Tardive Dyskinesia Pada Schizophrenia

Post on 02-Jan-2016

130 views 1 download

description

....

Transcript of Tardive Dyskinesia Pada Schizophrenia

TARDIVE DYSKINESIA PADA SCHIZOPHRENIA

 

PEMBIMBING :dr. Irmansyah, Sp. KJ

 DISUSUN OLEH :

Melyda (406127130)Handi Suntama E (406127135)

Ricky Dosan (406127138)Nicky Alexandra (406127140)

 

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN JIWA RSKJ. DHARMA GRAHAFAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA

SKIZOFRENIA

“SCHIZEIN” yang berarti

“Terpisah” atau “Pecah”,

“Phren” yang artinya “Jiwa”.

Skizofrenia :Sekelompok gangguan psikosis dg gejala berupa pikiran, perasaan & prilaku yang terpecah

SKIZOFRENIA

ANTIPSIKOTIK

TARDIVE DYSKINESIA

TARDIVE DYSKINESIA

“Late” or “Delayed”“Abnormal movement”

Presentasi Klinis Tardive Dyskinesia• Buccolinguomasticory syndrome (wajah

dan lidah)• Tardive dystonia (twisting & bending)• Tardive chorea (looks like dancing)• Tardive tourettism (looks like Tourette)• Tardive tremor or myoclonus (the

“shakes” or “jerks”)

Presentasi Klinis Tardive Dyskinesia

-Gerakan-gerakan bermain gitar dan piano- Gerakan-gerakan fleksi ekstensi dari jari-jari dan pergelangan tangan dan kaki- Gerakan-gerakan dyskinetik dari leher, batang tubuh dan panggul - Gerakan-gerakan menyentak dari abdomen dan diafragma ketidakteraturan pernapasan - Gerakan athetoid (perlahan, menggeliat seperti ular) yang involunter pada ekstremitas seperti gerakan menggeliat, berpilin, dan mengetuk jari-jari.

Epidemiologi

1. Prevalensi 15-30% pasien yang menerima terapi antipsikotik jangka panjang

2. Durasi pengobatan >3bulan, biasanya sampai beberapa tahun

3. Kerentanan bervariasi sesuai usia ( usia lanjut > usia muda )

4. Wanita lebih sering daripada pria5. Insidens meningkat pada perokok

Patofisiologi

Tidak terdapat neuropatologi pada TD Patofisologi masih belum dapat

dipastikan

Patofisiologi

APG

JANGKA PANJANG

JANGKA PENDEK

GEJALA EKSTRAPIRAMI

DAL

Patofisiologi

Efek samping jangka pendek adanya hambatan pada reseptor dopamin

Efek samping jangka panjang adanya peningkatan sensitivitas reseptor dopamin sebagai respon kompensasi.

Patofisiologi

Gejala jangka pendek :

1. distonia akut (1-5 hari setelah pemberian obat)

2. akatisia (5-60 hari setelah pemberian obat)

3. parkinsonism(5-30 hari setelah pemberian obat, dapat muncul setelah dosis tunggal)

4. NMS (beberapa minggu setelah pemberian obat, dapat menetap setelah pemberhentian neuroleptik)

Gejala jangka panjang :

5. tremor perioral(beberapa bulan atau tahun setelah pemberian obat)

6. TD (beberapa bulan atau tahun setelah pemberian obat, memburuk setelah pemberhentian obat).

Sistem Dopamin

supersensitivitas striatal reseptor dopamin blokade dopamin kronis mengakibatkan respon upregulation

reseptor dopamin supersensitivitas kompensatorik reseptor dopamin dapat

berkembang setelah blokade jangka panjang (blokade jangka panjang reseptor D2 dopamin di ganglia basal oleh antagonis D2 dopamin dapat mengakibatkan TD) (Baldessarini and Tarsy, 1979; Tarazi et al. 1997, 2001).

berkurangnya dopamin D2-blokade reseptor (meskipun sedikit), dapat mengakibatkan respon berlebihan dari dopamin postsynaptic D2-reseptor

disinhibisi striatal dari jalur talamokortikal dari ketidakseimbangan reseptor D1 dan D2

Neurodegeneration sekunder karena peroksidasi lipid atau mekanisme excitotoxic

Etiologi

Antipsikotik generasi 1 :- Butyrophenones: droperidol, haloperidol,

dibenzodiazepines, loxapine- Diphenylbutylpiperidines: pimozide - Indolones: molindone- Phenothiazines: chlorpromazine, fluphenazine,

mesoridazine, perphenazine, thioridazine, trifluoperazine- Thioxanthenes: thiothixene

Antipsikotik generasi 2 :- Olanzapine- Quetiapine- Risperidone- Paliperidone- Amisulpride

Non-antipsikotik :- Anticolinergics: Benzhexol, Biperiden,

Norflex, Procyclidine- Antidepressants: Nardil, Prozac, Zoloft,

Desyrel, Elavil, Triavil, Asendin, Sinequan, Tofranil

- Antiemetics: Reglan, Compazine- Antiepileptics: Tegretol, Zarontin,

Phenobarbital

Non-antipsikotik :- Antihistamines- Antimalarial: Chloroquine- Anti-Parkinson: Parlodel, Atamet, Sinemet- Anxiolytics: Xanax- Biogenic amines: Dopamine [Intropin]- Mood stabilizers: Lithium- Oral contraceptives: Estrogens- Stimulants: Amphetamine, Ritalin, Caffeine

Faktor Resiko

- Pasien dengan DRAs jangka panjang- Usia lanjut- Wanita- Post-menopause- Riwayat penyalahgunaan alkohol atau

zat- Cacat perkembangan- Gejala ekstra-piramidal pada awal terapi

Diagnosis

Anamnesa : riwayat neuropsikiatri dan pengobatan

Pemeriksaan fisik ( AIMS ) Laboratorium, CT-scan, MRI, PET-scan

Alat penilaian TD

- Amati pasien dengan telanjang kaki dan tangan terbuka

- Mintalah pasien untuk duduk diam di kursi selama 10 menit.

- Beri tanda cek pada lembar skor pertama kalinya setiap gerakan terjadi selama setiap 30 detik dari periode observasi

- Perhitungan waktu dapat difasilitasi dengan memainkan rekaman yang berisi serangkaian interval 30 detik yang diakumulasikan hingga 10 menit

- Rekaman dapat dimainkan secara langsung di depan pasien. Agar tidak mengganggu pasien, pemeriksa dapat mendengarkan rekamannya melalui headphone

Alat penilaian TD yang sering digunakan (American College of Nurse Practiotioners, 2007, Elsevier Inc.):

Abnormal Involuntary Movement Scale (AIMS) Barnes Akathisia Scale Extrapiramidal Symptom Rating Scale (ESRS) Liverpool University Neuroleptic Side Effect

Rating Scale (LUNSERS) Nursing EPS Assessment Scale Side Eefects Scale /Checklist for Antopsychotic

Medication (SESCAM) Simpson and Angus Scale Yale Extrapyramidal side Effects Scale

Pemeriksaan Gerakan Involunter Abnormal dengan AIMS :

kenyamanan pasien Sebaiknya gunakan kursi yang keras, kokoh, tanpa lengan Setelah mengobservasi paien, nilai pasien dengan sakala dari 0

(tidak ada),1 (minimal), 2 (ringan), 3(sedang), 4(berat), sesuai denga derajat keparahan

gejala. Tanyakan kepada pasien apakah ada sesuatu didalam mulutnya

(permen, makanan), keluarkan jika ada Tanyakan kondisi terkini dari mulut dan gigi pasien, apakah

pasien mengenakan gigi palsu, apakah ada gangguan pada gigi Tanyakan pada pasien apakah pasien mengetahui ada suatu

gerakan pada mulut, wajah, tangan, atau kaki. Jika ada, minta pasien untuk mendeskripsikan dan menunjukkan gerakan mana yang saat ini mengganggu akitivitas pasien

Lengkapi form AIMS

Tardive Dyskinesia didiagnosis jika ada satu gejala dari beberapa gejala berikut :

-Mengalami gangguan neuroleptik setidaknya 3 bulan (1 bulan jika geriatri berumur lebih dari 60 tahun) dengan setidaknya 2 pergerakan dengan intensitas ringan ketika mengkonsumsi obat neuroleptik

-Mengalami gangguan neuroleptik setidaknya 3 bulan (1 bulan jika geriatric berumur lebih dari 60 tahun) dengan setidaknya 1 pergerakan dengan intensitas sedang ketika mengkonsumsi obat neuroleptik

-Mengalami gangguan neuroleptik setidaknya 3 bulan (1 bulan jika geriatric berumur lebih dari 60 tahun) dengan setidaknya 2 pergerakan dengan intensitas ringan ketika 4 minggu berhenti mengkonsumsi obat neuroleptik

-Mengalami gangguan neuroleptik setidaknya 3 bulan (1 bulan jika geriatric berumur lebih dari 60 tahun) dengan setidaknya 1 pergerakan dengan intensitas sedang ketika 4 minggu berhenti mengkonsumsi obat neuroleptik

- Mengalami gangguan neuroleptik setidaknya 3 bulan (1 bulan jika geriatric berumur lebih dari 60 tahun) dengan setidaknya 2 pergerakan dengan intensitas ringan ketika 8 minggu berhenti mengkonsumsi depot obat neuroleptik

- Mengalami gangguan neuroleptik setidaknya 3 bulan (1 bulan jika geriatric berumur lebih dari 60 tahun) dengan setidaknya 1 pergerakan dengan intensitas sedang ketika 8 minggu berhenti mengkonsumsi depot obat neuroleptik

Diagnosa Banding

Epilepsi Chorea Kejang parsial kompleks Toxisitas, halusinogen Hipertiroidisme Hipoparatiroidisme Sindrom Tourette Demensia dalam penyakit Parkinson

Tatalaksana

Tatalaksana yang paling penting adalah pencegahan TD yaitu dengan cara meminimalisir dosis dan durasi pengobatan serta pemantauan rutin terhadap TD pada pengobatan jangka panjang

Jika sudah terdiagnosis TD disarankan untuk menghentikan obat, mengurangi dosis, atau mengganti dengan Clozapine.

Clozapine

Direkomendasikan sebagai pengobatan untuk pasien dengan TD yang membutuhkan antipsikotik.

Efek samping motorik dan TD paling rendah dibandingkan APG I dan APG II lainnya.

Keunggulan Clozapin dibandingkan dengan antipsikotik lain:

•Superior untuk gejala positif pada pasien yang resisten terhadap terapi lain

•Resiko bunuh diri lebih rendah•Resiko TD yang lebih rendah, efek supresi terhadap

gejala TD•Perbaikan fungsi kognitif yang berkontribusi

terhadap fungsi social dan pekerjaan•Kualitas hidup yang lebih baik, •Kemungkinan relapse yang lebih rendah

Clozapine

Efek samping : gangguan metabolik, gangguan kardiovaskular, hipersalivasi, kejang motoric mayor, dan agranulositosis.

Perlu evaluasi hematologi rutin untuk menghindari agranulositosis fatal

TatalaksanaBenzodiazepine :

obat penenang yang berfungsi sebagai anti-convulsant dan relaksan otot

Agen terapeutik lainnya

- vitamin E

- levodopa

- toksin botulinum

- reserpin

- Ondansetron, selektif 5-hydroxytryptamine-3 antagonis.

Penghentian terapi antikolinergik juga dapat meredakan TD.

Tatalaksana – Penghentian antagonis dopamin

penghentian mendadak DRA eksaserbasi akut dan memicu psikosis, delusi, halusinasi, dan perilaku bunuh diri atau pembunuhan.

Penghentian obat sebaiknya dilakukan dengan cara tappering off (sebesar 10% dari kenaikan dosis asli) sambil observasi untuk eksaserbasi gejala psikotik.

Kondisi yang mengancam jiwa, seperti sindrom neuroleptik maligna merupakan situasi yang fatal di mana penghentian segera dapat dibenarkan.

Edukasi Pasien

Informasi kepada pasien mengenai kesehatannya (atau dengan wali sah dari pasien yang tidak kompeten)

Jika pasien menunjukan kelainan gerakan ketika mengkonsumsi obatstop obat penyebab.

Prognosis

Pasien dengan TD mortality rate yang lebih tinggi pada usia lanjut.

Penyebab kematian terbanyak adalah gangguan pada sistem kardiovaskular. Hal ini disebabkan karena penderita tardive dyskinesia cenderung lebih banyak pada pengguna APG 1.

TERIMA KASIH