Referat Ppi

download Referat Ppi

of 34

  • date post

    19-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    106
  • download

    0

Embed Size (px)

description

koassfklaporan kasus

Transcript of Referat Ppi

32

BAB IPENDAHULUAN1.1 Latar BelakangPersalinan prematur merupakan penyebab utama kematian dan kesakitan neonatus. Persalinan prematur berkisar 6-10% dari seluruh kehamilan dan merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian perinatal tanpa kelainan kongenital yaitu 75% dari seluruh kematian perinatal.(12)

Menurut World Health Organization (WHO), di antara 130 juta bayi yang lahir setiap tahun di seluruh dunia, 8 juta meninggal sebelum mencapai tahun pertama kehidupan mereka. Di Amerika Serikat, 17-34% dari kematian bayi ini dikaitkan dengan prematuritas, dan hanya sekitar setengah kasus prematur dihasilkan dari penyebab yang dapat diidentifikasi.(8)Angka kejadian persalinan prematur cenderung makin meningkat setiap tahunnya. Data di Amerika Serikat menunjukan bahwa angka kejadian persalinan prematur telah meningkat dari 9,5% pada tahun 1980 menjadi 11% pada tahun 2000. Sementara di negara berkembang 10% dari seluruh kelahiran. Di Indonesia angka kejadian berat badan lahir rendah dan prematur masih tinggi yakni sekitar 14% dari sekitar 4 juta kelahiran. Kematian perinatal untuk bayi-bayi ini adalah 5-6 kali dibandingkan dengan berat badan lahir cukup. Dengan demikian, kelahiran prematur tetap menjadi suatu masalah kesehatan yang utama..(8)

1.2 Rumusan Masalah

Adapun permasalahan yang diangkat dalam referat ini yaitu :

1. Apakah definisi dari persalinan prematur?

2. Apa saja etiologi terjadinya persalinan prematur?

3. Bagaimana mekanisme persalinan normal?

4. Bagaimana mekanisme terjadinya persalinan prematur?

5. Bagaimana penegakan diagnosis ancaman persalinan prematur?6. Bagaimana pencegahan ancaman persalinan prematur?

7. Bagaimana penatalaksanaan ancaman persalinan prematur?1.3 Tujuan

1. Mengetahui definisi dari persalinan prematur

2. Mengetahui etiologi terjadinya persalinan prematur

3. Mengetahui mekanisme persalinan normal

4. Mengetahui mekanisme terjadinya persalinan prematur

5. Mengetahui penegakan diagnosis ancaman persalinan prematur

6. Mengetahui pencegahan ancaman persalinan prematur

7. Mengetahui penatalaksanaan ancaman persalinan prematur1.4 ManfaatDengan referat ini diharapkan dapat menjelaskan bagaimana mendiagnosis persalinan prematur sedini mungkin, faktor yang mempengaruhi terjadinya persalinan preterm dan penatalaksanaan yang sebaik mungkin untuk persalinan preterm.BAB IITINJAUAN PUSTAKA2.1 DefinisiKelahiran prematur didefinisikan sebagai kelahiran bayi pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu. Secara legal, di Inggris, The Amendment to the Infant Life Preservation Act tahun 1992, menetapkan batas viabilitas adalah 24 minggu.(12)WHO menambahkan usia gestasi sebagai satu kriteria bayi prematur, yaitu bayi yang lahir pada usia gestasi 37 minggu atau kurang dan dibuat pembedaan antara berat badan lahir rendah (2500 g atau kurang) dengan prematuritas (37 minggu atau kurang). (1)2.2 EtiologiPersalinan prematur bukanlah wujud satu penyakit, tetapi merupakan gejala atau sindrom yang mungkin mempunyai satu atau lebih sejumlah penyebab. Persalinan prematur dikaitkan dengan inkompetensi serviks, kelainan haemostasis, infeksi dalam uterus, plasenta abruptio atau perdarahan desidua, janin atau stres ibu dan kehamilan ganda. Dalam beberapa kasus, beberapa dari faktor-faktor tersebut dapat saling berkaitan untuk meningkatkan resiko terjadinya kelahiran prematur.(10)

Gambar 2.1 Faktor Resiko Kelahiran Prematur (10)2.2.1 Faktor Ibu2.2.1.1 Infeksi BakteriTerdapat korelasi yang kuat antara infeksi dalam uterus dan mulainya permulaan persalinan preterm spontan. Infeksi pada selaput dan cairan amnion disebabkan oleh berbagai mikroorganisme dapat menyebabkan beberapa kasus seperti ketuban pecah, persalinan prematur, atau keduanya. Infeksi dalam uterus memiliki potensi untuk mengaktivasi semua jalur biokimia yang mengarah pada pematangan serviks dan kontraksi uterus. Infeksi dari darah dari tempat lain jarang terjadi. (2)

PatogenesisTelah diketahui bahwa kelemahan atau pendeknya serviks merupakan faktor utama terjadinya risiko infeksi ascendens bakteri. Namun, terdapat kemungkinan juga bahwa dengan jumlah patogen yang tinggi dalam vagina, bakteri dapat memperoleh akses menuju daerah uterus melalui leher uterus yang berfungsi normal, di mana bakteri tersebut mengaktifkan mediator inflamasi yang membuat serviks menjadi matang dan memendek. Bakteri mungkin juga mendapatkan akses menuju rongga ketuban melalui penyebaran secara hematogen atau melalui bersamaan dengan dilakukannya prosedur yang invasif. (2,8)Produk-produk bakteri seperti endotoksin merangsang monosit desidua untuk memproduksi sitokin, termasuk interleukin-1, faktor nekrosis tumor, dan interleukin-6, yang pada gilirannya merangsang asam arakidonat dan kemudian memproduksi prostaglandin. Prostaglandin E2 dan F2 bertindak sebagai parakrin untuk merangsang kontraksi miometrium. (2,8)Faktor pengaktif trombosit juga ikut berperan dalam aktivasi jaringan sitokin, yang ditemukan di dalam cairan amnion. Faktor pengaktif trombosit diperkirakan diproduksi di dalam paru dan ginjal janin. Oleh karenanya, janin tampaknya memainkan suatu peran sinergistik untuk inisiasi kelahiran preterm yang disebabkan oleh infeksi bakterial. Secara teoritis, hal ini kemungkinan menguntungkan bagi janin yang ingin melepaskan dirinya dari lingkungan yang terinfeksi. (2,8)

Gambar 2.2 Patogenesis Infeksi Bakteri Menginduksi Persalinan Preterm (2)Invasi bakteri yang menghasilkan endotoxin terhadap amnion maupun uterus akan menyebabkan kontraksi uterus akibat pengaktifan mediator-mediator inflamasi.

2.2.1.2 Faktor Gaya HidupFaktor-faktor yang menyebabkan kelahiran prematur (terutama kelahiran prematur spontan) masih belum diketahui dan diapahami dengan baik. Walaupun jalur yang tepat antara merokok selama kehamilan dan kelahiran prematur tidak diketahui, para peneliti berteori bahwa salah satu mekanisme yang dapat diperkirakan ialah gangguan aliran darah plasenta akibat nikotin dan karbon monoksida, yang merupakan vasokonstriktor yang poten pada pembuluh plasenta.(10,13)Plasenta dari ibu yang perokok telah terbukti menjadi lebih besar, dengan meningkatnya luas permukaan plasenta, dan memiliki karakteristik lesi-lesi sebagai akibat kurangnya perfusi dari uterus. Merokok dapat menyebabkan perubahan sel endotel yang kemudian menyebabkan vasokonstriksi dan kekakuan dinding arteriol, dengan perfusi yang kurang dari plasenta. Hal ini, dapat mengakibatkan iskemia dari desidua basalis, yang kemudian menjadi nekrosis dan terjadi perdarahan. (13)Karbon monoksida dalam asap rokok dapat mengganggu oksigenasi janin dengan membentuk carboxyhemoglobin, dan nikotin dapat meningkatkan tekanan darah ibu dan detak jantung, juga menghambat aliran darah ke janin, sehingga pada ibu perokok sering dapat membuat pertumbuhan janin terganggu dan melahirkan dengan berat badan bayi yang rendah. (13)Komplikasi plasenta dapat berupa perdarahan, terutama placenta abruption (solutio plasenta) dan, yang lebih sedikit, ialah plasenta previa, merupakan faktor yang penting dalam predisposisi kelahiran prematur dan bayi lahir mati pada ibu yang merokok selama kehamilan.(13)Dalam sebuah penelitian ditemukan faktor-faktor ibu lain yaitu ibu terlalu muda atau lanjut usia; kemiskinan; penggunaan alcohol, dan faktor-faktor seperti pekerjaan lama berjalan atau berdiri, kondisi kerja berat dan panjang meningkatkan insidensi kelahiran prematur.(7)Pada ibu yang terlalu tua terjadi lesi sklerotik (proses ateriosklerosis) pada arteri miometrium sehingga dapat menyebabkan perfusi yang kurang dari plasenta mengarah pada risiko yang lebih tinggi pada hasil mortalitas dan morbiditas perinatal. Perfusi yang kurang dapat mengakibatkan iskemia dari desidua basalis, yang kemudian menjadi nekrosis dan terjadi perdarahan. (10,13)Hipotesis bahwa adanya hubungan yang buruk antara usia ibu yang terlalu muda dan pendarahan vagina pada awal kehamilan disebabkan adanya bagian ke ketidakdewasaan dari sumbu hipothalamus-hipofisis-gonad saat menarche dan adanya hubungan ginekologis yang terbalik antara usia dan kadar progesteron selama fase luteal dari ovulasi siklus menstruasi. Dan terjadinya pendarahan vagina dikaitkan dengan peningkatan insiden kelahiran premature.(4)2.2.1.3 PerdarahanAbruptio plasenta atau solutio plasenta dapat mengakibatkan terjadinya prematur pelahiran. Ini terjadi melalui pengeluaran trombin yang merangsang kontraksi miometrium oleh reseptor yang diaktivasi protease tetapi secara independen juga disebabkan sintesis dari prostaglandin. Ini menjelaskan kesan klinis bahwa persalinan preterm berkaitan dengan chorionamnionitis sering cepat sedangkan yang berhubungan dengan plasenta abruptio ialah kurang begitu karena pada abruptio plasenta tidak ada proses kematangan (preripening) serviks uterus. Pembentukan trombin mungkin juga mempunyai peran dalam persalinan prematur yang disebabkan karena chorionamnionitis ketika dilepaskannya trombin sebagai akibat dari perdarahan desidua.(13)Plasenta previa ditandai dengan perdarahan yang tidak nyeri, yang tidak muncul sampai trimester II akhir atau setelahnya. Mekanismenya adalah sebagai berikut setelah bulan ke-4 terjadi regangan pada dinding uterus karena isi uterus lebih cepat tumbuhnya dari uterus sendiri, akibatnya ialah bahwa isthmus uteri tertarik menjadi dinding cavum uteri (segmen bawah uterus). Pada plasenta previa, ini tidak mungkin tanpa pergeseran antara plasenta dan dinding uterus, saat perdarahan tergantung pada kekuatan insersi plasenta dan kekuatan tarikan pada isthmus uteri. Jadi dalam kehamilan tidak perlu ada his untuk menimbulkan perdarahan tapi sudah jelas dalam prsalinan his pembukaan menyebabkan perdarahan karena bagian plasenta di atas akan terlepas pada dasarnya.(6,8)2.2.1.5 Kelainan Uterus

Uterus yang tidak normal menganggu resiko terjadinya abortus spontan dan persalinan prematur. Pada