Persistent Pain After Breast Cancer Treatment

download Persistent Pain After Breast Cancer Treatment

of 20

  • date post

    15-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    13
  • download

    0

Embed Size (px)

description

jurnal onko

Transcript of Persistent Pain After Breast Cancer Treatment

NYERI YANG MENETAP PASCA TERAPI KANKER PAYUDARAHoward S. Smith, Sheng-Xi Wu

PENDAHULUANKanker payudara merupakan kanker yang paling sering terjadi pada wanita, dengan survival rate 5 tahun lebih dari 80% dengan diagnosis yang lebih dini dan perbaikan manajemen penatalaksanaannya. Dengan peningkatan survival rate, terdapat peningkatan perhatian yang berfokus pada kualitas hidup pada para survivor kanker payudara ini.Faktor-faktor utama yang mempengaruhi kualitas hidup para survivor ialah beberapa efek samping terkait dengan terapi kanker yang terjadi pada hingga 90% pasien selama terapi dan dapat menetap selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah terapi berakhir. Kemoterapi, terapi radiasi, dan terapi hormonal, semua hal tersebut dapat berkontribusi dalam berkembangnya dan menetapnya efek samping, meliputi: limfedema restriksi ekstremitas superior, gangguan kognitif, kelemahan, kesulitan tidur, nyeri, neuropati perifer akibat kemoterapi, kardiotoksisitas, dan kehilangan komponen tulang. Semua efek samping tersebut disertai terapi kanker payudara berpengaruh negatif terhadap kualitas hidup dan aktivitas sehari-hari, menyebabkan ketidakpatuhan terhadap terapi, dan akhirnya mempengaruhi outcome prognosis dan angka survival rate. Intervensi untuk mengatasi efek samping dibutuhkan untuk menurunkan beban gejala, meningkatkan kualitas hidup dan kapasitas fungsional, dan meningkatkan kepatuhan terhadap terapi.Sebuah masalah potensial yang melemahkan yang dimana para survivor kanker payudara dapat menderita karenanya ialah nyeri menetap setelah terapi kanker payudara (persistent pain after breast cancer treatment-PPBCT) yang merupakan efek samping yang sering terjadi dengan angka kejadian sebesar 50%. International Association for the Study of Pain (IASP) telah mengumumkan bahwa nyeri kronik ialah nyeri yang menetap di luar waktu penyembuhan normal, selama 3 bulan, yang dipertimbangkan sebagai waktu paling tepat pada pembagian antara nyeri akut dan kronik. Kemudian, hal tersebut diusulkan pada taksonomi IASP bahwa apabila nyeri berkaitan dengan kanker, 3 bulan akan menjadi waktu yang terlalu lama untuk menunggu sebelum menyebutnya sebagai nyeri kronik.Sebuah analisis multivariat mengenai munculnya nyeri kronik pada para survivor kanker payudara menunjukkan bahwa hanya usia yang lebih muda yang berkaitan dengan peningkatan risiko yang signifikan pada perkembangan nyeri kronik dalam 3 bulan setelah pembedahan. Selanjutnya, pembedahan yang lebih invasif, terapi radiasi setelah pembedahan, dan nyeri pasca operasi akut yang berarti secara klinis tetapi tidak pada status emosi preoperasi, masing-masing hal tersebut secara independen dapat menjadi prediksi adanya nyeri kronik yang lebih intens pada 3 bulan setelah pembedahan.Etiologi terjadinya PPBCT kemungkinan multifaktorial. Berdasarkan ulasan sistematis terkini mengenai angka kejadian dan etiologi nyeri neuropati pada sebanyak 13683 pasien kanker yang teridentifikasi pada 22 penelitian yang layak, baik abnormalitas sensorik maupun lesi diagnostik terbukti berkontribusi pada terjadinya PPBCT pada sebanyak 14 penelitian. Meskipun terapi kanker payudara meliputi berbagai jenis intervensi pembedahan yang berbeda-beda (misal: mastektomi, lumpektomi, biopsi nodus limfatikus utama, dan diseksi nodus limfatikus aksila), dan terapi ajuvan seperti kemoterapi, terapi radiasi dan endokrin, hanya kerusakan saraf sebelumnya dan radioterapi yang muncul sebagai faktor risiko yang signifikan. Detil mengenai etiologi terjadinya PPBCT masih membutuhkan upaya penelitian lebih lanjut.Mekanisme yang terlibat dalam terjadinya PPBCT masih belum pasti dan dapat melibatkan struktur perifer serta spinal dan supraspinal. Event-related potential (ERP) pada pasien-pasien PPBCT, pasien terapi kanker tanpa nyeri menetap, dan sukarelawan sehat menunjukkan karakteristik yang berbeda-beda. PPBCT berkaitan dengan proses stimulus yang tertunda (misal: peningkatan latensi dari positivitas ERP antara 250-310 mdet [P260]) dan meningkat (misal: peningkatan amplitudo P260) ketika dibandingkan dengan pasien terapi kanker tanpa adanya nyeri menetap. Namun, terapi kanker tanpa nyeri yang menetap berkaitan dengan peningkatan proses stimulus (penurunan latensi P260) dan menunjukkan kecenderungan untuk menjadi kurang intes (amplitudo P260 yang lebih rendah) daripada sukarelawan sehat. Hasil ini menunjukkan bahwa terapi dan nyeri yang menetap memiliki efek yang berlawanan pada respon kortikal.

EPIDEMIOLOGI PPBCT GLOBALEpidemiologi PPBCT global masih belum lengkap mungkin karena terabaikannya pengetahuan tentang PPBCT. Pada hal ini angka kejadian PPBCT belum dapat diperkirakan, karena mungkin terdapat penghalang multipel pada pasien dalam melaporkan nyeri yang mereka rasakan pada dokter mereka. Nyeri yang berlanjut setelah terapi menjadi kenyataan yang tidak terduga bagi beberapa wanita dengan kanker payudara dan dapat memicu kecemasan akan adanya rekurensi kanker yang dialaminya, dan beberapa wanita mungkin saja tidak melaporkan rasa nyerinya karena takut apabila nyerinya tersebut menjadi tanda rekurensi dari kanker yang dialaminya. Penghalang dalam bertanya tentang nyerinya tersebut juga dapat karena takut jawabannya tidak akan terelakkan, dan perhatian pada nyerinya akan teralih. Selain itu, beberapa penghalang lainnya yang mungkin ialah seperti: takut akan mengganggu dokter mereka yang sibuk, takut dokter mereka akan berpikir lebih ringan dari yang mereka rasakan (atau menjadi terganggu oleh mereka), takut apabila mereka mengeluh tentang nyerinya-hal ini akan mengalihkan perhatian dokternya dan membuang waktu selama interaksi singkat mereka yang seharusnya lebih berfokus pada diskusi tentang kankernya sendiri ataupun tentang prognosisnya.Peretti-Watel dkk melakukan wawancara secara mendalam dengan para survivor kanker payudara dari Perancis pada 24 bulan setelah didiagnosis kanker dan mendapatkan terapi. Sebanyak 50% partisipan melaporkan mengalami penderitaan karena nyeri kronik yang bermakna. Kebanyakan, nyeri tersebut tidak tertangkap dalam kuesioner World Health Organization Quality of Life (WHOQOL) dan tidak diterapi secara medis. Pasien menormalkan nyerinya dengan berbagai cara: mereka menyadari hal itu sebagai langkah yang dibutuhkan dalam proses pemulihan, sebagai efisiensi terapi, atau sebagai kondisi menetap yang mereka harus belajar untuk hidup dengannya. Meskipun hanya terdapat sedikit laporan pada epidemiologi PPBCT, upaya yang lebih besar harus dicurahkan dalam pengelolaan hal tersebut di masa yang akan datang.

NYERI MENETAP PASCA OPERASI KANKER PAYUDARAHampir semua dari sebanyak 226.870 wanita yang didiagnosis dengan kanker payudara pada tahun 2012 yang akan menjalani operasi, memunculkan fokus pada komplikasi yang paling sering diteliti, yaitu nyeri menetap pasca operasi kanker payudara (persistent pain after breast cancer surgery-PPBCS). PPBCS merupakan hal yang berbeda dari kebanyakan sindrom nyeri lainnya karena hal itu terutama terletak pada regio anterior atau lateral thorax, aksilla, lengan atas sebelah dan/atau medial, yang menyebabkan nyeri membakar, nyeri tajam, sensasi penekanan atau kebas. Insidensi terjadinya sindrom nyeri pada 6 bulan terapi pasca operasi kanker payudara ialah sebanyak 52,9%. Berkaitan dengan perubahan sensitivitas, sebanyak 52,6% menunjukkan adanya nyeri intercostobrakhial, sebanyak 1,3% neuroma, dan sebanyak 3,2% mengalami nyeri payudara karena khayalannya. Nyeri pada area bahu dan/atau thoracoscapula sebagai akibat dilakukannya operasi kanker payudara didapatkan pada 27,2% pasien [risiko relatif (RR) 5,23 95% confidence interval (CI): 1.11e24.64 dan RR 2,01 95% CI: 1,08-3,75]. Pada wanita-wanita yang lebih muda (usia