Proyeksi Pertumbuhan Konsumsi dan Produksi Daging Sapi ... ... Proyeksi Pertumbuhan Konsumsi dan...

download Proyeksi Pertumbuhan Konsumsi dan Produksi Daging Sapi ... ... Proyeksi Pertumbuhan Konsumsi dan Produksi

of 24

  • date post

    30-Jul-2020
  • Category

    Documents

  • view

    2
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Proyeksi Pertumbuhan Konsumsi dan Produksi Daging Sapi ... ... Proyeksi Pertumbuhan Konsumsi dan...

  • Induka

    Disampaikan pada Seminar Nasional Aini 15 Mei 2020

    Pembiakan di Feedlot (Breedlot),

    Kendala Solusi

  • Proyeksi Pertumbuhan Konsumsi dan Produksi Daging Sapi Tahun 2016 – 2026

    0

    200

    400

    600

    800

    1000

    1200

    1400

    20162017201820192020202120222023202420252026

    Konsumsi Daging Sapi (ribu ton)

    Produksi Daging Sapi (ribu ton)

    Penduduk (juta orang)

    Pertumbuhan 6% p.a. Harga daging Rp 120 ribu per Kg

    Pertumbuhan 5% p.a. Penyerapan IB 40% dari betina induk

    Tahun 2020 Penduduk 273 juta. Konsumsi 864 ribu ton (4,75 juta ekor) Produksi 669 ribu ton (3,68 juta ekor) Trend gap semakin membesar.

    Tahun 2016 perkiraan produksi peternakan sapi dalam negri sekitar 550 ribu ton per tahun setara 3.03 juta ekor dari populasi sekitar 15,7 juta ekor sedangkan kebutuhan 684 ribu ton setara 3,76 juta ekor sehingga terdapat kekurangan suplai sebanyak 134 ribu ton atau setara 0.74 juta ekor. *data kementan

  • 356.206 ?

    -426.624

    Produksi DN : 50.55 %

    Realisasi 98.391 ton

  • No Tahun Populasi Sapi Potong (Ekor)

    1 2015 15,419,718

    2 2016 15,997,029

    3 2017 16,429,102

    4 2018 16,432,945

    5 2019 17,118,650

    Sumber: Statistik Peternakan Dirjen PKH

    2015 2016 2017 2018 2019

    15,419,718 15,997,029

    16,429,102

    16,432,945 17,118,650

    Keb. Daging 650.000 ton setara : 3.8 - 3.9 juta ekor

    Populasi Sapi Potong

  • No Tahun PI Realisasi % Realisasi vs PI

    1 2012 283.000 278.121 98% 2 2013 467.948 446.412 95% 3 2014 842.209 700.908 83%

    4 2015 600.078 584.714 97%

    5 2016 608.887 581.925 96% 6 2017 732.600 478.838 65% 7 2018 1.070.051 562.233 53%

    8 2019 569.937 601.157 Sampai 18 Oktober 2019

    Sumber: Gapuspindo

    2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019

    278.121

    446.412

    700.908

    584.714 581.925

    478.838 562.233

    601.157

    Ekor

    Note: sebagian PI 2018 realisasi 2019, karena PI berlaku 1 Tahun

  • Masalah mendasar yang belum pernah tuntas diselesaikan

    Ketidak mampuan produksi lokal memenuhi kebutuhan daging Nasional

    1. Gab supply demand semakin tinggi 2. Arah pembangunan belum jelas dan jauh dari

    prinsip berkesinambungan 3. Ego kedaerahan setelah era otomi daerah 4. Pola beternak yang masih belum banyak

    berubah Lemahnya kinerja agrobisnis sapi potong di

    Indonesia

  • SAPI

    ITIK

    SAPI

    PERA

    H

    DOMBA

    KERBAU

    KAMBING AYAM

    BABI

    KETAHANAN PANGAN

    KESEJAHTERAAN

    LUMBUNG PANGAN DUNIA

    1

    2

    3

    HULU/ONFAR

    M

    OFF

    FARM/HILIR

    HUL

    U

    Iklim kondusif Sinergisme pelaku usaha Kerjasama- kemitraan

    • Menguntungkan Berbagai Pihak

    • Keberlanjutan input Produksi

  • PERMENDAG 669/2013 TENTANG STABILISASI HARGA DAGING

    PETERNAK RAKYAT FEEDLOTER

    RPH

    IMPOR DAGING

    IMPOR SAPI

    BAKALAN

    1. Daging Impor dan jeroan di pasar tradisional mendistorsi prod domestik

    2. Harga daging tetap tinggi

    PASAR : HOREKA dan INDUSTRI

    PROSESING

    SAPI betina yang

    kompetitif

  • Rantai Industri Peternakan Sapi Potong

    BUDI DAYA

    PEMBIBITAN PEMBIAKAN PENGGEMUKAN PEMBESARAN

    Semen / Bibit Unggul

    PEMOTONGAN

    DAN PENGOLAHAN

    HASIL

    Pedet ( Tahunan )

    Bakalan ( Dua Tahunan )

    Sapi Siap Potong (Empat bulanan)

    HULU HILIR

    Teknologi Bibit Unggul

    -Pakan dan Operasional Murah - Lahan Pengembalaan - Dekat dengan Sumber Pakan

    - Pakan Efisien (Limbah Pertanian) - Intensif

    UPT – BPTU BIB

    Daging Segar (Harian)

    Peternakan Rakyat Tradisional (Sapi = Tabungan)

    Prodk (Siklu)

    Industri Penggemukkan

    - Standar OIE, NKV - Efisien, Higienis - Dekat pasar

    Industri RPH

  • Rantai Industri Peternakan Sapi Potong

    BUDI DAYA

    PENGGEMUKAN PEMBESARAN

    Bakalan ( Dua Tahunan )

    Sapi Siap Potong (Empat bulanan)

    -Pakan dan Operasional Murah - Lahan Pengembalaan - Dekat dengan Sumber Pakan

    -Pakan Efisien (LimbahPertanian Hsl. Samping Industri, FCR ) - Intensif

    Peternakan Rakyat Tradisional (Sapi = Tabungan)

    Industri Penggemukkan/ Indudtri Feedlott

    Import 550 ribu ekor, ADG 1.3, DOF 120 hari = 85.800 ton Gain Weight , setara 190. 6 ribu ekor sapi dengan BB 450 kg. (Local content)

  • Pemeliharaan betina produktif Proses Pembuntingan Pemeliharaan Induk bunting - Managemen pkn - Persiapan partus Proses Kelahiran - Vasilitas Partus Pemeliharaan paskah melahirkan - Mgnt. Pakan - Waktu sapih - Vasilitas Kdg

    Persiapan Kebuntingan berikutnya (Mgnt. Pakan, perkawinan, fasilitas kdg jepit dsb)

    Tahapan Budidaya Indukan

  • Breedlot 1. Merubah model/Usaha. a. Penggemukan 4 bulan, pembiakan 2.5 -3

    Tahun.

    b. Struktur pembiayaan, (bunga komersial, Operation cost)

    c. Sarana prasarana. (Tidak di design untuk pembiakan, butuh luasan 5 kali fattening)

    d. Dibutuhkan kekuatan modal mandiri, bukan industri yang menarik bagi bank dan resiko tinggi.

  • Breedlot

    2. Biaya indukan import tidak murah. (additional cost).

    a. Bukan bibit kena bea masuk 5 %

    b. Protokol kesehatan dan karantina disamakan dengan sapi bibit.

    c. Fertilitas Indukan

    - Kebiasan dipelihara secara pastoral.

    - Birahi tersembunyi.

    - Kesehatan reproduksi

  • Breedlot

    3. Kesiapan tenaga kerja yang memahami management breedlot (Jumlah tenaga kerja lebih banyak dibanding fattening).

    “ Breedlot merupakan peradapan baru dalam industri sapi potong dan tidak ekonomis dan

    tidak bankable”

    Diperlukan :

    1. Kekhusuan perlakuan (Viskal, Bea masuk,subsidi).

    2. Tidak mematikan usaha pokok feedlot

  • Studi tentang Unpad 2018 tentang Analisis penerapan pementan 02/2017

    1.Usaha terintegrasi yang dapat dikategorikan layak secara finansial adalah pada saat imbangan usaha pembiakan 3% dari kapasitas kandang usaha pengemukan sapi potong. 2. Pada usaha sapi potong terintegrasi, tingkat kelayakan usaha secara finansial akan sangat ditentukan oleh efisiensi dan meminimalkan biaya pakan. 3. Kelayakan usahan finansial integrasi pada imbangan optimal sangat sensitif terhadap perubahan-perubahan faktor external seperti nilai tukar mata uang, bea masuk, tingkat suku bunga, dan pajak badan.

  • Rekomendasi 1. Penerapan kebijakan pemasukan indukan sapi potong

    seharusnya berbasis pada kapasitas kandang yang tersedia dengan imbangan maksimum 3% dari alokasi kandang. Upaya untuk meningkatkan imbangan sapi indukan dapat dilaksanakan dengan mengefisienkan biaya-biaya logistic, pengadaan sapi, pakan dan biaya overhead lainnya.

    2. Peningkatan imbangan alokasi sapi indukan juga dapat

    dilakukan melalui perubahan variable eksternal yang mempengaruhi usaha sapi potong terintegrasi, seperti terdapatnya kebijakan penurunan bea masuk sapi,

    penurunan tingkat suku bunga dan pengurangan nilai

    pajak ( tax allowance).

  • Strategi breedlot

    1. Model sarana dan prasarana efisien efektif.

    2. Pemanfaatan sisa pakan fatenning dengan penyesuaian nurisi sesuai dengan kebutuhan pembiakan pada masing masing pereode.

    3. Model kemitraan yang tepat ( Win-Win).

    4. Kontrol ketat calving inverval, mortalitas anakan, Model perkawinan, abortus.

  • Pakan dan Nutrisi > Rumput/ Hijauan sebagai pakan termurah  90% ransum > Belum ada Zona/Lahan ekslusif untuk menjaga kontinuitas pasokan > Pemberian Suplement Mineral

    Reproduksi > Kesehatan dan kondisi organ reproduksi  variasi waktu ovulasi > Kemampuan observasi estrus  kegagalan IB  Calving interval panjang > Ketersediaan dan manajement pejantan kawin alam  potensi in- breeding

    Faktor Resiko Pembiakan

  •  Kematian > Tinggi pada kelahiran pertama induk dara  Abortus, lahir mati, distoksia > Transfer kolustrum Gagal/atau kurang dalam 1x24 jam  Potensi mati > Biaya anak yang mati membebani HPP anak yang hidup

     Siklus Produksi > 2,5 – 3 Tahun  Butuh kekuatan Modal kerja