surat kerjasama PLN dengan Serikat Pekerja PLN

Click here to load reader

  • date post

    05-Jul-2018
  • Category

    Documents

  • view

    219
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of surat kerjasama PLN dengan Serikat Pekerja PLN

NOMOR : ...... .PJ/...../DIR/2010 NOMOR : DPP-..................../2010
PERIODE TAHUN 2010 – 2012
Sebagaimana diketahui bahwa Perjanjian Kerja Bersama antara PT PLN (Persero) dan Serikat Pekerja PT PLN (Persero) Nomor 0392.PJ/061/DIR/2006 dan Nomor DPP-042/KEP-ADM/2006 Periode Tahun 2006 – 2008 berikut Addendum PKB Nomor PLN : 193.PJ/040/DIR/2007 dan Nomor SP PLN : DPP- 026/KEP-ADM/2007, dan pelaksanaan Berita Acara Kesepakatan Bersama Nomor 448.PJ/040/DIR/2008 dan Nomor 011.PJ/DPP-SP/2008 tanggal 24 November 2008 tentang Perpanjangan Masa Berlaku PKB Periode Tahun 2006-2008, yang berakhir pada tanggal 23 November 2010.
Sejalan dengan keberadaan dan perkembangan Serikat Pekerja di lingkungan PT PLN (Persero) serta pengakuan hak-hak Pekerja untuk berorganisasi, diperlukan suatu hubungan kerja yang harmonis, serasi dan dinamis antara PT PLN (Persero) dengan Pegawai untuk mewujudkan sikap saling menghormati, mempercayai satu sama lain dengan penuh rasa tanggung jawab.
Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan Pegawai dan Kemajuan Perseroan, diperlukan usaha-usaha pengembangan kemampuan, ketrampilan dan peningkatan produktivitas Pegawai. Agar usaha tersebut dapat dilaksanakan dengan lancar, diperlukan kerjasama yang baik antara Perseroan, Serikat Pekerja dan Pegawai serta Sistem Manajemen Sumberdaya Manusia yang baku dan terpadu yang selanjutnya dituangkan dalam bentuk Perjanjian Kerja Bersama yang disingkat dengan PKB.
Perjanjian Kerja Bersama merupakan ketentuan, syarat-syarat kerja dan kondisi kerja yang dibuat dengan tujuan sebagai berikut :
1. Adanya kepastian hak dan kewajiban PT PLN (Persero), Serikat Pekerja dan Pegawai. 2. Adanya syarat-syarat kerja bagi Pegawai. 3. Terciptanya hubungan kerja yang harmonis dan dinamis antara PT PLN (Persero) dengan Pegawai
demi kelangsungan dan kemajuan Perseroan sehingga kesejahteraan Pegawai dapat ditingkatkan. 4. Terwujudnya Good Corporate Governance.
PIHAK-PIHAK YANG MELAKUKAN PERJANJIAN
Perjanjian Kerja Bersama ini dibuat antara :
 
 
2
II. Serikat Pekerja PT PLN (Persero) yang terdaftar pada Departemen Tenaga Kerja Republik Indonesia Nomor KEP. 385/M/BW/1999 tanggal 13 Oktober 1999 berdasarkan Anggaran Dasar Serikat Pekerja PT PLN (Persero) yang selanjutnya disebut SP-PLN dan telah tercatat pada Kantor Departemen Tenaga Kerja Kotamadya Jakarta Selatan dengan nomor bukti pencatatan No. 22/V/N/IV/2001 tanggal 6 April 2001.
Kedua Pihak sepakat bahwa yang dijadikan dasar hukum pembuatan Perjanjian Kerja Bersama ini adalah :
1. Undang-Undang Nomor 18 tahun 1956 tentang Persetujuan Konvensi ILO mengenai berlakunya dasar-dasar dan hak untuk berorganisasi dan untuk berunding bersama.
2. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja.
3. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun.
4. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja.
5. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
6. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara.
7. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial.
8. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional jo Putusan Mahkmah Konstitusi RI Nomor : 007/PUU-III/2005 tanggal 18 Agustus 2005.
9. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.
10. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 1994 tentang PT Perusahaan Listrik Negara (Persero).
11. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 1998 tentang Perusahaan Perseroan (Persero) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2001.
12. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor PER-01/MEN/1998 tentang Penyelenggaraan Pemeliharaan Kesehatan Bagi Tenaga Kerja Dengan Manfaat Lebih Baik Dari Paket Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Dasar Jaminan Sosial Tenaga Kerja.
13. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor KEP.48/MEN/IV/2004 tentang Tata Cara Pembuatan Peraturan Perusahaan serta Pembuatan dan Pendaftaran Perjanjian Kerja Bersama.
14. Keputusan Menteri Negara BUMN Nomor KEP-252/MBU/2009 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Anggota-anggota Direksi Perusahaan Perseroan PT Perusahaan Listrik Negara.
15. Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor SE.13/MEN/SD-HK/I/2005 tanggal 7 Januari 2005 tentang Putusan Mahkamah Konstitusi R.I. atas Hak Uji Material UU Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan terhadap UUD Negara R.I. tahun 1945.
16. Keputusan Musyawarah Nasional Luar Biasa Serikat Pekerja PT PLN (Persero) Nomor 09/SK/MUNASLUB/SP-PLN/2009 tanggal 19 November 2009 tentang Penetapan Ketua Umum Serikat Pekerja PT PLN (Persero) Periode 2009-2013.
17. Surat Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Serikat Pekerja PT PLN (Persero) Nomor 114/SEKJEN/SP-PLN/2008 tanggal 21 April 2008 perihal Perundingan PKB 2008-2010 jo Keputusan Ketua Umum Serikat Pekerja PT PLN (Persero) Nomor KEP-019/DPP SPPLN/2010 tanggal 14 April 2010.
18. Surat Direktur SDM dan Umum Nomor 00641/432/DITSDM/2008 tanggal 20 Agustus 2008 perihal Tim Perunding PKB Periode 2008-2010 jo ...................... ............ 
19. Kesepakatan Bersama antara PT PLN (Persero) dan Serikat Pekerja PT PLN (Persero) Nomor : 002.PJ/041/DIR/2010 dan Nomor : 001/SP-PLN/KB/IV/2010 tanggal 9 April 2010.
 
 
Pasal 1
1. Perjanjian Kerja Bersama adalah perjanjian hasil perundingan yang diselenggarakan antara SP-PLN dengan PT PLN (Persero) yang dicatatkan di Kementerian yang membidangi ketenagakerjaan untuk mengatur dan melindungi hak serta kewajiban kedua belah pihak yang selanjutnya disingkat dengan PKB.
2. Direksi adalah Direksi PT PLN (Persero).
3. Perseroan adalah PT PLN (Persero) yang didirikan dengan Akta Notaris Soetjipto, SH Nomor 169 Tahun 1994 beserta perubahannya.
4. PLN Pusat adalah PT PLN (Persero) Kantor Pusat.
5. PLN Unit adalah Unit PLN yang bertanggung jawab secara langsung kepada Direksi.
6. Unit PLN adalah PLN Pusat dan PLN Unit.
7. Serikat Pekerja adalah Serikat Pekerja PT PLN (Persero) yang selanjutnya disebut SP-PLN, terdiri dari DPP, DPD, DPC ,dan DPAC.
8. Pegawai adalah mereka yang memenuhi syarat-syarat yang ditentukan diangkat, bekerja, dan diberi penghasilan menurut ketentuan yang berlaku di Perseroan, atau dapat juga disebut Pekerja.
9. Mantan Pegawai adalah mereka yang diberhentikan dari status Pegawai, menurut ketentuan yang berlaku di Perseroan.
10. Pensiunan adalah mantan Pegawai yang telah menerima manfaat pensiun secara berkala setiap bulan sesuai Peraturan Dana Pensiun.
11. Tenaga Magang adalah Calon Pegawai yang melaksanakan pelatihan sebagai bagian dari sistem pelatihan kerja yang diselenggarakan secara terpadu dalam rangka untuk menguasai keterampilan atau keahlian tertentu.
12. Istri/Suami adalah istri/suami sah Pegawai yang didaftarkan di Perseroan.
13. Anak adalah anak kandung, anak tiri, dan anak angkat.
14. Anak Kandung adalah anak sah Pegawai yang didaftarkan di Perseroan.
15. Anak Tiri adalah anak yang bukan anaknya sendiri dan diakui sebagai anak akibat adanya suatu perkawinan antara Pegawai dengan orangtua anak tersebut yang pada saat perkawinan Pegawai yang bersangkutan tidak mempunyai anak kandung/anak angkat. Jumlah anak tiri tersebut paling banyak 1 (satu) orang dan didaftarkan di Perseroan.
16. Anak Angkat adalah anak yang diangkat menurut hukum/adopsi atau berdasarkan hukum adat setempat yang diperkuat Pengadilan Negeri untuk paling banyak 1 (satu) orang dan didaftarkan di Perseroan.
17. Anak Yang Ditanggung Perseroan adalah anak dengan usia maksimum 25 tahun, belum menikah, dan belum bekerja dengan jumlah maksimum 3 (tiga) anak, berdasarkan urutan pernikahan dan urutan kelahiran.
18. Ahli Waris adalah keluarga Pegawai yang berhak menerima warisan sesuai ketentuan perundang- undangan yang berlaku.
19. Penghasilan Tetap adalah penghasilan yang diberikan oleh Perseroan dan dibayarkan setiap bulan berdasarkan sistem penghasilan yang ditetapkan atas Perseroan.
 
 
4
21. Dana Pensiun adalah badan hukum yang mengelola dan menjalankan program yang menjanjikan manfaat pensiun.
22. Hari Kerja adalah hari Senin sampai dengan hari Jum’at atau hari Senin sampai dengan hari Sabtu, kecuali hari tersebut merupakan hari libur resmi yang ditetapkan oleh Pemerintah. Untuk tugas-tugas berkesinambungan yang memerlukan pelaksanaan tugas secara bergilir ditetapkan oleh Pimpinan Unit PLN masing-masing.
23. Kerja Lembur adalah waktu kerja di luar ketentuan jam kerja yang telah ditetapkan oleh Perseroan. 
24. Hari Libur adalah hari tidak masuk kerja yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat/Pemerintah Daerah dan atau Perseroan sebagai hari libur.
25. Waktu Istirahat adalah waktu tidak melakukan pekerjaan pada hari kerja yang diatur dan ditetapkan Perseroan.
26. Cuti adalah keadaan tidak masuk bekerja setelah memenuhi persyaratan sesuai peraturan perundangan dan ketentuan yang berlaku di Perseroan.
27. Kecelakaan Dinas adalah kecelakaan kerja sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Perundangan yang berlaku dan kebijakan Perseroan tentang kecelakaan dinas.
28. Perjalanan dinas adalah perjalanan ke luar tempat kedudukan baik perseorangan maupun secara bersama-sama dengan jarak minimal diatur sesuai ketentuan yang berlaku, dari tempat kedudukan kantor unit kerja yang dilakukan dalam wilayah Republik Indonesia untuk kepentingan Perseroan.
29. Lembaga Kerjasama Bipartit (LKB) adalah forum komunikasi dan konsultasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan hubungan industrial di Perseroan yang anggotanya terdiri dari unsur Perseroan dan Serikat Pekerja yang sudah tercatat di instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan.
30. Mutasi, adalah perpindahan pemangku Jabatan dari satu Sebutan Jabatan ke Sebutan Jabatan lain baik intern maupun antar Unit yang berupa Promosi, Rotasi dan Demosi berdasarkan prinsip yang transparan dan berkeadilan.
Bagian Kedua Lingkup Perjanjian
Pasal 2
(1) PKB ini berlaku bagi Perseroan dan SP-PLN sebagai dasar hukum dalam hubungan kerja.
(2) PKB antara Perseroan dan SP-PLN ini memuat syarat-syarat kerja, hak dan kewajiban kedua Pihak.
(3) Perseroan dan SP-PLN sepakat selama masa berlakunya Perjanjian ini, untuk tidak melakukan perubahan terhadap isi Perjanjian ini, kecuali kedua Pihak bersepakat untuk mengadakan perubahan dan dituangkan secara tertulis dan menjadi amandemen atau addendum PKB.
Bagian Ketiga Sumber Dana Bagi SP-PLN
Pasal 3
a. Pemotongan iuran anggota dilakukan langsung oleh Perseroan dengan persetujuan anggota  dari penghasilan anggota SP-PLN setiap awal bulan;
b. Iuran anggota sebagaimana dimaksud dalam huruf a, ditransfer langsung ke rekening SP-PLN oleh masing-masing Dewan Pimpinan SP di masing-masing Unit PLN yang bersangkutan;
c. Besarnya iuran anggota ditetapkan oleh SP-PLN.
 
 
PLN.
(3) Bantuan Dana program kerja Tahunan SP-PLN sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sudah mencakup biaya operasional dan diajukan sebelum penyusunan RKAP Perseroan pada tahun berjalan untuk masing-masing Unit PLN.
(4) Bantuan Dana sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan (3) diberikan kepada SP-PLN masing- masing Unit PLN oleh Pimpinan Unit yang bersangkutan.
(5) Droping dana sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) diberikan sesuai aktivitas yang akan dilaksanakan dan diwajibkan membuat laporan keuangan setelah aktivitas dilaksanakan.
(6) Hasil usaha yang sah.
(7) Bantuan anggota atau pihak lain yang tidak mengikat yang digunakan untuk meningkatkan kualitas dan kesejahteraan anggota.
(8) Dalam hal bantuan dari pihak lain yang berasal dari luar negeri, Pengurus SP-PLN harus memberitahukan secara tertulis kepada instansi yang bertanggung jawab dibidang ketenagakerjaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
BAB II PENGAKUAN HAK-HAK DAN KEWAJIBAN
Bagian Pertama Pengakuan Para Pihak
Pasal 4 
(1) SP-PLN mengakui sepenuhnya hak Perseroan untuk memimpin dan mengurus Perseroan sesuai  Anggaran Dasar PT PLN (Persero).
(2) Perseroan mengakui sepenuhnya bahwa SP-PLN adalah organisasi Pekerja yang sah dan diakui di Perseroan.
Bagian Kedua Hak-Hak Perseroan dan SP-PLN
Pasal 5
a. Mengatur Pegawai dan jalannya Perseroan yang sepenuhnya merupakan tanggung jawab Perseroan sesuai peraturan perundang-undangan dan PKB yang berlaku;
b. Memberikan sanksi kepada Pegawai yang melanggar Peraturan Disiplin Pegawai berdasarkan PKB yang berlaku;
c. Mengajukan keberatan atas tindakan SP-PLN yang bertentangan dengan PKB.
d. Membuat aturan Kepegawaian dalam rangka meningkatkan kesejahteraan Pegawai sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan PKB yang berlaku serta kemampuan keuangan Perseroan, dikomunikasikan dengan SP PLN untuk diselaraskan dengan ketentuan sebagaimana yang diatur dalam PKB.
(2) SP-PLN berhak :
 
 
b. Mengatur organisasi dan anggotanya sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku;
c. Mengajukan keberatan atas tindakan Perseroan yang bertentangan dengan PKB dan atau yang merugikan Perseroan;
d. Merundingkan dan menyepakati PKB dengan Perseroan;
e. Mewakili anggota SP-PLN dalam menyelesaikan perselisihan industrial;
f. Mewakili anggota SP-PLN dalam lembaga ketenagakerjaan;
g. Membentuk lembaga atau melakukan kegiatan yang berkaitan dengan usaha meningkatkan kesejahteraan Pegawai sepanjang kegiatan tersebut tidak menimbulkan benturan kepentingan dengan Perseroan;
h. Melakukan kegiatan lainnya di bidang ketenagakerjaan yang tidak bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku;
i. Memberikan masukan kepada Perseroan terhadap pencapaian kinerja unit PLN;
 j. Menempatkan anggotanya untuk menjadi anggota Dewan Pengawas pada Dana Pensiun PLN yang mewakili Peserta, dengan jumlah dan persyaratan sesuai peraturanan perundang- undangan yang berlaku.
k. Melakukan Perjalanan Dinas untuk kegiatan Serikat Pekerja yang biayanya dibebankan pada anggaran operasional Serikat Pekerja yang telah ditetapkan.
Bagian Ketiga Kewajiban Perseroan dan SP-PLN
Pasal 6
b. Menjaga, membina dan meningkatkan hubungan yang harmonis melalui kerjasama yang baik dengan SP PLN, menghormati dan mempercayai sehingga hubungan industrial benar-benar terbina, terpelihara dan dilaksanakan sebagaimana mestinya;
c. Melaksanakan pengelolaan Perseroan secara efisien dengan membangun dan membina terciptanya Perseroan yang bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) dalam rangka mewujudkan Good Corporate Governance (GCG);
d. Menempatkan anggota Dewan Pengawas Dana Pensiun PLN mewakili peserta yang ditunjuk oleh SP-PLN, dengan jumlah dan persyaratan sesuai peraturanan perundang-undangan yang berlaku;
e. Menerapkan sistem SDM dengan best practice perusahaan terkemuka di Indonesia.
(2) SP-PLN berkewajiban:
b. Menjaga, membina dan meningkatkan hubungan yang harmonis melalui kerjasama yang baik dengan Perseroan, menghormati dan mempercayai sehingga hubungan industrial benar-benar terbina, terpelihara dan dilaksanakan sebagaimana mestinya;
 
 
d. Melindungi dan membela anggota dari pelanggaran hak-hak dan memperjuangkan kepentingannya;
e. Memperjuangkan peningkatan kesejahteraan anggota dan keluarganya;
f. Mempertanggungjawabkan kegiatan organisasi kepada anggotanya sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga SP-PLN;
g. Mendorong anggotanya untuk meningkatkan kinerjanya dalam rangka pencapaian best practice  perusahaan terkemuka di Indonesia.
h. Menghindari konflik kepentingan antara posisi sebagai Pengurus SP-PLN dengan posisi di Perseroan, meliputi jabatan-jabatan :
1) Jabatan Struktural, yaitu :
b) Manajer Unit Pelaksana (Manajer Cabang setingkat);
c) Manajer Sub Unit Pelaksana (Manajer Unit Pelayanan Pelanggan / Kepala Ranting setingkat);
2) Jabatan struktural yang mengelola fungsi Keuangan dan fungsi Sumber Daya Manusia, kecuali bidang Humas, dan Sekretariat.
BAB III BANTUAN DAN FASILITAS BAGI SP-PLN
Pasal 7
(1) Perseroan memberikan izin atas kegiatan atau tugas kepengurusan SP PLN kepada pengurus dan/atau anggota SP-PLN yang ditugaskan atas nama SP-PLN untuk meninggalkan pekerjaan dalam melaksanakan tugas-tugas kepengurusan SP-PLN sesuai prioritas yang ditetapkan oleh SP PLN dengan tidak membebaskan yang bersangkutan dari tugas dan tanggung jawabnya di Perseroan.
(2) Perseroan memberikan bantuan penyediaan ruangan dan fasilitas kantor / sekretariat yang layak untuk kegiatan-kegiatan SP-PLN.
BAB IV HUBUNGAN KERJA
Bagian Pertama Rekrutmen Pegawai
(1) Rekrutmen Pegawai dilakukan untuk mengisi formasi tenaga kerja berdasarkan kebutuhan Perseroan.
(2) Rekrutmen Pegawai sebagaimana dimaksud ayat (1), dilakukan secara terbuka dengan terlebih dahulu mengutamakan seleksi sesuai kompetensi yang dibutuhkan Perseroan.
 
 
(2) Jenis jabatan terdiri atas :
a. Jabatan struktural; b. Jabatan fungsional.
(3) Setiap jabatan dihargai dengan grade atau level kompetensi sebagai dasar pembinaan imbal jasa secara seimbang dan wajar sesuai kewajiban dan tanggung jawabnya.
(4) Pengangkatan Pegawai dalam jabatan dilakukan berdasarkan formasi jabatan dan formasi tenaga kerja yang telah ditetapkan oleh Perseroan.
Bagian Ketiga Penempatan Pegawai
(2) Penempatan Pegawai ditetapkan, sebagai berikut :
a. Pegawai yang pengangkatannya menjadi wewenang PLN Pusat ditempatkan di seluruh wilayah Republik Indonesia;
b. Pegawai yang pengangkatannya menjadi wewenang Unit PLN ditempatkan di lingkungan kerja Unit PLN yang bersangkutan.
Bagian Keempat Tugas Karya
(1) Untuk kepentingan Perseroan dan sebagai upaya pembinaan kompetensi, Pegawai dapat ditugaskaryakan ke Instansi di luar Perseroan, termasuk Koperasi Pegawai dan Yayasan milik Perseroan atas persetujuan Pegawai yang bersangkutan.
(2) Selama ditugaskaryakan, Pegawai yang bersangkutan tetap dibina oleh Perseroan dan hak-haknya diberikan sebagaimana ketentuan Perseroan.
Bagian Kelima Mutasi
Pasal 12
 
 
9
(3) Promosi merupakan alih tugas dari satu Jabatan ke Jabatan lain yang memiliki persyaratan Kebutuhan Kompetensi Jabatan dan persyaratan Level Kompetensi lebih tinggi.
(4) Rotasi merupakan alih tugas dari satu Jabatan ke Jabatan lain yang memiliki persyaratan Kebutuhan Kompetensi Jabatan dan Level Kompetensi yang sama, termasuk alih tugas yang menempatkan Pegawai pada Jenjang Jabatan yang lebih rendah karena keterbatasan formasi jabatan dan atau karena kebutuhan organisasi Perseroan yang tidak menyebabkan pegawai mengalami penurunan Grade dengan persetujuan Pegawai yang bersangkutan.
(5) Demosi merupakan alih tugas dari satu Jabatan ke Jabatan lain yang memiliki persyaratan Kebutuhan Kompetensi Jabatan dan persyaratan Level Kompetensi yang lebih rendah, tetapi tidak menyebabkan pegawai mengalami penurunan Grade. 
(6) Mutasi yang dilakukan terhadap Pegawai yang menjabat Pengurus SP-PLN agar dikomunikasikan terlebih dahulu dengan pihak Serikat Pekerja.
Bagian Keenam Pelaksanaan Mutasi Jabatan
Pasal 13
(1) Pegawai yang melaksanakan mutasi jabatan diberikan kesempatan untuk melaksanakan orientasi kerja di Unit PLN yang baru paling lambat 1 (satu) bulan setelah keputusan mutasi jabatan diterima dan apabila dalam kurun 1 (satu) bulan tidak dilaksanakan, maka hak untuk melaksanakan orientasi kerja menjadi gugur.
(2) Dalam hal penundaan atau keterlambatan orientasi kerja tersebut disebabkan karena kepentingan dinas yang penting dan mendesak, harus dinyatakan oleh Pegawai pada jenjang jabatan Manajemen  Atas di PLN Pusat atau oleh pimpinan PLN Unit yang bersangkutan.
(3) Pelaksanaan orientasi kerja yang penting dan mendesak sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilaksanakan paling lambat 1 (satu) bulan terhitung sejak kepentingan dinas berakhir.
(4) Lamanya masa orientasi kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) paling lama 15 (lima belas) hari kerja dan dilaksanakan sekaligus.
(5) Mutasi jabatan wajib dilaksanakan paling lama 1 (satu) bulan sejak Pegawai menerima keputusan mutasi jabatan.
(6) Pegawai dan/atau Pejabat yang menyebabkan keterlambatan pelaksanaan mutasi, sebagaimana dimaksud dalam ayat (5), dapat dikenakan sanksi/hukuman disiplin.
Bagian Ketujuh Mutasi Jabatan Atas Permintaan Sendiri
Pasal 14
(1) Pegawai dapat mengajukan permohonan mutasi jabatan atas permintaan sendiri, apabila :
a. Mengikuti Istri/Suami yang dipindahkan ke kota lain di luar tempat kedudukan;
b. Karena alasan kesehatan yang direkomendasikan oleh dokter Perseroan.
(2) Mutasi jabatan atas permohonan sendiri, sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
 
 
  c. Di Unit PLN penerima tersedia formasi;
d. Semua biaya akibat mutasi jabatan atas permintaan sendiri menjadi tanggung jawab Pegawai yang bersangkutan;
e. Mutasi jabatan atas permintaan sendiri paling banyak 2 (dua) kali selama menjadi Pegawai.
(3) Perseroan harus menjawab permohonan mutasi Pegawai atas permintaan sendiri paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak permohonan diterima.
(4) Mutasi jabatan atas permintaan sendiri sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b, dapat dilaksanakan tanpa memperhatikan persyaratan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dengan ketentuan biaya perjalanan pindah diberikan oleh Perseroan.
Bagian Kedelapan Tempat dan Lingkungan Kerja
Pasal 15
(1) Tempat kerja, yaitu suatu tempat di mana pada umumnya pekerjaan diselenggarakan.
(2) Lingkungan Kerja, yaitu tempat kerja di lingkungan Perseroan atau lingkungan di luar Perseroan yang telah ditetapkan berdasarkan persyaratan yang dituntut oleh pekerjaan tersebut.
BAB V PENGHASILAN PEGAWAI
Bagian Pertama Sistem Penghasilan
(2) Perseroan berupaya meningkatkan Penghasilan Pegawai di atas P50 dari perusahaan terbaik di Indonesia atau minimum 2% setiap tahun dengan memperhatikan survai imbalan dan kemampuan Perseroan serta pencapaian target kinerja Perseroan.
(3) Penyesuaian atas besaran gaji dasar yang dipakai sebagai Penghasilan Dasar Pensiun (PhDP) adalah minimum 2% setiap tahun. 
Bagian Kedua Penghasilan Selama Sakit
Pasal 17
(1) Pegawai yang menjalani istirahat karena sakit, penghasilannya tetap dibayarkan sebagai berikut :
a. Selama 6 (enam) bulan pertama, diberikan Penghasilan Tetap;
b. Pada bulan ke 7 (tujuh) sampai dengan bulan ke 9 (sembilan), diberikan Penghasilan Tetap sebesar 80 % (delapan puluh perseratus);
c. Pada bulan ke 10 (sepuluh) sampai dengan bulan ke 12 (dua belas), diberikan Penghasilan Tetap sebesar 60 % (enam puluh perseratus).
 
 
seterusnya tidak diberikan, sampai dengan yang bersangkutan kembali bertugas dan menempati posisi semula.
(3) Cuti sakit pada tahun ke 2 (dua) dalam hal cuti sakit tersebut memerlukan perpanjangan cuti yang dinyatakan dengan surat keterangan Majelis Penguji Kesehatan yang menerangkan bahwa penyakitnya masih dapat disembuhkan, diberikan Penghasilan Tetap sebesar 60 % (enam puluh perseratus).
(4) Pegawai yang tidak masuk kerja karena sakit selama 24 (dua puluh empat) bulan berturut-turut yang dinyatakan dengan surat keterangan Majelis Penguji Kesehatan atau Tim Dokter yang ditunjuk Perseroan bahwa yang bersangkutan dinyatakan tidak mampu bekerja karena sakit (pemeriksaan dilakukan secara periodik), maka yang bersangkutan diberhentikan dengan hormat sebagai Pegawai dengan mendapatkan hak-hak sesuai ketentuan yang berlaku di Perseroan.
Bagian Ketiga Penghasilan Pegawai Selama Penahanan
Pasal 18
(1) Pegawai yang ditahan pihak berwajib untuk keperluan penyidikan dan atau pemeriksaan di persidangan pengadilan karena disangka atau didakwa melakukan tindak pidana, maka mulai saat penahanan tersebut, Pegawai yang bersangkutan berstatus sebagai Pegawai dalam masa penahanan oleh pihak yang berwajib. 
(2) Selama Pegawai dikenakan penahanan, pembayaran penghasilan ditentukan sebagai berikut : 
a. Penahanan sampai dengan waktu 6 (enam) bulan, hanya diberikan Penghasilan Tetap, terhitung sejak tanggal 1 bulan berikutnya Pegawai ditahan.
b. Penahanan untuk waktu lebih dari 6 (enam) bulan, pembayaran penghasilan dihentikan.
(3) Dalam hal putusan pengadilan atau hasil penyidikan, Pegawai dinyatakan tidak bersalah maka yang bersangkutan harus direhabilitasi dan hak atas Penghasilan Tetapnya dikembalikan sesuai ketentuan yang berlaku terhitung sejak tidak masuk bekerja karena ditahan.
(4) Dalam hal penahanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) akibat dari kecelakaan lalu lintas, maka Serikat Pekerja dan Manajemen yang mempunyai bukti-bukti cukup bahwa kecelakaan lalu lintas tersebut bukan karena kesalahan Pegawai yang bersangkutan, maka Penghasilan Tetapnya selama penahanan dibayar secara penuh paling lama selama 1 (satu) tahun.
Bagian Keempat Penghasilan Pegawai Selama Cuti
Pasal…