materi 3_penjadwalan proyek (AOA dan AON).docx

download materi 3_penjadwalan proyek (AOA dan AON).docx

of 22

  • date post

    15-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    1.450
  • download

    200

Embed Size (px)

Transcript of materi 3_penjadwalan proyek (AOA dan AON).docx

MATERI 3

PENJADWALAN PROYEK (AOA DAN AON)

Sebuah proyek dalam pelaksanaannya seringkali akan melibatkan banyak sekali aktivitas di dalamnya. Karena itu sebuah tindakan penjadwalan sangat penting untuk dilakukan. Dengan melakukan penjadwalan perencana proyek dapat mengetahui berapa lama durasi total proyek, dapat mengevaluasi waktu pelaksanaan paling awal atau paling akhir dari sebuah aktivitas, sehingga perencana memiliki gambaran tentang aktivitas mana yang bisa ditunda pengerjaannya atau aktivitas mana yang harus didahulukan karena menentukan durasi total proyek. Kelompok aktivitas yang berhubungan langsung dengan umur proyek atau durasi total proyek diistilahkan sebagai aktivitas-aktivitas yang berada pada jalur kritis. Aktivitas aktivitas yang berada pada jalur kritis ini perlu mendapat perhatian khusus agar sebuah proyek dapat dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang telah di buat sebelumnya tanpa mengalami keterlambatan. Pernyataan-pernyataan di atas, semuanya merupakan tujuan dasar dari sebuah proses penjadwalan, dimana semuanya berhubungan dengan waktu.Penjadwalan merupakan suatu proses penentuan waktu bagi aktivitas-aktivitas pada proyek sehingga manajer proyek dapat menjalankan proyek tersebut secara tepat waktu. Secara umum kegunaan dari penjadwalan dapat dirangkum sebagai berikut: Mengetahui waktu pelaksanaan tiap-tiap aktivitas dan waktu penyelesaian proyek. Dapat mengatur ketersediaan sumber daya pada lokasi proyek pada waktu yang tepat. Dapat melakukan tindakan perbaikan apabila jadwal pelaksanaan menunjukkan adanya keterlambatan penyelesaian proyek. Dapat mengukur nilai penalti apabila terjadi keterlambatan penyelesaian proyek. Dapat menentukan cashflow proyek Dapat melakukan evaluasi terhadap akibat yang muncul pada waktu penyelesaian proyek apabila terjadi perubahan pekerjaan. Dapat menentukan nilai keterlambatan proyek dan pihak-pihak yang bertanggung jawab.CRITICAL PATH METHOD (CPM)Salah satu teknik penjadwalan yang paling banyak digunakan adalah metode jalur kritis (critical path method). Metode ini dapat menghitung waktu minimal penyelesaian proyek serta kemungkinan-kemungkinan dari waktu mulai dan waktu selesai dari aktivitas-aktivitas proyek. Banyak manajer proyek yang menganggap bahwa penjadwalan dengan metode jalur ktitis merupakan satu-satunya prosedur penjadwalan yang dapat digunakan secara praktis. Dewasa ini bahkan ada banyak program komputer dan algoritma penjadwalan jalur kritis yang dapat digunakan secara efisien untuk menangani proyek-proyek yang memiliki ribuan aktivitas. Jalur kritis itu menggambarkan sebuah urutan aktivitas-aktivitas yang akan mengambil waktu terlama dalam penyelesaian sebuah proyek. Durasi dari jalur kritis merupakan jumlah dari durasi durasi aktivitas yang berada pada jalur kritis itu sendiri. Dengan demikian, jalur kritis dapat didefinisikan sebagai jalur terlama pada diagram jaringan aktivitas-aktivitas proyek. Durasi dari jalur kritis ini menggambarkan waktu minimal yang diperlukan untuk dapat menyelesaikan sebuah proyek. Beberapa keterlambatan yang muncul pada jalur kritis akan mengakibatkan bertambahnya waktu penyelesaian sebuah proyek. Kemungkinan dalam sebuah penjadwalan dengan CPM, akan ada lebih dari satu jalur kritis, sehingga penyelesaian proyek secara keseluruhan dapat tertunda dengan tertundanya aktivitas-aktivitas sepanjang salah satu jalur kritis. Sebagai contoh, sebuah proyek yang terdiri dari dua aktivitas yang paralel dimana masing-masing memerlukan waktu 3 hari akan memiliki waktu penyelesaian kritis 3 hari pula. Umumnya penjadwalan jalur kritis mengasumsikan bahwa sebuah proyek telah dibagi menjadi aktivitas-aktivitas yang memiliki durasi tetap dan memiliki hubungan predesesor yang telah ditetapkan. Hubungan predesesor itu menunjukkan bahwa satu aktivitas harus dikerjakan terlebih dahulu dari aktivitas pengikut. CPM merupakan sebuah metode penjadwalan yang sistematik untuk sebuah jaringan proyek yang meliputi 4 tahap utama yaitu : Perhitungan maju untuk menentukan waktu awal mulai suatu aktivitas (early start time). Perhitungan mundur untuk menentukan waktu akhir selesainya aktivitas (late-finish time). Perhitungan float . Identifikasi aktivitas-aktivitas kritis.

PERHITUNGAN METODE JALUR KRITIS (CPM)Ada dua teknik yang dapat digunakan untuk melakukan penjadwalan jaringan yaitu activity on arrow (AOA) dan activity on node (AON) dengan durasi masing-masing aktivitas yang telah ditentukan. Proses penjadwalan jaringan dengan teknik AOA dan AON adalah berbeda. Untuk mendemontrasikan dua jenis teknik ini, coba perhatikan sebuah proyek sederhana ini yang terdiri dari 5 aktivitas dimana aktivitas A berada pada paling awal kemudian diikuti oleh tiga aktivitas yaitu B, C, dan D. Tiga aktivitas ini diikuti oleh aktivitas E. Jaringan AOA dan AON dari contoh ini dapat dilihat pada diagram jaringan berikut ini. Perlu dicatat bahwa pada contoh ini hanya dipakai hubungan antar aktivitas finish to start.

PERHITUNGAN TEKNIK JARINGAN AOATujuan dari analisis diagram panah (AOA) adalah untuk menghitung tiap even pada jaringan dengan waktu paling awal dan waktu paling akhir. Waktu- waktu yang dimaksud dapat dijelaskan sebagai berikut: Early event time (ET) adalah waktu paling awal dimana sebuah even dapat terjadi, dengan mempertimbangkan durasi dari aktivitas sebelumnya. Late event time (LT) adalah waktu paling lambat dimana sebuah even dapat terjadi jika proyek akan diselesaikan sesuai jadwal.

PERHITUNGAN MAJUPerhitungan maju dilakukan untuk menentukan waktu paling awal mulai dilaksanakannya sebuah aktivitas. Perhitungan maju dimulai dari kiri (node 1) pada gambar di bawah kemudian bergerak kekanan, dan hasil perhitungan ditempatkan di dalam kotak yang berarsir abu-abu. Tiap node pada jaringan, sebenarnya merupakan sebuah titik tempat dimana beberapa aktivitas berakhir ( kepala panah menuju ke node), seperti terlihat pada gambar di bawah. Node itu juga merupakan titik temapat dimana beberapa aktivitas mulai (ekor panah meningggalkan node). Tentu saja, semua aktivitas pengikut dapat dimulai setelah aktivitas pendahulu diselesaikan. Sebab itulah maka pada perhitungan maju untuk menentukan waktu paling awal mulai /early start time (ES) dari sebuah aktivitas, kita harus memperhatikan kepala panah yang menuju node start aktivitas. Kemudian waktu ES itu diset sebagai waktu paling akhir selesainya semua aktivitas pendahulu.

no.Predesesor 1Predesesor 2Predesesor 3suksesor 1Suksesor 2

Pada contoh berikut ini, perhitungan maju dilakukan seperti berikut: Dimulai pada node 1, yang merupakan node pertama dari proyek, dan berikan nilai ES nya sama dengan nol. Perlu diperhatikan, bahwa semua waktu aktivitas disini, menggunakan notasi yaitu akhir dari sebuah hari. Oleh karena itu, ES dari aktivitas A adalah nol yang berarti bahwa aktivitas A dimulai pada saat berakhirnya hari ke nol, atau permulaan dari hari pertama dalam proyek. Kemudian bergerak ke node 3. Node ini menerima satu kepala arrow dan dengan demikian hanya memiliki satu predesesor yaitu aktivitas A. Karena predesesor ini dimulai pada waktu ke no dan memiliki durasi 3 hari, maka aktivitas ini berakhir paling awal pada hari ketiga, (Early Finis (EF) = Early Start (ES) + d). Dengan demikian maka early start (ES) dari semua aktivitas pengikut (B, C, D) adalah pada hari ke tiga. Oleh karena itu nilai ini dimasukkan pada kotak berarsir di atas node 3, seperti yang ditunjukkan oleh gambar berikut:

Selanjutnya bergerak ke node pengikut yaitu node 5,7,dan 9. Namun karena node 9 ini dihubungkan dengan node 5 dan 7 menggunakan dummy, maka kita mulai node 5 dan 7 terlebih dahulu. Node 5 menerima satu kepala panah dari aktivitas pendahulu yaitu B, early finis aktivitas B ini adalah EF= ES + d = 3 + 3 = 6. Aktivitas pengikut dari node 5 ini dapat memiliki early start (ES) = 6 . serupa dengan itu, early start dari node 7 hasilnya adalah 9. Bergerak ke node 9, EF dari ketiga aktivitas pendahulu (d1, C, d2) secara berurutan masing-masing adalah 6, 7, dan 9. Karena itu, ES dari aktivitas pengikut adalah nilai yang terbesar yaitu 9. Perhatikan bahwa hanya nilai terbesar dari nilai EF yang dimiliki oleh aktivitas pendahulu yang digunakan untuk menghitung ES dari aktivitas pengikut, sedangkan nilai yang lain tidak digunakan. Demikianlah bahwa hanya nilai ES yang secara langsung bisa dibaca dari gambar sebelumnya, sedangkan untuk nilai EF dihitung dengan EF = ES + d. Node terakhir yaitu node 11 menerima satu kepala panah, dimana aktivitas E memiliki nilai ES sebesar 9. Sehingga EF dari aktivitas E = 9 + 5 = 14. Karena node 11 ini merupakan node terakhir, maka EF dari node ini menjadi akhir dari proyek, yang memberikan nilai durasi total proyek sebesar 14 hari.Secara umumnya, untuk sebuah aktivitas X yang dihubungkan di antara node i dan j seperti gambar di bawah,

maka rumus perhitungannya adalah sebagai berikut:

Apabila terdapat lebih dari satu kepala anak panah pada node j, maka yang dipakai adalah nilai terbesar. Berdasarkan rumus di atas maka untuk aktivitas x dapat dituliskan:

PERHITUNGAN MUNDURPerhitungan mundur dilakukan untuk menentukan waktu selesai paling akhir aktivitas yaitu dengan melakukan proses perhitungan kebelakang dari node paling akhir menuju ke awal node pada jaringan AOA. Nilai hasil perhitungan Late Finis (LF) ini kemudian ditempatkan pada bagian kanan kotak yang berdekatan dengan node, seperti yang ditunjukkan pada gambar dibawah

Langkah pengerjaannya adalah sebagai berikut: Dimulai dari node terakhir (node 11) dan nilai ES pada kotak sebelah kiri ditransfer menjadi nilai LF ke kotak sebelah kanan. Kemudian bergerak ke belakang ke node 9 yang hanya menerima 1 ekor (bagian belakang anak panah) yaitu aktivitas E. Dengan nilai LF aktivitas E adalah 14, maka nilai LS = LF - d = 14 5 = 9. Karena itu pada node 9, nilai 9 (hari ke 9) menjadi LF bagi aktivitas pendahulu dari node 9 ini. Mundur lagi ke node 5