Laporan Skenario Kasus Pbl I_respifix

download Laporan Skenario Kasus Pbl I_respifix

of 23

  • date post

    17-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    289
  • download

    3

Embed Size (px)

Transcript of Laporan Skenario Kasus Pbl I_respifix

LAPORAN SKENARIO KASUS PBL I BLOK RESPIRATORY SYSTEM RHINOFARINGITIS

Tutor : dr. Viva Ratih Bening A Kelompok 91. Tessa Agrawita

G1A010002 G1A010022 G1A010050 G1A010059 G1A010075 G1A010082 G1A010104

2. Indrasti Banajaransari G1A010020 3. Mayuda Riani Andristi

4. Angkat Prasetya A. N. G1A010038 5. Danny Amanati Aisya 6. Yuni Purwati 7. Lina Sunayya 8. Provita Rahmawati 9. Irfani Ryan Ardiansyah

Tanggal tutorial : 7-9 Maret 2012

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU ILMU KESEHATAN JURUSAN KEDOKTERAN PURWOKERTO 2012

BAB I PENDAHULUAN

Skenario PBL II RINOFARINGITIS Informasi 1 Seorang anak laki-laki umur 10 tahun datang ke UGD di antar oleh ibunya dengan keluhan mimisan . Ibunya menceritakan bahwa sang anak mengalami panas sejak kemaren pagi, pusing, pilek, bersin-bersin, batuk, dan tenggorokan sakit. Informasi 2 Anak sudah diberi obat flu di warung tapi belum membaik. Mimisan dialami 1 jam yang lalu, jumlahnya kira-kira 1 sendok, dapat berhnti sendiri. Riwayat mimisan terdahulu disangkal. Hasil pemeriksaan fisik Keadaan umum Berat badan Suhu Respirasi Nadi Kepala : hidung Faring Thorak : inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Abdomen Ekstremitas Informasi 3 Hb 12gr%, hematokrit 42gr%, eritrosit 4, 2 juta, leukosit, 6800, trombosit 190 ribu, PTT 10 detik, aPTT 35 detik : baik, compos mentis : 25 kg : 37, 80 C : 20x/menit : 84x/menit : konkha udem (+), Hiperemi (+), discharge serous (+) : hiperemi : simetri, retraksi (-), tidak ada gerak dada yang tertinggal : hataran parukanan=kiri : sonor dikedua lapang paru : suara dasar vesikuler, ronchi (-) : dalam batas normal : dalam batas normal

Tonsil: T1-1, hiperemi (-)

BAB II PEMBAHASAN 1. Kejelasan istilah a. Unit Gawat Darurat (UGD) adalah salah satu bagian di rumah sakit yang menyediakan penanganan awal bagi pasien yang menderita sakit dan cedera, yang dapat mengancam kelangsungan hidupnya. Di UGD dapat ditemukan dokter dari berbagai spesialisasi bersama sejumlah perawat dan juga asisten dokter. Saat tiba di UGD, pasien biasanya menjalani, anamnesis untuk membantu menentukan sifat dan keparahan penyakitnya. Penderita yang terkena penyakit serius biasanya lebih sering mendapat visite lebih sering oleh dokter daripada mereka yang penyakitnya tidak begitu parah. Setelah penaksiran dan penanganan awal, pasien bisa dirujuk ke RS, distabilkan dan dipindahkan ke RS lain karena berbagai alasan, atau dikeluarkan. Kebanyakan UGD buka 24 jam, meski pada malam hari jumlah staf yang ada di sana akan lebih sedikit (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2006). b. Mimisan (Epistaksis) Perdarahan hidung akibat pecahnya pembuluh darah kecil yang terletak di bagian anterior septum nasal kartilaginosa (Dorland, 2002). c. Panas Peningkatan abnormal suhu badan jika diukur menggunakan termometer, suhu rektal minimal 380C, bukan merupakan suatu penyakit tapi merupakan tanda adanya suatu masalah. Suhu tubuh saat diukur per oral > 37,80C pada axila > 37, 20 (Muzcari, 2005). d. Batuk Batuk adalah refleks yang dapat terjadi secara tiba-tiba dan sering berulang-ulang yang bertujuan untuk membantu membersihkan saluran pernapasan dari lendir besar, iritasi, partikel asing dan mikroba (Aditama, 1993). e. pusing Pusing adalah gejala yang sering ditemukan dan bisa disebabkan oleh kondisi neurologis atau kardiovaskular yang serius. Akan tetapi, pusing memiliki berbagai penyebab yang ringan dan meliputi berbagai gejala yang berbeda, sehingga bisa jadi sulit untuk mendapatkan diagnosis pasti (Gleadle, 2007).f. Sakit tenggorokan

Sakit tenggorokan adalah rasa sakit pada daerah tenggorrok (faring) yang dapat disebabkan karena beberapa hal seperti infeksi virus, bakteri, juga bisa dikarenakan sinus drainase (post nasal drip). Sakit tenggorokan juga bisa terjadi akibat perawatan paska kemoterapi (Adams, 1997). g. Bersin Bersin adalah refleks pegeluaran dan pembersihan saluran pernafasan secara paksa yang ditandai dengan turunnya uvula sehingga udara dapat keluar melalui rongga hidung dan sedikit melaalui rongga mulut (Adams, 1997). 2. Identifikasi masalah a. Anamnesis Identitas pasien1. 2.

Nama Umur

: tidak disebutkan dalam skenario : 10 tahun

3. RPS

Jenis kelamin : laki-laki : mimisan (epistaksis) : tidak disebutkan dalam skenario : hidung : tidak disebutkan dalam skenario : tidak disebutkan dalam skenario : pusing, batuk, pilek, sakit tenggorokan, demam : tidak disebutkan dalam skenario : tidak disebutkan dalam skenario

Keluhan utama Onset Lokasi

Faktor yang memperberat Faktor yang memperingan Gejala penyerta RPD1. Riwayat alergi 2. Riwayat trauma

RPK 1. Ditanyakan kepada pasien mengenai ada tidaknya anggota keluarga yang memiliki riwayat terkena TBC 2. Ditanyakan kepada keluarga pasien apakah anggota keluarga mengalami keluhan yang sama Riwayat sosial1. Lingkungan tempat tinggal 2. Pekerjaan orangtua

: tidak disebutkan dalam skenario : tidak disebutkan dalam skenario

3.

Analisis masalah

a. Perbedaan antara IGD dengan UGD b. Epistaksis c. Epitel pada saluran pernafasan d. Vaskularisasi rongga hidung e. Inervasi rongga hidung f. histologi rongga hidungg. Anatomi saluran pernafasan atas

h. Perbedaaan suhu tubuh anak-anak dengan dewasa i. Mekanisme bersin j. Mekanisme batuk k. Mekanisme terjadinya demam4.

Menyusun berbagai penjelasan mengenai permasalahan UGD yaitu Unit Gawat Darurat sedangkan IGD adalah Instalasi Gawat Darurat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia-

a. Perbedaan antara IGD, UGD dan ER

Unit adalah bagian terkecil dari sesuatu yg dapat berdiri sendiri Gawat darurat bagian dari rumah sakit yg menampung dan melayani pasien yg sangat gawat (atau luka parah).

- Instalasi adalah perangkat peralatan teknik beserta perlengkapannya posisinya

dan siap dipergunaka.- ER adalah emergency room. Dalam bahasa indonesia berarti ruag gawat darurat

(Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2006). b. Epistaksis Epistaksis yaitu perdarahan dari hidung yang dapat berupa perdarahan anterior dan perdarahan posterior. Perdarahan anterior merupakan perdarahan yang berasal dari septum bagian depan (pleksus kiesselbach atau arteri etmoidalis anterior). Prevalensi yang sesungguhnya dari epistaksis tidak diketahui, karena pada beberapa kasus epistaksis sembuh spontan dan hal ini tidak dilaporkan. Epistaksis anterior dapat terjadi karena berbagai macam penyebab.Secara umum penyebab epistaksis anterior dapat dibagi atas penyebab lokal dan penyebab sistemik.Penyebab lokal yaitu trauma, benda asing, infeksi, iatrogenik, neoplasma dan zat kimia.Penyebab sistemik antara lain yaitu penyakit kardiovaskular, gangguan endokrin, infeksi sistemik, teleangiektasis hemoragik herediter, kelainan hematologi, obatobatan dan defisiensi vitamin C dan K.

Untuk menegakkan diagnosis dari epistaksis anterior dapat dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.Sumber perdarahan dapat ditentukan dengan pemasangan tampon yang telah dibasahi dengan larutan pantokain 2% dan beberapat tetes adrenalin 1/10.000. Penatalaksanaan pada epistaksis anterior seharusnya mengikuti tiga prinsip utama yaitu menghentikan perdarahan, mencegah komplikasi dan mencegah berulangnya epistaksis (Munir, 2006). Etiologi Penyebab Epistaksis : 1. Lokal-

Trauma misalnya trauma maksilofasial waktu mengeluarkan ingus

dengan kuat, bersin, mengorek hidung, terjatuh, terpukul, iritasi oleh gas yang merangsang.-

Benda asing dan rinolit, dapat menyebabkan mimisan ringan disertai Infeksi, pada hidung dan sinus paranasal seperti rinitis, sinusitis. Iatrogenik (pembedahan). Neoplasma pada cavum nasi atau nasofaring, baik jinak maupun ganas. Zat kimia (logam berat seperti merkuri, kromium dan fosfor, asam Pengaruh lingkungan, misalnya perubahan tekanan atmosfir mendadak

ingus yang berbau busuk.-

sulfur, amonia, gasolin, glutaraldehid).-

(seperti pada penerbang dan penyelam/penyakit caisson) atau lingkungan yang udaranya sangat dingin.-

Tidak diketahui penyebabnya, biasanya terjadi berulang dan ringan pada

anak dan remaja2. Gangguan Sistemik

- Penyakit kardiovaskular, Arteriosklerosis, Hipertensi. - Gangguan endokrin seperti pada kehamilan, menstruasi dan menopause. - Infeksi sistemik : demam berdarah, influenza, morbili, demam tifoid. - Telangiektasia hemoragik herediter (Osler weber rendu disease). Merupakan penyakit autosomal dominan yang ditunjukkan dengan adanya perdarahan berulang karena anomali pembuluh darah. - Kelainan hematologi : hemopilia, leukemia, multiple myeloma, imune trombositopenia purpura (ITP), polisitemia vera.

- Obat-obatan : NSAID, aspirin, warfarin, agen kemoterapeutik. - Defisiensi Vitamin C dan K.2-7 (Munir, 2006). Patofisiologi Hidung kaya akan vaskularisasi yang berasal dari arteri karotis interna dan arteri karotis eksterna. Arteri karotis eksterna menyuplai darah ke hidung melalui percabangannya arteri fasialis dan arteri maksilaris. Arteri labialis superior merupakan salah satu cabang terminal dari arteri fasialis. Arteri ini memberikan vaskularisasi ke nasal arterior dan septum anterior sampai ke percabangan septum. Arteri maksilaris interna masuk ke dalam fossa pterigomaksilaris dan memberikan enam percabangan : a.alveolaris posterior superior, a.palatina desenden , a.infraorbitalis, a.sfenopalatina, pterygoid canal dan a. pharyngeal. Arteri palatina desenden turun melalui kanalis palatinus mayor dan menyuplai dinding nasal lateral, kemudian kembali ke dalam hidung melalui percabangan di foramen incisivus untuk menyuplai darah ke septum anterior.1 Arteri karotis interna memberikan vaskularisasi ke hidung. Arteri ini masuk ke dalam tulang orbita melalui fisura orbitalis superior dan memberikan beberapa percabangan. Arteri etmoidalis anterior meninggalkan orbita melalui foramen etmo