BAB 1 - BAB 5

download BAB 1 - BAB 5

of 53

  • date post

    08-Feb-2016
  • Category

    Documents

  • view

    18
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of BAB 1 - BAB 5

BAB 1PENDAHULUAN 1.1 Latar BelakangIlmu ortodonti telah berkembang pesat berkat pengalaman ortodonti dalam pencapaian hasil yang optimal. Semakin berkembang ortodontik, semakin banyak pula orang yang mencari pertolongan untuk memperbaiki posisi gigi mereka yang tidak teratur. Maloklusi atau ketidakteraturan gigi pada lengkung rahang merupakan masalah bagi beberapa individu karena bisa menyebabkan problem fungsi mulut, gangguan sendi temporomandibula, pengunyahan, penelanan dan bicara.1 Pada awal konsultasi, setiap dokter gigi diputuskan untuk menjawab pertanyaan mengenai lama perawatan yang dianjurkan, jawaban pertanyaan ini biasanya tergantung pada faktor-faktor lain seperti pengalaman dokter, keterampilan klinis, dan metode manajemen praktik. Pasien yang diberikan informasi akurat akan menjadi konsumen yang lebih baik pada pelayanan gigi, dengan harapan untuk hasil perawatan dan kepuasaan yang lebih besar dengan perawatan mereka secara keseluruhan. Lembaga ortodontik inggris merekomendasikan bahwa pasien harus menerima informasi yang cukup tentang perawatan yang dianjurkan, termasuk perkiraan realistis mengenai skala waktu yang dibutuhkan. Banyak faktor yang bisa mempengaruhi lama perawatan ortodontik yaitu salah satunya adalah tindakan ekstraksi gigi.2 Perawatan ortodonti terkadang memerlukan pencabutan gigi untuk merawat susunan gigi yang tidak teratur .pada perawatan ortodonti ada dua alasan untuk mencabut gigi . pertama: mendapatkan ruangan untuk penyusunan gigi pada kasus gigi berjejal dengan derajat berat, kedua : untuk menggerakkan gigi pada kasus protrusi yang memerlukan retraksi.3 Pada kasus pencabutan gigi geligi untuk medapatkan ruang dibutuhkan waktu untuk penutupun ruang bekas pencabutan tersebut.4 Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk mengetahui hubungan antara ekstraksi gigi dengan waktu yang diperlukan dalam perawatan ortodonti.

1.2 Rumusan MasalahApakah ada hubungan antara ekstraksi gigi dengan waktu yang diperlukan dalam perawatan ortodonti?1.3 Tujuan PenelitianUntuk mengetahui hubungan ekstraksi gigi dengan waktu yang diperlukan dalam perawatan ortodonti.1.4 HipotesisAda hubungan antara ekstraksi gigi dengan waktu yang diperlukan dalam perawatan ortodonti.1.5 Manfaat Penelitian1. Menambah pengetahuan dalam melakukan rencana perawatan.2. Hasil penelitian ini dapat bermanfaat sebagai bahan informasi dalam perawatan ortodonti.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA2.1. Pengertian MaloklusiPengertian Maloklusi adalah penyimpangan letak gigi dan atau malrelasi lengkung geligi (rahang) diluar rentang kewajaran yang dapat diterima. Maloklusi juga bisa merupakan variasi biologi sebagaimana variasi biologi yang terjadi pada bagian tubuh yang lain, tetapi karena variasi letak gigi mudah diamati dan menggangu estetik sehingga menarik perhatian dan memunculkan keinginan untuk melakukan perawatan. Terdapat bukti bahwa prevalensi maloklusi meningkat, peningkatan ini sebagian dipercayai sebagai suatu proses evolusi yang diduga akibat meningkatnya variabilitas gen dalam populasi yang bercampur dalam kelompok ras1 atau bisa juga dikatakan Maloklusi merupakan keadaan yang menyimpang dari oklusi normal.2

2.2 Etiologi MaloklusiKondisi maloklusi lebih banyak diakibatkan oleh faktor genetik yang mengakibatkan ketidakseimbangan antara ukuran rahang dengan ukuran gigi secara keselurahan.2 Namun dalam hal ini faktor lokal juga mempengaruhi etiologi dari maloklusi.12.2.1. Faktor herediterPada populasi primitif yang terisolasi jarang dijumpai maloklusi yang berupa disproporsi ukuran rahang dan gigi sedangkan relasi rahangnya menunjukan relasi yang sama. Pada populasi modern lebih sering ditemukan maloklusi daripada populasi primitif sehingga diduga karena adanya kawin campur menyebabkan peningkatan prevalensi maloklusi. Cara yang lebih baik untuk mempelajari pengaruh herediter adalah dengan mempelajari anak kembar monozigot yang hidup pada lingkungan yang sama. Suatu penelitian menyimpulkan bahwa 40 persen variasi dental dan fasial dipengaruhi faktor heriditer sedangkan penelitian yang lain menyimpulkan bahwa karakter skeletal kraniofacial sangat dipengaruhi oleh faktor heriditer sedangkan pengaruh heriditer terhadap gigi rendah. Pengaruh heriditer dapat bermanifestasi dalam dua hal, yaitu 1) disproporsi ukuran gigi dan ukuran rahang yang menghasilkan maloklusi berupa gigi berdesakan atau maloklusi berupa diastema multipel meskipun yang terakhir ini jarang dijumpai, 2) disproporsi ukuran, posisi dan bentuk rahang atas dan rahang bawah yang menghasilkan relasi rahang yang tidak harmonis. Dimensi kraniofacial, ukuran dan jumlah gigi sangat dipengaruhi faktor genetik sedangkan ukuran dan jumlah gigi sangat dioengaruhi faktor genetik sedangkan dimensi lengkung geligi dipengaruhi oleh faktor lokal. Urutan pengaruh genetik pada skelet yang paling tinggi adalah mandibula yang prognatik, muka yang panjang serta adanya deformitas muka. Menurut Mossey (1999) berbagai komponen ikut menentukan terjadinya oklusi normal ialah : 1) ukuran maksila dan mandibula termasuk ramus dan korpus 2) faktor yang ikut mempengaruhi relasi maksila dan mandibula seperti basis kranial dan lingkungan 3) jumlah, ukuran dan morfologi gigi 4) morfologi dan sifat jaringan lunak (bibir,lidah,dan pipi). Kelainan pada komponen tersebut serta interaksinya dapat menyebabkan maloklusi. Implikasi klinis suatu maloklusi yang lebih banyak dipengaruhi faktor heriditer adalah kasus tersebut mempunyai prognosis yang kurang baik bila dirawat ortodontik, namun sayangnya sukar untuk dapat menentukan seberapa pengaruh faktor heriditer pada maloklusi tersebut. Perkembangan pengetahuan genetik molekuler diharapkan mampu menerangkan penyebab etiologi heriditer dengan lebih cepat.1a. Etiologi maloklusi kelas 1 AnglePola skelet maloklusi kelas 1 biasanya kelas 1 tetapi dapat juga kelas II atau kelas III ringan. Pola jaringan lunak pada maloklusi kelas 1 umumnya menguntungkan kecuali pada maloklusi yang disertai proklinasi bimaksiler (insisivi atas dan bawah proklinasi) yang mungkin merupakan ciri khas ras tertentu. Kebanyakan maloklusi kelas 1 disebabkan faktor lokal yang dapat berupa diskrepansi ukuran gigi dan lengkung geligi. Faktor lokal yang dapat menyebabkan kelainan pada maloklusi kelas II dan kelas III.b. Etiologi maloklusi kelas II :1. kelas II divisi 1 AnglePada maloklusi kelas II divisi I sering didapatkan letak mandibula yang lebih posterior daripada maloklusi kelas 1 atau maksila yang lebih anterior sedangkan madibula normal. Kadang-kadang didapatkan ramus mandibula yang lebih sempit dan panjang total mandibula juga berkurang. Terdapat korelasi yang tinggi antara pasien dengan keluarga langsungnya sehingga beberapa peneliti menyimpulkan bahwa pewarisan maloklusi kelas II divisi I dari faktor poligenik. Selain faktor genetik maloklusi kelas II divisi I juga disebabkan faktor lingkungan. Jaringan lunak, misalnya bibir yang tidak kompeten dapat mempengaruhi posisi insisivus atas karena hilagnya keseimbangan yang dihasilkan oleh bibir dan lidah sehingga insisivus atas protrusi. Kebiasaan menghisap jari dapat menghasilkan maloklusi kelas II divisi I meskipun relasi rahang atas dan bawah kelas I sehingga ada yag menyebut maloklusi ini sebagai maloklusi kelas II divis I tipe dental. Pada maloklusi kelas II divisi I insisivus atas dalam keadaan proklinasi sehingga jarak gigit menjadi besar. Adanya diskrepansi skeletal dalam jurusan sagital juga dapat menyebabkan jarak gigit yang besar. Dengan adanya jarak gigit yang besar biasanya tidak terdapat stop bagi insisivus bawah sehingga terjadi supra erupsi insisivus bawah dengan akibat terjadi gigitan dalam dan kurva spee menjadi positif. Posisi bibir iku berperan pada maloklusi kelas II divisi I. Pada bibir yang tidak kompeten pasien berusaha mendapatkan anterior oral seal dengan cara muskulus sirkum oral berkontraksi dengan mengajukan mandibula sehingga bibir atas dan bawah dapat berkontak pada saat isitrahat, lidah berkontak dengan bibir bawah atau kombinasi keadaan-keadaan ini. Bila mandibula diajukan kelainan relasi skeletal nampak tidak terlalu parah tetapi bila bibir bawah terletak dipalatal inisisivus atas dapat berakibat retroklinasi insisivus bawah dan proklinasi insisivus atas sehingga jarak gigit menjadi lebih besar.2. Kelas II divisi 2 AngleMaloklusi ini merupakan hasil interaksi faktor-fakto yang mempengaruhi skelet dan jaringan lunak. Penelitian pada anak kembar monozigot menunjukan bahwa maloklusi kelas II divisi 2 dipengaruhi oleh faktor herediter autosomal yang dominan tetapi yang bersifat poligenik. Pola skelet pada maloklusi kelas II divisi 2 biasanya kelas II ringan atau kelas 1 dan meskipun sangat jarang bisa juga pola skelet kelas III ringan. Tinggi muka yang berkurang disertai relasi skelet kelas II sering menyebabkan tidak adanya stop antara insisivus bawah dengan insisivus atas sehingga insisivus bawah bererupsi melebihi normal sehingga terjadi gigitan dalam. Pengaruh bibir bawah sagat besar terutama bila didapatkan high lower lip line (bibir bawah menutupi lebih dari sepertiga panjang mahkota insisivus) yang menyebabkan posisi insisivus atas retroklinasi (lapatki dkk, Mitchell, 2007) bila panjang mahkota insisivus laterla pendek maka gigi ini dapat terletak normal sedangkan insisivus sentral retroklinasi dan bila panjang inisisivus lateral normal gigi ini bisa juga terletak retroklinasi. Bisa juga didapatkan retroklinasi insisivus atas maupun bawah bila bibir sangat aktif. Kadang kadang didapatkan letak gigi berdesakan dan insisivus lateral yang rotasi mesiolabial disebabkan tekanan bibir pada insisivus sentral.c. Etiologi maloklus Kelas III AngleContoh paling jelas dan terkenal adanya pengaruh faktor genetik adalah prognati mandibula yang didapatkan pada dinasti Hasburg dikerajaan Austria yang diturunkan dari generasi ke generasi dengan cara autosomal dominan. Maloklusi kelas III dapat terjadi karena faktor skelet, yaitu maksila yang kurang t