Teori Berkelanjutan

download Teori Berkelanjutan

of 34

  • date post

    17-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    129
  • download

    0

Embed Size (px)

description

f

Transcript of Teori Berkelanjutan

  • II. TINJAUAN PUSTAKA

    2.1. Pembangunan Berkelanjutan

    Untuk kelancaran pembangunan berkelanjutan, perencanaan sektoral di

    tiap-tiap daerah tidak berlaku. Dalam hal penggunaan sumberdaya lahan, istilah

    berkelanjutan dapat berarti menempatkan bentuk penggunaan lahan tak-

    deterioratif yang kompatibel dalam jumlah maksimum, sehingga memperoleh

    nilai manfaat yang lebih baik dari bentuk penggunaan lahan yang diterapkan

    (Notohadiprawiro, 1987). Implikasi dari makna berkelanjutan tersebut ialah

    mengupayakan berlangsungnya interaksi bentuk dan intensitas kegiatan dengan

    kemampuan lahan yang ditempati kegiatan tersebut pada aras (level) optimum.

    Berkelanjutan selalu berkonotasi produktifitas, efisiensi, konservasi,

    berwawasan lingkungan dan masa depan, serta pemerataan hak dan

    kesempatan berkembang bagi semua pihak. Khusus untuk implementasi

    konotasi terakhir diperlukan kelembagaan yang tanggap dan efektif. Taylor

    (1980) melihat bahwa kelembagaan di negara-negara sedang berkembang

    seringkali menjadi kendala utama pembangunan, terutama dalam hal pertanian

    yang melibatkan banyak petani kecil.

    Keadaan dan pengelolaan sumberdaya lahan makin menjadi bahan

    kepedulian sehubungan dengan tekanan makin berat atas sumberdaya tanah,

    air, dan tanaman akibat dari pemekaran populasi dan pengembangan ekonomi.

    Meskipun masih ada ruang bagi perluasan lahan produktif di beberapa wilayah,

    namun di bagian terbesar dunia yang sedang berkembang kebutuhan akan

    peningkatan produksi terpaksa dipenuhi dari lahan yang sudah diusahakan

    dengan intensifikasi. Kenyataan ini memerlukan pemeliharaan potensi produktif

    sumberdaya-sumberdaya bersangkuktan selaku unsur-unsur mendasar dalam

    menggunakan lahan berkelanjutan (Pier et al. 1955).

    Untuk mengharkatkan lahan perlu difahami benar perbedaan pengertian

    ciri lahan dan mutu lahan. Ciri lahan (land characteristic) adalah tanda pengenal

    (attribute) atau tampakan (feature) lahan yang terukur atau dapat ditaksirkan,

    jadi merupakan penentu niliai kuantitatif. Mutu lahan adalah tanda pengenal atau

    tampakan lahan majemuk yang bertindak berbeda dengan tindakan tanda

    pengenal lahan majemuk yang lain dalam mempengaruhi kesesuaian lahan bagi

    macam penggunaan tertentu (FAO, 1977). Mutu lahan menunjuk pada keadaan

    kesehatan lahan dan khususnya kepada kapasitasnya bagi penggunaan lahan

  • 13

    dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Mutu lahan ditaksir dalam

    kaitannya dengan ragam khusus penggunaan lahan (Pieri, dkk., 1955). Mutu

    lahan adalah penentu nilai kualitatif karena tidak dapat diukur dan hanya dapat

    ditaksir. Tekanan atas mutu lahan dapat menjurus ke berbagai bentuk degradasi

    lahan.

    Menurut Michalic (2000), teori umum dalam kreasi, eliminasi dan prevensi

    kerusakan lingkungan seperti yang dikembangkan dalam teori kebijakan

    lingkungan (teori perilaku, pertumbuhan dan teori sistem) dapat diaplikasikan

    dalam bidang pariwisata dengan hanya sedikit modifikasi. Pasar, fiskal dan

    instrumen administrasi seperti yang diturunkan dari teori-teori di atas dapat

    diakomodasikan untuk digunakan dalam pariwisata dalam rangka untuk

    mencegah atau meminimalkan kerusakan lingkungan. Mereka biasanya

    mencegah dan menghilangkan kerusakan pada lingkungan alami, hanya sedikit

    yang cocok untuk melindungi sosial atau lingkungan budaya.

    Perdebatan mengenai ekonomi secara ekslusif jarang ditemukan dalam

    literatur mengenai ekologis, lingkungan atau pariwisata berkelanjutan.

    Kebanyakan pekerjaan yang ada mengenai isu ekologis utamanyan dari sudut

    pandang sosiologis. Walaupun begitu, instrumen ekonomi dari kebijakan

    lingkungan atau instrumen yang berorientasi pasar menpunyai kesempatan untuk

    mencegah atau meminimalkan kerusakan lingkungan pada pariwisata.

    2.1.1. Teori Sistem

    Teori pertama yang menjabarkan penyebab kerusakan lingkungan adalah

    Teori Sistem. Kerusakan lingkungan terjadi akibat alokasi sumber daya yang

    tidak efisien sebagai dampak dari: (i) kegagalan pasar dan/atau (ii) kesalahan

    negara/pemerintah. Efisiensi alokasi diartikan sebagai optimalitas Pareto, seperti

    situasi dimana mustahil mengalokasikan environmental goods (komoditi

    lingkungan) untuk membuat satu orang menjadi lebih baik secara ekonomi tanpa

    membuat satu orang lainnya menjadi lebih buruk secara ekonomi. Environmental

    goods (komoditi lingkungan) dapat dialokasikan secara optimal dengan

    memfungsikan pasar untuk environmental goods (komoditi lingkungan) dan/atau

    dengan campur tangan pemerintah.

    Teori-teori ini membedakan antara biaya atau ongkos pribadi dan sosial

    dengan keuntungan yang diperoleh. Jumlah total dari biaya atau ongkos pribadi

    dan keuntungan yang diperoleh tidak sama dengan jumlah biaya atau ongkos

  • 14

    sosial dan keuntungan yang didapat dikarenakan seringkali sebuah perusahaan

    tidak menyadari produk totalnya (efek eksternal positif) dan/atau tidak

    menghitung semua biaya atau ongkos sosial di dalam biaya produksinya (efek

    eksternal negatif). Ini berarti kehilangan optimalitas Pareto sebagai subyek

    ekonomi yang lebih baik atau lebih buruk pada pengeluaran atas biaya atau

    keuntungan atas yang lainnya. Sebuah contoh klasik dari eksternalitas negatif,

    sebuah perusahaan membuang sampah organik ke sungai, yang akan

    mengurangi kemungkinan produksi perusahaan lain sebagai tempat rekreasi

    berenang dan memancing yang berkualitas baik (Hjalte et al., 1977).

    Pigou (1920: in Leipert, 1980:7) menyatakan bahwa perbedaan antara

    dampak pribadi dengan sosial memerlukan campur tangan pemerintah untuk

    mencapai alokasi sumber daya yang optimal. Dia mengusulkan pajak dan

    subsidi. Subsidi mengacu pada efek positif eksternal dan pajak pada efek

    negative. Bila pajak lingkungan digunakan, biaya internal dari perusahaan akan

    meningkat dan perusahaan secara konsekuen akan mengurangi jumlah

    penggunaan lingkungannya: baik dengan mengurangi produksi atau

    menggunakan teknologi baru yang lebih ramah lingkungan. Oleh karena itu

    alokasi sumberdaya lingkungan yang lebih baik dicapai melalui dampak dari

    naiknya biaya perusahaan dan harga dari mekanisme pasar.

    Teori sistem menganjurkan beberapa instrumen berikut yang dapat

    digunakan untuk mengurangi kerusakan lingkungan seperti : pajak, subsidi dan

    kompensasi, melalui harga dan biaya, dampak dengan lebih optimal alokasi

    sumber daya alam dan atau mengurangi utilisasi lingkungan melalui mekanisme

    pasar. Satu dari teori sistem, teori barang lokal, menganjurkan bahwa biaya

    untuk perlindungan lingkungan harus ditanggung oleh pihak ketiga (negara) dan

    tidak oleh industri (pariwisata)

    2.1.2. Teori Pertumbuhan

    Pertumbuhan ekonomi yang konstan dan pertumbuhan penduduk adalah

    merupakan alasan penyebab yang paling jelas bagi timbulnya konfik kepentingan

    atas perekonomian masyarakat dengan lingkungan sumberdaya alam dan

    merupakan penyebab tidak langsung atas memburuknya kondisi kehidupan di

    muka bumi (Michalic, 2000).

  • 15

    Dalam area pembangunan ekonomi, ide mengenai zero growth

    pertumbuhan ekonomi telah digantikan dengan ide mengenai kualitas dan/atau

    pertumbuhan ekonomi organik.

    Sedangkan dalam teori pertumbuhan penduduk menjelaskan bahwa

    sebuah pertumbuhan penduduk akan memberikan tekanan pada sumber daya

    alam. Pertumbuhan penduduk menyebabkan kerusakan lingkungan akibat

    penggunaan ruang yang berlebihan (over-utilization) oleh penduduk,

    pembangunan pada daerah pedesaan, yang menyebabkan hilangnya kawasan

    hijau, dan bahkan menyebabkan perubahan iklim.

    Instrumen yang dihasilkan dari teori pertumbuhan dapat memberikan

    dampak untuk mengurangi atau mengatur pertumbuhan. Pembatasan kualitas

    melalui berbagai jenis sertifikat merupakan hal yang sangat penting dan sertifikat

    berdasarkan pasar atau izin yang dapat diperdagangkan kepada pengembang

    yang berminat merupakan sebuah jaminan bahwa harga penggunaan lingkungan

    ditentukan dalam basis permintaan dan penawaran. Pada saat yang bersamaan,

    pertumbuhan dan konsentrasi dapat dibatasi dengan instrumen administrasi.

    Sebuah solusi dengan penggunaan sertifikat yang berdasarkan jumlah

    dan memberikan pemilik sertifikat sebuah hak untuk dapat melakukan polusi

    pada jumlah tertentu dan/atau penggunaan lingkungan hidup.

    2.1.3. Teori Perilaku

    Teori tidak hadirnya etika lingkungan mencoba untuk menjelaskan

    beberapa alasan kerusakan lingkungan dari sisi filosfosi. Dari sudut pandang

    sejarah, berasal dari filosofi Aristoteles (De Haas, 1989:266), yang menyatakan

    atas kesamaan pada tiga daerah yaitu: politik, ekonomi, dan etika. Ekonomi tidak

    memasukkan filosofi praktis, dan berdiri sebagai bidang keilmuan sendiri,

    mengembangkan cara berfikir berdasarkan rasionalitas dan hanya mengacu

    pada nilai ekonomi. Dengan alasan ini, permintaan akan etika dalam keadilan,

    kemanusiaan dan ekologi adalah irasional. Dengan dasar ini maka sebuah teori

    yang mengklaim bahwa ketidakhadiran etika social lingkungan telah

    menyebabkan attitude yang negative atas lingkungan alam (Frey, 1985: 38).

    Teori perilaku lingkungan menjelaskan keberadaan kerusakan

    lingkungan: 1) melalui ketidak-hadiran etika social lingkungan dan 2) sebagai

    sebuah produk dari ketidaktahuan manusia.