Penuntun Praktikum Fisiologi

Click here to load reader

  • date post

    27-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    271
  • download

    11

Embed Size (px)

description

Faal

Transcript of Penuntun Praktikum Fisiologi

NAMA-NAMA STAF DOSEN DAN ASISTENBAGIAN FISIOLOGI FAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA2012

DOSEN :1. dr. Moch. Erwin Rachman, M.Kes2. dr. Aryani R. Bamahry3. dr. Sri Wahyu4. dr. Arni Isnaini A5. dr. Dwi Anggita6. dr. Tenri S7. Prof. dr. H. Irawan Yusuf, PhD8. Dr. dr. H. A. Wardihan Sinrang, MS9. Dr. dr. Ilhamjaya Patelongi, MS10. Dr. dr. Irfan Idris, M.Kes11. dr. Rini R. Bachtiar, Sp.PD12. dr. Citra Rosyidah13. dr. Qushay Umar Malinta

Asisten :1. Daud Yusuf2. Novi Riyadha Masum3. Restian Tri Pramutya4. Nofianty S.5. Amelia Rosiana6. Hardiyanti7. Maifa Deapaty Tanratu8. Radiatul Indatil

Dosen & Asisten

PRAKTIKUM 1FISIOLOGI CAIRAN TUBUH 1TUJUAN PERCOBAAN1. Mengetahui cara pengukuran tinggi badan dan berat badan yang valid dan realiabel2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi hasil pengukuran tinggi badan dan berat badan3. Mengetahui cara menghitung IMT4. Menghitung kebutuhan cairan tubuh/hari

LANDASAN TEORIHomeostasis cairan tubuh manusiaSel adalah unit fungsi dasar dari tubuh manusia. Agar sel tubuh dapat melakukan tugas individualnya, diperlukan lingkungan ang stabil termasuk pemelihraan suplai nutrient yang mantap dan pembuangan sisa metabolisme secara kontinyu. Regulasi cermat dari cairan tubuh membantu menjamin lingkungan internal yang stabil.

Kompartemen Cairana. Cairan Intraseluler (CIS)CIS adalah cairan yang terkandung dalam sel. Pada orang dewasa, kira-kira 2/3 dari cairan tubuh adalah intraseluler (kira-kira 25 L) pada rata-rata orang dewasa (70 kg). Hanya dari cairan tubuh bayi adalah CIS.

b. Cairan Ekstraseluler (CES)CES adalah cairan di luar sel. Ukuran relative dari CES mnurun dengan peningkatan usia. Pada bai baru lahir kira-kira cairan tubuh terkandung dalam CES. Setelah usia 1 tahun volume relative CES menurun sampai kira-kira 1/3 dari volume total. CES dibagi:

1. Cairan Interstisial (CIT) : cairan disekitar sel, sama dengan kira-kira 8 L pada orang dewasa. Cairan limfee termask didalamnya. Volume CIT pada bayi baru lahir hampir 2 X lebih besar dibandingkan pada orang dewasa.

2. Cairan Intravaskuler (CIV) : cairan yang terkandung dalam pembuluh darah. Vlume CIV pada anak-anak relative sama dengan orang dewasa. Volume darah orang dewasa rata-rata 5-6 L, 3 L nya adalah plasma. Sisanya terdiri dari eritrosit, leukosit, dan trombosit.

3. Cairan Transeluler (CTS) : cairan yang terkandung di dalam rongga khusus dari tubuh. Contoh CTS meliputi cairan cerebrospinal, pericardial, pleural, sinovial, dan cairan intraocular dan sekresi lambung.

PERALATAN YANG DIBUTUHKAN1. Antropometris set2. Timbangan

CARA KERJA1. Pada pengukuran tinggi badan, orang coba harus berdiri tegak, memandang lurus ke depan. Pengukur terletak didinding yang telah diatur. Orang coba tidak boleh memakai alas kaki.2. Pada pengukuran berat badan, orang coba harus memakai pakaian yang minim. Pastikan timbangan dalam keadaan normal sebelum orang coba di timbang.

DESKRIPSI KEGIATAN1. Instruktur melakukan penjelasan praktikum2. Instruktur mempersiapkan 2 alat pengukur tinggi badan (yang telah melekat didinding dan telah diatur) dan 2 alat timbangan.3. Instruktur membagi tugas agar ada pemeriksa dan orang coba dan kemudian bertukar eran dalam setiap kelompok (5 menit).4. Praktikan melakukan pengukuran secara bergantian (20 menit).5. Instruktur memimpi diskusi tentang faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil pengukuran, menghitung IMT dan mengklasifikasikannya serta menghitung kebutuhan cairan perhari (15 menit).

PERTANYAAN1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan validitas dan realibilitas pengukuran!

2. Jelaskan apa yang anda ketahui tentang IMT!

3. Gambarkan dan jelaskan skema kompartemen cairan tubuh!

4. Bagaimana menghitung kebutuhaan cairan tubuh perhari!

5. Jelaskan apa yang anda ketahui tentang udem!

PRAKTIKUM 2FISIOLOGI CAIRAN TUBUH 2TUJUAN PERCOBAAN 1. Mengenal beberapa bentuk sediaan cairan dan elektrolit (oralit/pharolit, NaCl, RL, dextrose 5%)2. Mengenal beberapa bentuk dan kuran abbocath dan infus/tranfus set3. Mengetahui topografi ekstremitas dalam kaitannya dengan teknik infus/tranfusi4. Menghitung tetesan/menit5. Menghitung pengenceran zat tertentu yang dilarutkan dalam caian infuse.

LANDASAN TEORICairan dalam tubuh manusia terdiri atas 2 kompartemen, yakni cairan intraseluler dan cairan ekstraseluer. Pada kondisi normal, osmolaritas cairan intraseluler dan ektraseluler sama. Namun, pada keadaan-keadaan tertentu osmolaritasnya bisa berbeda. Perbedaan osmolaritas ini akan menyebabkan cairan berosmosis. Osmosis cairan ini dapat mengakibatkan kekurangan dan kelebihan cairan pada masing-masing kompartemen cairan tubuh. Untuk mengatasi keadaan tersebut, biasa dilakukan infus intravena.Infus cairan intravena (intravenous fluid infusion) adalah pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh, melalui sebuah jarum, ke dalam pembuluh vena (pembuluh balik) untuk menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat makanan dari tubuh sekaligus untuk menyediakan suatu medium untuk pemberian obat secara intravena.Cairan/larutan yang digunakan dalam terapi intravena berdasarkan osmolalitasnya dibagi menjadi: Cairan HipotonikAdalah cairan infuse yang osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum (konsentrasi ion Na lebih rendah dibandingkan serum), sehingga larut dalam serum, dan menurunkan osmolaritas serum. Maka cairan ditarik dari dalam pembuluh darah keluar ke jaringan sekitarnya, sampai akhirnya mengisis sel-sel yang dituju. Cairan IsotonikSuatu cairan/larutan yang memiliki osmolalitas sama atau mendekati osmolalitas palsma. Cairan isotonik digunakan untuk mengganti volume ekstrasel, misalnya kelebihan cairan setelah muntah yang berlangsung lama. Cairan ini akan meningkatkan volume ekstraseluler. Cairan HipertonikAdalah cairan infus yang osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum, sehingga enarik cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah. adalah total partikel zat terlarut di dalam satu liter airperpindahan cairn/pelarut dari larutan/cairan dengan osmolarittas rendah ke larutan/cairan dengan osmolaritas tinggi

PERALATAN YANG DIBUTUHKAN1. Berbagai bentuk sediaan cairan dan elektrolit2. Berbagai bentuk/ukuran abbocath3. Infus set (makr0 dan mikro)4. Transfus set5. Spoit6. Sediaan dalam bentuk ampul dan vial

CARA KERJA1. Mencatat bentuk-bentuk sediaan cairan dan elektrolit.2. Mencatat berbagai bentuk dan ukuran abbocath.3. Mengamati pembuluh darah vena pada beberapa anggota kelompok.4. Mengamati dan mencatat beberapa perbedaan antara infus set (makro dan mikro) dengan transfus set.5. Menghitung jumlah tetesan permenit dari satu sediaan cairan.6. Menghitung pengenceran sediaan ampulbila dimasukkan ke dalam botol cairan.PERTANYAAN1. Buat tabel komposisi cairan tubuh dan elektrolit pada kondisi normal!

2. Tuliskan komposisi bentuk sediaan cairan dan elektrolit yang tersedia!

3. Tuliskan jenis-jenis ukuran abbocath yang tersedia!

4. Hitung berapa volume cairan yang melewati infus set bila tetesan yang ditetapkan yaitu 20, 25, dan 30 tetes permenit!

PRAKTIKUM 3PRAKTIKUM FISIOLOGI KARDIOVASKULERTUJUAN PERCOBAAN1. Mempelajari cara meraba nadi di berbagai tempat, pemeriksaan, dan menghitung denyut nadi2. Mempelajari cara pengukuran tekanan darah dan mengetahui prinsip dasar instrumentasi pemeriksaan tekanan darah dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tekanan darah secara fisiologis3. Membuktikan adanya katup ven letak pada lengan bawah4. Mempelajari cara pemeriksaan bunyi jantung normal dan prinsip dasar timbulnya bunyi jantungPERALATAN YANG DIBUTUHKAN1. Stopwatch2. Tensimeter air raksa atau anaeroid3. StetoskopCARA KERJA1. Pemeriksaan nadi dan frekuensi nadi1.1. Raba nadi pada dorsal pedis, ujung os radialis, arteri jugularis dan tempat lain1.2. Hitung frekuensi denyut nadi dan catat hasilnya2. Pemeriksaan tekanan darahCara Palpasi (Metode Riva Rocci)2.1. Bebaskan salah satu lengan dari pakaian ketat2.2. Pasang manset, kurang lebih 3 jari di atas fossa kubiti. Perhatikan bagian manset yang berhubungan dengan selang karet udara. Bagian tersebut yang diletakkan di permukaan ventral lengan atas2.3. Setelah manset tepasang, raba nadi radialis dan pompa manset hingga nadi radialis menghilang (tidak berdenyut lagi). Baca berapa tekanan dalam manset.2.4. Selanjutnya, pompa manset lagi, kurang lebih 10-20 mmHg lalu turunkan tekanan hingga nadi radialis teraba kembali. Baca tekanan dalam manset saat nadi radialis teraba kembali. Catat tekanan darah tersebut sebagai tekanan darah sistolis (TDS).Cara Auskultasi2.5. Pasang stetoskop, lalu pompa manset hingga nadi radialis tidak teraba lagi.2.6. Lanjutkan pemompaan manset hingga 20 mmHg lebih tinggi dari tekanan manset pada saat nadi radialis mulai tidak teraba lagi.2.7. Pasang stetoskop pada fossa cubiti. Pastikan stetoskop berfungsi baik.2.8. Turunkan tekanan manset secara perlahan-lahan sampai mulai terdengar bunyi melalui stetoskop, inilah yang disebut bunyi Korotkoff I, dan tekanan manset pada saat itu menunjukkan tekanan darah sistolis (TDS)2.9. Penurunan tekanan manset dilanjutkan hingga bunyi korotkoff mulai menghilang (Korotkoff IV atau V) dan saat itu baca tekanan manset. Tekanan yang terbaca tepat pada saat bunyi tersebut menghilang menunjukkan tekanan darah diastolis (TDD). Bunyi Korotkoff IV lebih tepat.Cara Osilasi2.10. Bila pada saat pemeriksaan tekanan secara palpasi atau auskultasi dilakukan, perhatikan pula osilasi yang terjadi pada permukaan air raksa (tensimeter air raksa) dan jarum penunjuk pada tensimeter anaeroid.2.11. Pada saat tekanan manset mulai diturunkan, perhatikan pula jarum penunjuk (tensimeter anaeroid) dan permukaan air raksa (tensimeter air raksa). Bila saat tekanan manset sedikit lebih randah atau sama dengan tekanan sistolis, maka darah mulai lepas mengalis dan timbul osilasi. Tekanan manset saat muncul osilasi merupakan t