Penuntun Praktikum Histologi

download Penuntun Praktikum Histologi

If you can't read please download the document

  • date post

    02-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    102
  • download

    19

Embed Size (px)

description

FK USU 2014

Transcript of Penuntun Praktikum Histologi

21

Kurikulum FK USU 2013

PENUNTUN PRAKTIKUM

PRAKTIKUM HISTOLOGI (BBC1-Pr1-HS)

STRUKTUR JARINGAN EPITHELIUM DAN JARINGAN PENYAMBUNG

TATA TERTIB di LABORATURIUM HISTOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN USU

1. Setiap mahasiswa wajib memakai baju praktikum

2. Setiap mahasiswa wajib berpenampilan rapid an sopan, dan menggunakan sepatu

3. Setiap mahasiswa wajib mempelajari materi praktikum sebelum praktikum dan membawa alat alat yang diperlukan

4. Setiap mahasiswa wajib hadir tepat waktu dan pulang tepat waktu

5. Selama praktikum berlangsung diwajibkan menjaga ketertiban, ketentraman, bekerja efisien serta tidak mengganggu rekan praktikum

6. Sebelum praktikum dimulai, periksa dahulu kelengkapan mikroskop dan slide histology, dan pada akhir praktikum dikembalikan dalam kondisi seperti semula

7. Usahakan hadir setiap jam praktikum. Apabila ada halangan yang terpaksa, laporkan kepada pegawai laboratorium. Pekerjaan pada hari itu harus diselesaikan pada kesempatan lain

8. Bagi mahasiswa yang sudah menyelesaikan praktikum dengan baik akan mengikuti ujian praktikum pada akhir blok

PRAKTIKUM IEPITHELIAL TISSUE

TUJUAN PRAKTIKUM : Mengamati struktur jaringan epitel, sel-sel pada epitel, dan membran basalis.

Sediaan jaringan :

No.

Jenis Epitel

Kode Sediaan

1.

Simple squamous epithelium

US 1

2.

Simple cuboidal epithelium

ES 2

3.

Simple columnar epithelium

DS 12

4.

Pseudostratified epithelium

RS 2

5.

Stratified squamous keratinized epithelium

IS 1

6.

Stratified squamous nonkeratinized epithelium

DS 7

7.

Stratified cuboidal epithelium

IS 1

8.

Transitional epithelium

US 3

Gambar 1

Simple Squamous Epithelium

Lapisan Parietal Kapsula Bowmann (US-1)

10 x 1010 x 40

Keterangan Gambar

1. _____________________________________

2. _____________________________________

3. _____________________________________

4. _____________________________________

Deskripsi gambar 1

No.

Perihal

Deskripsi

1.

Bentuk sel

2.

Bentuk nucleus

3.

Polaritas nucleus

4.

Jumlah lapisan jaringan epitel

5.

Membrana basalis

Jelas / Tidak Jelas

GAMBAR 2

Simple Cuboidal Epithelium

Thyroid Gland (ES-2)

10 x 1010 x 40

Keterangan Gambar

1. _______________________________ 3. ___________________________

2. _______________________________ 4. ___________________________

Deskripsi gambar 2

No.

Perihal

Deskripsi

1.

Bentuk sel

2.

Bentuk nucleus

3.

Polaritas nucleus

4.

Jumlah lapisan jaringan epitel

5.

Membrana basalis

Jelas / Tidak Jelas

Gambar 3

Simple Columnar Epithelium

Colon (DS-12)

10 x 1010 x 40

Keterangan Gambar

1. _______________________________ 3. ___________________________

2. _______________________________ 4. ___________________________

Deskripsi gambar 3

No.

Perihal

Deskripsi

1.

Bentuk sel

2.

Bentuk nucleus

3.

Polaritas nucleus

4.

Jumlah lapisan jaringan epitel

5.

Membrana basalis

Jelas / Tidak Jelas

Gambar 4

Pseudostratified Epithelium

Trachea (RS-2)

10 x 1010 x 40

Keterangan Gambar

1. _______________________________ 3. ___________________________

2. _______________________________ 4. ___________________________

Deskripsi gambar 4

No.

Perihal

Deskripsi

1.

Bentuk sel

2.

Bentuk nucleus

3.

Polaritas nucleus

4.

Jumlah lapisan jaringan epitel

5.

Membrana basalis

Jelas / Tidak Jelas

Gambar 5

Stratified Squamous Keratinized Epithelium

Dermis (IS-1)

10 x 10 10 x 40

Keterangan Gambar

1. _______________________________ 3. ___________________________

2. _______________________________ 4. ___________________________

Deskripsi gambar 5

No.

Perihal

Deskripsi

1.

Bentuk sel pada lapisan terluar

2.

Bentuk nucleus sel pada lapisan terluar

3.

Bentuk sel pada lapisan basal

4.

Lapisan keratin

Ada / Tidak Ada

5.

Membrana basalis

Jelas / Tidak Jelas

Gambar 6

Stratified Squamous Nonkeratinized Epithelium

Esophagus (DS-7)

10 x 10 10 x 40

Keterangan Gambar

1. _______________________________ 3. ___________________________

2. _______________________________ 4. ___________________________

Deskripsi gambar 6

No.

Perihal

Deskripsi

1.

Bentuk sel pada lapisan terluar

2.

Bentuk nucleus sel pada lapisan terluar

3.

Bentuk sel pada lapisan basal

4.

Lapisan keratin

Ada / Tidak Ada

5.

Membrana basalis

Jelas / Tidak Jelas

Gambar 7

Stratified Cuboidal Epithelium

Glandula Sudorifera (IS-1)

10 x 10 10 x 40

Keterangan Gambar

1. _______________________________ 3. ___________________________

2. _______________________________ 4. ___________________________

Deskripsi gambar 7

No.

Perihal

Deskripsi

1.

Bentuk sel pada lapisan terluar

2.

Bentuk nucleus sel pada lapisan terluar

3.

Jumlah lapisan jaringan epitel

Lapisan

4.

Membrana basalis

Jelas / Tidak Jelas

Gambar 8

Transitional Epithelium

Urinary Bladder (US-3)

10 x 10 10 x 40

Keterangan Gambar

1. _______________________________ 3. ___________________________

2. _______________________________ 4. ___________________________

Deskripsi gambar 8

No.

Perihal

Deskripsi

1.

Bentuk sel pada lapisan terluar

2.

Bentuk nucleus sel pada lapisan terluar

3.

Bentuk sel pada lapisan basal

4.

Jumlah lapisan jaringan epitel

Lapisan

5.

Bentuk khas sel permukaan

6.

Binucleate cell pada sel permukaan epitel

Terdapat / Tidak Terdapat

7.

Membrana basalis

Jelas / Tidak Jelas

4

Kurikulum FK USU 2014

Penuntun PraktikumBuku Panduan Mahasiswa

Basics Biology of Cells

PRAKTIKUM IICONNECTIVE TISSUE

TUJUAN PRAKTIKUM : Mengamati struktur jaringan ikat.

Sediaan jaringan :

No.

Connective Tissue

Kode Sediaan

1.

Loose (areolar) connective tissue

IS 1 , IS 2

2.

Dense regular connective tissue

CT 7

3.

Dense irregular connective tissue

IS 1, IS 2

4.

Adipose tissue

IS 1, IS 2

5.

Reticular tissue

LO 1

Gambar 1

Loose (Areolar) Connective Tissue

Papillary Layer of Dermis (IS-1, IS-2)

10 x 10 10 x 40

Keterangan Gambar

1. _____________________________________

2. _____________________________________

3. _____________________________________

4. _____________________________________

5. _____________________________________

6. _____________________________________

Deskripsi gambar 1

No.

Perihal

Deskripsi

1.

Jenis sel yang banyak terdapat

2.

Jenis serabut

3.

Ketebalan serabut

Tebal / Tipis

4.

Perbandingan relatif banyak sel dan serabut

5.

Vaskularisasi

Banyak / Sedikit

Gambar 2

Dense Regular Connective Tissue

Tendon (CT-7)

10 x 1010 x 40

Keterangan Gambar

1. _______________________________ 3. ___________________________

2. _______________________________ 4. ___________________________

Deskripsi gambar 2

No.

Perihal

Deskripsi

1.

Perbandingan relatif banyak sel dan serabut

2.

Ketebalan serabut

Tebal / Tipis

3.

Kuantitas

ground substance

Banyak / Sedikit

4.

Susunan fibroblast

thd serabut kolagen

5.

Struktur fibroblast

6.

Vaskularisasi

Ada / Tidak ada

Gambar 3

Dense Irregular Connective Tissue

Reticular Layer of Dermis (IS-1, IS-2)

10 x 1010 x 40

Keterangan Gambar

1. _______________________________ 3. ___________________________

2. _______________________________ 4. ___________________________

Deskripsi gambar 3

No.

Perihal

Deskripsi

1.

Perbandingan relatif

banyak sel dan serabut

2.

Ketebalan serabut

Tebal / Tipis

3.

Orientasi (susunan) serabut

4.

Kuantitas ground substances

Banyak / Sedikit

5.

Jenis sel

yang banyak terdapat

Gambar 4

Adipose Tissue

Subcutis (IS-1, IS-2)

10 x 1010 x 40

Keterangan Gambar

1. _____________________________________

2. _____________________________________

3. _____________________________________

4. _____________________________________

5. _____________________________________

Deskripsi gambar 4

No.

Perihal

Deskripsi

1.

Bentuk sel

2.

Bentuk nucleus

3.

Letak nucleus

4.

Sitoplasma sel

5.

Jumlah vakuola

di dalam adipocyte

6.

Vaskularisasi

Banyak / Sedikit

Gambar 5

Reticular Tissue

Limfonodus (LO-1)

10 x 1010 x 40

Keterangan Gambar

1. _______________________________ 3. ___________________________

2. _______________________________ 4. ___________________________

Deskripsi gambar 5

No.

Perihal

Deskripsi

1.

Jenis serabut

2.

Jenis sel yang

Terdapat pada jaringan

3.

Susunan serabut

PRAKTIKUM HISTOLOGI (BBC2-Pr1-HS)

PRAKTIKUM BIOKIMIA (BBC2-Pr2-BK)

ISOLASI (EKSTRAKSI) DNA

TUJUAN:

Praktikum Isolasi DNA ini bertujuan agar mahasiswa memahami proses pekerjaan untuk memperoleh DNA dari sel-sel leukosit seperti yang umum dilakukan di laboratorium biologi molekuler dan juga agar lebih memahami perkuliahan mengenai genetika molekuler. Berikut ini adalah protocol kerja untuk mengisolasi DNA tersebut.

TEORI:

DNA dapat diisolasi dari sel-sel darah, jaringan biopsi maupun dari cairan amnion. Beberapa metode untuk meng-isolasi DNA sudah sangat umum digunakan di Laboratorium.

Jika digunakan darah sebagai sampel, pada prinsipnya DNA diisolasi dari sel-sel Leukosit dengan cara memisahkan terlebih dahulu sel-sel darah merah, kemudian sel-sel darah putih di-Lysis untuk memperoleh DNA nya dan DNA tersebut dipisahkan dari protein-protein seluler lainnya sehingga akan diperoleh DNA murni. Kemurnian DNA ini penting diupayakan, sebab untuk proses selanjutnya bila digunakan DNA yang murni akan mempunyai hasil yang lebih baik. DNA tidak hanya ada di inti sel, tetapi juga dijumpai di matrix mitochondria. DNA yang diperoleh biasanya akan diproses/digunakan lebih lanjut sebagai bahan untuk pemeriksaan/proses berikut ini :

Polymerase Chain Reaction (PCR)

Southern blot

Dipotong oleh enzym DNA Retriksi tertentu

Sequence analysis

Dll

CARA KERJA

PROTOKOL ISOLASI GENOMIC DNA DARI WHOLE BLOOD

1. Tbung microcentrifuge 1,5 l steril (pertama) diisi dengan zat anti coagulan (EDTA, Heparin atau Citrat) dan masukan 1 l darah (whole Blood) kedalamnya.

2. Tabung microcentrifuge tersebut digoyangkan perlahan-lahan agar darah dan zat anticoagulan nya bercampur dengan baik.

3. Dengan menggunakan micropipette, kedalam tabung microcentrifuge steril yang lain (kedua) diisikan sebanyak 900 l Cell Lysis Solution.

4. Pipetkan 300 l darah dari tabung microcentrifuge pertama, masikan kedalam tabung kedua yang berisi cell lysis solution. Tabung dibolak-balikan 5-6 kali supaya larutannya bercampur.

5. Tabung tersbut diinkubasikan selama 10 menit pada temperatur ruang dan tabung dibolak-balikan 2-3 kali selama masa inkubasi agar lysis sel darah merah berlangsung lebih baik.

6. Tabung microcentrifuge tersebut dicentrifugasi pada 13.000 rpm (13.000-16.000 x g) selama 20 detik pada temperatur ruang.

7. Supernatant dibuang sebanyak mungkin tanpa mengganggu pellet putih yang tampak. Lebih kurang 10-20 l cairan akan tertinggal dalam tabung tersebut.

8. tabung di-vortex dengan kuat, sebentar (10-15 detik) agar endapan sel-sel darah putih tersuspensi kembali.

9. Sebanya 300 l Nuclei Lysis Solution ditambahkan kedalam suspensi diatas. Larutan dibuat bercampur dengan cara di-pipetkan berulang-ulang sampai 5-6 kali untuk me-lysis sel-sel darah putih. Solution akan menjadi viscous.

10. Jika terlihat gumpalan, maka inkubasikan tabung pada 37oC sampai gumpalan tersebut larut. Tabung didinginkan pada temperatur ruangan. Setelah dingin barulah ditambahkan kedalam Nuclear Lysate ini 100 l Protein Precipitation Solution.

11. Optional : tambahkan larutan RNA-ase 1,5 l kedalam Nuclear Lysate dan bolak balikan tabung 2-5 kali untuk mencampurkannya. Inkubasikan pada 37oC selama 15 menit dan kemudian dinginkan pada temperatur ruanagan.

12. Ditambahkan sebanyak 100 l Protein Precipitation Solution kedalam larutan Nuclear Lysate dan tabung divortex dengan kuat selama 10-20 detik. Gumpalan protein yang kecil mungkin akan terlihat.

13. tabung disentrifugasi 13.500 rpm (13.000-16.000 x g) selama 3 menit, pada temperatur ruangan. Pellet protein yang berwarna coklat tua akan terlihat.

14. Supernatant dipindahkan kedalam tabung microcentrifuge bersih dan steril yang telah diisi dengan 300 l isopropanol (temperatur ruang).

15. Tabung dibalikan perlahan-lahan beberapa kali supaya larutan bercampur hingga terlihat DNA strands seperti benang-benang putih.

16. Setelah itu tabung disentrifugasi pada 13.500 rpm (13.000-16.000 x g) selam 1 menit pada temperatur ruangan. DNA akan terlihat sebagai pellet kecil yang putih.

17. Supernatant dibuang dan ditambahkan 300 l ethanol 70 % temperatur ruang) kedalam DNA tersebut. Bolak-balikan tabung perlahan beberapa kali untuk mencuci pellet DNA, tabung disentrifugasi lagi seperti pada langkah 15 diatas.

18. Dengan hati-hati aspirasikan ethanol (menggunakan micropipette), jangan sampai pelletnya terbuang. Kemudian tabung diletakan secara terbalik diatas kertas absorbent dan keringkan diudara selama 10-15 menit.

19. Terakhir tambahkan 100 l DNA Rehydration Solution kedalam tabung tersebut dan rehidrasi DNA dengan menginkubasikan larutan dengan cara menepuk tabung perlahan atau boleh juga dengan cara membiarkannya pada 4oC selama satu malam.

20. larutan DNA dapat disimpan pada temperatur 2-8oC atau pada temperatur -20oC untuk waktu yang cukup lama.

PRAKTIKUM BIOKIMIA (BBC2-Pr3-BK)

PENGARUH TEMPERATUR TERHADAP AKTIFITAS ENZYM

TUJUAN:

i. Menentukan peranan temperatur dalam mempengaruhi kerja enzym

ii. Melihat aktifitas enzym pada temperatur 0C, temperatur kamar (25C), suhu 50C, dan suhu dimana enzym terdenaturasi 70C

iii. Menentukan temperatur optimal dari kerja enzym (suhu 37C),

CARA KERJA:

1. Saliva (air ludah) diencerkan 1 : 500 dengan aquadest (dalam beaker glass).

2. Kemudian, pada plat penetes dituliskan angka 1,2,3 diseterusnya. disetiap ruangnya dan diteteskan larutan J2-KJ sebanyak 1 tetes pada setiap ruang tersebut.

3. Pada ruang pertama diteteskan 1 tetes larutan Amylum untuk melihat terbentuknya warna biru (sebagai kontrol).

4. Untuk menentukan temperatur optimal enzym Ptyalin pada pH 6,8 maka harus disediakan 4 tabung reaksi dimana pada masing-masing tabung dituliskan 0oC, TK (temperatur kamar), 50oC dan 70oC.

5. Tabung 0oC dimasukan kedalam beaker glass yang berisi es yang sedang mencair, tabung TK dibiarkan pada rak tabung, tabung 50oC diletakan dalam Waterbath dengan temperatur 50oC dan tabung 70oC pada waterbath dengan temperatur 70oC atau pada beaker glass yang temperaturnya diusahakan konstan 70oC dengan bantuan lampu spiritus. Kedalam tiap tabung reaksi tersebut dipipetkan 1 ml larutan Amylum dan 2 ml larutan Buffer Phosphat (pH 6,8).

6. Setelah 5 menit, dimasukan kedalam setiap tabung 2 ml larutan saliva serta dicampur dengan baik. Pada saat yang bersamaan stopwatch ditekan. Larutan dalam tabung reaksi tersebut diambil setiap sebanyak satu tetes pada plat penetes yang berisi dengan larutan J2KJ dan dicatat waktu pada mana warna biru menghilang untuk setiap tabung. Jika warna biru masih tampak meskipun sesudah 30 menit, maka percobaan/penetesan dihentikan. Dari berbagai waktu yang diperoleh pada temperatur yang berbeda-beda diatas, dibuat grafik dan ditentukan temperatur optimal dari grafik tersebut.

LAPORAN HASIL PRAKTIKUM

NAMA:TANGGAL :

N I M:T. TANGAN :

1. REAKSI WARNA PROTEIN

Reagensia

Isi Reagensia

+ Lar. putih telur terjadi

a. Biuret

b. Millon

c. Ksantoprotein

d. Nitroprussid

(Catatan : Tulis tanda (+) bila terjadi reaksi warna, atau tanda (-) bila tidak terjadi reaksi.)2. PERBANDINGAN 2 JENIS PROTEIN

Z a t

Reagensia

Gelatin

Albumin

a. Biuret

b. Millon

c. Ksantoprotein

1. MENUNJUKKAN SULFUR DALAM PUTIH TELUR

Larutan putih telur + NaOH (p), dipanaskan, kemudian + lar. asam cuka 3% dan beberapa tetes lar. Pb. asesat, terbentuk: ----------- berwarna -----------

2. DENATURASI PROTEIN

a. lar. protein = beberapa tetes lar. as. Cuka (e), dipanaskan, terbentuk: ------------------------------------

b,c,d.

Zat

Alkohol

HCl(e)

NaOH

HgCl2

FeCl3

Pb-asetat

Lar. Protein

Tulis (+) bila terbentuk endapan atau (-) bila tidak terbentuk endapan.

T. Tangan Asisten

TUGAS PRAKTIKUM

1. Apa yang dimaksud dengan ikatan peptida? (tuliskan rumusnya). Bagaimana menguji adanya ikatan peptida?

2. Sebutkan isi reagensia Millon, reagensia Ksantoprotein dan reagensia Nitoprussid. Sebutkan juga warna yang terjadi bila suatu asam amino bereaksi positif dengan reagensia-reagensia tersebut.

3. Bagaimana caranya menunjukkan adanya sulfur (S) pada suatu protein ?

Sebutkan 3 macam amino yang mengandung sulfur.

4. Apa yang dimaksud dengan denaturasi protein ?

5. Sebutkan contoh asam amino yang bereaksi positif dengan reagensia Millon, reagensia Ksantoprotein, reagensia Nitroprusid.

6. Sebutkan isi reagensia Biuret dan sebutkan warna yang terjadi jika protein bereaksi positif dengan reagensia Biuret.

PRAKTIKUM BIOKIMIA (BBC2-Pr4-BK)

PENGARUH pH TERHADAP AKTIFITAS ENZYM

TUJUAN:

1. Menentukan peranan pH dalam mempengaruhi kerja enzym

2. Menentukan pH optimal dari kerja enzym

CARA KERJA:

1. Saliva (air ludah) diencerkan 1 : 500 dengan aquadest (dalam beaker glass).

2. Kemudian, pada plat penetes dituliskan angka 1,2,3 diseterusnya. disetiap ruangnya dan diteteskan larutan J2-KJ sebanyak 1 tetes pada setiap ruang tersebut.

3. Pada ruang pertama diteteskan 1 tetes larutan Amylum untuk melihat terbentuknya warna biru (sebagai kontrol).

4. Kedalam satu tabung reaksi dipipetkan 2 ml larutan Buffer Phosphat (pH 6,8) dan 1 ml larutan Amylum 0,5 ml.

5. Kedua larutan dicampur dengan baik dan masukan kedalam waterbath 37oC. Setelah lebih kurang 5 menit, ditambahkan 2 ml larutan saliva kedalam tabung tersebut, dicampurkan dengan baik, kemudian langsung ditekan Stopwatch dan tabung dimasukan kembali kedalam Waterbath.

6. Setiap 60 detik (1 menit) diambil 1 tetes larutan tersebut dan diteteskan pada larutan J2KJ yang berada pada plat penetes. Penetesan terus dilakukan terhadap larutan J2KJ yang berada pada plat penetes hingga tidak ada perobahan warna yang terjadi lagi (catat pada menit keberapa hali ini terjadi). Untuk setiap terjadinya perolehan warna, dicatat menitnya (keberapa) serta warna yang terbentuk

7. Untuk menentukan pH optimal dari enzym Ptyalin pada temperatur 37oC, harus disediakan 6 buah tabung reaksi dan setiap tabung ditulis dengan angka 1 hingga 6. kedalam setiap tabung dipipetkan 1 ml larutan Amylum dan Buffer Phosphat 0,1 mol sebanyak 2 ml, yang pH nya masing-masing 5,3; 5,9; 6,5; 7,2; 7,7 dan 8,3. (Pada setiap tabung yang digunakan, pipet harus dicuci terlebih dahulu). Setelah itu, dipipetkan secepat mungkin berturut-turut pada setiap tabung 2 ml larutan saliva dan dicampurkan dengan baik, serta semua tabung dimasukan kedalam Waterbath pada 37oC. Bersamaan dengan hal tersebut, stopwatch ditekan untuk memulai perhitungan waktu.

8. Selanjutnya setiap 2 menit diteteskan satu tetes dari setiap larutan (No. 1 s/d 6) pada plat penetes, dan ini dilakukan hingga warna biru yang terbentuk menghilang, penetesan diberhentikan bila setelah 30 menit warna biru masih tetap. Dari hasil pengamatan ini dibuat grafik pH dan waktu serta ditentukan pH optimal dari grafik tersebut.

Penuntun Praktikum Buku Panduan Mahasiswa

Basics Biology of Cells