Ringkasan fenomenologi

download Ringkasan fenomenologi

of 22

  • date post

    06-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    207
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Ringkasan fenomenologi

RINKASAN DISERTASI

KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN ISLAM(Studi Fenomenologi di MIN Malang I)

Oleh:

SITI RUCHANAHNIM: FO.15.03.30

PROGRAM PASCASARJANAIAIN SUNAN AMPEL SURABAYA 2010

A. Latar Belakang Masalah Kepemimpinan yang baik selalu dikaitkan dengan keberhasilan sebuah madrasah. Ada korelasi yang signifikan antara peningkatan kinerja madrasah dengan efektifitas seorang pemimpin. Edmonds yang menyebutkan bahwa madrasah yang baik dipimpin oleh pemimpin yang baik. Senada dengan Edmonds, Rutherford juga menyatakan bahwa pemimpin yang efektif memiliki visi yang jelas sehingga memiliki program kerja yang jelas pula. Sementara Rutter sebagaimana yang dikutip oleh Sergiovanni menyatakan bahwa kepala madrasah menjadi kata kunci keberhasilan dan peningkatan kualitas muridnya. Sementara itu untuk menjadi pemimpin yang baik tidak semata-mata karena faktor bawaan, akan tetapi juga karena diusahakan. Latar sosial dan budaya seorang pemimpin dan miliu sosial madrasah menjadi salah satu yang berpengaruh terhadap efektifitas kepemimpinan kepala madarasah, sehingga menjelaskan konstruksi sosial warga madrasah dan latar sosial dan budaya kepala madrasah menjadi sebuah keharusan untuk mengungkap keberhasilan sebuah lembaga pendidikan semisal madrasah. B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas maka ada beberapa permasalahan penelitian yang dirumuskan sebagai berikut: 1. Bagaimana konstruksi sosial warga madrasah tentang kepemimpinan kepala MIN Malang I ? 2. Bagaimana pola kepemimpinan kepala madrasah dalam mengelola MIN Malang I? C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk: 1. Mendeskripsikan konstruksi sosial warga madrasah tentang kepemimpinan Kepala MIN Malang I 2. Mendeskripsikan pola kepemimpinan kepala madrasah dalam mengelola MIN Malang I

D. Metode Penelitan Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, yaitu dengan mengandaikan peneliti sendiri sebagai instrumen kuncinya dan menggunakan latar sosial apa adanya (natural setting). Sedangkan jenis penelitian ini adalah studi kasus, yaitu di MIN Malang I pada kasus kepemimpinan kepala madrasahnya. Untuk mengumpulkan data digunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Sedangkan analisis data meliputi analisis domain, analisis taksonomi, analisis komponensial dan analisis tema budaya. E. Landasan Teori

2

Keberadaan Madrasah Ibtidaiyah di Indonesia sebagian besar belum efektif. Semangat sangat tinggi dalam menyelenggarakan madrasah bagi masyarakat Indonesia, belum dibarengi dengan kapasitas kekuatan dan kecakapan yang memadai baik visi (vision), inisiatif (initiative), dan kreativitas pemimpinnya (resourcefulness) dalam mencapai tujuan yang tinggi, validitasreliabilitas sistem dan proses yang cepat, dan kecermatan-ketinggian responsibilitas terhadap lingkungan. Dengan demikian, kesenjangan antara kuantitas yang ditandai dengan menjamurnya jumlah madrasah tidak seimbang dengan kualitas lembaga tersebut, sehingga kesenjangan semakin menjadi-jadi. Sementara itu kontruksi sosial yang merupakan derivasi dari fenomenologi dalam penelitian ini diposisikan sebagai metode untuk memahami fenomena sosial yang menjadi fokus kajian, tentang kepemimpinan MIN Malang I. Teori fenomenologi berada di bawah paradigma 1 definisi sosial. Paradigma ini dikemukan oleh Max Weber, yang mengtakan bahwa sosiologi mencoba memberikan pemahaman interpretatif mengenai tindakan sosial, yang dimaksud tindakan sosial di sisni adalah semua perilaku manusia apabila yang bertindak itu memberikan suatu arti subjektf.2 Dengan demikian, dalam mengungkap penelitian tentang kepemimpinan madrasah MIN Malang I berdasarkan paradigma tersebut, maka teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori fenomenolog. Teori fenomenologi lahir sebagai reaksi metodologi positivistik yang diperkenalkan Comte. Pendekatan positivisme ini selalu mengandalkan seperangkat fakta sosial yang sosial yang bersifat objektif atas gejala yang nampak mengemuka, sehingga metode ini cenderung melihat fenomena hanya dari kulitnya saja dan tidak mampu memahami makna dibalik gejala yang tampak tersebut.3 Fenomenologi yang digunakan dalam penelitian ini untuk memahami pemahaman informan terhadap fenomena yang muncul dalam kesadarnnya serta fenomena yang dialami oleh informan yang dianggap sebagai entitas sesuatu yang ada dalam dunia, yaitu kepemimpinan kepala MIN Malang I. Dalam melakukan vesrtehen, seorang peneliti masuk dalam pikiran oinforman. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan melakukan pengamatan partisipan dan wawancara yang intensif agar mampu mendemonstrasikan tentang cara yang dilakukan oleh informan dan subjek penelitian dalam kepemimpinan kepala madrasah dalam mengelolah MIN Malang I. Dalam menggali informasi dan upaya untuk mendapatkan hasil yang menghasilkan terkait dengan kepemimpinan kepala madrasah dalam mengelola MIN Malang I, peneliti berperan sebagai partisipan. Meskipun demikian, peneliti tidak memiliki kepentingan apapun terkait dengan kepemimpinan MIN Malang I. F. Hasil Penelitian1 2

Zainuddin Malik, Narasi Agung Tiga Teori Sosial Hermeneutik (Surabaya: LPAM, 2000), 15-16. Imam Suprayogo dan Tobroni, Metodologi Penelitian Sosial-Agama (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), 100. 3 Muhammad Basrowi, Teori Sosial dalam Tiga Paradiqma (Surabaya: Yayasan Kampusina, 2004), 59.

3

Dari penelitian ini diperoleh hasil sebagai berikut: 1. Secara internal warga sekolah sebagai sebuah sistem sosial dalam sebuah organisasi formal memiliki kesamaan visi yaitu untuk memajukan madrasah. Secara sistemik akhirnya terbentuk jaringan kerjasama (networking) yang saling kait mengait untuk sampai kepada tujuan organisasi tersebut di bawah kepemimpinan kepala madrasahnya. Sedangkan secara eksternal masyarakat sekitar madrasah secara sukarela memiliki kepedulian yang cukup tinggi terhadap keberlangsungan pendidikan Islam di Madrasah. Andil dan kontribusi masyarakat tersebut sesungguhnya tidak terlepas dari peran sosial kepala madrasah di masyarakat, sehingga ada garis sambung sirkular yang bersifat simbiosis antara masyarakat dengan MIN Malang I 2. Kepemimpinan pendidikan di MIN Malang I dapat dikategorikan sebagai kepemimpinan transformasional yang bercorak konstruktivistik, yaitu sebuah pola kepemimpinan di mana kepala madrasah dapat mentransformasikan individu agar mau berubah dan meningkatkan dirinya dengan melibatkan motif dan pemenuhan kebutuhan serta penghargaan terhadap para bawahan melalui konstruksi pengalaman secara berkelanjutan. Ciri utama dari pola kepemimpinan ini adalah idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, dan individual consideration. Sedangkan pola kepemimpinan pendidikan di MIN Malang I adalah sebagai berikut: (a) pola kepemimpinan demokratis teologis konstruktivistik. pola ini dicirikan sebagai Facilitative Leadership. yang menitikberatkan pada collaboration dan empowerment dengan didasarkan pada nilai dan semangat ibadah lillahi taala; (b) kepemimpinan konstruktivistik dengan pola uswah h{asanah. Konsep keteladanan (al-uswah al- h{asanah) ini berdasar pada konsep prophetic-leader yang dicontohkan Nabi Muhammad saw, sehingga kepribadiannya menjadi panutan (attractiveness) dan figur bagi komunikasi madrasah; dan (c) kepemimpinan konstruktivistik model humanis teologis. Gaya ini memposisikan pemimpin sebagai sosok yang ramah dan egaliter diilhami oleh nilai agama serta penalaran yang kritis sehingga menjadi humanis dan egaliter serta konstruktif.

G. Implikasi Teoritik Kajian tentang kepemimpinan kepala madrasah di MIN Malang I memberikan gambaran tentang bagaimana sebuah ide, gagasan dan pemikiran seorang kepala madrasah dikonstruksi oleh berbagai hal termasuk warga madrasah, baik di internal madrasah maupun eksternal madrasah. Madrasah sebabagi institusi pendidikan Islam dikategorikan sebagai lembaga Industri mulia (noble industry) karena mengemban misi ganda, yaitu profit sekaligus sosial. Misi profit yaitu untuk mencapai keuntungan. Hal ini dapat diperoleh ketika efisiensi dan efektifitas dana bisa tercapai, sehingga pemasukan (income) lebih besar dari biaya operasional. Misi sosial madrasah

4

bertujuan untuk mewariskan dan menginternalisasikan nilai-nilai luhur. Kedua misi ini dapat dicapai secara maksimal apabila lembaga madrasah tersebut memiliki modal human-capital dan social-capital yang memadai dan juga memiliki tingkat keefektifan yang tinggi. Oleh sebabnya itu, mengelola madrasah tidak hanya dibutuhkan profesionalisme yang tinggi, tetapi juga misi niat-suci dan mental-berlimpah, sama halnya dengan mengelola noble industry yang lain seperti rumah sakit, panti asuhan, yayasan sosial, lembaga riset atau kajian dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Salah satu faktor kunci keberhasilan madrasah berprestasi adalah kepemimpinan atau manajemen kepala madrasah. Edmonds menyebutkan bahwa madrasah-madrasah yang selalu meningkatkan prestasi kerjanya adalah yang dipimpin oleh kepala madrasah yang baik. Menurutnya, organisasi yang dinamis senantiasa dipimpin oleh pemimpin yang baik, yaitu pemimpin yang selalu berupaya meningkatkan prestasinya. Sementara itu Havelock menyatakan bahwa kepala madrasah adalah agen perubahan. Rutherford menyebutkan bahwa kepala madrasah yang efektif memiliki visi yang jelas, dan mampu menerjemahkannya menjadi sasaran madrasah yang berkembang menjadi harapan besar di masa depan yang dipahami, dihayati dan diwujudkan oleh seluruh warga madrasah. Rutter, sebagaimana dikutip Sergiovanni, menyimpulkan bahwa kepala madrasah merupakan kunci keberhasilan bagi peningkatan kualitas keluaran murid. Sedangkan menurut kajian Kyte, Sergiovanni, Greenleaf, Dubin, dan Lipham, bahwa kesuksesan madrasah sangat ditentukan oleh kualitas kepemimpinan kepala madrasah bersangkutan. Sementara itu Muhaimin menyebutkan bahwa kualitas seorang pemimpin madrasah menjadi kata kunci keberhasilan pendidikan di lembag