalam kaitan pentingnya bakat pada diri siswa sebagai salah satu faktor penting untuk meraih prestasi akademik, maka dalam penyusunan proposal penelitian ini penulis tertarik untuk meneliti : Korelasi antara Bakat Numerik dengan Prestasi Belajar Fisika Pada Siswa Kelas X SMAN 2 Sumbawa Besar. B. Identifikasi Masalah Adapun yang menjadi identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Tenaga pendidik masih belum mengetahui bakat numerik atau potensi yang dimiliki oleh peserta didik. 2. Masih minimnya pengetahuan pendidik tentang teknik-teknik mendeteksi bakat peserta didik. C. Rumusan Masalah Bertitik tolak dari latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : Apakah ada hubungan antara Bakat Numerik dengan Prestasi belajar fisika pada siswa kelas X SMAN 2 Sumbawa Besar?4

D. Keterbatasan Masalah Mengingat terbatasnya waktu, biaya dan kemampuan yang ada pada penelitian maka ruang lingkup penelitian ini terbatas pada: 1. Obyek penelitian Bagaimanakah peranan bakat numerik terhadap prestasi belajar fisika pada siswa kelas X di SMAN 2 Sumbawa Besar? E. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian dalam penulisan ini adalah untuk mengetahui hubungan antara Bakat Numerik dengan prestasi belajar fisika pada siswa kelas X di SMAN 2 Sumbawa Besar. F. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini mempunyai beberapa manfaat, antara lain ialah : 1. Dari segi teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi pendidikan fisika dan memperkaya hasil penelitian yang telah ada dan dapat memberi gambaran mengenai hubungan bakat numerik dengan prestasi belajar. 2. Dari segi praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu memberikan informasi khususnya kepada para orang tua, konselor sekolah dan guru dalam upaya membimbing dan memotivasi siswa remaja untuk menggali Bakat dan Minat yang dimilikinya.

5

BAB II KAJIAN PUSTAKA Pada bab ini akan diuraikan lebih jauh mengenai teori-teori yang menjelaskan mengenai pengertian belajar dan prestasi belajar, fator-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, pengertian bakat dan bakat numerik, indikator bakat numerik, keterkaitan bakat numerik dengan prestasi belajar. A. Prestasi Belajar 1. Pengertian Belajar Prestasi belajar tidak dapat dipisahkan dari perbuatan belajar, karena belajar merupakan suatu proses, sedangkan prestasi belajar adalah hasil dari proses pembelajaran tersebut. Bagi seorang siswa belajar merupakan suatu kewajiban. Berhasil atau tidaknya seorang siswa dalam pendidikan tergantung pada proses belajar yang dialami oleh siswa tersebut. Menurtut Logan, dkk (1976) dalam Sia Tjundjing (2001:70) belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan latihan . Senada dengan hal tersebut, Winkel (1997:193) berpendapat bahwa belajar pada manusia dapat dirumuskan sebagai suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat relatif konstan dan berbekas. Belajar tidak hanya dapat dilakukan di sekolah saja, namun dapat dilakukan dimana-mana, seperti di rumah ataupun dilingkungan masyarakat.6

Irwanto (1997:105) berpendapat bahwa belajar merupakan proses perubahan dari belum mampu menjadi sudah mampu dan terjadi dalam jangka waktu tertentu. Sedangkan menurut Mudzakir (1997:34) belajar adalah suatu usaha atau kegiatan yang bertujuan mengadakan perubahan di dalam diri seseorang, mencakup perubahan tingkah laku, sikap, kebiasaan, ilmu pengetahuan, keterampilan dan sebagainya. Di dalam belajar, siswa mengalami sendiri proses dari tidak tahu menjadi tahu, karena itu menurut Cronbach (Sumadi Suryabrata,1998:231): Belajar yang sebaik-baiknya adalah dengan mengalami dan dalam mengalami itu pelajar mempergunakan pancainderanya. Pancaindera tidak terbatas hanya indera pengelihatan saja, tetapi juga berlaku bagi indera yang lain. Belajar dapat dikatakan berhasil jika terjadi perubahan dalam diri siswa, namun tidak semua perubahan perilaku dapat dikatakan belajar karena perubahan tingkah laku akibat belajar memiliki ciri-ciri perwujudan yang khas (Muhibbidin Syah, 2000:116) antara lain : a. Perubahan Intensional Perubahan dalam proses berlajar adalah karena pengalaman atau praktek yang dilakukan secara sengaja dan disadari. Pada ciri ini siswa menyadari bahwa ada perubahan dalam dirinya, seperti penambahan pengetahuan, kebiasaan dan keterampilan. b. Perubahan Positif dan aktif Positif berarti perubahan tersebut baik dan bermanfaat bagi kehidupan serta sesuai dengan harapan karena memperoleh sesuatu yang

7

baru, yang lebih baik dari sebelumnya. Sedangkan aktif artinya perubahan tersebut terjadi karena adanya usaha dari siswa yang bersangkutan. c. Perubahan efektif dan fungsional Perubahan dikatakan efektif apabila membawa pengaruh dan manfaat tertentu bagi siswa. Sedangkan perubahan yang fungsional artinya perubahan dalam diri siswa tersebut relatif menetap dan apabila dibutuhkan perubahan tersebut dapat direproduksi dan dimanfaatkan lagi. Berdasarkan dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan siswa untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, secara sengaja, disadari dan perubahan tersebut relatif menetap serta membawa pengaruh dan manfaat yang positif bagi siswa dalam berinteraksi dengan lingkungannya. 2. Pengertian Prestasi Belajar Untuk mendapatkan suatu prestasi tidaklah semudah yang

dibayangkan, karena memerlukan perjuangan dan pengorbanan dengan berbagai tantangan yang harus dihadapi. Penilaian terhadap hasil belajar siswa untuk mengetahui sejauhmana ia telah mencapai sasaran belajar inilah yang disebut sebagai prestasi belajar. Seperti yang dikatakan oleh Winkel (1997:168) bahwa proses belajar yang dialami oleh siswa menghasilkan perubahan-perubahan dalam bidang pengetahuan dan pemahaman, dalam bidang nilai, sikap dan keterampilan. Adanya perubahan tersebut tampak dalam prestasi belajar yang dihasilkan oleh siswa terhadap pertanyaan, persoalan atau tugas yang diberikan oleh8

guru. Melalui prestasi belajar siswa dapat mengetahui kemajuan-kemajuan yang telah dicapainya dalam belajar. Sedangkan Marsun dan Martaniah dalam Sia Tjundjing (2000:71) berpendapat bahwa prestasi belajar merupakan hasil kegiatan belajar, yaitu sejauh mana peserta didik menguasai bahan pelajaran yang diajarkan, yang diikuti oleh munculnya perasaan puas bahwa ia telah melakukan sesuatu dengan baik. Hal ini berarti prestasi belajar hanya bisa diketahui jika telah dilakukan penilaian terhadap hasil belajar siswa. Menurut Poerwodarminto (Mila Ratnawati, 1996 : 206) yang dimaksud dengan prestasi adalah hasil yang telah dicapai, dilakukan atau dikerjakan oleh seseorang. Sedangkan prestasi belajar itu sendiri diartikan sebagai prestasi yang dicapai oleh seorang siswa pada jangka waktu tertentu dan dicatat dalam buku rapor sekolah. Dari beberapa definisi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa prestasi belajar merupakan hasil usaha belajar yang dicapai seorang siswa berupa suatu kecakapan dari kegiatan belajar bidang akademik di sekolah pada jangka waktu tertentu yang dicatat pada setiap akhir semester di dalam buki laporan yang disebut rapor. 3. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Untuk meraih prestasi belajar yang baik, banyak sekali faktor yang perlu diperhatikan, karena di dalam dunia pendidikan tidak sedikit siswa yang mengalami kegagalan. Kadang ada siswa yang memiliki dorongan yang kuat

9

untuk berprestasi dan kesempatan untuk meningkatkan prestasi, tapi dalam kenyataannya prestasi yang dihasilkan di bawah kemampuannya. Untuk meraih prestasi belajar yang baik banyak sekali faktor-faktor yang perlu diperhatikan. Menurut Sumadi Suryabrata (1998:233) dan Shertzer dan Stone (Winkle, 1997 : 591), secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dan prestasi belajar dapat digolongkan menjadi dua bagian, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. a. Faktor internal Merupakan faktor yang berasal dari dalam diri siswa yang dapat mempengaruhi prestasi belajar. Faktor ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu : 1). Faktor fisiologis Dalam hal ini, faktor fisiologis yang dimaksud adalah faktor yang berhubungan dengan kesehatan dan pancaindera. a). Kesehatan badan Untuk dapat menempuh studi yang baik siswa perlu memperhatikan dan memelihara kesehatan tubuhnya. Keadaan fisik yang lemah dapat menjadi penghalang bagi siswa dalam menyelesaikan program studinya. Dalam upaya memelihara kesehatan fisiknya, siswa perlu memperhatikan pola makan dan pola tidur, untuk memperlancar metabolisme dalam tubuhnya. Selain itu, juga untuk memelihara kesehatan bahkan juga dapat meningkatkan ketangkasan fisik dibutuhkan olahraga yang teratur.

10

b). Pancaindera Berfungsinya pancaindera merupakan syarat dapatnya belajar itu berlangsung dengan baik. Dalam sistem pendidikan dewasa ini di antara pancaindera itu yang paling memegang peranan dalam belajar adalah mata dan telinga. Hal ini penting, karena sebagian besar hal-hal yang dipelajari oleh manusia dipelajari melalui penglihatan dan pendengaran. Dengan demikian, seorang anak yang memiliki cacat fisik atau bahkan cacat mental akan menghambat dirinya didalam menangkap pelajaran, sehingga pada akhirnya akan mempengaruhi prestasi belajarnya di sekolah. 2). Faktor psikologis Ada banyak faktor psikologis yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa, antara lain adalah : a). Intelligensi Pada umumnya, prestasi belajar yang ditampilkan siswa mempunyai kaitan yang erat dengan tingkat kecerdasan yang dimiliki siswa. Menurut Binet (Winkle, 1997:529) hakikat inteligensi adalah kemampuan tujuan, untuk untuk menetapkan mengadakan dan suatu

mempertahankan

suatu

penyesuaian dalam rangka mencapai tujuan itu dan untuk menilai keadaan diri secara kritis dan objektif. Taraf inteligensi ini sangat mempengaruhi prestasi belajar seorang siswa, di mana siswa yang memiliki taraf inteligensi tinggi mempunyai peluang lebih besar11

untuk mencapai prestasi belajar yang lebih tinggi. Sebaliknya, siswa yang memiliki taraf inteligensi yang rendah diperkirakan juga akan memiliki prestasi belajar yang rendah. Namun bukanlah suatu yang tidak mungkin jika siswa dengan taraf inteligensi rendah memiliki prestasi belajar yang tinggi, juga sebaliknya . b). Sikap Sikap yang pasif, rendah diri dan kurang percaya diri dapat merupakan faktor yang menghambat siswa dalam menampilkan prestasi belajarnya. Menurut Sarlito Wirawan (1997:233) sikap adalah kesiapan seseorang untuk bertindak secara tertentu terhadap hal-hal tertentu. Sikap siswa yang positif terhadap mata pelajaran di sekolah merupakan langkah awal yang baik dalam proses belajar mengajar di sekolah. c). Motivasi Menurut Irwanto (1997 : 193) motivasi adalah penggerak perilaku. Motivasi belajar adalah pendorong seseorang untuk belajar. Motivasi timbul karena adanya keinginan atau kebutuhankebutuhan dalam diri seseorang. Seseorang berhasil dalam belajar karena ia ingin belajar. Sedangkan menurut Winkle (1991 : 39) motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar itu; maka tujuan yang dikehendaki oleh12

siswa tercapai. Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non intelektual. Peranannya yang khas ialah dalam hal gairah atau semangat belajar, siswa yang termotivasi kuat akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar. b. Faktor eksternal Selain faktor-faktor yang ada dalam diri siswa, ada hal-hal lain diluar diri yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yang akan diraih, antara lain adalah : 1). Faktor lingkungan keluarga a). Sosial ekonomi keluarga Dengan sosial ekonomi yang memadai, seseorang lebih berkesempatan mendapatkan fasilitas belajar yang lebih baik,

mulai dari buku, alat tulis hingga pemilihan sekolah. b). Pendidikan orang tua Orang tua yang telah menempuh jenjang pendidikan tinggi cenderung lebih memperhatikan dan memahami pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya, dibandingkan dengan yang mempunyai jenjang pendidikan yang lebih rendah. c). Perhatian orang tua dan suasana hubungan antara anggota keluarga Dukungan dari keluarga merupakan suatu pemacu

semangat berpretasi bagi seseorang. Dukungan dalam hal ini bisa secara langsung, berupa pujian atau nasihat; maupun secara tidak langsung, seperti hubugan keluarga yang harmonis.13

2). Faktor lingkungan sekolah a). Sarana dan Prasarana Kelengkapan fasilitas sekolah, seperti papan tulis, OHP, LCD akan membantu kelancaran proses belajar mengajar di sekolah; selain bentuk ruangan, sirkulasi udara dan lingkungan sekitar sekolah juga dapat mempengaruhi proses belajar mengajar b). Kompetensi Guru dan Siswa Kualitas guru dan siswa sangat penting dalam meraih prestasi, kelengkapan sarana dan prasarana tanpa disertai kinerja yang baik dari para penggunanya akan sia-sia belaka. Bila seorang siswa merasa kebutuhannya untuk berprestasi dengan baik di sekolah terpenuhi, misalnya dengan tersedianya fasilitas dan tenaga pendidik yang berkualitas, yang dapat memenuhi rasa ingintahunya, hubungan dengan guru dan teman-temannya berlangsung harmonis, maka siswa akan memperoleh iklim belajar yang menyenangkan. Dengan demikian, ia akan terdorong untuk terus-menerus meningkatkan prestasi belajarnya. c). Kurikulum dan metode mengajar Hal ini meliputi materi dan bagaimana cara memberikan materi tersebut kepada siswa. Metode pembelajaran yang lebih interaktif sangat diperlukan untuk menumbuhkan minat dan peran serta siswa dalam kegiatan pembelajaran. Sarlito Wirawan (1994:122) mengatakan bahwa faktor yang paling penting adalah14

faktor guru. Jika guru mengajar dengan arif bijaksana, tegas, memiliki disiplin tinggi, luwes dan mampu membuat siswa menjadi senang akan pelajaran, maka prestasi belajar siswa akan cenderung tinggi, paling tidak siswa tersebut tidak bosan dalam mengikuti pelajaran. 3). Faktor lingkungan masyarakat a). Sosial budaya Pandangan masyarakat tentang pentingnya pendidikan mempengaruhi kesungguhan pendidik dan peserta didik.

Masyarakat yang masih memandang rendah pendidikan akan enggan mengirimkan anaknya ke sekolah dan cenderung memandang rendah pekerjaan guru/pengajar b). Partisipasi terhadap pendidikan Bila semua pihak telah berpartisipasi dan mendukung kegiatan pendidikan, mulai dari pemerintah (berupa kebijakan dan anggaran) sampai pada masyarakat bawah, setiap orang akan lebih menghargai dan berusaha memajukan pendidikan dan ilmu pengetahuan. 4. Pengukuran Prestasi Belajar Dalam dunia pendidikan, menilai merupakan salah satu kegiatan yang tidak dapat ditinggalkan. Menilai merupakan salah satu proses belajar dan mengajar. Di Indonesia, kegiatan menilai prestasi belajar bidang akademik di sekolah-sekolah dicatat dalam sebuah buku laporan yang disebut rapor. Dalam rapor dapat diketahui sejauhmana prestasi belajar seorang siswa, apakah siswa15

tersebut berhasil atau gagal dalam suatu mata pelajaran. Didukung oleh pendapat Sumadi Suryabrata (1998 : 296) bahwa rapor merupakan perumusan terakhir yang diberikan oleh guru mengenai kemajuan atau hasil belajar murid-muridnya selama masa tertentu. Syaifuddin Azwar (1998 :11) menyebutkan bahwa ada beberapa fungsi penilaian dalam pendidikan, yaitu : a. Penilaian berfungsi selektif (fungsi sumatif) Fungsi penilaian ini merupakan pengukuran akhir dalam suatu program dan hasilnya dipakai untuk menentukan apakah siswa dapat dinyatakan lulus atau tidak dalam program pendidikan tersebut. Dengan kata lain penilaian berfungsi untuk membantu guru mengadakan seleksi terhadap beberapa siswa, misalnya : 1). Memilih siswa yang akan diterima di sekolah 2). Memilih siswa untuk dapat naik kelas 3). Memilih siswa yang seharusnya dapat beasiswa b. Penilaian berfungsi diagnostik Fungsi penilaian ini selain untuk mengetahui hasil yang dicapai siswa juga mengetahui kelemahan siswa sehingga dengan adanya penilaian, maka guru dapat mengetahui kelemahan dan kelebihan masingmasing siswa. Jika guru dapat mendeteksi kelemahan siswa, maka kelemahan tersebut dapat segera diperbaiki.

16

c. Penilaian berfungsi sebagai penempatan (placement) Setiap siswa memiliki kemampuan berbeda satu sama lain. Penilaian dilakukan untuk mengetahui di mana seharusnya siswa tersebut ditempatkan sesuai dengan kemampuannya yang telah diperlihatkannya pada prestasi belajar yang telah dicapainya. Sebagai contoh penggunaan nilai rapor SMU kelas I menentukan jurusan studi di kelas II. d. Penilaian berfungsi sebagai pengukur keberhasilan (fungsi formatif) Penilaian berfungsi untuk mengetahui sejauh mana suatu program dapat diterapkan. Sebagai contoh adalah raport di setiap semester di sekolah-sekolah tingkat dasar dan menegah dapat dipakai untuk mengetahui apakah program pendidikan yang telah diterapkan berhasil diterapkan atau tidak pada siswa tersebut. Raport biasanya menggambil nilai dari angka 1 sampai dengan 10, terutama pada siswa SD sampai SMU, tetapi dalam kenyataan nilai terendah dalam rapor yaitu 4 dan nilai tertinggi 9. Nilai-nilai di bawah 5 berarti tidak baik atau buruk, sedangkan nilai-nilai di atas 5 berarti cukup baik, baik dan sangat baik. Dalam penelitian ini pengukuran prestasi belajar menggunakan penilaian sebagai pengukur keberhasilan (fungsi formatif), yaitu nilai-nilai raport pada akhir masa semester I.

17

B. Bakat Numerik 1. Pengertian Bakat Menurut istilanya ada dua kata yang menunjukkan arti bakat, yaitu ability dan aptitude atau talent. Menurut Conny Semiawan

(http:siaksoft.net), bakat diartikan sebagai kemampuan bawaaan yang merupakan potensi (potential ability) yang masih perlu dikembangkan dan dilatih. Sedangkan menurut kamus psikologi, dalam Harun Iskandar, (2010:13) ability adalah (kemampuan, kecakapan ketangkasan bakat kesanggupan); tenaga (daya kekuatan) untuk melakukan suatu perbuatan. Kemampuan biasanya merupakan kesanggupan bawaan sejak lahir atau merupakan hasil latihan atau praktek. S.C Utami Munandar (1999), dalam Asadi Muhammad, (2010:22) memberikan definisi bakat (aptitude) secara umum adalah sebagai kemampuan bawaan seseorang yang merupakan suatu potensi. Potensi ini masih perlu dikembangkan dan dilatih agar dapat terwujud. Latihan-latihan disini bukan hanya sekedar latihan biasa dan sembarangan, tetapi merupakan kegiatan yang dapat mendukung terhadap perkembangan bakat seseorang. Sedangkan menurut Dr. Saparinah Sadi, dalam Harun Iskandar, (2010:14) bakat (aptitude) adalah sebuah faktor bawaan yang berupa potensi, yang aktualisasinya membutuhkan interaksi dengan faktor-faktor dalam

lingkungan. Lingkungan disini adalah lingkungan keluarga, sekolah, temanteman, maupun tetangga yang dikategorikan tempat anak bersosialisasi. Pada saat anak beriteraksi dengan lingkungannya, lingkungan akan mencoba18

untuk membentuk seorang anak sehingga nilai dasar yang dimiliki seseorang tidak lagi menjadi acuan dari perkembangan seorang anak. Dari uraian diatas bakat merupakan potensi dalam anak yang harus distimulasi terlebih dahulu sehingga dapat terlihat sebagai suatu kecakapan, pengetahuan, dan keterampilan khusus yang menjadi bekal hidupnya kelak. Menurut Harun Iskandar (2010:36-56) ada 4 (empat) faktor yang mempengaruhi tampilnya bakat seseorang: a. Faktor Motivasi Motivasi dibutuhkan dalam menghadapi tugas sebagai seorang pelajar. Motivasi berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan dalam mengembankan bakat. Beberapa ahli telah menggali informasi yang terkait dengan motivasi, diantaranya adalah: 1) Amir Daim Indrakusuma (1971): menyatakan bahwa motivasi merupakan kekuatan atau tenaga yang dapat memberikan dorongan pada kegiatan yang dikehendaki dengan asas dan tujuan yang dimaksudkan. 2) Wahgo Sumijo (1984): menyatakan bahwa motivasi adalah dorongan kerja yang timbul pada seseorang untuk berprestasi dalam mencapai tujuan. Sri Habsari (2005:74). Dari dua definisi tentang motivasi di atas dapat dibagi menjadi dua, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik: 1) Motivasi instrinsik adalah bentuk dorongan belajar yang datangnya dalam diri seseorang dan tidak perlu rangsangan dari luar. Misalnya19

keinginan seorang anak mengetahu seluk beluk bermain gitar. Motivasi intrinsik umumnya adanya faktor bakan dan intelegensi dalam diri siswa. Seorang anak yang berbakat dibidang matematika akan mempunyai dorongan yang tinggi untuk mempelajari ilmu ini lebih dalam tanpa perlu dorongan dari orang lain. Meskipun dorongan ini berasal dari dalam diri anak tetapi setiap anak memiliki kualitas dorongan yang berbeda. Setiap anak dilahirkan dengan bakat dan itelegensi yang berbeda. 2) Motivasi ekstrinsik adalah dorongan belajar yang datangnya dariluar diri seseorang. Motivasi ekstrinsik adalah bentuk dorongan belajar untuk prestasi yang diberikan oleh orang lain seperti semangat, pujian dan nasehat, orang tua, saudara, dan orang yang dicintai. Menurut seorang ahli jiwa dalam motivasi ada suatu hirarki, yaitu motivasi itu mempunyai tingkatan-tingkatan dari bawah sampai ke atas yakni: 1) Kebutuhan fisologis, seperti lapar, haus, kebutuhan akan istirahat dan lain sebagainya. 2) Kebutuhan akan keamanan (security), yakni rasa terlindungi, bebas dari takut dan kecemasan. 3) Kebutuhan akan cinta dan kasih, rasa diterima dan dihargai dalam suatu kelompok (keluarga, sekolah, teman sebaya).

20

4) Kebutuhan untuk mewujudkan diri sendiri, yakni mengembangkan bakat dengan usaha mencapai hasil dalam bidang pengetahuan, sosial, pembentukan pribadi. Harun Iskandar, (2010: 38) Bakat memerlukan motivasi yang kuat agar mampu menunjang terwujudnya pengembangan bakat tersebut. Bakat tidak akan terlihat dan berkembang secara wajar bila tidak ada usaha untuk mengembangkannya. Motivasilah yang menyulut untuk jadi besar atau menjadi kecil, peranan motivasi sangat penting. Dengan dorongan motivasi yang kuat akan kebutuhan tentang wujud diri sendiri, maka motivasi tingkat tinggi ini mampu menjadi pembangkit apa yang dicita-citakan. Motivasi untuk mengembangkan bakat ini juga akan dipengaruhi oleh pandangan atau pengetahuan yang dimilikinya. b. Faktor Nilai Faktor nilai ini turut menentukan dapat berkembagnya bakat atau tidak. Menilai bakat yang ada pada dirinya itu baik atau tidak dapat dipengaruhi oleh lingkungan. Lingkungan disini bisa lingkungan keluarga atau lingkungan masyarakat. Pandangan individu sangat menentukan bagi perkembangan dirinya. Pandangan tentang kesadaran akan diri individu menuju kearah mana bidang yang dikembangkan sesuai dengan bakatnya sangat menentukan kesuksesan karirnya kelak.

21

c. Faktor Minat Minat atau perhatian (interest) merupakan salah satu faktor yang turut mempengaruhi tampilnya bakat. Menurut C.P chaplains, minat atau perhatian (interest) memiliki arti: 1) Satu sikap yang berlangsung terus-menerus yang memusatkan perhatian seseorang, sehingga membuat dirinya jadi selektif terhadap obyek niatnya. 2) Perasaan yang menyatakan bahwa satu aktivitas, pekerjaan, atau obyek itu berharga atau berarti bagi individu. 3) Satu keadaan motivasi, menuntut tingkahlaku menuju satu arah (sasaran) tertentu. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan, bahwa minat itu terjadi dari perhatian yang tidak hanya berlangsung sekali dari obyek yang dianggap menarik atau berharga bagi dirinya. Dengan kata lain, bahwa kecenderungan untuk menyelidiki dan manipulasi yang dilakukan oleh seseorang lama-lama akan timbullah minat. Dengan timbulnya minat maka seseorang akan berusaha terus menerus menggali, menyelidiki dan mendalaminya. Dengan upaya semacam itu, bukan tidak mungkin apa yang diminati juga menjadi bakatnya. d. Faktro Kepribadian Keperibadian atau personality memiliki pengertian yang sangat kompleks, Adler memberi pengertian gaya hidup individu, atau cara yang

22

karakteristik mereaksinya seseorang terhadap masalah-masalah hidup, termasuk tujuan-tujuan hidup. Dari pengertian di atas kita melihat adanya perbedaan pengertian, namun ada unsur persamaannya. Diantarannya ialah, bahwa keperibadian atau personality itu dinamis, tidak statis atau tetap saja tanpa perubahan. Menunjukkan tingkah laku yang menyatu dan merupakan interaksi antara kesanggupan-kesanggupan bawaan yang ada pada individu dengan lingkungannya. Demikian juga unsur psiko-fisik, ini berarti bahwa faktor jasmai dan rohani dari individu tersebut bersama-sama memegang peranan dalam kepribadian. Kepribadian yang dimiliki seseorang sifatnya khas, artinya individu memiliki ciri-ciri yang tidak sama dengan individu yang lain. Banyak faktor yang mempengaruhi keperibadian. Diantaranya faktor biologis, faktor sosial, dan faktor kebudayaan. Keadaan fisik biologis seseorang tidak sama antara yang satu dengan orang yang lain. Keadaan fisik ini juga berpengaruh pada sifat, sikap serta tempramen seseorang, sehingga nampak ke khasan pada setiap individu. Demikian juga dengan faktor sosial (masyaraka). Dalam masyarakat ada peraturan adat istiada, bahasa maupun kepercayaan dan sebagainya. Dengan begitu individu tidak begitu saja terlepas dari hubungan tersebut. Bagi individu pengaruh dair masyarakat maupun keluarga akan turut mempengaruhi perkembangan kepribadiannya.

23

Faktor kebudayaan turut pula memberi andil dalam mempengaruhi kepribadian. Misalnya kepribadian orang barat dengan orang-orang timur tentu tidak sama. Hal ini disebabkan oleh faktor kebudayaan yang berada dan berkembang di wilayah masing-masing. Dalam kebudayaan terdapat nilai-nilai yang dianut, tradisi, pengetahuan maupun ketrampilan yang turut menentukan cara-cara bertindak atau bertingkah laku. Karena kebudayaan merupakan hasil daya cipta, dan karya manusia maka dalam mengerjakan atau melestarikan kebudayaan diperlukan orang yang cakap dan terampil. Untuk menjadikan seseorang yang cakap dan terampil dalam mempertahankan dan mengembangkan budaya salah satunya adalah

mereka yang berbakat kecakapan menjadi cepat berkembang karena faktor bakat yang turut menunjang. Seperti uraian di atas, bahwa kepribadian pada setiap orang berbeda-beda, bergantung pada bagaimana pengaruh yang masuk pada individu. Kepribadian yang sudah dimiliki inilah yang turut menentukan muncul tidaknya bakat seseorang. 2. Pengertian Bakat Numerik (Matematika Logis) Bakat numerik merupakan kecerdasan dalam menggunakan angkaangka dan penalaran (logika). Howard Gardner (dalam Bunda Lucky, 2010:75). Kecerdasan ini meliputi di bidang sains, mengklasifikasikan dan mengategorikan informasi, berfikir dengan konsep abstrak untuk menemukan hubungan antara suatu hal dengan hal lainnya, dan memecahkan masalah secara logis terutama dalam bidang matematika (memanipulasi angka).24

Individu yang memiliki kecerdasan logika-matematika pada umumnya memiliki cara berpikir yang teratur dan baik dalam mengerjakan sesuatu maupun dalam memecahkan masalah. Kecerdasan logis-matematis terlihat dari ketertarikan anak mengolah hal-hal yang berhubungan dengan matematika dan peristiwa ilmiah. Bedanya dengan kecerdasan lain, kecerdasan ini mempunyai suatu komponen khas, yaitu sebagai kepekaan dan kemampuan untuk membedakan pola logika atau numerik dan kemampuan menangani rangkaian penalaran yang panjang. Contoh, anak usia 2-4 tahun senang sekali menghitung-hitung benda-benda sekelilingnya. Karenanya, lingkungan dapat dijadikan sebagai sarana untuk menstimulasi. Misalnya, ajak mereka untuk menghitung bersama jumlah kuntum bunga yang ada di halaman rumah. Individu dengan kecerdasan matematika dan logika yang berkembang adalah orang yang mampu memecahkan masalah, mampu memikirkan, dan menyusun solusi dengan urutan yang logis. Mereka suka angka, urutan, logika dan keteraturan. Kecerdasan yang mencakup kemampuan meneliti pola-pola. Kategorikategori dan korelasi-korelasi dengan cara memanipulasi simbul-simbul dan mencobanya secara teratur dan terkendali. Kecerdasan ini menuntut kemampuan menangani bilangan dan perhitungan. Mencari hubungan matematika dan logika yang bermuara pada ketetapan hukum dasar. Hukum dasar bekerja bagaimana argumentasi disusun, bukti dan syarat dinyatakan dan kesimpulan dibuat. Anak yang dominan pada kecerdasan ini sudah25

tertarik dengan bilangan dan pola sejak usia dini. Mereka menikmati berhitung. Kesadaran dan konsep waktu amat tinggi. Kecenderungan belajar secara induktif dan deduktif menjadi acuan utama. Segala sesuatu akan dilogika. Dari logika akan timbul pemikiran ilmiah. Maka jika ada siswa yang masih sangat muda sudah hobi berpikir dengan format pola pantas ditengarahi dia menonjol di kecerdasan ini. Memberdayakan kecerdasan anak pada komponen ini; melatih mengambil keputusan dengan deduktif-induktif, memfasilitasi percobaan, membiasakan menghitung, dan membuat simulasi yang relevan. Latihan rutin pengambilan putusan dan memperhitungkan untung rugi bisa dimulai sejak dini. Konsep positif dan negarif dalam hitunghitungan yang selama ini sebagai aksioma bisa dijelaskan secara detail. C. Keterkaitan Bakat Numerik Dengan Pretasi Belajar Fisika SMA Di tengah semakin ketatnya persaingan di dunia pendidikan dewasa ini, merupakan hal yang wajar apabila para siswa sering khawatir akan mengalami kegagalan atau ketidak berhasilan dalam meraih prestasi belajar atau bahkan takut tinggal kelas. Banyak usaha yang dilakukan oleh para siswa untuk meraih prestasi belajar agar menjadi yang terbaik seperti mengikuti bimbingan belajar. Usaha semacam itu jelas positif, namun masih ada faktor lain yang tidak kalah pentingnya dalam mencapai keberhasilan selain kecerdasan ataupun kecakapan intelektual, faktor tersebut adalah bakat. Perwujudan nyata dari bakat dan kemampuan adalah prestasi (Utami Munandar 1992), karena bakat dan

26

kemampuan sangat menentukan prestasi seseorang. Orang yang memiliki bakat fisika diprediksi mampu mencapai prestsi yang menonjol dalam bidang fisika. Bakat adalah kemampuan tertentu yang telah dimiliki seseorang sebagai kecakapan pembawaan. Ungkapan ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Ngalim Purwanto (1986:28) bahwa bakat dalam hal ini lebih dekat pengertiannya dengan kata aptitude yang berarti kecakapan, yaitu mengenai kesanggupan-kesanggupan tertentu. Kartono (1995:2) menyatakan bahwa bakat adalah potensi atau kemampuan kalau diberikan kesempatan untuk dikembangkan melalui belajar akan menjadi kecakapan yang nyata. Menurut Syah Muhibbin (1999:136) mengatakan bakat diartikan sebagai kemampuan individu untuk melakukan tugas tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan. Dari pendapat di atas jelaslah bahwa tumbuhnya keahlian tertentu pada seseorang sangat ditentukan oleh bakat yang dimilikinya sehubungan dengan bakat ini dapat mempunyai tinggi rendahnya prestasi belajar bidang-bidang studi tertentu. Dalam proses belajar terutama belajar keterampilan, bakat memegang peranan penting dalam mencapai suatu hasil akan prestasi yang baik. Bakat khusus yang memperoleh kesempatan maksimal dan dikembangkan sejak dini serta didukung oleh fasilitas dan motivasi yang tinggi, akan dapat terealisai dalam bentuk prestasi unggul. Contoh konkret bakat yang tidak memperoleh kesempatan maksimal untuk berkembang adalah hasi penelitian yaumil agoes akhir (1999) yang menemukan bahwa sekitar 22% siswa SD dan SLTP menjadi anak yang Underachiever.

27

Artinya, prestsi belajar yang mereka peroleh berada dibawah potensi atau bakat intelektual yang sesungguhnya mereka miliki. Bakat memang sangat menentukan prestasi seseorang, tetapi sejauh mana itu akan terwujud menghasilkan suatu prestasi, masih banyak variabel yang menentukan. D. Hipotesis Berdasarkan uraian teoritik di atas, maka hipotesis penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. Hipotesis alternatif (Ha) : Ada hubungan antara bakat numerik dengan Prestasi belajar fisika 2. Hipotesis nihil (Ho) : Tidak ada hubungan antara bakat numerik dengan Prestasi belajar fisika

28

BAB III METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dari bulan Januari sampai dengan Maret di SMAN 2Sumbawa Besar, yang berfokus pada hubungan antara bakat numerik dengan prestasi belajar fisika siswa di SMAN 2 Sumbawa Besar. A. Jenis Penelitian Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati, yang bertujuan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami. Misalnya prilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan hal lainnya, secara holistic pada suatu konteks khusus yang alamiah dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Moleong, (2006:6). Pada penelitian ini data yang terkumpul bersifat kuantitatif. Kemudian dibuat kategorisasi baik dalam bentuk table, diagram maupun grafik. Halis kategorisasi tersebut kemudian dideskripsikan dan ditafsirkan dari berbagai aspek. Dengan kata lain data yang bersifat kuantitatif tersebut ditafsirkan lebih lanjut secara kualitatif. Karena itu, penelitian ini memerlukan ketajaman analisis, obyektivitas, dan sistematik, sehingga memperoleh ketepatan dalam interpretasi. Margono (2000:36). Berdasarkan penjelasan diatas, maka penelitian ini bersifat deskriptif kalitatif yang bertujuan untuk memberikan deskripsi atau gambaran tentang korelasi antara bakat numerik dengan prestasi belajar fisika pada siswa kelas X SMA Negeri 2 Sumbawa Besar Tahun Pelajaran 2010/2011.29

B. Sumber Data 1. Populasi Menurut Sutrisno Hadi (1993 : 70) populasi adalah seluruh penduduk atau individu yang paling sedikit mempunyai satu sifat yang sama. Pendapat lain menyatakan populasi adalah himpunan yang lengkap dari satuan-satuan atau individu-individu yang karakteristiknya ingin kita ketahui. Toha Anggoro, (2007:42). Berdasarkan kedua pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA 2 Sumbawa yang berusia antara 15-16 tahun. Berdasarkan data yang diperoleh dari pihak sekolah, jumlah populasi kelas X SMA 2 Sumbawa sebanyak 240 orang. 2. Sampel Mengacu pada tabel Morgan maka diperoleh jumlah sampel sebesar 148 orang. Adapun metode pengambilan sampel yang dipakai pada penelitian ini adalah menggunakan teknik proporsional random sampling. Menurut Sutrisno Hadi (1996:223) alasan penulis menggunakan random sampling ini adalah memberikan peluang yang sama bagi setiap anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Selain hal tersebut, Sutrisno Hadi (1996:223) mengatakan suatu cara disebut random apabila peneliti tidak memilih-milih individu yang akan ditugaskan untuk menjadi sampel penelitian. Teknik random sampling yang dipergunakan adalah dengan cara undian. Langkah pertama adalah dengan memberi nomor urut pada masing-masing sampel,30

setelah membuat nomor yang dimasukkan kedalam gelas yang berlubang kemudian diambil sebanyak 148 kali. Nomor yang keluar dipergunakan sebagai sampel penelitian. Sedangkan yang dimaksud dengan proporsional adalah dimana tiap-tiap sub populasi mendapat bagian atau kesempatan yang sama untuk menjadi sampel dalam penelitian. Menurut M. Nasir (1988:360), untuk prosedur pengambilan sampel dengan metode proporsional random sampling dipergunakan rumus sebagai berikut : ni ! Keterangan : ni : Jumlah sampel per sub populasi Ni : Total sub populasi N : Total populasi n : Besarnya sample Berdasarkan kriteria sampel di atas maka diperoleh distribusi sampling sebagai berikut : Kelas Populasi Sampel 1A 40 25 1B 42 26 1C 40 25 1D 38 23 1E 42 26 1F 38 23 Jumlah 240 140 Ni n N

31

C. Teknik Pengumpulan Data Adapun teknik yang dilakukan dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut: 1. Tes Tes adalah serentetan atau latihan yang digunakan untuk mengukur minat, bakat, sikap atau kemampuan seseorang (Yatim Riyanto, 2001:103). Pendapat lain mengatakan tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Suharsimi Arikunto, (2006:150). Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tes adalah seperangkat latihan yang dimaksudkan untuk mengukur minat, bakat, sikap atau kemampuan seseorang dalam pencapaian prestasi. Adapun tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes bakat numerik. Tes kemampuan bakat, mengukur taraf kemampuan seseorang untuk berhasil dalam bidang studi tertentu, program pendidikan vokasional tertentu atau bidang pekerjaan tertentu, lingkupnya lebih terbatas dari tes kemampuan intelektual (Test of Specific Ability; Aptitude Test ). Kemampuan khusus yang diteliti itu mencakup unsur-unsur intelegensi, hasil belajar, minat dan kepribadian yang bersama-sama memungkinkan untuk maju dan berhasil dalam suatu bidang tertentu dan mengambil manfaat dari pengalaman belajar dibidang itu. D. Instrumen Penelitian32

E. Teknik Analisis Data

DAFTAR PUSTAKA

http://pengantarpendidikan.wordpress.com/2010/12/02/dasar-dasarpelaksanaan-pendidikan-dan-undang-undang-sistem-pendidikan-nasional/ (hari minggu tgl 12 jam 9:31) http://paudjermanclub.blogspot.com/ http://abdulpurwanto.blogspot.com/2005_03_06_archive.html http://eko13.wordpress.com/2008/03/18/jenis-data-dan-metode-pengumpulandata/

33