Laporan Akhir_Bab8_Rencana Pola Ruang

14
VIII - 1 A. UMUM TATA RUANG adalah Wujud STRUKTUR RUANG dan POLA RUANG. Dimana pola ruang merupakan distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budidaya. POLA RUANG merupakan alokasi pemanfaatan ruang yang pada prinsipnya merupakan perwujudan dari upaya pemanfaatan sumberdaya alam di suatu wilayah melalui pola pemanfaatan yang diyakini dapat memberikan suatu proses pembangunan yang berkesinambungan. Dalam filisofi ruangnya secara lebih tegas dinyatakan bahwa pola ruang adalah bentuk pemanfaatan ruang yang menggambarkan ukuran, fungsi, serta karakter kegiatan manusia dan atau kegiatan alam. Secara umum rencana pola ruang kota Makassar, digambarkan sebagai berikut: B. RENCANA POLA RUANG KAWASAN LINDUNG Secara umum Kawasan lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan. Berdasarkan Keputusan Presiden RI No.32 Tahun 1990 tentang pengelolaan Kawasan Lindung, dalam penetapan pola perencanaan kawasan lindung kota Makassar mengakomodasi kawasan-kawasan berikut: Gambar 8-1 Rencana Pola Ruang Kota Makassar 2010-2030 LAPORAN AKHIR BAB VIII. RENCANA POLA RUANG WILAYAH KOTA MAKASSAR

description

Rencana Pola Ruang

Transcript of Laporan Akhir_Bab8_Rencana Pola Ruang

Page 1: Laporan Akhir_Bab8_Rencana Pola Ruang

VIII - 1

A. UMUM

TATA RUANG adalah Wujud STRUKTUR RUANG dan POLA RUANG. Dimana pola ruang merupakan distribusi

peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan

ruang untuk fungsi budidaya.

POLA RUANG merupakan alokasi pemanfaatan ruang yang pada prinsipnya merupakan perwujudan dari upaya

pemanfaatan sumberdaya alam di suatu wilayah melalui pola pemanfaatan yang diyakini dapat memberikan

suatu proses pembangunan yang berkesinambungan. Dalam filisofi ruangnya secara lebih tegas dinyatakan

bahwa pola ruang adalah bentuk pemanfaatan ruang yang menggambarkan ukuran, fungsi, serta karakter

kegiatan manusia dan atau kegiatan alam.

Secara umum rencana pola ruang kota Makassar, digambarkan sebagai berikut:

B. RENCANA POLA RUANG KAWASAN LINDUNG

Secara umum Kawasan lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian

lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan. Berdasarkan Keputusan

Presiden RI No.32 Tahun 1990 tentang pengelolaan Kawasan Lindung, dalam penetapan pola perencanaan

kawasan lindung kota Makassar mengakomodasi kawasan-kawasan berikut:

Gambar 8-1 Rencana Pola Ruang Kota Makassar 2010-2030

LAPORAN AKHIR

BAB VIII. RENCANA POLA RUANG WILAYAH KOTA MAKASSAR

Page 2: Laporan Akhir_Bab8_Rencana Pola Ruang

VIII - 2

1. Kawasan Resapan Air

Kawasan resapan air adalah kawasan/wilayah yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem

penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah instrusi air

laut, dan memelihara kesuburan tanah.

Dalam spasial pola ruang Kawasan Resapan Air adalah kawasan yang mempunyai kemampuan tinggi

untuk meresapkan air hujan sehingga merupakan tempat pengisian air bumi (akifer) yang berguna bagi

sumber air. Kriteria kawasan resapan air adalah curah hujan yang tinggi, memiliki struktur tanah yang mudah

meresapkan air dan bentuk geomorfologi yang mampu meresapkan air hujan secara besar-besaran.

Kawasan resapan air di Kota Makassar sangat perlu mendapat perlindungan untuk memberikan ruang yang

cukup bagi peresapan air hujan pada daerah tertentu untuk keperluan penyediaan kebutuhan air tanah dan

penanggulangan banjir, baik untuk kawasan bawahannya maupun kawasan yang bersangkutan. Apalagi

peningkatan dalam penggunaan lahan kosong cukup signifikan tiap tahunnya. Hal ini tentunya dapat

berpengaruh terhadap penyusutan atau berkurangnya area/ sentra-sentra daerah resapan air di ruang kota

Makassar.

Daerah resapan air di Kota Makassar berada di danau Balang Tonjong yang selama ini menjadi kawasan

prioritasnya. Namun, jika dilihat dari segmen ataupun peran dari kawasan, tidak hanya daerah tersebut yang

dapat diperuntukkan sebagai area resapan air, tetapi kawasan lain juga dapat difungsikan. Dalam arah

perencanaannya segmen daerah tersebut adalah daerah sekitar sungai Tallo dan sungai Jeneberang, dan

berada disekitar kantong-kantong danau, tambak dan rawa ataupun pesisir pantai. Yang semua itu tersebar

di area kawasan kota Makassar (Tabel 8-1).

Tabel 8-1 Daerah Resapan Air (Ha), 2009

Total Luasan Danau Rawa Sungai

84,95105999 382,6467371 530,1948464

Untuk itu dalam arah pemanfaatan maupun kebijakan dalam pengembangan kota kedepan harus mendapat

perhatian. Sehingga tercipta keseimbangan antara manusia dan lingkungan yang dinamis.

2. Kawasan Sempadan Pantai

Kota Makassar sebagai kota Water Front City memiliki panjang garis pantai

sekitar 35 Km dengan lintasan sempadan pantai dari arah utara (Untia)

sampai kearah Selatan (Tanjung Bunga).

Secara fungsi, bagian dari kawasan sempadan pantai di Kota Makassar

adalah Kawasan Hutan Mangrove yang lokasinya berada di wilayah pesisir

laut bagian utara (Pantai Untia) dan merupakan habitat alami hutan bakau

(mangrove) yang berfungsi memberi perlindungan kepada perikehidupan

pantai dan lautan. Hutan mangrove pada umumnya berada di muara sungai,

daerah pasang surut atau tepi laut. Tumbuhan mangrove bersifat unik

karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan

di laut. Umumnya mangrove mempunyai sistem perakaran yang menonjol

yang disebut akar nafas (pneumatofor). Sistem perakaran ini merupakan

suatu cara adaptasi terhadap keadaan tanah yang miskin oksigen atau

bahkan anaerob.

Gambar 8-2 Sempadan Pantai Losari

Page 3: Laporan Akhir_Bab8_Rencana Pola Ruang

VIII - 3

Berdasarkan keadaan eksisting sempadan pantai sepanjang koridor pantai Losari saat ini telah dibangun

bangunan pantai yang berfungsi sebagai pemecah ombak. Dengan keadaan tersebut arus dan energi

gelombang yang berasal dari laut dalam dapat teredam karena terjadi refraksi dan difraksi gelombang di

daerah tersebut. Sehingga dapat mengurangi tingkat abrasi pada area kawasan. Selain di Losari di pantai

Tanjung Bunga juga telah dibangun pemecah gelombang (breakwater). Breakwater tersebut dibangun

semicircular ke arah muara sungai dengan tujuan sedimen yang berasal dari sungai Jeneberang dapat

terakumulasi pada kantong bangunan, sehingga tidak secara langsung tersedimentasi di pantai.

Dalam arah perencanaannya sempadan pantai yang masih alami dan tidak terjadi degradasi dilakukan

upaya-upaya pemanfaatan dengan melakukan kebijakan-kebijakan yang tentunya dapat mengkonservasi

daerah tersebut. Upaya-upaya ataupun kebijakan tersebut dapat dilakukan dengan cara mempertahankan

kawasan sekitar mangrove dan menjaga kelestarian lingkungan di area tersebut (Untia, dan pantai sekitar

teluk Losari yang membentuk lidah pasir).

Sedangkan daerah/kawasan yang telah mengalami degradasi pantai dapat dilakukan upaya-upaya sebagai

berikut:

Membangun breakwater terhadap sempadan pantai yang diiringi dengan penghijauan mangrove di sekitar

koridor pantai Tanjung bunga. Sehingga mengurangi derajat abrasi pantai.

Melakukan kegiatan artificial reef sebagai upaya rehabilitasi lingkungan laut. Dimana fungsi dari ekosistem

karang tersebut merupakan media peredam gelombang laut secara alami, sehingga energi gelombang

yang dihempaskan di pantai tidak cukup besar.

3. Kawasan Sempadan Sungai

Kawasan Sempadan sungai adalah kawasan sepanjang kiri kanan

sungai, termasuk sungai buatan/kanal/saluran irigasi primer, yang

mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian

fungsi sungai. Perlindungan terhadap sempadan sungai dilakukan

untuk melindungi sungai dari kegiatan manusia yang dapat

mengganggu dan merusak kualitas air sungai, kondisi fisik pinggir

dan dasar sungai, ekosistem sungai dan disekitarnya serta

mengamankan aliran sungai.

Berdasarkan Keputusan Presiden RI No.32 Tahun 1990 tentang pengelolaan Kawasan Lindung, sempadan

sungai ditetapkan pada kawasan yang sekurang-kurangnya 50 meter di kiri kanan anak sungai yang berada

di luar permukiman dan sekitar 10-15 meter di kiri dan kanan anak sungai yang berada di kawasan

permukiman. Selanjutnya, dalam arah rencana penetapannya sepanjang koridor Sungai Je‟[neberang dan

Tallo merupakan kawasan sempadan sungai di Makassar.

Dalam kondisi eksisting, Sungai Tallo telah banyak mengalami degradasi. Pada umumnya daerah sekitar

sempadan sungai ini telah beralih fungsi menjadi kawasan pemukiman dan kawasan bisnis, sehingga ruang

sempadan tersebut semakin sempit. Pengalihan fungsi kawasan inilah yang menyebabkan inkonsistensi

lingkungan, karena telah banyak campur tangan manusia di dalamnya.

Lain halnya dengan sungai Jeneberang, sungai ini masih dapat terkontrol keseimbangan lingkungannya.

Disepanjang koridor sempadan jeneberang dapat dijumpai pemanfaatan lahan sebagai objek pemanfaatan

lahan dengan adanya penanaman tanaman hias.

Dalam arah pengembangan pola ruang kota Makassar, dilakukan upaya dan rencana sebagai berikut:

Gambar 8 -3 Sungai Jeneberang, Makassar

Page 4: Laporan Akhir_Bab8_Rencana Pola Ruang

VIII - 4

Merencanakan pemanfaatan tanggul-tanggul dengan ketinggian tertentu sehingga luapan air Sungai

pada musim penghujan tidak memberikan pengaruh yang cukup besar;

Mengatur dan menata kembali sistem drainase kota;

Pada daerah sungai yang mendapat pengaruh pasang surut air laut (hilir Jeneberang dan Tallo) dapat

dimanfaatkan sebagai area jalur hijau.

4. Kawasan Sekitar Danau

Danau secara umum memiliki pengertian yakni bagian dari sungai yang lebar dan kedalamannya secara

alamiah melebihi ruas lain dari sungai yang bersangkutan. Danau memiliki berbagai manfaat untuk pengairan

irigasi, ternak dan kebun, sebagai objek pariwisata, sebagai tempat usaha perikanan darat, sebagai sumber

daya listrik dan juga sumber penyediaan air bagi makhluk hidup sekitar

dan juga sebagai pengendali banjir dan erosi.

Kota Makassar memiliki beberapa danau yang terletak di kawasan

permukiman terpadu, kawasan pusat kota dan kawasan riset dan

pendidikan terpadu, dengan luasan masing-masing sekitar 71,53 Ha, 6,11

Ha, dan 7,3 Ha. Pada umumnya danau di kota Makassar difungsikan

sebagai area/kawasan resapan air.

Dalam arah perencanaanya kawasan danau dapat diperuntukkan untuk:

memfungsikan ekosistem yang ada;

Memanfaatkan area sekitar danau sebagai area ruang terbuka hijau;

Memanfaatkan kawasan danau sebagai kawasan wisata/olahraga memancing.

5. Kawasan Rawan Bencana Alam

Bencana diartikan sebagai suatu kejadian di luar kebiasaan (kondisi normal). Bencana dapat dibagi dalam

bencana fisik dan bencana non fisik. Bencana selain disebabkan oleh faktor alam yang diluar kondisi normal

dapat juga disebabkan oleh tindakan manusia yang secara simultan dapat mendatangkan bencana.

Kawasan rawan bencana alam di Kota Makassar adalah kawasan yang diidentifikasi sering dan berpotensi

tinggi mengalami bencana alam seperti gempa bumi, angin topan, kenaikan sea level, banjir, longsor.

a. Bencana Banjir

Berdasarkan topografinya, kota Makassar dikategorikan sebagai pedataran landai dengan ketinggian

mencapai 1-22 m dpl. Kondisi tersebut dapat memicu terjadinya banjir atau luapan air yang juga didukung

oleh sistem drainase kota yang belum optimal. Kawasan yang sering mengalami banjir terkonsentrasi di

daerah dengan elevasi 1-4 m dpl. Daerah tersebut seperti di kecamatan Tamalanrea, Tallo, Ujung Tanah

dan area sekitar kawasan sungai Jeneberang. Selain itu kota Makassar juga sering terjadi luapan air

terkhusus di daerah yang padat penduduk, daerah kumuh, dan daerah yang belum jelas system

drainasenya.

Dalam arah perencanaan dan pengembangan pola ruang kota Makassar, upaya dan kebijakan yang perlu

dilakukan adalah:

Memperbaiki atau menata kembali system drainase kota, terutama drainase yang berfungsi relatif

belum optimal. Seperti KecamatanTamalanrea dan kawasan kota yang padat penduduk;

Memfungsikan secara optimal daerah/kawasan resapan air. Jika perlu membuat danau buatan di

kawasan belum terbangun.

b. Gempa Bumi

Gempa bumi adalah getaran yang terjadi di permukaan bumi. Gempa bumi biasa disebabkan oleh

pergerakan kerak bumi (lempeng bumi). Kata gempa bumi juga digunakan untuk menunjukkan daerah

Gambar 8 -4 Danau Unhas

Page 5: Laporan Akhir_Bab8_Rencana Pola Ruang

VIII - 5

asal terjadinya kejadian gempa bumi tersebut. Bumi kita walaupun padat, selalu bergerak dan gempa

bumi terjadi apabila tekanan yang terjadi karena pergerakan itu sudah terlalu besar untuk dapat ditahan.

PREDIKSI GEMPA BUMI sampai sekarang masih dalam taraf PENELITIAN dan belum ada yang akurat,

prediksi bencana alam yang tepat dan teliti belum bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah karena

tanda-tandanya (precursor) tidak pasti, sehingga FAKTOR MITIGASI lebih penting untuk mencegah

kerugian dan bencana yang lebih besar. Untuk itu diperlukan ANALISA RESIKO yang mencakup

parameter gempa bumi, bangunan dan geologi setempat.

Dalam arah perencanaan dan pengembangannya, upaya dan kebijakan yang perlu dilakukan adalah :

Mengembangkan pola pembangunan pemukiman yang mengakomodasi faktor resiko dari gempa

bumi;

Menerapkan sepenuhnya pembangunan gedung-gedung dan fasilitas umum yang tahan gempa;

Membangun kesadaran Waspada Bencana bagi masyarakat kota.

c. Kenaikan Sea Level Rise

Kenaikan muka air laut tinggi telah terjadi dibeberapa daerah dan pulau di Indonesia, seperti hilangnya

salah satu pulau di Maluku, di Pulau Bonetambung Makassar telah terjadi perubahan garis pantai dan air

masuk hingga daratan pulau. Untuk daerah pesisir Makassar ancaman terbesar berada dipantai Selatan

yaitu Tanjung Bunga dan Pantai Akkarena yang saat ini juga dipengaruhi oleh abrasi pantai. Hal ini juga

akan semakin parah karena pantai tersebut tidak memiliki pelindung pantai seperti mangrove ataupun

tanggul laut yang dapat meredam gelombang pantai dan mengurangi pengaruh kenaikan muka air laut.

Sementara dipantai bagian Utara yang merupakan pantai landai, telah terdapat vegetasi mangrove

sebagai barier atau penghalang walaupun dalam jumlah kepadatan yang semakin menurun.

Dalam analisis ilmuwan didunia melalui forum UNFCC, bahwa dalam 100 tahun kedepan kenaikan muka

air laut setinggi 110 cm sebagai akibat peningkatan suhu global sebesar 6o C, dan kejadiannya akan

mengancam pulau dan daerah pesisir yang dapat merendam daratan hingga batas ketinggian diatas muka

air laut rata rata. Untuk daerah Makassar dengan ketinggian muka air laut rata rata saat ini dalam kisaran

157 cm, maka dalam prediksi 100 tahun kedepan, tinggi muka air laut rata rata meningkat hingga 267 cm,

yang mengakibatkann ancaman terhadap daerah relief rendah dan ketinggian diatas permukaan air laut

dibawah 2,5 meter.

Adapun daerah yang terancam bencana kenaikan air laut di kota Makassar adalah sebagai berikut:

Dalam arah perencanaan pengembangan kawasan dilakukan upaya atau strategi, sebagai berikut:

1. Membuat tanggul di area sepanjang pantai yang terancam kenaikan sea level rise;

Tabel 8-2 Kawasan Sebagai Ancaman Kenaikan Sea Level Rise

Page 6: Laporan Akhir_Bab8_Rencana Pola Ruang

VIII - 6

2. Melakukan pembangunan, reklamasi pantai maupun bangunan pantai di atas nilai rata-rata sea level

rise.

d. Kawasan Rawan Bencana Longsor

Bencana Tanah longsor yang terjadi di kaki gunung Bawakaraeng tahun 2004 lalu masih menyisakan

permasalahan dan ancaman yang perlu mendapatkan perhatian serius. Ancaman itu berupa endapan

sedimentasi yang saat ini terus bertambah di kawasan Bendungan Bili-Bili.

Jika semakin menebal, sedimentasi itu bisa

menjebol Waduk Bili-Bili dan menyebabkan

banjir besar hingga ke Kota Makassar.

Gunung Bawakaraeng memiliki tingkat

longsor potensial sekitar 115 juta meter

kubik. Dari volume potensial longsor

tersebut, 22 juta meter kubik termasuk

dalam kategori level satu atau patut

diwaspadai. Sewaktu-waktu bisa saja

runtuh, terutama dimusim hujan.

Bendungan Bili-bili di Kabupaten Gowa, saat ini menampung 60 juta m3 material longsor dari 300 juta

meter kubik potensi longsor Gunung Bawakaraeng.

Selain ancaman Banjir, peristiwa longsornya waduk Bili-Bili ini juga mempengaruhi pasokan air bersih ke 3

wilayah, Makassar, Gowa dan daerah lainnya. Berikut juga, ancamannya akan mengarah pada pasokan

energi listrik.

Untuk ke-depan, arahan kebijakan dalam penanggulangan dan antisipasi bencana longsoran Gunung

Bawakaraeng akan dilakukan sebagi berikut :

1. Menyediakan daya dukung yang maksimal pada upaya-upaya pencegahan sedimentasi di Waduk Bili-

Bili. Termasuk pula dengan pembangunan sejumlah embung atau situ-situ besar di kawasan Kota

Makassar yang memungkinkan untuk itu.

2. Merevitalisasi kawasan-kawasan aliran sungai agar bisa meminimalisir dampak bencana yang

mungkin terjadi.

3. Membangun kesadaran awal „Sadar Ancaman Bencana‟ bagi masyarakat yang termasuk dalam

kawasan rawan, agar memiliki kesadaran antisipatif terhadap ancaman bencana yang ada saat ini.

Termasuk di dalamnya, penghijauan di areal sempadan sungai sebagai penahan laju sedimentasi.

6. Rawa

Rawa adalah suatu genangan air secara alamiah yang terjadi terus

menerus atau musiman akibat drainase alamiah yang terhambat serta

mempunyai ciri-ciri yang khusus secara fisik, kimiawi dan biologis. Rawa

secara alami berfungsi sebagai daerah resapan air, yang dalam artian

bahwa dapat menampung luapan/genangan air pada saat terjadi hujan.

Di kota Makassar rata-rata luasan rawa yang terluas adalah di kawasan

permukiman, yakni 254,79 Ha (data Eksisting, 2009). Dan luasan rawa

secara menyeluruh di Makassar sekitar 382,65 Ha. Gambar 8-5 Rawa, Makassar

Page 7: Laporan Akhir_Bab8_Rencana Pola Ruang

VIII - 7

Dalam arah perencanaanya area rawa ini merupakan kawasan lindung yang harus mendapat perhatian

dalam penetapan kebijakan bagi pengembangan kawasan kota Makassar. Dan upaya-upaya yang dilakukan

adalah sebagai berikut:

Memfungsikan ekosistem lingkungan sekitar rawa;

Memanfaatkan area sekitar rawa sebagai area Ruang Terbuka Hijau (RTH);

Memanfaatkan kawasan rawa sebagai area resapan/tangkapan air, atau sebagai area/kawasan

wisata/olahraga memancing.

C. RENCANA POLA RUANG KAWASAN BUDIDAYA

1. Cagar Budaya

a. Kriteria Kawasan Cagar Budaya

Cagar Budaya adalah kegiatan untuk menjaga atau melakukan konservasi terhadap benda-benda

alam atau buatan manusia yang dianggap memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan dan

kebudayaan. Di Indonesia, benda cagar budaya harus berumur sekurang-kurangnya 50 tahun (UU

No.5 tahun 1992). Adapun Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan adalah Daerah Karst

(kering dan berair), daerah dengan budaya masyarakat istimewa, dan kawasan lokasi situs

purbakala/peninggalan sejarah bernilai tinggi.

b. Eksisting Kawasan Cagar Budaya di Kota Makassar

Kawasan Cagar Budaya di Kota Makassar memiliki kriteria berupa tempat serta ruang disekitar

bangunan bernilai budaya tinggi, situs purbakala yang mempunyai manfaat tinggi untuk

pengembangan ilmu pengetahuan dan nilai histori peradaban Kota Makassar. Kawasan Cagar Budaya

di Kota Makassar ini terdapat beberap kecamatan.

Adapun bangunan yang bernilai budaya di Makassar meliputi:

1. Benteng Fort Rotterdam (Kecamatan Wajo)

Fort Rotterdam yang juga akrab disebut dengan Benteng Makassar

ini akan mudah dikenali karena sangat mencolok dengan arsitektur

era 1600 an yang berbeda dengan rumah dan kantor diseputarnya.

di Bagian depannya berdiri kokoh patung Sultan Hasanuddin

menunggang kuda putih, dan bila kita bertanya benteng ini kepada

penduduk sekitar akan dengan mudah kita mendapat jawabannya.

Dari ketinggian, bentuk benteng seperti bentuk totem penyu yang

bersiap hendak masuk kedalam pantai.

Benteng ini awalnya dibangun tahun 1545 oleh raja Gowa ke X yakni Tunipallangga Ulaweng. Bahan

baku awal benteng adalah tembok batu yang dicampur dengan tanah liat yang dibakar hingga kering.

Bangunan didalamnya diisi oleh rumah panggung khas Gowa dimana raja dan keluarga menetap

didalamnya. Ketika berpindah pada masa raja Gowa ke XIV, tembok benteng lantas diganti dengan

batu padas yang berwarna hitam keras.

Benteng Fort Rotterdam dijadikan kantor pemerintah yakni Pusat Kebudayaan Makassar, sehingga

suasana seram yang biasa kita jumpai dilokasi tua semacam ini tidak begitu kental karena masih

dijumpai manusia berseliweran kian kemari. Karena area ini dipakai sebagai kantor, sehingga

kebersihan dan kerapihan lingkungan disana masih terawat cukup baik.

Gambar 8-6 Benteng Fort Rotterdam,

Makassar

Page 8: Laporan Akhir_Bab8_Rencana Pola Ruang

VIII - 8

Sebagai kota yang kental aspek sejarah dan kebudayaan-nya, harus ada upaya terpadu untuk

merevitlisasi keberadan serta pemanfaatan Benteng Fort Rotterdam ini. Dalam arah perencanaannya

upaya yang dilakukan untuk itu adalah :

1. Revitalisasi kondisi dan lingkungan eksisting sekitar Benteng Fort Roterdam, dengan menyediakan

kawasan yang lebih luas untuk itu. Hal ini bisa dilakukan dengan melakukan peninjauan kembali

gedung-gedung yang ada disekitar lokasi Benteng tersebut

2. Memaksimalkan peran dan fungsi setiap gedung yang ada dalam kompleks Benteng Fort

Rotterdam untuk kepentingan Seni Budaya. Misalnya saja dengan menyediakan toko-toko

souvenir atau cinderamata, dan menyediakan panggung serbaguna untuk kepentingan seni tradisi

budaya.

3. Menjadikan Benteng Ford Rotterdam sebagai salah satu „Land Mark Kota Makassar‟.

2. Arsitektur Masjid Al-Markaz (Kec.Bontoala)

Arsitektur masjid merupakan perpaduan dari Masjidil Haram, Masjid

Nabawi, Masjid Katangka Gowa dan rumah adat Bugis-Makasar.

Pendirian masjid diatas lahan seluas 10 hektar, yang terletak di jalan

Masjid Raya no. 57 Makasar. Bangunan utama masjid ini terdiri atas

tiga lantai dengan luas keseluruhan 6.932 m2 dengan perincian luas

lantai satu 2.932 m2, lantai dua 2.916m2, dan lantai tiga seluas 1.100

m2. Tinggi menara mencapai 84 meter dengan ukuran 3 x 3 m.

ika bangunan masjid dilihat dari arah depan atau dari sebelah timur,

tampak perpaduan arsitektur Timur Tengah dan arsitektur lokal.

Terdapat lima menara di sekeliling masjid, yang salah satu di

antaranya tinggi menjulang hingga 84 meter.

Dalam bidang keagamaan, Masjid Al-Markaz telah menjadi pusat ibadah umat. Banyak jamaah dari

dalam dan luar kota melaksanakan shalat lima waktu di masjid ini. Apalagi pada hari-hari besar Islam,

jumlah jamaah membeludak, melebihi hari-hari biasa. Secara keseluruhan, masjid ini mampu

menampung sebanyak 10.000 jamaah. Dan bila memanfaatkan halamannya untuk kegiatan ibadah

atau kegiatan keagamaan, diperkirakan bisa mencapai 50.000 jamaah. Masjid ini juga disebut-sebut

sebagai salah satu yang termegah di kawasan Asia Tenggara, karena bentuk fisiknya yang memang

begitu megah.

Arahan pemanfaatan ke depan dari Masjid Al MArkaz ini adalah :

1. Menjadikan Al Markaz sebagai pusat interaksi dan integrasi sosial masyarakat, dengan

memanfaatkan ketersediaan lahannya yang cukup luas.

2. Mendayagunakan Masjid Al Markaz sebagai pusat pengembangan nilai-nilai religious dan ke-

Islaman melalui peningkatan intensitas kajian-kajian keber-Agamanan dan studi-studi Islam lainnya.

3. Menjadikan Masjid Al Markaz sebagai pusat pendidikan dan pembelajaran Islam melalui

peningkatan kapasitas perpustakaan dan studi-studi literal lainnya.

3. Benteng Somba Opu

Benteng Somba Opu adalah salah satu bangunan tembok besar yang dibangun mengelilingi kompleks

kerajaan Gowa yang terletak di Jalan Daeng Tata, Kelurahan Somba Opu, Kecamatan Tamalate.

Benteng ini dibangun pada abad ke-XV oleh Raja Gowa Daeng Marante Tuparisi Kallonna. Benteng

tersebut merupakan pusat pemerintahan, perniangaan dan pelayaran kerajaan Gowa di masa lampau

Gambar 8-7 Masjid Al-Markaz, Makassar

Page 9: Laporan Akhir_Bab8_Rencana Pola Ruang

VIII - 9

hingga masa berkuasanya raja Gowa ke XVI Sultan Hasanuddin yang

diberi julukan oleh Belanda “Ayam Jantan dari Timur”.

Benteng Somba Opu pernah menjadi ajang pertempuran sengit antara

serdadu Belanda dan prajurit kerajaan Gowa pada masa itu yang

disebut “Perang Makassar” terbukti dengan terdapatnya meriam yang

jumlahnya kurang lebih 272 buah untuk melindungi benteng termasuk

satu meriam yang diberi nama “Anak Makassar” dan 30.000 peluru

meriam yang ditembakkan oleh VOC.

Benteng Somba Opu terletak dibagian selatan kota Makassar ± 7 km

dari pusat kota.

Nama lengkap Kareng Pattingalloang adalah Imangadacinna Daeng Sitaba yang merupakan putra

Raja Tallo I bernama I Mallingkung Daeng Manyonri dan ibunya bernama I Wara.

Karaeng Pattingalloang walaupun terkenal dengan ketegaran dan kewibawaannya akan tetapi ia tidak

berhasil menjabat Raja Tallo menggantikan ayahnya. Walaupun demikian saudara dari karaeng

Pattingalloang yang kemudian menjabat sebagai Raja Tallo bernama Mangkubumi yang menggantikan

Ayahnya.

Dalam arah perencanaan pola ruangnya kawasan cagar budaya tetap dipertahankan eksistensinya

sebagai kawasan yang bernilai sejarah, budaya dan pendidikan.

1. Merekonstruksi bagian-bagian Benteng Somba Opu yang terancam rusak dengan memperhatikan

sepenuhnya aspek-aspek historis. Sejauh mungkin tidak sampai merusak orisinilitas bangunan;

2. Merevitalisasi keberadaan rumah-rumah budaya dari Kabupaten/Kota di Sulsel yang ada di

sekitaran Lokasi Benteng agar bisa mendukung peran kultural-historisnya;

3. Memperkaya titik-titik informasi di kawasan Benteng Somba Opu sebagai pengenalan komprehensif

dari sejarah Benteng tersebut;

4. Memperhatikan sepenuhnya kondisi eksisting sekitar Benteng Somba Opu, terutama sedimentasi

sungai Jeneberang agar tidak mengancam keberadaan Benteng tersebut.

2. Industri (KIMA)

Kawasan industri adalah kawasan yang di dalamnya difungsikan untuk

kegiatan industri. Kawasan Industri Makassar tertetak di sebelah Utara

Kota Makassar dengan luas 759,05 Ha dan akan dikembangkan

menjadi 703 Ha merupakan tempat yang sangat ideal dan strategis

untuk mendirikan berbaga industri karena lokasinya berada disekitar 5

km dari Pusat Kota dan pelabuhan Laut Makassar serta 10 km dari

Bandara Hasanuddin. Areal Kawasan Indusrti Makassar menyediakan

kapling tanah matang yang tetah ditengkapi dengan sarana dan

prasarana. Kapling yang disediakan bervariasi antara 0,5 Ha - 5,0 Ha dan masing-masing dilengkapi

dengan fasilitas Lampu Penerangan, Jalan, Air Bersih dan Saluran Pembuangan Air Limbah serta

dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan kemudahan antara lain: .

1. Tersedia Pusat pengolahan Limbah dengan kapasitas 3000 m3/detik.

2. Tenaga listrik PLN dengan kapasitas 60.000 KVA.

3. Jaringan telepon 2.000 SST.

4. Sarana jalan yang dilengkapi dengan lampu.

Gambar 8-8 Somba Opu,

Makassar

Gambar 8-9 KIMA, Makassar

Page 10: Laporan Akhir_Bab8_Rencana Pola Ruang

VIII - 10

5. Instalansi penglohanan limbah

6. AMDAL kawasan Industri

Dalam arah perencanaan pola ruang Kawasan Industri Terpadu, dilakukan upaya pemanfaatan ruang-

ruang sebagai berikut :

1. Peningkatan kapasitas sarana dan prasarana jalan penghubung untuk mendukung akselerasi di

Kawasan KIMA

2. Perluasan kawasan KIMA melalui pengembangan kawasan serupa di wilayah Gowa , Maros dan

Takalar, sebagai bentuk antisipasi terhadap peningkatan investasi di Kota Makassar.

3. Pariwisata

Kawasan pariwisata adalah kawasan yang secara anatomi ruang

memiliki keunikan atau potensi tersendiri secara alami, sehingga

dalam pemanfaatan dan pengolaannya dapat bernilai ekonomi.

Kawasan pariwisata juga merupakan medan magnet yang cukup

kuat untuk menarik para wisatawan, dan secara fisik ruangnya

dapat menjadi jati diri atau innerbeauty.

Dengan branding kawasan ”Gowa Makassar Tourism

Development”, merupakan kawasan yang diarahkan dan

diperuntukkan sebagai kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan bisnis dan

pariwisata yang dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan penunjang yang lengkap yang saling bersinergi

dalam satu sistem ruang yang solid. Mencakup wilayah Kecamatan Tamalate dan Kecamatan Mariso.

Objek-objek pariwisata di Makassar, ada yang bersifat kultural sebagai indentitas kota Makassar, objek

wisata Alam serta objek wisata Leisure sebagai bentuk akomodasi ‟Makassar Kota Metropolitan‟. Nilai-

nilai objek wisata budaya yang sarat nilai-nilai lokal akan diintegrasikan agar saling mendukung dengan

objek wisata moderen khas Metropolitan.

Adapun strategi arahan pengembangan Pariwisata adalah :

1. Menciptakan ruang yang lebih nyaman, aman bagi para wisatamawan/pengunjung di Kota Makassar,

terutama di sekitar kawasan pariwisata;

2. Menyediakan sebuah jaringan interkoneksitas antar kawasan pariwisata, melalui penyediaan sarana

transportasi langsung yang nyaman dan efisien.

3. Menciptakan sebuah iklim integrasi antara berbagai jenis objek wisata yang ada, sehingga satu sama

lain bisa saling mengisi dan melengkapi.

4. Mengendalikan pertumbuhan kawasan di sekitar lokasi objek pariwisata supaya bisa sepenuhnya

memberi daya dukung yang maksimal terhadap keberadaan objek pariwisata tersebut.

4. Permukiman

Perkembangan Kota Makasar sebagai Kota Metropolitan, telah mengarahkan kebijakan pengembangan

kawasan pemukiman ke daerah-daerah pinggiran Kota. Selain karena keterbatasan ruang, kebijakan ini

diambil sebagai bentuk antisipatif terhadap ancaman banjir. Maraknya kawasan pemukiman telah

menghadirkan titik-titik banjir di sejumlah tempat di Kota Makassar.

Pembangunan kawasan pemukiman di pinggiran Kota ini juga sebagai bentuk implementasi tata ruang

Metropolitan Mamminasata. Titik pengembanganya nanti akan berada di empat kawasan utama dengan

keunggulan masing-masing.

Secara umum, strategi pengembangan kawasan permukiman dalam 12 kawasan terpadu dilakukan

dengan mengembangkan cara-cara progresif melalui program REVITALISASI, PEREMAJAAN

Gambar 8-10 Pantai Losari, Makassar

Page 11: Laporan Akhir_Bab8_Rencana Pola Ruang

VIII - 11

LINGKUNGAN secara TERBATAS dan TERUKUR dan ataupun MEMBANGUN BARU dari kawasan yang

direncanakan sebagai kawasan permukiman serta mengembangkan sarana dan prasarana kawasan

secara seimbang sesuai kebutuhan masyarakat setempat.

1. Mengendalikan sepenuhnya pertumbuhan kawasan pemukiman di pusat Kota dengan berlandaskan

tata aturan pemanfaatan ruang yang ada;

2. Mendorong pengembangan kawasan pemukiman vertikal sebagai adaptasi terhadap keterbatasan

lahan yang tersedia di kawasan perkotaan;

3. Mengembangkan strategi pengelolaan kawasan kumuh berat dan sedang di wilayah perkotaan,

termasuk di sepanjang aliran kanal;

4. Mendorong arah pengembangkan kawasan pemukiman baru di daerah pinggiran Kota, melalui

penyediaan berbagai fasilitas sarana dan prasarana penunjangnya;

5. Mengambangkan dan memaksimalkan pembangunan Kawasan pemukiman terpadu yang berada di

Kecamatan Manggala dan Rappocini;

6. Mengendalikan dan membatasi perubahan fungsi di tiap-tiap kawasan yang sudah ada.

D. RENCANA RUANG TERBUKA HIJAU (RTH)

Pulau Lakkang, yang merupakan kawasan delta Sungai Tallo itu,

direncanakan sebagai kawasan lindung, yaitu kawasan yang

diarahkan dan diperuntukkan sebagai ruang terbuka hijau (RTH).

Sumbangsih yang dikeluarkan adalah sebesar 55% dari luas

kawasan lakkang seluruhnya (487,314 Ha.)

Kawasan hijau yang berupa sempadan sungai terdapat di

Kecamatan Tamalate, Kota Makassar dan Kecamatan Palangga

dan Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa. Sedangkan

kawasan hijau yang terdapat di perbatasan Kota Makassar dan Kabupaten Maros terdapat di Kecamatan

Biringkanaya, Kota Makassar dan Kecamatan Marusu, Kabupten Maros. Kawasan hijau yang terdapat di

perbatasan Kabupaten Maros dan Kabupaten Gowa terdapat di Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros dan

Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa. Kawasan hijau merupakan faktor penyisih untuk pengembangan

wilayah.

Secara garis besar, kosentrasi ruang terbuka hujau di Kota Makassar terletak di tiga kecamatan, yaitu :

Kecamatan Manggala, Kecamatan Biringkanaya dan Kecamatan Tamalate. Di ketiga Kecamatan ini,

perbandingan antara luas ruang terbuka hijau dengan peruntukan lainya masih cukup besar.

1. Kawasan Pusat Kota :

Mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan serta hijau produktif dipekarangan;

Mengembangkan jalur hijau terbuka di sepanjang garis pantai barat dan utara kota;

Melestarikan taman-taman lingkungan di kawasan permukiman serta pengadaan RTH Umum melalui

program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa kawasan;

Meningkatkan RUANG TERBUKA HIJAU di daerah permukiman padat;

Mendorong pengembangan areal budidaya tanaman hias sebagai RTH sementara pada lahan tidur;

Mendorong penanaman pohon-pohon besar/pelindung pada halaman rumah, ruas jalan, pinggir sungai

terutama pada lingkungan padat.

2. Kawasan Pemukiman Terpadu :

Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan serta hijau produktif di

pekarangan rumah;

Gambar 8-11 Pulau Lakkang

Page 12: Laporan Akhir_Bab8_Rencana Pola Ruang

VIII - 12

Mempertahankan lahan pemakaman dan lapangan olah raga yang ada;

Meningkatkan ruang terbuka hijau di daerah permukiman padat;

Melestarikan taman-taman lingkungan di kawasan permukiman serta pengadaan RTH Umum melalui

program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa kawasan;

Mendorong penanaman pohon-pohon besar/pelindung pada halaman rumah, ruas jalan, pinggir sungai

terutama pada lingkungan padat;

Mendorong perilaku hijau bagi segenap penduduk di kawasan pemukiman terpadu.

3. Kawaan Pelabuhan Terpadu :

Mendorong peningkatan ruang terbuka hijau pada areal reklamasi pengembangan pelabuhan Sukarno

Hatta, yang sekaligus berfungsi sebagai sarana sosialisasi;

Menata bagian hilir muara Sungai Tallo;

Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan serta hijau produktif di

pekarangan;

Melestarikan taman-taman lingkungan di kawasan permukiman serta pengadaan RTH Umum melalui

program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa kawasan;

Mendorong penanaman pohon-pohon besar/pelindung pada halaman rumah, ruas jalan, pinggir sungai

terutama pada lingkungan padat.

4. Kawasan Bandara Terpadu :

Mengamankan RTH di sekitar kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan Bandara Internasional

Sultan Hasanuddin dengan budi daya pertanian;

Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan masuk Bandara serta ruang

hijau produktif di pekarangan dan areal bandara;

Mengembangkan penghijauan pada pusat-pusat kegiatan;

Mendorong pengembangan areal budidaya tanaman hias sebagai RTH sementara pada lahan tidur;

Mendorong penanaman pohon-pohon besar/pelindung pada halaman rumah, ruas jalan, terutama

pada lingkungan padat.

5. Kawasan Maritim Terpadu :

Mengembangkan jalur hijau terbuka di sepanjang garis PANTAI UTARA Makassar;

Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan serta hijau produktif di

pekarangan;

Melestarikan taman-taman lingkungan di kawasan PERMUKIMAN NELAYAN UNTIA serta pengadaan

RTH Umum melalui program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa wilayah;

Mendorong pengembangan areal budidaya tanaman hias sebagai RTH sementara pada lahan tidur;

Mendorong penanaman pohon-pohon besar/pelindung pada halaman rumah, ruas jalan, terutama

pada lingkungan padat

6. Kawasan Industri Terpadu :

Menata jalur hijau di sepanjang JALAN TOL Ir. Sutami;

Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan dalam kawasan;

Mendorong tersedianya ruang terbuka hijau yang lebih seimbang pada areal kawasan industri;

Melestarikan taman-taman lingkungan di dalam kawasan industri dan kawasan permukiman sekitarnya

serta pengadaan RTH Umum melalui program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa

kawasan;

Page 13: Laporan Akhir_Bab8_Rencana Pola Ruang

VIII - 13

Mendorong penanaman pohon pada halaman rumah, ruas jalan, pinggir sungai terutama pada

lingkungan padat.

7. Kawasan Pergudangan Terpadu :

Menata jalur hijau di sepanjang jalan tol Makassar;

Menata bagian hilir muara Sungai Tallo;

Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di

sepanjang jalan dalam kawasan;

Mendorong tersedianya ruang terbuka hijau yang lebih

seimbang pada areal kawasan industri;

Melestarikan taman-taman lingkungan di dalam kawasan pergudangan dan kawasan permukiman

serta pengadaan RTH Umum melalui program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa

wilayah.

8. Kawasan Riset Pendidikan Tinggi Terpadu :

Menjaga kelestarian dan penghijauan di kawasan Riset dan Pendidikan Tinggi Terpadu Tamabiring;

Mengembangkan dan mendorong penghijauan di Pusat-Pusat Kegiatan Riset dan Pendidikan

Tamabiring;

Meningkatkan ruang terbuka hijau di daerah permukiman yang ada disekitar Kawasan;

Mendorong pengembangan areal budidaya tanaman hias sebagai RTH sementara pada lahan tidur;

Mendorong Aktifitas riset dan kegiatan pendidikan yang bernuansa penghijauan.

9. Kawasan Bisnis dan Pariwisata Terpadu :

Mengembangkan jalur hijau terbuka di sepanjang garis PANTAI BAGIAN BARAT MAKASSAR;

Menata bagian hilir MUARA SUNGAI JENEBERANG dan BALANG BERU;

Meningkatkan penghijauan didaerah sekitar danau tanjung bunga (Sungai Balang Beru) guna menjadi

wadah rekreasi dan sosialisasi warga;

Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan serta hijau produktif di

pekarangan;

Mempertahankan lapangan olah raga yang ada;

Meningkatkan ruang terbuka hijau di daerah permukiman padat sekitar kawasan pengembangan kota

tanjung bunga;

Melestarikan taman-taman lingkungan di kawasan permukiman serta pengadaan RTH Umum melalui

program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa kawasan sekitar kota Tanjung Bunga;

Mendorong pengembangan areal budidaya tanaman hias sebagai RTH sementara pada lahan tidur.

10. Kawasan Bisnis Global Terpadu :

Mengembangkan jalur hijau terbuka di sepanjang garis PANTAI BAGIAN BARAT MAKASSAR;

Menata dan mengembangkan kawasan hijau baru dari proses REKLAMASI PANTAI LOSARI;

Menata bagian Hilir Muara KANAL KOTA;

Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan;

Meningkatkan ruang terbuka hijau melalui pembuatan hutan dan taman-taman kota secara seimbang

dalam kawasaan global terpadu;

Mengembangkan Center Point of Indonesia, yang nantinya akan menjadi sentrum Kawasan Hijau

Terbuka di Pusat Kota.

Page 14: Laporan Akhir_Bab8_Rencana Pola Ruang

VIII - 14

11. Kawasan Energi Center

Memaksimalkan pemanfaatan ruang kosong di sekitar wilayah muara Sungai Tallo untuk penghijauan;

Menata jalur hijau berbunga di sepanjang jalan kawasan Energi Center;

Mendorong pengembangan areal budidaya tanaman hias sebagai RTH sementara pada lahan tidur.

12. Kawasan Olahraga Terpadu

Mengembangkan jalur hijau terbuka di sepanjang garis PANTAI BAGIAN BARAT MAKASSAR;

Menata bagian hilir MUARA SUNGAI JE‟NEBERANG;

Meningkatkan penghijauan di dalam areal pengembangan kawasan;

Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan serta hijau produktif pada pusat-

pusat kegiatan;

Mendorong pembentukan taman-taman kota sebagai wadah sosialisasi warga;

Meningkatkan ruang terbuka hijau di pusat-pusat kegiatan.