Perilaku Auditor Dalam Situasi Konflik Audit

download Perilaku Auditor Dalam Situasi Konflik Audit

of 30

  • date post

    29-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    242
  • download

    0

Embed Size (px)

description

Jurnal Akuntansi - Perilaku Auditor Dalam Situasi Konflik Audit

Transcript of Perilaku Auditor Dalam Situasi Konflik Audit

  • Jurnal Mitra Ekonomi dan Manajemen Bisnis, Vol.1, No. 1, April 2010, 83-112 ISSN 2087-1090

    83

    Peran Faktor-Faktor Individual dan Pertimbangan Etis Terhadap Perilaku Auditor dalam Situasi Konflik Audit

    pada Lingkungan Inspektorat Sulawesi Tenggara

    Widi Hidayat Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Airlangga Surabaya

    Sari Handayani

    Alumni Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Airlangga Surabaya

    Abstract: In general, this research aim to know interaction between personality factors and cognate factor to behavior of auditor in situation of audit conflict. In particular, this research tests the role of individual factors consisted of by locus of control, self efficacy, level of education, job experience and gender, to behavior of auditor in situation of audit conflict that is ability of auditor to receive or refuses desire of account to a finding, moderating with ethical consideration. This research applies data obtained from respondent answer in filling questionaire submitted. Respondent in this research is auditor working for Inspektorat Daerah. Data in analysis applies Modered Regression Analysis. This analysis finds that interaction between locus of control, as of ldf efficacy, and level of education with ethical consideration had an effect on to behavior of auditor in situation of audit conflict. While interaction between job experiences and gender with ethical consideration doesn't have an effect on to behavior of auditor in situation of audit conflict. This finding gives support from to research before all and behavior accounting literature. Result of this study implied that explicit recognition of personality variables (i.e. locus of control, self efficacy, level of education, job experience and gender) and ethical consideration as cognitie style variable provides a better explanation for audit practice in an auditor's ethical decision making. Other implications for audit practice were also considered. In addition, to understand the result and implication, constrain and limitations of this study should be carefully though about and for this reason, the study also proposes the directions for future research in the areas. Key works: Locus of control, self efficacy, level of education, job experience, gender, ethical consideration, and

    behavior of auditor in situation of audit conflict. PENDAHULUAN

    Kebutuhan akan transparansi atas penggunaan anggaran pada sektor publik juga

    meningkatkan kebutuhan akan jasa audit. Auditor merupakan profesi yang berlandaskan kepercayaan dari masyarakat untuk memberikan jasa profesionalnya kepada pihak yang berkepentingan, baik pihak internal maupun eksternal. Kepercayaan yang diberikan tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan secara profesional dengan memberikan hasil audit yang berkualitas. Oleh karena itu, dalam menjalankan tugasnya auditor harus bertindak objektif dan independen berdasarkan kode etik profesi mereka.

    Dalam hal ini auditor sering menghadapi situasi dilematis dalam pengambilan keputusan. Menurut Leung (1998) ketika menghadapi situasi yang dilematis dalam proses pengambilan keputusan seorang auditor harus: 1. Dapat mengidentifikasi situasi yang mempunyai implikasi terhadap etika dan moral. 2. Mampu berperan dan bertanggungjawab sebagai auditor.

  • Widi H. & Sari H.

    84

    3. Mampu menggunakan pendekatan yang berbeda dalam menghadapi dilema yang menyangkut etika.

    4. Mengembangkan dan mengaplikasikan dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan etika. Situasi dilematis dalam setting audit dapat terjadi ketika auditor dan klien tidak sepakat

    terhadap beberapa aspek fungsi dan tujuan pemeriksaan. Dalam kondisi ini, klien dapat mempengaruhi proses pemeriksaan yang dilakukan oleh auditor. Klien bisa menekan auditor untuk mengambil tindakan yang melanggar standar pemeriksaan. Karena secara umum dianggap bahwa auditor termotivasi oleh etika profesi dan standar pemeriksaan, maka auditor akan berada dalam situasi konflik. Memenuhi keinginan klien berarti melanggar standar. Penolakan terhadap permintaan klien dapat menghasilkan sanksi berupa kemungkinan penghentian penugasan dan hal ini tentu saja sangat merugikan auditor. Konflik merupakan proses yang dimulai saat salah satu pihak merasa dikecewakan oleh pihak yang lain (Thomas (1976) dalam French and Allbrigh, 1998).

    Pertimbangan dan kesadaan etis merupakan hal yang penting dalam setiap pengambilan keputusan profesional seorang auditor. Oleh karena itu, saat ini banyak bermunculan sejumlah penelitian yang mencurahkan perhatiannya pada masalah ini, serta berusaha untuk menguraikan dan mengevaluasi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perilaku etik auditor (Louwers et al., 1997). Terutama bila dikaitkan dengan rawannya profesi ini terhadap perilaku tidak etis dalam bisnis. Banyak yang berpendapat bahwa etika merupakan landasan pijak bagi praktik akuntansi (Hoesada, 1997).

    Akuntansi keperilakuan membahas tentang perilaku manusia dan hubungannya dengan data akuntansi dan kepuasan bisnis, dan sebaliknya, bagaimana informasi akuntansi mempengaruhi keputusan bisnis dan perilaku manusia (Siegel dan Marconi, 1989). Oleh karena itu, perilaku etis dalam akuntansi tidak dapat diabaikan begitu saja karena memberikan implikasi terhadap perkembangan akuntansi itu sendiri.

    Auditor mempunyai kewajiban untuk menjaga standar perilaku etis tertinggi mereka kepada organisasi dimana mereka bernaung, profesi mereka, masyarakat dan diri mereka sendiri. Analisis terhadap perilaku etis auditor menunjukkan bahwa auditor mempunyai kesempatan untuk melakukan tindakan tidak etis dalam profesi mereka (Finn et al., dalam Fatt, 1995). Auditor yang memiliki landasan etika yang kuat mempunyai kemampuan dalam menghadapi konflik audit yang sering merugikan masyarakat. Ralph Barton Perry, seorang filosof, menyatakan bahwa moralitas merupakan pemecahan dari masalah yang disebabkan oleh adanya konflik, yaitu konflik antara pihak-pihak yang memiliki kepentingan yang sama ataupun yang berbeda (Perry, 1954 dalam French dan Allbright, 1998).

    Faktor-faktor individual dalam penelitian ini adalah locus of control, self efficacy, tingkat pendidikan, pengalaman kerja dan jenis kelamin. Locus of control merupakan persepsi seseorang terhadap siapa yang menentukan nasibnya. Penentuan persepsi ini sangat mempengaruhi bagaimana auditor berperilaku. Keyakinan bahwa dengan bekerja dengan baik akan membawa hasil pada prestasi yang baik pula. Sehingga dengan keyakinan tersebut auditor dapat terus berusaha, tidak menyerah pada keadaan, dan melakukan pekerjaannya dengan hasil maksimal. Self efficacy merupakan keyakinan seseorang mengenai kemampuannya untuk melakukan suatu aktivitas dengan berhasil. Auditor dengan self efficacy tinggi akan melakukan tugasnya hingga berhasil dan sesuai dengan kode etik sebagai auditor sehingga akan cenderung berperilaku etis. Auditor akan menjadi lebih independen dan objektif dalam pengambilan keputusan. Selain locus of control dan self efficacy, faktor individual yang

  • Peran Faktor-Faktor Individual dan Pertimbangan Etis Terhadap Perilaku Auditor dalam Situasi Konflik Audit

    85

    lain adalah tingkat pendidikan. Auditor dengan tingkat pendidikan yang tinggi (S1/S2) diyakini dapat mengambil keputusan dengan bijak dan tidak menyalahi kode etik sebagai auditor. Pemahaman terhadap peraturan perundangan yang berlaku akan sangat baik sehingga cenderung berperilaku sesuai dengan peraturan tersebut. Faktor individual lainnya adalah pengalaman kerja. Pengalaman kerja sebagai auditor merupakan pembelajaran dengan waktu yang cukup lama sehingga mampu mematangkan sikap dan perilaku auditor dalam pelaksanaan tugasnya. Pengalaman kerja akan dapat menempa pola pikir, sikap dan perilaku dalam menghadapi suatu situasi konflik dalam penugasannya sebagai auditor. Jenis kelamin merupakan faktor individual yag sangat sulit diketahui hasil penelitiannya. Membanding antara pria dan wanita dalam pengambilan keputusan merupakan hal yang rumit karena jenis kelamin belum cukup untuk memberikan kesimpulan bahwa pria lebih dapat berperilaku etis dibandingkan dengan wanita atau sebaliknya.

    Selanjutnya dalam literatur Behavioral Accounting disebutkan bahwa interaksi antara variabel personalitas dengan cognitive style bisa mempengaruhi pengambilan keputusan (Siegel & Marconi, 1989). Individual dengan tipe personalitas yang sama bisa mempunyai memiliki cognitive style yang berbeda sehingga perilakunya juga bisa berbeda. Serta disebutkan juga bahwa kedua aspek tersebut berhubungan erat dengan keberhasilan maupun kegagalan auditor dalam menjalankan tugasnya. Penelitian tentang perilaku etis auditor masih sangat penting dilakukan dan masih relevan sampai saat ini bahkan di masa yang akan datang mengingat semakin pentingnya peningkatan sensitivitas auditor terhadap masalah etis, tanggung jawab sosial dan moral pada masyarakat luas. Berbagai sorotan dan tudingan yang ditujukan kepada profesi auditor perlu menjadi perhatian banyak pihak.

    Berdasarkan pada pemikiran di atas, penelitian ini bertujuan untuk menguji peran faktor-faktor individual dan pertimbangan etis auditor dalam situasi konflik audit yang terjadi pada sektor publik. Rumusan Permasalah

    Permasalahan dalam penelitian ini adalah : 1. Apakah interaksi antara Locus of Control (LOC) dan pertimbangan etis berpengaruh

    terhadap perilaku auditor dalam situasi konflik audit? 2. Apakah interaksi antara self efficacy dan pertimbangan etis berpengaruh terhadap perilaku

    auditor dalam situasi konflik audit? 3. Apakah interaksi antara tingkat pendidikan dan pertimbangan etis berpengaruh terhadap

    perilaku auditor dalam situasi konflik audit? 4. Apakah interaksi antara pengalaman kerja dan pertimbangan etis berpengaruh terhadap

    perilaku auditor dalam situasi konflik audit? 5.