Subsidi Pertanian Terpadu

download Subsidi Pertanian Terpadu

of 51

  • date post

    30-Oct-2014
  • Category

    Education

  • view

    10.041
  • download

    6

Embed Size (px)

description

 

Transcript of Subsidi Pertanian Terpadu

1. PROGRAM SUBSIDI PERTANIAN TERPADU: SUATU LANGKAH AWAL MENUJU SWASEMBADA PANGAN Ir. Agung Budilaksono, SE, MM * I. LATAR BELAKANG Pembangunan pertanian menempati prioritas utama pembangunan dalam pembangunan ekonomi nasional. Karena itu sektor pertanian merupakan sektor utama pembangunan ekonomi nasional. Dalam pendekatan perhitungan pendapatan nasional, sektor pertanian terdiri dari sub-sektor tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan. Selain sektor pertanian, terdapat delapan sektor ekonomi lainnya yang secara bersama menentukan besarnya pertumbuhan ekonomi bangsa melalui pendapatan domestik (GDP) dan pendapatan nasional (GNP). * Widyaiswara pada Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Departemen Keuangan; disampaikan pada acara Focus Group Discussion Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, di Jakarta, tanggal 4 Februari 2008 1 2. Kedudukan sektor pertanian dalam pembangunan ekonomi nasional adalah cukup nyata, dilihat dari proporsinya terhadap pendapatan nasional. Selain kontribusinya melalui GDP, peran sektor pertanian dalam pembangunan nasional dapat dilihat dari peran sektor pertanian yang sangat luas, mencakup beberapa indikator antara lain: Pertama, pertanian sebagai penyerap tenaga kerja yang cukup besar. Kedua, pertanian merupakan penghasil makanan pokok penduduk. Peran ini tidak dapat disubstitusi secara sempurna oleh sektor ekonomi lainnya, kecuali apabila impor pangan menjadi pilihan. Ketiga, komoditas pertanian sebagai penentu stabilitas harga. Harga produk- produk pertanian memiliki bobot yang besar dalam indeks harga konsumen sehingga dinamikanya sangat berpengaruh terhadap inflasi. Keempat, akselerasi pembangunan pertanian sangat penting untuk mendorong ekspor dan mengurangi impor. Pembangunan per-tanian mencakup pemasaran dan perdagangan komoditas. Dalam sis-tem rantai agribisnis, pemasaran dan perdagangan komoditas pertanian sangat penting dalam menentukan nilai tambah produk. Dengan pemasaran baik di dalam maupun ke luar negeri maka harga dan nilai tambah pertanian yang diterima oleh petani produsen akan semakin tinggi. Sebaliknya dengan adanya impor maka produk dalam negeri akan bersaing dalam merebut pasar domestik. 2 3. Dengan produk domestik yang berdaya saing tinggi maka ekspor dapat dipacu dan akhirnya menghasilkan devisa bagi pembangunan. Namun dengan rendahnya daya saing maka barang impor akan masuk ke dalam negeri, dan devisa negara harus dibelanjakan ke luar negeri. Kelima, komoditas pertanian merupakan bahan industri manufaktur pertanian. Masih dalam suatu sistem rantai agribisnis, industri manufaktur (pengolahan) pertanian, baik yang mengolah komoditas pertanian maupun yang menghasilkan input pertanian menduduki tempat yang penting. Kegiatan industri manufaktur pertanian hanya bisa berjalan apabila memang ada kegiatan produksi yang sinergis. Dengan demikian kehadiran sektor pertanian adalah prasyarat bagi adanya sektor industri manufaktur pertanian yang berlanjut. Keenam, pertanian memiliki keterkaitan sektoral yang tinggi. Keterkaitan antara sektor pertanian dengan sektor lain dapat dilihat dari aspek keterkaitan produksi, keterkaitan konsumsi, keterkaitan investasi, dan keterkaitan fiskal. Berdasarkan sifat keterkaitan maka dikenal keterkaitan ke belakang (backward linkage) dan keterkaitan ke depan (forward linkage). Di Indonesia, sektor pertanian mempunyai keterkaitan ke belakang yang kuat dalam menciptakan titik temu antarsektor yang lebih efektif dari pada keterkaitan ke depan. Menteri Pertanian dalam pidatonya pada acara seminar Menyelamatkan Ekonomi Bangsa: Pembangunan Sektor Riil dan Pengelolaan Sumber Daya Alam Untuk Kemandirian Bangsa di Jakarta, tanggal 17 januari 2007 3 4. mengungkapkan bahwa sektor pertanian merupakan salah satu sektor riil yang telah menjadi penyelamat di masa krisis ekonomi, dan telah cukup berhasil dalam menyediakan kebutuhan pangan, penciptaan lapangan kerja, peningkatan devisa Negara, dan pengurangan kemiskinan di pedesaan. Diungkapkan pula bahwa keberhasilan dimaksud antara lain dalam mempertahankan swasembada beras dengan tingkat pemenuhan selalu di atas 95 persen, bahkan dalam tiga tahun terakhir dikatakannya impor beras kurang dari satu persen. Penurunan impor juga terjadi pada komoditas seperti jagung dan gula. Sementara pada sisi ekspor terjadi pada komoditas-komoditas perkebunan seperti minyak sawit, karet, dan kakao. Oleh karena itu tidak berlebihan apabila salah satu prioritas pembangunan ekonomi Kabinet Indonesia bersatu adalah Revitalisasi Pertanian dan Pedesaan. Terdapat 3 substansi penting arah pembangunan sektor pertanian dalam program revitalisasi pertanian, yaitu (i) arah masa depan kondisi petani, (ii) arah masa depan pelaku usaha pertanian, termasuk swasta, dan (iii) arah masa depan produk dan bisnis pertanian. Arah masa depan petani berkaitan dengan: (i) akses petani terhadap layanan dan sumberdaya produktif, (ii) perlindungan petani dalam melakukan aktivitas usaha pertanian, (iii) peningkatan kemampuan dan keberdayaan petani untuk mengembangkan aktivitas usaha pertanian 4 5. yang dilakukannya, dan (iv) peningkatan pendidikan, status gizi dan ketahanan pangan petani serta kesetaraan gender yang baik. Sementara arah masa depan usaha pertanian mencakup: (i) perlindungan dan kepastian hukum terhadap kegiatan usaha pertanian, (ii) lingkungan usaha yang mendukung usaha pertanian, terutama berbagai peraturan terkait yang dapat meningkatkan daya saing dan produktivitas usaha, dan (iii) akses terhadap dukungan pembiayaan, informasi dan teknologi yang aktual dan sesuai dengan perkembangan usaha dan dinamika bisnis. Arah masa depan produk dan bisnis pertanian mencakup (i) pembangunan ketahanan pangan masyarakat yang terkait dengan aspek-aspek:pasokan produksi, pendapatan, keterjangkauan dan kemandirian, (ii) sumber pendapatan devisa yang terkait dengan keunggulan komparatif dan kompetitif di pasar internasional, (iii) penciptaan lapangan usaha dan pertumbuhan baru yang terkait dengan isu global dan perkembangan ke depan. Sebagai upaya tindak lanjut revitalisasi sektor pertanian, maka pada tanggal 4 Juni 2007, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah mencanangkan tambahan dukungan pendanaan bagi sektor pertanian. Presiden berniat menyisihkan dana sebesar Rp 7,8 triliun pada tahun 2007 untuk perluasan jangkauan sektor pertanian. Nilai tersebut 5 6. sesungguhnya menunjukkan suatu peningkatan yang cukup signifikan apabila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana pada tahun 2006 sebesar Rp.6,3 triliun dan pada tahun 2005 hanya sebesar Rp.4,1 triliun. Namun demikian, dalam pelaksanaannya kebijakan nasional tersebut masih banyak menemui tantangan yang dirasakan cukup berat, seperti perlunya perbaikan irigasi, penyediaan benih, pupuk, pestisida, dan perbaikan teknologi. Pengelolaan paket kebijakan tersebut dirasakan masih sangat birokratis dan bersifat top-down. Departemen Pertanian sendiri telah menetapkan pagu indikatif global untuk Rencana Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) tahun 2008 sebesar Rp 8,8 triliun. Rencana kerja tahun 2008 yang menyangkut program dan anggaran yang diusulkan sebagian besar merupakan program lanjutan dari tahun-tahun sebelumnya. Dasar penyusunan program kerja Deptan 2008 mengambil dari Program Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2005-2025. Di Uni Eropa yang terkenal dengan sejarah panjang proteksi pertaniannya, diperkirakan hanya sekitar 20% dari setiap 1 yang disediakan dalam bentuk subsidi, namun dalam pelaksanaannya berhasil mencapai penerima yang dituju, yakni para petani. 80% lainnya tertelan oleh birokrasi yang tidak efisien, baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun para perantara subsidi tersebut. Meskipun dalam 6 7. pelaksanaan pemberian subsidi masih terdapat kritik-kritik seperti demikian, namun harus diakui bahwa kebanyakan Negara anggota Uni Eropa mengelola dan menjalankan paket subsidi tersebut dengan cara yang lebih baik dibandingkan dengan di Indonesia. Pertanyaannya sekarang kemudian adalah seberapa besar dari subsidi yang disediakan di Indonesia berhasil mencapai petani? Hal ini tentunya perlu mendapatkan perahtian yang lebih serius dari pihak-pihak terkait. Subsidi-subsidi yang ada saat ini, yang diberikan kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memproduksi pupuk, benih, bahan-bahan kimia, dsb, sesungguhnya bukanlah merupakan subsidi pertanian, melainkan subsidi BUMN, yang pengelolaannya penuh dengan inefisiensi, seperti yang ditemukan oleh BPK setiap tahunnya. Pengalaman dari Negara-negara tetangga mengindikasikan bahwa diperlukan suatu mekanisme persaingan yang dapat memaksa BUMN-BUMN tersebut untuk beroperasi secara lebih efisien. Namun demikian, selama BUMN-BUMN tersebut dilihat sebagai suatu solusi penyaluran subsidi dan bukan di lihat sebagai bagian dari permasalahan sistem penyaluran subsidi, maka tentunya sulitnya untuk berharap banyak akan terjadinya perubahan nasib para petani secara signifikan. Para analis kebijakan pertanian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dari The Van Zorge Report 7