Lapres PAMa

download Lapres PAMa

of 31

  • date post

    02-Mar-2016
  • Category

    Documents

  • view

    14
  • download

    0

Embed Size (px)

description

a

Transcript of Lapres PAMa

LAPORAN PRAKTIKUMPENGOLAHAN AIR MINUM(Percobaan Aerasi, Sedimentasi, Filtrasi)

Daftar Nama Kelompok (Kelas C) :

Muhammad Darmawan 3310 100 010Muhammad Sukran T.3310 100 030Cici Minarwati3310 100 064Dian Puspitasari3308 100 098

Jurusan Teknik LingkunganFakultas Teknik Sipil dan PerencanaanInstitut Teknologi Sepuluh NopemberSurabaya 2012

PERCOBAANAERASI

1. Latar BelakangDalam pengolahan air dan air limbah, sering dijumpai mekanisme absorpsi dan desorpsi gas, yang selanjutnya disebut transfer gas. Transfer gas didefinisikan sebagai perpindahan gas dari fase gas ke fase cair atau sebaliknya. Transfer gas melibatkan terjadinya kontak antara udara atau gas lain dengan air yang menyebabkan berpindahnya suatu senyawa dari fase gas ke fase cair atau menguapnya suatu senyawa dari fase cair (dalam bentuk terlarut) menjadi fase gas (lepas ke udara). Gas-gas yang menjadi perhatian pada bidang pengolahan air adalah oksigen, karbondioksida, metana, hidrogen sulfida, ammonia dan klor. Tidak semua air baku membutuhkan proses aerasi misalnya, air baku dari air terjunan. Hal ini dikarenakan air baku tersebut sudah cukup mengandung kadar oksigen, jadi aerasi digunakan untuk keadaan-kedaan tertentu seperti, kekurangan kadar oksigen terlarut dll.2. Prinsip PercobaanPada percobaan praktikum aersi ini digunakan sampel air 10 L, kemudian diukur DO awalnya dan dipastikan nilai DO awal harus nol, jika belum nol maka ditambah dengan natrium sulfit. Dan dilakukan aerasi dengan menggunakan kompresor atau tabung gas selama 30 menit, diukur DO nya pada menit ke-3, 6, 10, 15, 20, 30, 40, 50 dan 60.3. Tujuan PercobaanTujuan pada percobaan aerasi ini diantaranya adalah :a) Untuk mengurangi konsentrasi bahan penyebab rasa dan bau, seperti hydrogen sulfida dan beberapa senyawa organik, dengan jalan penguapan atau oksidasi.b) Untuk mengoksidasi besi dan manganc) Untuk melarutkan gas ke dalam air (seperti penambahan oksigen ke dalam air tanah dan penambahan karbondioksida setelah pelunakan air). Untuk menyisihkan senyawa yang mungkin dapat meningkatkan biaya pengolahan.4. Alat dan Bahana) Kompresor atau tabung gas oksigen b) Bak air berkapasitas 10 Lc) Instrument pengukur kadar DOd) Termometere) Sampel air 10 Lf) Natrium sulfit5. Dasar TeoriPerpindahan massa zat dari fase gas ke fase cair atau sebaliknya (absorpsi-desorpsi), terjadi bila ada kontak antar permukaan cairan dengan gas atau udara. Mekanisme ini terjadi secara difusi. Gaya penggerak perpindahan massa dari udara ke dalam air atau sebaliknya dikendalikan oleh perbedaan konsentrasi zat dalam larutan dan kelarutan gas pada kondisi tertentu.Faktor utama yang mempengaruhi kelarutan gas dalam air adalah: suhu air, tekanan parsial gas dalam fase gas, konsentrasi padatan terlarut dalam fase air dan komposisi kimia gas. Kelarutan gas, tidak seperti kelarutan zat padat dalam air, menurun seiring dengan kenaikan suhu. Pada tekanan parsial sampai 1 atm, konsentrasi keseimbangan gas dalam larutan pada suatu suhu tertentu sebanding dengan tekanan parsial gas dalam air, sesuai dengan hukum henry:Cs = H.PDimana,Cs = konsentrasi jenuh atau keseimbangan gas dalam larutan, mg/lH = koefisien kelarutan HenryP = tekanan parsial fase gas dalam air, atmHukum Henry banyak digunakan pada gas-gas yang sering dijumpai dalam teknik pengolahan air dan air limbah seperti oksigen, metana, karbondioksida, dan hidrogen sulfida. Bila permukaan air dipaparkan dengan udara atau gas dan belum terjadi kesetimbangan sebelumnya, maka secara serentak dan segera pada bidang kontak antar fase akan jenuh dengan gas dan gas ditransportasikan ke badan air dengan proses difusi molekuler.Aerasi merupakan istilah lain dari transfer gas dengan penyempitan makna, lebih dikhususkan pada transfer gas (khususnya oksigen) dari fase gas ke fase cair. Fungsi utama aerasi dalam pengolahan air dan air limbah melarutkan oksigen ke dalam air untuk meningkatkan kadar oksigen terlarut dalam air, dalam campuran tersuspensi lumpur aktif dalam bioreaktor dan melepaskan kandungan gas-gas yang terlarut dalam air, serta membantu pengadukan air. Faktor-faktor yang mempengaruhi perpindahan oksigen adalah :a) Suhu.Koefisien penyerapan oksigen KLa meningkat seiring dengan kenaikan suhu, karena suhu dalam air akan mempengaruhi tingkat difusi, tegangan permukaan dan kekentalan air. Kemampuan difusi oksigen meningkat dengan peningkatan suhu, sedang tegangan permukaan dan kekentalan menurun seiring dengan kenaikan suhu.b) Kejenuhan oksigenKonsentrasi jenuh oksigen dalam air tergantung pada derajat salinitas air, suhu, dan tekanan parsial oksigen yang berkontak dengan air. c) Karakteristik airDalam praktek ada perbedaan nilai KLa untuk air bersih dan KLa air limbah yang mengandung materi tersuspensi, surfactant (detergen) dalam larutan dan perbedaan temperatur. Faktor-faktor ini juga mempengaruhi nilai Cs.d) Derajat turbulensiDerajat turbulensi dalam tangki aerasi akan mempengaruhi nilai a sebagai berikut:a) Turbulensi akan menurunkan derajat tahanan liquid filmb) Tuebulensi akan meningkatkan laju perpindahan masa oksigen karena terjadi percepatan laju pergantian permukaan bidang kontak, yang berakibat pada defisit oksigen tetap terjaga konstan. Turbulensi secara langsung akan meningkatkan nilai koefisien perpindahan oksigen.6. Prosedur Percobaana) Siapkan 10 L air sampel pada sebuah bak airb) Ukur kadar DO dalam air sampel tersebutc) Bila kadar DO masih lebih dari 1 mg/L, turunkan kadar DO hingga mendekati nol dengan cara menambahkan natrium sulfit (secara teoritis, 7,9 ppm NaSo diperlukan untuk menghilangkan 1 mg O/L)d) lakukan aerasi dengan metoda diffused-aeration menggunakan kompresor atau tabung gas. Udara(gas) dari tabung didifusikan ke dalam air. e) ukur DO pada sampel air pada menit ke-0, 3, 6, 10, 15, 20, 30, 40, 50, dan 60 Selama proses aerasi temperatur harus diukur.7. Hasil Pengamatan Percobaan AerasiNoPerlakuanPengamatan

1Disiapkan 10 liter air sampel pada sebuah bak air.1. Sampel berasal dari air selokan depan TL.2. Warna keruh.3. Bak air menggunakan toples.

2Ukur kadar DO dalam air sampel tersebut

3Bila kadar DO masih lebih dari 1 mg/l, turunkan kadar DO hingga mendekati nol dengan cara menambahkan natrium sulfit (secara teoritis, 7,9 ppm Na2SO3 diperlukan untuk menghilangkan 1 mg O2/l.

4Lakukan aerasi dengan metoda diffused-aeration menggunakan kompresor atau tabung gas. Udara (gas) dari tabung didifusikan ke dalam air. Ukur debit udara yang dialirkan melalui pipa (selang).1. Terdapat gelembung-gelembung udara dalam bak air.2. Warna air tetap keruh.

5Diukur DO pada sampel air pada menit ke-0, 3, 6, 10, 15, 20, 30, 40, 50, dan 60.1. Total selama 1 jam.2. Menggunakan timer.

6Diambil sampel air dalam bak air dengan botol winkler sampai penuh kemudian ditutup. Ditambahkan 1 ml larutan MnSO4 ke dalam botol winkler. Lalu ditambah 1 ml larutan pereaksi O2. Botol lalu ditutup rapat dengan dibolak-balikkan botol beberapa kali kemudian dibiarkan mengendap selama 10 menit. Setelah itu ditambahkan 1 ml H2SO4 pekat ke dalam botol winkler dan kemudian dibolak-balikan beberapa kali. Pindahkan larutan sebanyak 100 ml dengan menggunakan gelas ukur kemudian dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 250 ml. Dititrasi dengan larutan Natrium Tiosulfat sampai warna menjadi bening.1. Dalam menit ke-0, merupakan kondisi awal sampel air sebelum udara (gas) dari tabung didifusikan ke dalam air.2. Dalam menit ke-3, titrasi untuk merubah warna larutan menjadi bening pertama kali dibutuhkan titran sebanyak 1,3 ml.3. Dalam menit ke-6, titrasi untuk merubah warna larutan menjadi bening pertama kali dibutuhkan titran sebanyak 1,9 ml.4. Dalam menit ke-10, titrasi untuk merubah warna larutan menjadi bening pertama kali dibutuhkan titran sebanyak 2,55 ml.5. Dalam menit ke-15, titrasi untuk merubah warna larutan menjadi bening pertama kali dibutuhkan titran sebanyak 2,8 ml.6. Dalam menit ke-20, titrasi untuk merubah warna larutan menjadi bening pertama kali dibutuhkan titran sebanyak 3,6 ml.7. Dalam menit ke-30, titrasi untuk merubah warna larutan menjadi bening pertama kali dibutuhkan titran sebanyak 4,2 ml.8. Dalam menit ke-40, titrasi untuk merubah warna larutan menjadi bening pertama kali dibutuhkan titran sebanyak 5,5 ml.9. Dalam menit ke-50, titrasi untuk merubah warna larutan menjadi bening pertama kali dibutuhkan titran sebanyak 4,6 ml.10. Dalam menit ke-60, titrasi untuk merubah warna larutan menjadi bening pertama kali dibutuhkan titran sebanyak 5,5 ml.

7Selama proses aerasi, temperatur air harus diukur.Temperatur konstan 26 derajat celcius.

8. Pembahasan Percobaan AerasiPercobaan kali ini bertujuan agar mahasiswa dapat mengamati proses aerasi untuk meningkatkan kadar oksigen terlarut dalam air dan mampu menghitung koefisien transfer oksigen. Sampel air diambil dari air selokan depan kampus TL ITS dengan menggunakan drum. Langkah pertama dalam percobaan ini adalah menyiapkan 10 liter air sampel pada sebuah bak air. Lalu diukur kadar DO dalam air sampel tersebut. Bila kadar air DO masih lebih dari 1 mg/L, turunkan kadar DO hingga mendekati nol dengan cara menambahkan natrium sulfit (secara teoritis, 7,9 ppm Na2S03) diperlukan untuk menghilangkan 1 mg O2/l. Langkah berikutnya melakukan aerasi dengan metoda diffused-aeration menggunakan kompresor atau tabung gas. Udara (gas) dari tabung didifusikan ke dalam air. Lalu mengukur debit udara yang dialirkan melalui pipa (selang).Diambil sampel air dalam bak air dengan botol winkler. Botol diisi secara penuh kemudian ditutup rapat. Dalam botol, sampel air berwarna kuning keruh. Langkah selanjutnya adalah penambahan 1 mL MnSO4. Setelah ditambahkan MnSO4 tidak terjadi perubahan warna dan maksud penambahan MnSO4 adalah sebagai zat yang nantinya dioksidasi oleh oksigen. Selanjutnya dtambahkan 1 mL larutan pereaksi oksigen kedalam botol dan maksud penambahan ini adalah untuk mengkondisikan reaksi dalam keadaan alkalis sehingga didapat endapan MnO2. Reaksi yang terjadi adalah:MnSO4 + 2 KOH Mn(OH)2 + K2SO4Mn(OH)2 + O2 MnO2 + H2OSelanjutnya botol ditutup rapat dan dibolak-balikan beberapa kali kemudian didiamkan selama 10 menit untuk mengendap. Setelah selama 10 menit dalam botol terbentuk 2 lapisan, yaitu endapan dan cairan. Dan endapan yang terbentuk sesuai reaksi adalah endapan MnO2.Langkah selanjutnya adalah penambahan 1 mL H2SO4 pekat. Setelah ditambahkan dalam botol dan dibolak-balikan beberapa kali, endapan menjadi hilang dan terbentuk larutan yang berwarna kuning kecoklatan seperti warna minyak. Selanjutnya larutan dipindah ke erlenmeyer sebanyak 100 mL dengan menggunakan gelas ukur. Langkah selanjutnya adalah dilakukan pentitrasian dengan larutan Natrium Tiosulfat 0,0125 N sampai warnanya menjadi bening. Dan untuk membuat warna menjadi bening dibutuhkan ml titran sebanyak: Menit ke-3= 1,3 ml Menit ke-6= 1,9 ml Menit ke-10= 2,55 ml Menit ke-15= 2,8 ml Menit ke-20= 3,6 ml Menit ke-30= 4,2 ml Menit ke-40= 5,5 ml Menit ke-50= 4,6 ml Menit ke-60= 5,5 mlDari perhitungan nilai oksigen terlarut berdasar rumus:OT= 8000 x Natrium thiosulfat x mL titranmL sampeldidapatkan kadar oksigen terlarut dalam sampel air selokan depan kampus TL ITS sebesar: Menit ke-3= 0,013 mg/L Menit ke-6= 0,019 mg/L Menit ke-10= 0,0255 mg/L Menit ke-15= 0,028 mg/L Menit ke-20= 0,036 mg/L Menit ke-30= 0,042 mg/L Menit ke-40= 0,055 mg/L Menit ke-50= 0,046 mg/L Menit ke-60= 0,055 mg/L

9. Analisis Hasil Percobaan Aerasi Proses yang terjadi selama proses pengendapanProses yang terjadi selama percobaan aerasi ini yaitu terjadinya proses transfer zat dari fase gas ke fase cair, yaitu dengan menggunakan alat kompresor atau aerator sehingga pada percobaan didapatkan nilai DO yang senantiasa terus meningkat. Koefisien Transfer OksigenMenit ke-C (mg/L)Cs-CLn (Cs-C)

006,71,902107526

30,0136,6871,900165343

60,0196,6811,899267677

100,02256,67751,898743666

150,0286,6721,897919665

200,0366,6641,896719905

300,0426,6581,895819139

400,0536,6471,894165625

500,0466,6541,895218178

600,0556,6451,893864692

Cs didapatkan dari pengukuran sebelum nilai DO di nol-kan=6,7.KLa= Ln (Cs-C) awal - Ln (Cs-C) akhir= 1,902 1,893= 0,01/jam Aplikasi Hasil Percobaan AerasiAplikasi yang dapat diterapkan hasil dari percobaan aerasi adalah untuk meningkat kadar DO dalam pengolahan air minum yang menggunakan air baku dengan nilai DO yang\

PERCOBAANSEDIMENTASI

1. Latar BelakangSedimentasi adalah proses pemisahan padatan yang terkandung dalam air atau limbah cair oleh gaya gravitasi, pada umumnya proses Sedimentasi dilakukan setelah proses Koagulasi dan Flokulasi dimana tujuannya adalah untuk memperbesar partikel padatan sehingga menjadi lebih berat dan dapat tenggelam dalam waktu lebih singkat.Sedimentasi bisa dilakukan pada awal maupun pada akhir dari unit sistim pengolahan. Jika kekeruhan dari influent tinggi,sebaiknya dilakukan proses sedimentasi awal (primary sedimentation) didahului dengan koagulasi dan flokulasi, dengan demikian akan mengurangi beban pada treatment berikutnya. Sedangkan secondary sedimentation yang terletak pada akhir treatment gunanya untuk memisahkan dan mengumpulkan lumpur dari proses sebelumnya (activated sludge, OD, dlsb) dimana lumpur yang terkumpul tersebut dipompakan keunit pengolahan lumpur tersendiri.2. Prinsip PercobaanSedimentasi ini dibagi menjadi 2 tahap yaitu sedimentasi 1 dan sedimentasi 2. Pada percobaan sedimentasi ini digunakan sampel air sebanyak 100 L, lalu dimasukkan ke dalam column settling test hingga batas tertentu dan diendapkan selama 120 menit, diukur kekeruhannya pada menit-menit tertentu. Pada sedimentasi 1 dilakukan pula proses koagulasi-flokulasi untuk menentukan dosis meksimum tawas untuk digunakan proses sedimentasi selanjutnya.3. Tujuan Percobaan Dapat membedakan sedimentasi tipe 1 dan sedimentasi tipe 2 Dapat menghitung efisiensi pengendapan Dapat menentukan over flow rate dan waktu pengendapan berdasarkan perhitungan hasil percobaan sedimentasi4. Alat dan Bahan1) Colum test single port2) Colum test multiple port3) Instrumen pengukur kekeruhan, turbidimeter, atau spektrofotometer4) Instrumen pengadukan (pengaduk mekanik atau gelembung udara)5) Termometer6) Sampel air; gunakan air sungai dengan kekeruhan lebih dari 200 NTU dan tambahkan endapan sungai secukupnya, volume air sekitar 100 L.7) Tawas5. Dasar TeoriAir baku dari air permukaan sering mengandung bahan-bahan yang tersusun oleh partikel koloid yang tidak bisa diendapkan secara alamiah dalam waktu singkat. Partikel-partikel koloid dibedakan berdasarkan ukuran. Jarak ukurannya antara 0,001 mikron (10-6 mm) sampai 1 mikron (10-3 mm). Partikel yang ditemukan dalam kisaran ini meliputi (1) partikel anorganik, seperti serat asbes, tanah liat, dan lanau/silt, (2) presipitat koagulan, dan (3) partikel organik, seperti zat humat, virus, bakteri, dan plankton. Dispersi koloid mempunyai sifat memendarkan cahaya. Sifat pemendaran cahaya ini terukur sebagai satuan kekeruhan. Koloid merupakan partikel yang tidak dapat mengendap secara alami karena adanya stabilitas suspensi koloid. Stabilitas koloid terjadi karena gaya tarik van der Waal's dan gaya tolak/repulsive elektrostatik serta gerak brown.Sedimen dari limbah cair mengandung bahan bahan organik yang akan mengalami proses dekomposisi, pada proses tersebut akan timbul formasi gas seperti carbon dioxida, methane, dlsb. Gas tersebut terperangkap dalam partikel lumpur dimana sevvaktu gas naik keatas akan mengangkat pule partikel lumpur tersebut, proses ini selain menimbulkan efek turbulensi juga akan merusak sedimen yang telah terbentuk. Pada Septic-tank, Imhoff-tank dan Baffle-reactor, konstruksinya didesain sedemikian rupa guna menghindari efek dari timbulnya gas supaya tidak mengaduk/merusak partikel padatan yang sudah mapan (settle) didasar tangki, sedangkan pada UASB (Uplift Anaerobic Sludge Blanket)justru menggunakan efek dari proses tersebut untuk mengaduk aduk partikel lumpur supaya terjadi kondisi seimbang antara gaya berat dan gaya angkat pada partikel lumpur, sehingga partikel lumpur tersebut melayang-layang/mubal mubal.Setelah proses dekomposisi dan pelepasan gas, kondisi lumpur tersebut disebut sudah stabil dan akan menetap secara permanen pada dasar tangki, sehingga sering juga proses sedimentasi dalam waktu yang cukup lama disebut dengan proses Stabilisasi. Akumulasi lumpur (Volume) dalam periode waktu tertentu(desludging-interval) merupakan parameter penting dalam perencanaan pengolahan limbah dengan proses sedimentasi dan stabilisasi lumpur.Gaya Van der Waals. Gaya ini merupakan gaya tarik-menarik antara dua massa, yang besarnya tergantung pada jarak antar keduanya. Pada kimia koloid, ikatan Van der Waals adalah lawan dari gaya elektrostatik.Gaya Elektrostatik. Gaya elektrostatik adalah gaya utama menjaga suspensi koloid pada keadaan yang stabil. Sebagian besar koloid mempunyai muatan listrik. Sifatnya berbeda tergantung sifat dasar koloidnya. Oksida metalik umumnya bermuatan positif, sedangkan oksida nonmetalik dan sulfida metalik umumnya bermuatan negatif. Kestabilan koloid terjadi karena adanya gaya tolak antar koloid yang mempunyai muatan yang sama.Gerak Brown. Gerak ini adalah gerak acak dari suatu partikel koloid yang disebabkan oleh kecilnya massa partikel.Kestabilan koloid dapat dikurangi dengan proses koagulasi (proses destabilisasi) melalui penambahan bahan kimia dengan muatan berlawanan. Terjadinya muatan pada partikel menyebabkan antar partikel yang berlawanan cenderung bergabung membentuk inti flok. Proses koagulasi selalui diikuti oleh proses flokulasi, yaitu penggabungan inti flok atau flok kecil menjadi flok yang berukuran besar. Proses koagulasi-flokulasi terjadi pada unit pengaduk cepat dan pengaduk lambat. Pada bak pengaduk cepat, dibubuhkan bahan kimia (disebut koagulan). Pengadukan cepat dimaksudkan agar koagulan yang dibubuhkan dapat tercampur secara merata/homogen. Pada bak pengaduk lambat, terjadi pembentukan flok yang berukuran besar hingga mudah diendapkan pada bak sedimentasi.Koagulan yang banyak digunakan dalam pengolahan air minum adalah aluminium sulfat atau garam-garam besi. Kadang-kadang koagulan-pembantu, seperti polielektrolit dibutuhkan untuk memproduksi flok yang cepat mengendap. Faktor utama yang mempengaruhi koagulasi dan flokulasi air adalah kekeruhan, padatan tersuspensi, temperatur, pH, komposisi dan konsentrasi kation dan anion, durasi dan tingkat agitasi selama koagulasi dan flokulasi, dosis koagulan, dan jika diperlukan, koagulan-pembantu.6. Prosedur Kerja Percobaan Sedimentasia) Persiapan Sampel1. Diambil 100 liter air dari saluran air depan halaman Jurusan Teknik Lingkungan sebagai sampel dengan menggunakan dirigen ukuran 30 liter. Sehingga dibutuhkan 3-4 buah dirigen untuk mengambil air tersebut.2. Diukur kekeruhan air sampel tersebut sehingga nilai kekeruhannya harus > 200 Ntu. Setelah dilakukan pengukuran didapatkan hasil kekeruhan sampel sebesar 205 Ntu.3. Air sampel diaduk dan dimasukkan dalam columm settling test hingga batas ketinggian tertentu dari ketinggian tabung columm settling test.

b) Sedimentasi I1. Air sampel dibiarkan selama 120 menit agar terjadi pengendapan. Di antara 120 menit tersebut dilakukan pengambilan sampel yang dilakukan dari sampling point no.4 pada menit ke-0, 10, 20, 30, 40, 50, 60, 75, 90, 105, 120. Pengambilan sampel menggunakan gelas air kemasan.2. Pengambilan sampel untuk analisa nilai kekeruhan dan temperature dari air sampel tersebut. Analisa kekeruhan menggunakan spektofotometer. Sedangkan untuk mengukur temperature air sampel tersebut menggunakan thermometer.c) Uji Penentuan Dosis Optimum dengan metode Jar Test1. Dalam proses sedimentasi I, juga dilakukan pengambilan sampel untuk analisa penentuan dosis optimum pembubuhan tawas sebagai koagulan sebelum dilakukan sedimentasi II.2. Pengambilan sampel dilakukan pada menit ke-0, 10, 15, 20, 25, 30. Pada tiap pengambilan sampel diambil 500 ml dengan menggunakan beaker glass 500 ml.3. Dibubuhkan larutan tawas ke masing-masing beaker glass dengan dosis pembubuhan masing-masing adalah: 0 menit: 30 ml tawas- 20 menit: 15 ml tawas 10 menit: 25 ml tawas- 25 menit: 10 ml tawas 15 menit: 20 ml tawas- 30 menit: 5 ml tawas4. Kemudian ditempatkan dalam floculator untuk dilakukan pengadukan cepat terhadap campuran sampel dan koagulan. Pengadukan cepat dilakukan selama 1 menit dengan kecepatan 100 rpm.5. Kemudian dilakukan pengadukan lambat selama 15 menit dengan kecepatan 40-60 rpm. Pada saat pelaksanaan praktikum dilakukan dengan kecepatan 50 rpm.6. Endapkan selama 15 menit.7. Ambil 100 ml air yang telah diendapkan dari masing-masing beaker glass.8. Dilakukan analisa kekeruhan kembali pada masing-masing sampeld) Sedimentasi II1. Proses percobaan ini lanjutan dari proses sedimentasi I.2. Lumpur yang mengendap dalam column settling test hasil dari proses sedimentasi type I dibuang. Kemudian ditambahkan sampel kembali hingga ketinggian yang ditentukan pada tabung tersebut.3. Sebelum proses sedimentasi II dimulai, dibubuhkan koagulan (tawas) ke dalam column settling test sesuai dengan hasil jar test. 4. Disiapkan alat pengaduk berupa pompa udara yang dihubungkan dengan column settling test sebagai alat pengaduk pada sedimentasi II ini.5. Selanjutnya dilakukan pengadukan cepat selama 1 menit dengan menggunakan alat pengaduk.6. Pengadukan diperlambat dan dilakukan selama 15 menit.7. Setelah pengadukan lambat selesai, air sampel dibiarkan mengendap selama 90 menit. Selama waktu pengendapan tersebut, dilakukan pengambilan sampel pada menit ke-0, 10, 20, 30, 40, 50, 60, 75, dan 90 dari 4 sampling point yang tedapat pada column settling test. Pengambilan sampel menggunakan gelas air kemasan untuk dilakukan pengukuran kekeruhan dan temperature dari tiap sampling point.8. Setelah proses sedimentasi II selesai dilakukan, dilakukan analisa terhadap data-data yang dihasilkan selama proses percobaan sedimentasi ini. Analisa yang harus dilakukan mengenai beberapa hal berikut ini: Efesiensi pengendapan yang terjadi Over flow rate dan waktu detensi (pengendapan) dari percobaan yang telah dilakukan. Hasil dari percobaan ini ditunjukkan dengan aplikasi.

7. Hasil Pengamatan Percobaan SedimentasiNoPerlakuanPengamatan

Persiapan Pembuatan Sampel

1Diambil 100 liter air dari saluran air depan halaman Jurusan Teknik Lingkungan sebagai sampel dengan menggunakan dirigen ukuran 30 liter. Air sampel berwarna coklat kekeruhan Sehingga dibutuhkan 3-4 buah dirigen untuk mengambil air tersebut.

2Diukur kekeruhan air sampel tersebut sehingga nilai kekeruhannya harus > 200 Ntu. Setelah dilakukan pengukuran didapatkan hasil kekeruhan sampel sebesar 205 Ntu. Setelah dilakukan pengukuran didapatkan hasil kekeruhan sampel sebesar 205 Ntu.

3Air sampel diaduk dan dimasukkan dalam columm settling test hingga batas ketinggian tertentu dari ketinggian tabung columm settling test. Setelah dilakuakan pengadukan, kondisi sampel menjadi lebih keruh dan terdapat serbuk kotoran yang melayang

Sedimentasi type I

1Air sampel dibiarkan selama 120 menit agar terjadi pengendapan. Di antara 120 menit tersebut dilakukan pengambilan sampel yang dilakukan dari sampling point no.4 pada menit ke-0, 10, 20, 30, 40, 50, 60, 75, 90, 105, 120. Pengambilan sampel menggunakan gelas air kemasan. Berikut Data nilai kekeruhan sampel dan temperature:NoMenit ke- (t)Kekeruhan (NTU)Temperature (0C)

1020526

21018426

32018126,5

43017826

54015926

65017526

76014926

87514526

99015226

1010511626

1112010526

2Dilakukan analisa terhadap data yang dihasilkan dari proses sedimentasi tersebut Berdasarkan data yang dihasilkan terbentuk kurva sebagai berikut:

Penentuan dosis optimum pembubuhan tawas dengan metode Jar Test

1Dalam proses sedimentasi I, juga dilakukan pengambilan sampel untuk analisa penentuan dosis optimum pembubuhan tawas sebagai koagulan sebelum dilakukan sedimentasi II.

2Pengambilan sampel dilakukan pada menit ke-0, 10, 15, 20, 25, 30. Pada tiap pengambilan sampel diambil 500 ml dengan menggunakan beaker glass 500 ml.

3Dibubuhkan koagulan ke masing-masing beaker glass dengan dosis pembubuhan yang berbeda pada tiap-tiap sampel Dosis pembubuhan koagulan pada masing-masing sampel adalah sebagai berikut:0 menit : 30 ml tawas 20 menit : 15 ml tawas10 menit : 25 ml tawas 25 menit : 10 ml tawas15 menit : 20 ml tawas 30 menit : 5 ml tawas Koagulan adalah campuran tawas dengan aquadest

4Kemudian ditempatkan dalam floculator untuk dilakukan pengadukan cepat terhadap campuran sampel dan koagulan. Pengadukan cepat dilakukan selama 1 menit dengan kecepatan 100 rpm. Saat dilakukan pengadukan cepat, kondisi campuran sampel dengan koagulan menjadi putih keruh. Hal ini menandakan adanya pencampuran antara kedua larutan tersebut

5Kemudian dilakukan pengadukan lambat selama 15 menit dengan kecepatan 40-60 rpm. Pada saat pelaksanaan praktikum dilakukan dengan kecepatan 50 rpm. Pada saat pelaksanaan praktikum dilakukan dengan kecepatan 50 rpm. Kondisi larutan masih tetep keruh

6Endapkan selama 15 menit. Selama proses pengendapan, kondisi larutan perlahan menjadi lebih jernih dan tampak terlihat endapan di bawah beaker glass yang digunakan sebagai wadah larutan

7Ambil 100 ml air yang telah diendapkan dari masing-masing beaker glass. Dan dilakukan analisa kekeruhan pada masing-masing sampel Berdasarkan pengukuran yang dilakukan, diketahui nilai kekeruhan pada masing-masing campuran sampel dengan koagulan adalah:

Sedimentasi type II

1Lumpur yang mengendap dalam column settling test hasil dari proses sedimentasi type I dibuang. Kemudian ditambahkan sampel kembali hingga ketinggian yang ditentukan pada tabung tersebut. Hasil dari sedimentasi I menyisakan endapan lumpur yang kemudian dikeluarkan melalui saluran di bagian bawah column settling test. Penambahan sampel menggunakan air yang telah diambil sebelumnya.

2Sebelum proses sedimentasi II dimulai, dibubuhkan koagulan (tawas) ke dalam column settling test sesuai dengan hasil jar test. Berdasarkan penentuan dosis optimum pembubuhan koagulan diketahui bahwa koagulan sebanyak . . merupakan jumlah yang paling efektif. Sehingga koagulan yang dibubuhkan sebanyak . .

3Disiapkan alat pengaduk berupa pompa udara yang dihubungkan dengan column settling test sebagai alat pengaduk pada sedimentasi II ini. Mesin pompa yang digunakan dihubungkan dengan bagian atas column settling test.

4Selanjutnya dilakukan pengadukan cepat selama 1 menit dengan menggunakan alat pengaduk. Pengadukan cepat dilakukan dengan memompakan udara dari mesin pompa ke column settling test. Kondisi larutan terlihat ada gelembung-gelembung udara yang mengaduk larutan.

5Pengadukan diperlambat dan dilakukan selama 15 menit.

Pengadukan lambat dilakukan dengan cara memperlambat mesin pompa.

6Setelah pengadukan lambat selesai, air sampel dibiarkan mengendap selama 90 menit. Selama waktu pengendapan tersebut, dilakukan pengambilan sampel pada menit ke-0, 10, 20, 30, 40, 50, 60, 75, dan 90 dari 4 sampling point yang tedapat pada column settling test.Pengambilan sampel menggunakan gelas air kemasan untuk dilakukan pengukuran kekeruhan dan temperature dari tiap sampling point. Berdasarkan data yang dihasilkan hasil pengukuran adalah sebagai berikut:

NoMenit ke- (t)Kekeruhan (NTU) pada sampling point

1234

1096104115126

210877897106

32051717179

43028526173

54048495566

65025273041

76026343641

87525283237

99014223031

7Setelah proses sedimentasi II selesai dilakukan, dilakukan analisa terhadap data-data yang dihasilkan selama proses percobaan sedimentasi ini. Berdaarkan data yang dihasilkan, kurva yang terbentuk adalah sebagai berikut:

8. Pembahasan Percobaan SedimentasiPercobaan kali ini akan membahas tentang Sedimentasi.Tujuan percobaan kali ini adalah agar Mahasiswa mampu membedakan sedimentasi type I dan II dan juga mampu menghitung efisiensi pengendapan dan juga mampu menentukan over flow rate dan waktu pengendapan berdasarkan perhitungan hasil percobaan sedimentasi.Praktikum sedimentasi diawali dengan pengambilan sampel. Diambil 100ml air dari saluran didepan jurusan teknik lingkungan menggunakan dirigen 30 liter sehingga diperlukan 3-4 dirigen untuk mengambil sampel. Air sampel berwarna coklat keruh. Diukur kekeruhan air sampel tersebut sehingga nilai kekeruhannya harus > 200 Ntu. Setelah dilakukan pengukuran didapatkan hasil kekeruhan sampel sebesar 205 Ntu. Kekeruhan harus >200 Ntu karena pada kondisi sebenarnya, air baku berada pada kisaran >200 Ntu.Air sampel diaduk dan dimasukkan dalam columm settling test hingga batas ketinggian tertentu dari ketinggian tabung columm settling test. Setelah dilakukan pengadukan bersama endapan agar sampel bersifat homogen, kondisi sampel menjadi lebih keruh dan terdapat serbuk kotoran yang melayangSelanjutnya dilakukan proses sedimentasi tipe I untuk mengendapkan partikel diskret yaitu pertikel yang dapat mengendap bebas secara individual tanpa membutuhkan adanya interaksi antar partikel. Air sampel dibiarkan selama 120 menit agar terjadi pengendapan. Diantara 120 menit tersebut dilakukan beberapa kali pengambilan sampel yang dilakukan dari sampling point no. 4 pada menit ke-0, 10, 20, 30, 40, 50, 60, 75, 90, 105, dan 120. Pengambilan sampel ini dilakukan untuk mengukur kekeruhan dan temperatur sampel. Pengambilan sampel menggunakan gelas air minum kemasan. Berikut adalah nilai kekeruhan dan temperatur sampel

NoMenit ke- (t)Kekeruhan (NTU)Temperature (0C)

1020526

21018426

32018126,5

43017826

54015926

65017526

76014926

87514526

99015226

1010511626

1112010526

Kemudian dilakukan analisa terhadap data yang dihasilkan dari proses sedimentasi tersebut.

Penentuan dosis optimum pembubuhan tawas dengan metode Jar Tes.

Dalam proses sedimentasi tipe I juga dilakukan pengambilan sampel untuk analisa penentuan dosis optimum pembubuhan tawas sebagai koagulan sebelum dilakukan sedimentasi tipe II. Tujuan dari penambahan tawas yaitu sebagai pengikat suspense penyebab air keruh dan tawas juga disebut flokulan sebagai pembentuk flok. Penambahan koagulan dilakukan variasi yaitu 5, 10, 15, 20, 25, dan 30. Dibubuhkan koagulan ke masing-masing beaker glass dengan dosis pembubuhan yang berbeda pada tiap-tiap sampel. Dosis pembubuhan koagulan pada masing-masing sampel adalah sebagai berikut:Beaker glass 1 : 30 ml tawas Beaker glass 4 : 15 ml tawasBeaker glass 2 : 25 ml tawas Beaker glass 5 : 10 ml tawasBeaker glass 3: 20 ml tawas Beaker glass 6 : 5 ml tawasKoagulan merupakan campuran tawas dan aquades.Kemudian ditempatkan dalam floculator untuk dilakukan pengadukan cepat terhadap campuran sampel dan koagulan. Pengadukan cepat dilakukan selama 1 menit dengan kecepatan 100 rpm. Saat dilakukan pengadukan cepat, kondisi campuran sampel dengan koagulan menjadi putih keruh. Hal ini menandakan adanya pencampuran antara kedua larutan tersebut. Pengadukan cepat ini dilakukan untuk destabilisasi partikel koloid. Kemudian dilakukan pengadukan lambat selama 15 menit dengan kecepatan 40-60 rpm. Pada saat pelaksanaan praktikum dilakukan dengan kecepatan 50 rpm. Pada saat pelaksanaan praktikum dilakukan dengan kecepatan 50 rpm bertujuan untuk membentuk partikel flok. Kondisi larutan masih tetap keruh. Diendapkan selama 15 menit. Selama proses pengendapan, kondisi larutan perlahan menjadi lebih jernih dan tampak terlihat endapan di bawah beaker glass yang digunakan sebagai wadah larutan.reaksi yang terjadi adalah:Al2 (SO4)3 + 6 H20 2 Al (OH)3 + 6 H + + SO4 2-Ambil 100 ml air yang telah diendapkan dari masing-masing beaker glass. Dan dilakukan analisa kekeruhan pada masing-masing sampel. Dari hasil analisa kekeruhan didapatkan nilai kekeruhan paling terkecil pada penambahan koagulan dengan konsentrasi 25 ml, yaitu 4 NTU. Dan konsentrasi ini selanjutknya akan digunakan pada proses sedimentasi tipe II.

Sedimentasi tipe IISelanjutnya dilanjutkan dengan proses sedimentasi tipe II. Lumpur yang mengendap dalam column settling test hasil dari proses sedimentasi type I dibuang. Kemudian ditambahkan sampel kembali hingga ketinggian yang ditentukan pada tabung tersebut. Hasil dari sedimentasi I menyisakan endapan lumpur yang kemudian dikeluarkan melalui saluran di bagian bawah column settling test. Penambahan sampel menggunakan air yang telah diambil sebelumnya. Sebelum proses sedimentasi II dimulai, dibubuhkan koagulan (tawas) ke dalam column settling test sesuai dengan hasil jar test. Sebelum proses sedimentasi II dimulai, dibubuhkan koagulan (tawas) ke dalam column settling test sesuai dengan hasil jar test.Disiapkan alat pengaduk berupa pompa udara yang dihubungkan dengan column settling test sebagai alat pengaduk pada sedimentasi II ini. Pompa dihubungkan dengan bagian atas column settling test. Ditambahkan konsentrasi koagulan yang didapatkan pada proses jar test pada percobaan sebelumnya, Selanjutnya dilakukan pengadukan cepat selama 1 menit dengan menggunakan alat pengaduk. Pengadukan cepat dilakukan dengan memompakan udara dari mesin pompa ke column settling test. Kondisi larutan terlihat ada gelembung-gelembung udara yang mengaduk larutan. Pengadukan diperlambat dan dilakukan selama 15 menit. Pengadukan lambat dilakukan dengan cara memperlambat mesin pompa. Pengadukan lambat ini dilakukan untuk membentuk partikel flok. Setelah pengadukan lambat selesai, air sampel dibiarkan mengendap selama 90 menit. Selama waktu pengendapan tersebut, dilakukan pengambilan sampel pada menit ke-0, 10, 20, 30, 40, 50, 60, 75, dan 90 dari 4 sampling point yang tedapat pada column settling test untuk diukur kekeruhannya. Pengambilan sampel menggunakan gelas air kemasan untuk dilakukan pengukuran kekeruhan dan temperature dari tiap sampling point. Berikut adalah data yang dihasilkan dari pengukuran kekeruhan sampel:NoMenit ke- (t)Kekeruhan (NTU) pada sampling point

1234

1096104115126

210877897106

32051717179

43028526173

54048495566

65025273041

76026343641

87525283237

99014223031

Setelah proses sedimentasi tipe II selesai, dilakukan analisa terhadap data-data yang dihasilkan selama proses percobaan sedimentasi ini. Berdaarkan data yang dihasilkan, kurva yang terbentuk adalah sebagai berikut:

9. Analisa Hasil Percobaan Efesiensi pengendapan yang terjadiNoMenit ke- (t)Kekeruhan (NTU)Fraksi Mol sisaVs

1020510

2101840,8975609760,003333

3201810,8829268290,001667

4301780,8682926830,001111

5401590,7756097560,000833

6501750,8536585370,000667

7601490,7268292680,000556

8751450,7073170730,000444

9901520,7414634150,00037

101051160,5658536590,000317

111201050,5121951220,000278

Berdasarkan data di atas, diperoleh kurva di bawah ini yang menggambarkan efesiensi proses pengendapan pada proses sedimentasi I.

FdFVV.dF

0,50,10,00030,00003

0,60,10,000350,000035

0,70,10,00040,00004

0,80,10,00060,00006

0,830,030,000650,0000195

Total0,0001845

Efesiensi pengendapan= ((1-0,89) + (1/0,0012)) * total V.dF= 15,38%

Aplikasi Hasil Percobaan SedimentasiAplikasi percobaan ini pada pengolahan air minum, untuk sedimentasi tipe I digunakan untuk pengendapan partikel diskrit dan untuk sedimentasi tipe II digunakan untuk pengendapan pertikel-partikel flok.

PERCOBAAN IIIFILTRASI

1. Latar BelakangFiltrasi adalah suatu proses pemisahan zat padat dari fluida (cair maupun gas) yang membawanya menggunakan suatu medium berpori atau berpori lain untuk menghilangkan sebanyak mungkin zat padat halus yang tersuspensi dan koloid. Pada pengolahan air minum, filtrasi digunakan untuk menyaring air hasil dari koagulasi flokulasi sedimentasi sehingga dihasilkan air minum dengan kualitas tinggi. Disamping mereduksi kandungan zat padat, filtrasi dapat pula mereduksi kandungan bakteri, menghilangkan warna, rasa, bau, besi dan mangan.2. Prinsip PercobaanMekanisme filtrasi yang dominan dalam filter pasir cepat adalah mechanical straining, yaitu tertangkapnya partikel oleh media filter karena ukuran partikel lebih besar daripada ukuran pori-pori media, sedangkan mekanisme filtrasi dalam filter pasir lambat adalah proses biologis.3. Tujuan1. Mengamati proses filtrasi untuk mengurangi tingkat kekeruhan2. Menghitung terjadinya headloss akibat aliran air melewati media berbutir

4. Alat dan Bahan1. Bak filter dilengkapi dengan media pasir dan piezometric2. Bak penampung air baku dan/atau pompa air3. Instrument pengukur kekeruhan, turbidimeter atau spectrometer4. Termometer5. Penggaris5. Bahan:1. Sampel air; gunakan air kran atau air permukaan dengan kekeruhan sebesar 5-10 NTU2. Bahan-bahan yang diperlukan untuk menganalisis kekeruhan6. Prosedur Kerja Percobaan Filtrasi1. Disiapkan peralatan dan bahan yang akan digunakan selama proses percobaan filtrasi ini.2. Disiapkan 100 liter air (hasil atau sisa dari percobaan sedimentasi II) dalam sebuah bak air.3. Diukur kekeruhan air sampel tersebut sehingga nilai kekeruhannya harus berada antara 5-9 Ntu. Setelah dikondisikan dan dilakukan pengukuran dengan spektrofotometer didapatkan hasil sebesar 6 Ntu.4. Kemudian air sampel pada bak, dialirkan ke dalam media filter dengan menggunakan pompa selama 60 menit. 5. Di awal pengaliran air ke dalam media filter diukur kecepatan aliran air pada media filter dengan menggunakan gelas ukur. Sehingga didapatkan kecepatan aliran air sebesar 6. Selama 60 menit tersebut yang harus dilakukan adalah mengamati perubahan ketinggian air di tabung piezometrik yang terletak pada bak yang terisi media filter, dan mengukur temperatur serta kekeruhan air hasil filtrasi tiap 10 menit. 7. Selanjutnya dilakukan analisis terhadap hasil-hasil yang didapat selama proses filtrasi ini. Analisa yang harus dilakukan adalah mengenai: Efesiensi penyaringan oleh media filter Perhitungan rate filtrasi dan headloss akibat aliran air melalui media filter. Buat grafik hubungan antara waktu filtrasi dengan rate filtrasi dan headloss. Analisis atas hasil percobaan filtrasi ini dan ditunjukkan aplikasi dari hasil percobaan yang dilakukan.

7. Hasil Pengamatan Percobaan FiltrasiNoPerlakuanPengamatan

1Disiapkan peralatan dan bahan yang akan digunakan selama proses percobaan filtrasi ini. Alat dan bahan yang digunakan:

2Disiapkan 100 liter air dalam sebuah bak air. Air yang digunakan adalah hasil atau sisa dari percobaan sedimentasi II sebelumnya. Dengan sedikit tambahan dari air dari saluran dapan halaman Jurusan Teknik Lingkungan.

3Diukur kekeruhan air sampel tersebut sehingga nilai kekeruhannya harus berada antara 5-10 Ntu. Dalam mendapatkan nilai kekeruhan antara 5-10 NTU, harus melakukan beberapa kali pengenceran dengan menambahkan air PDAM karena kekeruhannya masih terlalu pekat. Setelah dikondisikan dan dilakukan pengukuran dengan spektrofotometer didapatkan hasil sebesar 6 Ntu.

4Kemudian air sampel pada bak, dialirkan ke dalam media filter selama 60 menit. Mengalirkan air ke dalam media filter menggunakan mesin pompa dengan tetap memperhatikan ketinggian air pada media filter. Sehingga tidak melebihi batas permukaan air yang ditentukan.

5Di awal pengaliran air ke dalam media filter diukur kecepatan aliran air pada media filter dengan menggunakan gelas ukur. Sehingga didapatkan kecepatan aliran pada media filter. (diukur di awal dan akhir filtrasi)

Kecepatan aliran setelah diukur dengan menggunakan gelas ukur didapatkan nilai sebesar: Debit awal = 10 detik/50 mlDebit akhir = 15 detik/50 ml

6Selama 60 menit tersebut yang harus dilakukan adalah mengamati perubahan ketinggian air di tabung piezometrik yang terletak pada bak yang terisi media filter, dan mengukur temperatur serta kekeruhan air hasil filtrasi tiap 10 menit.Berdasarkan data yang dihasilkan: Kekeruhan dan temperature:NoMenit ke (t)Kekeruhan (NTU)Temperature (0C)

10627

210128

320327

430127

540127,5

650127,5

760028

Laporan Praktikum Pengelolaan Air Minum Kelas B29

Ketinggian tabung piezometrik:NoMenit ke (t)Perubahan Ketinggian Tabung Piezometrik

123456789

100,251,55,51319,5202020,0520,1

2102,751,610,1228,549,7545,754646,146,5

3203211,528,543,54545,545,7546

4302,51,58,5203132323232,5

5402,61,58,52030,531,531,631,731,75

6502,51,5819,53030,0730,083131,5

7602,51,181929,53030,0530,531

7dilakukan analisis terhadap hasil-hasil yang didapat selama proses filtrasi ini. Berdasarkan data yang diperoleh dari percobaan selama praktikum filtrasi didapatkan kurva kekeruhan sampel sebagai berikut ini:

Berdasarkan percobaan dalam praktikum, didapatkan kurva perubahan ketinggian muka air pada tabung piezometrik sebagai berikut:

8. Pembahasan Percobaan FiltrasiPada percobaan praktikum pengolahan air minum kali ini yang dilakukan adalah proses filtrasi. Filtrasi pada dasarnya bertujuan untuk mengurangi nilai kekeruhan pada air yang akan dijadikan sebagai air minum bagi masyarakat. Selain itu dapat juga untuk mengeliminasi atau melakukan proses penyaringan terhadap partikel-partikel atau zat yang belum terendapkan pada proses filtrasi sebelumnya.Langkah pertama pada proses ini yaitu menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Salah satunya sampel air dengan kekeruhan antara 5-10 Ntu. Ketentuan tersebut digunakan mengingat dalam realita proses pengolahan air minum yang sebenarnya, kondisi kekeruhan air baku setelah melewati proses sedimentasi telah menurun sekitar 5-10 Ntu. Oleh karena itu, pada saat percobaan ini, dilakukan beberapa kali pengenceran terhadap sampel hasil proses sedimentasi sebelumnya yang nilai kekeruhannnya masih di atas 10 Ntu. Pengenceran dilakukan dengan menambahkan air PDAM ke dalam wadah yang akan digunakan sebagai tempat sampel dalam praktikum ini. Setelah mengkondisikan air menjadi antara 5-10 Ntu dengan pengenceran, air sampel diukur kekeruhannya dengan menggunakan spektrofotometer, dan didapatkan nilai kekeruhan pada sampel sebesar 6 NtuSebelum melakukan filtrasi, media filter yang digunakan harus dibackwash terlebih dahulu untuk menghilangkan partikel-partikel yang tersaring atau terendapkan pada penggunaan media filter sebelummnya. Kemudian yang dilakukan selanjutnya setelah proses backwashing adalah menghubungkan bak berisi air sampel dengan media filter menggunakan pompa mesin. Pompa ini digunakan untuk mengalirkan air sampel ke media filter dengan secara automatic Setelah pompa siap, air sampel mulai dialirkan ke dalam media filter selama 60 menit. Di awal pengaliran, dihitung kecepatan air yang keluar dari media filter dengan menggunakan gelas ukur. Sehingga didapatkan kecepatan aliran air sebesar 10 detik/50 ml. Sedangkan kecepatan aliran media filter di akhir pengukuran sebesar 15 detik/50 ml. Selama 60 menit proses filtrasi, yang harus dilakukan adalah mengamati perubahan ketinggian air pada tabung piezometric yang terletak pada bak yang terisi media filter dan dan mengukur temperatur serta kekeruhan air hasil filtrasi tiap 10 menit. Berikut ini adalah pengamatan terhadap perubahan ketinggian air, temperature, dan perubahan nilai kekeruhan air tiap 10 menit selama proses filtrasi yang dilakukan:NoMenit ke (t)Kekeruhan (NTU)Temperature (0C)Tabung Piezometrik

123456789

106270,251,55,51319,5202020,0520,1

2101282,751,610,1228,549,7545,754646,146,5

3203273211,528,543,54545,545,7546

4301272,51,58,5203132323232,5

540127,52,61,58,52030,531,531,631,731,75

650127,52,51,5819,53030,0730,083131,5

7600282,51,181929,53030,0530,531

Berdasarkan data di atas, maka dapat diketahui perubahan ketinggian air, temperature, dan perubahan nilai kekeruhan air tiap 10 menit selama proses filtrasi melalui kurva di bawah ini:

9. Analisa Hasil Percobaan Efesiensi penyaringan oleh media filterEfisiensi filtrasi= Kekeruhan akhir x 100 % Kekeruhan awal= 1/6 x 100 % = 16,6 % Perhitungan rate filtrasi dan headloss akibat aliran air melalui media filter. Buat grafik hubungan antara waktu filtrasi dengan rate filtrasi dan headloss.Q= 50 ml/10 detik= 5 ml/detik= 5 x 10-3 liter/detik

A= D2; diameter tabung media filter sebesar 10 cm.= 102= 78,5 cm2= 0,00785 m2

Rate filtrasi= Q A= 5 x 10-3 0,00785 = 0,637 m/detikDAFTAR PUSTAKA

Alaerts, G. Dan Sri sumestri S. 1987. Metoda Pengolahan Air. Surabaya : Usaha NasionalMasduqi, Ali dan Slamet, A. 2002. Satuan Operasi. Surabaya : Jurusan Teknik lingkungan-FTSP-ITS