STUDI KELAYAKAN DAN EVALUASI KEUANGAN USAHA … · dan laporan laba rugi data realisasi ......

79
STUDI KELAYAKAN DAN EVALUASI KEUANGAN USAHA SAYURAN FRESH CUT PADA PT SAYURAN SIAP SAJI KABUPATEN BOGOR Oleh ROSDA LIA YANTI H24104032 PROGRAM SARJANA ALIH JENIS MANAJEMEN DEPARTEMEN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014

Transcript of STUDI KELAYAKAN DAN EVALUASI KEUANGAN USAHA … · dan laporan laba rugi data realisasi ......

STUDI KELAYAKAN DAN EVALUASI KEUANGAN

USAHA SAYURAN FRESH CUT

PADA PT SAYURAN SIAP SAJI

KABUPATEN BOGOR

Oleh

ROSDA LIA YANTI

H24104032

PROGRAM SARJANA ALIH JENIS MANAJEMEN

DEPARTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2014

i

RINGKASAN

ROSDA LIA YANTI. H24104032. Studi Kelayakan dan Evaluasi Keuangan

Usaha Sayuran Fresh Cut pada PT Sayuran Siap Saji Kabupaten Bogor. Dibawah

bimbingan ABDUL KOHAR IRWANTO dan YUSRINA PERMANASARI.

Menurut Martawijaya dan Nurjayadi (2010), komoditas hortikultura cukup

potensial dikembangkan secara agribisnis, karena memiliki nilai ekonomis dan

nilai tambah cukup tinggi dibandingkan dengan komoditas lainnya. Salah satu

yang termasuk dalam jenis hortikultura tersebut adalah sayuran. Pemanfaatan

sayuran ini tidak hanya sebatas pada industri rumah tangga, tetapi juga lebih

mengarah pada industri bisnis seperti rumah makan, restoran siap saji, dan hal-hal

yang berkaitan dengan industri pengolahan makanan. Dengan adanya

permasalahan tersebut menunjukkan bahwa terdapat potensi yang sangat besar

dari kebutuhan produksi sayuran yang akan mempengaruhi keberlangsungan

industri makanan tersebut.

Penelitian ini bertujuan (1) Menganalisis kelayakan non finasial dan

finansial dari usaha sayuran fresh cut PT Sayuran Siap Saji. (2) Menganalisis

kepekaan dari usaha sayuran fresh cut PT Sayuran Siap Saji berdasarkan analisis

switching value. (3) Menganalisis perbedaan prediksi dan realisasi finansial dari

usaha sayuran fresh cut PT Sayuran Siap Saji. Data yang digunakan merupakan

data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dan

observasi. Sedangkan data sekunder bersumber dari studi pustaka, seperti buku,

literatur, jurnal, dan internet. Pengolahan data kualitatif dilakukan untuk

menganalisis aspek pasar, teknis, dan manajemen. Sedangkan pengolahan data

kuantitatif dilakukan pada aspek finansial dengan menghitung, Net Present Value

(NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net B/C, Payback Period (PP), dan

analisis sensitivitas dengan bantuan aplikasi komputer Microsoft Excel 2007,

serta menggunakan perhitungan statistik dengan software SPSS 15 dengan uji-t (t-

test) untuk mengevaluasi keuangan PT Sayuran Siap Saji.

Berdasarkan hasil analisis kelayakan non finansial, usaha sayuran fresh cut

pada PT Sayuran Siap Saji dinyatakan layak. Dari segi aspek finansial, usaha

sayuran fresh cut juga layak untuk dijalankan dengan nilai kriteria kelayakan

sebagai berikut : NPV Rp 2.161.854.000, nilai IRR 24 persen, Net B/C 2,23, dan

PP selama 6 tahun 2 bulan 2 hari yang berarti usaha ini sudah dapat menutup

biaya investasi awalnya sebelum umur usaha berakhir. Hasil analisis switching

value menghasilkan nilai kenaikan harga bahan baku sebesar 0,79 persen dan

penurunan harga jual sebesar 0,65 persen usaha tidak layak dijalankan. Sedangkan, untuk realisasi finansial dari usaha sayuran fresh cut PT Sayuran Siap

Saji dari hasil perhitungan cash flow dan laporan laba rugi data realisasi dan data

prediksi dengan menggunakan uji-t (t-test) secara keseluruhan tidak terdapat

perbedaan yang cukup signifikan.

ii

STUDI KELAYAKAN DAN EVALUASI KEUANGAN

USAHA SAYURAN FRESH CUT

PADA PT SAYURAN SIAP SAJI

KABUPATEN BOGOR

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

SARJANA EKONOMI

pada Program Sarjana Alih Jenis Manajemen

Departemen Manajemen

Fakultas Ekonomi dan Manajemen

Institut Pertanian Bogor

Oleh

ROSDA LIA YANTI

H24104032

PROGRAM SARJANA ALIH JENIS MANAJEMEN

DEPARTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2014

iii

iv

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan pada tanggal 12 Januari 1989 di Palembang dari kedua

orang tua tercinta yaitu Bapak Ruslan Effendi dan Ibu Darsiyem. Penulis

merupakan putri pertama dari tiga bersaudara.

Pada tahun 1995 penulis bersekolah satu tahun pada tingkat sekolah dasar di

SD YKPP 3 Prabumulih, Sumatera Selatan. Kemudian menyelesaikan pendidikan

sekolah dasar di SD YKPP 2 Prabumulih, Sumatera Selatan. Selanjutnya tahun

2001 penulis melanjutkan pendidikannya di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1

Prabumulih, Sumatera Selatan selama tiga tahun. Setelah itu, penulis melanjutkan

sekolah di tingkat selanjutnya pada Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Prabumulih,

Sumatera Selatan. Lalu pada tahun 2007, penulis diterima di Direktorat Program

Diploma Institut Pertanian Bogor pada Program Keahlian Manajemen Agribisnis

melalui jalur Reguler. Tahun 2010, penulis lulus kuliah di Program Diploma IPB

dan langsung melanjutkan pendidikan Program Sarjana Alih Jenis Manajemen

IPB melalui ujian masuk.

iv

v

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas segala

rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan

skripsi ini. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat

kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Program Sarjana Alih

Jenis Manajemen Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen,

Institut Pertanian Bogor dengan judul Studi Kelayakan dan Evaluasi Keuangan

Usaha Sayuran Fresh Cut pada PT Sayuran Siap Saji Kabupaten Bogor.

Skripsi ini diharapkan dapat bermanfaat bagi para pembaca dan sebagai

pembelajaran bagi perusahaan dalam mengembangkan usahanya. Namun

demikian, penulis menyadari akan kekurangan-kekurangan yang terdapat pada

tulisan ini, baik isi maupun penyajiannya. Kritik dan saran dari pembaca yang

bersifat membangun sangat diharapkan demi memperoleh hasil yang lebih baik.

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan semoga skripsi ini dapat

bermanfaat.

Bogor, November 2014

Penulis

v

vi

UCAPAN TERIMA KASIH

Dalam penulisan skripsi ini, penulis mendapat banyak bantuan baik itu

berupa bimbingan, saran, motivasi dan semangat dari berbagai pihak. Ucapan

terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada :

1. Bapak Dr. Ir. Abdul Kohar Irwanto, MSc. selaku dosen pembimbing I dan

Ibu Yusrina Permanasari, S.Sos, ME selaku dosen pembimbing II yang telah

banyak meluangkan waktu dengan penuh kesabaran dalam membimbing

penulis, memberikan saran, pengarahan dan motivasi kepada penulis dalam

menyelesaikan skripsi ini.

2. Ibu Dra. Siti Rahmawati, M.Pd dan Ibu Farida Ratna Dewi, SE, MM, yang

telah bersedia meluangkan waktunya untuk menjadi dosen penguji sidang

dan memberikan bimbingan, serta saran dalam penulisan skripsi ini.

3. Dr. Mukhamad Najib, STP, MM, selaku Ketua Departemen Manajemen

Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB.

4. Ayahanda Ruslan Effendi dan Ibunda Darsiyem yang telah mendoakan dan

memperhatikan penulis dengan tulus sehingga dapat menyelesaikan

penulisan skripsi ini.

5. Bapak Dedy Hadinata selaku direktur PT Sayuran Siap Saji, yang telah

bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan informasi usahanya.

6. Bapak Hendro beserta karyawan produksi PT Sayuran Siap Saji, yang telah

banyak membantu penulis dalam memberikan informasi kegiatan produksi

yang diperlukan.

7. Ibu Dita selaku manager Pemasaran PT Sayuran Siap Saji, yang telah

membantu selama pengumpulan data.

8. Teman-teman Program Alih Jenis Manajemen angkatan 8 atas segala

bantuan dan kerjasamanya selama ini.

9. Semua pihak yang telah membantu kelancaran dalam penulisan skripsi ini,

yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Semoga amal dan kebaikan hati dari pihak-pihak yang telah membantu

penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini memperoleh balasan yang

setimpal dari Allah SWT.

vi

vii

DAFTAR ISI

RINGKASAN

RIWAYAT HIDUP...iv

KATA PENGANTAR...v

UCAPAN TERIMA KASIHvi

DAFTAR ISI.vii

DAFTAR TABEL ix

DAFTAR GAMBAR.x

DAFTAR LAMPIRAN xi

I. PENDAHULUAN .............................................................................................. 1

1.1. Latar Belakang ........................................................................................ 1

1.2. Perumusan Masalah ................................................................................ 3

1.3. Tujuan Penelitian .................................................................................... 3

1.4. Manfaat Penelitian .................................................................................. 4

1.5. Ruang Lingkup Penelitian ...................................................................... 4

II. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................... 5

2.1. Teknologi Fresh Cut ............................................................................... 5

2.2. Studi Kelayakan Bisnis ........................................................................... 6

2.2.1 Aspek Pasar dan Pemasaran .......................................................... 6

2.2.2 Aspek Teknis dan Teknologi ......................................................... 6

2.2.3 Aspek Organisasi dan Manajemen ................................................ 8

2.3. Analisis Kelayakan Finansial ................................................................. 8

2.4. Analisis Nilai Pengganti (Switching Value Analysis) ............................. 9

2.5. Kinerja Keuangan ................................................................................... 9

2.6. Penelitian Terdahulu ............................................................................. 10

III. METODE PENELITIAN ............................................................................ 11

3.1. Kerangka Pemikiran ............................................................................. 11

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................................ 12

3.3. Metode Pengumpulan Data .................................................................. 12

3.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data ................................................. 13

3.4.1 Aspek Pasar dan Pemasaran ........................................................ 13

3.4.2 Aspek Teknis dan Teknologi ...................................................... 14

3.4.3 Aspek Organisasi dan Manajemen .............................................. 14

3.4.4 Aspek Finansial ........................................................................... 14

3.4.5 Analisis Switching Value ............................................................. 17

3.4.6 Asumsi-Asumsi ........................................................................... 17

3.4.7 Perbedaan Prediksi dan Realisasi Finansial ................................. 18

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................................................... 21

vii

viii

4.1. Gambaran Umum Perusahaan .............................................................. 21

4.2. Analisis Kelayakan Usaha .................................................................... 22

4.2.1 Aspek Pasar dan Pemasaran ........................................................ 22

4.2.2 Aspek Teknis dan Teknologi ...................................................... 25

4.2.3 Aspek Organisasi dan Manajemen .............................................. 29

4.2.4 Aspek Finansial ........................................................................... 31

4.2.5 Analisis Kriteria Kelayakan Usaha .............................................. 34

4.3. Analisis Switching Value ...................................................................... 36

4.4. Perbandingan Realisasi dan Prediksi Finansial .................................... 37

4.6. Rekapitulasi Hasil Studi ....................................................................... 38

4.5. Implikasi Manajerial ............................................................................. 39

KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................................... 41

1. Kesimpulan ........................................................................................... 41

2. Saran ..................................................................................................... 42

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 43

LAMPIRAN ......................................................................................................... 45

viii

ix

DAFTAR TABEL

No. Halaman

1. Pertumbuhan industri makanan dan minuman ................................................. 2

2. Data usaha industri pariwisata bidang penyedia makanan dan minuman

di DKI Jakarta Tahun 2006-2011 (unit) ......................................................... 23

3. Biaya investasi PT Sayuran Siap Saji Tahun 2011 ........................................ 32

4. Biaya tetap PT Sayuran Siap Saji .................................................................. 33

5. Biaya operasional PT Sayuran Siap Saji ........................................................ 34

6. Rincian kriteria investasi dengan Metode Cash Flow ................................... 34

7. Rincian Switching Value terhadap usaha Sayuran Fresh Cut ........................ 36

8. Perbandingan hasil realisasi dan prediksi berdasarkan Cash Flow................ 37

9. Perbandingan hasil realisasi dan prediksi berdasarkan laporan laba rugi ...... 37

10. Hasil pengujian hipotesis penelitian............................................................... 38

11. Rekapitulasi hasil studi .................................................................................. 38

ix

x

DAFTAR GAMBAR

No. Halaman

1. Kerangka pemikiran PT Sayuran Siap Saji .................................................... 12

2. Bentuk potongan sayur .................................................................................. 24

3. Mesin kronen Type GS 10 & Centrifuge Type MSD-500S & MSD-500M .. 27

4. Produk Fresh Cut yang dikemas .................................................................... 29

5. Struktur organisasi PT Sayuran Siap Saji ...................................................... 30

x

xi

DAFTAR LAMPIRAN

No. Halaman

1. Harga produk Sayuran Fresh Cut PT Sayuran Siap Saji Tahun 2011 ........... 46

2. Cash Flow prediksi usaha Sayuran Fresh Cut ............................................... 47

3. Analisis Switching Value penurunan harga penjualan sebesar 0,65% usaha

Sayuran Fresh Cut ......................................................................................... 50

4. Analisis Switching Value kenaikan harga input variabel sebesar 0,79% usaha

Sayuran Fresh Cut ......................................................................................... 53

5. Prediksi laporan laba rugi usaha Sayuran Fresh Cut ..................................... 56

6. Data realisasi produksi PT Sayuran Siap Saji Tahun 2012 ............................ 57

7. Data realisasi produksi PT Sayuran Siap Saji Tahun 2013 ............................ 58

8. Realisasi biaya investasi dan biaya operasional PT Sayuran Siap Saji ......... 59

9. Cash Flow realisasi PT Sayuran Siap Saji Tahun 2012-2013 ....................... 61

10. Realisasi laporan laba rugi PT Sayuran Siap Saji Tahun 2012-2013 ............ 63

11. Perhitungan Statistik Cash Flow realisasi dan prediksi PT Sayuran ............. 64

12. Perhitungan statistik realisasi dan prediksi laporan laba rugi PT Sayuran Siap

Saji Tahun 2012-2013 dengan uji-t (t-test) .................................................... 66

13. Proyeksi usaha Sayuran Fresh Cut PT Sayuran Siap Saji ............................. 67

xi

1

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara agraris yang kaya akan hasil pertaniannya.

Salah satu hasil pertanian yang terlihat semakin berkembang sehubungan dengan

meningkatnya kesejahteraan masyarakat adalah sektor hortikultura. Hortikultura

merupakan suatu cabang dari ilmu pertanian yang mempelajari budidaya buah-

buahan, sayuran dan tanaman hias. Menurut Martawijaya dan Nurjayadi (2010),

komoditas hortikultura cukup potensial dikembangkan secara agribisnis, karena

memiliki nilai ekonomis dan nilai tambah cukup tinggi dibandingkan dengan

komoditas lainnya. Salah satu yang termasuk dalam jenis hortikultura tersebut

adalah sayuran.

Sayuran merupakan komoditas yang berprospek cerah, karena dibutuhkan

dalam kehidupan sehari-hari dan permintaannya cenderung terus meningkat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2013), dimana produksi sayuran di

Indonesia dari tahun 2010 ke 2013 mengalami peningkatan dari 10.699.420 ton

per tahun menjadi 11.630.379 ton per tahun. Peningkatan produksi tersebut terjadi

karena adanya permintaan sayuran yang terus meningkat, sejalan dengan

pertambahan jumlah penduduk di Indonesia dan semakin meningkatnya tingkat

kesadaran penduduk untuk mengkonsumsi sayuran yang bermanfaat bagi

kesehatan. Persentase pengeluaran penduduk Indonesia untuk sayuran pada tahun

2007 ke 2013 mengalami peningkatan dari 7,87% per tahun menjadi 8,74% per

tahun (Sabarella dan Cakrabawa 2013).

Pemanfaatan sayuran tidak hanya sebatas pada industri rumah tangga, tetapi

juga lebih mengarah pada industri bisnis seperti rumah makan, restoran siap saji,

dan hal-hal yang berkaitan dengan industri makanan. Data Gabungan Pengusaha

Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) dalam Sugianto (2013)

menunjukkan pertumbuhan industri makanan dan minuman dari tahun ke tahun

mengalami pertumbuhan yang positif. Walaupun sempat terjadi penurunan pada

2010 dan 2011, namun penurunan tersebut tidak begitu besar. Hal ini terbukti

dengan angka pertumbuhan industri makanan dan minuman lima tahun ke

belakang yang dapat dilihat pada Tabel 1.

2

Tabel 1. Pertumbuhan industri makanan dan minuman Tahun Pertumbuhan

2009 12,0%

2010 10,0%

2011 9,19%

2012 10,0%

2013 8-10%

Sumber: GAPMMI, diolah Kememperin dalam Sugianto (2013)

Berdasarkan Tabel 1, pertumbuhan industri makanan mengalami

peningkatan mulai dari tahun 2011 hingga tahun 2013, hal ini menunjukkan

bahwa adanya peningkatan jumlah industri makanan yang ada di Indonesia dan

mendorong meningkatnya kebutuhan pasokan bahan baku makanan. Salah satu

kebutuhan bahan baku makanan adalah kebutuhan sayuran, dimana sayuran

merupakan bahan pelengkap makanan yang digemari oleh masyarakat Indonesia.

Untuk memenuhi kebutuhan sayuran tersebut, industri makanan seperti restoran

umumnya bekerja sama dengan mitra produsen sayuran. Salah satu perusahaan

pemasok sayuran untuk restoran adalah PT Sayuran Siap Saji.

Pendirian PT Sayuran Siap Saji berkaitan erat dengan perkembangan toko-

toko makanan siap saji, seperti Mc Donald dan Burger King. Hotel dan restoran

juga mulai tertarik untuk menggunakan sayuran fresh cut dalam memenuhi

kebutuhan sayuran pada menu makanan. Menurut Hadinata dalam Ihorti (2014),

untuk mempercepat proses produksi makanan, perusahaan-perusahaan food

industry (termasuk di dalamnya restoran, hotel, dan catering) membutuhkan

barang setengah jadi. Kondisi itulah yang menjadi peluang PT Sayuran Siap Saji

untuk menyediakan produk sayuran fresh cut untuk mempermudah industri

restoran dalam memasak dan mempercepat penyajian makanan kepada konsumen.

Pada bulan Desember 2011 PT Sayuran Siap Saji mulai beroperasi memasok

produknya dengan menyediakan sayuran berbentuk fresh cut yang sudah dicuci

bersih, dikupas, dan dipotong-potong yang sudah siap untuk dikonsumsi atau

untuk diproses lebih lanjut. Produk sayuran fresh cut merupakan produk sayuran

sehat berkualitas siap masak yang telah melewati standard kualitas yang tinggi.

Produk ini bukan hanya meningkatkan efisiensi namun juga memberikan

kemudahan dalam penyajian makanan. Sebanyak 20 jenis sayuran seperti caisim,

wortel, kol, selada, jamur, bawang bombay, dan lain-lain sudah dipasarkan ke

restoran-restoran yang tersebar di Jakarta.

3

Perkembangan bisnis PT Sayuran Siap Saji setiap tahunnya mengalami

peningkatan yang cukup signifikan yaitu sebesar 7,5% per tahun, dengan

bertambahnya mitra konsumen yang melakukan order permintaan sayuran fresh

cut dari restoran-restoran yang berada di kawasan Jakarta. PT Sayuran Siap Saji

dalam menjalankan usaha sayuran fresh cut telah mengeluarkan investasi, namun

investasi yang telah dikeluarkan oleh PT Sayuran Siap Saji belum dianalisis

kelayakannya secara finansial maupun non finansial. Akan tetapi, perusahaan ini

sudah berjalan hampir tiga tahun sehingga perlu dilakukan evaluasi keuangan

untuk dua tahun usaha yang sudah berjalan apakah anggaran yang dikeluarkan

sudah sesuai pengalokasiannya. Oleh karena itu, diperlukan pengkajian kelayakan

usaha dari berbagai aspek, mulai dari aspek pasar, teknis, manajemen, finansial,

analisis switching value dan evaluasi keuangan.

1.2. Perumusan Masalah

Adapun permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut.

1. Bagaimana kelayakan aspek non finansial dan finansial dari usaha

sayuran fresh cut PT Sayuran Siap Saji?

2. Bagaimana kepekaan analisis switching value dari usaha sayuran fresh

cut PT Sayuran Siap Saji?

3. Bagaimana perbedaan prediksi dan realisasi finansial dari usaha sayuran

fresh cut PT Sayuran Siap Saji?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah, maka tujuan dari

penelitian ini adalah:

1. Menganalisis kelayakan aspek non finansial dan finansial dari usaha

sayuran fresh cut PT Sayuran Siap Saji.

2. Menganalisis kepekaan analisis switching value dari usaha sayuran fresh

cut PT Sayuran Siap Saji

3. Menganalisis perbedaan prediksi dan realisasi finansial dari usaha

sayuran fresh cut PT Sayuran Siap Saji.

4

1.4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaaat sebagai berikut:

1. Bagi perusahaan, sebagai bahan masukan atau pertimbangan yang dapat

digunakan sebagai dasar membuat kebijaksanaan mengenai

pengembangan usaha selanjutnya.

2. Bagi penelitian berikutnya, diharapkan dapat menjadi suatu sumbangan

pemikiran dan pengetahuan dibidang studi kelayakan usaha sayuran fresh

cut.

1.5. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini membahas prospek pengembangan usaha sayuran fresh cut di

PT Sayuran Siap Saji dengan melakukan analisis kelayakan dan evaluasi

keuangan. Analisis kelayakan yang dilakukan meliputi aspek pasar, teknis,

manajemen, finansial, analisis switching value. Sedangkan untuk evaluasi

keuangan yaitu menganalisis perbedaan cash flow dan laporan laba rugi data

prediksi dengan realisasi finansial usaha sayuran fresh cut di PT Sayuran Siap Saji

dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2013 dengan menggunakan analisis uji beda

yaitu uji-t (t-test).

5

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Teknologi Fresh Cut

Menurut Syamsir (2010), teknologi fresh cut dapat disebut juga dengan

teknologi olah minimal, yang dibuat dengan menggunakan aplikasi proses yang

minimal (pengupasan, pemotongan pengirisan dan lain-lain)

dengan proses pemanasan minimal atau tanpa pemanasan sama sekali. Perlakuan

minimal ini menyebabkan kesegaran buah dan sayur masih tetap bertahan, tetapi

proses yang diberikan tidak mengaktifkan mikroba yang ada di dalam produk.

Contoh dari produk yang diolah minimal adalah salad buah dan sayur,

produk buah sayur potong/irisan (fresh cut product) dalam bentuk tunggal atau

campuran yang siap untuk dikonsumsi (ready to eat) dan siap masak (ready to

cook). Keunggulan dari produk yang diolah minimal terletak pada aspek

kemudahan dalam pemanfaatannya, selain nilai nutrisi dan kesegarannya

yang relatif tidak berbeda dari buah dan sayur segar.

Proses pengupasan, pemotongan, pengirisan yang diberikan menyebabkan

buah dan sayur yang diolah minimal bersifat sangat mudah rusak dengan umur

simpan yang pendek. Kerusakan produk yang diolah minimal karena perubahan

reaksi fisiologis dan biokimia serta kerusakan mikrobiologis menyebabkan

degradasi warna, tekstur dan flavor produk diolah minimal menjadi lebih cepat

dari bahan segarnya.

Suhu yang tepat untuk penyimpanan produk ini adalah 5C. Penyimpanan

diatas suhu ini sebaiknya dihindari karena akan mempercepat kerusakan dan

merangsang pertumbuhan mikroba pathogen. Fluktuasi suhu penyimpanan juga

sedapat mungkin dicegah karena dapat menyebabkan terjadinya kondensasi uap

air didalam kemasan yang akan mempercepat kerusakan. Jika produk disiapkan

hari ini untuk dikonsumsi besok seperti yang umum dilakukan oleh industri jasa

boga, maka proses yang dilakukan relatif murah dan sederhana. Penting

diperhatikan adalah bahan baku buah dan sayurnya bermutu baik, dapur,

peralatan, permukaan dan pekerja berada dalam kondisi higienis dan pekerjaan

dilakukan dengan menerapkan GMP, tidak ada pencucian berat buah dan sayur

setelah dikupas dan suhu penyimpanan maksimal 5C.

6

2.2. Studi Kelayakan Bisnis

Studi kalayakan bisnis telah banyak dikenal oleh masyarakat, terutama

masyarakat yang bergerak dalam bidang bisnis. Banyak peluang dan kesempatan

yang ada dalam kegiatan bisnis telah menutut perlu adanya penilaian sejauh mana

kegiatan dan kesempatan tersebut dapat memberikan manfaat (benefit) bila bisnis

dilakukan. Studi kelayakan bisnis merupakan dasar untuk menilai apakah kegiatan

investasi atau suatu bisnis layak untuk dijalankan. Bagi penanam modal, studi

kelayakan bisnis dapat memberikan gambaran prospek bisnis dan seberapa besar

kemungkinan tingkat manfaat (benefit) dapat diterima dari suatu bisnis, sehingga

hal ini merupakan dasar dalam pengambilan keputusan investasi (Nurmalina et al.

2009).

2.2.1 Aspek Pasar dan Pemasaran

Sebelum melakukan perencanaan bisnis, hendaknya analisis terhadap pasar

potensial yang akan dimasuki oleh produk yang akan dihasilkan oleh perusahaan

dilakukan terlebih dahulu. Jika pasar yang dituju tidak jelas, prospek bisnis ke

depan pun tidak jelas, maka resiko kegagalan bisnis menjadi besar (Umar 2007).

Dalam mengkaji aspek pasar terdapat hal-hal yang harus diperhatikan, yaitu

market potensial yang tersedia untuk mengetahui jumlah permintaan masa lalu,

sekarang, dan yang akan datang, serta variabel-variabel yang berpengaruh

terhadap permintaan tersebut (Husnan dan Muhammad 2000).

Setelah menentukan aspek pasar, selanjutnya perusahaan melakukan analisis

lingkungan internal perusahaan, yaitu aspek pemasaran. Dari segi pemasaran

kegiatan bisnis dapat diharapkan beroperasi secara sehat bilamana produk yang

dihasilkan mampu mendapat tempat dipasaran serta dapat menghasilkan jumlah

hasil penjualan yang memadai dan menguntungkan. Hal-hal yang harus

diperhatikan dalam menganalisis aspek pemasaran adalah penentuan segmen

pasar, target pasar, posisi produk pada pasarnya, selera konsumen, dan strategi

pemasaran.

2.2.2 Aspek Teknis dan Teknologi

Aspek teknis merupakan suatu aspek yang berkenaan dengan proses

pembangunan proyek secara teknis dan pengoperasiannya setelah proyek tersebut

selesai dibangun. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengkaji aspek teknis

7

adalah lokasi proyek, besarnya skala operasi atau luas produksi yang ditetapkan,

kriteria pemilihan mesin, peralatan utama, dan mesin pembantu, proses produksi

yang dilakukan, dan jenis teknologi yang akan digunakan (Husnan dan

Muhammad 2000).

1. Lokasi Bisnis

Dalam pemilihan lokasi bisnis ini terdapat dua variabel, yaitu variabel

primer dan variabel sekunder. Variabel-variabel primer terdiri dari

ketersediaan bahan baku, letak pasar yang dituju, tenaga listrik dan air,

supply tenaga kerja, dan fasilitas transportasi. Sedangkan variabel-variabel

sekunder terdiri dari hukum dan peraturan yang berlaku, iklim dan keadaan

tanah, sikap dari masyarakat setempat, dan rencana masa depan perusahaan.

2. Luas Produksi

Luas produksi adalah jumlah produk yang seharusnya diproduksi untuk

mencapai keuntungan yang optimal. Ada beberapa faktor yang harus

diperhatikan, yaitu batasan permintaan, tersedianya kapasitas mesin-mesin,

jumlah dan kemampuan tenaga kerja pengelola proses produksi,

kemampuan manajemen dan finansial perusahaan, serta kemungkinan

adanya perubahan teknologi produksi di masa yang akan datang.

3. Proses Produksi

Berdasarkan proses produksi dikenal adanya tiga jenis proses yaitu proses

produksi yang terputus-putus (intermiten), kontinu, dan kombinasi. Sistem

yang kontinu akan lebih mampu menekan resiko kerugian akibat fluktuasi

harga dan efektifitas tenaga kerja yang lebih baik dibandingkan dengan

sistem terputus. Umumnya proses produksi kontinu menggunakan mesin-

mesin dengan teknologi yang lebih baik.

4. Pemilihan Jenis Teknologi dan Peralatan

Pemilihan mesin dan peralatan serta jenis teknologi mempunyai hubungan

yang erat sekali. Apabila pengadaan teknologi tidak terpisah dari mesin

yang ditawarkan, maka praktis jenis teknologi, mesin dan peralatan yang

akan dipergunakan telah menjadi satu. Sehingga dalam pemilihan mesin

tidak terlalu sulit.

8

Selain itu, dalam aspek teknis dan teknologi juga lebih menekankan apakah

dari segi pembangunan proyek dan segi implementasi rutin bisnis secara

teknis dapat dilaksanakan, begitu pula dengan aspek teknologi yang akan

dipakai (Umar 2007).

2.2.3 Aspek Organisasi dan Manajemen

Manajemen merupakan hal yang sangat penting dalam suatu perusahaan

agar tujuan perusahaan dapat tercapai. Tujuan menganalisis aspek manajemen

adalah untuk mengetahui apakah pembangunan dan implementasi bisnis dapat

direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan, sehingga rencana bisnis dapat

dinyatakan layak atau tidak layak. Aspek manajemen bisnis juga mempelajari

tentang manajemen dalam pembangunan bisnis dan manajemen dalam masa

operasi (Umar 2007).

Dalam evaluasi manajemen, tidak mengenal rumus-rumus matematis,

pengalaman dan keahlian yang dibutuhkan untuk mengelola bisnis pun tidak dapat

dilihat secara visual. Sehingga dalam mengevaluasi aspek manajemen menjadi

berat. Namun selama persiapan investasi kegiatan bisnis, evaluasi manajemen

harus dilakukan dengan baik karena manajemen adalah bagian terpenting diantara

seluruh faktor produksi yang dikerahkan. Pihak manajemenlah yang mengelola

uang, tanah, mesin, bahan baku, tenaga kerja sehingga bisnis secara keseluruhan

dapat mencapai berbagai macam tujuan yang dikehendaki oleh berbagai pihak

yang bersangkutan dengan kegiatan bisnis (Nurmalina et al. 2009).

2.3. Analisis Kelayakan Finansial

Aspek finansial merupakan aspek yang sangat menentukan bagi perusahaan

untuk menentukan pengambilan keputusan menjalankan bisnis tersebut atau tidak

sesuai dengan kondisi keuangan perusahaan. Tujuan menganalisis aspek finansial

adalah untuk menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan

manfaat yang diharapkan, dengan membandingkan antara pengeluaran dan

pendapatan, seperti ketersediaan dana, biaya modal, kemampuan proyek untuk

membayar kembali dana tersebut dalam waktu yang telah ditentukan dan menilai

apakah proyek akan dapat berkembang terus (Umar 2007).

Dalam perhitungan finansial dibutuhkan komponen yang sangat penting

untuk melihat aktivitas yang berlangsung dalam bisnis tersebut, yaitu penerimaan

9

dan pengeluaran yang dikenal dengan aliran (cash flow). Selain itu, untuk

menentukan kelayakan bisnis digunakan kriteria investasi, diantaranya nilai bersih

kini (NPV), Net Benefit Cost Rasio, tingkat pengembalian internal (IRR), dan

jangka waktu pengembalian modal investasi (PP).

2.4. Analisis Nilai Pengganti (Switching Value Analysis)

Switching value ini merupakan perhitungan untuk mengukur perubahan

maximum dari perubahan suatu komponen inflow (penurunan harga ouput,

penurunan produksi) atau perubahan komponen outflow (peningkatan harga input

atau peningkatan biaya produksi) yang masih dapat ditoleransi agar bisnis masih

tetap layak. Perhitungan ini mengacu kepada beberapa besar perubahan terjadi

sampai dengan NPV sama dengan nol (NPV = 0). Perubahan atas komponen

dapat disebabkan oleh cost overrun, perubahan harga, waktu pelaksanaan, dan

perubahan internal rate of return (IRR) atau return on investment (ROI). Tujuan

utama dilakukannya analisis sensitivitas tersebut adalah untuk memperbaiki

desain dan atau pelaksanaan bisnis sehingga dapat meningkatkan IRR dan untuk

mengurangi resiko kerugian, dengan cara melakukan tindakan-tindakan

pencegahan yang dianggap perlu pada saat pelaksanaan pembangunan proyek.

2.5. Kinerja Keuangan

Kinerja keuangan adalah suatu ukuran kinerja yang menggunakan indikator

keuangan. Analisis kinerja keuangan pada dasarnya dilakukan untuk menilai

kinerja di masa lalu dengan melakukan berbagai analisis sehingga diperoleh posisi

keuangan yang mewakili realitas entitas dan potensi-potensi kinerja yang akan

berlanjut. Pengukuran kinerja dan indikator merupakan bagian dari proses

manajemen strategis (Jackson dan Palmer dalam Batafor 2011). Oleh karena itu,

sebagai suatu elemen manajerial, kinerja merupakan kunci sukses. Keputusan

strategis disusun melalui kebijakan untuk mencapai sasaran dan target yang

diinginkan. Pencapaian sasaran dan target membutuhkan informasi tentang aktual

kinerja yang diharapkan dengan membandingkan kebijakan yang ditetapkan

(setting objectives). Informasi yang diharapkan harus tersusun, dan merupakan

desain pengukuran kinerja dan indikator yang terurai dan jelas. Dalam penelitian

ini penilaian kinerja keuangan dilakukan dengan menggunakan perhitungan

10

statistik dengan analisis uji-t (t-test) untuk mengetahui perkembangan variabel

yang dianalisis pada cash flow dan laporan laba rugi data realisasi dengan data

prediksi.

2.6. Penelitian Terdahulu

Penelitian Perdana (2008) berjudul Analisis Kelayakan Finansial Usaha

Pembesaran Ikan Mas dan Nila pada Keramba Jaring Apung (KJA) Sistem Jaring

Kolor di KJA Waduk Cikoncang, Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak,

Banten. Berdasarkan analisis aspek pasar, teknis, manajemen, hukum, lingkungan

dan kelayakan finansial menunjukkan bahwa usaha pembesaran ikan mas dan nila

pada keramba jaring apung layak untuk dilaksanakan. Dengan rincian analisis

finansial berupa NPV sebesar Rp. 15.578.956 pada tingkat DF 13%, Net B/C

senilai 1,206, IRR sebesar 37,14 persen dan waktu yang diperlukan untuk

mengembalikan biaya investasi selama satu tahun tujuh bulan.

Penelitian Buana (2009) berjudul Analisis Kelayakan Pengembangan Usaha

Pemancingan Tirta Salak Ciomas, Kabupaten Bogor. Hasil dari analisis kelayakan

investasi terhadap arus manfaat-biaya finansial menunjukkan nilai diatas kriteria

kelayakan. Nilai NPV yang diperoleh untuk analisis ini sebesar Rp

270.890.336,00, IRR 57%, Net B/C atau PI adalah 3,117, dan PBP adalah 2,5

tahun.

11

III. METODE PENELITIAN

3.1. Kerangka Pemikiran

Restoran cepat saji adalah salah satu industri di dunia yang berkembang

dengan cepat, khususnya di area perkotaan, sebagai tanggapan terhadap gaya

hidup modern dengan fleksibilitas yang semakin meningkat. Dengan adanya

perubahan gaya hidup serta semakin diterimanya restoran cepat saji oleh

masyarakat, maka persaingan antar gerai restoran cepat saji terhadap kualitas

produk dan layanan akan semakin menonjol di masa mendatang (Goyal et al.

dalam Widaningrum 2010).

Perkembangan restoran siap saji, seperti Mc Donald dan Burger King, hotel

dan restoran mulai tertarik untuk menggunakan sayuran fresh cut dalam

memenuhi kebutuhan sayuran pada menu makanan seperti burger, hotdog, pizza,

dan sebagainya. Walaupun jumlah permintaan akan sayuran fresh cut meningkat,

namun semua produk fresh cut masih dikerjakan secara manual oleh tenaga kerja

terlatih yang dibantu dengan alat yang cukup sederhana. Sehingga hal tersebut

menjadi peluang bagi perusahaan agribisnis untuk mencari teknologi yang

berkaitan dengan mesin produksi sayuran fresh cut. Hal ini dilakukan juga oleh

PT Sayuran Siap Saji untuk memenuhi permintaan dengan cara pengerjaan

mesinisasi agar pengerjaannya cepat dan semua permintaan terpenuhi.

Pada bulan Desember 2011 PT Sayuran Siap Saji mulai beroperasi

memenuhi semua kebutuhan sayuran fresh cut dengan sistem mesinisasi untuk

memenuhi jumlah order yang diperlukan dan memaksimalkan kapasitas mesin itu

sendiri. PT Sayuran Siap Saji dalam menjalankan usaha sayuran fresh cut telah

mengeluarkan investasi, namun investasi yang telah dikeluarkan oleh PT Sayuran

Siap Saji belum dianalisis kelayakannya secara finansial maupun non finansial.

Akan tetapi, perusahaan ini sudah berjalan hampir tiga tahun sehingga perlu

dilakukan evaluasi keuangan untuk tiga tahun usaha yang sudah berjalan apakah

anggaran yang dikeluarkan sudah efektif pengalokasiannya. Oleh karena itu,

diperlukan pengkajian kelayakan usaha dari berbagai aspek, mulai dari aspek

pasar, teknis, manajemen, finansial, analisis switching value dan evaluasi

keuangan. Penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1.

12

Gambar 1. Kerangka pemikiran PT Sayuran Siap Saji

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian tentang analisis kelayakan usaha sayuran siap saji ini dilakukan di

PT Sayuran Siap Saji di Desa Sukamanah, Kampung Pasir Muncang, Kecamatan

Megamendung Bogor, Jawa Barat. Pemilihan tempat ini dilakukan dengan sengaja

(purposive), karena pihak perusahaan pada bulan Desember 2011 baru mulai

beroperasi, sehingga perlu dikaji kelayakan usaha secara finansial dan non

finansial. Pengumpulan dan pengambilan data dilakukan selama 3 bulan pada

bulan Desember 2012 Februari 2013.

3.3. Metode Pengumpulan Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian analisis kelayakan usaha

sayuran siap saji ini berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh

dari hasil wawancara dan pengamatan langsung di PT Sayuran Siap Saji.

PT Sayuran Siap Saji

Studi Kelayakan dan Evaluasi Keuangan

Layak / Tidak Layak

Rekomendasi

Analisis Kualitatif dan

Kuantitatif

1. Aspek Pasar dan Pemasaran

2. Aspek Teknis dan Teknologi

3. Aspek Organisasi dan Manajemen

4. Aspek Finansial a. NPV (Net Present

Value)

b. Net B/C (Net Benefit Cost Rasio)

c. IRR (Internal Rate of Return)

d. PP (Payback Period).

Analisis Sensitivitas

1. Komponen inflow (penurunan harga ouput,

penurunan produksi)

2. Komponen outflow (peningkatan harga

input atau peningkatan

biaya produksi) yang

masih dapat ditoleransi

agar bisnis masih tetap

layak.

Evaluasi Keuangan

Perbandingan laporan data

prediksi dan realisasi

finansial :

Analisis uji beda dengan

Uji-t(t-test)

1. Cash flow

2. Laba Rugi

13

Kemudian untuk data sekunder diperoleh dari dokumen yang dimiliki perusahaan,

literatur baik dari buku-buku pertanian, majalah pertanian, bahan kuliah, internet,

koran, penelitian sebelumnya, serta data dari lembaga pemerintahan seperti Badan

Pusat Statistik (BPS), Departemen Pertanian, dan Kelurahan Kabupaten Bogor.

3.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian dilakukan secara kualitatif

dan kuantitatif. Analisa kualitatif dilakukan secara deskriptif untuk mengetahui

gambaran usaha di tempat penelitian dari berbagai aspek, yaitu aspek pasar,

teknis, dan aspek manajemen. Aspek pasar dan pemasaran meliputi market

potensial, segmen pasar, target pasar, posisi produk pada pasarnya, selera

konsumen, dan strategi pemasaran. Aspek teknis dan teknologi meliputi lokasi

proyek, besarnya skala operasi atau luas produksi yang ditetapkan, kriteria

pemilihan mesin, peralatan utama, dan mesin pembantu, proses produksi yang

dilakukan, serta jenis teknologi yang akan digunakan.

Sedangkan analisis kuantitatif dilakukan dengan perhitungan nilai uang

untuk mengkaji penerimaan dan pengeluaran uang dengan aliran (cash flow) dan

mengkaji kelayakan investasi. Kriteria investasi yang dikaji adalah NPV, IRR, Net

B/C dan Pay Back Period. Selain itu juga melihat kepekaan kelayakan investasi

digunakan analisis switching value dalam menghadapi beberapa perubahan.

Sedangkan untuk evaluasi keuangan menggunakan perhitungan statistik dengan

uji-t (t-test). Data-data yang diperoleh untuk melakukan penelitian ini baik untuk

analisa kualitatif maupun kuantitatif berasal dari hasil wawancara, survei,

pengamatan langsung serta pencarian data-data terkait.

3.4.1 Aspek Pasar dan Pemasaran

Dalam mengkaji aspek pasar terdapat hal-hal yang harus diperhatikan, yaitu

market potensial yang tersedia untuk mengetahui jumlah permintaan masa lalu,

sekarang, dan yang akan datang, serta variabel-variabel yang berpengaruh

terhadap permintaan tersebut (Husnan dan Muhammad 2000). Analisis

permintaan pasar dilakukan dengan cara memproyeksikan jumlah permintaan

produk berdasarkan pesanan dari restoran. Penawaran pasar dianalisis dengan cara

menghitung realisasi penjualan sayuran siap saji di perusahaan tersebut.

14

Selain itu dianalisis juga jenis pasar yang dimasuki oleh perusahaan, jika

dilihat dari sisi produsen dan konsumen. Pemasaran perusahaan juga dinilai

dengan cara melihat penempatan perusahaan PT Sayuran Siap Saji pada

segmentasi, target, dan posisi pasar. Tujuannya untuk melihat bagaimana

perusahaan tersebut mampu bersaing dengan melihat bauran pemasarannya yang

meliputi 4P (product, price, promotion, place).

3.4.2 Aspek Teknis dan Teknologi

Aspek teknis dianalisis secara deskriptif dengan melihat kebutuhan bahan

baku, tenaga kerja, peralatan pada perusahaan PT Sayuran Siap Saji, dan teknis

proses produksi suatu produk dibuat. Proses produksi dibuat terkait kapasitas

produksi, jenis teknologi yang dipakai dalam pembuatan suatu produk, pemakaian

peralatan, lokasi proyek, input proyek (persediaan) serta output (produk). Selain

itu mengkaji proses pembuatan produk beserta komposisinya untuk menghasilkan

produk pada perusahaan tersebut.

3.4.3 Aspek Organisasi dan Manajemen

Melihat perencanaan, pengelolaan, dan pengendalian perusahaan PT

Sayuran Siap Saji yang sudah berjalan tiga tahun dalam beroperasi apakah sesuai

atau tidak dengan struktur organisasi yang ada. Analisis ini digunakan secara

kualitatif untuk melihat apakah fungsi manajemen dapat diterapkan dalam

kegiatan operasional suatu usaha. Analisis ini dapat dilihat berdasarkan sesuai

tidaknya proyek dengan pola kerja pihak yang terlibat dan kesanggupan atau

keahlian staf yang ada untuk mengelola usaha. Jika fungsi manajemen dapat

diterapkan, maka usaha perusahaan PT Sayuran Siap Saji layak dari aspek

manajemen.

3.4.4 Aspek Finansial

Dalam perhitungan finansial dibutuhkan komponen yang sangat penting

untuk melihat aktivitas yang berlangsung dalam bisnis tersebut, yaitu penerimaan

dan pengeluaran yang dikenal dengan aliran (cash flow). Selain itu, untuk

menentukan kelayakan bisnis digunakan kriteria investasi, diantaranya nilai bersih

kini (Net Present Value = NPV), Net Benefit Cost Rasio (Net B/C), tingkat

pengembalian internal (Internal Rate of Return = IRR), dan jangka waktu

pengembalian modal investasi (Payback Period = PP).

15

1. Aliran Kas (Cash Flow)

Cash flow merupakan arus manfaat bersih sebagai hasil pengurangan arus

biaya terhadap arus manfaat. Suatu cash flow terdiri dari beberapa unsur

yang nilainya disusun berdasarkan tahap-tahap kegiatan bisnis. Unsur-unsur

tersebut terdiri dari : inflow (arus penerimaan), outflow (arus pengeluaran),

manfaat bersih (Net Benefit), dan manfaat bersih tambahan (Incremental Net

Benefit) bila diperlukan.

2. Kriteria Investasi

Kriteria-kriteria yang digunakan dalam melakukan suatu evaluasi terhadap

investasi proyek adalah Net Present Value (NPV), Net Benefit Cost (Net

B/C), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period (PP).

a. Net Present Value (NPV)

Net Present Value yaitu selisih antara Present Value dari investasi

dengan nilai sekarang dari penerimaan-penerimaan kas bersih (aliran kas

operasional maupun aliran kas terminal) di masa yang akan datang. Suatu

bisnis dinyatakan layak jika NPV lebih dari 0 (NPV > 0) yang artinya

bisnis menguntungkan atau memberikan manfaat. Nilai yang dihasilkan

oleh perhitungan NPV adalah dalam satuan mata uang Rupiah (Rp).

Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut.

Keterangan :

Bt = Manfaat pada tahun t (Rupiah)

Ct = Biaya pada tahun t (Rupiah)

t = Tahun kegiatan bisnis ( t = 0,1,2,3,,n), tahun awal bisa

tahun 0 atau tahun 1 tergantung karakteristik bisnisnya (tahun)

i = Tingkat Discount Rate (% / tahun)

b. Net Benefit / Cost Ratio

Net B/C ratio adalah rasio antara manfaat bersih yang bernilai positif

dengan manfaat bersih yang bernilai negatif. Suatu bisnis dinyatakan

........................ (1)

16

layak bila Net B/C lebih besar dari satu dan dinyatakan tidak layak bila

Net B/C lebih kecil dari satu. Secara sistematis dapat dinyatakan sebagai

berikut.

Keterangan :

Bt = Manfaat pada tahun t (Rupiah)

Ct = Biaya pada tahun t (Rupiah)

i = Discount rate (% / tahun)

t = Tahun (tahun)

c. Internal Rate of Return (IRR)

Internal Rate of Return (IRR) merupakan tingkat pengembalian modal

investasi yang digunakan. Metode ini digunakan untuk mencari tingkat

bunga yang menyamakan nilai sekarang dari arus kas yang diharapkan di

masa datang, atau penerimaan kas, dengan mengeluarkan investasi awal.

Besaran yang dihasilkan dari perhitungan ini adalah dalam satuan

persentase (%). Pada dasarnya IRR menggambarkan persentase laba

nyata yang dihasilkan proyek. Sebuah bisnis dinyatakan layak apabila

IRR-nya lebih besar dari opportunity cost of capital-nya (DR). Berikut

ini rumus IRR :

Keterangan :

i1 = Discount rate yang menghasilkan NPV positif (% / tahun)

i2 = Discount rate yang menghasilkan NPV negatif (% / tahun)

NPV1 = NPV positif (Rupiah)

NPV2 = NPV negatif (Rupiah)

d. Payback Period (PP)

Metode ini juga digunakan untuk mengukur seberapa cepat investasi bisa

kembali. Bisnis yang payback period-nya singkat atau cepat

pengembaliannya termasuk kemungkinan besar akan dipilih. Metode

payback period ini merupakan metode pelengkap penilaian investasi.

................................. (2)

............................................... (3)

17

Keterangan :

I = Besarnya biaya investasi yang diperlukan (Rupiah)

Ab = Manfaat bersih yang dapat diperoleh pada setiap tahunnya

(Rupiah)

3.4.5 Analisis Switching Value

Analisis switching value digunakan untuk mengetahui seberapa besar

perubahan pada nilai penjualan dan biaya variabel yang akan menghasilkan

keuntungan normal yaitu NPV sama dengan nol atau mendekati, IRR sama

dengan tingkat suku bunga berlaku, dan Net B/C sama dengan satu. Variabel yang

dianalisis dengan switching value merupakan variabel yang dianggap signifikan

dalam proyek. Adapun variabel-variabel yang dimaksud antara lain nilai input dan

biaya variabel, sehingga dengan analisis ini akan dicari tingkat harga penjualan

minimum dan peningkatan biaya maksimum agar proyek masih dapat dikatakan

layak.

3.4.6 Asumsi-Asumsi

Asumsi-asumsi yang digunakan dalam penyusunan cash flow pada analisis

studi kelayakan ini dapat dilihat dibawah ini.

1. Modal yang digunakan adalah modal sendiri yang dimiliki Pak Tatang

Hadinata dan PT Hessing dengan pembagian sahamnya sebesar 50% : 50%

dengan melakukan join venture. Pembagian keuntungan dibagi sama rata

berdasarkan keuntungan yang diperoleh.

2. Bangunan pada perusahaan PT Sayuran Siap Saji adalah milik sendiri.

3. Umur ekonomis proyek yang digunakan pada pengembangan bisnis ini

adalah selama sepuluh tahun yang didasarkan pada umur ekonomis mesin

Kronen type GS 10.

4. Asumsi jumlah produksi dan banyaknya bahan baku yang diperlukan,

plastik kemasan, cup salad, label dan barcode selama umur proyek

mengalami kenaikan sebesar 7,5% setiap tahunnya berdasarkan permintaan

konsumen. Sedangkan untuk biaya transportasi, biaya listrik, dan biaya-

biaya perawatan mesin diasumsikan mengalami kenaikan 5% setiap tahun.

.................................................... (4)

18

Gaji karyawan dan tenaga kerja produksi juga setiap tahun diasumsikan

mengalami kenaikan 3%. Kenaikan tersebut berdasarkan data perusahaan

PT Sayuran Siap Saji sebelumnya.

5. Pajak di dalam cash flow diambil dari pajak yang ada pada laporan

laba/rugi. Berdasarkan Direktorat Jenderal Pajak (2014), Peraturan

Pemerintah No. 46 Tahun 2013 Tentang Pajak Penghasilan Atas

Penghasilan dari Usaha Yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak Yang

Memiliki Peredaran Bruto kurang dari 4,8 milyar rupiah adalah sebesar 1%

(satu persen).

6. Berdasarkan data Bank Indonesia (2014), discount rate yang digunakan

untuk usaha sayuran PT Sayuran Siap Saji pada tahun ke 1 sampai ke 3

adalah sebesar 5,75% yang merupakan rata-rata tingkat suku bunga BI

(Bank Indonesia) dalam satu tahun 2012. Sedangkan pada tahun ke 4

sampai ke 10 adalah sebesar 7,5% yang merupakan rata-rata tingkat suku

bunga BI (Bank Indonesia) dalam satu tahun 2014.

7. Jumlah produksi sayuran fresh cut adalah 45 ton per bulan dengan harga

jual sebesar Rp 8.000 sampai dengan Rp 28.000 per kilogram.

8. Analisis switching value terdiri dari dua asumsi. Asumsi pertama adalah

penurunan harga penjualan akibat banyaknya jumlah produksi sayuran fresh

cut di pasaran yang menyebabkan penawaran lebih tinggi daripada

permintaan. Sedangkan asumsi kedua adalah kenaikan harga input variabel

produksi yang terbesar karena adanya kenaikan harga akibat inflasi.

3.4.7 Perbedaan Prediksi dan Realisasi Finansial

PT Sayuran Siap Saji sudah beroperasi dari bulan Desember 2011 sehingga

perlu dilakukan evaluasi keuangan untuk dua tahun usaha yang sudah berjalan

apakah anggaran yang dikeluarkan sudah sesuai pengalokasiannya. Untuk

melakukan evaluasi keuangan tersebut, perlu dilakukan pengujian dengan analisis

uji beda yaitu uji-t (t-test). Uji-t (t-test) merupakan statistik uji yang sering kali

ditemui dalam masalah-masalah praktis statistik. Uji-t juga termasuk dalam

golongan statistik parametik. Uji-t digunakan ketika informasi mengenai nilai

variance (ragam) populasi tidak diketahui (Siregar 2013). Dalam penelitian ini,

perhitungan statistik dilakukan dengan menggunakan teknik analisis dua sampel

19

independent untuk mengetahui perkembangan variabel yang dianalisis pada cash

flow dan laporan laba rugi data realisasi dengan data cash flow. Uji-t dua sampel

merupakan uji yang dilakukan untuk mengetahui apakah suatu variabel memiliki

nilai yang sama atau tidak sama, lebih tinggi atau tidak lebih tinggi, lebih rendah

atau tidak lebih rendah dan sebagainya. Perhitungan uji dua sampel independent

disajikan dalam dua bentuk, yaitu perhitungan secara manual dan menggunakan

bantuan software SPPS 15. Berikut ini prosedur uji-t dua sampel independent :

1. Membuat hipotesis dalam uraian kalimat

Ho = Tidak terdapat perbedaan antara kedua sampel

Ha = Terdapat perbedaan antara kedua sampel

2. Membuat hipotesis model statistik

Ho = 1 = 2

Ha = 1 2

3. Menentukan tingkat signifikansi (resiko kesalahan)

Tahap ini kita menentukan seberapa besar peluang membuat resiko

kesalahan dalam mengambil keputusan menolak hipotesis yang benar.

Tingkat signifikasi dinyatakan dengan lambang .

4. Menentukan uji yang akan digunakan

Uji statistik yang digunakan adalah uji-t dua sampel. Penggunaan uji-t dua

sampel, karena datanya bersifat interval/rasio, data antara dua sampel tidak

ada hubungan keterkaitan, serta data yang digunakan tidak lebih dari 30.

5. Kaidah pengujian

Jika, -ttabel thitung ttabel, maka Ho diterima

Jika thitung > ttabel, maka Ho ditolak

6. Menghitung thitung dan ttabel

Tahapan menentukan nilai thitung

a. Membuat tabel penolong

b. Menghitung nilai rata-rata pengukuran kelompok ke-i

Rumus :

..................................................................... (5)

20

Keterangan :

Xi = data pengukuran kelompok ke-i

Xi = nilai rata-rata data pengukuran kelompok ke-i

ni = jumlah responden kelompok ke-i

Si2 = nilai varian kelompok ke-i

c. Menghitung nilai varian kelompok kei

Rumus :

d. Menghitung nilai thitung

Rumus :

e. Menghitung ttabel

Dengan taraf signifikan = 0,05. Kemudian dicari ttabel pada tabel

distribusi t dengan ketentuan : db = n 2.

7. Membandingkan antara thitung dan ttabel

8. Membuat keputusan

..................................................... (6)

........................ (7)

21

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Perusahaan

PT Sayuran Siap Saji terletak di Desa Sukamanah, Kampung Pasir

Muncang, Kecamatan Megamendung Bogor, Jawa Barat. PT Sayuran Siap Saji

merupakan anak perusahaan dari PT Saung Mirwan yang dimiliki oleh bapak

Tatang Hadinata. PT Saung Mirwan berinisiatif membuka unit usaha baru tersebut

dengan mengeluarkan investasi yang cukup besar dan melakukan kerjasama bisnis

join venture dengan PT Hessing yang berasal dari Belanda, adapun besarnya

saham yang dimiliki sebesar 50 persen milik PT Hessing sedangkan 50 persennya

dimiliki PT Saung Mirwan. Pada bulan Desember 2011 PT Sayuran Siap Saji

mulai beroperasi memenuhi semua kebutuhan sayuran fresh cut dengan sistem

mesinisasi untuk memenuhi jumlah order yang diminta konsumen dan

memaksimalkan kapasitas mesin itu sendiri dengan target pasarnya restoran-

restoran yang berada di kawasan Jakarta. PT Sayuran Siap Saji ini dipimpin oleh

bapak Dedy Hadinata sebagai direktur utama.

Bidang usaha PT Sayuran Siap Saji tidak jauh berbeda dengan PT Saung

Mirwan. PT Saung Mirwan adalah salah satu perusahaan agribisnis yang

menyediakan produk fresh cut yaitu sayuran dan sayuran buah dalam kemasan

yang sudah dicuci bersih, dikupas, dan dipotong-potong sesuai kebutuhan.

Menurut Hadinata dalam Ihorti (2014), peluang dari bisnis yang dirintisnya

merupakan bisnis masa depan, karena konsumen cenderung ingin segala sesuatu

yang praktis dan aman dalam proses membuat masakan. Pendirian PT Sayuran

Siap Saji ini berkaitan erat dengan perkembangan toko-toko makanan siap saji,

seperti Mc Donald dan Burger King. Hotel dan restoran juga mulai tertarik untuk

menggunakan sayuran fresh cut dalam memenuhi kebutuhan sayuran pada menu

makanan.

Pada awalnya PT Sayuran Siap Saji ini mengeluarkan produk yang bernama

Greenlicious. Sebuah produk yang merupakan kemasan sayuran sehat berkualitas

siap masak yang telah melewati standard kualitas yang tinggi yaitu HACCP

(Hazard Analysis and Critical Control Points). HACCP merupakan salah satu

bentuk manajemen resiko yang dikembangkan untuk menjamin keamanan pangan

22

dengan pendekatan pencegahan (preventive) yang dianggap dapat memberikan

jaminan dalam menghasilkan makanan yang aman bagi konsumen (Institut

Pertanian Bogor 2012). Produk Greenlicious bukan hanya memberikan efisiensi

namun juga memberikan kemudahan dan mendukung gaya hidup keluarga

modern. Lebih dari 25 varian diciptakan dan tersebar di seluruh pasar modern di

Jakarta, seperti sayur sup, sayuran, shabu-shabu dan lain-lain. Akan tetapi, melihat

permintaan pasar yang lebih besar dari sektor restoran yang membutuhkan

sayuran fresh cut siap saji, maka PT Sayuran Siap saji lebih memfokuskan untuk

memproduksi sayuran fresh cut. Di samping itu, PT Sayuran Siap Saji juga

menyediakan salad buah, sayur dan jagung manis kemasan yang bisa langsung

dikonsumsi untuk pasar convenience store. Convenience store adalah toko

pengecer yang menjual jenis item produk yang terbatas, berada di tempat yang

nyaman, dan jam buka panjang.

4.2. Analisis Kelayakan Usaha

4.2.1 Aspek Pasar dan Pemasaran

Dalam aspek pasar, yang dikaji adalah potensi pasar dari produk yang akan

dihasilkan. Hal ini dapat dilihat dari analisis permintaan dan penawaran serta

bauran pemasaran yang dilakukan.

1. Analisis Permintaan dan Penawaran

Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta merupakan pusat pertumbuhan bisnis

restoran terbesar, yang memiliki kontribusi 26,1 persen dari jumlah restoran

di Indonesia. Selama tahun 2010, sektor perdagangan, hotel dan restoran

mengalami pertumbuhan sebesar 8,7 persen serta memberikan sumbangan

terbesar terhadap total pertumbuhan PDB yaitu sebesar 1,5 persen (BPS

2011). Data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta

menunjukkan terjadi peningkatan jumlah restoran pada tahun 2006-2011.

Pertumbuhan bisnis restoran yang cepat di DKI Jakarta menimbulkan

persaingan antar restoran untuk mendapatkan dan memenuhi kebutuhan

konsumen.

23

Tabel 2. Data usaha industri pariwisata bidang penyedia makanan dan

minuman di DKI Jakarta Tahun 2006-2011 (unit)

No Jenis Usaha Tahun

2006 2007 2008 2009 2010 2011

1 Restoran 1849 1779 2014 2215 2481 2742

2 Bar 504 526 586 600 646 705

3 Pusat jajan 0 0 26 48 54 55

4 Kafetaria 0 0 0 1 7 21

Jumlah 2353 2305 2626 2864 3188 3523

Sumber : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta (2013)

Permintaan sayuran fresh cut PT Sayuran Siap Saji umumnya berasal dari

restoran-restoran siap saji / frasnchise dan convenience store yang berada di

Jakarta seperti Bakmi Gajah Mada, Domino Pizza, Solaria, Seven Eleven,

dan Burger King. Pelanggan dari restoran tersebut kebanyakan pekerja

kantoran, ibu-ibu rumah tangga, dan remaja. Rata-rata permintaan sayuran

fresh cut dari PT Sayuran Siap Saji ini adalah 65 ton per bulan. Setiap hari

PT Sayuran Saji menerima pesanan sayuran fresh cut by order dari customer

dengan mengirimkan bukti pesanan melalui faximile sehari sebelum produk

dikirimkan. Pada tahun 2011, hanya PT Sayuran Siap Saji yang mempunyai

mesin pemotong sayuran fresh cut untuk mempermudah dan mempercepat

proses produksi, sehingga PT Sayuran Siap Saji hanya mampu memenuhi

permintaan pasar 70 persen yaitu sebanyak 45 ton per bulan.

2. Strategi Bauran Pemasaran (4P)

Manajemen pemasaran produk barang dibagi atas empat kebijakan

pemasaran yang disebut bauran pemasaran (marketing-mix). Bauran

pemasaran ini terdiri empat komponen yaitu produk, harga, distribusi, dan

promosi (Umar 2003). Berikut ini dijelaskan mengenai kebijakan masing-

masing komponen.

a. Product (Produk)

Produk adalah setiap tawaran yang dapat memuaskan kebutuhan dan

keinginan (Kotler 2002). Produk sayuran fresh cut PT Sayuran Siap Saji

biasanya diolah lagi atau langsung disajikan pada konsumen. Bentuk

produk sayuran fresh cut ini memberi daya tarik konsumen karena

ukuran potongan seragam mulai dari bawang bombay, tomat, wortel yang

24

berbentuk ring, silvered, slice, dice, dan julienne, kembang kol, brokoli,

jamur champignon, dan mix salad yang dipotong kecil-kecil, dan lain-

lain (Gambar 2). Keunggulan dari produk PT Sayuran Siap Saji ini ready

to eat, ready to cook, dan hygienis, sehingga mengurangi waktu

persiapan, 100% dapat dikonsumsi, mengurangi biaya tenaga kerja, dan

mengurangi kebutuhan ruang penyimpanan. Selain itu, untuk menjaga

keamanan pangan produk sayuran fresh cut PT Sayuran Siap Saji ini

memiliki label tanggal produksi dan kadaluarsa.

Gambar 2. Bentuk potongan sayur

b. Price (Harga)

Harga suatu barang adalah nilai pasar (nilai tukar) dari barang tersebut

yang dinyatakan dalam jumlah uang. Harga sayuran fresh cut yang

ditetapkan oleh PT Sayuran Siap Saji ini beragam tergantung dengan

jenis sayuran dan berat produk per kemasan mulai dari Rp 8.000 Rp

28.000 per kilogram, untuk lebih rinci dapat dilihat di Lampiran 1. Cara

25

pembayaran produk yang sudah dipasarkan ke konsumen melalui transfer

antar rekening bank setiap dua minggu sekali.

c. Promotion (Promosi)

PT Sayuran Siap Saji tidak mengalami kesulitan dalam mempromosikan

produknya, hal ini didukung oleh pengalaman dalam bisnis sayuran sejak

20 tahun lalu yang diawali oleh PT Saung Mirwan. Sehingga kosumen

PT Sayuran Siap Saji mengetahui keberadaan sayuran fresh cut melalui

promosi personal selling. Akan tetapi, PT Sayuran Siap Saji juga

melakukan promosi melalui media cetak seperti koran, media sosial

seperti website PT Sayuran Siap Saji, facebook, serta mengikuti pameran

industri makanan yang sering diadakan di Jakarta.

d. Place (Tempat)

Place (tempat) berkaitan dengan keputusan penentuan lokasi penjualan

dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan barang kepada

konsumen. Dalam memasarkan produk, PT Sayuran Siap Saji dilakukan

secara langsung yang berada di daerah Jakarta dan memiliki target pasar

yang banyak karena hampir semua head store restoran siap saji,

franchise, dan convenience store berada di Jakarta. Pengiriman sayuran

fresh cut dilakukan setiap hari dengan menggunakan truck chiller yang

sudah dilengkapi dengan pendingin untuk menjaga kesegaran sayur

sampai ke konsumen. Sistem pengirimannya dengan menggunakan

sistem trip dan titik kirim produk ke beberapa wilayah pengiriman.

Pengiriman sayuran fresh cut setiap hari dilakukan di pagi hari.

4.2.2 Aspek Teknis dan Teknologi

Analisis dalam aspek teknis dan teknologi usaha sayuran fresh cut

mencakup lokasi bisnis yang terdiri dari bahan baku dan tenaga kerja, peralatan

produksi serta proses produksi. Berikut ini hasil analisis pada tiap kriteria aspek

teknis dan teknologi.

1. Lokasi Bisnis

PT Sayuran Siap Saji terletak di Desa Sukamanah, Kampung Pasir

Muncang, Kecamatan Megamendung Bogor, Jawa Barat. Dalam kegiatan

produksinya, PT Sayuran Siap Saji mendapatkan bahan baku sayuran dari

26

petani mitra yang berada di sekitar tempat usaha, yaitu Desa Megamendung,

Bogor, serta petani mitra di daerah Lembang, Garut, dan Bandung.

Pengiriman bahan baku sayuran di daerah Bogor biasanya dilakukan setiap

hari, sedangkan untuk bahan baku yang dikirim dari Bandung dilakukan dua

hari sekali dengan menggunakan truk. Akan tetapi, ada juga bahan baku

seperti bawang bombay dibeli dari importir yang mengambil barang dari

negara China. Standar bahan baku yang ditetapkan PT Sayuran Siap Saji

adalah bermutu tinggi, tidak boleh ada cacat, berpenyakit, terlalu

matang/tua, tidak mengalami luka mekanis, perubahan tekstur, tidak boleh

kehilangan warna, flavor yang khas, kehilangan nutrisi, dan mengandung zat

asing/berbahaya. Harga beli dari petani mitra yang ditetapkan adalah dengan

harga kontrak. Harga kontrak ini selalu diperbarui seminggu sekali dengan

menyelaraskan perkembangan harga sayur di pasaran agar PT Sayuran Siap

Saji tidak kesulitan mendapatkan bahan baku.

Tenaga kerja PT Sayuran Siap Saji berasal dari penduduk sekitar

perusahaan. Rata-rata tenaga kerja yang ada di bagian produksi PT Sayuran

Siap Saji adalah wanita berusia 18-40 tahun, pekerjaan ini umumnya banyak

dilakukan oleh wanita karena ada beberapa jenis sayuran yang tidak bisa

dipotong dengan menggunakan mesin, sehingga harus dilakukan secara

manual dengan menggunakan pisau. Setiap hari tenaga kerja bagian

produksi ini bekerja selama 7 jam dalam seminggu. Sebelum masuk ke

bagian produksi, para pekerja diwajibkan mengganti pakaian produksi yang

sudah disediakan di bagian fitting room mulai dari menggunakan masker,

penutup kepala, sampai dengan baju produksi. Selain itu, mereka juga harus

mencuci tangan hingga bersih sebelum dan sesudah melakukan pekerjaan.

Hal ini dilakukan untuk menjaga ke hygienisan produk yang diproduksi.

2. Peralatan

Pada tahun 2011, PT Sayuran Siap Saji menggunakan mesin pemotong

sayuran yang berasal dari Belanda yang bernama mesin Kronen type GS 10

(Gambar 3). Mesin ini didatangkan dari Belanda, fungsi mesin ini untuk

mempermudah dan mempercepat proses produksi sayuran fresh cut. Akan

tetapi, tidak semua sayuran bisa dipotong di mesin ini, sehingga harus

27

dilakukan secara manual dengan menggunakan pisau. Selain menggunakan

mesin Kronen, PT Sayuran Siap Saji menggunakan mesin centrifuge type

MSD-500S & MSD-500M untuk mempercepat proses pengeringan sayuran

setelah dicuci. Mesin Kronen type GS 10 memiliki keunggulan dalam hal

proses pemotongan yang ideal pada selada, tomat, caisim, kol, serta produk

sayuran lainnya. Mesin ini menggunakan jenis pisau GS 10 yang dapat

melakukan pemotongan yang tepat dan hasilnya menjamin tidak ada

sayuran yang terbuang. Pisau GS 10 juga dilengkapi dengan wide belt

conveyor 125 mm yang membantu membentuk ukuran yang tepat dan

menghasilkan produk yang lembut irisannya. Irisan sayuran dan buah dapat

disesuaikan 1-50 mm atau dibentuk sesuai yang diiinginkan.

Gambar 3. Mesin Kronen Type GS 10 & Centrifuge Type MSD-500S &

MSD-500M

3. Proses Produksi

Kegiatan produksi yang dilakukan PT Sayuran Siap Saji adalah sebagai

berikut :

a. Pada saat bahan baku datang dilakukan pengecekan bahan baku yang

bermutu tinggi, mengamati apakah ada kerusakan dan infeksi serangga,

dan mencatat jumlah produk yang diterima. Kemudian, pengaturan aliran

bahan baku yaitu produk yang masuk pertama akan keluar lebih dahulu,

lalu untuk penyimpanan sayuran daun-daunan apabila belum diproses

langsung dimasukkan ke dalam cool storage dengan suhu 6-8 Celcius,

tomat diruang ber-ac dengan suhu 18-20 Celcius, dan bawang Bombay

diletakkan di luar ruang produksi karena harus disimpan di tempat

kering. Bahan yang disimpan harus dilakukan pencatatan untuk

28

menjamin bahan yang masuk penyimpanan awal akan keluar paling awal

pula.

b. Sebelum melakukan kegiatan produksi, ruangan harus dibersihkan

terlebih dahulu dan setelah itu melakukan persiapan seperti

menggunakan pakaian produksi, mencuci tangan, dan memasang pisau

serta sambungan conveyor mesin produksi. Apabila semuanya sudah

siap, maka kegiatan produksi bisa langsung dikerjakan mulai dari proses

trimming sayuran yaitu membuang bahan-bahan yang tidak diperlukan

seperti daun yang sudah layu dan busuk.

c. Pemotongan produk sayuran fresh cut dengan menggunakan mesin

Kronen ini bervariasi mulai dari bawang bombay, tomat, wortel yang

berbentuk ring, silvered, slice, dice, dan julienne, kembang kol, brokoli,

jamur champignon, dan mix salad yang dipotong kecil-kecil, dan lain-

lain. Sedangkan untuk pemotongan sayuran secara manual pisau yang

digunakan harus tajam dan bersih. Selain itu, sanitasi tempat pemotongan

dan peralatan tenaga kerja juga harus dijaga kebersihannya.

d. Pencucian dengan menggunakan mesin hanya dilakukan untuk sayuran

daun saja, karena lebih mudah digerakkan disambungan conveyor mesin

dan lebih mudah untuk dikeringkan. Sedangkan untuk sayuran seperti

tomat dan jagung dilakukan secara manual. Pencucian dilakukan setelah

pemotongan/pengecilan ukuran dengan menggunakan air tanah dari

sumur artesis yang dibuat sendiri oleh PT Sayuran Siap Saji untuk

menghilangan jasad renik pembusuk dan menghilangkan kotoran yang

menempel pada sayur.

e. Pengeringan sayuran daun dilakukan dengan menggunakan mesin

centrifuge selama 30 detik.

f. Packaging sayuran daun dengan menggunakan plastik bening dengan

berat bersih 1 kilogram, sedangkan untuk tomat 0,25 0,5 kilogram per

kemasan. Setiap kemasan juga diberi label tanggal produksi dan tanggal

kadaluarsa untuk menjaga keamanan produk.

g. Setelah semua produk dikemas, sebelum produk sayuran fresh cut

dipasarkan disimpan terlebih dahulu di dalam ruangan cool strorage yang

29

bersuhu 2-5Celcius. Kegiatan produksi sayuran fresh cut PT Sayuran

Siap Saji sudah mendapatkan sertifikat HACCP dimana perusahaan

menjaga kualitas semua bahan baku yang sudah diuji coba, dirasakan,

dan disempurnakan agar sesuai dengan sistem pengoperasian yang

diinginkan industri restoran dengan memasang label tanggal produksi

dan kadaluarsa. Tujuannya adalah untuk menjaga keamanan pangan

apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

4. Output

Semua produk sayuran fresh cut jenis daun-daunan dan kembang kol

dikemas dengan menggunakan plastik bening ukuran 0,25 1 kilogram,

sedangkan untuk salad buah dan sayur dikemas dalam mangkok plastik

kecil ukuran 120 gram (Gambar 4).

Gambar 4. Produk fresh cut yang dikemas

4.2.3 Aspek Organisasi dan Manajemen

PT Sayuran Siap Saji dipimpin oleh bapak Dedy Hadinata sebagai direktur

yang bertugas dalam perencanaan, pengarahan dan pengawasan jalannya usaha

sayuran fresh cut pada perusahaan tersebut. Pemilik dari PT Sayuran Siap Saji ini

adalah bapak Tatang Hadinata yang merupakan pemilik dan penggerak (owner)

PT Sayuran Siap Saji. Modal yang digunakan dalam usaha sayuran fresh cut

berasal dari modal sendiri oleh pemilik perusahaan dan PT Hessing.

Kegiatan pengelolaan keuangan, produksi, pemasaran, dan sumberdaya

manusia PT Sayuran Siap Saji dilakukan oleh karyawan yang telah

berpengalaman dalam bidangnya yang dibagi berdasarkan tugas dan tanggung

jawab masing-masing sesuai perannya. Sedangkan untuk karyawan bagian

30

produksi dan pemasaran berasal dari warga di sekitar perusahaan sehingga secara

tidak langsung membantu perusahaan meminimumkan upah tenaga kerja dan

meningkatkan ekonomi daerah tersebut. Gambar 5 menunjukkan struktur

organisasi PT Sayuran Siap Saji yang bisa dilihat sebagai berikut.

Gambar 5. Struktur organisasi PT Sayuran Siap Saji

Tugas dan tanggung jawab karyawan PT Sayuran Siap Saji :

1. Direktur

a. Menjalankan fungsi manajemen seperti di bawah ini.

1) Perencanaan tentang produksi dan keuangan.

2) Pengorganisasian usaha sayuran fresh cut.

3) Melaksanakan kepemimpinan terhadap bawahannya.

4) Melakukan pengawasan terhadap semua aktivitas usaha sayuran fresh

cut.

b. Membuat perencanaan produksi yang menyangkut aspek teknis,

manajemen dan aspek-aspek lainnya yang terkait dengan usaha sayuran

fresh cut.

c. Melakukan kerjasama yang baik dengan petani plasma, pemborong dan

distributor.

d. Sebagai pengambil keputusan manajerial.

2. Manajer Sumberdaya Manusia

a. Merekrut karyawan yang memiliki keahlian dan keterampilan dalam

bidangnya.

b. Pembagian tugas untuk karyawan.

Direktur PT Sayuran Siap Saji

Pemilik Perusahaan (Owner)

Investor Asing

Karyawan Karyawan

Karyawan

Karyawan

Manajer SDM Manajer Produksi Manajer

Pemasaran

Manajer

Keuangan

31

c. Mengawasi kinerja dan kehadiran karyawan.

3. Manajer Produksi

a. Melakukan kegiatan perencanaan, pengawasan, dan pengontrolan

produksi.

b. Melakukan pengecekan alat dan bahan produksi.

4. Manajer Pemasaran

a. Menganalisis dan merencanakan kebutuhan pasar yang akan dipenuhi.

b. Melakukan kegiatan kerjasama dan promosi.

c. Mengidentifikasi selera konsumen.

5. Manajer Keuangan

a. Mencatat semua penggunaan biaya operasional dan penerimaan yang

diperoleh.

b. Membuat laporan keuangan setiap akhir periode.

c. Melaporkan hasil pencatatan keuangan kepada pemilik (direktur).

d. Menganalisis laporan keuangan.

Jadwal kerja untuk bagian kantor PT Sayuran Siap Saji setiap hari Senin-

Jumat dari jam 08.00 16.00 WIB. Sedangkan untuk karyawan bagian produksi

dan pemasaran jadwal kerjanya setiap hari mulai dari jam 07.00-17.00 WIB

dengan sistem shift untuk memenuhi pesanan dari pelanggan. Sistem penggajian

PT Sayuran Siap Saji untuk level middle management diberikan gaji bulanan

sedangkan untuk bagian produksi dan pemasaran diberikan gaji mingguan yang

dihitung harian. Karyawan juga diberikan bonus berupa THR setiap satu tahun

sekali. Selain itu, PT Sayuran Siap Saji juga memberikan fasilitas mess karyawan

untuk bagian middle management untuk memudahkan akomodasi apabila tempat

tinggalnya jauh dari tempat usaha.

4.2.4 Aspek Finansial

Aspek finansial merupakan suatu aspek yang dapat melihat layak atau tidak

layaknya suatu usaha untuk dijalankan dengan perhitungan yang menggunakan

formula penilaian investasi. Aspek ini dapat menilai biaya-biaya apa saja dan

seberapa besar biaya-biaya tersebut dikeluarkan untuk mendapatkan manfaat

berupa penerimaan dalam menjalankan suatu usaha. Biaya adalah segala sesuatu

yang mengurangi pendapatan bagi suatu usaha. Arus biaya (outflow) pada

32

dalam 000 (juta rupiah)

pengembangan bisnis ini terdiri dari dua komponen, yaitu biaya investasi dan

biaya operasional.

1. Biaya Investasi

Biaya investasi adalah biaya yang dikeluarkan satu kali pada awal tahun

proyek untuk memperoleh beberapa kali manfaat sampai secara ekonomis

kegiatan bisnis itu tidak menguntungkan lagi. Biaya investasi pada

pengembangan bisnis ini terdiri dari bangunan pabrik, kantor, mess, mesin

Kronen, mobil truck chiller, pembuatan sumur bor dan saluran air yang

dikeluarkan berdasarkan umur proyek usaha. Total biaya investasi yang

dikeluarkan pada tahun pertama adalah sebesar Rp 1.559.870.000, untuk

lebih jelasnya dapat dilihat mengenai rincian biaya investasi pada Tabel 3.

Tabel 3. Biaya investasi PT Sayuran Siap Saji Tahun 2011

No

.

Biaya

investasi

Unit

barang

Harga

beli

(unit)

Total

biaya

Umur

(tahun) Nilai sisa Penyusutan

1 Bangunan

pabrik 500 m

2 1.000 500.000 25 50.000 18.000

2 Bangunan

kantor 150 m

2 1.000 150.000 25 15.000 5.400

3 Bangunan

mess karyawan 45 m

2 1.000 45.000 15 4.500 2.700

4 Mesin kronen

GS 10 1 53.000 53.000 10 5.300 4.770

5 Mobil truck

chiller 3 250.000 750.000 5 75.000 135.000

6

Biaya

pembangunan

sumur

5.000 5.000

7 Mesin pres 3 500 1.500 5 150 270

8 AC besar 2 10.000 20.000 5 2.000 3.600

9 AC kecil 1 2.500 2.500 5 250 450

10 Cool storage 1 20.000 20.000 10 2.000 1.800

11 Pisau 10 7 70 5 7 13

12 Trail 60 30 1.800 5 180 324

13 Pakaian

produksi 20 50 1.000 1

1.000

14 Perizinan

5.000

15 Pemasangan

Meteran Air 1 5.000 5.000

Jumlah

1.559.870

154.387 173.326,6

33

2. Biaya Operasional

Biaya operasional merupakan jumlah dana yang dikeluarkan perusahaan

dalam memenuhi seluruh kebutuhan yang mendukung jalannya aktivitas

perusahaan. Biaya operasional termasuk semua biaya produksi,

pemeliharaan dan lainnya yang menggambarkan pengeluaran untuk

menghasilkan produksi yang digunakan bagi setiap proses produksi dalam

satu periode kegiatan produksi. Biaya operasional terdiri dari dua komponen

utama, yakni biaya tetap dan biaya variabel.

a. Biaya Tetap

Biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya tidak terpengaruh oleh

perkembangan jumlah produksi atau penjualan dalam satu tahun (satu

satuan waktu). Biaya tetap yang dikeluarkan setiap beberapa tahunnya

mengalami kenaikan yang disebabkan oleh pengaruh inflasi, untuk lebih

jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Biaya tetap PT Sayuran Siap Saji

dalam 000 (juta rupiah)

No Jenis biaya tetap Jumlah Satuan Harga Total

harga 1 tahun

1 Biaya perawatan mesin 12 kali 1.000 1.000 12.000

2 Biaya perawatan mobil 3 kali 1.500 1.500 6.000

3 Pajak mobil 3 kali 3.500 10.500 10.500

4 Gaji pegawai

manajemen 5 orang 4.500 22.500 315.000

5 Biaya telepon 12 bulan 1.000 1.000 12.000

6 Biaya promosi 1 kali 6.000 6.000 24.000

7 Biaya listrik 12 bulan 5.000 5.000 60.000

Jumlah biaya tetap 47.500 439.500

b. Biaya Variabel

Biaya variabel adalah biaya yang besar kecilnya selaras dengan

perkembangan produksi atau penjualan setiap tahun (satu satuan waktu).

Biaya variabel yang dikeluarkan untuk pengembangan bisnis ini terdiri

dari input produksi, pembayaran upah tenaga kerja borongan, biaya

pengemasan, dan lain-lain. Lebih jelasnya biaya-biaya ini dapat dilihat

pada Tabel 5.

34

Tabel 5. Biaya operasional PT Sayuran Siap Saji

dalam 000 (juta rupiah)

No Jenis biaya

variabel

Jumlah

1 x

produksi

Satuan Harga

Tc

1 x

produksi

1 tahun

(12 x)

1 Bahan baku

kilogram

5.277.764

2 Plastik kemasan

bening 5 pack 650 3.250 39.000

3 Cup salad 700 buah 3 2.100 25.200

4 Label dan

barcode 100.000 buah 0.012 1.200 14.400

5 Biaya

transportasi 30 hari 900 27.000 324.000

6 Biaya tenaga

kerja produksi 20 orang 1.500 30.000 390.000

7 Biaya listrik

produksi 12 bulan 9.000 9.000 108.000

Jumlah biaya

variabel 72.550 6.178.364

4.2.5 Analisis Kriteria Kelayakan Usaha

Analisis kriteria kelayakan usaha dilakukan untuk menentukan kelayakan

suatu bisnis untuk dijalankan yang dilihat dari sisi finansial dengan

memperhitungkan nilai waktu dari uang (time value of money). Perhitungan

kriteria investasi menggunakan metode Discounted Cash Flow, dimana seluruh

penerimaan selama sepuluh tahun ke depan didiskontokan pada masa kini.

Analisis kriteria investasi yang digunakan adalah Net Present Value (NPV),

Internal Rate of Return (IRR), Net B/C, dan Payback Period (PP). Analisis ini

dilakukan dengan menggunakan tingkat suku bunga BI (Bank Indonesia) pada

tahun ke 1 sampai ke 3 sebesar 5,75 persen yang merupakan rata-rata tingkat suku

bunga BI dalam satu tahun 2012. Sedangkan pada tahun ke 4 sampai ke 10 adalah

sebesar 7,5% yang merupakan rata-rata tingkat suku bunga BI dalam satu tahun

2014. Berikut kriteria investasi dengan metode kelayakan cash flow yang

diperoleh, seperti pada Tabel 6.

Tabel 6. Rincian kriteria investasi dengan Metode Cash Flow Kriteria investasi Hasil

NPV > 0 Rp 2.161.854.000

Net B/C > 1 2,23

IRR > 5,75% 24%

PP 6,22

35

Berdasarkan Tabel 6, dapat dilihat bahwa :

a. Net Present Value (NPV)

Net Present Value adalah nilai masa kini manfaat bersih (net benefit) selama

10 tahun periode usaha. Nilai NPV pada usaha sayuran fresh cut ini adalah

Rp 2.161.854.000. Nilai ini menunjukkan keuntungan yang akan diperoleh

selama 10 tahun periode usaha dengan tingkat suku bunga 5,75 persen

pertahun untuk tahun ke 1 sampai ke 3 dan 7,5 persen untuk tahun ke 4

sampai ke 10. Dari nilai tersebut dapat disimpulkan bahwa usaha sayuran

fresh cut layak untuk dijalankan karena NPV yang dihasilkan lebih besar

dari nol (NPV>0).

b. Net Benefit / Cost Ratio (Net B/C)

Net Benefit/Cost Ratio merupakan rasio antara present value net benefit

yang bernilai positif dan present value net benefit yang bernilai negatif.

Suatu usaha dikatakan layak jika rasio Net B/C lebih dari satu. Pada usaha

sayuran fresh cut ini rasio Net B/C sebesar 2,23. Hal ini berarti bahwa setiap

Rp 1 biaya yang dikeluarkan akan mendapatkan pengembalian manfaat

bersih sebesar Rp 2,23. Karena rasio Net B/C lebih dari satu, maka usaha ini

layak untuk dijalankan.

c. Internal Rate of Return (IRR)

Internal Rate of Return adalah tingkat pengembalian usaha terhadap modal

yang ditanamkan pada suatu usaha. Suatu usaha layak dijalankan jika nilai

IRR yang diperoleh lebih besar dibandingkan tingkat suku bunga yang

ditetapkan. Nilai IRR pada usaha sayuran fresh cut ini adalah 24 persen.

Nilai ini lebih besar dari tingkat suku bunga yang ditetapkan sebesar 5,75

persen dan 7,5 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan

pengembalian modal yang digunakan lebih besar dari tingkat discount rate

yang digunakan.

d. Payback Period (PP)

Payback Period dihitung untuk mengukur seberapa cepat investasi yang

ditanamkan bisa kembali. Perhitungan PP tidak memperhitungkan nilai

waktu uang (time value of money). Secara umum suatu usaha layak untuk

dijalankan jika PP nya lebih kecil dari periode usahanya. PP dari usaha

36

sayuran fresh cut ini adalah 6 tahun 2 bulan 2 hari. Nilainya lebih kecil dari

periode usaha 10 tahun sehingga layak untuk dijalankan.

4.3. Analisis Switching Value

Salah satu variasi perhitungan yang dilakukan adalah perhitungan nilai

pengganti (switching value). Analisis switching value digunakan untuk melihat

ambang batas kelayakan suatu proyek terhadap perubahan-perubahan yang terjadi

pada faktor-faktor baik pada produksi maupun penjualan. Komponen-komponen

yang digunakan dalam perhitungan switching value pada usaha bisnis sayuran

fresh cut adalah penurunan produksi penjualan dan kenaikan harga input produksi.

Pada penelitian ini juga dilakukan metode switching value untuk mengetahui nilai

maksimal perubahan variabel yang mempengaruhi usaha. Pada tabel 7 di bawah

terlihat hasil perhitungan switching value.

Tabel 7. Rincian Switching Value terhadap usaha Sayuran Fresh Cut

Kriteria investasi

Penurunan harga penjualan

sayuran fresh cut sebesar

0,65%

Kenaikan harga input

produksi sayuran fresh cut

sebesar 0,79%

NPV (-) Rp 42.500.000 (-) Rp 21.687.000

IRR 5% 5%

Net B/C 0,90 0,91

PP 7,93 7,83

Berdasarkan Tabel 7, dapat dilihat bahwa usaha ini akan berada diambang

batas kelayakan apabila terjadi penurunan harga penjualan sebesar 0,65 persen

akibat banyaknya produksi sayuran fresh cut di pasaran yang menyebabkan

penawaran lebih tinggi daripada permintaan. Sedangkan batas kelayakan terjadi

juga apabila adanya kenaikan harga input produksi sebesar 0,79 persen karena

adanya inflasi. Kenaikan harga input ini diambil berdasarkan harga input yang

terbesar, yaitu harga bahan baku. Analisis switching value diperlukan agar

perusahaan jangan sampai berada pada tingkat perubahan tersebut agar bisnis

yang dijalankan tetap layak. Dari perhitungan analisis switching value tersebut

yang sangat sensitif terhadap perubahan adalah penurunan harga penjualan

sehingga untuk mengatasi hal tersebut perusahaan melakukan diversifikasi produk

dan pengembangan pasar yang baru.

37

4.4. Perbandingan Realisasi dan Prediksi Finansial

Hasil evaluasi keuangan PT Sayuran Siap Saji untuk perhitungan

berdasarkan cash flow pada Tabel 8.

Tabel 8. Perbandingan hasil realisasi dan prediksi Berdasarkan Cash Flow

dalam 000 (juta rupiah)

Keterangan Tahun

Indikator

Total

inflow

Total biaya

tetap

Total biaya

variabel Net benefit PV/tahun

Realisasi 2012

6.446.796 480.900 4.865.518 1.085.360 970.539

Prediksi 6.902.027 439.500 6.178.364 281.865 266.539

Realisasi 2013

6.867.926 528.615 5.583.535 744.205 629.291

Prediksi 7.408.100 451.545 6.611.231 342.414 306.190

Sedangkan hasil perhitungan berdasarkan laporan laba rugi terlihat pada

Tabel 9.

Tabel 9. Perbandingan hasil realisasi dan prediksi berdasarkan laporan laba rugi Keuntungan bersih Tahun 2012 Tahun 2013

Realisasi Rp 892.681.000 Rp 551.525.000

Prediksi Rp 128.478.000 Rp 189.027.00