PEGEMBANGAN KAPASITAS KELEMBAGAAN MELALUI .bernegara di Indonesia. ... mudah dipahami sebagai...

download PEGEMBANGAN KAPASITAS KELEMBAGAAN MELALUI .bernegara di Indonesia. ... mudah dipahami sebagai pemerintah

of 28

  • date post

    06-Mar-2019
  • Category

    Documents

  • view

    213
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of PEGEMBANGAN KAPASITAS KELEMBAGAAN MELALUI .bernegara di Indonesia. ... mudah dipahami sebagai...

PEGEMBANGAN KAPASITAS KELEMBAGAAN MELALUI

REFORMASI BIROKRASI DALAM MENYEDIAKAN PELAYANAN

PUBLIK DI PEMERINTAH KABUPATEN JEMBRANA PROVINSI BALI

Dosen Pembimbing :

Drs. Heru Ribawanto, MS

Disusun untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Pembangunan Kapasitas &

Kelembagaan Sektor Publik

Disusun Oleh:

Septinia Eka Silviana 115030101111069

Kelas D

JURUSAN ILMU ADMINISTRASI PUBLIK

FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2014

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Komitmen pemerintah pusat dalam hal pembagian kekuasaan atau

wewenang atas pengelolaan, pengembangan, dan pengaturan urusan rumah tangga

pemerintahan daerah itu sendiri dilaksanakan dengan prinsip-prinsip demokrasi,

peran-serta masyarakat, pemerataan, keadilan, dan memperhatikan potensi serta

keanekaragaman daerah yang ditetapkan dalam Undang-Undang No. 22 tahun

1999, kemudian direvisi menjadi Undang-Undang No. 32 tahun 2004 tentang

Pemerintahan Daerah. Tentunya, dengan adanya penyelenggaraan pemerintahan

dengan azas desentralisasi, maka kekuasaan pemerintahan tidak lagi bertumpu

pada pemerintahan pusat, akan tetapi juga pada pemerintahan daerah. Menurut

Budi Setiyono bahwa dengan otonomi daerah struktur birokrasi sudah tidak lagi

tersentralisasi pada pemerintahan pusat melainkan ada pada pemerintahan daerah.

Kondisi ini menuntut setiap penyelenggaraan pemerintahan di daerah untuk

mengembangkan sistem birokrasi yang sesuai dengan warna dan aspirasi lokal.

Penyelenggaraan otonomi daerah pada hakikatnya sudah berjalan sejak

runtuhnya rezim Orde Baru, di mana gelombang demonstrasi yang marak di

mana-mana yang di pelopori oleh kalangan mahasiswa dan peristiwa itu menuntut

dilakukannya reformasi birokrasi, baik pada pemerintah pusat maupun tingkat

pemerintah daerah. Reformasi pada hakikatnya menghendaki adanya perubahan

yang lebih baik terhadap kinerja di bidang pemerintahan. Hal itu merupakan

konsekuensi dari kritik yang datang secara bertubi-tubi yang ditujukan pada

pemerintah. Kelemahan-kelemahan yang masih ada terutama terletak pada sistem

pemerintahan, di mana kelemahan itu merupakan implikasi dari warisan sistem

pemerintahan Orde Baru, konsekuensinya berbagai stigma negatif yang ditujukan

pada pemerintah, terutama tentang kinerja dan kualitas pelayanan publik.

Selanjutnya, Agus Dwiyanto, dkk dalam penelitiannya tentang kualitas pelayanan

publik yang diselenggarakan oleh PSKK UGM tahun 2000 di tiga provinsi,

menyimpulkan bahwa rendahnya kinerja birokrasi publik sangat dipengaruhi oleh

kuatnya budaya paternalisme, yang cenderung mendorong pejabat birokrasi lebih

berorientasi kepada kekuasaan daripada pelayanan, menempatkan dirinya sebagai

2

penguasa, dan memperlakukan para pengguna jasa sebagai objek yang

membutuhkan bantuannya. Stigma negatif ini menunjukan buruknya sistem

pemerintahan daerah dan memerlukan perubahan paradigma yang meliputi

berbagai aspek kehidupan (reformasi ).

Di satu sisi ada pemerintahan daerah yang berhasil dalam melakukan

reformasi birokrasi dalam menyelenggarakan otonomi daerah, namun disisi lain

masih banyak daerah yang belum mampu melakukan reformasi birokrasi,

sehingga berdampak belum dapatnya pemerintahan daerah menyediakan dan

merespon kepentingan publik. Keberhasilan dan kegagalan pemerintahan dalam

melakukan reformasi birokrasi sangat tergantung pada visi, misi, kreatifitas dan

komitmen, gaya kepemimpinan dan strategi kepala daerah dalam mengelola dan

mengembangkan potensi daerah yang bersangkutan.

Reformasi Administrasi Negara terjadi karena perubahan dan modernisasi

Administrasi Negara (administrative change) tidak berjalan sebagaimana

mestinya sesuai dengan tuntutan keadaan, karenanya diperlukan usaha yang sadar

dan terencana untuk mengubah struktur dan prosedur birokrasi (aspek reorganisasi

kelembagaan, sikap dan perilaku birokrat/aspek prilaku atau kinerja),

meningkatkan efektivitas organisasi (aspek program), sehingga dapat diciptakan

Administrasi Negara yang sehat dan terciptanya tujuan pembangunan nasional.

Perkembangan Administrasi Negara merupakan hal mendasar, karena harus sesuai

dengan arah perkembangan lingkungan global yang semakin kompetitif dalam

seluruh aspek, termasuk dalam tata kelola kepemerintahan. Peran administrasi

public harus sesuai dengan tuntunan zaman, tuntutan masyarakat, tuntutan ilmu

pengetahuan dan teknologi apabila organisasai ingin terus eksis dan survive. Hal

tersebut didukung dengan pendapat Lee dan Smonte (dalam Effendi, 2000)

Penerapan ide-ide baru atau kombinasi ide guna meningkatkan sistem

administrasi agar mampu melaksanakan tujuan pembangunan nasional.

Salah satu bagian dari reformasi administrasi Negara yaitu reformasi

birokrasi. Reformasi birokrasi menjadi sesuatu yang sangat fundamental yang

harus dilakukan oleh Negara-negara yang sedang melakukan reformasi

Administrasi Negara. Sependapat dengan Prasojo dan Kurniawan (2008)

reformasi birokrasi (administrasi Negara) dan good governance merupakan dua

3

konsep utama bagi perbaikan kondisi penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan

bernegara di Indonesia. Memahasi tenatang cara reformasi birokrasi dapat

dilakukan dengan 5 cara yaitu, penataan kelembagaan, penataan ketatalaksanaan,

penataan sumber daya manusia, akuntabilitas dan pelayanan serta kualitas

pelayanan.

Reformasi birokrasi merupakan konsekuensi dari perubahan di bidang

politik, ekonomi dan sosial yang begitu cepat. Representasi organisasi yang

lamban, kaku, berbelit-belit dan terpusat, serta rantai hirarki komando sudah

menjadi ciri khas birokrasi di Indonesia. Sehingga birokrasi menjadi bengkak,

boros, dan tidak efektif. Untuk itu diperlukan suatu kesadaran untuk memperbaiki

birokrasi sebagai organisasi publik. Reformasi merupakan perubahan terhadap

suatu sistem yang telah ada pada suatu masa. Upaya reformasi birokrasi yang

dilakukan berhadapan langsung dengan keterbatasan pada sumber daya manusia,

dana, sarana prasarana dan berbagai persoalan lainnya, sehingga menghasilkan

kebijakan, perilaku, program dan sesuatu yang berbeda pula.

Indonesia termasuk kedalam Negara yang sedang menerapkan reformasi

birokrasi dalam berbagai instansinya. Otonomi daerah menjadi jalan bagi

pemerintah daerah lebih cepat untuk melakukan reformasi birokrasi yang ada di

pemerintahaannya. Salah satu reformasi birokrasi yang dapat dilihat yaitu di

Pemerintah Kabupaten Jembrana. Sebagaimana diketahui, nama Kabupaten

Jembrana dalam beberapa tahun terakhir ini menjadi sorotan publik terkait dengan

prestasinya dalam memberikan pelayanan kebutuhan dasar rakyatnya. Alasan

Pemerintahn Kabupaten Jembrana mereformasi birokrasi dalam pelayanan publik

diantaranya yaitu meningkatnya angka putus sekolah (drop out) akibat mahalnya

biaya pendidikan; dan banyaknya rakyat yang menderita mal nutrisi akibat

melambingnya biaya kesehatan, sehingga Pemkab Jembrana memutuskan untuk

menggratiskan biaya kebutuhan dasar masyarakat. Prestasi Jembrana dalam

membebaskan seluruh biaya pendidikan tingkat dasar (SD) hingga menengah atas

(SMA). Pemkab Jembrana juga membebaskan biaya kesehatan kepada rakyatnya

dengan mengikutsertakan rakyatnya pada program Jaminan Kesehatan Jembrana

(JKJ). Selain itu, Pemkab Jembrana juga melakukan penguatan ekonomi rakyat

secara langsung program penyediaan dana bergulir dan dana talangan. Semua itu

http://www.tifafoundation.org/files/Jembrana.pdf

4

dilakukan dengan tujuan untuk mensejahterakan masyarakat dengan mengubah

persepsi pemerintah yang melayani masyarakat bukan pejabat yang ingin dilayani

masyarakat.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana reformasi birokrasi dalam menyediakan pelayanan publik di

Pemerintah Kabupaten Jembrana?

2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi keberhasilan reformasi

birokrasi Pemerintah Kabupaten Jembrana?

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui bagaimana reformasi birokrasi dalam menyediakan

pelayanan publik di Pemerintah Kabupaten Jembrana

2. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi keberhasilan

reformasi birokrasi Pemerintah Kabupaten Jembrana

5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Good Governance

Menurut UNESCAP dalam good governance memiliki 8 karakteristik

utama. yaitu partisipatif, berorientasi konsensus, akuntabel, transparan,responsif,

efektif dan efisien, adil dan inklusif dan mengikuti aturan hukum. Guna menjamin

bahwa korupsi dapat diminimalkan, pandangan kaum minoritas diperhitungkan

dan suara-suara yang paling rentan dalam masyarakat didengar dalam

pengambilan keputusan. Hal ini juga berkesesuaian dengan kebutuhan sekarang

dan masa depan masyarakat. Menurut BAPPENAS dalam http://bappenas.go.id

pemerintah dalam arti yang paling dasar di terjemahkan sebagai sekumpulan

orang yang memiliki mandat yang absah dari rakyat untuk menjalankan

wewenangnya dalam urusan pemerintahan