Pengembangan Inovasi Sektor Publik Dalam Kerangka UU ASN

of 11 /11
Disampaikan pada Lokakarya Peningkatan Kompetensi Widyaiswara dengan Tema “Peran Widyaiswara Dalam Implementasi Diklat Aparatur Pola Baru”, Badan Diklat Provinsi Jawa Barat Bandung, 27 Februari 2014 Pengembangan Inovasi Sektor Publik Dalam Kerangka UU ASN Tri Widodo W. Utomo Deputi Inovasi Administrasi Negara LAN
  • date post

    21-Oct-2014
  • Category

    Education

  • view

    1.342
  • download

    13

description

Disampaikan pada Lokakarya Peningkatan KompetensiWidyaiswara dengan Tema “Peran Widyaiswara Dalam Implementasi Diklat Aparatur Pola Baru”, Badan Diklat Provinsi Jawa Barat Bandung, 27 Februari 2014

Transcript of Pengembangan Inovasi Sektor Publik Dalam Kerangka UU ASN

Page 1: Pengembangan Inovasi Sektor Publik Dalam Kerangka UU ASN

Disampaikan pada Lokakarya PeningkatanKompetensi Widyaiswara dengan Tema “PeranWidyaiswara Dalam Implementasi Diklat AparaturPola Baru”, Badan Diklat Provinsi Jawa Barat

Bandung, 27 Februari 2014

Pengembangan InovasiSektor Publik DalamKerangka UU ASN

Tri Widodo W. UtomoDeputi Inovasi Administrasi Negara LAN

Page 2: Pengembangan Inovasi Sektor Publik Dalam Kerangka UU ASN

Inovasi Sektor Publik: Pengertian

� Inovasi berasal dari bahasa Latin innovātus, yg berartimemperbarui (to renew). Jadi, inovasi adalah proses pembaruan sesuatu yg sudah ada, bukan membuat sesuatuyg baru (yg belum ada sebelumnya).

� Membuat perubahan pada suatu hal yg sudah ada, terutama dengan cara memperkenalkan metode-metode baru (New Oxford American).

� Sesuatu yang berbeda dan berdampak (Scott D. Anthony, The Little Black Book of Innovation, Jakarta: Elex Media Komputindo, 2013).

Page 3: Pengembangan Inovasi Sektor Publik Dalam Kerangka UU ASN

Inovasi Sektor Publik: Kriteria

� Ada tidaknya dampak positif atau kemanfaatan darisuatu inisiatif perubahan;

� Mampu tidaknya inisiasi perubahan memberi solusiterhadap masalah yg ada;

� Harus berkesinambungan, tidak tergantung padainisiator / konseptornya;

� Memiliki kompatibilitas dengan sistem diluar dirinya, tidak membentur / melanggar sistem yg telah ada.

Page 4: Pengembangan Inovasi Sektor Publik Dalam Kerangka UU ASN

UU ASN & Inovasi

Page 5: Pengembangan Inovasi Sektor Publik Dalam Kerangka UU ASN

• Meniadakan Eselonisasi, diganti dengan Job-Grading.

• Pasal 1: mengubah PNS dari Pekerjaan menjadi Profesi.

• Pasal 6: memperkenalkan jenis jabatan baru, yakni PPPK (bukanhonor atau outsourcing).

• Pasal 70: pertukaran antara PNS dengan pegawai swasta dalamwaktu paling lama 1 tahun.

• Pasal 71: pola karir terintegrasi nasional.

• Pasal 79: perubahan sistem penggajian dari yg berbasis pangkat/ golongan & masa kerja menuju sistem yg berbasis harga jabatan.

• Pasal 108: pengisian jabatan secara terbuka dan kompetitif padatingkat nasional untuk JPT 1 dan 2, serta pada tingkat PNS untukJPT 3.

ASN sbg Inovasi Sektor Publik

Page 6: Pengembangan Inovasi Sektor Publik Dalam Kerangka UU ASN

ASN butuh Inovasi Manajemen

Diklatpim (pola baru)

Diklat Massal & Jarak Jauh (bukan kelas jauh)

Mengajar

Pengembangan Kompetensi Non-Diklat

Page 7: Pengembangan Inovasi Sektor Publik Dalam Kerangka UU ASN

Diklatpim (Pola Baru)

� Tujuannya tidak sekedar untuk memenuhi kompetensi jabatan, namun juga menciptakan Pemimpin Perubahan.

� Wi tidak lagi sbg pengajar, namun fasilitator sepenuhnya. Sumberilmu bukan lagi Wi, namun sesama peserta (experiential learning).

� Metode on-off, kombinasi pembelajaran di ruang diklat denganaktualisasi di laboratorium diklat.

� Media pembelajaran makin beragam (film pendek, kasus, visitasi, dll).

� Peran Mentor � tanggung jawab keberhasilan Diklat & implementasi hasil Diklat tidak hanya pada LD, tapi juga instansiasal peserta.

� Output pembelajaran peserta menjadi bagian dari proses perubahan yang terukur di instansinya.

Page 8: Pengembangan Inovasi Sektor Publik Dalam Kerangka UU ASN

Diklat Massal & Jarak Jauh

� Titik kritis ASN berupa besarnya jumlah pegawai yg harus dididik, waktu (jam/hari diklat) yg dibutuhkan, serta biaya yg terbatas.

� Perlu sistem dan mekanisme baru yg tidak bersifat face to face, namun bisa diikuti secara simultan oleh sebanyak mungkinpegawai meski berasal dari wilayah yang berjauhan dan zonawaktu yg berbeda pula.

� Mengoptimalkan media online (website), televisi/radio, mobile phone, perpustakaan keliling, dan teleconference sebagai sumberpembelajaran.

� Materi pembelajaran disusun atas modul-modul yg bersifatoptional, setiap calon peserta dapat memilih sesuai kebutuhankompetensinya.

Page 9: Pengembangan Inovasi Sektor Publik Dalam Kerangka UU ASN

Mengajar

� Diklat tidak harus dimaknakan sebagai pengiriman peserta, namun juga penugasan sebagai pengajar.

� Setiap pegawai adalah resource person yg memiliki explicit (terutama implicit) knowledge.

� Pembelajaran secara timbal balik dalam lingkaran kecil di unit terkecil adalah model pengembangan kapasitas terbaik.

� Mengajar = mengikuti Diklat, bahkan lebih. Sebab, teaching is the best way of learning.

Page 10: Pengembangan Inovasi Sektor Publik Dalam Kerangka UU ASN

Pengembangan Kompetensi non-Diklat

� Magang (internship) – Pasal 70 UU ASN;

� Coaching & Mentoring;

� Strategic Exchange (pertukaran kompetensi);

� Open Career System (antar daerah, antar tingkatanpemerintahan, antar sektor);

� Penugasan khusus (special envoy);

� Forum diskusi (seminar, lokakarya, konferensi, kongres, dll);

� Self-learning.

Page 11: Pengembangan Inovasi Sektor Publik Dalam Kerangka UU ASN

Bandung, 27 Februari 2014

Terima KasihSemoga Bermanfaat …