Download - HUBUNGAN KONDISI FISIK RUMAH TERHADAP KEJADIAN …

Transcript
PUSKESMAS PIRU KECAMATAN SERAM BARAT
KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
“HUBUNGAN KONDISI FISIK RUMAH TERHADAP KEJADIAN PENYAKIT
TUBERKULOSIS PARU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PIRU KABUPATEN
SERAM BAGIAN BARAT”
( + Halamaan + Tabel + Lampiran)
faktor- faktor lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan faktor hereditas (bawaan) sejak lahir. Lingkugan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kejadian TB paru.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kondisi lingkungan terhadap kejadian TB paru di Kabupaten Seram Barat. Kabupaten Seram, khususnya Puskesmas mencatat tahun 2011 jumlah penderita TB paru dari bulan Januari sampai Desember jumlah suspek TB paru
sebanyak 3.141 dengan BTA positf sebanyak 48 orang sedang dalam masa pengobatan.
Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional dengan pendekatan Cross Sectional Study. Populasinya adalah semua pasien yang berkunjung di puskesmas Piru baik positif maupun negatif. Sampel penelitian ini adalah penderita TB paru baik positif dan
negatif. Cara pengambilan sampel menggunakan Exhaustive Sampling dengan besar sampel 149. Analisa data yang dilakukan adalah univariat dan bivariat dengan Chi-square.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 5 variabel yang diteliti dimana rumah yang padat memiliki hubungan terhadap kejadian TB paru (p= 0.027), Kelembaban tidak
memiliki hubungann dengan kejadian TB paru (p= 0.370), Pencahayaan rumah tidak memiliki hubungan dengan kejadian TB paru (p= 0.127 ),Ventilasi rumah tidak memiliki hubungan dengan kejadian TB paru (p= 0.260) dan Jenis Lantai rumah tidak memiliki hubungan
terhadap kejadian Tuberkulosis paru (p=0.945).
Penelitian ini menyarankan perlunya penyuluhan tentang rumah sehat terutama syarat ventilasi yang memenuhi syarat, kepadatan, kelembaban, jenis lantai serrta pencahayaan yang baik untuk setiap rumah. Keluarga penderita TB paru harus diberikan pemahaman bahwa
keluarganya yang menderita TB paru harus selalu diusahakan berada pada tempat yang memiliki ventilasi udara yang cukup dan pencahayaan yang baik guna mengurangi risiko
terjadinya keparahan penyakit TB paru yang dapat berujung kematian atau lamanya proses pengobatan.
Daftar Pustaka : 37 (1989-2011)
SUMMARY
MINITHESIS, MAY 2012 ALBERD AKYUWEN
“RELATION BETWEEN PHYSICAL CONDITION OF RESIDENCE AND
PULMONARY TUBERCULOSIS CASES IN THE WORKING AREA OF LOCAL
GOVERNMENT CLINIC OF PIRU, WEST SERAM REGENCY” (Supervised by
Syamsuar Manyullei and Ruslan)
According to Hendrick Blum, public health status is an interactional result of environmental factors, behavioral factors, health services and heredity (congenital) factors. Environmental is one of factors that cause pulmonary tuberculosis. This study aimed to
comprehend the relation between physical condition of residence and pulmonary tuberculosis cases in the working area of Local Government Clinic of Piru, West Seram Regency. In
Seram Regency, especially in its local government clinics, it was reported that the number of pulmonary tuberculosis patients from January to December 2011 were around 3.141 patients in which BTA positive, about 48 people, were still in the treatment.
Observational method with Cross Sectional Study approach was applied in this research. Populations of research were all patients who visited Local Government Clinic of
Piru, both positive and negative. Samples of research were the patients of pulmonary tuberculosis for both positive and negative. The writer used Exhaustive Sampling in selecting the samples in which the numbers of samples were 149 patients. Data analysis was
accomplished through univariate and bivariate analysis with the Chi-square test. The result of research shows that from 5 variables observed, where a residence with a
high density, has a relation toward the pulmonary tuberculosis cases (p = 0.027), humidity does not have a relation toward the pulmonary tuberculosis cases (p = 0.370), house lighting does not have a relation toward the pulmonary tuberculosis cases (p = 0.127), house
ventilation does not have a relation toward the pulmonary tuberculosis cases (p = 0.260) and types of house floor does not also have a relation toward the pulmonary tuberculosis cases (p
= 0.945). This research suggests the importance of socialization regarding healthy residences
especially good ventilation, density, humidity, types of floors and also lighting for every
house. The family of pulmonary tuberculosis patient should be given a comprehension that they need to live in house where there is adequate air ventilation and better lighting in order to
reduce the risk of pulmonary tuberculosis that can be worse or the curing processes will take a long time.
References : 37 (1989-2011)
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa,atas Kasih sayangNya sehingga
penulis dapat menyelesaikan pendidikan S-1 di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Hasanuddin.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak terlepas dari adanya bantuan dan
kerjasama dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini, penulis menghaturkan ucapan
terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
Pembimbing II yang senantiasa meluangkan waktu dan pemikirannya bagi penulis dari awal
hingga terselesainya skripsi ini.
M.Thaha, SKM, M.Kes, M.ScPH, selaku penguji dari Jurusan Epidemiologi, Balqis,SKM,M.Kes,
M.ScPH, selaku penguji darijurusan Adiministrasi dan Kebijakan Kesehatan, yang telah
memberikan masukan serta saran dan kritik yang membangun dalam pebaikan skripsi ini.
3. Bapak Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin,para Pembantu Dekan
beserta seluruh staf dosen yang telah memberikan bantuan selama penulis mengikuti
pendidikan/ perkuliahan.
5. Ketua Jurusan Kesehatan Lingkungan, beserta sekretaris, Para dosen dan seluruh staf Bagian
Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin yang telah
memberikan bantuan selama penulis mengikuti perkuliahan.
6. dr.Hasanuddin Ishak,M.ScPhD,selaku Penasehat Akademik yang telah memberikan bimbingan
dan arahan selama penulis mengikuti pendidikan.
7. Bupati Seram Bagian Barat dan segenap staf,Kepala Badan Kesbang Pol Dan Linmas beserta staff
yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian.
8. Kepala Dinkes Propinsi Maluku dan dr.Sesa Hegmon Jahya, MM, selaku Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten Seram Bagian Barat, Kepala Bidang PPM&PL serta seluruh staff,dan Pimpinan
Puskesmas Piru Beserta Staff yang selama ini telah membantu penulis sehingga bisa
menyelesaikan penelitian.
9. Ayah dan Ibunda tercinta,kedua mertuaku tercinta, Istri dan kedua buah hatiku tersayang
“Remasel dan Felicia” yang selalu menjadi penyemangat untuk penulis, semua sanak saudara,
Terimakasih atas semua bantuan moril maupun materiil yang diberikan selama ini.
10.Rekan-rekan Tubel angkatan 2010, khususnya Tubel dari Propinsi Maluku, suka duka telah kita
lalui bersama terima kasih untuk semua bantuan dan dukungan.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna karena itu saran dan
kritik penyempurnaan skripsi ini sangat penulis harapkan.
Akhir kata, semoga Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang senantiasa
melimpahkan berkatNya kepada kita semua dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita
sekalian.
a. Definisi Tuberkulosis Paru ......................................................................... 8
b. Epidemiologi Penyakit Tuberkulosis Paru ................................................. 9
c. Penyebab Tuberkulosis Paru....................................................................... 11
f. Pencegahan/Preventif ................................................................................. 16
a. Faktor Risiko Karakteristik Penduduk........................................................ 19
C. Tinjauan Umum Lingkungan............................................................................ 24
BAB III KERANGKA KONSEP ....................................................................................... 36
A. Dasar Pemikiran Variabel yang Diteliti .................................................................. 36
B. Skema Kerangka Konsep Penelitian ...................................................................... 40
C. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif.............................................................. 41
D. Hipotesis Penelitian ............................................................................................. 43
A. Jenis Penelitian ................................................................................................... 45
C. Populasi dan Sampel............................................................................................ 46
A. Hasil penelitian ................................................................................................ 51
b. Distribusi Responden Menurut Umur............................................................... 53
d. Distribusi Responden Menurut Pekerjaan ....................................................... 55
e. Distribusi Responden Menurut Jenis Rumah ................................................... 56
f. Distribusi Responden Menurut Lama Tinggal ................................................. 57
g. Distribusi Responden Menurut Jumlah Kamar................................................. 58
h. Distribusi Responden Menurut Jumlah Penderita ............................................ 59
i. Diatribusi Responden Menurut Kepadatan Hunian Rumah ............................. 60
j. Distribusi Responden Menurut Kelembaban Rumah ....................................... 61
k. Distribusi Responden Menurut Pencahayaan Rumah....................................... 63
l. Distribusi Responden Menurut Ventilasi Udara ............................................... 64
m. Distribusi Responden Menurut Jenis Lantai ..................................................... 66
Daftar gambar
Daftar Lampiran
Lampiran 4 : Dokumentasi
Lampiran 5 : Surat Izin Penelitian dari BAdan Kesbang Pol dan Linmas Kabupaten Seram
Bagian Barat
Seram Bagian Barat
Lampiran 7 : Surat Keterangan Selesai Penelitian dari Badan Kesbang Pol dan Linmas
Kabupaten Seram Bagian Barat
BAB I
Mycobaterium tuberculosis. Sebagian besar kuman tuberkulosis menyerang paru-paru,
namun dapat juga menyerang organ lain yang ada pada tubuh manusia. Sumber
penularan adalah dahak dari penderita yang mengandung kuman TB dengan BTA
positif. Bila tidak segera ditangani akan menyebabkan penderita meninggal dunia. Di
Indonesia, penanganan sejak dini sudah dilakukan dengan memberikan paket
imunisasi BCG pada balita.
Penyakit TB paru menurut Millenium Development Goals (MDGs) merupakan
salah satu penyakit yang menjadi target untuk diturunkan, selain malaria dan HIV
AIDS. Pada level Nasional, berbagai upaya telah dilakukan untuk mengendalikan
penyakit ini, salah satunya melalui program Directly Observed Treatment Shortcouse
(DOTS) (Profil Dinkes Maluku, 2010).
Menurut Hendrick Blum, status kesehatan masyarakat merupakan hasil
interaksi dari faktor-faktor lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan faktor
hereditas (bawaan) sejak lahir. Sedangkan menurut model segitiga epidemiologi,
timbulnya penyakit karena ketidakkeseimbangan antara pejamu (host), bibit penyakit
(agent) dan lingkungan (enviroment).
Kesehatan perumahan adalah kondisi fisik, kimia dan biologik di dalam rumah,
di lingkungan rumah dan perumahan sehingga memungkinkan penghuni atau
masyarakat memperoleh derajat kesehatan yang optimal (Dinas Perumahan DKI,
2006). Di Indonesia 400 orang meninggal setiap hari karena TB Paru, sehingga
penanganan masalah TB paru perlu mendapatkan perhatian yang serius. Hal ini
berhubungan dengan bahwa insiden penyakit ini lebih tinggi pada rumah tangga
miskin.
nutrisi jelek, penuh sesak, ventilasi rumah yang tidak bersih, perawatan kesehatan
yang tidak cukup dan perpindahan tempat. Genetik berperan kecil, tetapi faktor- faktor
lingkungan berperan besar pada insidensi kejadian tuberkulosis (Fletcher, 1992 dalam
Nurhidayah dkk, 2007)..
Rumah sehat memiliki lantai kedap air dan tidak lembab. Jenis lantai tanah
memiliki peran terhadap proses kejadian Tuberkulosis paru, melalui kelembaban
dalam ruangan. Lantai tanah cenderung menimbulkan kelembapan, pada musim panas
lantai menjadi kering sehingga dapat menimbulkan debu yang berbahaya bagi
penghuninya.
tuberkulosis sebagai penyakit yang termasuk Global Emergency karena jumlah
penderitanya telah mencapai angka memprihatinkan. WHO memperkirakan sekitar
32% dari populasi di dunia telah terinfeksi dengan Mycobacterium tuberculosis yang
menjadi agent penyebab TB. WHO memprediksikan setiap tahun terjadi 583.000
kasus baru tuberkulosis dengan kematian sekitar 140.000 karena penyakit ini
(Cearina, 2009 dalam Ashari 2011). Laporan WHO (2004) menyatakan bahwa
terdapat 8,8 juta kasus baru pada tahun 2002, sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi
kuman tuberkulosis dan menurut data regional WHO, jumlah terbesar kasus ini terjadi
di Asia Tenggara yaitu 33% dari seluruh kasus di dunia.
WHO pada tahun 2009, mencatat peringkat Indonesia menurun yang tadinya
dari tiga besar menjadi lima besar dengan jumlah penderita TB sebesar 429 ribu orang.
Adapun lima Negara dengan kasus insiden (kasus baru) terbesar selama tahun 2009
yaitu India, Cina, Afrika Selatan, Nigeria dan Indonesia (WHO Global Tuberculosis
Control 2010).
Dalam laporan yang berjudul Global Tuberculosis Control Report (2011),
WHO menyampaikan bahwa jumlah kasus baru TB di dunia pada tahun 2010 tercatat
8,8 juta dan jumlah korban yang meninggal 1,4 juta jiwa. Angka ini turun
dibandingkan pada tahun 2009 jumlah kasus baru sebanyak 9,4 juta.
Hasil Survey Prevalensi TB paru di Indonesia tahun 2004 menunjukkan bahwa
angka prevalensi TB paru denga BTA positif secara nasional 110 per 100.000
penduduk. Secara regional prevalensi TB paru BTA positif di Indonesia
dikelompokkan menjadi 3 wilayah, yaitu : 1) wilayah Sumatra angka prevalensi TB
paru adalah 160 per 100.000 penduduk; 2). Wilayah Jawa dan Bali angka prevalensi
TB paru adalah 110 per 100.00 penduduk; 3) wilayah Indonesia Timur angka
prevalensi TB paru adalah 210 per 100.000 penduduk (Ashari, 2011)
Indonesia dalam 5 tahun terakhir baru mampu menurunkan angka kesakitan
penyakit TB paru sebanyak 15 per 100 ribu penduduk, yakni dari 112 pada tahun 2001
menjadi 10 per 100 ribu penduduk pada tahun 2005 (Menkes, 2007). Penyakit
tuberkulosis paru menyerang sebagian besar kelompok usia kerja (15-50) tahun
(Cearina, 2009 dalam Ashari 2011).
Propinsi Maluku pada tahun 2010 terdapat 17.966 yang suspeck TB dan jumlah
BTA positif sebanyak 2.172 kasus. Kabupaten Seram Bagian Barat, khususnya
Puskesmas Piru mencatat dari tahun 2009 jumlah suspek TB sebanyak 1.555 orang
dan yang mengalami BTA positif sebanyak 21 orang dengan jumlah kematian
(mortaliti) nihil.Tahun 2010 dari hasil pencatatan dan pelaporan jumlah suspek TB
sebanyak 1.360 orang namun yang mengalami BTA positif sebanyak 25 orang dan
meninggal tidak ada. Sedangkan tahun 2011 tercatat dari bulan Januari sampai
Desember jumlah suspek TB paru sebanyak 3.141 dengan BTA positf sebanyak 48
orang sedang dalam masa pengobatan.
Hasil penelitian Firdiana (2007) di wilayah kerja Puskesmas Kedungmundu
Kecamatan Tembalang Semarang menyatakan bahwa ada hubungan yang signifikan
terhadap luas ventilasi keluarga, luas ventilasi ruang tidur, pencahayaan ruang tidur.
Pada penelitian Simbolom (2006) di Kabupaten Rejang lebong menyatakan bahwa
adanya sumber kontak, luas ventilasi rumah kurang dari 10% luas lantai , tidak
adanya pencahayaan yang masuk ke rumah. Sedangkan pada penelitian Ruswanto
(2010) dalam tinjauan TB paru dari faktor lingkungan dalam dan luar rumah di
Kabupaten Pekalongan menyatakan hasil analisis multivariat menunjukkan faktor
risiko tuberkulosis paru yaitu kepadatan penghuni, suhu dalam rumah, pencahayaan
alami, jenis lantai, dan kontak dengan penderita.
Oleh karena itu peneliti ingin melihat apakah lingkungan tersebut merupakan
penyebab dalam peningkatan kejadian TB paru di wilayah yang berbeda.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut :
5. Apakah jenis lantai rumah penyebab kejadian Tuberkulosis paru ?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
penyakit Tuberkulosis paru di wilayah kerja Puskesmas Piru Kabupaten Seram
Bagian Barat
Tuberkulosis paru di wilayah kerja Puskesmas Piru Kabupaten Seram Bagian
Barat tahun 2011.
Tuberkulosis paru di wilayah kerja Puskesmas Piru Kabupaten Seram Bagian
Barat tahun 2011.
c. Untuk mengetahui pencahayaan alami penyebab terhadap kejadian Tuberkulosis
paru di wilayah kerja Puskesmas Piru Kabupaten Seram Bagian Barat tahun
2011.
d. Untuk mengetahui ventilasi rumah penyebab terhadap kejadian Tuberkulosis
paru di wilayah kerja Puskesmas Piru Kabupaten Seram Bagian Barat tahun
2011.
e. Untuk mengetahui jenis lantai rumah penyebab terhadap kejadian Tuberkulosis
paru di wilayah kerja Puskesmas Piru Kabupaten Seram Bagian Barat tahun
2011.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dan
menjadi bahan bacaan bagi peneliti selanjutnya.
2. Manfaat Institusi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumber informasi bagi
instansi yang terkait dan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam
mengambil kebijakan penyelenggaraan program pencegahan dan penanganan
Tuberkulosis paru, khususnya di Kabupaten Seram Bagian Barat.
3. Manfaat Praktis
Penelitian ini dapat memperkaya wawasan dan pengetahuan penulis dan sebagai
salah satu cara untuk mengaplikasikan ilmu dan teori yang diperoleh di bangku
perkuliahan.
terhadap kejadian Tuberkulosis paru.
Tuberkulosis (TB) paru adalah penyakit menular langsung yang disebabkan
oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). Sebagaian besar kuman TB
menyerang paru, namun dapat menyerang organ lain. Sumber penularan adalah
dahak dari pasien yang mengandung kuman TB BTA positf. Bila tidak segera
diobati, maka penderita dapat meninggal dunia. Sekitar 25% dari seluruh kematian
yang sebenarnya dapat dicegah (preventable death) terjadi akibat TB (Afnal, 2007).
Kuman tuberkulosis berbentuk batang, yang mempunyai karakter tahan
terhadap asam pada pewarnaan. Olehnya itu disebut pula Basil Tahan Asam (BTA).
Kuman TB pada dasarnya cepat mati apabila terkontaminasi langsung dengan
cahaya matahari, tetapi dapat bertahan di tempat yang lembab dan di daerah yang
tidak terdapat sinar matahari. Dalam jaringan tubuh kuman TB dapat menjadi
dorman, tertidur lama selama beberapa tahun. Ukuran lebar ± 0,3-0,6µ dan panjang
± 1-4 µ. Dalam pembenihan buatan kuman TB terlihat berbentuk batang dan
filamentosa, yang merupakan basil Obligate anaerob, namun demikian basil ini
dapat bertahan hidup tanpa membanyak diri dengan pemberian zat asam yang
terbatas. Kebutuhan makanannya sangat terbatas, dengan kenyataan bahwa
Mycobacterium tuberculosis dapat tumbuh pada larutan garam sederhana dengan
amoniak sebagai sumber nitrogen dan glukosa sebagai sumber karbon. Suhu
optimum untuk pertumbuhannya adalah 30 0C dalam suasana pH 6,4-7,0 (Muray,
1988 dalam Jaya 2000).
Basil tuberkulosis ditandai sebagai basil tahan asam, disebabkan semacam lilin
khusus pada permukaan yang menggantikan polisakarida dan protein yang biasanya
terdapat pada permukaan bakteri. Tiga efek penting dari lapisan lilin ini adalah
(Farlan, 1995) :
menyebabkan perlambatan perkembang biakan basil.
2. Menjaga basil terhadap pencernaan pada saat basil ditangkap fagosit dalam tubuh.
3. Menyebabkan kurang bersifat iritasi terhadap jaringan dibandingkan bakteri yang
berkembang cepat, dan menyebabkan reaksi peradangan yang lambat.
b. Epidemiologi Penyakit Tuberkulosis Paru
Epidemiologi penyakit tuberkulosis paru adalah ilmu yang mempelajari
interaksi antara kuman (agent) Mycobacterium tuberculosis, manusia (host) dan
lingkungan (enviroment). Di samping itu mencakup distribusi dari penyakit,
perkembangan dan penyebarannya, termasuk didalamnya juga mencakup prevalensi
dan insidensi penyakit tersebut yang timbul dari populasi yang tertular (Dinkes
Jateng, 2000 dalam Ruswanto, 2010).
Pada penyakit tuberkulosis paru sumber infeksi adalah manusia yang
mengeluarkan basil tuberkulosis dari saluran pernafasan. Kontak yang rapat
(misalnya dalam keluarga) menyebabkan banyak kemungkinan penularan melalui
droplet.
uji tuberkulin negatif risiko memperoleh basil tuberkel bergantung pada kontak
dengan sumber-sumber kuman penyebab infeksi terutama dari penderita
tuberkulosis dengan BTA positf. Konsekuensi ini sebanding dengan angka infeksi
aktif penduduk, tingkat kepadatan penduduk, keadaan sosial ekonomi yang
merugikan dan perawatan kesehatan yang tidak memadai.
Berkembangnya penyakit secara klinik setelah infeksi dimungkinkan adanya
faktor komponen genetik yang berbukti pada hewan dan diduga terjadi pada
manusia, hal ini dipengaruhi oleh umur, kekurangan gizi dan kenyataan status
immunologik serta penyakit yang menyertainya.
Epidemiologi tuberkulosis paru mempelajari tiga proses khususnya yang terjadi
pada penyakit ini, yaitu :
b. Perkembangan dari kuman tuberkulosis paru yang mampu menularkan pada
orang lain setelah orang tersebut terinfeksi dengan kuman tuberkulosis.
c. Perkembangan lanjut dari kuman tuberkulosis sampai penderita sembuh atau
meninggal karena penyakit ini (Styblo, 1991)
c. Penyebab Tuberkulosis Paru
Humanus. Kuman tuberkulosis pertama kali ditemukan oleh Robert Koch pada
tahun 1882. Jenis kuman tersebut adalah Mycobacterium tuberculosis,
Mycobacterium africanum dan Mycobacterium bovis. Basil tuberkulosis termasuk
dalam genus Mycobacterium, suattu anggota dari family dan termasuk ordo
Actinomycetales. Mycobacterium tuberculosis menyebabkan sejumlah penyakit
penyakit berat pada manusia dan juga penyebab terjadinya infeksi tersering
(Fatimah, 2008).
Keluhan yang sering dialami pada penderita tuberkulosis paru yaitu batuk
berdahak selama 2-3 minggu atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala
tambahan yaitu dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas,
nafsu makan menurun, berat badan menurun, ,malaise, berkeringat malam hari
tanpa kegiatan fisik, deman meriang lebih dari satu bulan. Gejala-gejala tersebut
diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain TB, seperti bronkiektasis,
bronkitis kronis, asma, kanker paru dan lain- lain.
e. Klasifikasi Penyakit
Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien TB memerlukan suatu “defenisi
kasus” yang meliputi empat hal, yaitu:
1. Lokasi atau organ tubuh yang sakit (paru atau ekstra paru);
2. Bakteriologi dilihat dari hasil pemeriksaan dahak secara mikroskopis (BTA
positif atau BTA negatif);
4. Riwayat pengobatan TB sebelumnya (baru atau sudah pernah diobati).
Manfaat dan tujuan menentukan klasifikasi dan tipe pasien adalah
1. Menentukan paduan pengobatan yang sesuai
2. Registrasi kasus secara benar
3. Menentukan prioritas pengobatan TB BTA positif
4. Analisis kohort hasil pengobatan
Beberapa istilah dalam defenisi kasus :
1. Kasus TB : Pasien TB yang telah dibuktikan secara mikroskopis atau
didiagnosis oleh dokter.
2. Kasus TB pasti (definitif) : Pasien dengan biakan positif untuk
Mycobacterium tuberculosis atau tidak ada fasilitas biakan, sekurang-
kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak Sewaktu Pagi Sewaktu(SPS) hasilnya
BTA positif.
diperlukan untuk :
timbulnya resistensi.
3. Mengurangi efek samping.
Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena :
1. TB paru adalah TB yang menyerang jaringan (parenkim) paru. Tidak termasuk
pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus.
2. TB ekstra paru adalah TB yang menyerang organ tubuh lain selain paru,
misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar limfe,
tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lain-
lain.
paru :
1. TB paru BTA positif
a. Sekurang-kurangya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.
b. satu spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada
menunjukkan gambaran TB.
c. satu spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman positif.
d. satu spesimen atau lebih spesimen dahak hasilnya positif 3 spesimen dahak
SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negeatif dan tidak ada
perbaikan pemberian antibiotika non OAT.
2. TB paru BTA negatif
Kasus yang tidak memenuhi definis pada TB paru BTA positif, kriteria
diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi :
a. Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif
b. Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran TB
c. Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
d. Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan.
Klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan penyakit.
1. TB paru BTA negatif foto toraks positif dibagikan berdasarkan tingkat keparahan
penyakitnya, yaitu bentuk berat dan ringan. Bentuk berat bila gambaran foto
toraks memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas (misalnya proses
“far advanced”), dan atau keadaan umum pasien buruk.
2. TB ekstra paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya, yaitu :
a. TB ekstra paru ringan, misalnya : TB kelenjar limfe, pleuritis eksudativa
unilateral, tulang (kecuali tulang belakang), sendi, dan kelenjar adrenal.
b. TB ekstra paru berat, misalnya : meningitis, miller, perikarditis, peritonitis,
pleuritis eksudativa bilateral, TB tulang belakang, TB usus, TB saluran kemih
dan alat kelamin.
Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya dibagi menjadi
beberapa tipe pasien, yaitu :
1. Baru adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah
menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu).
2. Kambuh (Relaps) adalah pasien TB yang sebelumnya pernah mendapatkan
pengobatan TB dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap,
didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur).
3. Pengobatan setelah putus berobat (Default) adalah pasien yang berobat 2 bulan
atau lebih dengan BTA positif.
4. Gagal (Failure) adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau
kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.
5. Pindahan (Transfer In) adalah pasien yang dipindahkan dari sarana pelayanan
kesehatan yang memiliki register TB lain untuk melanjutkan pengobatannya.
6. Lain- lain adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. Dalam
kelompok ini termasuk Kasus Kronik, yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan
masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulanga. TB paru BTA negatif dan
TB ekstra paru, dapat juga mengalami kambuh, gagal, default maupun menjadi
kasus kronik. Meskipun sangat jarang, harus dibuktikan secara patologik,
bakteriologik (biakan),radiologik, dan pertimbangan medis spesialistik.
f. Pencegahan/Preventif
penderita tuberkulosis. Tindakan pencegahan penyakit tuberkulosis adalah (Azhari,
2010)
Pakar kesehatan menyarankan untuk periksa kesehatan paling tidak 6 bulan
sekali jika seseorang terkena penyakit yang melemahkan sistem kekebalan
tubuh, tinggal dengan penderita, bekerja dengan penderita atau tinggal di negara
dengan tingkat penderita tuberkulosis tinggi
2. Pertimbangan terapi pencegahan
Hasil tes positif terkena laten infeksi tuberkulosis, walaupun tidak terbukti
terkena tuberkulosis yang aktif, maka konsultasikan dengan dokter mengenai
terapi lengkap dengan ionisasi untuk mengurangi risiko berkembang menjadi
tuberkulosis aktif di masa datang.
3. Menuntaskan perawatan yang harus dijalani
Hal ini yang paling penting untuk melindungi diri sendiri dan yang lainnya
dari tuberkulosis, saat seseorang berhenti atau mengurangi dosis pengobatan
tanpa rekomendasi dokter, bakteri tuberkulosis mempunyai kesempatan
bermutasi yang akal kebal terhadap pengobatan.
Dalam kondisi ini risiko angka kematian (mortality) semakin tinggi dan sulit
disembuhkan. Untuk mencegah meluasnya penyakit tuberkulosis adalah :
1. Menutup mulut saat batuk maupun bersin
2. Tidak meludah di sembarang tempat
3. Cukup sinar matahari
5. Makan makanan yang sehat dan seimbang
6. Tidak merokok
7. Istirahat yang cukup
8. Minum obat secara teratur (Tjay dan Raharja, 2007 dalam Azhari, 2010)
Adapun upaya pecegahan lain yang harus dilakukan adalah :
a. Penderita tidak menularkan kepada orang lain yaitu :
1. Menutup mulut pada waktu batuk dan bersin dengan sapu tangan atau
tissue.
2. Tidur terpisah dari keluarga terutama pada dua minggu pertama
pengobatan.
3. Tidak meludah di sembarang tempat, tetap dalam wadah yang diberikan
lysol, kemudian dibuang dalam lubang dan ditimbun dalam tanah.
4. Menjemur alat tidur secara teratur pada pagi hari.
5. Membuka jendela pagi hari, agar rumah mendapat udara bersih dan cahaya
matahari yang cukup sehingga kuman tuberkulosis paru dapat mati.
b. Masyarakat tidak tertular dari penderita tuberkulosis paru :
1. Meningkatkan daya tahan tubuh, antara lain dengan makan-makanan yang
bergizi.
3. Tidak merokok dan tidak minum-minuman yang mengandung alkohol.
4. Membuka jendela dan mengusahakan sinar matahari masuk ke ruang tidur
dan ruangan lainnya.
6. Segera periksa bila timbul batuk lebih dari tiga minggu.
7. Menjalankan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Tanpa pengobatan, setelah lima tahun, 50% dari penderita tuberkulosis paru
akan meninggal, 25% akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh yang tinggi,
dan 25% sebagai kasus kronik yang tetap menular (Depkes RI, 2001 dalam
Ruswanto, tahun 2010)
Hubungan yaitu karakteristik atau variabel yang berdasarkan statistik untuk
mengetahui suatu penyakit dalam penduduk. Pada dasarnya berbagai faktor risiko
penyakit tuberkulosis paru mempunyai hubungan satu sama lainnya. Berbagai faktor
risiko dapat dikategorikan menjadi kategori yang besar yaitu; kependudukan dan
faktor lingkungan.
Kejadian penyakit tuberkulosis paru merupakan hasil interaksi antara
komponen lingkungan yakni udara yang mengandung basil tuberkulosis, dengan
masyarakat serta dipengaruhi berbagai faktor variabel yang mempengaruhi.
Variabel pada masyarakat secara umum dikenal sebagai variabel kependudukan.
Banyak variabel kependudukan yang memiliki peran dalam timbulnya atau
kejadian penyakit tuberkulosis paru, yaitu :
1. Umur
tertularnya penyakit tuberkulosis di Amerika adalah umur, jenis kelamin, ras, asal
negara bagian, serta infeksi AIDS (Atlanta, 1989). Data survailans tersebut
menunjukkan bahwa kebanyakan penderita TB paru berasal dari golongan orang
tua (84%) akan mengenai paru-paru. Karena lebih dari separuh penderita
mempunyai sputum BTA (+), mereka mempunyai kemampuan menularkan
infeksinya kepada orang lain. Namum di Indonesia diprediksikan 75% penderita
tuberkulosis paru adalah usia produktif yaitu 25 hingga 50 tahun (Depkes, 2002).
2. Jenis Kelamin
Di Afrika penyakit tuberkulosis terutana menyerang laki- laki. Pada tahun 1996
jumlah penderita TB paru laki- laki hampir dua kali lipat dibandingkan jumlah
penderita TB paru pada wanita, yaitu 42,34% pada laki- laki dan 28,92% pada
wanita (WHO, 1998). Sedangkan dari catatan statistik meski tidak selamanya
akurat, mayoritas penderita tuberkulosis paru adalah wanita, hal ini masih
memerlukan penyelidikan lebih lanjut, baik dari tingkat behavioural, tingkat
psikologis, sistem imun, maupun tingkat molekuler. Untuk sementara, diduga jenis
kelamin wanita merupakan faktor risiko yang masih memerlukan evidence based
pada masing-masing wilayah sebagai acuan dalam pengendalian atau dasar
manajemen.
3. Status Gizi
Status gizi yang buruk merupakan salah satu faktor risiko yang mempengaruhi
kejadian tuberkulosis paru, kekurangan kalori dan protein serta kekurangan Fe
dapat meningkatkan risiko terkena tuberkulosis paru, cara untuk melihatnya yaitu
dengan membandingkan berat badan dan tinggi badan atau IMT (Indeks Massa
Tubuh). IMT merupakan alat ukur yang sederhana untuk melihat status gizi orang
dewasa khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kekeringan berat badan,
maka mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat
mencapau usia harapan hidup lebih panjang.
4. Kondisi Sosial Ekonomi
menyerang kelompok dengan sosial ekonomi lemah atau miskin. Hubungan antara
kemiskinan dengan penyakit tuberkulosis memiliki feed back, tuberkulosis
merupakan penyebab kemiskinan dan karena miskin maka manusia menderita
tuberkulosis. Kondisi sosial ekonomi itu sendiri mungkin tidak hanya berkaitan
secara langsung, namun dapat merupakan penyebab tidak langsung seperti adanya
kondisi gizi memburuk, serta permukiman yang tidak kondusif, dan akses terhadap
pelayanan kesehatan juga menurun kemampuannya. Menurut perhitungan rata-rata
penderita tuberkulosis kehilangan 3 sampai 4 bulan waktu kerja dalam setahun, dan
juga kehilangan penghasilan setahun secara total mencapai 30% dari pendapatan
rumah tangga.
Kepadatan adalah proporsi antara luas lantai dengan penghuni dalam satu
rumah tinggal. Persyaratan kepadatan yang biasanya dinyatakan dalam M2 per
orang. Luas minimum per orang sangat relatif, tergantung dari kualitas sebuah
bangunan dan fasilitas yang tersedia di dalamnya. Untuk perumahan sederhana,
minimum 10 M2/ orang. Sedangkan kamar tidur diperlukan minimum 3 M2 per
orang. Kamar tidur sebaiknya tidak dihuni > 2 orang, kecuali untuk suami istri dan
anak dibawah dua tahun. Apabila ada anggota keluarga yang menjadi penderita
penyakit tuberkulosis sebaiknya tidak tidur dengan anggota keluarganya.
Kepadatan penghuni dalam satu perumahan akan memberikan pengaruh bagi
orang yang tinggal di dalamnya. Luas rumah yang tidak sebanding dengan jumlah
penghuninya akan menyebabkan over crowded. Hal ini tidak sehat karena dapat
menyebabkan penghuni di dalam rumah kekurangan oksigen, serta apabila ada
seseorang anggota keluar yang mengalami penyakit menular seperti tuberkulosis
akan memudah penyakit tersebut menular keanggota lainnya, dimana seorang
penderita rata-rata dapat menularkan kepada 2-3 orang di dalam rumah tersebut.
Kepadatan merupakan pre-request untuk proses penularan, semakin banyak
penghuni maka transfer penyakit khususnya penyakit melalui udara akan semakin
mudah dan cepat.
Dugan sementara jenis lantai tanah memiliki peran serta terhadap proses
kejadian tuberkulosis, melalui kelembaban dalam ruangan. Lantai tanah cenderung
menimbulkan kelembaban, dengan demikian viabilitas kuman tuberkulosis di
lingkungan juga sangat dipengaruhi.
menjadi lembab, pada musim kemarau lantai menjadi kering sehingga dapat
menghasilkan debu yang berbahaya bagi penghuninya. Lantai rumah perlu dibuat
dari bahan yang kedap terhadap air seperti tegel, semen atau keramik.
3. Ventilasi alami
Ventilasi adalah tempat keluar masuknya udara dari luar rumah sebagai tempat
sirkulasi pertukaran udara. Rumah dengan luas ventilasi yang tidak memenuhi
syarat kesehatan akan membawa pengaruh bagi pemilik rumah, salah satu fungsi
ventilasi yaitu mempertahankan udara yang ada di dalam rumah tersebut agar tetap
terjaga kesegarannya. Semakin padat penghuni di dalam rumah maka semakin
tinggi kelembaban karena uap air baik dari pernapasan maupun keringat.
Kelembaban dalam ruang tertutup dimana banyak terdapat manusia di dalamnya
lebih tinggi dibanding kelembaban di luar ruang.
4. Pencahayaan
Rumah yang sehat harus memerlukan cahaya yang cukup, khususnya cahaya
yanng alamiah berupa cahaya yang berisi antara lain ultra violet. Cahaya matahari
mimimal yang masuk di rumah yaitu 60 lux dengan syarat tidak menyilaukan orang
di dalam rumah.
topografi berperan dalam tingkat kelembaban, wilayah yang lebih tinggi cenderung
memiliki kelembaban lebih rendah.
C. Tinjauan Umum Lingkungan
a. Definisi
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di luar diri host (pejamu) baik
benda mati, benda hidup, nyata atau abstrak, seperti suasana yang terbentuk akibat
interaksi semua elemen-elemen termasuk host yang lain. Faktor lingkungan
memegang peranan penting dalam penularan, terutama lingkungan rumah yang
tidak memenuhi syarat kesehatan. Lingkungan rumah salah satu faktor yang
memberikan pengaruh besar terhadap status kesehatan ( Notoatmodjo, 2003 dalam
Fatimah 2008).
1. Lingkungan Biologis
Lingkungan biologis adalah segala sesuatu yang bersifat hidup seperti tumbuh-
tumbuhan, hewan, termasuk mikroorganisme.
dan usaha-usahanya untuk mempertahankan kehidupan, seperti pendidikan, rasa
tanggung jawab, pengetahuan keluarga, jenis pekerjaan, jumlah penghuni dan
keadaan ekonomi.
3. Lingkungan Fisik
Lingkungan fisik adalah segala sesuatu yang berada di sekitar manusia yang
bersifat tidak bernyawa, misalnya air, tanah, kelembaban udara, suhu, angin,
rumah, dan benda mati lainnya.
4. Lingkungan Rumah
Lingkungan rumah adalah segala sesuatu yang berada di dalam rumah
(Walton, 1991). Lingkungan rumah terdiri dari lingkungan fisik yaitu ventilasi,
suhu, kelembaban, lantai, dinding serta lingkungan sosial yaitu kepadatan
penghuni. Lingkungan rumah menurut WHO adalah suatu struktur fisik yang
digunakan orang sebagai tempat berlindung. Lingkungan dari struktur tersebut
juga semua fasilitas dan pelayanan yang diperlukan, perlengkapan yang berguna
untuk kesehatan jasmani dan rohani serta keadaan sosial yang baik untuk
keluarga dan diri sendiri (individu).
Lingkungan rumah yang sehat dapat diartikan sebagai lingkungan yang dapat
memberikan tempat untuk bernaung dan tempat untuk beristirahat serta dapat
menumbuhkan kehidupan yang sempurna baik fisik, psikologis maupun sosial
(Lubis, 1989). Menurut APHA (American Public Health Assosiation),
lingkungan rumah yang sehat harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1. Memenuhi kebutuhan fisiologis
a. Suhu ruangan, yaitu dalam pembuatan rumah harus diusahakan agar
kontruksinya sedemikian rupa sehingga suhu ruangan tidak berubah
banyak dan agar kelembaban udara dapat dijaga jangan sampai terlalu
tinggi dan terlalu rendah. Untuk ini harus diusahakan agar perbedaan suhu
antara dinding, lantai, atap dan permukaan jendela tidak terlalu banyak.
b. Ruangan harus segar dan tidak berbau, untuk itu diperlukan ventilasi yang
cukup untuk proses pergantian udara.
c. Harus cukup mendapatkan pencahayaan baik siang maupun malam. Suatu
ruangan mendapatkan penerangan pagi dan siang hari yang cukup yaitu
jika luas ventilasi minimal 10% dari jumlah luas lantai rumah.
d. Harus cukup mempunyai isolasi suara sehingga tenang dan tidak terganggu
suara-suara yang berasal dari dalam maupun dari luar rumah.
e. Harus ada variasi ruangan, misalnya ruangan untuk anak-anak bermain,
ruang makan, ruang tidur, dll.
f. Jumlah kamar tidur dan pengaturnya disesuaikan dengan umur dan jenis
kelaminnya. Ukuran ruang tidur anak yang berumur lima tahun ke bawah
diberi kebebasan menggunakan volume ruangan 4,5 M3 (1,5 x 1 x 3 M3)
dan diatas lima tahun menggunakan ruangan 9 M3 (3 x 1 x 3 M3)
2. Perlindungan terhadap penularan penyakit
a. Harus ada sumber air yang memenuhi syarat, baik secara kualitas maupun
kuantitas, sehingga selain kebutuhan untuk makan dan minum terpenuhi,
juga cukup tersedia air untuk memelihara kebersihan rumah, pakaian dan
penghuninya.
b. Harus ada tempat menyimpan sampah dan WC yang baik dan memenuhi
syarat, juga air sisa pembuangan bisa dialirkan dengan baik,
c. Pembuangan kotoran manusia dan limbah harus memenuhi syarat
kesehatan, yaitu harus dapa mencegah agar limbah tidak meresap dan
mengkontaminasi permukaan sumber air bersih.
d. Tempat memasak dan tempat makan hendaknya bebas dari pencemaran
dan bebas dari gangguan binatang serangga dan debu.
e. Harus ada pencegahan agar vektor penyakit tidak bisa hidup dan
berkembang biak di dalam rumah, jadi rumah dalam kontruksinya harus
rat proof, fly fight, mosquito fight.
f. Harus ada ruangan udara (air space) yang cukup.
g. Luas kamar tidur minimal 8,5 M3 per orang dan tinggi langit- langit
minimal 2,75 meter (Nurhidayah dkk, 2007).
D. Tinjauan Umum tentang Variabel
a. Kepadatan Penghuni
anggota dalam satu rumah. Persyaratan kepadatan hunian untuk seluruh perumahan
biasa dinyatakan dalam M2 per orang. Menurut Departemen Republik Indonesia,
kepadatan penghuni diketahui dengan membandingkan luas lantai rumah dengan
jumlah penghuni (Lubis, 1989).
Untuk kamar tidur diperlukan minimum 3 M2 per orang. Kamar tidur
sebaiknya tidak dihuni > 2 orang, kecuali untuk anggota keluarga yang sudah suami
istri dan memiliki anak dibawah dua tahun. Apabila ada anggota keluarga yang
menjadi penderita tuberkulosis sebaiknua tidak tidur dengan anggota keluarganya.
Kepadatan penghuni dalam satu rumah tinggal akan memberikan pengaruh
bagi penghuninya. Luas rumah yang tidak seimbang dengan penghuni akan
menyebabkan overcrowded. Hal ini menyebabkan penghuni di dalam rumah tidak
sehat karena jumlah karbondioksida lebih banyak daripada oksigen, bila ada salah
satu anggota keluarganya yang terkena penyakit menular maka akan muda menular
ke anggota yang lain, dimana seorang penderita rata-rata dapat memularkan kepada
2-3 orang di dalam rumahnya.
d. Ventilasi
Ventilasi adalah tempat keluar masuknya udara dari dalam dan luar rumah
yang bertujuan untuk mengatur sirkulasi di dalam rumah agar tetap segar. Menurut
indikator pengawasan rumah, luas ventilasi yang memenuhi syarat kesehatan adalah
≥ 10% luas lantai dan luas ventilasi yang tidak memenuhi persyaratan adalah < 10
% luas lantai rumah. Luas ventilasi rumah yang kurang dari 10% akan
menyebabkan oksigen (O2) berkurang sehingga karbondioksida (CO2) makin
bertambah dan bersifat racun bagi penghuninya (Depkes RI 1989 dalam Fatimah
2008). Di samping itu tidak cukupnya ventilasi akan menyebabkan peningkatan
kelembaban ruangan karena terjadinya proses penguapan keringat dan penyerapan.
Kelembaban ruangan yang tinggi akan menjadi media yang baik untuk tumbuh dan
berkembangbiaknya bakteri-bakteri patogen termasuk kuman tuberkulosis (Azwar,
1995).
Tidak adanya ventilasi yang baik pada suatu ruangan makin membahayakan
kesehatan atau kehidupan, jika dalam ruangan tersebut terjadi pencemaran oleh
bakteri seperti oleh penderita tuberkulosis atau berbagai zat kimia organik maupun
anorganik (Depkes RI, 1994).
Ventilasi juga memiliki fungsi untuk membebaskan ruangan dari bakteri yang
merugikan, terutama bakteri patogen seperti tuberkulosis. Selain itu, luas ventilasi
yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan mengakibatkan terhalangnya proses
sirkulasi udara dan sinar matahari yang masuk ke dalam rumah, akibatnya kuman
tuberkulosis yang ada di dalam rumah tidak dapat keluar dan ikut terhisap bersama
udara pernapasan.
b. Kelembaban
Kelembaban udara adalah persentase jumlah kandungan air dalam udara.
Kelembaban terdiri dari dua jenis, yaitu 1) Kelembaban absolut, yaitu berat uap air
per unit volume udara ; 2) Kelembaban nisbi (relatif), yaitu banyak uap air dalam
udara pada suatu temperatur terhadap banyaknya uap air pada saat udara jenuh
dengan uap air pada temperatur tersebut.
Secara umum penilaian kelembaban dalam rumah dengan menggunakan
hygrometer. Menurut indikator pengawasan perumahan, kelembaban udara yang
memenuhi syarat kesehatan dalam rumah yaitu 40-70% dan kelembaban yang tidak
memenuhi syarat kesehatan adalah < 40% atau > 70% (Depkes RI, 1989).
Rumah yang tidak memiliki kelembapan yang memenuhi syarat kesehatan
akan membawa pengaruh bagi penghuninya. Rumah yang lembab merupakan
media yang baik bagi tumbuhanya Mikroorganisme seperti tuberkulosis.
Tuberkulosis tersebut bisa masuk ke dalam tubuh melalui udara. Selain itu
kelembapan yang tinggi dapat menyebabkan membran mukosa hidung kering
sehingga kurang efektif dalam menghadang mikroorganisme. Bakteri
mycobacterium tuberculosis seperti halnya bakteri yang lain, akan tumbuh dengan
suburnya pada lingkungan yang kelembapan tinggi hal ini dikarenakan air
membentuk lebih dari 80% volume sel bakteri dan merupakan hal yang esensial
untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup sel bakteri (Gould & Brooker, 2003).
Mulyadi (2003) meneliti di Kota Bogor, penghuni rumah yang mempunyai
kelembapan ruang keluarga lebih besar dari 70% berisiko terkena penyakit
tuberkulosis 10,7 kali dibanding penduduk yang tinggal pada perumahan dengan
kelembaban yang lebih kecil atau sama dengan 70 % (Ruswanto, 2010).
c. Pencahayaan
Rumah yang sehat memerlukan cahaya yang cukup namun tidak menyilaukan.
Cahaya matahari minimal masuk 60 lux. Pencahayaan yang tidak memenuhi
kriteria memiliki risiko 2,5 kali terkena tuberkulosis dibanding yang memenuhi
kriteria (Pertiwi, 2004). Semua cahaya pada dasarnya dapat mematikan
mikroorganisme namun tergantung jenis dan lama cahaya tersebut.
Pencahayaan alami ruangan rumah adalah penerangan yang bersumber dari
sinar matahari (alami), yaitu semua jalan yang memungkinkan untuk masuknya
cahaya matahari alamiah, misalnya melalui jendela atau genting kaca
(Notoatmodjo, 2003).
a). Cahaya Alamiah
dapat membunuh bakteri patogen di dalam rumah, misalnya kuman TB,
oleh karena itu, rumah yang cukup sehat setidaknya harus mempunyai jalan
masuk yang cukup (jendela), luasnya sekurang-kurangnya 15 % - 20 % dari
luas lantai rumah. Perlu diperhatikan agar sinar matahari dapat langsung ke
dalam ruangan, tidak terhalang oleh bangunan lain. Fungsi jendela disini
selain sebagai ventilasi, juga sebagai tempat masuknya cahaya. Selain itu
tempat masuknya cahaya yang baik dengan adanya genteng kaca.
b). Cahaya Buatan
Cahaya buatan yaitu cahaya yang menggunakan sumber cahaya bukan
dari sinar matahari hari langsung, seperti lampu minyak tanah, listrik, api dan
lain- lain. Kualitas cahaya buatan ini tergantung dari terangnya sumber cahaya
(brightness of the source). Pencahayaan sintesis bisa terjadi dengan tiga cara,
yaitu langsung, tidak langsung, semi langsung.
Secara umum pengukuran pencahayaan terhadap sinar matahari adalah
dengan menggunakan lux meter, yang diukur ditengah-tengah ruangan, pada
tempat setinggi < 84 cm dari lantai, dengan ketentuan tidak memenuhi syarat
kesehatan bila < 50 lux atau > 300 lux, dan memenuhi syarat kesehatan bila
pencahayaan rumah antara 50-300 lux. Cahaya matahari mempunyai sifat
membunuh bakteri, terutama kuman mycobacterium tuberculosis. Kuman
tuberkulosis hanya dapat mati oleh sinar matahari langsung ( Depkes RI,
2002). Oleh sebab itu rumah yang dengan standar pencahayaan buruk sangat
berpengaruh terhadap kejadian tuberkulosis. Kuman tuberkulosis dapat
bertahan hidup pada tempat yang sejuk, lembab dan gelap tanpa sinar matahari
sampai bertahun-tahun lamanya, dan mati bila terkena sinar matahari.
d. Ventilasi
Ventilasi adalah tempat keluar masuknya udara dari dalam dan luar rumah
yang bertujuan untuk mengatur sirkulasi di dalam rumah agar tetap segar. Menurut
indikator pengawasan rumah, luas ventilasi yang memenuhi syarat kesehatan adalah
≥ 10% luas lantai dan luas ventilasi yang tidak memenuhi persyaratan adalah < 10
% luas lantai rumah. Luas ventilasi rumah yang kurang dari 10% akan
menyebabkan oksigen (O2) berkurang sehingga karbondioksida (CO2) makin
bertambah dan bersifat racun bagi penghuninya (Depkes RI 1989 dalam Fatimah
2008). Di samping itu tidak cukupnya ventilasi akan menyebabkan peningkatan
kelembaban ruangan karena terjadinya proses penguapan keringat dan penyerapan.
Kelembaban ruangan yang tinggi akan menjadi media yang baik untuk tumbuh dan
berkembangbiaknya bakteri-bakteri patogen termasuk kuman tuberkulosis (Azwar,
1995).
Tidak adanya ventilasi yang baik pada suatu ruangan makin membahayakan
kesehatan atau kehidupan, jika dalam ruangan tersebut terjadi pencemaran oleh
bakteri seperti oleh penderita tuberkulosis atau berbagai zat kimia organik maupun
anorganik (Depkes RI, 1994).
Ventilasi juga memiliki fungsi untuk membebaskan ruangan dari bakteri yang
merugikan, terutama bakteri patogen seperti tuberkulosis. Selain itu, luas ventilasi
yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan mengakibatkan terhalangnya proses
sirkulasi udara dan sinar matahari yang masuk ke dalam rumah, akibatnya kuman
tuberkulosis yang ada di dalam rumah tidak dapat keluar dan ikut terhisap bersama
udara pernapasan.
e. Jenis Lantai
Komponen yang harus dipenuhi rumah sehat memiliki lantai kedap air dan
tidak lembab. Jenis lantai tanah memiliki peran terhadap proses kejadian
Tuberkulosis paru, melalui kelembaban dalam ruangan. Lantai tanah cenderung
menimbulkan kelembapan, pada musim panas lantai menjadi kering sehingga dapat
menimbulkan debu yang berbahaya bagi penghuninya.
Lantai yang jarang dibersihkan, banyak mengandung debu dan lembab, tanah
yang berasal dari berbagai tempat dan mengandung bakteri, dan lantai yang basah
merupakan sarang penyakit (Soekidjo Notoatmodjo, 1997). Begitupun dengan jenis
dinding rumah, konstruksinya harus dominan terbuat dari bahan yang kedap air dan
mudah dibersihkan. Hasil penelitian Rusnoto dkk pada tahun 2006 menunjukkan
bahwa jenis lantai dan dinding rumah yang tidak memenuhi standar kesehatan
dengan nilai p = 0,0001 terhadap penularan TB paru.
BAB III
KERANGKA KONSEP
Pakar kesehatan yaitu H.L. Blum dalam teorinya mengemukakan bahwa status
kesehatan individu (Masyarakat) sangat dipengaruhi oleh empat faktor yaitu faktor
lingkungan, faktor perilaku, faktor pelayanan kesehatan, dan faktor genetik. Dari
empat faktor tersebut, faktor lingkunganlah yang mempunyai peran yang sangat besar
dalam kejadian penyakit khususnya penyakit tuberkulosis.
Oleh karena itu, peneliti menguraikan masing-masing variabel yang memiliki
faktor risiko lingkungan terhadap kejadian TB paru positif. Adapun variabel tersebut
dapat dilihat sebagai berikut :
Kepadatan penghuni adalah perbandingan antara luas lantai rumah dengan
anggota keluarga dalam satu rumah tinggal (Lubis, 1989). Secara umum penilaian
kepadatan penghuni dengan menggunakan ketentuan standar minimum, yaitu
kepadatan penghuni memenuhi syarat kesehatan diperoleh dari hasil bagi antara luas
lantai dengan jumlah penghuni ≥ 10 M2/orang dan kepadatan penghuni yang tidak
sehat jika hasil yang diperoleh ≤ 10 M2/orang (Lubis, 1989).
Kepadatan penghuni dalam satu rumah tinggal akan memberikan pengaruh bagi
penghuninya. Luas rumah yang tidak sebanding dengan jumlah penghuninya akan
menyebabkan overcrowded. Hal ini menyebabkan tidak sehat karena disamping
kurangnya oksigen (O2), juga bila salah satu anggota keluarga terkena penyakit
infeksi, terutama tuberkulosis akan mudah menularkan ke orang lain (Lubis,1989;
Notoadmodjo, 2003).
b. Kelembaban
Kelembaban udara adalah persentase jumlah kandungan air dalam udara. Pada
umumnya penilaian kelembaban dengan menggunakan hygrometer. Menurut
indikator pengawasan perumahan, kelembapan udara yang memenuhi syarat
kesehatan kesehatan dalam rumah yaitu 40-70% dan kelembapan yang tidak
memenuhi syarat kesehatan adalah < 40% atau > 70% (Depkes RI, 1989).
Rumah yang lembab merupakan media yang baik bagi tumbuhnya
Mikroorganisme seperti tuberkulosis. Bakteri Mycobacterium tuberculosis seperti
halnya bakteri yang lain, akan tumbuh dengan suburnya pada lingkungan yang
kelembapan tinggi hal ini dikarenakan air membentuk lebih dari 80% volume sel
bakteri dan merupakan hal yang essensial untuk pertumbuhan dan kelangsungan
hidup sel bakteri (Gould & Brooker, 2003).
c. Pencahayaan Alami
langsung, yaitu semua jalan yang memungkinkan untuk keluar masuknya cahaya
matahari ke dalam ruangan penderita TB paru. Secara umum pengukuran
pencahayaan terhadap sinar matahari adalah dengan menggunakan Lux meter, yang
diukur ditengah-tengah ruangan, pada tempat setinggi < 84 cm dari lantai, dengan
ketentuan tidak memenuhi kesehatan syarat kesehatan bila < 50 lux atau > 300 lux,
dan memenuhi syarat kesehatan bila pencahayaan rumah antara 50-300 lux.
Menurut Girsang (1999), kuman Mycobacterium tuberculosis akan mati
dalam waktu 2 jam oleh sinar matahari; oleh tinctura iodii selama 5 menit dan juga
oleh ethanol 80% dalam waktu 2-10 menit serta mati oleh fenol 5% dalam waktu 24
jam. Sedangkan menurut Atmosukarto & Soeswati (2000), rumah yang tidak masuk
sinar matahari mempunyai risiko menderita tuberkulosis 3-7 kali dibandingkan
dengan rumah yang dimasuki sinar matahari, sama halnya dengan pencahayaan
yang masuk dalam kamar dimana pencahayaan yang kurang baik memiliki risiko
yang lebih besar terhadap kejadian TB paru.
d. Ventilasi Rumah
Ventilasi rumah adalah usaha untuk memenuhi kondisi atmosfer yang
menyenangkan dan menyehatkan manusia (Lubis, 1989). Secara umum, penilaian
ventilasi rumah dengan cara membandingkan antara luas ventilasi dan luas lantai
rumah, dengan menggunakan Role meter. Menurut indikator pengawasan rumah,
luas ventilasi yang memenuhi syarat kesehatan adalah ≥ 10% luas lantai rumah dan
luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan ketika < 10% dari luas lantai
(Depkes RI, 1989).
Rumah dengan luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan
membawa pengaruh bagi penghuninya. Menurut Azwar (1990) dan Notoatmodjo
(2003), salah satu fungsi ventilasi adalah untuk menjaga aliran udara di dalam
rumah agar tetap segar. Disamping itu, tidak cukupnya ventilasi akan menyebabkan
peningkatan kelembapan ruangan karena terjadinya proses penguapan cairan dari
kulit dan penyerapan. Kelembapan ruangan yang tinggi akan menjadi media yang
baik untuk tumbuhnya dan berkembangbiaknya bakteri patogen termasuk kuman
tuberkulosis.
e. Jenis Lantai
Komponen rumah sehat memiliki lantai kedap air dan tidak lembab. Jenis
lantai tanah memiliki peran terhadap proses kejadian tuberkulosis paru, melalui
kelembapan dalam ruangan, pada musim panas lantai cenderung menjadi kering
sehingga menyebabkan banyaknya debu yang berbahaya bagi penghuninya.
B. Skema Kerangka Konsep Penelitian
Variabel yang diteliti dapat dilihat pada bagan dibawah ini :
Keterangan :
Definisi variabel penelitian yang akan diteliti adalah :
1. Kejadian TB Paru
Kejadian TB paru adalah orang yang telah diperiksa dahaknya dan mengandung
Basil Tahan Asam BTA (+).
BTA (+) = Jika hasil pemeriksaan dahaknya ditemukan positif
BTA (-) = Jika hasil pemeriksaan dahaknya ditemukan negatif
Pasien berusia 15 tahun atau lebih yang berkunjung ke Puskesmas Piru yang
diperiksa dahaknya. Baik hasil periksaannya negatif maupun positif.
5. Kepadatan penghuni adalah banyaknya anggota keluarga yang tinggal serumah
dengan responden. Untuk mengetahui padat atau tidaknya penghuni rumah kita
dapat membandingkan antara luas lantai rumah dengan jumlah penghuni yang ada.
Adapun ukuran luas yang memenuhi syarat minumum adalah setiap penghuni
menempati 10 M2.
Padat : Bila setiap orang penghuni menempati ≤ 10 M2 luas ruangan.
Tidak padat : Bila penghuni memenuhi kriteria di atas yaitu menempati ruangan
dengan ukuran luas minimal 10 M2 untuk tiap orang.
3. Kelembaban adalah banyaknya uap air yang terkandung dalam ruang keluarga
diukur dengan menggunakan alat Hygrometer. Adapun syarat waktu yang baik di
ukur pada pukul 08.00 pagi – 12.00 siang.
Kriteria Objektif
Memenuhi Syarat : Bila kelembaban ruangan 40%-70%
Tidak Memenuhi Syarat : Bila kelembaban ruangan kurang dari 40% atau lebih
dari 70%.
4. Pencahayaan alami adalah Intensitas cahaya yang berasal dari sinar matahari, diukur
diruang keluarga responden dengan menggunakan Lux meter.
Kriteria Objektif
Tidak memenuhi syarat : Bila pencahayaan < 60 Lux
2. Ventilasi rumah adalah semua jendela yang menyebabkan udara dari luar bisa
masuk ke dalam rumah secara alami.
Kriteria Objektif
Memenuhi Syarat : Bila luas ventilasi ≥ 10% dari luas seluruh lantai
rumah.
Tidak Memenuhi Syarat: Bila luas ventilasi rumah < 10% dari luas lantainya.
6. Jenis lantai rumah adalah bahan dasar lantai yang terbuat dengan kondisi kedap air
(dilapisi semen atau tegel/ubin/keramik) tidak kedap air apabila lantai terluas dari
dalam rumah masih berupa tanah. (Kepmenkes No. 829/1999)
Kriteria Objektif
Tidak memenuhi syarat : Bila lantai rumah berupa tanah.
Memenuhi syarat : Bila lantai rumah terbuat dari bahan yang kedap air
(dilapisi semen atau tegel/ubin/keramik).
a. Kepadatan penghuni bukan merupakan penyebab kejadian TB paru positif.
b. Kelembaban bukan merupakan penyebab kejadian TB paru positif.
c. Pencahayaan alami bukan merupakan penyebab kejadian TB paru positif.
d. Ventilasi rumah bukan merupakan penyebab kejadian TB paru positif.
e. Jenis lantai rumah bukan merupakan penyebab kejadian TB paru positif.
2. Hipotesis alternatif (Ha)
b. Kelembaban merupakan penyebab kejadian TB paru positif.
c. Pencahayaan alami merupakan penyebab kejadian TB paru positif.
d. Ventilasi rumah merupakan penyebab kejadian TB paru positif.
e. Jenis lantai rumah merupakan penyebab kejadian TB positif.
BAB IV
METODE PENELITIAN
dengan menggunakan design Cross sectional study . Penelitian ini merupakan studi
obersevasional yang bertujuan untuk menentukan adanya pengaruh variabel
independent terhadap variable dependent.
1. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian yang dipilih adalah wilayah kerja Puskesmas Piru Kabupaten
Seram Bagian Barat . Puskesmas Piru dijadikan dasar untuk lokasi penelitian karena
berdasarkan observasi peneliti jumlah penderita yang mengalami kasus BTA positif
sebanyak 94 kasus dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2011,dengan jumlah
penduduk sebesar 29.164 jiwa.Puskesmas Piru dengan jumlah desa dan dusun dalam
wilayah kerjanya yaitu 8 Desa dan 10 Dusun.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 1- 29 Maret 2012,dengan waktu yang
dilakukan sewaktu proses penelitian berlangsung pada setiap rumah responden yaitu
berkisar 10-20 menit.Hal ini dikarenakan ada beberapa variabel penelitian yang
dilakukan sehingga memerlukan waktu agak lama.
C. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh rumah pasien yang memeriksa
dahaknya ke puskesmas Piru Kabupaten Seram Bagian Barat pada periode tahun
2011 sejumlah 153 rumah.
Penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan secara Exhaustive sampling .Oleh
karena itu ada 2 pasien yang telah pindah,sehingga total sampel yang diperoleh
sebesar 149 rumah.
D. Pengumpulan Data
menggunakan data primer dan data sekunder
1. Data Primer
dengan menggunakan kuisioner yang sudah disediakan oleh peneliti.
Langkah- langkah yang dilakukan dalam pengumpulan data primer adalah :
a. Peneliti mengambil data penderita TB paru BTA positif yang tercatat di
Puskesmas Piru Kabupaten Seram Bagian Barat dibagian P2M yang ada di
Puskesmas Piru.
b.Mencatat data penderita TB paru terkait alamat, anamnese, serta tanggal setiap
kunjungan yang dilakukan penderita TB paru BTA positif di Puskesmas Piru
Kabupaten Seram Bagian Barat.
c. Membuat list alamat responden dan persiapan untuk melakukan wawancara
d. Melakukan wawancara dengan menggunakan kuisioner melalui kunjungan
rumah (door to door). Setelah meminta kesediaan responden untuk dimintai
waktunya sedikit.
menggunakan alat Hygrometer HT-3009.
dengan menggunakan alat Lux meter.
2. Data Sekunder
Data sekunder berupa data dari dinas kesehatan Kabupaten Seram Bagian Barat dan
identitas pasien, diagnosis awal pasien dan keterangan kunjungan selama 6 bulan
yang diperoleh dari petugas P2M di Puskesmas Piru Kabupaten Seram Bagian
Barat.
Data yang telah diperoleh diolah dengan program SPSS (Software Statistical
Package for Sosial Science) 17,0. Dengan langkah pengolahan data sebagai berikut :
1. Pengolahan Data
b. Coding
Apabila semua data telah terkumpul dan selesai di edit, kemudian akan
dilakukan pengkodean data berdasarkan buku kode yang telah disusun
sebelumnya dan telah dipindahkan ke format aplikasi program SPSS di
komputer.
Data selanjutnya diinput ke dalam lembar SPSS untuk masing-masing variabel.
Urutan input data berdasarkan nomor responden dalam kuisioner.
d. Cleaning data
Cleaning dilakukan pada semua lembar kerja untuk membersikan kesalahan
yang mungkin terjadi selama proses input data. Proses ini dilakukan melalui
analisis frekuensi pada semua variabel. Data missing dibersihkan dengan
menginput data yang benar.
Proses analisis dilakukan dengan menggunakan program analisis data yang telah
tersedia dalam program SPSS, baik analisis univariat maupun bivariat.
1. Analisis Univariat
dalam penelitian ini, yakni dengan melihat gambaran distribusi frekuensi serta
persentase tunggal yang terkait dengan tujuan penelitian.
2. Analisis Bivariat
Chi Square .


0 = Observed
E = Expected
Ho ditolak bila X2 hitung lebih besar dari X2 , untuk α = 0,05
Dengan uji tersebut dapat diketahui kemaknaan hubungan variabel
independen dengan variabel dependen. Jika nilai p < 0,05 berarti ada
hubungan yang bermakna antara kedua variabel tersebut.
2. Penyajian data
Data yang telah dikumpulkan diolah dengan menggunakan SPSS. Kemudian
hasilnya disajikan dalam bentuk tabel, narasi dan grafik serta dianalisa secara
deskriptif dari suatu uraian pembahasan untuk menarik kesimpulan dan saran.
BAB V
Penelitian ini dilaksanakan di Wilayah kerja Puskesmas Piru Kabupaten Seram bagian
Barat, pengumpulan data dilakukan pada bulan Februari sampai Maret 2012. Pengumpulan
data pada penelitian ini dilakukan dengan observasi secara langsung terhadap kondisi fisik
rumah dengan menggunakan alat ukur berupa Meteran, Luxmeter dan Hgyrometer, serta
dilakukan wawancara langsung kepada para responden dengan menggunakan kuisioner
terstruktur baik responden dengan TB postif maupun TB negatif. Data yang terkumpul
selanjutnya dilakukan screening data untuk memeriksa kevalidtan variabel yang diteliti.
Pada penelitian ini diperoleh sebanyak 149 responden dengan TB positif yaitu sebanyak
48 dan TB negatif sebanyak 101 responden. Hal ini dikarenakan ada 3 responden yang tinggal
satu rumah sehingga diambil 1 responden saja guna mewakili responden yang lain dan 2
responden yang sudah pindah sesuai dengan kriteria inklusi.
Data diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan responden dilokasi penelitian
secara deskriptif dengan tabel distribusi frekuensi serta analisis Bivariat dengan Chi- Square
yang disertai dengan narasi sebagai berikut :
1. Distribusi Karateristik Responden
a. Menurut Jenis Kelamin
Jenis kelamin penderita TB positif maupun negatif lebih banyak laki- laki
dibandingkan perempuan, seperti yang terlihat pada tabel 1 berikut :
Tabel 1 Distribusi Kejadian TB Positif dan TB Negatif menurut Jenis Kelamin di Wilayah Kerja
Puskesmas Piru Kab Seram Bagian Barat
Jenis Kelamin
Perempuan 20 31.3 44 68.8 64 100.0
Jumlah 48 32.2 101 67.8 149 100.0
Sumber : Data Primer 2012
Tabel 1 menunjukkan bahwa jumlah responden yang diwawancarai lebih banyak
berjenis kelamin laki- laki yaitu sebanyak 85 orang dimana TB Positif sebanyak 28
orang (32.9%) dan TB Negatif sebanyak 57 orang (67.1%) dibandingkan perempuan
yaitu sebanyak 64 orang dimana TB Positif sebanyak 20 orang (31.3%) dan TB Negatif
sebanyak 44 orang (68.8%).
Dari responden yang diwawancarai sebagian diantaranya berada pada rentang umur
35-44 tahun sebanyak 34 orang dimana TB Positif sebanyak 11 orang dan TB Negatif
23 orang (67.6%), Sedangkan yang paling sedikit yaitu rentang umur 75-84 tahun
sebanyak 2 orang dimana TB Positif 1 orang (50%) dan TB Negatif sebanyak 1 orang
(50%). Distribusi ini dapat dilihat pada tabel 2 berikut ini
Tabel 2 Distribusi Kejadian TB Positif dan TB Negatif menurut Umur di Wilayah Kerja
Puskesmas Piru Kabupaten Seram Bagian Barat
Umur (Tahun)
Sumber: Data Primer 2012
Berdasarkan Tabel 3 menunjukkan bahwa tingkat pendidikan terakhir responden
yang diwawancarai paling banyak SLTA sebanyak 59 orang dimana TB Positif
sebanyak 14 orang (23.7%) dan TB Negatif sebanyak 45 orang (76.3%) sedangkan yang
paling sedikit yaitu tidak memilki jenjang pendidikan sebanyak 1 orang (100%).
Distribusi ini dapat dilihat pada tabel 3 berikut :
Tabel 3 Distribusi Kejadian TB Positif dan TB Negatif menurut Tingkat
Pendidikan di Wilayah Kerja Puskesmas Piru
Kabupaten Seram Bagian Barat
Tidak tamat SD 10 66.7 5 33.3 15 100.0
Tamat SD 11 29.7 26 70.3 37 100.0
SLTP 10 33.3 20 66.7 30 100.0
SLTA 14 23.7 45 76.3 59 100.0
Perguruan
Sumber: Data Primer 2012
Tabel 4 melihat bahwa dari beberapa responden menunjukkan kebanyakan bekerja
sebagai petani yaitu sebanyak 86 orang dimana TB positif sebanyak 30 orang (34.9%)
dan TB Negatif sebanyak 56 orang (65.1%) sedangkan yang paling sedikit yaitu
pegawai swasta dan pensiunan masing 1 orang (100%). Hal ini dapat dilihat dari tabel 4
distribusi responden sebagai berikut :
Tabel 4 Distribusi Kejadian TB Positif dan TB Negatif menurut Jenis Pekerjaan di Wilayah
Kerja Puskesmas Piru Kabupaten Seram Bagian Barat
Pekerjaan
Pegawai Swasta 0 0 1 100.0 1 100.0
Wiraswasta 3 27.3 8 72.7 11 100.0
Pensiunan 0 0 1 100.0 1 100.0
Pelajar 1 7.7 12 92.3 13 100.0
Petani 30 34.9 56 65.1 86 100.0
Buruh 1 50.0 1 50.0 2 100.0
Tidak Kerja 6 28.6 15 71.4 21 100.0
Lainnya 1 20.0 4 80.0 5 100.0
Jumlah 48 32.2 101 67.8 149 100.0
Sumber : Data Primer 2012
Distribusi responden menurut jenis rumah, dilihat pada tabel 5 berikut :
Tabel 5 Distribusi Kejadian TB Positif dan TB Negatif menurut Jenis Rumah di Wilayah
Kerja Puskesmas Piru Kabupaten Seram Bagian Barat
Jenis Rumah
Semi Permanen 25 35.2 46 64.8 71 100.0
Jumlah 48 32.2 101 67.8 149 100.0
Sumber : Data Primer 2012
Tabel 5 sebagian besar responden memiliki jenis rumah semi permanen yaitu
sebanyak 71 responden dimana TB Positif sebanyak 25 responden (35.2%) dan TB
Negatif sebanyak 46 responden (64.8%) sedangkan yang paling sedikit yaitu responden
yang memiliki jenis rumah panggung sebanyak 28 responden dimana TB Positif
sebanyak 8 responden (28.6%) dan TB Negatif sebanyak 20 responden (71.4%).
f. Lama Tinggal
Sebagian besar responden yang diwawancarai baik TB positif maupun negatif
kebanyakan telah menempati rumahnya sudah lebih dari 10 tahun yaitu sebanyak 79
dimana TB Positif sebanyak 28 orang (35.4%) dan TB Negatif sebanyak 51 orang
(64.6%), sedangkan yang paling sedikit kurang dari 5 tahun sebanyak 20 orang dimana
TB Positif sebanyak 4 orang (21.1%) dan TB Negatif sebanyak 16 orang (78.9%).
Tabel 6
Distribusi Kejadian TB Paru dan Tidak TB Paru menurut Lama Tinggal di Wilayah Kerja Puskesmas Piru Kabupaten Seram Bagian Barat
Lama Tinggal
Jumlah 48 32.2 101 67.8 149 100.0
Sumber : Data Primer 2012
Distribusi responden menurut jumlah kamar dilihat pada tabel 7 berikut:
Tabel 7 Distribusi Kejadian TB Positif dan TB Negatif menurut Jumlah Kamar di Wilayah
Kerja Puskesmas Piru Kabupaten Seram Bagian Barat
Jumlah Kamar
Sumber : Data Primer 2012
Tabel 7 menunjukkan dari responden yang diwawancarai baik TB positif
maupun Negatif kebanyakan dalam rumahnya hanya terdapat dua kamar saja yaitu
sebanyak 79 orang dimana TB Positif sebanyak 27 orang (34.2%) dan TB Negatif
sebanyak 52 orang (65.8%), sedangkan yang paling sedikit yaitu lima kamar sebanyak 1
orang (100%).
Analisis bivariat pada penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antar
variabel dependen dan variabel independen. Seperti yang telah dijelas pada bab
sebelumnya bahwa variabel dependen pada penelitian ini adalah kejadia TB paru.
Sedangkan variabel independen yang diteliti hubungan dengan variabel dependen
yatiu kepadatan hunian, kelembaban, pencahayaan rumah,ventilasi udara dan jenis
lantai. Dimana dengan mengetahui Chi-square, maka memungkinkan bagi peneliti
untuk mengesitmasikan besar faktor risiko yang diteliti terhadap kejadian TB paru.
a. Kejadian TB paru
Tabel 8
Distribusi Kejadian TB Positif dan TB Negatif menurut Jumlah Penderita di Wilayah Kerja Puskesmas Piru Kabupaten Seram Bagian Barat
Jumlah
Penderita
Total
n %
Penelitian ini melibatkan dua kelompok responden yaitu kelompok
responden yang TB BTA (+) dan kelompok responden yang TB BTA (-). Jumlah
seluruh responden yaitu 149 orang, dimana TB dengan BTA (+) sebanyak 48 orang
dan TB dengan BTA (-) sebanyak 101 orang.
b. Analisis Hubungan Kepadatan Hunian Rumah dengan Kejadian TB Paru
Kepadatan Hunian Rumah dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua kriteria
yaitu padat, bila setiap anggota keluarga menempati kurang dari 10 m2 per orang dan
tidak padat bila setiap anggota keluarga menempati sama dengan atau lebih dari 10 m2
per orang.
Hasil analisis bivariat untuk melihat apakah variabel kepadatan hunian rumah
merupakan salah satu faktor risiko yang berpengaruh secara signifikan dengan kejadian TB
paru pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel 9 dibawah ini:
Tabel 9 Distribusi Kejadian TB Paru Berdasarkan Kepadatan Hunian Rumah di Wilayah Kerja
Puskesmas Piru Kabupaten Seram BagianBarat
Kepadatan
Hunian
Rumah
Statisik Positif Negatif
n % n % n %
2 =
4.886
p=
Jumlah 48 32.2 101 67.8 149 100.0
Sumber: Data Primer, 2012
Tabel 9 menunjukkan bahwa pada kelompok positif hampir sebagian memiliki
hunian yang padat yaitu 27 orang (26.5%) dan memiliki hunian yang tidak padat yaitu 21
orang (44.7%). Dan pada kelompok TB negatif juga sebagian besar memiliki hunian yang
padat yaitu sebanyak 75 orang (73.5%) dan yang memiliki hunian yang tidak padat
sebanyak 26 orang (55.3%).
Berdasarkan Hasil analisis statistik diperoleh nilai X2 hitung = 4.886 dan p=
0.027 dimana X2 tabel = 3.14, karena nilai X2 hitung > dari X2 tabel dan nilai p < α = 0.05,
maka Ho ditolak dan Ha diterima. Dari hasil tersebut dapat diinterpretasikan bahwa ada
hubungan antara kejadian TB paru dengan kepadatan hunian rumah.
c. Analisis Hubungan Kelembaban Rumah dengan Kejadian TB Paru
Variabel kelembaban rumah dibedakan menjadi dua kategori.Waktu yang
diperlukan dalam observasi pada variable kelembaban ini yaitu berkisar antara 5-10
menit.Kategori pertama yaitu tidak memenuhi syarat, bila kelembaban ruangan kurangan
dari 40% atau lebih 70%. Kategori kedua yaitu memenuhi syarat jika kelembaban
ruangan 40%-70%.
merupakan salah satu faktor risiko yang berpengaruh secara signifikan dengan kejadian
TB paru pada penelitian ini tergambar pada tabel 10 dibawah ini:
Tabel 10 Distribusi Kejadian TB Paru Berdasarkan Kelembaban Rumah di Wilayah Kerja
Puskesmas Piru Kabupaten Seram Bagian Barat
Kelembaban
Rumah
Sumber: Data Primer, 2012
Tabel 10 menunjukkan bahwa paling banyak responden yang tinggal dirumah
dengan kelembaban yang memenuhi syarat kesehatan sebanyak 79 orang. Dimana
kelompok TB positif sebanyak 28 orang atau 35.4% dan kelompok TB negatif sebanyak
51 orang atau 64.6%. Sedangkan yang tidak memenuhi syarat sebanyak 70 orang dimana
kelompok TB positif sebanyak 20 orang atau 28.6% dan kelompok TB negatif sebanyak
50 orang atau 71.4%. Adapun yang dimaksud dengan tidak memenuhi syarat yaitu jika
kelembaban kurang dari 40% atau lebih dari 70%.
Berdasarkan Hasil analisis statistik diperoleh nilai X2 hitung = 0.803 dan p=
0.370 dimana X2 tabel = 3.14, karena nilai X2 hitung > dari X2 tabel dan nilai p < α =
0.05, maka Ho diterima dan Ha ditolak. Dari hasil tersebut dapat diinterpretasikan bahwa
tidak ada hubungan antara kejadian TB paru dengan kelembaban.
d. Analisis Hubungan Pencahayaan Rumah dengan Kejadian TB Paru
Variabel pencahayaan rumah dibedakan menjadi dua kategori. Waktu yang
diperlukan dalam observasi pada variable pencahayaan ini yaitu berkisar antara 5-10
menit. Kategori pertama yaitu tidak memenuhi syarat, bila pencahayan dalam rumah
intensitas kurang dari 60 lux. Kategori kedua yaitu memenuhi syarat, bila pencahayaan
dalam rumah intensitas lebih besar atau sama dengan 60 lux.
Hasil analisis bivariat untuk menganalisis apakah variabel pencahayaan rumah
merupakan salah satu faktor risiko yang mempengaruhi secara signifikan dengan
kejadian TB paru pada penelitian ini tergambar pada tabel 11 dibawah ini :
Tabel 11
Distribusi Kejadian TB Paru Berdasarkan Pencahayaan Rumah di Wilayah Kerja Puskesmas Piru Kabupaten Seram Bagian Barat
Pencahayaan
Rumah
Statistik Positif Negatif
n % n % n %
Sumber: Data Primer, 2012
Tabel 11 menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki intensitas
pencahayaan rumah yang kurang sebanyak 99 orang. Dimana kelompok TB positif
sebanyaj 36 orang (36.4%) dan kelompok TB negatif sebanyak 63 orang (63.6%).
Maksud dari kurang yaitu ketika intensitas cahaya yang masuk ke dalam rumah kurang
dari 60 lux.
Berdasarkan Hasil analisis statistik diperoleh nilai X2 hitung = 2.326 dan p=
0.127 dimana X2 tabel = 3.14, karena nilai X2 hitung > dari X2 tabel dan nilai p < α =
0.05, maka Ho diterima dan Ha ditolak. Dari hasil tersebut dapat diinterpretasikan bahwa
tidak ada hubungan antara kejadian TB paru dengan pencahayaan rumah.
e. Analisis Hubungan Ventilasi Udara dengan Kejadian TB Paru
Variabel ventilasi udara dibedakan menjadi dua kategori.Waktu yang dilakukan
dalam observasi pada variable ventilasi ini yaitu berkisar antara 5-10 menit,hal ini
dikarenakan harus melakukan pengukuran dengan jangkauan yang agak sulit. Kategori
pertama yaitu kurang, bila luas ventilasi kurang dari 10% luas lantai rumah. Kate gori
kedua yaitu cukup, bila luas ventilasi minimal 10% dari luas lantai rumah.
Hasil analisis bivariat untuk menganalisis apakah variabel ventilasi udara
merupakan salah satu faktor risiko yang berpengaruh secara signifikan dengan kejadian
TB paru pada penelitian ini tergambar pada tabel 12 dibawah ini:
Tabel 12 Distribusi Kejadian TB Paru Berdasarkan Ventilasi Udara di Wilayah Kerja Puskesmas
Piru Kabupaten Seram Bagian Barat
Ventilasi
Udara
Statistik Positif Negatif
n % n % n %
Sumber: Data Primer, 2012
Tabel 12 menunjukkan bahwa pada kelompok TB positif lebih banyak ventilasi
udara yang cukup yaitu sebanyak 39 orang (30.5%) dibandingkan dengan ventilasi rumah
yang kurang yaitu 9 orang (42.9%). Hal ini sebanding dengan kelompok TB negatif
dimana jumlah ventilasi cukup lebih banyak dibandingkan dengan ventilasi udara yang
kurang.
Berdasarkan Hasil analisis statistik diperoleh nilai X2 hitung = 1.268 dan p=
0.260 dimana X2 tabel = 3.14, karena nilai X2 hitung > dari X2 tabel dan nilai p < α =
0.05, maka Ho diterima dan Ha ditolak. Dari hasil tersebut dapat diinterpretasikan bahwa
tidak ada hubungan antara kejadian TB paru dengan ventilasi udara.
f. Analisis Hubungan Jenis Lantai dengan Kejadian TB Paru
Jenis lantai dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua kriteria yaitu tidak
memenuhi syarat, bila lantai rumah hanya berupa tanah atau bahan berupa semen atau
kayu dengan kondisi lembab dan memenuhi syarat, bila lantai rumah terbuat dari bahan
yang kedap air berupa keramik, semen, kayu dengan kondisi tidak lembab.
Hasil analisis bivariat untuk menganalisis apakah variabel jenis lantai
merupakan salah satu faktor risiko yang berpengaruh secara signifikan dengan kejadian
TB paru pada penelitian ini tergambar pada tabel 13 dibawah ini:
Tabel 13
Distribusi Kejadian TB Paru Berdasarkan Jenis Lantai di Wilayah Kerja Puskesmas Piru Kabupaten Seram Bagian Barat
Jenis Laintai
Sumber: Data Primer, 2012
Tabel 13 di atas menunjukkan bahwa dari 149 responden kebanyakan jenis
lantai telah memenuhi syarat kesehatan yaitu sebesar 103 orang dimana kelompok TB
positif sebesar 33 orang (32%) dan kelompok TB negatif sebanyak 70 orang (68%). Dan
yang tidak memenuhi syarat kesehatan terdapat 46 orang dimana kelompok TB positif
sebanyak 15 orang (32.6%) dan kelompok TB negatif sebanyak 31 orang (67.4%).
Berdasarkan Hasil analisis statistik diperoleh nilai X2 hitung = 0.005 dan p=
0.945 dimana X2 tabel = 3.14, karena nilai X2 hitung > dari X2 tabel dan nilai p < α =
0.05, maka Ho diterima dan Ha ditolak. Dari hasil tersebut dapat diinterpretasikan bahwa
tidak ada hubungan antara kejadian TB paru dengan jenis lantai.
B. Pembahasan
Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui hubungan dari beberapa faktor yang
diduga erat kaitannya dengan kejadian TB paru di Wilayah Kerja Puskesmas Piru
Kabupaten Seram Barat Tahun 2012. Beberapa faktor yang dimaksud adalah kepadatan
hunian rumah, kelembaban, pencahayaan rumah, ventilasi rumah dan jenis lantai. Untuk
tujuan diatas maka pada analisis data menggunakan nilai Chi-Square dengan jenis
rancangan penelitian yang digunakan yaitu cross sectional. Adapun pembahasan untuk
masing-masing variabel independen berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan
selengkapnya sebagai berikut :
Kepadatan hunian rumah adalah perbandingan antara luas lantai rumah dengan
jumlah anggota keluarga dalam satu rumah tinggal (Lubis,1989). Luas rumah yang tidak
sebanding dengan jumlah penghuninya akan menyebabkan penjubelan (overcrowded).
Hal ini tidak sehat karena disamping menyebabkan kurangnya oksigen, juga bila salah
satu anggota keluarga terkena penyakit infeksi, terutama tuberkulosis akan mudah
menularkan ke anggota keluarga yang lain (Lubis, 1989; Notoatmodjo, 2003).
Kepadatan hunian rumah akan memudahkan terjadinya penularan penyakit seperti
tuberkulosis. Koloni bakteri dan kepadatan hunian per meter persegi memberikan efek
sinergis menciptakan sumber pencemar yang berpotensi menekan reaksi kekebalan
bersama dengan terjadinya peningkatan bakteri patogen dengan kepadatan hunian pada
setiap keluarga. Dengan demikian bakteri TB di rumah penderita TB paru semakin banyak,
bila jumlah penghuni semakin banyak jumlahnya.
Kepadatan Hunian Rumah dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua kriteria
yaitu padat, bila setiap anggota keluarga menempati kurang dari 10 m2 per orang dan tidak
padat bila setiap anggota keluarga menempati sama dengan atau lebih dari 10 m2 per
orang.
Pada penelitian ini menunjukkan bahwa pada kelompok positif hampir sebagian
memiliki hunian yang padat yaitu 27 orang (26.5%) dan memiliki hunian yang tidak padat
yaitu 21 orang (44.7%). Pada kelompok TB negatif juga sebagian besar memiliki hunian
yang padat yaitu sebanyak 75 orang (73.5%) dan yang memiliki hunian yang tidak padat
sebanyak 26 orang (55.3%).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kepadatan hunian rumah tidak memiliki
hubungan (p = 0.027) terhadap kejadian TB paru. Hal ini dikarenakan jumlah sampel yang
diteliti lebih banyak yang berstatus TB negatif dibandingkan TB positif, serta metode
yang digunakan pada penelitian ini berbeda dari penelitian sebelumnya yang
menggunakan jenis penelitian lain.
Hasil ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Sugiharto tahun
2004 yang menemukan bahwa ada hubungan signifikan antara kepadatan hunian rumah
dengan kejadian TB paru dengan nilai p=0.001. Begitupun dengan penelitian yang
dilakukan Tobing tahun 2009 di Medan yang membuktikan bahwa kepadatan hunian
mempunyai hubungan yang signifikan terhadap peningkatan potensi penularan TB paru
dimana penularan TB paru 3.3 kali lebih besar pada penderita yang padat hunian
rumahnya.
Pada penelitian Sugiharto dan Tobing mengambil sampel berupa penderita TB
paru dan bukan TB paru untuk melihat pengaruh kepadatan hunian rumah terhadap
penyebaran penyakit TB paru dan hasilnya signifikan. Pada penelitian ini sampelnya
sama dengan penelitian Sugiharto dan Tobing namun beda wilayah yaitu di daerah
Ambon tepatnya di wilayah kerja Puskesmas Piru Kabupaten Seram Bagian Barat dan
menunjukkan hasil yang tidak signifikan kepadatan hunian rumah terhadap kejadian TB
paru.
Meskipun tidak menunjukkan hubungan secara signifikan kepadatan hunian
rumah terhadap kejadian TB paru tetapi kepadatan hunian rumah memiliki peran dalam
penularan TB paru. Oleh karena itu penderita TB paru terutama yang padat hunian
rumahnya harus memanfaatkan ventilasi udara dengan baik dengan membiasakan
membuka jendela setiap hari terutama pada pagi hari, alat makan dan minum dipisah dari
dengan penderita dan tidak membuang dahak di sembarangan tempat guna mencegah
penularan terhadap anggota keluarga lain.
2. Kelembaban Rumah terhadap Kejadian TB Paru
Kuman tuberkulosis dapat hidup baik pada lingkungan yang lembab (Depkes RI,
2002). Selain itu karena air membentuk lebih dari 80% volume sel bakteri dan merupakan
hal yang essensial untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup sel bakteri, maka kuman
TB dapat bertahan hidup pada tempat sejuk, lembab dan gelap tanpa sinar matahari
sampai bertahun-tahun lamanya Atmosukarto, (2000); Gould dan Brooker, (2003) dalam
Nurhidayah, dkk, (2007). Semakin lembab suatu rumah maka media perkembangbiakan
kuman TB semakin baik yang dapat menyebabkan semakin parahnya penyakit TB paru
yang diderita.
Variabel kelembaban rumah dibedakan menjadi dua kategori. Kategori pertama
yaitu tidak memenuhi syarat, bila kelembaban ruangan kurangan dari 40% atau lebih
70%. Kategori kedua yaitu memenuhi syarat jika kelembaban ruangan 40%-70%.
Pada penelitian ini menunjukkan bahwa paling banyak responden yang tinggal
dirumah dengan kelembaban yang memenuhi syarat kesehatan sebanyak 79 orang.
Dimana kelompok TB positif sebanyak 28 orang atau 35.4% dan kelompok TB negatif
sebanyak 51 orang atau 64.6%. Sedangkan yang tidak memenuhi syarat sebanyak 70
orang dimana kelompok TB positif sebanyak 20 orang atau 28.6% dan kelompok TB
negatif sebanyak 50 orang atau 71.4%. Adapun yang dimaksud dengan tidak memenuhi
syarat yaitu jika kelembaban kurang dari 40% atau lebih dari 70%.
Berdasarrkan hasil penelitian yang dilakukan secara langsung ke responden
menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan kelembaban terhadap kejadian
TB Paru dengan p = 0.370. Hal ini dikarenakan kondisi cuaca yang tidak menetap
sehingga pada saat proses penelitian yang menyebabkan kondisi kelembaban responden
tidak menentu.
Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Mulyadi (2003) dalam Suarni (2009) di
Kota Bogor yang menunjukkan bahwa penghuni rumah yang memiliki kelembaban ruang
keluarga yang tidak memenuhi syarat berisiko secara signifikan terkena TB paru 10.7 kali
di banding penghuni rumah yang tinggal pada perumahan yang memiliki kelembaban
memenuhi syarat.
karena itu penderita TB dan keluarganya perlu mendapat KIE (Komunikasi,Informasi dan
Edukasi) tentang pentingnya memperhatikan kelembaban rumah dengan cara
memanfaatkan sistem ventilasi udara dengan baik.
3. Pencahayaan Rumah terhadap Kejadian TB Paru
Pencahayaan alami ruangan rumah adalah penerangan yang bersumber dari sinar
matahari (alami), yaitu semua jalan yang memungkinkan untuk masuknya cahaya
matahari alamiah, misalnya melalui jendela atau genting kaca (Depkes RI, 1989;
Notoatmodjo, 2003).
Menurut Lubis dan Notoatmodjo (2003), cahaya matahari mempunyai sifat
membunuh bakteri, terutama kuman Mycobacterium tuberculosis. Menurut Depkes RI
(2002), kuman tuberkulosis hanya dapat mati oleh sinar matahari langsung. Oleh sebab
itu, rumah dengan standar pencahayaan yang buruk sangat berpengaruh terhadap
kejadian tuberkulosis. Menurut Atmosukarto dan Soeswati (2000), kuman tuberkulosis
dapat bertahan hidup pada tempat yang sejuk, lembab dan gelap tanpa sinar matahari
sampai bertahun-tahun lamanya, dan mati bila terkena sinar matahari, sabun, lisol,
karbol dan panas api.
Variabel pencahayaan rumah dibedakan menjadi dua kategori. Kategori pertama
yaitu tidak memenuhi syarat, bila pencahayan dalam rumah intensitas kurang dari 60 lux.
Kategori kedua yaitu memenuhi syarat, bila pencahayaan dalam rumah intensitas lebih
besar atau sama dengan 60 lux.
Pada penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki
intensitas pencahayaan rumah yang kurang sebanyak 99 orang. Dimana kelompok TB
positif sebanyaj 36 orang (36.4%) dan kelompok TB negatif sebanyak 63 orang (63.6%).
Maksud dari kurang yaitu ketika intensitas cahaya yang masuk ke dalam rumah kurang
dari 60 lux.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pencahayaan rumah tidak memiliki
hubungan terhadap kejadian TB paru dengan nilai p = 0.127. Hasil ini dipengaruhi oleh
pengukuran yang dilakukan hanya 3 titik pada setiap titik ruangan dengan ukuran (90 x
90) cm2. Hal ini memiliki maksud agar responden tidak merasa jenuh saat diwawancarai.
Penelitian ini berbeda dengan penelitian Atmosukarto dan Soeswati (2000) yang
membuktikan bahwa rumah dengan pencahayaan yang kurang baik secara signifikan
mempunyai risiko menderita tuberkulosis 3-7