Mikro III Do

download Mikro III Do

of 20

  • date post

    02-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    21
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Mikro III Do

BAB I PENDAHULUAN1.1.LATAR BELAKANG Bakteri memiliki beberapa bentuk yaitu basil (tongkat), kokus, dan spirilum. Bakteri yang berbentuk tongkat maupun kokus dibagi menjadi beberap macam. Pada bentuk basil, pembagiannya meliputi basil tunggal, diplobasil, dan triptobasil. Sedangkan pada kokus dibagi monokokus ( satu buah bakteri berbentuk kotak), diplococcus, sampai staphylococcus (berbentuk mirip buah anggur). Khusus pada spirilum hanya terbagi menjadi 2 yaitu setengah melengkung dan tidak melengkung. Klasifikasi bakteri didasarkan pada kesamaan atau kemiripan sifat-sifat spesifik dan unik yang dimiliki bakteri. Suatu penataan klasifikasi secara sistematik ke dalam kelompokkelompok disebut taksonomi. Bakteri diklasifikasikan berdasarkan sistem taksonomi seperti yang dikembangkan oleh Carolus Linnaeus untuk tanaman dan binatang pada tahun 1735. Sel bakteri dapat teramati dengan jelas jika digunakan mikroskop dengan perbesaran 100x10 yang ditambah minyak imersi. Jika dibuat preparat ulas tanpa pewarnaan, sel bakteri sulit terlihat. Pewarnaan bertujuan untuk memperjelas sel bakteri dengan menempelkan zat warna ke permukaan sel bakteri. Zat warna dapat mengabsorbsi dan membiaskan cahaya, sehingga kontras sel bakteri dengan sekelilingnya ditingkatkan. Zat warna yang digunakan bersifat asam atau basa. Pada zat warna basa, bagian yang berperan dalam memberikan warna disebut kromofor dan mempunyai muatan positif. Sebaliknya pada zat warna asam bagian yang berperan memberikan zat warna memiliki muatan negatif. Zat warna basa lebih banyak digunakan karena muatan negatif banyak banyak ditemukan pada permukaan sel. 1.2.TUJUAN PRAKTIKUM Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari beberapa teknik pewarnaan yang dapat digunakan untuk identifikasi dan pengelompokkan mikroorganisme. Selain itu, praktikum ini bertujuan untuk mengamati dan menganalisis hasil reaksi-reaksi pewarnaan di bawah mikroskop. 1.3.MANFAAT PRAKTIKUM Kegiatan praktikum ini diharapkan membuat praktikan dapat memahami teknik pewarnaan bakteri agar dapat digunakan untuk praktikum selainnya. Selain itu, diharapkan praktikan dapat mengamati dan menganalisis hasil reaksi pewarnaan bakteri di bawah mikroskop.

BAB II1

STUDI PUSTAKA2.1.TEKNIK PEWARNAAN Metode pengecatan pertama kali ditemukan oleh Christian Gram pada tahun 1884. Dengan metode ini. Bakteri dapat dikelompokkan menjadi dua yatu, bakteri gram positif dan bakteri gram negative. Yang didasarkan dari reaksi atau sifat bakteri terhadap cat tersebut. Reaksi atau sifat bakteri tersebut ditentukan oleh komposisi dinding selnya sehingga pengecatan gram tidak bias dilakukan pada mikroorganisme yang tidak mempunyai dinding sel seperti Mycoplasma sp (Tryana, 2008) Struktur dasr bakteri terbagi menjadi dua, yaitu: 1. Struktur dasar (dimiliki oleh jenis bakteri tertentu), meliputi: dinding sel, membrane plasma, sitoplasma, ribosom, DNA, dan granula penyimpanan. 2. Struktur tambahan (dimiliki oleh jenis bakteri tertentu), meliputi kapsul, flagellum, pilus, fimbria, klorosom, vakuola, gas, dan endospora. Melihat dan mengamati bakteri dalam keadaan hidup sangatlah sulit, karena selain bakteri itu tidak berwarna juga transparan dan sangat kecil. Untuk mengamati hal tersebut maka dikembangkansuatu teknik pewarnaan sel bakteri, sehingga sel dapat terlihat jelas dan mudah diamati. Oleh karena itu teknik pewarnaan sel bakteri ini merupakan salah satu cara yang paling utama dalam penelitian-penelitisn mikrobiologi. (Rizki, 2008) Zat-zat warna bergabung secara kimiawi dengan protoplasma bakteri; bila sel belum mati, proses pewarnaan yang akan mematikannya. Jadi proses pewarnaan memang suatu proses yang drastis dan menyebabkan perubahan yang tidak alamiah. Zat warna yang biasa dipakai adalah garam. Zat warna basa terdiri atas kation yang berwarna dengan anion yang tidak berwarna (misalnya biru metilen klorida), zat warna asam adalah sebaliknya (misalnya natrium eosinat). Sel bakteri kaya akan asam nukleat, mengandung muatan negatif dalam gugus fosfatnya. Muatan negative ini bergabung dengan zat warna basa yang bermuatan positif. Zat warna asam tidak mewarnai sel bakteri, karena itu dpaat digunakan untuk mewarnai latar belakang sehingga berwarna kontras. Zat warna basa mewarnai sel bakteri secara merata kecuali bila RNA sitoplasma dirusak terlebih dahulu. Namun, teknik pewarnaan khusus dapat digunakan untuk membedakan flagel, simpai, dinding sel, selaput sel, granula , inti dan spora. 2.1.1. MACAM-MACAM TEKNIK PEWARNAAN Pewarnaan mikroba dilakukan untuk mempelajari morfologi mikroba meliputi bentuk dan rangkainnya, mempelajari struktur-struktur khusus yang dimiliki mikroba, dan untuk membedakan bakteri-bakteri ke dalam kelompokkelompok yang berguna untuk klasifikasi dan diagnosis. Pewarnaan mikroba dilakukan dengan menambahkan satu atau lebih pewarna dengan teknik tertentu kepada sel mikroba yang diuji. Pewarna (dye) didefinisikan sebagai suatu senyawa organic yang mengandung suatu cincin benzene dan suatu gugus 2

kromofor dan auksokrom. Kemampuan suatu pewarna untuk terikat ke komponen sel makromolekul (seperti protein atau asam nukleat) tergantung pada muatan elektrik yang ditemukan pada kromogennya. Zat-zat warna bergabung secara kimiawi dengan protoplasma bakteri, bila sel belum mati, proses pewarnaan yang akan mematikannya. Jadi proses pewarnaan memang suatu proses yang drastic dan menyebabkan perubahan yang tidak alamiah. Beberapa hal berikut yang harus diperhatikan untuk memperoleh hasil pewarnaan yang baik : o Umur biakan sebaiknya 18-24 jam, kecuali bakteri Mycobacterium yang tumbuh sangat lambat karena morfologi dan struktur bakteri dapat mengalami perubahan jika biakan bakteri berumur lebih dari 24 jam. Zat warna yang digunakan harus zat warna dengan kualitas yang baik. Sediaan bakteri yang disebarkan di atas gelas preparat harus sedemikian tipis sehingga dapat memperlihatkan morfologi bakteri setelah diwarnai.

o o

2.1.1.1.Jenis Pewarna berdasarkan muatan alaminya 2.1.1.1.1.Pewarna Asam Pewarna ini jika terionisasi memberikan muatan negatif atau anionik pada kromogen, akan berikatan kuat dengan komponen sel yang bermuatan positif. Zat warna asam tidak mewarnai sel bakteri, karena itu untuk dapat digunakan untuk mewarnai bahan latar latar belakang sehingga berwarna kontras. Biasanya pewarna asam memiliki gugus karboksil dan fenolik hidroksil. Contoh : eosin, asam pikrat, asam Fuchsin. 2.1.1.1.2. Pewarna Basa Pewarna ini jika terionisasi memberikan muatan positif/kationik pada kromogen, akan mewarnai sel bakteri secara merata kecuali RNA sitoplasma dirusak terlebih dahulu. Biasanya pewarna basa berupa garam klorida atau nitrogen pentavalen. Contoh : metilen biru, basa Fuchsin, Kristal violet, safranin, malachite hijau. 2.1.1.2. Jenis Pewarna berdasarkan tujuan pewarnaan 2.1.1.2.1. Pewarnaan Sederhana Pewarnaan yang hanya menggunakan satu jenis zat warna pada sediaan bakteri di gelas preparat yang telah difiksasi atau direkatkan.Pewarnaan sederhana digunakan untuk visualisasi bentuk morfologis (kokus, basilus, spiral) dan susunannya (rantai, kluster, pasangan atau tetrad). Zat warna yang digunakan adalah metilen blue, gentia violet, dan karbol fuksin. Waktu paparan antara pewarna dengan sel bakteri untuk tiap pewarna berbeda, misalnya karbol fuchsin butuh 15-30 detik, Kristal violet 60 detik dan metilen biru 1-2 menit. 2.1.1.2.2. Pewarnaan Diferensial 3

Teknik pewarnaan diferesial menggunakan lebih dari satu macam zat warna, yang bertujuan untuk klasifikasi ke dalam kelompokkelompok (pewarnaan gram dan pewarnaan tahan asam) dan untuk visualisasi struktur (pewarnaan flagella, pewarnaan kapsul, pewarnaan spora, pewarnaan inti). 2.1.1.2.3. Pewarnaan Gram Pewarnaan ini ditujukan untuk mengklasifikasi ke dalam dua kelompok besar yaitu gram positif dan gram negatif. Pewarnaan gram merupakan salah satu pewarnaan diferensial di mana dibutuhkan lebih dari satu pewarna untuk mewarnai bakteri. Pewarnaan pertama disebut pewarna primer yang digunakan untuk mewarnai seluruh sel. Reagen yang ditambahkan yaitu zat penghilang warna. Tergantung dari komponen selular sel bakteri, penghilang warna ini dapat menghilangkan atau tidak menghilangkan pewarna primer. Pewarna akhir ialah pewarna tandingan yang memiliki warna kontras terhadap pewarna primer. Cara pewarnaan Gram dimulai dengan pemberian zat warna dasar, kristal ungu. Kemudian diberikan larutan iodium sampai semua bakteri berwarna biru. Kemudian sel diberi alkohol. Sel gram positif akan mempertahankan kompleks Kristal ungu-iodium, dan tetap berwarna biru, sedangkan sel gram negative akan sama sekali hilang warnanya oleh alkohol. Sebagai langkah terakhir, zat warna kontras (misalnya zat warna merah safranin) dituangkan sehingga sel-sel gram negative yang telah kehilangan warna akan mendapatkan warna kontras, sekarang sel-sel gram positif tampak ungu. 2.1.1.2.4. Pewarnaan Tahan Asam Bakteri tahan asam adalah bakteri yang mempertahankan zat warna karbol fuhsin (fuhsin basa yang dilarutkan dalam suatu campuran fenol-alkohol-air) meskipun dicuci dengan asam hidroklorida dalam alkohol. Sediaan sel bakteri pada gelas alas disiram dengan cairan karbol-fuhsin kemudian dipanaskan sampai keluar uap. Setelah itu, zat warna dicuci dengan asam-alkohol, dan akhirnya diberi warna kontras (biru atau hijau). Bakteri-bakteri tahan asam (spesies Mycobacterium dan beberapa aktinomisetes yang serumpun) berwarna merah, yang lain akan berwarna sesuai warna kontras. Pewarnaan tahan asam terdiri atas pewarnaan Ziehl Neelsen dan pewarnaan Kinyoun Gabbett. 2.1.1.2.5. Pewarnaan Flagel Teknik pewarnaan yang sering digunakan untuk mewarnai flagel bakteri ialah pewarnaan Gray. Pada pewarnaan ini, mordan (zat pengikat warna) digunakan untuk meningkatkan afinitas flagel terhadap zat warna dan memperbesar diameter flagel. Suspensi garam asam tanat dapat memperbesar flagel dan dinding sel sehingga flagel dapat dilihat dengan mudah di bawah mikroskop biasa ketika diwar