bab_5_struktur n pola ruang rev

download bab_5_struktur n pola ruang rev

of 160

  • date post

    15-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    4.461
  • download

    11

Embed Size (px)

Transcript of bab_5_struktur n pola ruang rev

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

BAB 5 RENCANA STRUKTUR RUANG DAN POLA RUANG PROVINSI DKI JAKARTA5.1. SISTEM PUSAT KEGIATAN Pusat kegiatan merupakan kawasan dimana berbagai kegiatan masyarakat, seperti perdagangan, jasa pelayanan dan/atau pemerintah serta sarana sosial budaya berkumpul. Kota yang berkembang semakin besar dapat mempunyai beberapa pusat kegiatan dengan satu pusat utama. Pusat-pusat tersebut merupakan simpul penggerak dinamika kehidupan kota. Berbagai pengalaman menunjukkan bahwa pengelompokan kebutuhan masyarakat dalam pusat-pusat kegiatan pelayanan memiliki nilai efisiensi yang lebih tinggi dalam hal pemanfaatan lahan maupun penyediaan infrastruktur. Intensitas kegiatan dalam kawasan, keluasan jangkauang pelayanan, tingkat kebutuhan masyarakat terhadap kawasan, dan peningkatan nilai kehidupan. Pada abad ke 17 pusat kota Jakarta terletak di sekitar Taman Fatahillah dengan perdagangan di Glodok. Pada perkembangannya dikarenakan alasan kesehatan lingkungan pusat pemerintahan bergeser ke Weltevrenden (di Lapangan Banteng dan Gambir) disertai pengembangan senen dan Tanah abang sebagai daerah perdagangan. Perkembangan itu terus meluas ke selatan dan tumbuhlah permukiman baru dengan fasilitas perdagangan di Meester Cornelis atau Jatinegara. Untuk waktu yang lama Glodok, pasar senen, pasar Tanah abang dan Pasar Jatinegara menjadi pusat perdagangan utama. Mulai akhir tahun 1960an berkembang pola peremajaan pasar dimana pasar lama dibongkar dan dibangun baru menjadi pusat pertokoan. Langkah tersebut merupakan rintisan pertama menata kembali kawasan lama yang sudah lapuk dan membangun kembali dalam tatanan baru dengan berbagai kelengkapan yang diperlukan seperti tempat parkir, ruang terbuka dan lainnya. Peremajaan tersebut merupakan kerjasama antara swasta dan pemda, serta bertumpu pada lokasi pasar yang dimiliki pemda. Disekitar pusat pertokoan ini berkembang berbagai kegiatan perdagangan dan jasa lainnya. Beberapa contoh peremajaan pasar pada waktu itu adalah pasar senen, Blok M, Blok A, Mayestik, Glodok, Cikini. Mulai tahun 1980an berkembang pusat-pusat perbelanjaan baru dengan pola dan penampilan yang jauh berbeda. Pusat perbelanjaan baru ini dibangun sepenuhnya oleh swasta diatas tanah yang mereka bebaskan dari pemiliknya. Lokasi peremajaan lebih banyak ditentukan oleh penemuan lahan yang potensial serta dimana mereka dapat mencapai kesepakatan harga dan syarat jual beli. Perkembangan baru ini sepenuhnya dikelola oleh swasta yang mempunyai pemikiran dan pola kerja yang berbeda dengan pengelolaan pusat lama yang berpangkal pada pasar tradisional dari generasi sebelumnya. Pembangunan ini ada

5.1.1. Latar belakang pentingnya sistem Pusat Kegiatan

5-1

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

yang mengarah pada pusat perbelanjaan mewah dengan standar kualitas tinggi, dan sebagian lagi mengarah pada tingkat menengah dan mementingkan efisiensi ruang standar pelayanan medium. Banyak juga pusat perbelanjaan yang menyatu dengan apartment bertingkat tinggi. Sementara itu kesempatan kerja di sektor formal tidak dapat menampung semua angkatan kerja yang terus bertambah, banyak diantaranya yang masuk kesektor informal, yang sebagian memadati ruang publik seperti trottoir, lapangan, dan ruang terbuka lainnya. Pedagang kaki lima telah bertambah dengan sangat pesat dan perlu ditangani dengan seksama. Diperlukan strategi yang jelas dan realistik. Karenanya pada rencana tata ruang wilayah (RTRW) sistem pusat kegiatan harus ada penjelasan mengenai definisi pusat kegiatan dan sistem pusat kegiatan. 5.1.2. Definisi Sistem Pusat Kegiatan Sistem pusat kegiatan berdasarkan UU No. 26 Tahun 2007 digolongkan ke dalam sistem wilayah (pasal 1 ayat 18) dan sistem internal perkotaan (Pasal 1 ayat 19). Sistem wilayah adalah struktur ruang dan pola ruang yang mempunyai jangkauan pelayanan pada tingkat wilayah, sedang sistem internal perkotaan adalah struktur ruang dan pola ruang yang mempunyai jangkauan pelayanan pada tingkat internal perkotaan. Sistem perkotaan mempunyai jangkauan pelayanan tertentu yang mempunyai hirarki pusat kegiatan skala nasional, skala wilayah dan skala lokal. Pusat kegiatan sesuai hirarkinya tersebut didukung dan dilengkapi dengan jaringan prasarana wilayah yang tingkat pelayanannya disesuaikan dengan hirarki kegiatan dan kebutuhan pelayanan. Sedangkan yang dimaksud dengan jaringan prasarana wilayah sesuai tingkat pelayanan juga sesuai dengan hirarkinya seperti jaringan jalan primer, jaringan sekunder dan tersier analog dengan sistem jaringan lainnya. 5.1.3. Definisi Sistem Pusat Kegiatan dalam RTRW 2010 Pada Perda no.6 tahun 1999 tentang RTRW 2010 menggunakan nomenklatur sistem pusat kegiatan utama dan penunjang. Sistem pusat kegiatan utama terbagi dua yaitu : a. sistem pusat kegiatan utama menurut fungsi kawasan sebagai pembentuk struktur ruang b. sistem pusat kegiatan utama menurut fungsi khusus. Sedangkan sistem pusat kegiatan penunjang juga terbagi atas dua yaitu: a. kegiatan ekonomi b. kegiatan khusus. Terdapat dua penamaan khusus pada sistem pusat kegiatan utama dan penunjang. Karenanya pada RTRW 2030 hirarki sistem penamaannya terbagi atas tida Primer, sekunder dan tertier.

5-2

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

5.1.4. Definisi Sistem Pusat Kegiatan dalam RTRW 2030

5.1.4.1. Definisi Sistem Pusat Kegiatan PrimerPada RTRW 2030 sistem pusat kegiatan utama menurut fungsi kawasan sebagai pembentuk struktur ruang berganti nomenklaturnya menjadi sistem pusat kegiatan primer. Pengertian dari pusat kegiatan primer adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala internasional, nasional, atau beberapa provinsi.

5.1.4.2. Definisi Sistem Pusat kegiatan SekunderSistem pusat kegiatan utama menurut fungsi khusus pada RTRW 2030 berganti nomenklatur menjadi sistem pusat sekunder. Pengertian dari pusat kegiatan sekunder adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala provinsi atau beberapa kabupaten/kota.

5.1.4.3. Definisi Sistem pusat kegiatan TersierSistem pusat kegiatan penunjang pada RTRW 2010 terbagi atas pusat kegiatan ekonomi dan pusat kegiatan khusus. Pada RTRW 2030 nomenklatur penamaannya berubah menjadi pusat kegiatan tersier.Pengertian pusat kegiatan tersier adalah kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kabupaten/kota atau beberapa kecamatan. 5.1.5. Peran pusat-pusat kegiatan (Sentra) dalam Sistem Pusat Kegiatan Pengembangan pusat-pusat kegiatan sangat menentukan kerangka pertumbuhan kota karena: o o o o o perkembangannya sangat mempengaruhi kehidupan dan struktur ruang kota kegiatan ekonominya ekonomi kota sangat mempengaruhi perkembangan

konsentrasi berbagai kegiatan perdagangan dan jasa pelayanan memberi peluang kesempatan kerja yang sangat besar. kekuatannya sangat besar, yang jika tidak dikendalikan dengan baik kegiatan akan merambah daerah permukiman dan jalur hijau pusat kegiatan merupakan pengguna terbesar dari listrik, air, gas, telepon dll, karena itu harus direncanakan dengan cermat agar kebutuhan prasarana dan sarana kota dapat disiapkan dengan baik

Sebagai sebuah kota tumpuan harapan, DKI Jakarta dituntut untuk dapat mengakomodasi kebutuhan masyarakat dan kegiatan perkotaan yang semakin kompleks. Daya tarik kapital dan kelengkapan fasilitas perkotaan mendorong pertumbuhan penduduk dan penambahan angkatan kerja. Jumlah penduduk yang besar pada dasarnya adalah potensi utama yang dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi suatu kota. Namun, ia juga membawa konsekuensi peningkatan kebutuhan

5-3

Naskah Akademis RTRW DKI Jakarta 2010-2030

akan fasilitas hunian, tempat kerja, dan fasilitas-fasilitas perkotaan lainnya. Sebagai ibukota negara, Jakarta tidak hanya melayani penduduknya tetapi juga menyediakan pelayanan kepada berbagai daerah. Jika ingin berkembang sebagai kota jasa, Jakarta harus juga mampu melayani kebutuhan regional Asia dan dunia. Berbagai pengalaman menunjukkan bahwa pengelompokan kebutuhan masyarakat dalam sentra-sentra pelayanan memiliki nilai efisiensi yang lebih tinggi dalam hal pemanfaatan lahan maupun penyediaan infrastruktur. Intensitas kegiatan dalam kawasan, keluasan jangkauan pelayanan, tingkat kebutuhan masyarakat terhadap kawasan, peningkatan nilai lahan, minat investasi dan pembangunan fisik yang terjadi menjadi indikator keberhasilan suatu sentra. 5.1.6. Sistem Pusat Kegiatan Berdasarkan RTRW 2010 Sistem pusat kegiatan berdasarkan RTRW 2010 DKI Jakarta Pasal 17 adalah sebagai berikut: (1) Sistem pusat kegiatan ditetapkan untuk menunjang Jakarta sebagai kota jasa dan memeratakan pusat kegiatan pemerintahan, kegiatan sosial, ekonomi, budaya, serta kegiatan pelayanan. Sistem pusat kegiatan dibedakan berdasarkan kegiatan kawasan sebagai pembentuk struktur ruang dan kawasan fungsi khusus sebagai pusat pemerintahan, pusat perwakilan negara asing, pusat kegiatan sosial, ekonomi, dan budaya. Sistem pusat kegiatan terdiri dari Pusat Kegiatan Utama dan Pusat Kegiatan Penunjang. Sistem Pusat Kegiatan Utama menurut fungsi kawasan sebagai pembentuk struktur ruang, ditetapkan sebagai berikut : a. b. c. d. e. f. g. h. (5) Sentra Primer Baru Timur sebagai pusat pemerintahan Kota Administrasi, perkantoran, perdagangan dan jasa; Sentra Primer Baru Barat sebagai pusat pemerintahan Kota Administrasi, perkantoran, perdagangan dan jasa; Pusat Niaga Terpadu Pantura sebagai pusat niaga baru di bidang perdagangan, jasa dan lembaga keuangan; Sentra Primer Glodok sebagai pusat perdagangan elektronik; Sentra Primer Tanah Abang sebagai pusat perdagangan tekstil; Pusat Niaga Terpadu Kuningan, Sudirman, dan Casablanca sebagai pusat perkantoran dan jasa keuangan; Pusat Niaga Terpadu Mangga perdagangan pakaian jadi; Dua sebagai pusat

(2)

(3) (4)

Pusat Niaga Terpadu Bandar Baru Kemayoran sebagai pusat eksibisi dan informasi bisnis.

Sistem Pusat Kegiatan Utama men