55249797 Laporan Akhir Bab8 Rencana Pola Ruang

download 55249797 Laporan Akhir Bab8 Rencana Pola Ruang

of 14

  • date post

    31-Dec-2014
  • Category

    Documents

  • view

    63
  • download

    6

Embed Size (px)

Transcript of 55249797 Laporan Akhir Bab8 Rencana Pola Ruang

LAPORAN AKHIR

BAB VIII. RENCANA POLA RUANG WILAYAH KOTA MAKASSAR

A. UMUM TATA RUANG adalah Wujud STRUKTUR RUANG dan POLA RUANG. Dimana pola ruang merupakan distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budidaya. POLA RUANG merupakan alokasi pemanfaatan ruang yang pada prinsipnya merupakan perwujudan dari upaya pemanfaatan sumberdaya alam di suatu wilayah melalui pola pemanfaatan yang diyakini dapat memberikan suatu proses pembangunan yang berkesinambungan. Dalam filisofi ruangnya secara lebih tegas dinyatakan bahwa pola ruang adalah bentuk pemanfaatan ruang yang menggambarkan ukuran, fungsi, serta karakter kegiatan manusia dan atau kegiatan alam. Secara umum rencana pola ruang kota Makassar, digambarkan sebagai berikut:

Gambar 8-1 Rencana Pola Ruang Kota Makassar 2010-2030

B. RENCANA POLA RUANG KAWASAN LINDUNG Secara umum Kawasan lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan. Berdasarkan Keputusan Presiden RI No.32 Tahun 1990 tentang pengelolaan Kawasan Lindung, dalam penetapan pola perencanaan kawasan lindung kota Makassar mengakomodasi kawasan-kawasan berikut: VIII - 1

1. Kawasan Resapan Air Kawasan resapan air adalah kawasan/wilayah yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah instrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah. Dalam spasial pola ruang Kawasan Resapan Air adalah kawasan yang mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan sehingga merupakan tempat pengisian air bumi (akifer) yang berguna bagi sumber air. Kriteria kawasan resapan air adalah curah hujan yang tinggi, memiliki struktur tanah yang mudah meresapkan air dan bentuk geomorfologi yang mampu meresapkan air hujan secara besar-besaran. Kawasan resapan air di Kota Makassar sangat perlu mendapat perlindungan untuk memberikan ruang yang cukup bagi peresapan air hujan pada daerah tertentu untuk keperluan penyediaan kebutuhan air tanah dan penanggulangan banjir, baik untuk kawasan bawahannya maupun kawasan yang bersangkutan. Apalagi peningkatan dalam penggunaan lahan kosong cukup signifikan tiap tahunnya. Hal ini tentunya dapat berpengaruh terhadap penyusutan atau berkurangnya area/ sentra-sentra daerah resapan air di ruang kota Makassar. Daerah resapan air di Kota Makassar berada di danau Balang Tonjong yang selama ini menjadi kawasan prioritasnya. Namun, jika dilihat dari segmen ataupun peran dari kawasan, tidak hanya daerah tersebut yang dapat diperuntukkan sebagai area resapan air, tetapi kawasan lain juga dapat difungsikan. Dalam arah perencanaannya segmen daerah tersebut adalah daerah sekitar sungai Tallo dan sungai Jeneberang, dan berada disekitar kantong-kantong danau, tambak dan rawa ataupun pesisir pantai. Yang semua itu tersebar di area kawasan kota Makassar (Tabel 8-1).Tabel 8-1 Daerah Resapan Air (Ha), 2009

Total Luasan

Danau

Rawa

Sungai

84,95105999 382,6467371 530,1948464

Untuk itu dalam arah pemanfaatan maupun kebijakan dalam pengembangan kota kedepan harus mendapat perhatian. Sehingga tercipta keseimbangan antara manusia dan lingkungan yang dinamis. 2. Kawasan Sempadan Pantai Kota Makassar sebagai kota Water Front City memiliki panjang garis pantai sekitar 35 Km dengan lintasan sempadan pantai dari arah utara (Untia) sampai kearah Selatan (Tanjung Bunga). Secara fungsi, bagian dari kawasan sempadan pantai di Kota Makassar adalah Kawasan Hutan Mangrove yang lokasinya berada di wilayah pesisir laut bagian utara (Pantai Untia) dan merupakan habitat alami hutan bakau (mangrove) yang berfungsi memberi perlindungan kepada perikehidupan pantai dan lautan. Hutan mangrove pada umumnya berada di muara sungai, daerah pasang surut atau tepi laut. Tumbuhan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut. Umumnya mangrove mempunyai sistem perakaran yang menonjol yang disebut akar nafas (pneumatofor). Sistem perakaran ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap keadaan tanah yang miskin oksigen atauGambar 8-2 Sempadan Pantai Losari

bahkan anaerob.

VIII - 2

Berdasarkan keadaan eksisting sempadan pantai sepanjang koridor pantai Losari saat ini telah dibangun bangunan pantai yang berfungsi sebagai pemecah ombak. Dengan keadaan tersebut arus dan energi gelombang yang berasal dari laut dalam dapat teredam karena terjadi refraksi dan difraksi gelombang di daerah tersebut. Sehingga dapat mengurangi tingkat abrasi pada area kawasan. Selain di Losari di pantai Tanjung Bunga juga telah dibangun pemecah gelombang (breakwater). Breakwater tersebut dibangun semicircular ke arah muara sungai dengan tujuan sedimen yang berasal dari sungai Jeneberang dapat terakumulasi pada kantong bangunan, sehingga tidak secara langsung tersedimentasi di pantai. Dalam arah perencanaannya sempadan pantai yang masih alami dan tidak terjadi degradasi dilakukan upaya-upaya pemanfaatan dengan melakukan kebijakan-kebijakan yang tentunya dapat mengkonservasi daerah tersebut. Upaya-upaya ataupun kebijakan tersebut dapat dilakukan dengan cara mempertahankan kawasan sekitar mangrove dan menjaga kelestarian lingkungan di area tersebut (Untia, dan pantai sekitar teluk Losari yang membentuk lidah pasir). Sedangkan daerah/kawasan yang telah mengalami degradasi pantai dapat dilakukan upaya-upaya sebagai berikut: Membangun breakwater terhadap sempadan pantai yang diiringi dengan penghijauan mangrove di sekitar koridor pantai Tanjung bunga. Sehingga mengurangi derajat abrasi pantai. Melakukan kegiatan artificial reef sebagai upaya rehabilitasi lingkungan laut. Dimana fungsi dari ekosistem karang tersebut merupakan media peredam gelombang laut secara alami, sehingga energi gelombang yang dihempaskan di pantai tidak cukup besar. 3. Kawasan Sempadan Sungai Kawasan Sempadan sungai adalah kawasan sepanjang kiri kanan sungai, termasuk sungai buatan/kanal/saluran irigasi primer, yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai. Perlindungan terhadap sempadan sungai dilakukan untuk melindungi sungai dari kegiatan manusia yang dapat mengganggu dan merusak kualitas air sungai, kondisi fisik pinggir dan dasar sungai, ekosistem sungai dan disekitarnya serta mengamankan aliran sungai.Gambar 8 -3 Sungai Jeneberang, Makassar

Berdasarkan Keputusan Presiden RI No.32 Tahun 1990 tentang pengelolaan Kawasan Lindung, sempadan sungai ditetapkan pada kawasan yang sekurang-kurangnya 50 meter di kiri kanan anak sungai yang berada di luar permukiman dan sekitar 10-15 meter di kiri dan kanan anak sungai yang berada di kawasan permukiman. Selanjutnya, dalam arah rencana penetapannya sepanjang koridor Sungai Je[neberang dan Tallo merupakan kawasan sempadan sungai di Makassar. Dalam kondisi eksisting, Sungai Tallo telah banyak mengalami degradasi. Pada umumnya daerah sekitar sempadan sungai ini telah beralih fungsi menjadi kawasan pemukiman dan kawasan bisnis, sehingga ruang sempadan tersebut semakin sempit. Pengalihan fungsi kawasan inilah yang menyebabkan inkonsistensi lingkungan, karena telah banyak campur tangan manusia di dalamnya. Lain halnya dengan sungai Jeneberang, sungai ini masih dapat terkontrol keseimbangan lingkungannya. Disepanjang koridor sempadan jeneberang dapat dijumpai pemanfaatan lahan sebagai objek pemanfaatan lahan dengan adanya penanaman tanaman hias. Dalam arah pengembangan pola ruang kota Makassar, dilakukan upaya dan rencana sebagai berikut: VIII - 3

Merencanakan pemanfaatan tanggul-tanggul dengan ketinggian tertentu sehingga luapan air Sungai pada musim penghujan tidak memberikan pengaruh yang cukup besar; Mengatur dan menata kembali sistem drainase kota; Pada daerah sungai yang mendapat pengaruh pasang surut air laut (hilir Jeneberang dan Tallo) dapat dimanfaatkan sebagai area jalur hijau. 4. Kawasan Sekitar Danau Danau secara umum memiliki pengertian yakni bagian dari sungai yang lebar dan kedalamannya secara alamiah melebihi ruas lain dari sungai yang bersangkutan. Danau memiliki berbagai manfaat untuk pengairan irigasi, ternak dan kebun, sebagai objek pariwisata, sebagai tempat usaha perikanan darat, sebagai sumber daya listrik dan juga sumber penyediaan air bagi makhluk hidup sekitar dan juga sebagai pengendali banjir dan erosi. Kota Makassar memiliki beberapa danau yang terletak di kawasan permukiman terpadu, kawasan pusat kota dan kawasan riset dan pendidikan terpadu, dengan luasan masing-masing sekitar 71,53 Ha, 6,11 Ha, dan 7,3 Ha. Pada umumnya danau di kota Makassar difungsikan sebagai area/kawasan resapan air.Gambar 8 -4 Danau Unhas

Dalam arah perencanaanya kawasan danau dapat diperuntukkan untuk: memfungsikan ekosistem yang ada; Memanfaatkan area sekitar danau sebagai area ruang terbuka hijau; Memanfaatkan kawasan danau sebagai kawasan wisata/olahraga memancing. 5. Kawasan Rawan Bencana Alam Bencana diartikan sebagai suatu kejadian di luar kebiasaan (kondisi normal). Bencana dapat dibagi dalam bencana fisik dan bencana non fisik. Bencana selain disebabkan oleh faktor alam yang diluar kondisi normal dapat juga disebabkan oleh tindakan manusia yang secara simultan dapat mendatangkan bencana. Kawasan rawan bencana alam di Kota Makassar adalah kawasan yang diidentifikasi sering dan berpotensi tinggi mengalami bencana alam seperti gempa bumi, angin topan, kenaikan sea level, banjir, longsor. a. Bencana Banjir Berdasarkan topografinya, kota Makassar dikategorikan sebagai pedataran landai dengan ketinggian mencapai 1-22 m dpl. Kondisi tersebut dapat memicu terjadinya banjir atau luapan air yang juga didukung oleh sistem drainase kota yang belum optimal. Kawasan yang sering mengalami banjir terkonsentrasi di daerah dengan elevasi 1-4 m dpl. Daerah tersebut seperti di