Askep Lansia Kelomp. Hipertensi

download Askep Lansia Kelomp. Hipertensi

of 23

  • date post

    19-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    260
  • download

    17

Embed Size (px)

description

s

Transcript of Askep Lansia Kelomp. Hipertensi

BABI

ASUHAN KEPERAWATAN KELOMPOK LANSIA

DENGAN MASALAH HIPERTENSI DIRUANG ANGGREK

PANTI WREDH PUCANG GADING SEMARANG

Disusun OlehKHOIRIYAH G2A5040700SARINTI G2A50407004WAHYUNINGSIHG2A5040700PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

2008

BAB I

PENDAHULUANA. Latar Belakang

Menurut sensus penduduk yang dilakukan Badan Pusat Statistik ( BPS ),

pada tahun 1996 jumlah penduduk Indonesia adalah 198,83 juta jiwa.Dari jumlah tersebut terdapat 13,5 juta penduduk yang berumur antara 60 75 tahun keatas atau biasa disebut sebagai kelompok usia lanjut.Kelompok usia lanjut dari tahun ke tahun semakin bertambah. Akan tetapi pada umumnya kelompok ini merupakan kelompok yang kurang produktif, ditambah lagi dengan kondisi kesehatan yang mulai menurun seiring dengan bertambahnya usia mereka. Degenerasi organ tubuh yang menyebabkan kelompok usia usia lanjut sangat rentan terhadap penyakit baik yang bersifat akut maupun kronik. Beberapa penyakit pada usia lanjut yang sering kita temui adalah ISPA, Kardiovaskuler, Pembuluh darah, penyakit urogenital, penyakit pencernaan, dan penyakit degeneratif seperti osteoporosis, ostewo arthritis, PPOK, hipertensi, dan lain lain ( Depkes RI, 1994 ).

Salah satu penyakit yang akan dibahas adalah hipertensi pada lansia. Dimana Hipertensi merupakan gangguan kesehatan yang ditandai adanya tekanan sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih tinggi 90 mmHg.Secara umum penyakit ini bisa menimpa pada laki laki dan perempuan, karena proses perubahan pada pembuluh darah dan pengaruh dari perubahan krdiovaskuler. Hal ini akibat dari proses degeneratif dan pengaruh diit sebelumnya.Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan di ruang Anggrek terdapat 80% dari jumlah kelayan yang mengalami masalah hipertensi dengan keluhan nyeri kepala, kaku pada tengkuk, kelemahan pada satu sisi, gringgingen ( kesemutan ). Dengan demikian kelompok merasa tertarik untuk membuat makalah tentang asuhan keperawatan dengan masalah hipertensi.

B. Tujuan

1. Tujuan umumMakalah ini dibuat agar mahasiswa dapat mengetahui gambaran secara nyata dan lebih mendalam tentang asuhan keperawatan dan lansia dengan masalah hipertensi diruang Anggrek Panti Wredha Pucang Gading Semarang. 2. Tujuan khusus

Setelah tersusunnya makalah ini diharapkan mahasiswa mampu :

a. Menjelaskan konsep tentang masalah hipertensi.

b. Menyusun konsep asuhan keperawatan dengan masalah hipertensi.

c. Menerapkan asuhan keperawatan pada kelayan dengan masalah hpertensi.C. Proses Pembuatan Makalah

Penulisan makalah pada studi khusus menggunakan metode deskriptif yaitu menggambarkan masalah-masalah yang terjadi dan didapat pada saat melaksanakan asuhan keperawatan. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah :

1. Wawancara

Yaitu melakukan tanya jawab langsung kepada kelayan.2. Observasi partisipatif aktif

Yaitu mengadakan pengawasan langsung terhadap kelayan serta melakukan asuhan keperawatan sesuai dengan permasalahan yang dihadapi.

3. Studi kepustakaan

Yaitu mempelajari literatur-literatur yang berhubungan dengan masalah hipertensi.4. Studi Dokumentasi

Yaitu pengumpulan data dengan mempelajari catatan medik dan hasil pemeriksaan yang ada.

BAB II

KONSEP TEORI

A. Konsep Dasar Lansia

1. Pengertian

Lansia merupakan perubahan progresif pada organ yang telah mencapai kematangan intrinsik dan bersifat inversible serta menunjukkan adanya kemunduran sejalan dengan waktu (Charlotte, 2005). Menua bukan suatu penyakit tetapi proses berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsang dari dalam maupun luar tubuh.

Pengelompokkan lansia menurut WHO (1996) :

1) Model Age (45 49 tahun)

2) Alder Age (60 74 tahun)

3) Old Age (75 90 tahun)

2. Teori Perubahan Lansia menurut Charlotte (2005) terdiri dari :

a. Teori Biologis

1) Genetik

Teori genetik dipercaya sebagai faktor dominan yang menyebabkan perubahan pada lansia. Seorang lebih mudah ditentukan tipe fungsi mental dan fisik yang secara genetik menentukan cepat tua dan lama hidup seseorang.

2) Stochastice

Merupakan akumulasi kerusakan pada molekul vital (DHA, protein) yang menyebabkan penurunan fisik secara progresif dan akhirnya mati.

3) Reaksi Autoimun

Sistem penting pertahanan melawan sustansi asing yang masuk tubuh. Menua merupakan penurunan kemampuan untuk memproduksi antibodi yang melawan penyakit.

4) Wear and tear

Adalah primer menua tidak terbatas pada organ tetapi sampai pada tingkat sel, suplemen nutrisi dan pengobatan yang mampu untuk memperbaiki dan memelihara organ atau sel.

5) Penyakit

Bakteri, jamur, virus dan beberapa mikroorganisme lain dapat menjadi faktor terjadinya proses menua. Pada beberapa kasus patologis hal ini disebabkan karena sistem antibodi.

6) Radiasi

Radiasi sinar ultraviolet juga merupakan faktor yang mempengaruhi perubahan pada lansia, hal ini karena radiasi dapat menyebabkan mutasi sel.

7) Nutrisi

Pemenuhan kebutuhan nutrisi dapat mempengaruhi kesehatan dan proses penuaan. Misalnya obesitas dapat meningkatkan resiko terjadinya berbagai penyakit.

b. Teori psikologis

Teori psikologis yang mempengaruhi penuaan disebabkan karena proses mental, lingkungan dan emosi.

B. Konsep Dasar Penyakit Hipertensi1. Definisi

Hipertensi merupakan gangguan kesehatan yang ditandai adanya tekanan sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih tinggi 90 mmHg.

2. Etiologi

Hipertensi dapat disebabkan oleh interaksi bermacam-macam faktor antara lain:

- Kelelahan - Proses penuaan

- Keturunan - Diet yang tidak seimbang

- Stress - Sosial budaya

Akibat/ komplikasi dari penyakit hipertensi:

Gagal jantung, gagal ginjal, stroke (kerusakan otak), kelumpuhan.

3. Patofisiologi

Kerja jantung terutama ditentukan oleh besarnya curah jantung dan tahanan perifer. Curah jantung pada penderita hipertensi umumnya normal. Kelainannya terutama pada peninggian tahanan perifer. Kenaikan tahanan perifer ini disebabkan karena vasokonstriksi arteriol akibat naiknya tonus otot polos pembuluh darah tersebut. Bila hipertensi sudah berjalan cukup lama maka akan dijumpai perubahan-perubahan struktural pada pembuluh darah arteriol berupa penebalan tunika interna dan hipertropi tunika media. Dengan adanya hipertropi dan hiperplasi, maka sirkulasi darah dalam otot jantung tidak mencukupi lagi sehingga terjadi anoksia relatif. Keadaan ini dapat diperkuat dengan adanya sklerosis koroner.

4. Tanda dan gejala

a. Sakit kepala - Perdarahan hidung

b. Vertigo - Mual muntah

c. Perubahan penglihatan - Kesemutan pada kaki dan tangan

d. Sesak nafas - Kejang atau koma

e. Nyeri dada

C. Pengkajian Data Dasar

1. Data dasar pengkajian klien dengan hipertensi

Aktifitas/ istirahat

Gejala: Kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton

Tanda: Frekwensi jantung meningkat, perubahan irama jantung

Sirkulasi

Gejala: Riwayat hipertensi, penyakit jantung koroner.

Tanda: Kenaikan tekanan darah, tachycardi, disarythmia.

Integritas Ego

Gejala: Ancietas, depresi, marah kronik, faktor-faktor stress.

Tanda: Letupan suasana hati, gelisah, otot mulai tegang.

Eliminasi

Riwayat penyakit ginjal, obstruksi.

Makanan/ cairan

Gejala: Makanan yang disukai (tinggi garam, tinggi lemak, tinggi kolesterol), mual, muntah, perubahan berat badan (naik/ turun), riwayat penggunaan diuretik.

Tanda: Berat badan normal atau obesitas, adanya oedem.

Neurosensori

Gejala: Keluhan pusing berdenyut, sakit kepala sub oksipital, gangguan penglihatan.

Tanda: Status mental: orientasi, isi bicara, proses berpikir,memori, perubahan retina optik.

Respon motorik: penurunan kekuatan genggaman tangan.

Nyeri/ ketidaknyamanan

Gejala: Angina, nyeri hilang timbul pada tungkai, nyeri abdomen/ masssa.

Pernafasan

Gejala: Dyspnea yang berkaitan dengan aktifitas/ kerja, tacyhpnea, batuk dengan/ tanpa sputum, riwayat merokok.

Tanda: Bunyi nafas tambahan, cyanosis, distress respirasi/ penggunaan alat bantu pernafasan.

Keamanan

Gejala: Gangguan koordinasi, cara brejalan.

2. Pemeriksaan Diagnostik

Hb: untuk mengkaji anemia, jumlah sel-sel terhadap volume cairan (viskositas).

BUN: memberi informasi tentang fungsi ginjal.

Glukosa: mengkaji hiperglikemi yang dapat diakibatkan oleh peningkatan kadar katekolamin (meningkatkan hipertensi).

Kalsium serum

Kalium serum

Kolesterol dan trygliserid

Px tyroid

Urin analisa

Foto dada

CT Scan

EKG

Prioritas keperawatan:

Mempertahankan/ meningkatkan fungsi kardiovaskuler.

Mencegah komplikasi.

Kontrol aktif terhadap kondisi.

Beri informasi tentang proses/ prognose dan program pengobatan.

3. Pencegahan

a. Pencegahan Primer

Faktor resiko hipertensi antara lain: tekanan darah diatas rata-rata, adanya hipertensi pada anamnesis keluarga, ras (negro), tachycardi, obesitas dan konsumsi garam yang berlebihan dianjurkan untuk:

1. Me