Siklus Haid Dan Kelainan Haid

download Siklus Haid Dan Kelainan Haid

of 15

  • date post

    07-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    229
  • download

    1

Embed Size (px)

description

faal

Transcript of Siklus Haid Dan Kelainan Haid

PRESENTASISIKLUS HAID DAN GANGGUAN PADA SIKLUS HAID

Disusun oleh :

Nadira Danata

1102011188

Kepaniteraan Klinik Obstetri dan Ginekologi

RSUD Pasar Rebo

Pembimbing :

Dr. Ahmad Helmy, Sp.OGSMF Obstetri Dan Ginekologi RSUD Pasar Rebo Jakarta Timur

Periode 25 Mei 2015 2 Agustus 2015SIKLUS HAID dan GANGGUAN pada SIKLUS HAIDI. SIKLUS HAID

Wanita memiliki siklus reproduksi bulanan, atau setiap 28 hari. Siklus haid terjadi sebagai akibat pertumbuhan dan pengelupasan lapisan endometrium uterus. Endometrium akan mengalami penebalan kembali atau fase proliferasi pada saat akhir siklus haid. Saat terjadi ovulasi, uterus berhenti tumbuh dan kelenjar/ glandula menjadi lebih aktif selama fase sekresi.

Perubahan endometrium dikontrol oleh siklus di ovarium yang rata-rata berlangsung dalam 28 hari, terdiri atas: 1) fase folikular, 2) ovulasi, dan 3) fase luteal (pasca-ovulasi). Fase luteal berlangsung tetap, yaitu 14 hari. Sedangkan fase folikular dapat memanjang dan menyebabkan perpanjangan siklus.

Siklus haid normal karena adanya hypothalamus-pituitary-ovarian endocrine axis, respon folikel dalam ovarium, dan fungsi uterus.

Hormon Yang Mengatur Siklus Haid

Hypothalamus-pituitary-ovarian endocrine axis mengontrol pematangan folikel dan ovulasi. Hipotalamus memacu kelenjar hipofisis dengan menyekresi gonadotropin-releasing hormone (GnRH). Gonadotropin hipofisis memacu sintesis dan pelepasan FSH (Follicle-stimulating homone) dan LH (Luteinizing-hormone).

FSH adalah hormon glikoprotein yang memacu pematangan folikel selama fase folikular. FSH membantu LH memacu sekresi hormon steroid, terutama esterogen oleh sel granulosa dari folikel matang.

LH yang merupakan hormon glikoprotein yang berperan dalam steroidogenesis dalam folikel dan berperan penting dalam ovulasi yang tergantung pada mid-cycle surge dari LH. Selain itu, LH juga turut mempengaruhi produksi progresteron oleh korpus luteum.

Aktivitas siklik dalam ovarium atau siklus ovarium dipertahankan oleh mekanisme umpan balik yang bekerja antara ovarium, hipotalamus, dan hipofisis.

SIKLUS OVARIUM

1. Fase folikular

a. Hari ke 1-8

Kadar FSH dan LH relatif tinggi pada awal siklus. Hal ini memacu perkembangan 10-20 folikel dengan satu folikel dominan, folikel yang lain mengalami atresia. Relatif tingginya kadar FSH dan LH merupakan trigger turunnya esterogen dan progresteron pada akhir siklus. Selama dan segera setelah haid kadar esterogen relatif rendah tapi mulai meningkat karena perkembangan folikel.

b. Hari ke 9-14

Lingkungan hormon pada fase folikular mendorong terjadinya pembesaran dan pengembangan kemampuan sekresi sel-sel folikel primer menjadi folikel sekunder (folikel antrum) yang dapat mengeluarkan esterogen. Selama perkembangan tahap folikel ini, terbentuk suatu rongga berisi cairan yang disebut antrum, yang berada di antara sel-sel granulosa. Sewaktu sel folikel mulai mengeluarkan esterogen, sebagian dari esterogen masuk ke sirkulasi darah, sebagian lagi terakumulasi di antrum. Oosit telah mencapai ukuran penuh saat antrum mulai terbentuk. Diameter folikel meningkat. Pertumbuhan folikel ini disebabkan oleh proliferasi lanjut dari sel granulosa dan sel teka. Pembesaran antrum juga berkontribusi dalam pertumbuhan folikel yang drastis. Produksi esterogen meningkat seiring dengan pertumbuhan folikel.

Hingga hari ke-14, salah satu folikel tumbuh lebih cepat dibandingkan folikel lainnya, berkembang menjadi folikel matang (Folikel tertier/ de Graff). Pada folikel ini, antrum menempati sebagian besar ruang. Oosit, yang dikelilingi oleh zona pelusida dan satu lapisan sel granulosa, tergeser asimetris ke salah satu sisi folikel, dalam satu gundukan kecil yang menonjol ke dalam antrum.Perubahan hormon yang terjadi dalam tahap pematangan folikel adalah kenaikan esterogen yang progresif oleh sel granulosa. Mencapai puncak 18 jam sebelum ovulasi. Karena kadar esterogen meningkat, pelepasan FSH dan LH ditekan (umpan balik negatif) agar tidak terjadi hiperstimulasi ovarium dan pematangan banyak folikel. Sel granulosa juga mengeluarkan inhibin yang berperan sebagai faktor dalam mencegah folikel yang matang.

Gambar 1. Kontrol umpan balik sekresi FSH dan LH selama fase folikular

2. Ovulasi Hari ke 14

Folikel matang yang telah membesar ini menonjol dari permukaan ovarium dan menciptakan suatu zona tipis yang kemudian pecah untuk membebaskan oosit saat ovulasi. Pecahnya folikel disebabkan oleh enzim-enzim folikel yang mencerna jaringan ikat dinding folikel sehingga dinding tersebut melemah dan tidak mampu menahan isi folikel yang cepat membesar.

Tepat sebelum ovulasi, oosit menyelesaikan pembelahan miotik pertamanya. Ovum (oosit sekunder) masih dikelilingi oleh zona pelusida dan sel granulosa (kini disebut korona radiata), tersapu keluar folikel yang pecah ke dalam rongga abdomen oleh cairan antrum yang bocor. Ovum yang dibebaskan ini cepat tertarik ke dalam tuba uterina, tempat fertilisasi dapat terjadi. Pecahnya folikel saat ovulasi menandakan berakhirnya fase folikular dan dimulainya fase luteal.Perubahan hormon: esterogen meningkatkan sekresi LH (melalui hipotalamus) mengakibatkan meningkatnya produksi androgen dan esterogen (umpan balik positif). Segera sebelum ovulasi terjadi penurunan kadar estradiol yang cepat dan peningkatan produksi progresteron. Ovulasi terjadi dalam 8 jam dari mid-cycle stage LH.

Gambar 2. Kontrol lonjakan LH saat ovulasi

3. Fase luteal

Hari ke 15-28

Sisa folikel tertahan dalam ovarium dipenitrasi oleh kapiler dan fibroblas dari sel teka. Sel granulosa mengalami luteinisasi menjadi korpus luteum. Korpus luteum merupakan sumber utama hormon steroid seks, esterogen, dan progresteron disekresi oleh ovarium pada fase pasca-ovulasi. Dibawah pengaruh LH, korpus luteum mengeluarkan progresteron dan esterogen, dengan progresteron diproduksi paling banyak. Fase luteal di dominasi oleh progresteron.

Progresteron yang mendominasi fase luteal dengan kuat menghambat sekresi LH dan FSH. Inihibisi LH dan FSH oleh folikel mecegah pematangan folikel baru dan ovulasi selama fase luteal. Dibawah pengaruh progresteron, sistem reproduksi dipersiapkan untuk menunjang ovum yang sudah dilepaskan apabila dibuahi.

Korpus luteum akan berdegenerasi apabila tidak terjadi fertilisasi. Menurunnya kadar LH yang didorong efek inhibitorik progresteron berperan dalam degenerasi korpus luteum. Matinya korpus luteum menandakan berakhirnya fase luteal dan mempersiapkan fase folikel berikutnya. Kadar progresteron dan esterogen plasma turun pada degenerasi korpus luteum. Hal ini mengakibatkan hilangnya inhibisi kedua hormon ini terhadap hipotalamus yang memungkinkan sekresi LH dan FSH kembali meningkat. Dibawah kedua hormon gonadotropin ini, kelompok baru folikel primer mulai diinduksi untuk matang dengan dimulainya fase folikular baru.

Selama fase luteal kadar gonadotropin mencapai nadir dan tetap rendah sampai terjadi regresi korpus luteum yang terjadi pada hari 26-28. Jika terjadi konsepsi dan implantasi, korpus luteum tidak mengalami regresi karena dipertahankan oleh gonadotropin yang dihasilkan oleh trofoblas. Jika konsepsi dan implantasi tidak terjadi korpus luteum akan mengalami regresi terjadilah haid. SIKLUS UTERUS

Dengan diproduksinya hormon steroid oleh ovarium secara siklik akan menginduksi perubahan penting pada uterus, yang melibatkan endometrium dan mukosa serviks. Hal ini menghasilkan siklus haid/ siklus uterus. Siklus berlangsung rerata 28 hari. Pengaruh Esterogen dan Progesteron Terhadap UterusUterus terdiri dari dua lapisan utama, yakni miometrium (lapisan otot polos luar) dan endometrium, lapisan dalam yang mengandung banyak pembuluh darah dan kelenjar. Endometrium terdiri atas 2 lapis, yaitu lapisan superfisial yang akan mengelupas saat haid dan lapisan basal yang tidak ikut dalam proses haid, tetapi ikut dalam proses regenerasi lapisan superfisial untuk siklus berikutnya. Batas 2 lapis tersebut ditandai dengan perubahan dalam karakteristik arteriola yang memasok endometrium. Basal endometrium kuat, tapi karena pengaruh hormon menjadi berlekuk dan memberikan kesempatan a.spiralis berkembang. Susunan anatomi tersebut sangat penting dalam fisiologi pengelupasan lapisan superfisial endometrium.

Esterogen merangsang pertumbuhan miometrium dan endometrium. Hormon ini juga menginduksi sintesis reseptor progresteron di endometrium. Progresteron bekerja pada endometrium yang telah dipersiapkan oleh esterogen untuk menjadikannya tempat yang sesuai bagi pertumbuhan ovum yang dibuahi. Dibawah pengaruh progresteron, jaringan ikat endometrium menjadi longgar dan edematosa akibat akumulasi elektrolit dan air, menfasilitasi implantasi ovum yang dibuahi. Progresteron mempersiapkan endometrium untuk menampung mudigah dengan mendorong kelenjar endometrium mengeluarkan dan menyimpan glikogen dalam jumlah besar dan merangsang pertumbuhan pembuluh darah endometrium. Progresteron juga berperan dalam mengurangi kontraktilitas uterus.

Siklus haid terdiri dari 3 fase, yaitu: fase haid, fase proliferatif, dan fase sekretorik/progrestional.Fase Haid

Fase haid ditandai dengan pengeluaran darah dan sisa endometrium dari vagina. Hari pertama haid menandakan siklus baru, yakni pengakhiran fase luteal dan dimulainya fase folikular. Normal fase luteal berlangsung selama 14 hari. Pada akhir fase ini terjadi regresi korpus luteum yang ada hubungannya dengan menurunnya produksi esterogen dan progresteron ovarium. Karena kedua hormon ini berperan dalam mempersiapkan endometrium untuk implantasi ovum yang dibuahi, maka penurunan sekresi esterogen dan progresteron ini menyeabkan lapisan dalam uterus yang kaya vaskular dan nutrien ini kehilangan homon-hormon penunjangnya. Penurunan diikuti oleh kontraksi spasmo