Tentir Autoimun

download Tentir Autoimun

of 29

  • date post

    16-Feb-2016
  • Category

    Documents

  • view

    119
  • download

    19

Embed Size (px)

description

Tentir

Transcript of Tentir Autoimun

  • TENTIR

    Modul Imunol

    ogi

    Brilliant Putri Claris

    sa Josephine Aditya Meli

    ssa Halim

    SIEPEND FKUI 2012

    SATU! Satu Angkatan Tetap Utuh!

    Autoimun

  • TITAN Tentir Angkatan Modul Imunologi Autoimun SIEPEND FKUI 2012 BP/CJA/MH

    FKUI 2012 SATU! Satu Angkatan Tetap Utuh!

    Kata Pengantar

    Halo teman-teman 2012!

    Pertama-tama, kami Siepend FKUI 2012 mengucapkan terimakasih karena kalian masih seti

    a menjadi pelanggan Titan yang kini sudah masuk edisi Imunologi Yey! Tidak terasa satu modul

    sudah terlalui. Kami dari Divisi Titan -Tentir Angkatan- SIEPEND FKUI 2012 mengucapkan moho

    n maaf apabila di modul yang sebelumnya terdapat banyak sekali kekurangan. Berdasarkan evaluasi

    yang sudah kami lakukan, kami akan membuat terobosan baru dan memperbaiki diri di modul Imu

    nologi ini dan modul-modul selanjutnya. Namun, Titan ini tiadalah ada artinya tanpa dukungan dari

    segenap teman-teman 2012. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapk

    an untuk perbaikan kami ke depannya. Terimakasih

    Titan SIEPEND FKUI 2012

    Peraturan Belajar Bersama Titan

    1. Dibuka dengan berdoa

    2. Semangat menggebu dan pantang menyerah

    3. Pepatah: Malu bertanya sesat di jalan

    4. Ditutup dengan berdoa

  • TITAN Tentir Angkatan Modul Imunologi Autoimun SIEPEND FKUI 2012 BP/CJA/MH

    FKUI 2012 SATU! Satu Angkatan Tetap Utuh!

    PENYAKIT AUTOIMUN

    Brilliant Putri / Clarissa Josephine Aditya / Melissa Halim

    A. Pendahuluan

    Setiap orang sehat normalnya memiliki sistem imun yang seimbang dengan ekfektivitas yan

    g optimal. Namun, ketika sistem imun seseorang memberikan reaksi berlebihan, mereka dapat terja

    di permasalahan autoimun dalam tubuhnya. Penyakit autoimun merupakan suatu kondisi di mana

    sistem imun menyerang sel tubuh sendiri. Penyakit ini menjadi penyebab signifikan terhadap morbi

    ditas kronik dan mortalitas yang membutuhkan biaya kesehatan yang tinggi, hampir setara dengan p

    enyakit kanker dan jantung. Seorang pasien dapat menderita banyak penyakit autoimun sehingga di

    sebut polyautoimmune syndrome. Ada kurang lebih 100 macam penyakit autoimun. Penyakit-penya

    kit ini seringkali menjadi reaksi hipersensitivitas, baik tipe 2, 3, atau 4.

    Autoimun merupakan reaksi dari sistem imun tubuh terhadap self antigen karena tidak mam

    punya sel imun untuk membedakan self antigen dan non-self antigen sehingga dapat merusak sel ata

    u jaringan tubuh sendiri. Self antigen biasanya merupakan protein yang menjadi bagian tubuh, dan

    dapat berupa karbohidrat, lipid, atau DNA. Selain mengetahui pengertian autoimun, ada beberapa k

    ata penting yang juga harus dimengerti seperti:

    Self antigen yang mendapat respons sistem imun pada suatu penyakit autoimun disebut

    autoantigen

    Respons imun yang menyerang autoantigen tersebut disebut sebagai respons autoimun.

    Antibodi yang menyerang self antigen disebut autoantibodi.

    Limfosit yang memiliki reseptor antigen dan bersifat spesifik untuk antigen self disebut sel

    autoreaktif. Biasanya sel T yang dihasilkan adalah sel T CD4 atau sering disebut sel T

    autoreaktif. Tetapi tidak menutup kemungkinan juga dihasilkannya sel B atau sel T CD8

    autoreaktif.

    Dalam pemahaman mengenai autoimun yang dapat bersifat patogenik atau menyebabkan p

    enyakit dikenal pula dengan sebutan autoimun patologi. Patologi itu sendiri dibagi menjadi:

    a) Patologi primer merupakan konsekuensi langsung dari respons autoimun. Konsekuensi

    yang biasanya terjadi adalah adanya perubahan fungsi tubuh.

    b) Patologi sekunder merupakan konsekuensi dari terganggunya fungsi jaringan tubuh

    akibat patologi primer.

    B. Mekanisme Toleransi Imun

  • TITAN Tentir Angkatan Modul Imunologi Autoimun SIEPEND FKUI 2012 BP/CJA/MH

    FKUI 2012 SATU! Satu Angkatan Tetap Utuh!

    Toleransi merupakan mekanisme pencegahan penyakit autoimun melalui proteksi dari limfo

    sit yang bersifat self reactive. Pada prosesnya, toleransi imun merupakan keadaan dimana seseorang

    tidak dapat mengembangan suatu respons imun terhadap antigen tertentu. Antigen yang memicu re

    spon imun disebut imunogen. Antigen yang m

    enginduksi toleransi disebut tolerogen atau a

    ntigen tolerogenik. Toleransi terhadap self-an

    tigen disebut self-tolerance.

    Mekanisme toleransi dibagi menjadi d

    ua, yaitu toleransi sentral dan toleransi perifer.

    Toleransi sentral merupakan mekanisme pri

    mer yang terjadi selama maturasi dalam organ

    limfoid primer seperti sumsum tulang dan kele

    njar timus (timus untuk sel T dan sumsum tula

    ng untuk sel B). Toleransi perifer terjadi di o

    rgan perifer ketika limfosit sudah matur. Toler

    ansi perifer berperan sebagai backup untuk tol

    eransi sentral yang masih meloloskan sel limf

    osit autoreaktif. Secara sederhana, mekanisme

    toleransi dilakukan melalui penghancuran atau

    inaktivasi limfosit self reactive.

    TOLERANSI SEL T

    A. Toleransi Sentral

    Toleransi sentral sel T merupakan toleransi pada saat perkembangan sel T di Timus. Timus

    berperan dalam menyingkirkan sel T yang dapat mengenai peptida dari antigen self. Sel T akan men

    galami dua kali seleksi, yaitu seleksi positif yang berlangsung di korteks dan seleksi negatif yang be

    rlangsung di korteks dan medulla.

    Seleksi positif dimediasi oleh sel-sel epitel timus dan dilakukan berdasarkan ikatan antara se

    l T dengan kompleks MHC. Apabila sel T dapat berikatan dengan MHC, sel T tersebut akan hidup.

    Tetapi sel T tidak dapat mengenali dan tidak berikatan dengan MHC, maka sel T tersebut akan men

    g a l a m i a p o p t o s i s .

  • TITAN Tentir Angkatan Modul Imunologi Autoimun SIEPEND FKUI 2012 BP/CJA/MH

    FKUI 2012 SATU! Satu Angkatan Tetap Utuh!

    Selanjutnya, sel T yang hidup akan mengalami proses seleksi negatif yang dilakukan berdas

    arkan afinitasnya. Seleksi negatif akan terjadi pada prekursor sel T positif ganda, yaitu sel T CD4+

    dan CD8+. Ikatan sel T dengan reseptornya yang memiliki afinitas rendah akan tetap hidup karena

    dapat memberikan respons imun protektif, sedangkan sel T yang mengikat kompleks peptide-MHC

    dengan afinitas tinggi akan mengalami apoptosis karena berpotensi untuk mengenali self-antigen da

    n menyebabkan autoimunitas. Tahapan ini sering dikenal pula dengan edukasi timus. Pada seleksi i

    ni, ada sel T self-reactive yang lolos dari seleksi negatif dan muncul di organ perifer. Seleksi negatif

    disebut juga sebagai delesi. Mekanisme ini diregulasi oleh autoimmune regulator (AIRE).

    B. Toleransi Perifer

    Regula si sel T t

    etap dilakukan walaup

    un telah menin ggalkan

    timus untuk m encegah

    sel T autoreakt if yang l

    olos seleksi pri mer sehi

    ngga menghad api selek

    si kedua dan a kan diin

    aktifkan. Regu lasi ini d

    ilakukan agar i katan sel

    T self reactive terhada

    p antigen self yang spe

    sifik pada jarin gan atau

    yang tidak ditemui di timus dapat diantisipasi. Toleransi perifer dilakukan melalui beberapa mekani

    sme, yaitu anergi, supresi, dan delesi.

    1. Anergi

    Sel T CD4+ yang terpapar antigen dengan tidak adaya kostimulator (molekul pada APC) dapa

    t menyebabkan sel tidak dapat merespon antigen tersebut. Dalam proses ini, sel T autoreaktif tidak

    mati melainkan menjadi tidak responsif terhadap antigen. Sebenarnya, aktivasi sel T untuk menginis

    iasi respon imun, diperlukan pengenalan antigen spesifik oleh TCR/ T cell receptor

  • TITAN Tentir Angkatan Modul Imunologi Autoimun SIEPEND FKUI 2012 BP/CJA/MH

    FKUI 2012 SATU! Satu Angkatan Tetap Utuh!

    (sinyal 1) dan diperlukan peran dari kostimulator. Kostimulator yang biasa berperan adalah

    B7-1 dan B7-2 yang dikenali oleh CD28 (sinyal 2). Mekanisme sinyal 2 yang terjadi adalah T cell s

    urface receptor CD28 akan berikatan dengan CD 80 (B7-1) dan CD 86 (B7-2). Ekspresi dari B7 inil

    ah yang akan membuat limfosit T mampu memberi respon imun pada tempat dan waktu yang tepat.

    Selain karena tidak adanya kostimulator, anergi juga dapat terjadi karena keterpaparan sel T te

    rhadap antigen diiringi pula oleh kostimulator yang memberikan regulasi negatif, yakni CTLA-4 (c

    ytotoxic T lymphocyte associated antigen) atau CD152. Pada kasus ini, B7 berikatan dengan CTLA-

    4 sehingga memblok sinyal 2 hasil dari ikatan antara B7 dengan CD28.

    2. Supresi

    Sel T regulator berperan dalam supresi sistem imun dan mempertahankan toleransi terhadap

    antigen self. Selain berasal dari timus, sel T regulator dapat berasal dari sel T CD4+ naif yang meng

    enal antigen ketika tidak ada respon imun alami yang kuat. Sel T regulator dapat terbentuk juga sete

    lah terjadi inflamasi. Sifat sel T regulator yang dibentuk di organ limfoid perifer adalah

  • TITAN Tentir Angkatan Modul Imunologi Autoimun SIEPEND FKUI 2012 BP/CJA/MH

    FKUI 2012 SATU! Satu Angkatan Tetap Utuh!

    adaptif atau inducable. Sel T regulator mengekspresikan CD4+, CD25+, dan Foxp3. Foxp3

    d a n

  • TITAN Tentir Angkatan Modul Imunologi Autoimun SIEPEND FKUI 2012 BP/CJA/MH

    FKUI 2012 SATU! Satu Angkatan Tetap Utuh!

    CD25 penting untuk perkembangan, pertahanan, dan fungsi dari sel T regulator itu sendiri. S

    itokin yang turut berperan dalam pemeliharaan sel T regulator adalah TGF- dan IL-2.

    Mekanisme supre