Modul Kesling

download Modul Kesling

of 56

  • date post

    03-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    231
  • download

    8

Embed Size (px)

Transcript of Modul Kesling

BAB IPENDAHULUAN1.1Latar BelakangPertanian di Indonesia merupakan sektor yang menyerap paling banyak tenaga kerja, hal ini terlihat berdasarkan data dari Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 2001 yang menunjukan bahwa sekitar 40 juta orang bekerja disektor pertanian dari sekitar 90 juta angkatan kerja yang berusia 15 tahun keatas. Banyaknya tenaga kerja yang bekerja di sektor itu tentunya memerlukan perhatian yang serius dari pemerintah dalam hal keselamatan dan kesehatan kerja para pekerja.1Bertani merupakan suatu kegiatan yang dimulai dari menggemburkan tanah, menyemai bibit, kegiatan dalam upaya meningkatkan produksi seperti pemupukan menggunakan pupuk organik dan kimia sampai penggunaan pestisida dan menuai/memetik hasil panen. Semua rangkaian kegiatan bertani tersebut merupakan kegiatan yang bisa dibilang berisiko apabila para petani tidak memperhatikan hal-hal dalam keselamatan dan kesehatan kerja saat bertani. Dampak kesehatan yang dapat ditimbulkan dari kegiatan bertani seperti penyakit kulit akibat ultraviolet dan bahan agrokimia seperti pupuk kimia dan pestisida sampai keracunan akibat pestisida. Selain itu, dapat juga terjadi penyakit cacingan akibat ketiadaan pemakaian alas kaki ataupun masuk melalui mulut karena tidak memperhatikan kebersihan tangan dan kuku.2Untuk itu, sangat penting bagi para petani untuk menggunakan alat pelindung diri (APD) untuk mencegah dampak-dampak kesehatan yang dapat ditimbulkan dari kegiatan bertani tersebut. Alat pelindung diri yang harus digunakan oleh para petani adalah topi, masker, baju lengan panjang, sarung tangan, celana panjang dan boot.2Pertanian dapat dianggap sebagai satu masyarakat tertutup, sehingga usaha-usaha keselamatan dan kesehatan pun harus disesuaikan dengan sifat-sifat masyarakat demikian, dalam arti menyelenggarakan sendiri dan untuk kebutuhan sendiri. Dalam hal ini sesuai pula dengan luas lahan pertanian yang sudah sepatutnya ada usaha-usaha meliputi bidang preventif dan kuratif, baik mengenai peyakit umum, kecelakaan kerja, dan penyakit akibat kerja.3Petani merupakan salah satu pekerjaan sektor non-formal, orang-orang yang bekerja disektor non-formal memiliki pengetahuan akan pentingnya alat pelindung diri yang masih kurang dibanding orang yang bekerja di sektor formal. Ketersedian dan pemakaian alat pelindung diri juga berbeda, pekerjaan formal seperti di industri, pihak perusahaan sudah menyediakan dan ada pengawasan oleh pihak-pihak tertentu seperti Dinas Tenaga Kerja, sehingga kesehatan dan keselamatan kerja sektor non-formal lebih terjamin, sedangkan petani dengan kondisi yang cukup terbatas biasanya hanya menggunakan alat pelindung diri seadanya, sehingga kesehatan dan keselamatan kerja jauh tidak terjamin dibandingkan sektor formal.3Di kawasan AURI Pekanbaru masih ada masyarakat sipil yang sebagian besar bekerja di sektor pertanian, yang sebagian besar merupakan petani sayur. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran petani akan pentingnya pemakaian APD menyebabkan mereka enggan menggunakan APD saat bertani. Pelaksanaan sosialisasi mengenai pentingnya penggunaan APD saat bertani pada para petani telah pernah dilakukan beberapa tahun yang lalu namun tidak disertai evaluasi dan monitoring, hal ini juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi ketiadaan penggunaan APD. Hal inilah yang melatarbelakangi perlunya optimalisasi sosialisasi pentingnya penggunaan APD saat bertani pada kelompok tani Panca Karya di kawasan pertanian AURI.1.2Tujuan Kegiatan1.2.1Tujuan UmumTujuan umum dari kegiatan ini adalah terlaksananya optimalisasi sosialisasi pentingnya penggunaan APD saat bertani pada kelompok tani Panca Karya di kawasan pertanian AURI.1.2.2Tujuan khususAdapun tujuan khusus dari kegiatan ini adalah : 1. Didapatkannya identifikasi masalah pada kelompok tani Panca Karya di kawasan pertanian AURI.2. Diketahuinya prioritas masalah pada kelompok tani Panca Karya di kawasan pertanian AURI.3. Didapatkannya beberapa alternatif pemecahan masalah dalam kegiatan optimalisasi sosialisasi pentingnya penggunaan APD saat bertani pada kelompok tani Panca Karya di kawasan pertanian AURI.4. Dilaksanakannya alternatif pemecahan masalah dalam kegiatan optimalisasi sosialisasi pentingnya penggunaan APD saat bertani pada kelompok tani Panca Karya di kawasan pertanian AURI.5. Terevaluasinya kegiatan pemecahan masalah dalam kegiatan optimalisasi sosialisasi pentingnya penggunaan APD saat bertani pada kelompok tani Panca Karya di kawasan pertain an AURI.BAB IITINJAUAN PUSTAKA2.1 Tinjauan Tentang PetaniPetani adalah seseorang yang bergerak di bidang bisnis pertanian utamanya dengan cara melakukan pengelolaan tanah dengan tujuan untuk menumbuhkan dan memelihara tanaman (seperti padi, bunga, buah dan lain-lain), dengan harapan untuk memperoleh hasil dari tanaman tersebut untuk digunakan sendiri ataupun menjualnya kepada orang lain.5 Sejarah pertanian telah mencatat bahwa pola pertanian masyarakat petani awal adalah pertanian subsisten. Mereka menanam berbagai jenis tanaman dengan sebatas untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Mereka menanam berbagai jenis biji-bijian ataupun tanaman sayur-sayuran.52.2Keselamatan dan Kesehatan Kerja Petani 2.2.1 Faktor Risiko Kesehatan Kerja PetaniGabungan konsep kualitas kesehatan tenaga kerja sebagai modal awal untuk bekerja dengan resiko bahaya lingkungan pekerjaannya.Petani Indonesia pada umumnya tidak memerlukan transportasi menuju tempat pekerjaannya, namun bagi petani pertanian apalagi yang tinggal diperkotaan yang memerlukan waktu lama menuju tempat kerjanya maka kualitas dan kapasitas kerjanya akan berkurang. Terlebih lagi bagi petani yang menggunakan sepeda motor yang harus exposed terhadap pencemaran udara dan kebisingan jalan raya. Tentu akan menimbulkan beban yang lebih berat.6Mengacu pada teori kesehatan kerja maka resiko kesehatan petani yang ditemui di tempat kerjanya adalah sebagai berikut : 61. Mikroba : faktor resiko yang memberikan konstribusi terhadap kejadian penyakit infeksi akibat parasit. Berbagai faktor risiko yang menyertai cacingan, leptospirosis, gigitan serangga, dan binatang berbisa.2. Faktor lingkungan kerja fisik : sinar ultraviolet, suhu panas, suhu dingin, cuaca, hujan, angin, dan lain-lain.3. Ergonomi : kesesuaian alat dengan kondisi fisik petani seperti cangkul, traktor, dan alat-alat pertanian lainnya.4. Bahan kimia toksik : agrokimia seperti pupuk, herbisida, akarisida, dan pestisida.2.2.2Penyakit-penyakit yang Berhubungan Dengan BertaniSecara teoretis apabila seseorang bekerja, ada tiga variable pokok yang saling berinteraksi. Yakni, kualitas tenaga kerja, jenis atau beban pekerjaan dan lingkungan pekerjaannya. Akibat hubungan interaktif berbagai faKtor risiko kesehatan tersebut, apabila tidak memenuhi persyaratan dapat menimbulkan gangguan kesehatan yang berhubungan dengan pekerjaan. Gangguan kesehatan akibat atau berhubungan dengan pekerjaan dapat bersifat akut dan mendadak, kita kenal sebagai kecelakaan, dapat pula bersifat menahun.berbagai gangguan kesehatan yang berhubungan dengan pekerjaan misalnya para petani mengalami keracunan pestisida dari dari tingkat sedang hingga tingkat tinggi.6Penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan petani yang diderita oleh petani seperti :71. Gangguan kulit akibat sinar ultraviolet dan gangguan agrokimia. Penggunaan agrokimia khususnya pestisida merupaka faktor risiko penyakit yang paling sering dibicarakan. Kondisi kesehatan awal petani berpengaruh terhadap penyakit-penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan. 2. Keracunan akut dan kronis akibat pestisida yang bermanifestasi seperti mual muntah, sakit kepala, keringat berlebihan, diare dan sesak nafas yang sering diabaikan oleh para petani sehingga mereka tidak pernah memeriksakan diri ke puskesmas atau rumah sakit.3. Penderita anemia karena kekurangan gizi disebabkan kecacingan di sawah atau pertanian maupun kurang pasokan makanan, kemudian dapat diperburuk dengan keracunan organofospat.4. sakit pinggang (karena alat cangkul yang tidak ergonomis dan posisi tubuh yang salah ketika mencangkul).2.3Alat Pelindung Diri2.3.1Pengertian Alat Pelindung DiriAlat pelindung diri (APD) adalah seperangkat alat yang digunakan tenaga kerja untuk melindungi sebagian atau seluruh tubuhnya dari adanya potensi bahaya/ kecelakaan kerja. APD tidaklah secara sempurna dapat melindungi tubuhnya, tetapi akan dapat mengurangi tingkat keparahan yang mungkin terjadi.7 2.3.2Alat Pelindung Diri (APD) Pada Bidang PertanianMenurut Djoyosumarto (2000) penggunaan APD harus dipakai bukan saja waktu menyemprot, tetapi sejak dari mulai mencampur dan mencuci peralatan menyemprot maupun sesudah selesai menyemprot. Alat pelindung diri yang seharusnya di pakai oleh petani adalah:7

1. Pakaian kerjaPakaian yang digunakan sebaiknya sebanyak mungkin untuk menutupi tubuh. Pakaian yang dapat digunakan yaitu pakaian yang cukup sederhana yang terdiri dari celana panjang dan kemeja lengan panjang yang terbuat dari bahan yang cukup tebal dan rapat, pakaian kerja sebaiknya tidak berkantung karena adanya kantung cenderung digunakan untuk menyimpan benda-benda seperti rokok.

Gambar 2.1 Baju lengan panjang2. Celemek (apron)Celemek berfungsi melindungi bagian tubuh dari bahan kimia berbahaya dari pestisida semprot, bahan yang di pakai adalah terbuat dari plastik atau kulit. Apron harus dipakai ketika menyemprot tanaman yang tinggi. Gambar 2.2 Apron

3. Penutup kepalaPenutup kepala yang diperlukan untuk petani biasanya hanya berupa topi lebar atau helm khusus untuk menyemprot. Tetapi pelindung kepala juga penting, terutama menyemprot tanaman yang tinggi.

Gambar 2.3 Penutup kepala (topi tani)4. Alat pelindung pernapasanPelindung ini berguna untuk melindungi pernapasan terhadap gas, uap, partikel atau udara yang terkontaminasi di tempat kerja yang dapat bersifat racun, korosi atau rangsangan. Contohnya masker, untuk melindungi debu/ partikel-partikel yang lebih besar yang masuk ke dalam pernafasan, dapat terbuat dari kain dengan ukur