BAB 1, 2 Kelompok 2 Issue 5

download BAB 1, 2 Kelompok 2 Issue 5

of 27

  • date post

    30-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    104
  • download

    2

Embed Size (px)

description

bab 1 kelompok 2

Transcript of BAB 1, 2 Kelompok 2 Issue 5

1

BAB IITINJAUAN PUSTAKA2.2 Temporo Mandibular Joint.

2.2.1 Definisi Temporomandibular Joint (TMJ).

Sendi rahang atau Temporomandibular Joint (TMJ) belum banyak dikenal orang awam, padahal bila sendi ini terganggu dapat memberi dampak yang cukup besar terhadap kualitas hidup (Pedersen, 1996).

TMJ adalah sendi yang kompleks, yang dapat melakukan gerakan meluncur dan rotasi pada saat mandibula berfungsi. Mekanismenya unik karena sendi kiri dan kanan harus bergerak secara sinkron pada saatberfungsi. Tidak seperti sendi pada bagian tubuh lain seperti bahu, tangan atau kaki yang dapat berfungsi sendiri-sendiri. Gerakan yang terjadi secara simultan ini dapat terjadi bila otot-otot yang mengendalikannya dalam keadaan sehat dan berfungsi dengan baik (Pedersen, 1996).

Istilah Temporomandibular Disorders (TMD) diusulkan oleh Bell pada tahun 1982, yang dapat diterima oleh banyak pakar. Gangguan sendi rahang atau TMD adalah sekumpulan gejala klinik yang melibatkan otot pengunyahan, sendi rahang, atau keduanya (Pedersen, 1996).

2.2.2 Anatomi Temporo Mandibulae Joint (TMJ).

Sendi temporomandibular (sendi rahang) merupakan salah satu organ yang berperan penting dalam sistem stomatognatik (Pedersen, 1996).

Temporomandibula merupakan sendi yang bertanggung jawab terhadap pergerakan membuka dan menutup rahang mengunyah dan berbicara yang letaknya dibawah depan telinga.Sendi temporomandibula merupakan satu-satunya sendi di kepala, sehingga bila terjadi sesuatu pada salah satu sendi ini, maka seseorang mengalami masalah yang serius. Masalah tersebut brupa nyeri saat membuka, menutup mulut, makan, mengunyah, berbicara, bahkan dapat menyebabkan mulut terkunci . Lokasi sendi temporomandibular (TMJ) berada tepat dibawah telinga yang menghubungkan rahang bawah (mandibula) dengan maksila (pada tulang temporal). Sendi temporomandibular ini unik karena bilateral dan merupakan sendi yang paling banyak digunakan serta paling kompleks (Pedersen, 1996).

Kondil tidak berkontak langsung dengan permukaan tulang temporal, tetapi dipisahkan oleh diskus yang halus, disebut meniskus atau diskus artikulare. Diskus ini tidak hanya perperan sebagai pembatas tulang keras tetapi juga sebagai bantalan yang menyerap getaran dan tekanan yang ditransmisikan melalui sendi. Permukaan artikular tulang temporal terdiri dari fossa articulare dan eminensia artikulare. Seperti yang lain, sendi temporomandibular juga dikontrol oleh otot, terutama otot penguyahan, yang terletak disekitar rahang dan sendi temporomandibular. Otot-otot ini termasuk otot pterygoid interna, pterygoid externa, mylomyoid, geniohyoid dan otot digastrikus. Otot-otot lain dapat juga memberikan pengaruh terhadap fungsi sendi temporomandibular, seperti otot leher, bahu, dan otot punggung (Pedersen, 1996).

Ligamen dan tendon berfungsi sebagai pelekat tulang dengan otot dan dengan tulang lain. Kerusakan pada ligamen dan tendon dapat mengubah kerja sendi temporomandibular, yaitu mempengaruhi gerak membuka dan menutup mulut (Pedersen, 1996).

The BONES

A Cul-de-sac Notice the mandible has two prongs. Mandibula memiliki dua cabang.

1. The posterior prong (hidden in the picture above behind some ligaments which hold the jawbone firmly in place) fits snuggly into a hollow in the Temporal bone, just in front of the earCabang posterior (tersembunyi pada gambar di atas belakang beberapa ligamen yang memegang tulang rahang kuat di tempat) sesuai snuggly menjadi berongga pada tulang Temporal, tepat di depan telinga.

2. The anterior prong is for the attachment of the Temporalis muscle.Cabang anterior adalah untuk lampiran dari otot temporalis (Pedersen, 1996).2.2.3 Peran Otot Mastikasi dalam Temporomandibular Joint

TMJ juga dikontrol oleh otot, terutama otot pengunyahan yang terletak di sekitar rahang dan sendi temporomandibula. Walaupun banyak otot pada kepala dan leher, tetapi istilah otot mastikasi biasanya menunjuk pada empat pasang otot yaitu otot masseter, otot temporalis, otot pterigoideus lateralis dan otot pterigoideus medialis (Dipoyono, 2008).

1. M. Masseter

M. masseter merupakan otot multilapis yang kuat di sudut rahang bawah (Sloane, 2003). Otot ini terdiri dari pars atau caput superficialis dan pars profunda. Pars superficialis keluar dari tepi bawah arcus zygomaticus jauh ke belakang ke sutura zygomaticotemporalis. Pars profunda keluar dari seluruh panjang permukaan dalam arcus zygomaticus dan dapat dibagi menjadi pars profunda media dan interna. Suplai saraf m. masseter berasal dari cabang mandibularis dari n. cranialis V (trigeminus), melalui cabang yang berjalan melintasi incisura mandibulae. Fungsi m. masseter adalah mengangkat rahang bawah dan menariknya sedikit ke depan. Bersama dengan m. pterygoideus medialis dari sisi yang sama, otot ini berfungsi mengatur posisi angulus mandibulae pada bidang vertikal (Dixon, 1993).2. M. Temporalis

M. temporalis merupakan otot lebar seperti kipas angin di samping kepala dan diatas telinga (Sloane, 2003). Serabut otot berinsersi terutama pada aponeurosis intramuscularis yang datar, melekat pada ujung, tepi anterior dan permukaan medial processus coronoideus mandibulae. Beberapa serabut bagian dalam melekat pada tepi anterior processus coronoideus ke bawah sampai ke perlekatan membrana mukosa cavum oris. Suplai saraf m. temporalis berasal dari cabang mandibularis n. cranialis V (n. trigeminus). Serabut anterior m. temporalis berfungsi mengangkat mandibula; serabut posterior berfungsi untuk menarik processus condylaris ke belakang masuk ke fossa mandibularis atau fossa glenoidalis dan membantu menghilangkan tekanan dari caput mandibulae ketika gigi geligi mengkerot (clenching) (Dixon, 1993).

Gambar 1. M. temporalis dan M. mesetter

3. M. Pterygoideus Lateralis

M. pterygoideus lateralismerupakan otot pendek berkepala dua, merentang dari kondilus mandibular rahang bawah ke tulang di belakang mata (Sloane, 2003). Keluar sebagai dua bagian atau dua caput, yaitu:

a. Caput atas (superior) dari pars infratemporalis ala major ossis sphenoidalis antara foramen ovale dan crista berupa tendon

b. Caput bawah (inferior) keluar dari permukaan luar atau lateral lamina lateralis processus pterygoidei ossis sphenoidalis (Dixon, 1993).

Suplai saraf m. pterygoideus lateralis berasal dari n. mandibularis cabang n. cranialis V (trigeminus). Caput superior m. pterygoideus lateralis berfungsi menarik discus articularis ke depan dan pada saat bersamaan caput condylaris akan ditarik ke depan oleh caput inferior. Kedua m. pterygoideus lateralis bekerja bergantian untuk memajukan mandibula. Otot ini juga berperan pada gerak membuka mulut melalui gerak rotasi mandibula di sekitar sumbu horizontal. M. pterygoideus lateralis dari salah sebuah sisi akan bekerja sama dengan m. pterygoideus medialis untuk menggerakkan dagu melintas garis median ke arah sisi wajah yang berlawanan, seperti misalnya pada gerak rahang yang mengunyah (Dixon, 1993).4. M. Pterygoideus Medialis

M. pterygoideus medialis merupakan otot berkepala dua yang tebal di bagian dalam rahang bawah; terletak antara sudut rahang bawah dan rahang atas (Sloane, 2003). Keluar melalui dua caput, yaitu:

a. Caput profunda yang besar dari permukaan medial lamina lateralis processus pterygoidei dan sebagian tuber palatina, membentuk batas anterior bagian bawah fossa pterygoidea

b. Caput superficialis yang lebih kecil keluar dari tuber maxillae, juga dari bagian tuber palatina yang terlihat diantara maxilla dan lamina lateralis processus pterygoidei pada ujung bawah fossa pterygopalatina (Dixon, 1993).

Suplai saraf m. pterygoideus medialis berasal dari n. mandibularis cabang n. cranialis V (trigeminus). M. pterygoideus medialis berfungsi mengangkat rahang bawah dan memajukannya. Selain itu juga berfungsi mengungkit angulus mandibulae ke madial (Dixon, 1993).

Gambar 2. M. pterygoideus lateralis dan M. pterygoideus medialis

2.3 Kelainan Sendi Temporomandibula

Kelainan Sendi Temporomandibula dapat dikelompokkan dalam 2 bagian yaitu : gangguan fungsi akibat adanya kelainan struktural dan gangguan fungsi akibat adanya penyimpangan dalam aktifitas salah satu komponen fungsi sistem mastikasi (disfungsi). Kelainan Sendi Temporomandibula akibat kelainan struktural jarang dijumpai dan terbanyak dijumpai adalah disfungsi (Martin, 2005).

Sendi Temporomandibula yang diberikan beban berlebih akan menyebabkan kerusakan pada strukturnya atau mengganggu hubungan fungsional yang normal antara kondilus, diskus, dan eminensia, yang akan menimbulkan rasa sakit, kelainan fungsi tubuh, atau kedua-duanya. Idealnya, semua pergerakan Sendi Temporomandibula harus terpenuhi tanpa rasa sakit dan bunyi pada sendi (Pedersen, 1996).2.3.1 Kelainan Struktural

Kelainan struktural adalah kelainan yang disebabkan oleh perubahan struktur persendian akibat gangguan pertumbuhan, trauma eksternal, penyakit infeksi, atau neoplasma, dan umumnya jarang dijumpai. Gangguan pertumbuhan kongenital berkaitan dengan hal-hal yang terjadi sebelum kelahiran yang menyebabkan kelainan perkembangan yang muncul setelah kelahiran. Umumnya gangguan pertumbuhan tersebut terjadi pada kondilus yang menyebabkan kelainan selain pada bentuk wajah yang menimbulkan masalah estetis juga masalah fungsional (Martin, 2005).

Cacat juga dapat terjadi pada permukaan artikular, yang mana cacat ini dapat menyebabkan masalah pada saat sendi berputar yang dapat pula melibatkan permukaan diskus. Cacat dapat disebabkan karena trauma pada rahang bawah, peradangan, dan kelainan stuktural. Perubahan di dalam artikular juga dapat terjadi karena variasi dari tekanan emosional. Oleh karena itu, ketika tekanan emosional meningkat, maka tekanan pada artikular berlebihan, menyebabkan terjadinya perubahan pergerakan (Martin, 2005).