lp pterigium

download lp pterigium

of 38

  • date post

    24-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    152
  • download

    1

Embed Size (px)

description

keperawatanmedikal bedah

Transcript of lp pterigium

37

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar BelakangPterigiummerupakan pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva yang bersifat degeneratif dan invasif. Seperti daging berbentuk segitiga, dan umumnya bilateral di sisi nasal. Keadaan ini diduga merupakan suatu fenomena iritatif akibat sinar ultraviolet, daerah yang kering dan lingkungan yang banyak angin, karena sering terdapat pada orang yang sebagian besar hidupnya berada di lingkungan yang berangin, penuh sinar matahari, berdebu atau berpasir. Temuan patologik pada konjungtiva, lapisan bowman kornea digantikan oleh jaringan hialin dan elastik.Jika pterigium membesar dan meluas sampai ke daerah pupil, lesi harus diangkat secara bedah bersama sebagian kecil kornea superfisial di luar daerah perluasannya. Kombinasi autograft konjungtiva dan eksisi lesi terbukti mengurangi resiko kekambuhan.Uveitis adalah suatu inflamasi pada traktus uvea. Uveitis banyak penyebabnya dan dapat terjadi pada satu atau semua bagian jaringan uvea. Pada kebanyakan kasus, penyebabnya tidak diketahui.

Penyakit peradangan pada traktus uvealis umumnya unilateral. Di dunia, rata-rata insiden penyakit ini sekitar 15 dari 100.000 jiwa. Biasanya terjadi pada dewasa muda dan usia pertengahan (20-50 tahun). Uveitis jarang terjadi pada anak dibawah umur 16 tahun, hanya sekitar 5% sampai 8% dari jumlah total. Kira-kira setengah dari jumlah anak yang mendreita uveitis umumnya uveitis posterior dan panuveitis. Tidak ada perbedaan antara pria dan wanita dalam angka kesakitan. Penatalaksanaan uveitis tergantung pada penyebabnya. Biasanya disertakan kortikosteroid topikal atau sistemik dengan obat-obatan sikloplegik-midriatik dan/atau imunosupresan non kortikosteroid. Jika penyebabnya adalah infeksi diperlukan terapi antibiotik.

I.2 Rumusan MasalahI.2.1 Bagaimana etiologi, patogenesis, diagnosis dan penatalaksanaan Pterigium?1.2.2 Bagaimana etiologi, patogenesis, diagnosis dan penatalaksanaan Uveitis?I.3 Tujuan I.3.1 Mengetahui etiologi, patogenesis, diagnosis dan penatalaksanaan Pterigium.I.3.2 Mengetahui etiologi, patogenesis, diagnosis dan penatalaksanaan Uveitis.I.4 ManfaatI.4.1Menambah wawasan mengenai penyakit mata khususnya Pterigium dan Uveitis.

I.4.2Sebagai proses pembelajaran bagi dokter muda yang sedang mengikuti kepaniteraan klinik bagian ilmu penyakit mata.

BAB II

STATUS PASIEN

2.1 Identitas Pasien

Nama

: Ny.WJenis Kelamin

: PerempuanUmur

: 73 tahun

Alamat

: KanigoroPendidikan

: Tidak sekolahPekerjaan

: Petani

Status

: Janda (meninggal)Suku Bangsa

: Jawa

Tanggal Periksa

: 10 Agustus 2011No. RM

:2969942.2 Anamnesa

1. Keluhan Utama : mata kanan dan kiri terasa mengganjal.

2. Riwayat Penyakit Sekarang : Seorang pasien perempuan umur 73 tahun datang ke poliklinik Mata RSUD Kepanjen dengan keluhan mata kanan dan kiri terasa ngganjel. Kedua mata dirasakan mengganjal sejak 1 minggu yang lalu tetapi yang lebih parah pada mata kanan, sejak satu minggu ini penglihatan juga dirasakan menurun dan bila terkena air mata terasa perih. Selain itu pasien mengeluhkan mata kirinya terasa ngeres dan sering silau, pasien juga mengatakan bahwa matanya sering merah, keluhan ini dirasakan sejak dua hari yang lalu.3. Riwayat Penyakit Dahulu: riwayat penyakit serupa (-), kencing manis (-), darah tinggi (-), alergi makanan & obat (-), trauma (-), mata merah (-)4. Riwayat Penyakit Keluarga: riwayat penyakit serupa (-), kencing manis (-), darah tinggi (-),alergi makanan & obat (-)

5. Riwayat Pengobatan: (-) 6. Riwayat Kebiasaan: setiap hari pergi ke sawah2.3 Status Generalis

Kesadaran

: compos mentis (GCS 456)

Vital sign

: Tensi : 140/80 mmHg

Nadi : 76 x/mnt

RR : 20 x/mnt

Suhu : 36,8C2.4 Status Oftalmologi

PemeriksaanODOS

AVTanpa koreksi

Dengan koreksi2/60Tidak dilakukan5/20Tidak dilakukan

TION/PN/P

KedudukanOrthophoriaOthophoria

Pergerakan

Palpebra

Odem Hiperemi Trikiasis-

---

--

Konjungtiva Tarsal

BulbiHiperemi (-)

Selaput putih di sisi nasal melewati limbus < 2 mm, dan dari sisi lateral melewati limbus < 2mmHiperemi (+)

Selaput putih di sisi nasal belum melewati limbus

Kornea warna

permukaan infiltrateJernihCembung

-JernihCembung

-

Bilik mata depan kedalaman

hifema hipopion flareCukup-

-

-Dalam-

-

+

Iris Hitam, kripte (+)Hitam, kripte (+), sinekia posterior (+)

PupilBulat, central, RC (+)Bulat, central, RC (+)

Lensa warna

Iris shadowSulit dievaluasi-jernih

-

VitreusTidak dilakukanTidak dilakukan

RetinaTidak dilakukanTidak dilakukan

2.5Diagnosa Working diagnosis

: OD Pterigium Duplex

OS Pterigium Stadium I dengan UveitisDifferential Diagnosis

: Pseudopterigium, Pengikula

2.6Penatalaksanaan

Planning Diagnosis : Slit Lamp

Planning Therapy: 1. C Lyteers ED 6 dd gtt 1 ODS

2. C Atropin ED 1 dd gtt 1 ODS3. Prednison 3 dd tab I. 4. OD CLG2.7Prognosa

Ad vitam: ad bonam Ad Functionam: dubia ad malam

Ad Sanationam: dubia ad malam2.8 Follow Up: Tanggal 13 Agustus 2012S : mata mengganjal menurun, silau menurun, dan kabur pada mata kiri menurun.O: Status Ophtalmologis

PemeriksaanODOS

AVTanpa koreksi

Dengan koreksi2/60Tidak dilakukan5/20Tidak dilakukan

TION/PN/P

KedudukanorthophoriaOrthophoria

Pergerakan

Palpebra

edema

hiperemi trikiasis-

---

--

Konjungtiva tarsal

bulbiHiperemi (-)

Selaput putih di sisi nasal melewati limbus < 2 mm, dan dari sisi lateral melewati limbus < 2mmHiperemi (+)Selaput putih di sisi nasal belum melewati

Kornea warna

permukaan infiltrateJernihCembung

-JernihCembung

-

Bilik mata depan kedalaman

hifema hipopion flareCukup-

-

+Dalam

-

-

+

Iris Hitam, kripte (+)Hitam, kripte (+), sinekia posterior (+)

PupilBulat, central, RC ()Bulat, central, RC ()

Lensa warna

Iris shadowSulit dievaluasi-Jernih

-

VitreusTidak dilakukanTidak dilakukan

RetinaTidak dilakukanTidak dilakukan

A : OD Pterigium Duplex dengan uveitisOS Pterigium Stadium I dengan UveitisP : Planning Diagnosis : Slit Lamp Planning Therapy:1. C Lyteers ED 6 dd gtt 1 ODS

2. C Atropin ED 1 dd gtt 1 ODS3. C Tobroson ED 6 dd gtt ODS

4. Prednison 3 dd tab I. 5. OD CLGBila dilakukan operasi:Laporan operasi

Diagnose prabedah: OD Pterigium Stadium III

Diagnose pasca bedah: OD post CLG

Tindakan pembedahan: CLG

Laporan pembedahan:

anastesi subconjunctiva Tes sondenasi incise kecil pada konjungtiva menuju medial head dari pterigium

ambil pterigium dengan dikerok untuk mengangkat lapisan tipis epithelium dengan kombinasi deseksi tumpul dan traksi

Diambil konjungtiva dari bagian superior dari mata yang sama, sebelumnya diinjeksikan dengan lidokain, agar mudah mendiseksi konjungtiva dari tenon selama pengambilan autograft. Bagian limbal dari autograft ditempatkan pada area limbal dari area yang akan digraft. - Autograft kemudian dijahit ke konjungtiva disekitarnya dengan menggunakan nylon

-olesi mata dengan salep kloramfenicol kemudian tutup dengan kassa steril

Instruksi pasca bedah : medikamentosa:

Ciproflokcacin 500 mg tetes/hari2x1

Asam Mefenamat 500mg 3x1

Gentamycin ED 6

KIEBAB IIITINJAUAN PUSTAKA3.1 Anatomi & Fisiologi

3.1.1 Anatomi KonjungtivaKonjungtiva merupakan membran yang menutupi sclera dan kelopak mata bagian belakang. Berbagai macam obat mata dapat diserap melalui konjungtiva. Konjungtiva ini mengandung sel musin yang dihasilkan oleh sel goblet. 2Konjungtiva terdiri atas tiga bagian, yaitu :

Konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus, konjungtiva tarsal ini sukar digerakkan dari tarsus. Konjungtiva bulbi, menutupi sclera dan mudah digerakan dari sclera dibawahnya. Konjungtiva forniks, merupakan tempat peralihan konjungtiva tarsal dengan konjungtiva bulbi 2Konjungtiva bulbi dan forniks berhubungan sangat longgar dengan jaringan di bawahnya sehingga bola mata mudah bergerak 2

GAMBAR 1. KONJUNGTIVA3.1.2 Anatomi kornea

Kornea adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya, merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata bagian depan. 2Kornea terdiri dari lima lapis, yaitu :

1. Epitel

Tebalnya 50 m, terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel poligonal dan sel gepeng.

Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong ke depan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju ke depan menjadi sel gepeng, sel basal berikatan erat dengan sel basal di sampingnya dan sel poligonal di depanya melalui desmosom dan makula okluden; ikatan ini menghambat pengaliran air, elektrolit, dan glukosa yang merupakan barrier.

2. Membran Bowman

Terletak dibawah membran basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma.

3. Stroma

Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu dengan lainnya, pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang di bagian perifer serat kolagen ini bercabang; terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu yang lama yang kadang-kadang sampai 15 bulan. Keratosit merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblas terletak di antara serat kolagen stro