RENCANA KINERJA - ikta.· pembangunan industri adalah untuk mewujudkan industri yang mandiri,...

download RENCANA KINERJA - ikta.· pembangunan industri adalah untuk mewujudkan industri yang mandiri, berdaya

of 34

  • date post

    15-Mar-2019
  • Category

    Documents

  • view

    214
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of RENCANA KINERJA - ikta.· pembangunan industri adalah untuk mewujudkan industri yang mandiri,...

RENCANA KINERJA

DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI KIMIA, TEKSTIL, DAN ANEKA

TAHUN 2017

KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DIREKTORAT JENDERAL KIMIA, TEKSTIL, DAN ANEKA

JAKARTA, APRIL 2016

i

KATA PENGANTAR

Dalam rangka meningkatkan implementasi program penumbuhan dan pengembangan industri kimia, tekstil, dan aneka tahun 2017 yang lebih berdayaguna, berhasilguna, dan untuk memantapkan akuntabilitas kinerja, Direktorat Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (Ditjen IKTA) perlu menyusun Rencana Kinerja (Renkin) Ditjen IKTA Tahun 2017. Dokumen Renkin memuat informasi tentang sasaran yang ingin dicapai, hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai, dan indikator kinerja yang diharapkan dapat mengarahkan perumusan program kegiatan Ditjen IKTA Tahun 2017 sehingga dapat menjadi perwujudan penyelenggaraan tugas umum pemerintah dan pembangunan secara baik dan benar (good governance).

Penyusunan dokumen ini bertujuan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi pelaksanaan tugas pokok dan fungsi pemerintahan yang lebih berdaya guna, bersih, dan bertanggung jawab dalam rangka pencapaian visi, misi, dan tujuan organisasi.

Memasuki tahun 2016, Ditjen IKTA menyusun Rencana Kinerja Ditjen IKTA Tahun 2017 yang mencakup Rencana Strategis, Hasil-Hasil Pembangunan, Arah Kebijakan Pembangunan, Sasaran Strategis, dan Indikator Kinerja yang menggambarkan tugas pokok dan fungsi dalam rangka pencapaian visi dan misi yang telah ditetapkan. Disamping itu, Rencana Kinerja Ditjen IKTA Tahun 2017 ini disusun sebagai bahan masukan bagi Ditjen IKTA guna meningkatkan kinerja di masa mendatang.

Jakarta, April 2016 Direktur Jenderal

Ttd.

Harjanto

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................. i DAFTAR ISI ......................................................................... ii DAFTAR TABEL .................................................................... iii DAFTAR GAMBAR .................................................................. iv

I. PENDAHULUAN ............................................................. 1 1.1 Latar Belakang ........................................................ 1 1.2 Maksud dan Tujuan .................................................. 6 1.3 Tugas Pokok dan Fungsi ............................................. 6 1.4 Ruang Lingkup ........................................................ 10

II. PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN INDUSTRI ........................... 11 2.1 Hasil Hasil Pembangunan .......................................... 11 2.2 Arah Pembangunan .................................................. 17

III. AKUNTABILITAS KINERJA ................................................. 22 3.1 Sasaran ................................................................ 22 3.2 Indikator Kinerja ..................................................... 23

IV. PENUTUP .................................................................... 28

iii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Capaian Program Prioritas Ditjen IKTA .......................... 11

Tabel 2.2 Jumlah Permohonan Program Restrukturisasi .................. 15

Tabel 3.1 Rencana Kinerja Ditjen IKTA Tahun 2017 ........................... 24

iv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Bangun Industri Nasional ......................................... 2

Gambar 2.1 Jumlah Perusahaan pemohon dan permohonan yang telah

direalisasikan sampai dengan 31 Desember 2015 ............ 15

Gambar 2.2 Nilai permohonan dan realisasi program sampai dengan 31

Desember 2015 .................................................... 16

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Keberhasilan program pembangunan nasional tidak terlepas dari implementasi prinsip

prinsip tata kepemerintahan yang baik (good governance), yaitu transparansi,

akuntabilitas, dan visi strategis. Prinsip prinsip tersebut dituangkan dalam

manajemen pemerintahan yang mencakup kegiatan komitmen, perencanaan,

koordinasi, pelaksanaan, dan evaluasi. Salah satu aspek penting yang menentukan

keberhasilan pencapaian tujuan pembangunan adalah kualitas komitmen dan

perencanaan. Komitmen pembangunan umumnya dituangkan dalam bentuk kebijakan,

dan perencanaan dituangkan dalam dokumen perencanaan.

Berdasarkan Undang Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian, tujuan

pembangunan industri adalah untuk mewujudkan industri yang mandiri, berdaya saing,

dan maju untuk kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Untuk melaksanakan

Undang Undang tersebut, disusun Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional

(RIPIN) yang berlaku lima tahun, Kebijakan Industri Nasional, dan Rencana Kerja

Pembangunan Industri yang berlaku satu tahun.

Menurut Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri

Nasional, perencanaan pembangunan industri dalam jangka panjang diarahkan untuk :

1. Mampu memberikan sumbangan nyata dalam peningkatan kesejahteraan

masyarakat;

2. Membangun karakter budaya bangsa yang kondusif terhadap proses

industrialisasi menuju terwujudnya masyarakat modern, dengan tetap berpegang

kepada nilai-nilai luhur bangsa;

3. Menjadi wahana peningkatan kemampuan inovasi dan wirausaha bangsa di

bidang teknologi industri dan manajemen, sebagai ujung tombak pembentukan

daya saing industri nasional menghadapi era globalisasi/liberalisasi ekonomi dunia;

2

4. Mampu ikut menunjang pembentukan kemampuan bangsa dalam pertahanan diri

dalam menjaga eksistensi dan keselamatan bangsa, serta ikut menunjang

penciptaan rasa aman dan tenteram bagi masyarakat.

Direktorat Jenderal Industri Kimia, Tekstil dan Aneka (Ditjen IKTA) adalah salah satu

unit kerja di lingkungan Kementerian Perindustrian yang bertanggung jawab terhadap

pengembangan basis industri manufaktur yang meliputi sektor industri kimia dasar,

industri kimia hilir, industri tekstil dan produk tekstil, dan industri aneka. Subsektor

Industri Kimia, Tekstil dan Aneka (IKTA) berkontribusi cukup signifikan pada

perindustrian nasional, yaitu sebagai basis industri manufaktur untuk menunjang

industri andalan masa depan. Hal ini terlihat dalam Bangun Industri Nasional

sebagaimana gambar berikut :

Gambar 1.1

Bangun Industri Nasional

Industri Hulu Agro Industri Hulu

Mineral Tambang Industri Hulu Migas dan

Batubara

Industri Barang Modal

Industri

Farmasi dan

Kosmetik

Industri Alat

Transportasi

Industri

Elektronika &

Telematika

Prasyarat

Industri Pendukung

Industri Andalan

Modal Dasar

Industri Tekstil

dan Alas Kaki

& household

Industri Komponen

VISI & MISI PEMBANGUNAN INDUSTRI NASIONAL

Industri

Pembang

kit Energi

Industri Bahan Penolong &

Aksesoris

Industri

Pangan

Pembiayaan Infrastruktur Kebijakan & Regulasi

Teknologi, Inovasi & Kreativitas Sumber Daya Alam Sumber Daya Manusia

Industri

Pembangkit

Energi

Industri Hulu

Dalam Bangun Industri Nasional, basis industri manufaktur dipandang sebagai tulang

punggung sektor industri nasional. Tantangan yang dihadapi pengembangan basis

industri manufaktur di masa kini adalah keberadaannya masih sangat tergantung pada

ketersediaan Sumber Daya Alam (SDA), Sumber Daya Manusia (SDM) dan Teknologi,

3

Inovasi & Kreativitas. Keadaan basis industri manufaktur saat ini masih dihadapkan

pada beberapa masalah terkait SDA, SDM dan Teknologi, Inovasi & Kreativitas, yaitu :

1. Kekurangan pasokan bahan baku. Hal ini seperti yang dialami oleh industri pupuk

yang kekurangan bahan baku gas, industri besi baja yang kekurangan scrap, dan

industri tekstil yang memenuhi kebutuhan kapasnya dari impor.

2. Terputusnya rantai nilai pengolahan SDA, yaitu misalnya dialami oleh industri

aluminium dimana bauksit sebagai bahan baku diekspor dan diolah di luar negeri

dan kita mengimpor alumina untuk diolah menjadi produk aluminium hulu, antara,

hilir, dan lainnya.

3. Kurangnya ketersediaan SDM terampil. Hal ini seperti yang terjadi pada industri

petrokimia dimana SDM yang sudah ahli/terampil mayoritas berpindah ke industri

petrokimia asing di luar negeri. Demikian pula dengan SDM industri plastik, alas

kaki, dan tekstil dimana masih banyak dibutuhkan SDM terampil, serta tenaga ahli

untuk inovasi desain dan material.

Oleh karena itu, ke depan, industri kimia, tekstil, dan aneka diharapkan menjadi

sumber pertambahan nilai melalui proses pengolahan yang mengarah ke penguatan

dan pendalaman struktur industri, serta hilirisasi industri. Cita-cita tersebut mutlak

membutuhkan peran serta aktif pemerintah. Oleh karena itu, pada periode Rencana

Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2015 - 2019, arah kebijakan

pembangunan industri nasional secara umum diwujudkan melalui :

1. Pengembangan perwilayahan industri, khususnya di luar Pulau Jawa yang terdiri dari :

(1) Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri dalam Koridor ekonomi; (2) Kawasan

Peruntukan Industri dalam Kawasan Ekonomi Khusu