Makalah Bahasa, Pembelajaran, Dan Pengajaran Bahasa

Click here to load reader

  • date post

    29-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    759
  • download

    14

Embed Size (px)

description

makalah

Transcript of Makalah Bahasa, Pembelajaran, Dan Pengajaran Bahasa

22

Makalah Kelompok: Metodologi Pengajaran Bahasa dan SastraDosen : Prof. Sakura dan Dr. Fachrurrozi.

PEMEROLEHAN BAHASA PERTAMA

Disusun oleh: Kelompok I

1. Viena Paramitha2. Manja Lestari Damanik3. Nur Syamsiah

PENDIDIKAN BAHASA PASCASARJANAUNIVERSITAS NEGERI JAKARTA2012

BAB IPENDAHULUAN

Setiap orang memiliki sebuah bahasa yang diperoleh secara otomatis, alamiah dan wajar karena biasa digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari oleh orang-orang yang berada di lingkungan kelompok masyarakatnya. Bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi ini disebut bahasa ibu atau bahasa pertama orang tersebut, sedangkan bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi oleh orang-orang di luar lingkungan kelompok masyarakatnya dinamakan bahasa asing yang apabila dipelajari oleh orang tersebut akan menjadi bahasa keduanya.Istilah bahasa kedua digunakan untuk menggambarkan bahasa-bahasa apa saja yang pemerolehannya dimulai setelah masa anak-anak awal (early childhood), termasuk bahasa ketiga atau bahasa-bahasa lain yang dipelajari kemudian. Bahasa-bahasa yang dipelajari ini disebut juga dengan bahasa target (target language). Pemerolehan bahasa kedua tidak sama dengan pemerolehan bahasa pertama. Pada pemerolehan bahasa pertama, seorang siswa berangkat dari nol (belum menguasai bahasa apa pun) dan perkembangan pemerolehan bahasa ini seiring dengan perkembangan fisik dan psikisnya. Pada pemerolehan bahasa kedua, siswa sudah menguasai bahasa pertama dengan baik dan perkembangan pemerolehan bahasa kedua tidak seiring dengan perkembangan fisik dan psikisnya. Selain itu, pemerolehan bahasa pertama dilakukan secara informal dengan motivasi yang sangat tinggi (siswa memerlukan bahasa pertama ini untuk dapat berkomunikasi dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya), sedangkan pemerolehan bahasa kedua dilakukan secara formal dan motivasi siswa pada umumnya tidak terlalu tinggi karena bahasa kedua tersebut tidak dipakai untuk berkomunikasi sehari-hari di lingkungan masyarakat siswa tersebut.Mempelajari bahasa kedua adalah pekerjaan panjang dan kompleks. Mempelajari bahasa bukanlah serangkaian langkah mudah. Banyak variabel terlibat dalam proses pemerolehan ini. Seorang guru dapat sukses mengajar bahasa kedua jika mampu memahami kompleksitas variabel-variabel yang berpengaruh pada bagaimana dan mengapa orang belajar dan gagal mempelajari bahasa kedua. Ada banyak hal yang perlu dikaji seperti karakteristik pembelajar, faktor linguistik, proses pembelajaran, usia dan pemerolehan, variabel instruksional, konteks, dan juga tentang tujuan penguasaan bahasa kedua. Hal-hal tersebut akan memberi gambaran mengenai keanekaragaman isu yang terdapat dalam upaya memahami prinsip-prinsip pembelajaran dan pengajaran bahasa.Guna memulai pengajuan pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut dan mencari jawaban untuk sebagian pertanyaan-pertanyaan itu, mari terlebih dahulu kita kaji hal-hal mendasar seperti definisi bahasa, pembelajaran, dan pengajaran bahasa, mazhab pemikiran dalam pemerolehan bahasa, serta sejarah pengajaran bahasa.

BAB IIPEMBAHASAN

A. Bahasa1. Pengertian BahasaDefinisi merupakan versi padat sebuah teori yang menyatakan ciri-ciri kunci sebuah konsep. Ciri-ciri itu bisa bervariasi, bergantung pada interpretasi masing-masing individu. Berkaitan dengan hal ini, lalu apa yang menjadi definisi bahasa? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya jika kita memperhatikan beberapa pengertian bahasa tersebut berdasarkan pengertian umum dengan melihat kamus umum dan menyimak aneka pendapat para ahli dari latar belakang yang berbeda. Dalam kamus umum, dalam hal ini Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahasa diartikan sebagai sistem lambang bunyi berartikulasi yang bersifat sewenang-wenang dan konvensional yang dipakai sebagai alat komunikasi untuk melahirkan perasaan dan pikiran.[footnoteRef:1] Sedangkan jika merujuk pada Merriam-Websters Collegiate Dictionary, bahasa didefinisikan sebagai sebuah sarana sistematis untuk mengomunikasikan gagasan atau perasaan dengan menggunakan isyarat, suara, gerak-gerik, atau tanda-tanda yang disepakati maknanya.[footnoteRef:2] Dari dua makna umum tentang bahasa di atas, terdapat persamaan yang jelas. Persamaan itu adalah bahwa bahasa ditempatkan sebagai sebuah sarana komunikasi antar manusia untuk mengungkapkan pikiran atau perasaan dengan menggunakan simbol-simbol komunikasi baik yang berupa suara, gestur (sikap badan), atau tanda-tanda berupa tulisan. [1: Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008), h.66.] [2: Merriam Websters Advanced Learners English Dictionary, (Springfield: Merriam-Webster, Inc., 2008), h. 913]

Sebagai sebuah istilah dalam linguistik, Kridalaksana mengartikannya sebagai sebuah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri.[footnoteRef:3] Di samping itu, Pei dan Gaynor mengatakan bahwa bahasa adalah sebuah sistem komunikasi menggunakan suara, melalui organ bicara dan pendengaran, diantara sesama manusia yang tergabung dalam sebuah komunitas tertentu, menggunakan lambang bunyi yang mengandung makna konvensional yang arbitrer. [footnoteRef:4] [3: Harimurti Kridalaksana, Kamus Linguistik, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993), h. 21.] [4: Mario A. Pei and Frank Gaynor, A Dictionary of Linguistics (New York: Philosophical Library, 1975), h. 119.]

Dari pandangan ahli linguistik seperti Kridalaksana, Pei, dan Gaynor di atas, bahasa ditekankan sebagai sebuah sistem lambang. Istilah sistem mengandung makna adanya keteraturan dan adanya unsur-unsur pembentuk.Penggambaran yang lebih luas tentang bahasa pernah disampaikan oleh bapak linguistik modern, Ferdinan de Saussure. Ia menjelaskan bahasa dengan menggunakan tiga istilah yaitu langage, langue, dan parole. Ketiga istilah dari bahasa Prancis itu dalam bahasa Indonesia dipadankan dengan satu istilah saja yaitu bahasa. Langage adalah sistem lambang bunyi yang digunakan untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara verbal. Langage ini bersifat abstrak. Istilah langue mengacu pada sistem lambang bunyi tertentu yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat tertentu. Sedangkan parole adalah bentuk konkret langue yang digunakan dalam bentuk ujaran atau tuturan oleh anggota masyarakat dengan sesamanya.[footnoteRef:5] [5: Abdul Chaer, Linguistik Umum, (Jakarta: Rineke Cipta, 2007), h. 39-40.]

Dengan melihat deretan definisi mengenai bahasa di atas, dapat disimpulkan bahwa definisi tentang bahasa dapat bervariasi. Variasi tersebut wajar terjadi karena sudut pandang keilmuan yang berbeda. Dari beberapa kemungkinan pengertian bahasa itu, Brown menyimpulkan definisi gabungan sebagai berikut:[footnoteRef:6] [6: H. Douglas Brown, Principles of language learning and Teaching, Fifth Edition, (USA: Pearson Education, 2006) , h.17.]

1. Bahasa itu sistematis.2. Bahasa adalah seperangkat simbol manasuka (arbitrer).3. Simbol-simbol itu utamanya adalah vokal, tetapi juga bisa visual.4. Simbol mengonvensionalkan makna yang dirujuk.5. Bahasa dipakai untuk berkomunikasi.6. Bahasa beroperasi dalam sebuah komunitas atau budaya wicara.7. Bahasa pada dasarnya untuk manusia, walaupun bisa jadi tidak hanya terbatas untuk manusia.8. Bahasa dikuasai oleh semua orang dalam cara yang sama; bahasa dan pembelajaran bahasa sama-sama mempunyai karakteristik universal.

Kedelapan pernyataan di atas menunjukkan definisi singkat tentang bahasa yang masih dapat dikaji secara lebih mendalam lagi. Seorang guru bahasa harus memahami sistem komunikasi yang disebut bahasa ini. Pemahaman seorang guru tentang komponen-komponen bahasa sangat menentukan cara guru tersebut mengajarkan sebuah bahasa. Sebagai contoh, jika seorang guru menganggap bahasa pada hakikatnya bersifat kultural dan interaktif, metodologi kelas guru tersebut pasti akan diwarnai dengan strategi-strategi sosiolinguistik dan tugas-tugas komunikatif.

2. Hakikat BahasaBerikut ini merupakan hakikat bahasa menurut pendapat Brown yang dikutip dari Tarigan:[footnoteRef:7] [7: Djago Tarigan, Proses Belajar Mengajar Pragmatik, (Bandung: Angkasa, 1990), h. 4.]

a) Bahasa itu sistematik,Sistematik artinya beraturan atau berpola. Bahasa memiliki sistem bunyi dan sistem makna yang beraturan. Dalam hal bunyi, tidak sembarangan bunyi bisa dipakai sebagai suatu simbol dari suatu rujukan (referent) dalam berbahasa. Bunyi mesti diatur sedemikian rupa sehingga terucapkan. Kata pnglln tidak mungkin muncul secara alamiah, karena tidak ada vokal di dalamnya. Kalimat Hari ini Kim pergi ke kampus, bisa dimengarti karena polanya sitematis, tetapi jika diubah menjadi Hari pergi ini kampus ke Kim tidak bisa dimengerti karena melanggar sistem.b) Bahasa itu manasuka (Arbitrer)Manasuka atau arbiter adalah acak, bisa muncul tanpa alasan. Kata-kata (sebagai simbol) dalam bahasa bisa muncul tanpa hubungan logis dengan yang disimbolkannya. Mengapa makanan khas yang berasal dari Magelang itu disebut gethuk bukan gethek atau gethak? Mengapa binatang berbelalai panjang itu disebut gajah? Tidak ada alasan kuat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas atau yang sejenis dengan pertanyaan tersebut itulah yang menjadi buktii bahwa bahasa memiliki sifat arbitrer, mana suka, atau acak semaunya. Pemilihan bunyi dan kata dalam hal ini benar-benar sangat bergantung pada konvensi atau kesepakatan pemakai bahasanya. c) Bahasa itu vokalVokal dalam hal ini berarti bunyi. Bahasa berwujud dalam bentuk bunyi. Kemajuan teknologi dan perkembangan kecerdasan manusia memang telah melahirkan bahasa dalam wujud tulis, tetapi sistem tulis tidak bisa menggantikan ciri bunyi dalam bahasa. Sistem penulisan hanyalah alat untuk menggambarkan arti di atas kertas, atau media keras lain. Lebih jauh lagi, tulisan berfungsi sebagai pelestari ujaran. Lebih jauh lagi dari itu, tulisan menjadi pelestari kebud