ANTISIPASI TERHADAP POTENSI PENURUNAN ...pse. ... 902 Antisipasi terhadap Potensi Penurunan Produksi

download ANTISIPASI TERHADAP POTENSI PENURUNAN ...pse. ... 902 Antisipasi terhadap Potensi Penurunan Produksi

of 20

  • date post

    18-Jan-2021
  • Category

    Documents

  • view

    1
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of ANTISIPASI TERHADAP POTENSI PENURUNAN ...pse. ... 902 Antisipasi terhadap Potensi Penurunan Produksi

  • Dampak Pandemi Covid-19: Perspektif Adaptasi dan Resiliensi Sosial Ekonomi Pertanian 901

    ANTISIPASI TERHADAP POTENSI PENURUNAN

    PRODUKSI PANGAN AKIBAT IKLIM EKSTRIM

    PADA ERA COVID-191

    Bambang Irawana1, Ai Dariahb2

    aPusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

    Jln. Tentara Pelajar No. 3B Cimanggu, Bogor 16111 b Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

    Jln. Tentara Pelajar No. 12 Cimanggu, Bogor 16111

    Korespondensi penulis: irawanbir@yahoo.com

    PENDAHULUAN

    Pada rapat koordinasi penurunan emisi sektor pertanian tanggal 9

    September 2020 Biro Perencanaan Kementerian Pertanian (Kementan)

    menyampaikan bahwa terdapat enam tantangan yang dihadapi sektor

    pertanian akibat pandemi Covid-19, yaitu: (1) petani rentan terpapar

    covid-19 sehingga dapat menurunkan kinerja petani; (2) terganggunya

    produksi pertanian akibat pembatasan pergerakan orangtermasuk

    tenaga kerja pertanian di sektor hulu maupun di sektor hilir; (3) adanya

    potensi krisis pangan akibat penurunan produktivitas; (4) terjadinya

    penurunan daya beli masyarakat terhadap permintaan produk

    pertanian; (5) pengurangan anggaran Kementan akibat adanya

    refocusing anggaran untuk penanganan pandemi covid-19; dan (6)

    terganggunya distrbusi pangan akibat penerapan Pembatasan Sosial

    Skala Besar (PSBB) dan penutupan wilayah.

    Perubahan kebijakan terutama yang terkait dengan anggaran

    pembangunan juga terjadi hampir di seluruh negara dengan

    memfokuskan atau lebih mengutamakan sektor kesehatan daripada

    sektor pertanian. Negara-negara maju juga mulai melakukan

    pembatasan perdagangan terutama produk pangan dengan negara

    China dan negara lain yang dianggap berpotensi menyebarkan Covid-

    19. Seluruh perubahan tersebut pada akhirnya dapat berdampak pada

    1Kontributor utama 2 Kontributor anggota

  • 902 Antisipasi terhadap Potensi Penurunan Produksi Pangan Akibat Iklim Ekstrim pada Era Covid-19

    pasar pangan dunia yang semakin tipis dan dapat menimbulkan

    terjadinya krisis pangan.

    Pada sisi lain terjadinya perubahan iklim yang dipicu oleh

    peningkatan emisi gas rumah kaca dan menyebabkan terjadinya

    pemanasan global dapat menimbulkan dampak negatif terhadap

    produksi pangan baik secara langsung maupun tidak langsung.

    Peningkatan temperatur bumi disinyalir telah berdampak pada

    penurunan produktivitas komoditas pangan dunia. Begitu pula

    terjadinya iklim ekstrim seperti banjir, kekeringan, topan, badai, El

    Nino dan La Nina yang dipicu oleh pemanasan global dapat

    menimbulkan dampak negatif terhadap produksi pangan. Di

    kawasan Asia Tenggara dan Australia produksi pertanian seringkali

    terganggu oleh terjadinya El Nino dan La Nina (Yoshino et al. 2000)

    dan oleh sebab itu diperlukan upaya antisipasi untuk menekan

    potensi dampak negatif yang dapat ditimbulkan.

    Pada pertemuan virtual tanggal 11 Oktober 2020 Badan

    Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan pada

    musim hujan 2020/2021 akan terjadi La Nina yang dapat menimbulkan

    banjir dan meningkatnya gangguan hama dan penyakit tanaman

    pangan. Perkiraan tersebut selaras dengan nilai indeks SOI pada bulan

    Agustus dan September yang mencapai di atas 9.0 yang artinya pada

    bulan-bulan tersebut telah terjadi gejala La Nina yang kemungkinan

    akan berlanjut hingga selama musim hujan 2020/2021. Pada masa sulit

    akibat pandemi Covid-19 yang menimbulkan dampak luas secara

    sosial dan ekonomi, maka berbagai masalah yang dapat menyebabkan

    penurunan produksi pangan harus diminimalkan termasuk akibat El

    Nino dan La Nina. Penulisan makalah ini berujuan untuk

    mengungkapkan bagaimana dinamika perubahan iklim dan iklim

    ekstrim El Nino dan La Nina serta dampak klimatologis yang

    ditimbulkan di Indonesia beserta potensi dampak yang ditimbulkan

    terhadap produksi pangan dan upaya antisipasi yang diperlukan.

    METODE

    Penelitian dilakukan melalui review pustaka yang relevan. Di

    samping itu, dimanfaatkan pula data sekunder yang diperoleh dari

  • Dampak Pandemi Covid-19: Perspektif Adaptasi dan Resiliensi Sosial Ekonomi Pertanian 903

    berbagai sumber. Komoditas pangan yang dianalisis difokuskan pada

    empat komoditas yaitu: padi, jagung, kedelai dan ubi kayu. Analisis

    dilakukan pada lingkup nasional di samping lingkup provinsi dan

    kabupaten pada aspek tertentu. Beberapa aspek yang dibahas,

    meliputi: fenomena perubahan iklim dan iklim ekstrim, potensi

    dampak iklim ekstrim pada tanaman pertanian dan dampak El Nino

    dan La Nina pada produksi pangan nasional.

    HASIL DAN PEMBAHASAN

    Fenomena Perubahan Iklim dan Iklim Ekstrim

    Perubahan iklim merupakan salah satu tantangan yang dihadapi

    dalam pembangunan pertanian nasional. Perubahan iklim tersebut

    disinyalir akibat terjadinya pemanasan global sedangkan pemanasan

    global diperkirakan sebagai akibat meningkatnya emisi gas rumah

    kaca (GRK) yang dilepas dari berbagai sumber emisi (Faqih dan Boer

    2013). Sejak revolusi industri emisi GRK meningkat sangat cepat

    khususnya gas karbondioksida (CO2), metana (CH4), dan nitrous

    oksida (N2O).Gas-gas tersebut memiliki sifat seperti kaca dan

    keberadaannya di atmosfer akan menimbulkan efek rumah kaca

    karena radiasi panas bumi yang dilepas ke udara ditahan oleh GRK

    sehingga suhu bumi semakin panas.

    Indonesia dianggap sebagai salah satu penyumbang GRK terbesar

    setelah Amerika, Cina dan negara-negara Eropa (Faqih dan Boer

    2013). Kegiatan produksi pertanian terutama di lahan sawah dan

    pergeseran tata guna lahan akibat pembangunan pertanian

    merupakan salah satu penyebab terjadinya emisi tersebut. Gambar 1

    memperlihatkan tren emisi di sektor pertanian dan perubahan

    temperatur yang terjadi di Indonesia selama tahun 1961-2017.

    Tampak bahwa emisi di sektor pertanian cenderung naik dengan pola

    eksponensial yang artinya cenderung terjadi percepatan laju kenaikan

    emisi. Bersamaan dengan itu perubahan temperatur cenderung naik

    yang artinya wilayah Indonesia secara umum semakin panas.

    Salah satu dampak yang disebabkan oleh pemanasan global

    adalah terjadinya perubahan iklim dan peningkatan skala maupun

  • 904 Antisipasi terhadap Potensi Penurunan Produksi Pangan Akibat Iklim Ekstrim pada Era Covid-19

    intensitas kejadian iklim ekstrim di berbagaibelahan dunia. Indonesia

    sebagai negara kepulauan sudah semakin merasakan terjadinya

    perubahan iklim tersebut dan berbagai dampak yang ditimbulkan

    diantaranya ditunjukkan oleh pergeseran musim dan kejadian iklim

    ekstrim yang semakin sering terjadi. Apriyana et al. (2016)

    menyatakan bahwa dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, Indonesia

    telah mengalami beberapa kondisi iklim ekstrim yang ditandai

    dengan meningkatnya frekuensi variabilitas iklim.

    Hasil analisis curah hujan rataan 30 tahunan dengan interval setiap

    10 tahunan dalam periode 1901-2010 yang dilakukan Faqih dan Boer

    (2013) menunjukkan keragaman perubahan curah hujan antardekade

    dan keragaman perubahan pola hujan antarwilayah. Di Pulau

    Sumatera secara umum terjadi peningkatan curah hujan secara

    signifikan. Tren perubahan curah hujan di Sulawesi berbeda dengan

    di Sumatera, di Sulawesi secara umum terjadi penurunan curah

    hujan. Sementara tren rata-rata curah hujan di seluruh wilayah

    Sumber: FAO Statistics, diolah

    Gambar 1. Tren emisi pertanian (equivalen CO2) dan perubahan

    temperatur di Indonesia, 1961-2017

    y = 49259e0,0183x

    R² = 0,9702

    y = 0,016x - 0,1913

    R² = 0,6639

    -0,4

    -0,2

    0,0

    0,2

    0,4

    0,6

    0,8

    1,0

    1,2

    1,4

    1,6

    0

    20000

    40000

    60000

    80000

    100000

    120000

    140000

    160000

    1961 1966 1971 1976 1981 1986 1991 1996 2001 2006 2011 2016

    P er

    u b

    ah an

    t em

    p er

    at u

    r (o

    C )

    E m

    is i

    eq C

    O 2

    (g ig

    ag ra

    m )

    Emisi pertanian Temperatur

    Expon. (Emisi pertanian) Linear (Temperatur)

  • Dampak Pandemi Covid-19: Perspektif Adaptasi dan Resiliensi Sosial Ekonomi Pertanian 905

    Indonesia tidak begitu nyata meskipun antardekade terjadi tren

    penurunan curah hujan yang sangat besar.

    Hasil penelitian Nugroho et al. (2019) di Sumatera Barat

    menunjukkan bahwa perubahan curah hujan bervariasi berdasarkan

    ketinggian tempat. Di daerah dataran rendah curah hujan cenderung

    turun sedangkan di daerah dataran tinggi cenderung menunjukkan

    peningkatan curah hujan. Curah hujan musiman juga menunjukkan

    perubahan, pada bulan Desember–Januari–Februari terjadi kenaikan

    curah hujan di hampir seluruh Pulau Jawa dan Indonesia bagian

    timurseperti Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara

    Timur (NTT). Sementara curah hujan pada bulan Juni–Juli–Agustus

    menunjukkan penurunan yang signifikan di hampir seluruh wilayah

    Indonesia ke