RINITIS ALERGI

download RINITIS ALERGI

of 38

  • date post

    09-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    232
  • download

    10

Embed Size (px)

description

RA

Transcript of RINITIS ALERGI

KATA PENGANTAR

UNIVERSITAS MUHAMADIYAH SEMARANG

REFERAT RINITIS ALERGI

Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik di Bagian Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher Rumah Sakit Umum Daerah dr. Adhyatma, MPH

Diajukan Kepada :dr. Sukamta Yudi, Sp.THT-KL

Disusun Oleh :Alaa Ulil HaqiyahH2A009001

Kepaniteraan Klinik Departemen Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan LeherFakultas Kedokteran Muhamadiyah SemarangRumah Sakit Umum Daerah dr. Adhyatma, MPHPERIODE 14 januari 8 Februari 2014

LEMBAR PENGESAHAN KOORDINATOR KEPANITERAANILMU PENYAKIT TELNGA HIDUNG TENGGOROK KEPALA DAN LEHER

Referat dengan judul :

RINITIS ALERGI

Diajukan untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinikdi Departemen Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan LeherRumah Sakit Umum Daerah Dr. Adhyatma, MPH

Disusun Oleh:

Alaa Ulil HaqiyahH2A009001

Telah Disetujui dan Disahkan oleh Pembimbing:

Nama pembimbing Tanda Tangan Tanggal

dr. Sukamta yudi, Sp.THT-KL........................... 22 Januari 2014

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN.................................................................................2DAFTAR ISI 3BAB I.PENDAHULUAN 51.1LATAR BELAKANG 51.2RUMUSAN MASALAH51.3 TUJUAN61.4MANFAAT6BAB II.ANATOMI HIDUNG 72.1ANATOMI 72.2PENDARAHAN102.3PERSARAFAN112.4MUKOSA HIDUNG112.5KOMPLEKS OSTIOMEATAL12BAB III.FISIOLOGI 143.1FUNGSI RESPIRASI 143.2FUNGSI PENGHIDU 153.3FUNGSI FONETIK153.4REFLEKS NASAL16BAB IV.RHINITIS ALERGI174.1DEFINISI 174.2ETIOLOGI174.3PREVALENSI184.4PATOFISIOLOGI184.5GAMBARAN HISTOPATOLOGIK214.6KLASIFIKASI224.7DIAGNOSIS244.7.1Anamnesis244.7.2Pemeriksaan Fisik244.7.3Pemeriksaan Penunjang264.8TATALAKSANA274.9KOMPLIKASI314.10TABEL DIAGNOSIS BANDING32BAB V.KESIMPULAN35DAFTAR PUSTAKA 26

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangAlergi adalah respon jaringan yang berubah terhadap antigen spesifik atau alergen. Hipersensitivitas pejamu bergantung pada antigen, frekuensi paparan, genetik dari individu tersebut, dan kepekaan relatif tubuh pejamu.(2)

Alergi hidung dapat bersifat musiman, atau menetap jika disebabkan oleh debu rumah, bulu binatang, kain yang terlalu sering dipakai, atau ingestan dalam diet sehari-hari. Hampir semua materi dalam udara atau yang dapat ditelan terbukti memiliki sifat alergenik. Seringkali seorang pasien alergi terhadap sejumlah agen daripada hanya satu inhalan saja.(2)

Rinitis alergika terjadi bilamana suatu antigen terhadap seorang pasien telah mengalami sensitisasi, merangsang satu dari enam reseptor neurokimia hidung, yaitu : reseptor histamine H1, adrenoreseptor-alfa, adrenoreseptor-beta2, kolinoreseptor, reseptor histamine H2, dan reseptor iritan. Dari semua ini, yang terpenting adalah reseptor histamine H1, dimana bila terserang oleh histamine akan meningkatkan tahanan jalan nafas hidung, menyebabkan bersin-bersin, gatal dan rinore.(2)

Rinitis alergika telah terbukti berkaitan dengan insiden asma dan ekzema atopik. Suatu penelitian pada sekelompok mahasiswa dengan rinitis alergika memperlihatkan bahwa 17 hingga 19 persen dari mereka juga menderita asma, namun 56 sampai 74 persen pasien asmatik ternyata menderita rinitis alergika. Tampaknya ada predisposisi herediter terhadap kondisi-kondisi ini.(4)

I.2 Rumusan Masalah Apakah definisi dan etiologi dari Rinitis Alergi ? Bagaimana patologi terjadinya Rinitis Alergi ? Bagaimana gambaran klinis dan diagnosis dari Rinitis Alergi ? Apa saja pemeriksaan yang mendukung diagnosis Rinitis Alergi ? Bagaimana penatalaksaan dalam menangani Rinitis Alergi ?

I.3 TujuanPenulisan makalah tinjauan kepustakaan ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan dan penatalaksanaan dari Rinitis Alegi.

I.4 ManfaatHasil dari penulisan tinjauan pustaka ini dapat memberikan informasi mengenai etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan dan penatalaksanaan dari Rinitis Alergi. Selain itu, dapat juga dijadikan sebagai bahan dasar pada penelitian selanjutnya.

BAB IIANATOMI HIDUNG2.1. ANATOMI

Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah: 1 1. pangkal hidung (bridge), 2. dorsum nasi, 3. puncak hidung, 4. ala nasi, 5. kolumela dan 6. lubang hidung (nares anterior).

Gambar 1. Anatomi Hidung Bagian Luar

Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan lubang hidung. Kerangka tulang terdiri dari: 1

1. tulang hidung (os nasalis), 2. prosesus frontalis os maksila dan 3. prosesus nasalis os frontal

Gambar 2. Anatomi Kerangka Hidung

sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terletak di bagian bawah hidung, yaitu: 1

1. sepasang kartilago nasalis lateralis superior, 2. sepasang kartilago nasalis lateralis inferior (kartilago alar mayor), 3. beberapa pasang kartilago alar minor dan 4. tepi anterior kartilago septum.

Rongga hidung atau kavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke belakang, dipisahkan oleh septum nasi di bagian tengahnya menjadi kavum nasi kanan dan kiri. Pintu atau lubang masuk kavum nasi bagian depan disebut nares anterior dan lubang belakang disebut nares posterior (koana) yang menghubungkan kavum nasi dengan nasofaring. 1

Bagian dari kavum nasi yang letaknya sesuai dengan ala nasi, tepat dibelakang nares anteriror, disebut vestibulum. Vestibulum ini dilapisi oleh kulit yang mempunyai banyak kelenjar sebasea dan rambut-rambut panjang yang disebut vibrise. 1

Tiap kavum nasi mempunyai 4 buah dinding, yaitu dinding medial, lateral, inferior dan superior. Dinding medial hidung ialah septum nasi. Septum dibentuk oleh tulang dan tulang rawan. Bagian tulang adalah lamina perpendikularis os etmoid, vomer, krista nasalis os maksila dan krista nasalis os palatina. Bagian tulang rawan adalah kartilago septum (lamina kuadrangularis) dan kolumela. 1Septum dilapisi oleh perikondrium pada bagian tulang rawan dan periostium pada bagian tulang, sedangkan diluarnya dilapisi pula oleh mukosa hidung. Bagian depan dinding lateral hidung licin, yang disebut ager nasi dan dibelakangnya terdapat konka-konka yang mengisi sebagian besar dinding lateral hidung. 1

Pada dinding lateral terdapat 4 buah konka. Yang terbesar dan letaknya paling bawah ialah konka inferior, kemudian yang lebih kecil adalah konka media, lebih kecil lagi ialah konka superior, sedangkan yang terkecil disebut konka suprema. Konka suprema disebut juga rudimenter. 1

Gambar 3. Anatomi Hidung Bagian Dalam

Konka inferior merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os maksila dan labirin etmoid, sedangkan konka media, superior dan suprema merupakan bagian dari labirin etmoid. Di antara konka-konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga sempit yang disebut meatus. Tergantung dari letak meatus, ada tiga meatus yaitu meatus inferior, medius dan superior. Meatus inferior terletak di antara konka inferior dengan dasar hidung dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus inferior terdapat muara (ostium) duktus nasolakrimalis. Meatus medius terletak di antara konka media dan dinding lateral rongga hidung. Pada meatus medius terdapat bula etmoid, prosesus unsinatus, hiatus semilunaris dan infundibulum etmoid. Hiatus semilunaris merupakan suatu celah sempit melengkung dimana terdapat muara sinus frontal, sinus maksila dan sinus etmoid anterior.1

Pada meatus superior yang merupakan ruang di antara konka superior dan konka media terdapat muara sinus etmoid posterior dan sinus sfenoid. Dinding inferior merupakan dasar rongga hidung dan dibentuk oleh os maksila dan os palatum. Dinding superior atau atap hidung sangat sempit dan dibentuk oleh lamina kribriformis, yang memisahkan rongga tengkorak dari rongga hidung. 1

2.2. PENDARAHAN

Bagian atas rongga hidung mendapat pendarahan dari a.etmoid anterior dan posterior yang merupakan cabang dari a.oftalmika, sedangkan a.oftalmika berasal dari a.karotis interna.1

Bagian bawah rongga hidung mendapat pendarahan dari cabang a.maksilaris interna, di antaranya ialah ujung a.palatina mayor dan a.sfenopalatina yang keluar dari foramen sfenopalatina bersama n.sfenopalatina dan memasuki rongga hidung di belakang ujung posterior konka media. 1

Bagian depan hidung mendapat pendarahan dari cabang-cabang a.fasialis. Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang a.sfenopalatina, a.etmoid anterior, a.labialis superior dan a.palatina mayor, yang disebut pleksus Kiesselbach. Pleksus Kiesselbach letaknya superfisial dan mudah cidera oleh trauma, sehingga sering menjadi sumber epistaksis terutama pada anak. 1

Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan dengan arterinya. Vena di vestibulum dan struktur luar hidung bermuara ke v.oftalmika yang berhubungan dengan sinus kavernosus. Vena-vena di hidung tidak memiliki katup, sehingga merupakan faktor predisposisi untuk mudahnya penyebaran infeksi sampai ke intrakranial. 1

2.3. PERSARAFAN

Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari n.etmoidalis anterior, yang merupakan cabang dari n.nasosiliaris, yang berasal dari n.oftalmikus. Rongga hidung lainnya, sebagian besar mendapat persarafan sensoris dari n.maksila melalui ganglion sfenopalatina. 1

Ganglion sfenopalatina, selain memberikan persarafan sensoris, juga memberikan persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosa hidung.Ganglion ini menerima serabut-serabut sensoris dari n.maksila, serabut parasimpatis dari n.petrosus superfisialis mayor dan serabut-serabut simpatis dari n.petrosus profundus.Ganglion sfenopalatina terletak di belakang dan sedik