MEDIASI SEBAGAI PILIHAN PENYELESAIAN SENGKETA MEDIK

Click here to load reader

  • date post

    22-Nov-2021
  • Category

    Documents

  • view

    1
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of MEDIASI SEBAGAI PILIHAN PENYELESAIAN SENGKETA MEDIK

Microsoft Word - dr.amelia_martira_sp.an-skripsi-fakultas_hukum-naskah_ringkas-2017.docxAmelia Martira, Wahyu Andrianto
[email protected]
Abstrak
Penyelesaian sengketa medik melalui litigasi kerap kali tidak dapat memberikan keadilan bagi para pihak yang bersengketa yakni dokter dan pasien. Persidangan yang lama, pembuktian yang rumit, dan berbiaya mahal membebankan pasien sebagai penggugat. Tidak hanya itu, penyelesaian sengketa medik tidak mampu memberikan dampak baik bagi mutu pelayanan kesehatan dan malah mendorong dilakukannya praktek kedokteran defensif. Mediasi yang dikenal dalam kehidupan masyarakat dapat menjadi pilihan penyelesaian sengketa yang mengedepankan win-win solution. Walaupun begitu, mediasi belum menjadi pilihan dan para pihak lebih memilih menyelesaikan sengketa di pengadilan. Menggunakan studi literatur, peneliti bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai penyelesaian sengketa medik melalui perbandingan kondisi penyelesaian sengketa medik di Indonesia, Jepang dan Amerika Serikat, peran mediasi sebagai pilihan penyelesaian sengketa medik serta regulasi mengenai pilihan penyelesaian sengketa medik di Indonesia. Kesimpulan: Penyelesaian sengketa medik di Indonesia, Jepang dan Amerika Serikat memiliki permasalahan yang sama dan juga menggunakan pilihan penyelesaian sengketa sebagai alternatif penyelesaian sengketa medik. Mediasi lebih dipilih dibandingkan pilihan penyelesaian sengketa lainnya terutama karena mampu menghasilkan kesepakatan yang bersifat win-win solution. Agar mediasi di Indonesia dapat berkembang, diperlukan peraturan pelaksana dari undang-undang yang mengatur mengenai implementasi mediasi sebagai pilihan penyelesaian sengketa medik.
Mediation as Alternatif Medical Dispute Resolution
Abstract
Resolving medical dispute between patient and doctor by trial often gives an unfair ending to the parties. The long trial, difficulties to provide evidences and heavy cost become the burden of patient. On the other hand, the result of medical dispute litigation does not give any improvement to the quality of health care and doctor will practice defensive medicine for the legal reason. Mediation, which is recognized as an alternative dispute resolution can be chosen which could obtain the win-win solution to the parties. However, it is still not favorable in Indonesia to resolve medical dispute. Using literature study, researcher has some goals which are to obtain the description of medical dispute by comparing the settlement of medical dispute in Indonesia, Japan, and United States of America, the role of mediation as alternative medical dispute and the regulation of alternative medical dispute resolution in Indonesia. Conclusion: Medical dispute resolution in Indonesia, Japan and United States of America are facing the same problems, and choose alternative medical dispute resolution to solve the issues. Mediation is often chosen. To make mediation become established as medical dispute resolution, Indonesia needs a regulation which regulate the implementation of mediation as alternative medical dispute resolution. Keyword: mediation, medical dispute, medical malpractice, alternative dispute resolution Pendahuluan
Permasalahan sengketa pada pemberian layanan kesehatan yang melibatkan pasien dan
tenaga medis semakin hari semakin meningkat. Peningkatan ini juga dipicu dengan maraknya
Mediasi sebagai ..., Amelia Martira, FH UI, 2017
2    
masyarakat untuk menjadi lebih kritis terhadap pemberitaan seputar pelayanan kesehatan.
Perhatian masyarakat terhadap sengketa layanan kesehatan ini juga dipicu oleh berkembangnya
pemikiran masyarakat yang menjadi lebih paham akan hak-haknya sebagai pasien. Oleh karena
itu, menjadi suatu keniscayaan bahwa hubungan antara tenaga kesehatan dan pasien yang
berdasarkan suatu kepercayaan, rentan untuk terjadi sengketa saat pasien tidak sembuh atau tidak
puas atas layanan kesehatan yang ia terima.
Pada dasarnya hubungan dokter sebagai tenaga kesehatan dengan pasien merupakan
bentuk perjanjian atau kontrak terapeutik. Kontrak terapeutik dapat merupakan suatu perikatan
usaha (inspaningverbintenis) atau dapat berupa perikatan hasil (resultaatverbintenis).1 Umumnya
perikatan yang timbul dari hubungan dokter dan pasien adalah perikatan usaha, dimana dokter
sebagai pihak debitur yang menjanjikan usaha terbaiknya untuk mendapatkan tujuan yang
diinginkan pihak pasien (kreditur) berupa kesembuhan.2 .
Saat ini berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia terdapat
berbagai bentuk penyelesaian dugaan kelalaian atau dugaan malpraktik yang berhubungan
dengan tindakan kedokteran. Baik melalui jalur gugatan melalui pengadilan perdata, tuntutan
melalui pengadilan pidana serta penyelesaian sengketa medik di luar pengadilan maupun melalui
jalur pemeriksaan etika dan disiplin terhadap dokter yang diduga melakukan kelalaian atau
malpraktik medik. Pasien dan keluarganya dapat mengadukan adanya dugaan malpraktik sebagai
suatu tindak pidana, mengajukan gugatan ke pengadilan perdata, ataupun melaporkan adanya
dugaan pelanggaran etika dan disiplin atas dugaan kelalaian yang dilakukan oleh dokter.
Dari berbagai kasus dugaan malpraktik di Indonesia, tampak bahwa penyelesaian melalui
sistem peradilan perdata atas sengketa medik berupa dugaan kelalaian medik atau malpraktik
medik bukan merupakan suatu penyelesaian sengketa yang sederhana. Kesulitan timbul terutama
pada pihak pasien dimana tidak mudah untuk membuktikan dalilnya yang menyebutkan bahwa
dokter telah tidak melakukan usaha terbaiknya ataupun melakukan kelalaian dalam melakukan
pengobatan kepada pasien. Sulitnya melakukan pembuktian dalam sengketa medik turut andil
dalam mengurangi unsur kepercayaan pasien kepada dokter, padahal unsur kepercayaan ini yang
menjadi dasar perikatan antara dokter dan pasien.                                                                                                                          
1 S. Soetrisno, Malpraktek Medik dan Mediasi, (Jakarta: PT Telaga Ilmu, 2010), hlm.10. 2   Ibid.
Mediasi sebagai ..., Amelia Martira, FH UI, 2017
3    
Selain itu, proses penyelesaian sengketa melalui pengadilan perdata memakan waktu
yang lama dan biaya besar baik bagi pihak Penggugat maupun Tergugat. Hal ini dapat dilihat
dari sengketa antara ahli waris Sita Dewati Darmoko sebagai penggugat melawan dokter-dokter
Rumah Sakit Pondok Indah dan Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta Selatan sebagai Tergugat.3
Proses persidangan tersebut berlangsung selama 6 tahun dari tahun 2006 hingga 2012, mulai dari
Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi hingga Mahkamah Agung (Kasasi dan Peninjauan
Kembali). Adapun nilai kompensasi yang dikabulkan Majelis Hakim atas kerugian yang diderita
ahli waris tersebut tidak sesuai dengan gugatan yang diajukan pihak penggugat dan tidak
sebanding dengan proses peradilannya yang cukup lama untuk menghasilkan putusan yang
berkekuatan hukum tetap
Pada sisi yang lain, dokter yang merasa telah melakukan upaya terbaiknya, dimana hasil
akhir berupa kesembuhan bukanlah suatu hal yang pasti tercapai, dan dengan adanya tuntutan
dugaan malpraktik ini akan membuat dokter merasa dikriminalisasi. Selain itu, adanya tuntutan
disertai pemberitaan mengenai malpraktik medik membawa dokter menuju suatu pola
pengobatan yang bersifat defensive medicine.4 Pola pengobatan yang demikian malah akan
menimbulkan persoalan baru, yaitu: mahalnya biaya pelayanan kesehatan dan sulitnya akses
pasien berisiko tinggi untuk mendapatkan pelayanan kesehatan karena dokter atau tenaga
kesehatan lainnya.
Masalah sengketa mengenai kelalaian medik ini juga dirasakan di negara-negara maju.
Istilah “Pandemik” digunakan untuk menggambarkan kondisi tuntutan malpraktik yang terjadi
pada era masyarakat post-modern di Amerika Serikat. Kondisi ini menimbulkan krisis
malpraktik yang tidak hanya merugikan pihak pemberi layanan kesehatan tapi juga menimbulkan
perilaku defensive medicine, serta masalah finansial akibat proses litigasi dan pembayaran ganti
rugi.5
                                                                                                                          3  Mahkamah Agung Republik Indonesia, Putusan No. 515/PK/PDT/2011, hlm. 2-3. 4The Congressional Office of Technology Assesment (OTA) pada tahun 1994 menyebutkan bahwa
Defensive Medicine timbul ketika seorang dokter melakukan pemeriksaan penunjang, berbagai prosedur, pemeriksaan pasien atau menghindari pasien yang berisiko tinggi untuk mengurangi kemungkinan untuk terkena tuntutan malpraktik. Jika dokter melakukan pemeriksaan tambahan untuk semata-mata bertujuan untuk mengurangi risiko tuntutan malpraktik maka dapat dikatakan dokter tersebut melakukan praktik defensive medicine, sedangkan jika ia menghindari pasien berisiko, maka dokter tersebut dikatakan melakukan praktik defensive medicine negatif.
5 David H. Sohn JD dan Sonny Bal MD, “Medical Malpractice Reform: The Role of Alternative Dispute Resolution”, Clinical Orthophedic Relat Res (2012), hlm. 1370–1378.
Mediasi sebagai ..., Amelia Martira, FH UI, 2017
4    
Peningkatan gugatan malpraktik juga dirasakan di Negara Jepang. Dikatakan terjadi
peningkatan dengan laju sekitar 7% hingga 8% per tahunnya.6 Peningkatan gugatan malpraktik
membawa akibat perubahan hubungan dokter dan pasien di Jepang dari hubungan yang
menjunjung tinggi nilai-nilai sosial menjadi hubungan yang lebih kaku dan bernuansa hukum.
Para dokter di Jepang mengambil sikap dengan mempelajari cara-cara untuk menghadapi
gugatan malpraktik medik dari pasien.7 Sikap tersebut kemudian membawa dampak perubahan
hubungan dokter dan pasien di Jepang yang kemudian mendorong adanya suatu penyelesaian
sengketa di luar pengadilan yang mampu mempertahankan hubungan dokter dan pasien.
Penyelesaian sengketa medik di luar pengadilan tampaknya kemudian menjadi kebutuhan
bagi kedua belah pihak, agar dapat memberikan penyelesaian yang terbaik bagi kedua pihak serta
tidak merasa dirugikan dalam proses penyelesaian sengketa medik tersebut. Penyelesaian
sengketa di luar pengadilan yang lebih tertutup, cepat, sederhana dan berbiaya murah lebih
memberikan kenyamanan bagi kedua pihak dibandingkan penyelesaian melalui litigasi. Berbagai
bentuk penyelesaian sengketa di luar pengadilan dapat dilakukan untuk menyelesaikan sengketa
medik, seperti: negosiasi, mediasi, rekonsiliasi, arbitrase, pendapat ahli, mini trial, dan
sebagainya.
Mediasi sebagai salah satu bentuk pilihan penyelesaian sengketa di luar pengadilan
berupaya memberikan penyelesaian yang bersifat win-win solution bagi para pihak. Dimana pada
dasarnya kesepakatan yang dihasilkan pada proses mediasi adalah lahir dari kehendak para pihak
untuk mendapatkan penyelesaian terbaik yang dapat memenuhi kepentingan para pihak.
Hadirnya pihak ketiga sebagai penengah bersifat netral, dimana Mediator tidak memutus namun
lebih bersifat memfasilitasi para pihak untuk memahami kepentingannya dan mendapatkan solusi
yang terbaik.
Berdasarkan permasalahan di atas maka yang menjadi rumusan masalah adalah sebagai
berikut: bagaimana bentuk penyelesaian sengketa medik di Indonesia, Jepang dan Amerika
Serikat, bentuk pilihan penyelesaian sengketa yang dapat menjadi penyelesaian sengketa medik
di luar pengadilan yang sesuai untuk diterapkan di Indonesia dan pengaturan lebih lanjut dari
Undang-Undang No. 36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan terkait penyelesaian sengketa
                                                                                                                          6  Toshimi Nakanishi, “New Communication Model in Medical Dispute Resolution in Japan”, Yamagata
Medical Journal (2013), hlm.1. 7  Ibid.
Mediasi sebagai ..., Amelia Martira, FH UI, 2017
5    
medik di luar pengadilan di Indonesia? Adapun tujuan penulis adalah untuk mengetahui
penyelesaian sengketa medik di luar pengadilan berdasarkan peraturan perundang-undangan di
Indonesia. Dengan demikian akan juga diperoleh gambaran mengenai bentuk penyelesaian
sengketa di Indonesia dengan membandingkan sengketa medik di Jepang dan Amerika Serikat,
bentuk penyelesaian sengketa medik di luar pengadilan yang paling sesuai diterapkan di
Indonesia dan memberikan saran mengenai pengaturan lebih lanjut Undang-Undang No. 36
tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan mengenai penyelesaian sengketa medik di luar
pengadilan. Tinjauan Teoritis
Hubungan dokter dan pasien dalam konteks pemberian layanan kesehatan tersebut
merupakan suatu perikatan yang dikenal sebagai kontrak terapeutik.8 Terdapat dua jenis
perjanjian atau kontrak terapeutik antara dokter dan pasien dalam rangka pemberian layanan
kesehatan, yaitu:
• Perjanjian Hasil (resultaatsverbintenis)
Pada perjanjian hasil, prestasi yang diberikan dokter berupa hasil terapi yang disepakati
oleh pasien.
Pada perjanjian upaya, prestasi yang diberikan dokter berupa upaya maksimal untuk
menyembuhkan pasien.9 Umumnya bentuk perikatan antara dokter dan pasien merupakan
perjanjian upaya
Merujuk pada pasal 39 Undang-Undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran maka
kontrak terapeutik antara dokter dan pasien merupakan perjanjian upaya. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa perikatan yang terjadi antara dokter dan pasien dalam pemberian layanan
kesehatan tidak menjanjikan suatu hasil sebagai prestasi melainkan berbentuk upaya sesuai
dengan tujuan pemberian layanan kesehatan.
Kelalaian medik dapat didefinisikan sebagai kegagalan dalam menyelenggarakan standar
pelayanan yang berlaku yang merupakan tanggung jawab profesi dokter atau secara spesifik
dapat diuraikan sebagai berikut:
                                                                                                                          8 Fred Ameln, Kapita Selekta Hukum Kedokteran, (s.l: Grafikatama Jaya, 1991), hlm. 76. 9 Ibid.
Mediasi sebagai ..., Amelia Martira, FH UI, 2017
6    
a. Seorang dokter melakukan tindakan yang tidak seharusnya ia lakukan, atau
b. Seorang dokter gagal memenuhi panduan yang ditetapkan sesuai standar pelayanan
dalam melakukan tindakan kedokteran.10
Terdapat empat elemen yang dikenal sebagai 4D untuk merumuskan apakah suatu tindakan
merupakan kelalaian medik, yaitu:
a. Duty atau Kewajiban
Kewajiban baru muncul apabila hubungan antara dokter dan pasien telah terbentuk.
Tanpa diawali adanya hubungan dokter dan pasien, maka tidak ada kewajiban dokter
terhadap pasien. Sebagai contoh adalah ketika seorang pasien membuat janji temu dengan
dokter, datang berobat dan membuat janji temu kembali untuk mendapatkan terapi
lanjutan. Pada kondisi ini, dikarenakan telah terbentuknya hubungan dokter dan pasien
dalam bentuk perikatan atau kontrak terapeutik maka telah muncul kewajiban dokter
terhadap pasien
Dalam hal ini pasien sebagai penerima pelayanan kesehatan harus dapat membuktikan
bahwa dokter telah gagal memenuhi standar pelayanan yang dibutuhkan dan ditetapkan
oleh profesi kedokteran.
Unsur ini menunjukan bahwa adanya hubungan antara pelanggaran tanggung jawab
profesi yang dilakukan oleh dokter sebagai pemberi pelayanan medik dengan kerugian
atau cedera yang terjadi pada pasien. Selain itu, tidak terdapat kondisi atau tindakan
intervensi lain diantara tindakan medis yang diduga dengan cedera atau kerugian yang
muncul. Dalam menentukan penyebab langsung dari suatu kerugian terkadang
menemukan kesulitan oleh karena kompleksitasnya suatu kejadian yang menyebabkan
kerugian pada pasien.
Kerugian merujuk kepada kompensasi yang harus diberikan kepada pasien akibat cedera
yang ia derita akibat tindakan medik tersebut. Dalam hal ini, bentuk kerugian dapat
berupa kerugian aktual atau kerugian compensatory dan kerugian punitif. Yang
                                                                                                                          10  Mariciano A. Lewis, Carol D. Tamparo, dan Brenda M Tatro, Medical Law, hlm. 66.  
Mediasi sebagai ..., Amelia Martira, FH UI, 2017
7    
dimaksud sebagai kerugian aktual adalah kerugian yang mengkompensasi cedera yang
ireversibel berupa biaya pengobatan yang sudah dikeluarkan dan biaya kesehatan yang
akan dikeluarkan. Selanjutnya yang dimaksud sebagai kerugian punitif adalah kerugian
yang bersifat menghukum pelaku dan memberikan korban pengganti rasa penderitaan,
sakit dan gangguan psikologis yang ia alami.11
Perselisihan dalam dunia kesehatan tidak hanya terjadi antara penerima pelayanan
kesehatan atau pasien dengan dokter sebagai pemberi pelayanan kesehatan. Sengketa dalam
dunia kesehatan dapat melibatkan tenaga kesehatan lainnya, fasilitas kesehatan (Klinik atau
Rumah Sakit) bahkan juga penjamin pembiayaan kesehatan. Selain itu, pihak yang bersengketa
tidak hanya pasien, namun juga sesama tenaga kesehatan, tenaga kesehatan dengan fasilitas
kesehatan sebagai pemberi kerja dan lain-lain. Menurut Undang-Undang No. 36 Tahun 2014
tentang Tenaga Kesehatan perselisihan antara tenaga kesehatan dan pasien didefinisikan sebagai
perselisihan yang timbul dari dugaan adanya Tenaga Kesehatan yang melakukan kelalaian dalam
menjalankan profesinya yang menyebabkan kerugian kepada penerima pelayanan kesehatan12
Di dalam Undang-Undang No. 36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan, dokter
merupakan salah satu jenis tenaga kesehatan di Indonesia yang disebut sebagai tenaga medis.
Untuk itu perselisihan yang timbul dari dugaan adanya dokter yang melakukan kelalaian dalam
menjalankan profesinya yang menyebabkan kerugian kepada pasien sebagai penerima pelayanan
kesehatan disebut sebagai sengketa medik. Dalam hal dapat disimpulkan bahwa pengertian
sengketa medik menurut Undang-Undang No. 36 tahun 2014 adalah perselisihan yang terjadi
pada hubungan dokter dan pasien yang menyangkut dugaan kelalaian medik.
Alternative Dispute Resolution (ADR) atau Pilihan Penyelesaian Sengketa (PPS)
merupakan bentuk penyelesaian sengketa yang dapat dipilih para pihak tanpa melibatkan
pengadilan. Walaupun pilihan penyelesaian sengketa ini tidak dapat menggantikan penyelesaian
secara formil di pengadilan, namun perkembangannya sangat pesat di dunia. Hal ini dikarenakan
banyak hal yang dapat ditawarkan oleh pilihan penyelesaian sengketa dengan memberikan
keuntungan lebih dibandingkan penyelesaian sengketa di pengadilan. Adapun keuntungan-
keuntungan dari pilihan penyelesaian sengketa adalah sebagai berikut:
a. Menghemat waktu dan biaya                                                                                                                          
11 Ibid., hlm. 67. 12  Indonesia, Undang-Undang tentang Tenaga Kesehatan., Ps. 78.  
Mediasi sebagai ..., Amelia Martira, FH UI, 2017
8    
c. Kendali berada di tangan para pihak
d. Proses lebih cepat dibandingkan melalui pengadilan
e. Hubungan antar para pihak yang bersengketa dapat terjaga dengan baik. 13
Bentuk pilihan penyelesaian sengketa yang dikenal di dunia saat ini cukup banyak dan dapat
diklasifikasikan berdasarkan prosesnya yaitu: facilitated-based process,
recommendation/advisory-based process, dan adjudication-based process atau kombinasi
(hybrid).14 Masing-masing bentuk berdasarkan klasifikasi di atas dibagi sebagai berikut:
1. Facilitated-based
para pihak untuk membangun dialog. Pihak ketiga tidak memberikan rekomendasi
ataupun keputusan yang mengikat. Contoh: mediasi, minitrial.
2. Recommendation-based
Pada recommendation-based, pihak ketiga yang netral dapat memberikan rekomendasi
yang tidak mengikat. Hubungan antar para pihak tetap menjadi perhatian untuk dijaga
selama proses penyelesaian sengketa. Contoh: konsiliasi, early neutral evaluation.
3. Adjudication-based
Pada bentuk ini, penyelesaian sengketa berupa putusan yang bersifat final dan mengikat
para pihak. Pihak ketiga yang netral mengeluarkan keputusan setelah dilakukan proses
pemaparan dari para pihak. Dibutuhkan tata acara dalam proses penyelesaian sengketa
tersebut. Hubungan baik antar para pihak tidak terlalu menjadi suatu kebutuhan. Contoh:
arbitrase, adjudikasi, expert determination.
Pada bentuk hybrid ini merupakan kombinasi dari berbagai bentuk penyelesaian sengketa
di atas. Contoh: Proses ombudsman, mediasi-arbitrase/adjudikasi, dispute resolution
boards.15
Sebagai salah satu bentuk pilihan penyelesaian sengketa yang banyak dipraktikkan di
dunia, mediasi merupakan bentuk yang paling dikenal dalam menyelesaikan sengketa di luar                                                                                                                          
13   Carl Mackie, dkk, “Alternative Dispute Resolution Guidelines 2011” http://siteresources.worldbank.org/INTECA/Resources/15322_ADRG_Web.pdf, diakses pada tanggal 1 Oktober 2016  
14 Ibid. 15    Ibid.
9    
pengadilan di Indonesia. Mediasi yang menggunakan pihak ketiga yang netral untuk membantu
para pihak membuat kesepakatan atas perselisihan yang terjadi, sudah dikenal di dalam
pergaulan sehari-hari masyarakat Indonesia. Gary Goodpaster memberikan pengertian mengenai
mediasi adalah proses negosiasi untuk menyelesaikan sengketa yang dibantu oleh pihak luar
yang bersifat imparsial dan netral dengan memfasilitasi para pihak yang bersengketa untuk
mencapai suatu kesepakatan yang memuaskan para pihak.16 Sementara Christopher W Moore
memberikan pengertian mediasi sebagai proses penyelesaian konflik dengan intervensi pihak
ketiga yang diterima para pihak, yang mana pihak ketiga tersebut tidak memiliki kewenangan
untuk membuat putusan yang mengikat para pihak, namun membantu para pihak untuk
memperbaiki hubungan, meningkatkan komunikasi dan menggunakan negosiasi efektif yang
berdasar pada penyelesaian untuk menghasilkan kesepakatan yang dapat diterima oleh para
pihak.17
penyelesaian sengketa medik di luar pengadilan di Indonesia, terutama mengenai mediasi
sebagai bentuk pilihan penyelesaian sengketa tersebut. Selain itu juga memfokuskan pada
pengaturan mengenai pilihan penyelesaian sengketa di luar pengadilan dalam hubungannya
dengan pelaksanaan pasal 78 Undang-Undang No. 36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan.
Penelitian ini juga bersifat preskriptif dengan memberikan masukan agar dibentuknya suatu
peraturan perundang-undangan yang mengatur lebih lanjut mengenai pilihan penyelesaian
sengketa menurut pasal 78 Undang-Undang No. 36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan agar
dapat terciptanya suatu kepastian hukum mengenai bentuk pilihan penyelesaian sengketa medik
di Indonesia untuk selanjutnya dapat memberikan akses keadilan bagi para pihak yang
bersengketa.
Data yang diperoleh dari penelitian kepustakaan ini merupakan data sekunder. Data
sekunder tersebut diperoleh dari bahan hukum primer, sekunder dan tersier. Adapun bahan
                                                       …