LAPORAN HASIL PENELITIAN HIBAH BERSAING

of 79/79
LAPORAN HASIL PENELITIAN HIBAH BERSAING PENGEMBANGAN MODEL STRATEGI GENERIK PORTER UNTUK UMKM DALAM MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA) (Studi Kasus: Pada UMKM Di Kabupaten Deli Serdang) Tahun ke 1dari rencana 3 tahun TIM PENGUSUL JULITA, S.E, M.Si (NIDN 0130067402) DEWILINA,S.E,MM (NIDN 0029015601) DiDanai Oleh: DIPA Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor DIPA: 023.04.1.673453/2015, tanggal 14 Nopember 2014 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA NOPEMBER 2015 Kode/Nama Rumpun Ilmu: 571/MANAJEMEN
  • date post

    16-Oct-2021
  • Category

    Documents

  • view

    2
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of LAPORAN HASIL PENELITIAN HIBAH BERSAING

UMKM DALAM MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA)
(Studi Kasus: Pada UMKM Di Kabupaten Deli Serdang)
Tahun ke 1dari rencana 3 tahun
TIM PENGUSUL
DEWILINA,S.E,MM (NIDN 0029015601)
023.04.1.673453/2015, tanggal 14 Nopember 2014
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA
1
2
PRAKATA
Puji syukur dipanjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat rahmat dan
karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan penelitian ini yang berjudul "
Pengembangan Model Strategi Generik Porter Untuk Umkm Dalam Menghadapi
Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) (Studi Kasus: Pada UMKM Di Kabupaten Deli
Serdang). Salawat dan salam disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah
memberi risalah yang benar sebagai pedoman bagi umatnya agar memperoleh
keselamatan di dunia dan akhirat.
Penelitian ini diselesaikan berkat bantuan dari berbagai pihak. Dalam
kesempatan ini penulis menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya serta
ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada :
1. Bapak Rektor dan Wakil Rektor Universitas Muhamaddiyah Sumatera Utara
yang telah memberikan kesempatan dan dukungan moril maupun material
sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan baik.
2. Bapak Dekan dan Pembantu Dekan Fakultas Ekonomi Universitas
Muhamaddiyah Sumatera Utara yang telah memberikan kesempatan dan
dukungan moril maupun material sehingga penelitian ini dapat terlaksana
dengan baik.
3. Pimpinan Direktorat Pendidikan Tinggi (DIKTI) Republik Indonesia yang telah
memberikan kesempatan kepada peneliti dan bantuan secara materi sehingga
penelitian ini dapat terlaksana dengan baik.
4. Ketua Lembaga Penelitian Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara yang
telah memberikan dukungan untuk penelitian ini
5. Seluruh keluarga besar yang banyak membantu dalam memberikan motivasi
sehingga penelitian ini dapat selesai dengan baik.
Penulis juga menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam penulisan
tesis ini. Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif dari semua pihak diharapkan
untuk penyempurnaan penelitian ini. Semoga penelitian ini bermanfaat bagi penulis
3
dan berbagai pihak yang berkecimpung dalam bidang akuntansi baik teoritis maupun
praktis.
Akhirnya dengan kerendahan hati, penulis memohon kepada Illahi semoga
amal baik dan amal soleh Bapak-bapak dan Ibu-ibu, keluarga serta rekan-rekan yang
telah membantu dalam penyelesaian studi ini diterima oleh Allah SWT, Amien.
Medan 20 Nopember 2015.
2.2. Perkembangan UMKM………………………………………….
2.3. Perencanaan Stratejik……………………………………………
2.4. Keunggulan Bersaing……………………………………………
3.1 Tujuan Penelitian…………………………………………………
3.2 Manfaat Penelitian………………………………………………..
4.2 Metode Penelitian………………………………………………...
4.3 Diagram Fishbone………………………………………………..
5.1 Hasil Penelitian…………………………………………………...
7.1 Kesimpulan……………………………………………………...
7.2 Saran……………………………………………………………..
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………...
Responden Menurut Usia…………………………………………...
Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner Variabel Penelitian…
Pedomen Kategorisasi Rata-rata Skor Tanggapan Responden……...
Rekapitulasi Skor dan Distribusi Tanggapan Berdasarkan Indikator
Five Force Porter Analysis…………………………………………..
Kemampuan Inovasi & Teknologi, serta Keterlibatan Pemerintah…..
29
32
33
33
34
35
36
37
39
6
51
56
62
8
RINGKASAN
Dalam waktu satu tahun lagi kita akan memasuki babak baru dengan mitra
negara-negara tetangga, khususnya anggota Asean, yaitu mulai berlakunya Masyarakat
Ekonomi Asean (MEA) atau Asean Economic Community pada 31 Desember 2015.
Salah satu pilar utama MEA adalah aliran bebas barang, yaitu pada 2015 perdagangan
barang di kawasan Asean dilakukan secara bebas tanpa mengalami hambatan, baik tarif
maupun nontarif. MEA menerapkan skema Common Effective Preferential Tariff
(CEPT) yang sebelumnya sudah diterapkan saat Asean Free Trade Area (AFTA), yaitu
penurunan tarif dilakukan secara bertahap untuk jenis barang tertentu yang dilakukan
dalam rentang waktu yang telah disepakati bersama.
Penelitian ini bertujuan untuk mencari permasalahan yang sering menghambat
pengembangan UMKM di Kabupaten Deli Serdang dalam keunggulan bersaing
terutama dalam menghadapi MEA, untuk itu diperlukan adanya suatu strategi dalam
menciptakan keunggulan bersaing di era MEA. Banyak strategi dalam menciptakan
keunggulan bersaing dan salah satunya strategi generik Porter. Strategi ini memberikan
keberhasilan di perusahaan sehingga peneliti ingin mengadopsi strategi generik Porter
bagi UMKM khususnya di Kabupaten Deli Serdang. Objek dalam penelitian ini adalah
pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) yang ada di Kabupaten Deli Serdang.
Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dan Wawancara/interview
terstruktur dan teknik analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa saat ini para UMKM masih belum
menggunakan strategi genirik porter, namun masih konvensional. Hal ini dapat dilihat
melalui indikator five forces porter yang meliputi persaingan antar perusahaan sejenis,
ancaman pendatang baru, ancaman produk pengganti, kekuatan tawar menawar
pembeli dan kekuatan tawar menawar pemasok masih termasuk dalam kategori cukup
atau sedang, hal ini menunjukkan terdapatnya kendala atau permasalahan yang
dihadapi UMKM di Kabupaten Deli Serdang. Disamping indikator five forces porter,
penambahan indikator pendukung berupa kemampuan inovasi dan teknologi serta
perhatian pemerintah juga masuk dalam kategori cukup atau sedang, hal ini
menunjukkan bahwa indikator pendukung juga masih menghadapi kendala atau
permasalahan
9
1.1. Latar Belakang Penelitian
Usaha Mikro, Kecil dan Menengah atau yang sering disebut dengan UMKM
tersebut turut aktif dalam kegiatan investasi guna mendorong sektor produktif.
Setidaknya terdapat tiga indikator yang menunjukkan peran penting UMKM dalam
perekonomian. Pertama, jumlah usahanya yang banyak dan ada dalam setiap sektor
ekonomi. Data BPS tahun 2008 mencatat bahwa jumlah UMKM mencapai 99,99% dari
total unit usaha di Indonesia. Kedua,UMKM mempunyai potensi besar dalam
penyerapan tenaga kerja. Sektor UMKM menyerap 97,3% dari total angkatan kerja
yang bekerja. Dari setiap rupiah investasi di UMKM dapat menciptakan lebih banyak
tenaga kerja dibandingkan dengan investasi yang sama di usaha besar. Ketiga, UMKM
memberikan kontribusi yang besar terhadap pendapatan nasional. UMKM mampu
menyumbang 53,6% dari total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, Bank
Indonesia (2009).
Dalam waktu satu tahun lagi kita akan memasuki babak baru dengan mitra
negara-negara tetangga, khususnya anggota Asean, yaitu mulai berlakunya Masyarakat
Ekonomi Asean (MEA) atau Asean Economic Community pada 31 Desember 2015.
Salah satu pilar utama MEA adalah aliran bebas barang, yaitu pada 2015 perdagangan
barang di kawasan Asean dilakukan secara bebas tanpa mengalami hambatan, baik tarif
maupun nontarif. MEA menerapkan skema Common Effective Preferential Tariff
(CEPT) yang sebelumnya sudah diterapkan saat Asean Free Trade Area (AFTA), yaitu
penurunan tarif dilakukan secara bertahap untuk jenis barang tertentu yang dilakukan
dalam rentang waktu yang telah disepakati bersama.
Keberadaan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 ini memberi tantangan
tersendiri bagi Indonesia, yaitu dalam hal : (1) indeks daya saing, hal ini karena Indeks
Daya Saing Global 2012-2013 Indonesia berada pada peringkat 50 dari 144 negara,
dibandingkan dengan negara-negara ASEAN, peringkat tersebut turun dari sebelumnya
10
ke-25, Thailand peringkat ke-38, Filipina peringkat ke-65, dan Vietnam peringkat ke-
75. Indeks daya saing Indonesia di tingkat global masih mengelompokkan Indonesia
dalam perekonomian berbasis efisiensi, di tengah ASEAN yang sudah berbasis inovasi
(Singapura), menuju inovasi (Malaysia), yang masih berbasis faktor produksi atau
sumber kekayaan alam (Filipina, Vietnam, Kamboja, Laos, Myanmar), (2) Indeks
inovasi global, hal ini karena posisi Indonesia termasuk rata-rata di antara sembilan
negara ASEAN lainnya. Berdasarkan kedua hal tersebut maka diperlukan kesiapan
UMKM Indonesia menghadapi MEA 2015 dan prospeknya terhadap ketahanan
nasional Indonesia.
Menurut pendapat I Wayan Dipta (2013) Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya
UKM menyampaikan apabila Indonesia tidak mendorong daya saing dan nilai tambah
atas barang/produk yang diproduksi, maka Indonesia dapat kehilangan perannya di
kawasan dan menjadi objek kemajuan pembangunan di kawasan tanpa memperoleh
keutungan yang maksimal. Oleh karena itu, program kebijakan penguatan daya saing
telah mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah, antara lain penguatan UKM
nasional. Hal tersebut penting untuk memfasilitasi UMKM nasional yang berdaya
saing tinggi, inovatif, dan kreatif, serta mampu melakukan perluasan pasar dari
Komunitas Ekonomi ASEAN.
Setiap organisasi tentu memiliki perencanaan, dan bagi lingkup perusahaan kita
mengenal istilah perencanaan stratejik, dimana perencanaan stratejik ini dapat
membantu kita mengevaluasi secara berkala untuk mencapai tujuan, membantu
perusahaan untuk maju dan berkembang, memperbesar pangsa pasar di tengah
persaingan usaha yang semakin tajam (Allison &Kaye, 2005). Salah satu kunci
keberhasilan dari perencanaan stratejik adalah pada pemilihan pasar dan penentuan
bagaimana berkompetisi di tengah persaingan yang ada (Hooley,Moller &
Broderick,1998). Letak dari persaingan adalah diferensiasi produk dan jasa dalam
pasar yang terpilih bagi para pesaing mereka. Mengacu pada ide Porter (1980)
mengenai keunggulan bersaing dapat dicapai melalui bermacam strategi salah satunya
dengan strategi bisnis baik itu cost leadership, differentiation maupun focus.
11
Penelitian mengenai pengembangan model strategi generik Porter sudah
banyak dilakukan antara lain: Dimas Bayu Respati (2008) yang meneliti tentang
hubungan antara dinamisme lingkungan dan struktur perusahaan kecil, strategi dan
kinerja, yang menyimpulkan bahwa dinamisme lingkungan mempengaruhi strategi
yang dipilih oleh perusahaan kecil dan memoderasi hubungan antara struktur
organisasi, strategic posture dan kinerja perusahaan. Sejalan dengan penelitian di atas,
Berry Albert, et al (2001) telah melakukan penelitian tentang dinamika UMKM di
Indonesia sebelum dan sesudah krisis, dan menemukan bahwa produktivitas UMKM
meningkat secara substansial pada level tidak jauh dengan perusahaan yang lebih besar,
disamping itu ditemukan pula bahwa UMKM lebih tahan menghadapi krisis daripada
perusahaan besar, selanjutnya dijelaskan bahwa UMKM mampu lebih cepat dan
fleksibel merespon persoalan yang secara tiba-tiba terjadi. Selanjutnya hasilp enelitian
dari Alan Hankinson (2000) yang menyatakann bahwa salah satu kunci sukses bisnis
perusahaan kecil/ UMKM adalah faktor internal perusahaan melalui strategi bisnis
perusahaan Dinda Estika Asmarani (2006) dengan hasil penelitian bahwa keunggulan
bersaing akan tercipta bila kinerja perusahaan baik dimana kinerja perusahaan ini
dipengaruhi oleh perencanaan stratejik.
Penelitian ini akan dilakukan di Kabupaten Deli Serdang dengan alasan bahwa
Kabupaten Deli Serdang merupakan wilayah di Sumatera Utara yang memiliki luas
daerah, selain itu terdapat permasalahan yang sering menghambat pengembangan
UMKM di Kabupaten Deli Serdang adalah lemahnya faktor institusional dan
individual, yang mencakup: kemampuan menemukan peluang usaha, budaya
kewirausahaan, kepemimpinan kewirausahaan, ketersediaan pasar, tingkat pendidikan,
ketersediaan teknologi informasi dan komunikasi, dan kemampuan berinovasi. Untuk
itu diperlukan suatu upaya dalam meningkatan pertumbuhan UMKM dengan
menggunakan strategi bersaing, terutama dalam menghadapi MEA.
12
dalam penelitian ini adalah:
bersaing dalam rangka menghadapi MEA.
2. Apakah strategi yang digunakan oleh UMKM dalam menciptakan keunggulan
bersaing.
13
2.1 Konsep Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)
Sebagian besar dari jumlah UMKM di Indonesia terdapat di perdesaan sehingga
diharapkan dapat menjadi penggerak pembangunan ekonomi perdesaan untuk
menanggulangi kemiskinan dan mengurangi kesenjangan pembangunan antara
perkotaan dan perdesaan. Selain itu, UMKM berperan penting dalam menyerap
kelebihan tenaga kerja di perdesaan karena bersifat padat karya. Oleh karena itu,
kemajuan pembangunan ekonomi perdesaan sangat ditentukan oleh kemajuan
pembangunan UMKM. Pemberdayaan UMKM dalam konteks pembangunan ekonomi
kerakyatan tidak terlepas dari peran semua pihak baik pengusaha, pendamping
(fasilitator), pemerintah dan lembaga keuangan (Adi, 2007). Sebagian besar pengusaha
mikro di Indonesia berusaha karena ingin memperoleh perbaikan penghasilan bukan
karena peluang bisnis dan pangsa pasar
yang besar. Hal ini karena tidak adanya kesempatan berkarier di bidang lain.
Definisi UMKM diatur dalam UU No 20 Tahun 2008 tentang UMKM
menggunakan kriteria nilai kekayaan atau aset bersih tanpa tanah dan hasil penjualan
tahunan. Berdasarkan kriteria tersebut, usaha mikro merupakan unit usaha yang
memiliki nilai aset paling banyak Rp 50 juta atau dengan hasil penjualan tahunan paling
besar Rp 300 juta. Usaha kecil dengan nilai aset lebih dari Rp 50 juta sampai dengan
Rp 500 juta atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 300 juta hingga Rp
2,5 miliar. Sedangkan usaha menengah adalah unit usaha dengan nilai aset bersih lebih
dari Rp 500 juta hingga Rp 10 miliar atau memiliki hasil penjualan tahunan diatas Rp
2,5 miliar hingga Rp 50 miliar. Selain itu, definisi UMKM menurut Badan Pusat
Statistik (BPS) dengan berdasarkan pada kriteria jumlah pekerja. Menurut BPS, Usaha
mikro adalah unit usaha dengan jumlah pekerja tetap hingga 4 orang. Usaha kecil
merupakan unit usaha dengan jumlah pekerja antara 5 hingga 19 pekerja. Sedangkan
usaha menengah mempunyai pekerja dari 20 hingga 99 orang pekerja.
14
Di Indonesia banyak ragam jenis sektor usaha pada skala UMKM. Secara
garis besar jenis sektor usaha pada UMKM dikelompokkan dalam empat jenis, yaitu
sebagai berikut :
informal.
3. Usaha Industri. Meliputi industri makanan/minuman, pertambangan,pengrajin
dan konveksi.
4. Usaha Jasa. Meliputi jasa konsultan, perbengkelan, rumah makan, jasa
transportasi dan jasa pendidikan.
2.2 Perkembangan UMKM
Di Indonesia UMKM lebih didominasi oleh usaha mikro yang sebagian besar
berlokasi di perdesaan. Kegiatan produksi di usaha mikro khususnya pada produksi
makanan, minuman dan kerajinan relatif mudah dilakukan. Hal ini karena kebutuhan
modal awal yang sedikit, tidak membutuhkan pendidikan formal yang tinggi, dan tidak
memerlukan tempat khusus untuk kegiatan produksi. Oleh karena itu, kegiatan
produksi usaha mikro lebih banyak dilakukan oleh perempuan. Pendapatan dari
kegiatan usaha mikro sangat penting baik sebagai sumber pendapatan utama maupun
sebagai sumber pendapatan tambahan keluarga. Usaha mikro pada umumnya
merupakan unit usaha sendiri tanpa pekerja (self-employment) atau pemilik usaha
melakukan semua pekerjaan sendiri
Sektor UMKM akan dapat berkembang lebih baik apabila tersedianya sumber
permodalan dan pembiayaan yang mudah dijangkau dan adanya pendampingan untuk
pembangunan kapasitas pengusaha (Kusmuljono, 2009). UMKM yang dapat
menghasilkan produk berdaya saing adalah UMKM yang melakukan suatu strategi
inovasi sehingga dapat berkembang dengan pesat. Tetapi
pada umumnya UMKM di Indonesia mempunyai kelemahan dalam penguasaan
teknologi, informasi dan kualitas SDM yang menyebabkan rendahnya produktivitas
15
pendidikan formal pengusaha yang rendah dan keterbatasan modal untuk melakukan
inovasi. Selain itu, rendahnya tingkat pendidikan formal pengusaha di UMKM
menyebabkan rendahnya tingkat keuntungan rata-rata usaha dan rendahnya daya saing
UMKM. Tingkat kesejahteraan atau perkembangan UMKM dapat diukur dengan
menghitung tingkat produktivitas unit usaha yaitu rata-rata nilai penjualan atau omset
per hari per unit usaha. Nilai omset merupakan
nilai keseluruhan atas barang dan jasa yang diperdagangkan. Unit usaha yang memiliki
nilai omset terus meningkat setiap tahunnya berarti permintaan pasar terhadap
produknya terus meningkat. Ini menunjukkan unit usaha tersebut berdaya saing tinggi.
2.3 Perencanaan Stratejik
parapimpinan perusahaan mengakui bahwa perencanaan stratejik merupakan ”the one
best way” untuk memutuskan dan mengimplementasikan strategi yang dapat
meningkatkan kompetitif pada setiap unit bisnis. Seperti yang diungkapkan oleh ahli
penelitian Frederick Taylor, perencanaan stratejik merupakan cara yang melibatkan
pemikiran melalui sebuah karya, penciptaan dari fungsi manajemen staf baru yaitu
munculnya ahli perencanaan. Dimana sistem perencanaan ini merupakan strategi yang
bagus sebagai suatu tahapan strategi yang akan diterapkan para pelaku bisnis, manajer
perusahaan dan mengarahkan agar tidak membuat kekeliruan (Mintzberg,H.1994).
Menurut (Allison, Kaye,2005) definisi perencanaan stratejik adalah proses
sistematik yang disepakati organisasi dan membangun keterlibatan diantara
stakeholder utama-tentang prioritas yang hakiki bagi misinya dan tanggap terhadap
lingkungan operasi. Perencanaan stratejik khususnya digunakan untuk mempertajam
fokus organisasi, agar semua sumber organisasi digunakan secara optimal untuk
melayani misi organisasi itu. Artinya bahwa perencanaan stratejik menjadi pedoman
sebuah organisasi harus tanggap terhadap lingkungan yang dinamis dan sulit diramal.
Perencanaan stratejik menekankan pentingnya membuat keputusan keputusan yang
menempatkan organisasi untuk berhasil menanggapi perubahan lingkungan. Fokus
16
stratejik pada tugas memimpin sebuah organisasi guna mencapai maksudnya.
Pengertian lain dari perencanaan stratejik menurut (Shrader,Taylor dan
Dalton,1984) adalah perencanaan jangka panjang yang tertulis dimana didalamnya
terdiri dari kesepakatan misi dan tujuan perusahaan. Menurut Philips (2000)
perencanaan stratejik yang efektif pengaruhnya pada kinerja keuangan pada contoh
kasus pada hotel, ditunjukkan pada peranan perilaku manajer dalam pengambilan
keputusan. Studi lanjutan dari Bracker et al (1988) menyatakan hubungan antara proses
perencanaan dengan kinerja keuangan pada perusahaan kecil yang terseleksi
menunjukkan hasil yang signifikan.
Studi lain dari Robinson dan Pearce (1988) menganalisa pengaruh moderating
dari perencanaan stratejik dalam kinerja strategi di 97 perusahaan manufaktur dengan
60 industri yang berbeda menghasilkan efek moderasi positif dan signifikan.
Kaitan selanjutnya mengenai pengembangan perencanaan stratejik adalah pada
penciptaan keunggulan bersaing yang berkelanjutan. Hal ini tercapai ketika
kemampuan manajemen dan menggunakan kreasi dan mengimplentasikan strategi agar
tahan pada keunggulan yang banyak terjadi peniruan, mampu menciptakan faktor
hambatan dalam jangka waktu yang lama (Bharawaj, Varadarajan dan Fahy,1993;
Grant,1995; Mahoney dan Pandian,1992; Rumelt,1984). Perlu diingat bahwa proses
perencanaan strategi ini adalah suatu pemikiran stratejik (strategic thinking) dari para
pemilik usaha. Perencanaan strategi tidak harus bersifat formal namun pemikiran
stratejik ini setidaknya mensistesiskan intuisi dan kreativitas wirausaha kedalam visi
masa depan (Rambat,2002). Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa perencanaan
stratejik menjadi pedoman sebuah organisasi untuk tanggap terhadap lingkungan yang
dinamis dan sulit diramal. Perencanaan stratejik menekankan pentingnya membuat
keputusan-keputusan yang menempatkan organisasi untuk berhasil menanggapi
perubahan lingkungan.
generik yang dikemukakan oleh Porter (1985). Hal-hal yang dapat mengindikasikan
variabel keunggulan bersaing adalah imitabilitas, durabilitas, dan kemudahan
menyamai. Keunggulan bersaing adalah jantung kinerja perusahaan dalam pasar
bersaing. Keunggulan perusahaan pada dasarnya tumbuh dari nilai atau manfaat yang
dapat diciptakan perusahaan bagi para pembelinya. Bila kemudian perusahaan mampu
menciptakan keunggulan melalui salah satu dari ketiga strategi generik tersebut, maka
akan didapatkan keunggulan bersaing (Aaker,1989)
Keunggulan bersaing dapat dipahami dengan memandang perusahaan sebagai
keseluruhan, berasal dari banyak aktivitas yang berlainan yang dilakukan oleh
perusahaan dalam mendesain, memproduksi, memasarkan, menyerahkan dan
mendukung penjualan (Porter,1999), sehingga keunggulan bersaing adalah suatu posisi
yang masih dikerjakan organisasi sebagai upaya mengalahkan pesaing.
2.5 Strategi Generik Porter
kelebihannya. Michael Porter menjelaskan bahwa terdapat 3 tipe strategi yang
umumnya digunakan oleh bisnis untuk mencapai dan mempertahankan kemampuan
kompetisi yang dimilikinya. Ketiga strategi inidibedakan menurut ruang lingkup dari
strateginya dan kemampuan dari strategi. Ruang lingkup strategi dilihat dari sisi
permintaan dan juga dilihat dari besar dan komposisi dari pasar yang ingin dimasuki.
Kemampuan strategi dilihat dari sisi penawaran atau supply yang dimiliki dan dilihat
dari kemampuan dari perusahaan. Dalam hal ini, ia membaginya menjadi 2 kompetensi
yang dirasa cukup penting, yaitu diferensiasi prosuk dan harga produk (umumnya
disamakan dengan efisiensi).
Pada awal pembentukkannya, Michael Porter membagi strategi yang dibuatnya
menjadi 3 dimensi, yaitu rendah, sedang dan tinggi, serta memberi pendekatan berupa
matriks 3 dimensi. Skema kategori ini ditunjukkan dengan kubus 3 x 3 x 3. Namun
18
sebagian besar dari 27 kombinasi yang dimiliki oleh kubus tersebut tidak umum
digunakan dalam bisnis. Saat ini, terdapat 3 strategi utama yang umum digunakan oleh
perusahaan saat ini. Ketiga strategi ini ialah Cost Leadership Strategy, Differentiation
Strategy, dan Focus Strategy
Strategi utama pada Porter Generic Strategies akan dibahas pada poin-poin
berikut :
Strategi ini merupakan strategi untuk menjadi produsen dengan harga rendah
dalam industri tertentu dengan tingkat kualitas tertentu. Perusahaan akan menjual
barangnya pada harga normal untuk mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi dari
kompetitorny, bahkan perusahaan akan menjual barangnya dibawah harga yang
ditawarkan oleh kompetitornya pada industri yang sejenis dengannya untuk
mendapatkan Market Share ( Market Share = penjualan perusahaan/ total penjualan
pasar). Pada saat terjadi suatu persaingan harga, perusahaan tetap dapat
mempertahankan keuntungan sementara kompetitornya akan mengalami kerugian.
19
Bahkan tanpa perlu terjadinya suatu persaingan harga, saat industri yang ditekuni
perusahaan telah “dewasa” dan harga mulai menurun, perusahaan yang dapat
memproduksi lebih murah akan tetap mendapatkan keuntungan untuk periode yang
cukup lama. Target dari Strategi ini umumnya ialah untuk kalangan umum(ruang
lingkup pasar besar).
Beberapa langkah yang dilakukan oleh perusahaan untuk mencapai kelebihan
dalam bidang harga ialah dengan mengembangkan efisiensi proses bisnis,
mendapatkan akses khusus untuk mencapai sumber bahan baku yang banyak namun
memiliki harga yang rendah, membangun outsourcing dan vertical integration yang
lebih optimal ataupun dengan mengurangi beberapa biaya yang tidak penting secara
keseluruhan dari setiap aspek perusahaannya. Apabila perusahaan yang menjadi
kompetitor tidak mampu mengikuti pengurangan biaya yang hingga mencapai biaya
yang telah dikurangi oleh perusahaan, maka perusahaan berkemungkinan mendapatkan
kelebihan dalam berkompetisi dalam hal biaya.
Faktor-faktor yang umumnya dimiliki oleh perusahaan yang berhasil
berkembang dengan strategi ini diantaranya ialah :
Mempunyai keuangan yang cukup untuk memberika investasi yang signifikan
pada bidang produksi (kemampuan investasi ini merepresentasikan suatu
halangan bagi banyak perusahaan untuk masuk ke dalam pasar)
Mempunyai kemampuan yang baik dalam mendesain produk agar proses
manufaktur menjadi lebih efisien, contohnya dengan memperkecil jumlah
komponen yang digunakan untuk mengurangi proses pembuatan.
Mempunyai tingkatan keahlian yang cukup tinggi dalam hal pembangunan
proses manufaktur.
Setiap strategi pada Porter Generic Strategies meiliki resikonya masing-
masing, termasuk juga untuk strategi dengan biaya rendah ini. Contoh resikonya,
Perusahaan lain mempunyai kemungkinan untuk dapat mengurangi biaya yang
dimilikinya juga. Dengan berkembangnya teknologi, kelebihan dalam bidang produksi
20
mungkin dapat tidak menjadi kelebihan yang signifikan dalam kompetisi, sehingga
dapat menghilangkan kelebihan kompetisi yang telah dimiliki oleh perusahaan. Selain
itu, terdapat beberapa perusahaan yang mempunyai fokus terhadap target-target
tertentu, sehingga dapat mencapai harga yang lebih rendah lagi dalam bagian pasar
mereka dan mendapatkan Market Share yang cukup signifikan.
2. Differentiation Strategy
Strategi diferensiasi ini merupakan strategi dengan menggunakan suatu produk
ataupun jasa yang unik dan menarik bagi pelanggan, selain itu juga pelanggan
menganggap bahwa produk atau jasa ini lebih baik dibandingkan produk-produk lain
yang menjadi kompetitor. Nilai yang ditambahkan oleh karena hal unik dari produk
tersebut dapat memberikan kesempatan bagi perusahaan untuk memberikan harga yang
cukup tinggi bagi produk tersebut. Perusahaan berharap dengan tingginya harga jual
produk dapat menutupi biaya tambahan yang muncul dalam masa penawaran produk
unik tersebut. Karena keunikan dari produk, maka apabila supplier menaikkan harga
jualnya, perusahaan dapat langsung menyalurkan kenaikan harga tersebut ke pelanggan
karena pelanggan kesulitan mencari pengganti dari produk yang sejenis.
Faktor-faktor yang umumnya dimiliki oleh perusahaan yang berhasil
berkembang dengan strategi ini diantaranya ialah :
Mempunyai kemampuan riset yang unggul.
Mempunyai tim pengembang yang berkemampuan tinggi dan mempunyai
kreatifitas yang tinggi.
Perusahaan memiliki reputasi yang baik dalam hal kualitas dan inovasi.
Resiko pada strategi ini ialah terdapat kemungkinan produk diimitasi oleh
perusahaan lain yang menjadi kompetitor dan perubahan dalam keinginan dari
pelanggan. Selain itu, ada juga ancaman dari perusahaan yang mempunyai fokus pasar
tertentu untuk menciptakan suatu diferensiasi khusus yang lebih baik dalam
segmennya.
21
3. Focus Strategy
Strategi ini hanya berpusat pada 1 segmen tertentu di pasar dan dalam segmen
tersebut perusahaan berusaha untuk mencapai keunggulan baik dalam hal biaya
ataupun dalam hal diferensiasi. Strategi ini mempunya ide bahwa kebutuhan dari
kelompok akan dapat lebih tercapai dan mendapatkan layanan yang lebih baik dengan
hanya berfokus pada kelompok tersebut. Perusahaan yang menggunakan strategi fokus
ini umumnya merasakan tingkat kesetiaan yang tinggi dari pelanggannya dan kesetiaan
ini membuat perusahaan lain ragu untuk berkompetisi secara langsung. Karena
perusahaan dengan strategi ini berfokus pada segmen tertentu, perusahaan mempunyai
banyak pelanggan yang tidak terlalu banyak dan membuat kekuatan untuk menawar
barang-barang dari supplier menjadi rendah. Namun, perusahaan yang mengejar
strategi fokus-diferensiasi akan dapat mangalirkan kelebihan harga yang diberikan oleh
supplier kepada pelanggan-pelanggannya karena tidak adanya produk pengganti.
Perusahaan yang berhasil dalam strategi fokus mampu membuat suatu produk
yang sebenarnya diperuntukkan untuk umum menjadi suatu segmen yang lebih kecil
yang dapat mereka pahami dengan baik. Beberapa resiko yang muncul dengan
menggunakan strategi ini ialah dapat munculnya imitasi dari produk dan muncul
perubahan permintaan pada segmen yang menjadi tujuan pemasaran. Selain itu juga
ada kemungkinan perusahaan yang mempunyai target pasar yang luas dan mempunyai
strategi cost leadership dapat dengan mudah beradaptasi produknya untuk bersaing
dalam target pasar yang lebih kecil. Hal lainnya yang mungkin terjadi ialah perusahaan
lain dengan strategi yang sama mampu mencari suatu sub-segmen dan berfokus pada
sub-segmen tersebut sehingga mereka dapat memberikan layanan yang lebih baik
kepada para pelanggan.
2.6 Five Forces Porter
Analisis 5 (lima) kekuatan Porter adalah suatu kerangka kerja untuk analisis
industry dan pengembangan strategi bisnis yang dikembangkan oleh Michael Porter.
Menurutnya ada lima kekuatan yang menentukan intensitas persaingan dalam suatu
industry yaitu, sebagai berikut :
1. Ancaman produk pengganti
Ancaman barang substitusi (threat of substitutions). Produk subsitusi merupakan
barang atau jasa yang dapat mengantikan produk sejenis, misalnya informasi yang
disampaikan melalui telepon dapat digantikan dengan sms ataupun chatting.
Tingkat substitusinya dipengaruh oleh faktor antara lain harga dan biaya
pengalihan.
Persaingan antara pesaing dalam industri yang sama (rivalry among competition).
Persaingan dalam bidang ini yang merupakan inti dari persaingan karena masing-
masing perusahaan berusaha untuk menggunguli perusahaan pesaingnya. Pada
aspek ini akan berpengaruh jumlah dan kesetaraan pesaing dan juga tingkat
pertumbuhan industri.
Ancaman masuknya pendatang baru (threat of entry). Suatu industri yang
menawarkan keuntungan (return) yang tinggi akan mengundang perusahaan baru
untuk masuk kedalam industri tersebut. Sehingga secara makro akan membuat
persaingan menjadi lebih ketat dan akan berakibat pada penurunan keuntungan
pada semua perusahaan di industri tersebut.
Daya tawar pembeli (bargaining power of buyers). Faktor ini merupakan hal
penting karena kepuasan pelanggan dalam membeli merupakan kunci sukses suatu
perusahaan. Adapun faktor yang mempengaruhinya adalah pangsa pembeli yang
besar, banyaknya produk substitusi dan biaya pengalihan produk yang kecil.
23
Daya tawar penjual (bargaining power of suppliers). Dipengaruhi factor jumlah
pemasok dan barang atau jasa yang disediakan oleh pemasok. Makin sedikit
pemasok maka makin kuat ancamannya terhadap perusahaan.
Adapun gambar model Five Forces Porter adalah sebagai berikut:
Gambar 2
Untuk dapat meningkat kinerja daya saing diperlukan suatu
strategi yang sesuai dengan kondisi UMKM
Porter generic strategies merupakan strategi yang
umumnya digunakan oleh suatu perusahaan dalam
menjalankan bisnisnya untuk mencapai dan
mempertahankan kelebihannya
Kajian Pustaka
2015
Alan Hankinson (2000)
perusahaan kecil/ UMKM adalah faktor internal
perusahaan melalui strategi bisnis perusahaan
25
3.1. Tujuan Penelitian
Usaha kecil dan menengah (UKM) disadari atau tidak mempunyai peran yang
sangat berarti bagi pertumbuhan perekonomian di Indonesia. Hal ini terbukti saat krisis
ekonomi tahun 1997 melanda Indonesia. Pada saat ini banyak perusahaan berskala
besar yang jatuh satu persatu, namun ternyata UKM tetap berdiri kokoh di tengah-
tengah krisis tersebut, bahkan menjadi katup penyelamat bagi pemulihan ekonomi
bangsa karena kemampuannya memberikan sumbangan yang cukup signifikan pada
PDB maupun penyerapan tenaga kerja.
Penelitian ini bertujuan untuk mencari solusi untuk mengantisipasi kesiapan
dari UMKM dalam menghadapi MAE untuk dapat bersaing dengan menggunakan
strategi generik Porter yang akan dikembangkan dalam penelitian ini. Penelitian ini
dilakukan di Kabupaten Deli serdang dikarenakan jumlah UMKM yang ada di daerah
ini cukup banyak di bandingkan daerah lainnya yang ada di Sumatera Utara.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Tahun pertama: Identifikasi permasalahan UMKM dalam menciptakan
keunggulan, dan identifikasi keberadaan strategi yang digunakan oleh UMKM
dalam keunggulan bersaing,
2. Tahun kedua: penyusunan model pengembangan strategi genirik Porter, uji coba
pengembangan model Strategi Generik Porter, dan Rancangan Model Strategi
Generik Porter dan laporan Penelitian,
3. Tahun ketiga: tahap sosialisasi dan implementasi serta pembuatan buku.
3.2. Manfaat Penelitian
Studi tentang strategi generik Porter sebenarnya sudah sangat sering dilakukan
karena hampir semua pihak dan kalangan sudah memiliki pemahaman yang sama
tentang pentingnya strategi, terutama di perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk
26
mencari permasalahan yang sering menghambat pengembangan UMKM di Kabupaten
Deli Serdang dalam keunggulan bersaing terutama dalam menghadapi MEA, untuk itu
diperlukan adanya suatu strategi dalam menciptakan keunggulan bersaing di era MEA
melalui indikator five force Porters’s. Banyak strategi dalam menciptakan keunggulan
bersaing dan salah satunya strategi generik Porter. Strategi ini memberikan
keberhasilan di perusahaan sehingga peneliti ingin mengadopsi strategi generik Porter
bagi UMKM khususnya di Kabupaten Deli Serdang
Permasalahan yang terjadi saat ini adalah kurang kesiapan UMKM dalam
menghadapi MEA sehingga UMKM di Indonesia khususnya UMKM di Kabupaten
Deli Serdang kurang mampu bersaing. Akibat kondisi-kondisi tersebut maka UMKM
harus dapat mencari strategi yang sesuai untuk dapat memenangkan dalam persaingan
tersebut. Dengan penelitian ini dapat dikembangkan suatu model stategi generik Porter
yang dapat membantu UMKM siap untuk menghadapi MEA.
27
4.1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Deli Serdang
Propinsi Sumatera Utara. Pelaksanaan penelitian ini direncanakan mulai tahun
anggaran 2015 sampai dengan tahun 2017.
4.2. Metode Penelitian
Sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, yakni
pengembangan model strategi generik Porter untuk UMKM, maka penelitian ini
menggunakan metode Research and Development (R&D), dimulai dari kegiatan
survey pendahuluan, Pengembangan model strategi generik porter, uji coba, sosialisasi
dan implementasi melalui Modul.
1. Studi lapangan dengan penyebaran instrumen penelitian kepada sampel dalam
hal ini UMKM yang ada di Kabupaten Deli Serdang dimana akan dilakukan
wawancara untuk mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi berhubungan
dengan kredit UMKM.
dan penelitian sebagai penunjang dalam pengembangan model pengembangan.
Analisis data :
metode analisis deskriptif. Penelitian ini akan dibagi dalam tiga tahapan pelaksanaan
kegiatan sebagai berikut :
UMKM menghadapi MEA. Untuk mewujudkan hasil tersebut maka kegiatan utama
akan dilaksanakan yakni; 1) identifikasi permasalahan UMKM dalam menciptakan
keunggulan bersaing, 2) identifikasi keberadaan strategi yang digunakan oleh UMKM
28
dalam keunggulan bersaing, 3) Melakukan Analisis dan membuat laporan penelitian.
Metode yang digunakan adalah metode studi pustaka, untuk mengumpulkan data
sekunder, dan metode survei dengan menggunakan kuesioner untuk mengumpulkan
data primer. Sebelum dilakukan survei, dilaksanakan kegiatan penyusunan kuesioner
dan pra-survei untuk pemantapan kuesioner. Sesudah kuesioner disempurnakan,
kemudian dilakukan kegiatan pengumpulan data primer dengan metode survei pada
UMKM yang ada. Perolehan data primer dan sekunder dilakukan melalui pengamatan
langsung ke lapangan dan wawancara dengan responden. Data primer diperoleh dari
UMKM, sedangkan data sekunder diperoleh dari Dinas Koperasi dan UMKM, tingkat
kabupaten, dan instansi terkait.
5.1.1 Gambaran Umum Responden
Saat ini belum ada data populasi pelaku Usaha kecil yang cukup valid di
Kabupaten Deli Serdang .Karena belum validnya data pelaku Usaha kecil tersebut
maka tidak semua pelaku usaha kecil di Deli serdang dijadikan responden, hanya UKM
yang terdaftar di Dinas UMKM dan Koperasi Deli Serdang yang dijadikan responden
yaitu berjumlah 100 UKM. Dari jumlah 100 UKM tersebut ternyata yang dapat di olah
datanya hanya 70 UKM, hal ini karena terdapat kuesioner yang tidak kembali sebanyak
30 UKM atau 30%. Data yang terkumpul tersebut kemudian di tabulasi dan selanjutnya
di olah untuk memperoleh hasil sesuai dengan tujuan dari penelitian ini.
Dalam penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah sebanyak 70 UMKM
di Kabupaten Deli Serdang. Pengisian kuesioner lakukan oleh pemilik UMKM. Dalam
peneltian ini pengumpulan data dilakukan dalam satu tahapan, dengan cara
memberikan secara langsung kuesioner kepada responden. Kemudian sesuai dengan
waktu yang telah ditentukan (1 bulan) kuesioner dijemput kembali. Adapun nama-
nama UMKM yang menjadi unit analisis dapat dilihat di tabel berikut:
Tabel 1
NO
NAMA
RESPONDEN NAMA USAHA ALAMAT
1 NN Manis Bordir Jln Pendidikan Sei Rotan Percut Sei Tuan
2 NN Bunga Bordir Colletion
Jln Sudirman Gg Laksana Ds Cinta Rakyat , Percut Sei
Tuan
Jln P.Diponegoro Gg Sukses Dsn V Cinta Rakyat ,
Percut Sei Tuan
4 Rahmawany Kiripik Pisang Rotan Jln Pendidikan I Dsn 9 Sei Rotan Percut Sei Tuan
5 NN Sejahtera Jln Pasar Melintang Dsn V Sei Rotan , Percut Sei Tuan
6 Sarti Rengginang Sarti Jln Pendidikan Sei Rotan , Percut Sei Tuan
7 Eriza
Sampali , Percut Sei Tuan
8 Rani Mahar Hantaran Jln Karya Jaya Komp.Kencana Asri No.65
9 Surya Toko Kaca Citra Pasar Bengkel Perbaungan
10 Hermansyah Rumah Kita Perumahan Griya Angsana
11 NN RM.Sungai Garingging Jln Siantar Simp.Timbangan , Lubuk Pakam
12 Suriono
Peralatan Rumah
14 Mustika Mustika Toko Kaca Jln Raya Deli Tua I
15 Surtiah Lesehan Bambu Jln Pengabdian
16 Muliya.p Agung M.M. Jln M.Raya No.30
17 Yanty BPU Yanty Dsn Kloni 3 Bulu Cina
18 NN Konveksi Gordyn Dsn 22 PD Rawa Sampali
19 Asryl Asryl Bakery Jln Kartini Lubuk Pakam
20 Mariana.s. Somay Bandung Jln Kenari IX Sampali
21 Sutarno Kedai Makanan Sutarno Dsn 22 Pd Rawa
22 Mariam Industri Tempe Dsn 12 Desa Sei Rotan , Percut Sei Tuan
23 Sabar Bakso Sabar Jl. Tuasan Sp.Tempuling Deli Serdang
24 Dani Dani Mie Jl. Cemara Deli Serdang
25 Nur An-Nurr Dsn 9 Pasar Besar Sunggal
26 Sugito Bangkel Las Jl. Pasar Hitam Depan Gudang Aqua
27 Ramadhan Ramadhan Com Jl. Batang Kuis Pasar Vii Tj Morawa
28 Aya Aya Khaligrafi Jl. Pasar Kecil No.24 Km 13.5
29 Burhanuddin Pengrajin Sepatu Jl. Pasar V Tembung Percut Sei Tuan
30 Seroja Seroja Jl. Pendidikan No.2 Deliserdang
31 Setia Setia Jaya Jl. Gambir Viii Percut Sei Tuan
32 Ratu Ratu Collection Jl Merica Raya No 106
33 Budiman Kaligrafi Jl. Keadilan Lorong 2 Barat 218
34 Amanda Amanda UD Jl. Sempurna Dusun II Mawar No. 18 Tembung
35 Kartika Kartika Cemara Jl. Pasar Hitam No.22. Percut Sei Tuan
36 NN Subur Jaya Jl.Jainal Abidin III Hamparan Perak
37 NN Susan Pilar Jl.Pertanahan No.59 - A.A.
38 lela Konveksi Gordyn Jl.Datuk Kubu Pasar III Komplek Griya
39 NN Ternak Lembu Jl. Pd. Rawa
40 NN Ternak Kambing Jl.Pondok Rawa Ds 22/12
41 NN Redha Jl.Ei Menari Gg Amplas
42 NN Arin UD Dsn VI Desa Bangun Rejo
43 NN Konveksi Baju Koko Pasar V Dsn XIV Gg Kamirin , Percut Sei Tuan
44 NN Sofie Collection Dsn III Sk Ramai Tandam Hulu
31
NO
NAMA
46 NN Ternak Ikan Desa Sidomulio B1 B/34
47 wahyudi Furniture Dusun I Kamboja
48 NN Laksana Pasar VII Tembung Dsn VIII
49 NN Sri Tani ,UD Jl.Binjai Km ,13,6 Dsn X/Pasar Kecil
50 NN Berkah Mulia Dsn XXII Rawa Sampali
51 NN Sate Padang Jl.Datuk Kabu Gg Mesjid Pasar 3 Percut Sei Tuan
52 NN Mardisa Flowers Gg Mardiso No.68
53 NN
54 sumiati Hari Bagus Semua Gg Sosial No.151A Kongso
55 NN Makanan Ringan Jl.Kemuning No.9 Sampali
56 NN Bu Aisyah Komplek Veteran Percut Sei Tuan
57 F.panjaitan Tree F.Collection Jl.Irian No.106 Tanjung Merawa
58 NN Tekshl Pasar V Dsn XIV Gg Swadaya Percut Sei Tuan
59 NN Supra Tani Dsn I Percut Sei Tuan
60 NN Jati Agung Jl.Jati Rejo Dsn XXI
61 NN Penjahit Dsn II Sukaramai
62 NN Dahlia UD Jl.Surya Haji No.58
63 NN Petani Buah Jl.Raya Bakung
64 NN Peternakan Ayam Ras Jl.Kuntalin Baru No.185
65 NN Industri Tali Ban Dsn V Gg Gembira Diski Sunggal
66 NN Ivan Nast Dsn IX Pendowo Pasar III Sintes
67 NN Sidik Jaya Jl.Labuan Deli Lubuk Pakam
68 NN Harapan Jaya Ds VIII Karang Rejo , Sunggal
69 NN Jamilah Pesta Jl.Medan Batang Kuis Gg Harjo
70 NN Ternak Jangkrik Dsn 22 PD Rawa Sampali
Sumber: Data observasi
5.1.2 Demografi Responden
responden penelitian, yang meliputi usia, jenis kelamin, pendidikan, generasi usaha,
dan lamanya usaha. Adapun gambaran yang diperoleh mengenai masing-masing
karakteristik demografik responden penelitian dijelaskan secara terperinci di bawah ini.
32
Analisis ini bertujuan untuk mengukur distribusi usia responden. Hal ini
penting untuk dianalisis karena usia berkaitan erat dengan tingkat kedewasaan
seseorang, cara pandang, dan tanggung jawab dalam bertindak. Untuk mengetahui
distribusi usia responden dapat dilihat pada tabel 2 sebagai berikut:
Tabel. 2
Valid 31-40 THN 3 4.3 4.3 4.3
41-50 THN 33 47.1 47.1 51.4
51-60 THN 32 45.7 45.7 97.1
>60 THN 2 2.9 2.9 100.0
Total 70 100.0 100.0
Sumber: Data primer diolah
Tabel 2. menunjukkan bahwa responden yang memiliki antara 41– 50 tahun
memiliki persentase 47,1%, sedang usia responden minimal yaitu di atas 60 tahun
sebesar 2,9%. Usia responden ini menunjukkan bahwa sebahagian besar responden
memiliki usia yang produktif, hal ini akan memberikan kualitas positif yang dibawa
dalam melaksanakan usaha yang dimilikinya.
5.1.2.2 Jenis Kelamin Responden
dan kemampuan antara laki-laki dan perempuan, misalnya perempuan dianggap lebih
ekspresif, lebih emosional, kurang logis, kurang terorientasi dan lebih partisipatif
daripada laki-laki. Sebaliknya laki-laki dianggap kurang hangat dan kurang peka antar
pribadi, kurang ekspresif, lebih otokrasi, dan sebagainya. Walaupun ada perbedaan
pandangan antara laki-laki dan perempuan akan tetapi tidak ada perbedaan melakukan
suatu tugas atau pekerjaan dalam bidang tertentu. Untuk mengetahui distribusi jenis
kelamin responden dapat dilihat pada Tabel 3 sebagai berikut:
33
WANITA 34 48.6 48.6 100.0
Total 70 100.0 100.0
Sumber: Data primer yang diolah
Berdasarkan data dalam Tabel 3 diatas tampak bahwa sebagian besar responden
penelitian (51,4%) adalah laki-laki sedangkan sisanya (48,6%) responden adalah
perempuan. Hal ini mengindikasikan bahwa jumlah pria lebih dominan daripada
wanita.
pengetahuan, dan kemampuan. Keterbatasan pendidikan akan mempengaruhi
seseorang dalam menentukan hasil pekerjaan yang diinginkan. Hal tersebut
dikarenakan pendidikan sangat penting guna meningkatkan kemampuannya. Dengan
besarnya tuntutan jaman maka pendidikan saat ini dirasakan sebagai suatu kebutuhan
yang paling mendasar bagi setiap manusia. Untuk mengetahui distribusi tingkat
pendidikan responden dapat dilihat pada Tabel 4 sebagai berikut.
Tabel. 4
SLTA 49 70.0 70.0 84.3
D3 5 7.1 7.1 91.4
S1 6 8.6 8.6 100.0
Total 70 100.0 100.0
34
Berdasarkan data pada Tabel. 4 dapat dijelaskan bahwa sebagian besar
responden (70%) berpendidikan SLTA sedangkan hanya 8,6% memiliki pendidikan
S1, serta 7,1% memiliki pendidikan D3. Hasil ini menunjukkan bahwa hampir
sebahagian besar responden memiliki pendidikan di atas SLTP. Hal ini menunjukkan
pelaku UMKM memilki kemampuan intelektual yang dimilikinya, dengan bekal
pendidikan yang tinggi dengan wawasan yang luas sehingga akan memudahkan
individu tersebut untuk kinerjanya karena dengan pendidikan yang tinggi akan semakin
cepat menerapkan cara kerja yang efektif dan efisien.
5.1.2.4 Lamanya Usaha
Lamanya usaha seseorang dalam suatu organisasi dapat menjadi tolak ukur
kemampuan dalam berusaha serta ketangguhan dalam memimpin sebuah usaha.
Semakin lama masa usaha seseorang dapat diasumsikan bahwa orang tersebut lebih
berpengalaman dan lebih senior. Untuk mengetahui lama usaha responden dapat
dilihat pada tabel berikut
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid <10 THN 4 5.7 5.7 5.7
11-15 THN 37 52.9 52.9 58.6
16-20 THN 24 34.3 34.3 92.9
>20 THN 5 7.1 7.1 100.0
Total 70 100.0 100.0
Pada tabel. 5 terlihat bahwa kelompok UMKM berdasarkan lamanya
menjalankan usaha, paling banyak adalah masa usaha lebih dari 11 - 15 tahun sebanyak
(52,9%) dan hanya 5,7% yang mempunya masa berusaha kurang dari sepuluh tahun.
Lamanya usaha menunjukkan bahwa UMKM mampu bertahan di tengah persaingan
yang sangat kompetitif. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar UMKM
memiliki kemampuan menjalankan usahanya.
5.1.3 Pengujian Kualitas Data
Sebelum data hasil kuesioner diolah lebih lanjut, terlebih dahulu dilakukan uji
validitas dan reliabilitas terhadap alat ukur penelitian untuk membuktikan apakah alat
ukur yang digunakan memiliki kesahihan (validity) dan keandalan (reliability).
Berdasarkan hasil pengolahan menggunakan korelasi product moment (indeks
validitas) dan metode Cronbach’s Alpha diperoleh hasil uji validitas dan reliabilitas
sebagai berikut:
Tabel. 6
No
9
Sumber: Pengolahan Data
Pada tabel di atas terlihat bahwa nilai koefisien korelasi (indeks validitas) dari
setiap butir pernyataan lebih besar dari nilai kritis 0.30. Hasil pengujian ini
menunjukkan bahwa semua butir pernyataan untuk setiap variabel valid dan layak
digunakan sebagai alat ukur penelitian serta dapat digunakan untuk analisis
selanjutnya. Pada tabel di atas juga terlihat bahwa nilai reliabilitas kuesioner keempat
variabel lebih besar dari nilai kritis 0.70. Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa
semua butir pernyataan yang digunakan sudah reliabel sehingga dapat disimpulkan
bahwa kuesioner yang digunakan sudah memberikan hasil yang konsisten.
36
Gambaran data hasil tanggapan responden dapat digunakan untuk memperkaya
pembahasan, melalui gambaran data tanggapan responden dapat diketahui bagaimana
kondisi setiap indikator variabel yang sedang diteliti. Agar lebih mudah dalam
menginterpretasikan variabel yang sedang diteliti, dilakukan kategorisasi terhadap
tanggapan responden berdasarkan rata-rata skor tanggapan responden. Prinsip
kategorisasi rata-rata skor tanggapan responden di adopsi dari Sugiyono (2009;135)
yaitu berdasarkan rentang skor maksimum dan skor minimum dibagi jumlah kategori
yang diinginkan menggunakan rumus sebagai berikut.
Skor Maksimum-Skor Minimum Rentang Skor Kategori =
jumlah kategori
Tabel. 7
Interval
Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi permasalahan yang di hadapi
oleh UMKM yang ada di Kabupaten Deli Serdang dalam menciptakan keunggulan
bersaing di era MEA. Dalam menentukan strategi diperlukan analisis untuk
mendapatkan gambaran dan bukti bukti dari hasil analisa tersebut, bukti bukti tersebut
bisa berupa data, ataupun dari berbagai sumber yang telah tervalidasi, prediksi dan
asumsi. Oleh karena itu pada bahagian ini dilakukan analisa lingkungan eksternal
perusahaan dengan menggunakan analisa five forces porter. Berikut ini akan dijelaskan
berdasarkan variabel variabel pada analisa five forces porter.
Five Force Porter Analysis digunakan untuk menganalisa lingkungan eksternal
perusahaan berdasarkan persaingan antar perusahaan sejenis, ancaman pendatang baru,
37
ancaman produk pengganti, kekuatan tawar menawar pembeli dan kekuatan tawar
menawar pemasok (Porter,1976). Berikut tanggapan responden terhadap faktor-faktor
tersebut.
Five Force Porter Analysis No Indikator/Pernyataan Distribusi Tanggapan Nilai
Skor
Kategori
tinggi
% 0 84,29 15,71
usaha yang sama dengan Bapak/Ibu
F 0 46 24 3,.74 SDG
% 0 65,71 34,29
sedikit perbedaan dengan produk pesaing
dalam hal kualitas dan kuantitas
F 0 51 19 3,90 SDG
% 0 72,86 27,14
pertumbuhan yang lamban
% 1,43 20,00 78,57
untuk memproduksi produk cukup
% 0 52,86 47,14
keuntungan yang lebih tinggi dari pesaing
F 0 43 27 3,69 SDG
% 0 61,43 38,57
% 0 28,57 71,43
Ancaman Pendatang Baru
oleh pendatang baru (pesaing) dengan skala
besar dapat mengganggu usaha Bapak/Ibu
F 0 48 22 3,76 SDG
% 0 68,57 31,43
memiliki ragam produk yang banyak
F 0 29 41 3,47 SDG
% 0 41,43 58,57
yang signifikan pada usaha yang bapak/ibu
lakukan
% 0 47,14 52,86
% 0 38,57 61,43
Ancaman Produk Pengganti
Bapak/Ibu produksi dapat diimitasi/ditiru
kompetitor
% 1,43 71,43 27,14
hasilkan/jual memiliki produk pengganti
% 0 67,14 32,86
pengganti lebih murah daripada harga
produk yang Bapak/Ibu hasilkan
% 0 61,43 38,57
dimiliki pesaing mempunyai pangsa pasar
yang lebih baik
% 0 64,29 35,71
Skor
Kategori
F 0 40 30 3,64 SDG
% 0 56,14 42,86
Bapak/Ibu hanya didominasi oleh sedikit
perusahaan
% 0 61,43 38,57
Bapak/Ibu merupakan produk yang penting
bagi Bapak/Ibu
% 0 67,14 32,86
merupakan pelanggan yang penting bagi
pemasok
% 0 62,86 37,14
baik dengan usaha Bapak/ibu
% 0 70 30
Sumber: Pengolahan Data
Berdasarkan Tabel. 8 di atas bahwa indikator dari five forces porter memiliki
nilai dalam kategori Sedang, hal ini menunjukkan bahwa terdapat permasalahn pada
UMKM di Kabupaten Deli Serdang dan apabila dirinci dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Persainngan antara perusahaan sejenis. Berdasarkan hasil di atas menunjukkan
terjadinya persaingan yang cukup tinggi antara perusahaan, dimana hal ini terjadi
karena (1) Para UMKM masih memiliki biaya tetap yang cukup tinggi (2) cukup
banyaknya pesaing dengan usaha yang sama, (3) Sedikit perbedaan dengan produk
pesaing, (4) Pertumbuhan usaha yang lamban (5) Biaya produksi yang cukup
tinggi, (6) kurang mampu bersaing dalam harga jual dengan pesaing, dan (7) kurang
mampu mempromosikan produk.
2) Ancaman Pendatang baru. Berdasarkan hasil di atas menunjukkan terjadinya
ancaman dari pendatang baru yang cukup tinggi antara perusahaan, hal ini terjadi
karena (1) produk yang dihasilkan/disiapkan oleh pendatang baru (pesaing)
memiliki skala yang cukup besar (2) produk dari pesaing memiliki ragam produk
yang cukup banyak,(3)modal keuangan yang kurang memadai, (4) jalur distribusi
yang kurang efisien.
3) Ancaman Produk Pengganti. Berdasarkan hasil di atas menunjukkan terjadinya
ancaman produk pengganti yang cukup tinggi, dimana hal ini terjadi karena (1)
39
produksi dapat diimitasi/ditiru oleh pengusaha lain yang menjadi kompetitor, (2)
produk yang dihasilkan cukup banyak produk substitusi, (3) Produk pengganti
memiliki harga yang jauh lebih murah, dan (4) Produk pengganti memiliki pangsa
pasar yang lebih baik.
4) Kekuatan tawar menawar pembeli. Berdasarkan hasil di atas menunjukkan
kekuatan tawar menawar pembeli yang cukup tinggi atau sedang, dimana hal ini
terjadi karena kurang informasi mengenai produk kepada para pembeli.
5) Kekuatan tawar menawar pemasok. Berdasarkan hasil di atas menunjukkan
kekuatan tawar menawar pemasok yang cukup tinggi atau sedang, dimana hal ini
terjadi karena (1) kurangnya pasokan bahan baku, (2) Produk dari pemasok kurang
memberikan arti bagi usaha, (3) Usaha yang miliki bukan merupakan pelanggan
yang penting bagi pemasok, dan (4) Kurangnya integritas terhadap pemasok.
Selain ke 5 (lima) indikator di atas, peneliti menambahkan indikator lain
sebagai pendukung dalam menciptakan keunggulan bersaing UMKM dalam
menghadapi MEA. Adapun indikator tesebut dapat di lihat pada tabel berikut ini:
Tabel. 9
Kemampuan inovasi & teknologi, Serta Keterlibatan Pemerintah
No Indikaor/Pernyataan Distribusi Tanggapan Nilai
Skor
Kategori
produk menjadi lebih efisien
% 0 67,14 32,86
cukup tinggi dalam hal proses produksi produk
yang dihasilkan
% 1,43 60,00 38,57
beragam jenis
% 1,43 78,57 20,00
melakukan riset pasar maupuk riset terhadap
produk yang unggul
% 0 14,29 85,71
dalam hal kualitas dan inovasi.nyai kreatifitas yang
tinggi.
% 0 15,71 84,29
F 0 43 27 3,67 SDG
% 0 61,43 38,57
Skor
Kategori
sebenarnya diperuntukkan untuk umum menjadi
suatu segmen yang lebih kecil yang dapat mereka
pahami dengan baik.
% 0 74,29 25,71
menghasilkan produk untuk memenuhi permintaan
pasar
% 0 55,71 44,29
terhadap usaha yang Bapak/Ibu miliki melalui
pemberian fasilitas kredit
% 0 35,71 64,29
% 0 38,57 61,43
Sumber: Pengolahan Data
Berdasarkan tabel. 9 di atas bahwa indikator kemampuan inovasi dan teknologi
serta perhatian pemerintah juga memiliki nilai dalam kategori Sedang, hal ini
menunjukkan bahwa terdapat permasalahn pada UMKM di Kabupaten Deli
Serdang, khususnya mengenai kemampuan inovasi terhadap produk dan
penggunaan teknologi serta perhatian dari pemerintah, dan apabila dirinci dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1) Kemampuan inovasi dan teknologi. Berdasarkan hasil di atas menunjukkan
kurangnya kemampuan inovasi dan teknologi, dimana hal ini terjadi karena
kurang kemampuan dalam mendesain produk, keahlian dalam proses produksi
yang kurang, kurang adanya riset pasar terhadap produk yang dihasilkan,
kurangnya reputasi terhadap kualitas produk, segmentasi pasar yang kecil, dan
teknologi yang masih sangat sederhana.
2) Perhatian Pemerintah. Berdasarkan hasil di atas menunjukkan bahwa perhatian
pemerintah terhadap UMKM masih tergolong kurang, dimana hal ini terjadi
karena pemberian bantuan modal yang kurang merata dan kurangnya
kesempatan mempromosikan produk yang di dukung oleh pemerintah.
41
Berdasarkan uraian pada sub bab sebelumnhya maka dapat dijelaskan bahwa
UMKM di Kabupaten Deli Serdang belum menjalankan strategi bisnis secara baik
dalam upaya meningkatkan daya saing. Berdasarkan hasil wawancara bahwa hampir
semua UMKM masih menjalankan strategi bisnisnya secara konvensional. Kondisi
ini dapat dilihat hasil deskripsi data yang telah dijelaskan, dimana hampir semua
indikator memiliki kategori sedang atau cukup, bahkan ada yang masuk dalam
kategori rendah yaitu kemampuan inovasi dan teknologi.
Pada indikator persaingan antar perusahaan sejenis masuk dalam kategori
sedang, hal ini menunjukkan masih perlunya perhatian bagi UMKM di Kabupaten
Deli Serdang, sehingga dapat tercipta keunggulan bersaing dalam menghadapi
MEA. Adapun upaya yang dapat dilakukan UMKM untuk unggul dalam persaingan
di antaranya: sebaiknya UMKM perlu melakukan efisiensi biaya tetap, karena
dengan biaya tetap yang tinggi akan menyebabkan harga jual yang tinggi pula,
dengan menekan biaya tetap tersebut maka harga jual dapat lebih bersaing dengan
industri sejenis. Selain menekan biaya tetap, UMKM juga harus mampu menekan
biaya produksinya karena biaya produksi juga merupakan hal yang diperhatikan
dalam penentuan harga jual. Dengan mampu menekan biaya produksi maka harga
jual akan mampu bersaing dengan para pesaing. Selanjutnya UMKM harus mampu
mempromosikan produknya ke para konsumen, dengan harga jual yang bersaing
maka promosi akan lebih mudah dilakukan.
Pada indikator ancaman pendatang baru juga termasuk dalam kategori cukup
atau sedang, hal ini menunjukkan bahwa dengan adanya MEA maka kemungkinan
besar UMKM menghadapi ancaman dari pendatang baru. Adapun upaya yang harus
dilakukan oleh UMKM untuk mampu bersaing dengan datanya pendatang
(pengusaha) baru adalah: perlunya modal keuangan yang besar untuk melakukan
investasi terhadap sarana dan prasarana yang mendukung proses produksi atas
produk sehingga produk yang dihasilkan jauh lebih berkualitas dibandingkan
dengan produk yang dihasilkan para pesaing. Melakukan diversifikasi produk agar
42
produk lebih beragam sehingga dapat meningkat laba bagi UMKM. Membuat jalur
distribusi yang lebih efisien sehingga produk lebih cepat diterima oleh pasar.
Pada indikator ancaman produk pengganti juga masuk dalam kategori cukup
atau sedang, hal ini menunjukkan bahwa produk pengganti menjadi ancaman yang
cukup berarti bagi perkembangan usaha UMKM di Kabupaten Deli Serdang.
Adapun upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi ancaman dari produk pengganti
adalah: perlu menciptakan produk yang memiliki keunikan yang spesifik sehingga
sulit untuk ditiru oleh pesaing, dan menetapkan harga jual yang lebih bersaing
dengan para kompetitor, serta memperhatikan segmentasi pasar atas produk yang
dihasilkan.
Pada indikator kekuatan tawar menawar pembeli masih termasuk dalam
kategori cukup atau sedang, hal ini menunjukkan bahwa masih cukupnya tawar
menawar dari pembeli terhadap produk yang dihasilkan UMKM. Adapun upaya
yang dilakukan agar tawar menawar dari pembeli dapat meningkat maka hal yang
harus dilakukan; memberikan informasi mengenai produk kepada para konsumen
melalui promosi di media cetak dan elektronik tentang keunggulan dari produk yang
dihasilkan, serta memberikan informasi secara lengkap tentang komposisi dari
produk.
Pada indiator kekuatan tawar menawar pemasok termasuk dalam kategori
cukup atau sedang, hal ini menunjukkan tawar menawar dari pemasok terhadap
bahan baku masih menghadapi kendala, sehingga UMKM mengalami kesulitan
pasokan bahan baku. Adapun upaya yang harus dilakukan oleh UMKM adalah,
membina hubungan baik dengan pemosok bahan baku dengan menjaga integritas
sehingga UMKM dapat menjadi pelanggan utama dari pemasok bahan baku.
Pada indikator kemampuan inovasi dan tekonologi serta perhatian pemerintah
ternyata juga masuk dalam kategori yang cukup atau sedang, hal ini menunjukkan
bahwa UMKM masih lemah dalam melakukan inovasi terhadap produk yang
dihasilkannya dan penggunaan teknologi yang masih sederhana atau tradisional.
Selain itu perhatian pemerintah terhadap UMKM di kabupaten deli serdang juga
masih sedikit. Adapun upaya yang harus dilakukan agar kemampuan inovasi dan
43
produk dengan selalu mengikuti pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh instansi
terkait, melakukan riset pasar atas produk yang akan dihasilkan sehingga produk
sesuai dengan segmentasi pasar, menjaga reputasi produk dengan cara selalu
menjaga kualitas produk yang dihasilkan, dan penggunaan teknologi yang tepat
guna. Selanjutnya pemerintah diharapkan memberikan perhatian lebih kepada
UMKM dalam memberikan bantuan modal berupa pemberian kredit lunak sehingga
UMKM memiliki modal keuangan yang cukup dalam menghasilkan produk, selain
itu diharapkan pemerintah juga selalu mengadakan event yang mengikutsertakan
UMKM baik secara nasional maupun internasional sehingga produk UMKM lebih
dikenal luas.
RENCANA TAHAPAN BERIKUTNYA
Penelitian ini direncanakan selama 3 tahun, dimana pada tahun pertama sudah
dilaksanakan dan telah diperoleh hasil. Untuk tahun selanjutnya adalah sebagai berikut:
Tahap Kedua
Tahun kedua dilakukan 1) penyusunan model pengembangan strategi genirik
Porter, 2) uji coba pengembangan model Strategi Generik Porter, 3) Rancangan Model
Strategi Generik Porter dan laporan Penelitian.Tujuannya adalah untuk melihat
sejauhmana manfaat modul panduan yang sebagai bahan evaluasi untuk penyusunan
modul pengembangan model Strategi Generik Porter dan melakukan merevisi model
akhir pengembangan Strategi Generik Porter yang paling ideal yang dapat menciptakan
keunggulan bersaing. Langkah awal pada tahap ini adalah pengembangan model
Strategi Generik Porter yang dihasilkan di uji coba dengan membuat pilot project. Pada
tahapan ini akan dipilih UMKM untuk melaksanakan model pengembangan Strategi
Generik Porter yang dihasilkan. Untuk itu pada tahapan ini akan dilakukan kerja sama
dengan salah satu UMKM.
Tahun ketiga tahap sosialisasi dan implementasi. Pada tahap akhir ini
diharapkan modul panduan pengembangan model Strategi Generik Porter untuk
UMKM untuk memberikan solusi bagi UMKM dalam kesiapan menghadapi MEA.
Kegiatan pada tahap ketiga ini akan dilaksanakan dalam dua langkah yang meliputi
langkah: 1) implementasi model pengembangan model Strategi Generik Porter, dan 2)
sosialisai pengembangan model Strategi Generik Porter, 3) Pembuatan buku panduan.
45
Sudah dilaksanakan Belum dilaksanakan
Identifikasi Keberadaan
Keunggulan Bersaing
berhubungan serta hasil analisis penelitian yang telah dibahas sebagaimana yang telah
disajikan pada bab-bab sebelumnya, maka simpulan penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Strategi porter melalui indikator five forces porter yang meliputi persaingan antar
perusahaan sejenis, ancaman pendatang baru, ancaman produk pengganti, kekuatan
tawar menawar pembeli dan kekuatan tawar menawar pemasok masih termasuk
dalam kategori cukup atau sedang, hal ini menunjukkan terdapatnya kendala atau
permasalahan yang dihadapi UMKM di Kabupaten Deli Serdang.
2. Disamping indikator five forces porter, penambahan indikator pendukung berupa
kemampuan inovasi dan teknologi serta perhatian pemerintah juga masuk dalam
kategori cukup atau sedang, hal ini menunjukkan bahwa indikator pendukung juga
masih menghadapi kendala atau permasalahan
7.2 Saran
1. Pada indikator five forces porter yang meliputi persaingan antar perusahaan sejenis,
ancaman pendatang baru, ancaman produk pengganti, kekuatan tawar menawar
pembeli dan kekuatan tawar menawar pemasok, perlunya peningkatan dari kategori
sedang atau cukup menjadi baik atau tinggi melalui: efisiensi biaya tetap dan biaya
produksi, penetapan harga jual yang lebih bersaing, kualitas produk yang
dihasilkan memiliki keunikan dengan melakkukan desain produk yang up to date,
riset pasar dan segmentasi pasar yang tepat, melakukan promosi baik di media cetak
maupun elektronik tentang keunggulan dari produk yang diahsilkan sehingga
mampu bersaing menghadapi MEA.
47
2. Pada indikator pendukung yang meliputi kemampuan inovasi dan teknologi serta
perhatian pemerintah masih juga masuk dalam kategori cukup atau sedang,
sehingga perlunya peningkatan yang baik melalui: pengusaan teknologi bagi pelaku
UMKM serta selalu mengikuti perkembangan produk maupun mengikuti pelatihan
pelatihan dalam penguasaan teknologi maupun kemampuan inovasi terhadap
produk yang dihasilkan. Keikutsertaan pemerintah sangat diharapkan untuk
keunggulan bersaing UMKM di Kabupaten Deli Serdang dalam menghadapi MEA.
48
DAFTAR PUSTAKA
Adi, M, Kwartono, 2007, Analisis Usaha Kecil dan Menengah, Andi, Yogyakarta
Aaker, D.A. (1995). Strategic Market Management, John Willey & Sons, Inc.
Alan Hankinson : “The key factors in the profiles of small firm owner managers that
influence business performance. The South Coast Small Firms Survey, 1997-
2000. “Industrial and Commercial Training, Vol 32 No 3-
Allison, Kaye, (2005). Perencanaan Strategis Bagi Organisasi Nirlaba,Yayasan Obor
Indonesia, Jakarta
Bank Indonesia (2009),Hasil Kajian Kredit Konsumsi Mikro, Kecil dan Menengah
Untuk Kegiatan Produktif, www. bi.org.id
Barker III, V. I. and I. M. Duhane (1997). “Strategic Change in the Turnarround
Procces: Theory and Empirical Evidence. Strategic Management Journal 18: pp.
13-138.
in Service Industries: A Conceptual Model and Research Propositions. “ Journal
of Marketing 57 (October) : pp. 83 – 100.
Dinda Estika Asmarani (2006) Analisis Pengaruh Perencanaan Strategi Terhadap
Kinerja Perusahaan Dalam Upaya Menciptakan Keunggulan Bersaing, Tesis
Program Studi Magister Manajemen UNDIP
Dimas Bayu Respati (2008) Membangun Strategi Bisnis Melalui Fasilitas Kredit Bank
Dan Lingkungan Usaha Dalam Meningkatkan Kinerja Perusahaan Tesis Program
Studi Magister Manajemen UNDIP
Grant, R. M. (1991). “The Resource-Based Theory of Competitive Advantage:
Implications for Strategy Formulation.” California management Review 33(3):
pp.114-135.
Different Multiple Stakeholder Orientation Profiles” Journal of Strategic
Marketing, September,pp:163-182
49
Mintzberg, H.(1994). “The Fall and Rise of Strategic Planning.” Harvard Business
Review. January-February :pp.107-114. Prentice Hall International
Pearce,J.A, Freeman,E.B, Robinson,R.B. (1987). “The Tenous Link Between Formal
Strategic Planning and Financial Performance “Academy of Management review
Vol 12: pp.658-675
Really Matter? “Management Decison Vol 38/8: pp.541- 549
Porter, M.E. 1980. ”Competitive Strategy - Techniques for Analysing Industries and
Competitors”. New York: NY: The Free Press.
Porter, M.E. 1985. ”Competitive Advantage: Creating and Sustaining Superior
Performance”, The Free Press
Riyadi, I.B.(2001).”Perijinan dan Sertifikat Industri Kecil dan Menengah. Juni
2001,Yogyakarta
Planning Uncertainty, and Performance In Small Firms “Journal of Small
Business Management” October 1989, pp.45-60.
Tambunan, T., 2009, Perkembangan Industri Skala Kecil Di Indonesia. Jakarta: PT.
Mutiara Sumber Widya.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008. Tentang Usaha Mikro,
Kecil dan Menengah
UMKM DALAM MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA)
FAKULTAS EKONOMI
Dengan Hormat,
Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) (Studi Kasus: Pada UMKM Di
Kabupaten Deli Serdang). Sebagai objek dari penelitian ini, kami memilih UMKM
yang Bapak/Ibu pimpin sebagai salah satu responden penelitian. Untuk mengumpulkan
data yang berkaitan dengan judul di atas kami mohon kesediaan Bapak/Ibu mengisi
dan menjawab daftar pertanyaan yang terlampir.
Untuk lebih meyakinkan Bapak/Ibu perlu ditegaskan bahwa penelitian ini semata-mata
hanya untuk tujuan pongembangan ilmu dan pemecahan masalah dalam dunia usaha.
Semua data dan informasi yang Bapak/Ibu berikan akan dijamin kerahasiaannya.
Atas kesediaan Bapak/Ibu, kami ucapkan terima kasih.
Medan , Mei 2015
Kasus: Pada UMKM Di Kabupaten Deli Serdang).
Untuk maksud tersebut, kami mohon Bapak/lbu sudi menjawab sejumlah pertanyaan
yang menunjukkan sikap dan pendirian Bapak/Ibu dalam memimpin perusahaan secara
jujur dan objektif. Jawaban Bapak/Ibu bersifat konfidensial (dirahasiakan) artinya kami
menjamin kerahasiaan akan jawaban tersebut.
Daftar pertanyaan di bawah ini terdiri dari dua tipe yaitu isian dan pilihan. Untuk tipe
isian mohon Bapak/Ibu mengisi pada tembat jawaban yang disediakan dengan singkat
dan jelas. Pada tipe pilihan mohon Bapak/1bu memberi tanda checklist (√) pada kolom
yang dianggap paling tepat.
Tingkat pendidiksn : SD/SLTP/SLTA/D3/S1/S2
Lamanya usaha :……………….thn
No Item Pernyataan 1 2 3 4 5 6 7
1 Bapak/ibu mempunyai sumber keuangan yang cukup
untuk memberikan investasi yang signifikan pada usaha
yang bapak/ibu lakukan
mendesain produk agar proses pembuatan produk
menjadi lebih efisien
tinggi dalam hal proses produksi produk yang dihasilkan
4 Bapak/Ibu mempunyai jalur distribusi/pemasaran yang
efisien
memproduksi produk cukup besar/tinggi
7 Produk yang Bapak/Ibu hasilkan/jual memiliki beragam
jenis
normal untuk mendapatkan keuntungan yang lebih
tinggi dari pesaing
riset pasar maupuk riset terhadap produk yang unggul
10 Bapak/Ibu mempunyai tim pengembang yang
berkemampuan tinggi dan mempunyai kreatifitas yang
tinggi.
baik dalam hal kualitas dan inovasi.
13 Adanya kemungkinan produk yang Bapak/Ibu produksi
dapat diimitasi/ditiru oleh pengusaha lain yang menjadi
kompetitor
sebenarnya diperuntukkan untuk umum menjadi suatu
segmen yang lebih kecil yang dapat mereka pahami
dengan baik.
menghasilkan produk untuk memenuhi permintaan
pasar
pendatang baru (pesaing) dengan skala besar dapat
mengganggu usaha Bapak/Ibu
ragam produk yang banyak
hasilkan/jual memiliki produk pengganti
No Item Pernyataan 1 2 3 4 5 6 7
19 Menurut Bapak/Ibu harga dari produk pengganti lebih
murah daripada harga produk yang Bapak/Ibu hasilkan
20 Menurut Bapak/Ibu produk pengganti yang dimiliki
pesaing mempunyai pangsa pasar yang lebih baik
21 Pembeli/konsumen memiliki informasi mengenai
produk yang Bapak/Ibu hasilkan
hanya didominasi oleh sedikit perusahaan
23 Produk dari pemasok sebagai bahan baku Bapak/Ibu
merupakan produk yang penting bagi Bapak/Ibu
24 Usaha yang Bapak/ibu miliki bukan merupakan
pelanggan yang penting bagi pemasok
25 Industri pemasok memiliki integritas yang baik dengan
usaha Bapak/ibu
sama dengan Bapak/Ibu
dan kuantitas
yang lamban
terhadap usaha yang Bapak/Ibu miliki melalui
pemberian fasilitas kredit
nasional
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………….................................
1 Nama Lengkap (dengan gelar) Julita, SE, M.Si
2 Jabatan Fungsional Lektor
4 NIP/NIK/Identitas lainnya 1271107007740005
8 Nomor Telepon/Faks/ HP -/-/ 081370242218
9 Alamat Kantor Jl. Kapt. Mukhtar Basri No. 3 Medan
10 Nomor Telepon/Faks (061) 6624567
11 Alamat e-mail [email protected]
12 Lulusan yang Telah Dihasilkan S-1= 255 orang; S-2= - Orang; S-3=-Orang
Mata Kuliah Yang Diampu 1. Manajemen Keuangan
2. Penganggaran Perusahaan
Bidang Ilmu Manajemen Ilmu Manajemen
Tahun Masuk-Lulus 1993 – 1997 2001 -2004
Judul Skripsi/
Pengaruh Kualitas Pelayanan
Terhadap Kepuasan Mahasiswa
No Tahun Judul Penelitian Pendanaan
Sumber Jumlah (Rp)
Yang Memanfaatkan Jasa Pengadaian di
Kota Medan
Ritel di Kota Medan
Supply Chain Pada Investasi Lingkungan
di Level Produsen ( Studi Kasus Pada
Perusahaan Food Industry di Kota
Medan)
DP2M
Dikti
(Ketua)
8.500.000
Terhadap Budaya Belanja Online
Entrepreneurship dan Independensi
Kota Medan)
No Tahun Kegiatan Sumber Jumlah (Rp)
1
2
3
4
2012
2012
2013
2014
I Medan Area
Serdang
Krio Kec.Sunggal Kab.Deli Serdang
Medan Krio Kec.Sunggal Kab.Deli
E. Pengalaman Penulisan Artikel Ilmiah Dalam Jurnal Dalam 5 Tahun
Terakhir
1 Analisis Karakteristik Sosial
Vol 8.No.2/September
Indonesia (BEI)
No Judul Buku Tahun Jumlah
Halaman
Penerbit
Tahun 2014
Media
Bandung
Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan dapat
dipertanggungjawabkan secara hukum.Apabila dikemudian hari ternyata dijumpai
ketidak sesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima resikonya. Demikianlah
biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam
pengajuan Penelitian Hibah Bersaing.
Medan, 20 Nopember 2015
1 Nama Lengkap (dengan gelar) Dewi Lina,SE,MM
2 Jabatan Fungsional Lektor Kepala
3 Jabatan Struktural Dosen DPK
4 NIP/NIK/Identitas lainnya 19560121986032001
6 Tempat dan Tanggal Lahir Tebing Tinggi, 29 Januari 1956
7 Alamat Rumah Jl.Bunga Asoka N0.105 Medan
8 Nomor Telepon/Faks/ HP -/-082174000928
9 Alamat Kantor Jl. Kapt. Mukhtar Basri No. 3 Medan
10 Nomor Telepon/Faks (061) 6624567
11 Alamat e-mail [email protected]
12 Lulusan yang Telah Dihasilkan S-1= 95 orang; S-2= - Orang; S-3=- Orang
Mata Kuliah Yang Diampu 1. Teori Akuntansi
2. Sistem Informasi Akuntansi
Nama Perguruan Tinggi Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara
Bidang Ilmu Akuntansi Magister Management
Tahun Masuk-Lulus 1977-1984 2006-2012
1. Prof.Dr.Ir Sukaria
No Tahun Judul Pendanaan
Budaya Organisasi Terhadap Kinerja
Variabel Moderating
Mandiri Rp.5.000.000
61
D. Pengalaman Penulisan Artikel Ilmiah Dalam Jurnal Dalam 5 Tahun Terakhir
No Judul Artikel Ilmiah Volume/Nomor/Tahun Nama Jurnal
1 Analisis Pengaruh
Kepemimpinan dan Budaya
Organisasi Terhadap Kinerja
Pegawai dengan Sistem
Reward Sebagai Variabel
ISSN 1693-7619
Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan dapat
dipertanggungjawabkan secara hukum.Apabila dikemudian hari ternyata dijumpai
ketidak sesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima resikonya.Demikianlah
biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam
pengajuan Penelitian Hibah Bersaing.
Medan, 20 Nopember 2015
MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA)
JULITA DAN EKA NURMALA SARI
Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
Jl. Kapten Mukhtar Basri No.3 Medan
Email: [email protected]
Penelitian ini bertujuan untuk mencari permasalahan yang sering menghambat
pengembangan UMKM di Kabupaten Deli Serdang dalam keunggulan bersaing
terutama dalam menghadapi MEA, untuk itu diperlukan adanya suatu strategi dalam
menciptakan keunggulan bersaing di era MEA. Banyak strategi dalam menciptakan
keunggulan bersaing dan salah satunya strategi generik Porter. Strategi ini memberikan
keberhasilan di perusahaan sehingga peneliti ingin mengadopsi strategi generik Porter
bagi UMKM khususnya di Kabupaten Deli Serdang.
Objek dalam penelitian ini adalah pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM)
yang ada di Kabupaten Deli Serdang. Teknik pengumpulan data menggunakan
kuesioner dan Wawancara/interview terstruktur dan teknik analisis data menggunakan
teknik analisis deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi porter melalui indikator five forces
porter yang meliputi persaingan antar perusahaan sejenis, ancaman pendatang baru,
ancaman produk pengganti, kekuatan tawar menawar pembeli dan kekuatan tawar
menawar pemasok masih termasuk dalam kategori cukup atau sedang, hal ini
menunjukkan terdapatnya kendala atau permasalahan yang dihadapi UMKM di
Kabupaten Deli Serdang. Disamping indikator five forces porter, penambahan
indikator pendukung berupa kemampuan inovasi dan teknologi serta perhatian
pemerintah juga masuk dalam kategori cukup atau sedang, hal ini menunjukkan bahwa
indikator pendukung juga masih menghadapi kendala atau permasalahan
Kata Kunci: Generic Porter, UMKM, MEA
ABSTRACT
This study aims to find out the problems that often hinder the development of
SMEs in Deli Serdang in competitive advantage, especially in the face of the MEA, it
is necessary for a strategy for creating a competitive advantage in the era of the MEA.
Many strategies to create competitive advantage and one generic strategy Porter. This
strategy gives success in the company so that the researcher wants to adoption Porter
generic strategies for SMEs, especially in Deli Serdang
63
The object of this research is the small and medium-sized businesses (SMEs) in
Deli Serdang. Data collection techniques using questionnaires and interviews /
structured interviews and data analysis techniques using descriptive analysis
techniques.
The results showed that the strategy porter through indicators five forces porter
which includes competition among similar companies, the threat of new entrants,
threat of substitute products, bargaining power of buyers and the bargaining power of
suppliers is still included in the category enough or moderate, indicating the presence
of obstacles or problems faced by SMEs in Deli Serdang. Besides the five forces porter
indicator, additional supporting indicators such as innovation and technological
capabilities as well as the government's attention is also included in the category
enough or moderate, indicating that the supporting indicators are still facing obstacles
or problems
1. PENDAHULUAN
Usaha Mikro, Kecil dan Menengah atau yang sering disebut dengan UMKM
tersebut turut aktif dalam kegiatan investasi guna mendorong sektor produktif.
Setidaknya terdapat tiga indikator yang menunjukkan peran penting UMKM dalam
perekonomian. Pertama, jumlah usahanya yang banyak dan ada dalam setiap sektor
ekonomi. Data BPS tahun 2008 mencatat bahwa jumlah UMKM mencapai 99,99% dari
total unit usaha di Indonesia. Kedua,UMKM mempunyai potensi besar dalam
penyerapan tenaga kerja. Sektor UMKM menyerap 97,3% dari total angkatan kerja
yang bekerja. Dari setiap rupiah investasi di UMKM dapat menciptakan lebih banyak
tenaga kerja dibandingkan dengan investasi yang sama di usaha besar. Ketiga, UMKM
memberikan kontribusi yang besar terhadap pendapatan nasional. UMKM mampu
menyumbang 53,6% dari total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, Bank
Indonesia (2009).
Dalam waktu satu tahun lagi kita akan memasuki babak baru dengan mitra
negara-negara tetangga, khususnya anggota Asean, yaitu mulai berlakunya Masyarakat
Ekonomi Asean (MEA) atau Asean Economic Community pada 31 Desember 2015.
Salah satu pilar utama MEA adalah aliran bebas barang, yaitu pada 2015 perdagangan
barang di kawasan Asean dilakukan secara bebas tanpa mengalami hambatan, baik tarif
maupun nontarif. MEA menerapkan skema Common Effective Preferential Tariff
(CEPT) yang sebelumnya sudah diterapkan saat Asean Free Trade Area (AFTA), yaitu
penurunan tarif dilakukan secara bertahap untuk jenis barang tertentu yang dilakukan
dalam rentang waktu yang telah disepakati bersama.
Keberadaan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 ini memberi tantangan
tersendiri bagi Indonesia, yaitu dalam hal : (1) indeks daya saing, hal ini karena Indeks
Daya Saing Global 2012-2013 Indonesia berada pada peringkat 50 dari 144 negara,
dibandingkan dengan negara-negara ASEAN, peringkat tersebut turun dari sebelumnya
peringkat 46 (2011-2012). Singapura menempati peringkat ke-2, Malaysia peringkat
64
ke-25, Thailand peringkat ke-38, Filipina peringkat ke-65, dan Vietnam peringkat ke-
75. Indeks daya saing Indonesia di tingkat global masih mengelompokkan Indonesia
dalam perekonomian berbasis efisiensi, di tengah ASEAN yang sudah berbasis inovasi
(Singapura), menuju inovasi (Malaysia), yang masih berbasis faktor produksi atau
sumber kekayaan alam (Filipina, Vietnam, Kamboja, Laos, Myanmar), (2) Indeks
inovasi global, hal ini karena posisi Indonesia termasuk rata-rata di antara sembilan
negara ASEAN lainnya. Berdasarkan kedua hal tersebut maka diperlukan kesiapan
UMKM Indonesia menghadapi MEA 2015 dan prospeknya terhadap ketahanan
nasional Indonesia.
Sumberdaya UKM menyampaikan apabila Indonesia tidak mendorong daya saing dan
nilai tambah atas barang/produk yang diproduksi, maka Indonesia dapat kehilangan
perannya di kawasan dan menjadi objek kemajuan pembangunan di kawasan tanpa
memperoleh keutungan yang maksimal. Oleh karena itu, program kebijakan penguatan
daya saing telah mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah, antara lain penguatan
UKM nasional. Hal tersebut penting untuk memfasilitasi UMKM nasional yang
berdaya saing tinggi, inovatif, dan kreatif, serta mampu melakukan perluasan pasar dari
Komunitas Ekonomi ASEAN.
Setiap organisasi tentu memiliki perencanaan, dan bagi lingkup perusahaan kita
mengenal istilah perencanaan stratejik, dimana perencanaan stratejik ini dapat
membantu kita mengevaluasi secara berkala untuk mencapai tujuan, membantu
perusahaan untuk maju dan berkembang, memperbesar pangsa pasar di tengah
persaingan usaha yang semakin tajam (Allison &Kaye, 2005). Salah satu kunci
keberhasilan dari perencanaan stratejik adalah pada pemilihan pasar dan penentuan
bagaimana berkompetisi di tengah persaingan yang ada (Hooley,Moller &
Broderick,1998). Letak dari persaingan adalah diferensiasi produk dan jasa dalam
pasar yang terpilih bagi para pesaing mereka. Mengacu pada ide Porter (1980)
mengenai keunggulan bersaing dapat dicapai melalui bermacam strategi salah satunya
dengan strategi bisnis baik itu cost leadership, differentiation maupun focus.
Penelitian mengenai pengembangan model strategi generik Porter sudah
banyak dilakukan antara lain: Dimas Bayu Respati (2008) yang meneliti tentang
hubungan antara dinamisme lingkungan dan struktur perusahaan kecil, strategi dan
kinerja, yang menyimpulkan bahwa dinamisme lingkungan mempengaruhi strategi
yang dipilih oleh perusahaan kecil dan memoderasi hubungan antara struktur
organisasi, strategic posture dan kinerja perusahaan. Sejalan dengan penelitian di atas,
Berry Albert, et al (2001) telah melakukan penelitian tentang dinamika UMKM di
Indonesia sebelum dan sesudah krisis, dan menemukan bahwa produktivitas UMKM
meningkat secara substansial pada level tidak jauh dengan perusahaan yang lebih besar,
disamping itu ditemukan pula bahwa UMKM lebih tahan menghadapi krisis daripada
perusahaan besar, selanjutnya dijelaskan bahwa UMKM mampu lebih cepat dan
fleksibel merespon persoalan yang secara tiba-tiba terjadi. Selanjutnya hasilp enelitian
dari Alan Hankinson (2000) yang menyatakann bahwa salah satu kunci sukses bisnis
perusahaan kecil/ UMKM adalah faktor internal perusahaan melalui strategi bisnis
perusahaan. Dinda Estika Asmarani (2006) dengan hasil penelitian bahwa keunggulan
65
bersaing akan tercipta bila kinerja perusahaan baik dimana kinerja perusahaan ini
dipengaruhi oleh perencanaan stratejik.
Penelitian ini akan dilakukan di Kabupaten Deli Serdang dengan alasan bahwa
Kabupaten Deli Serdang merupakan wilayah di Sumatera Utara yang memiliki luas
daerah, selain itu terdapat permasalahan yang sering menghambat pengembangan
UMKM di Kabupaten Deli Serdang adalah lemahnya faktor internal dan eksternal
usaha. meliputi kemampuan inovasi dan teknologi, ancaman pendatang baru, kekuatan
tawar menawar pemasok, persaingan antar pesaing dalam industry, kekuatan
penawaran pembeli, ancaman produk pengganti dan perhatian pemerintah Untuk itu
diperlukan suatu upaya dalam meningkatan pertumbuhan UMKM dengan
menggunakan strategi bersaing, terutama dalam menghadapi MEA.
2. TELAAH LITERATUR
2.1.Konsep Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)
Sebagian besar dari jumlah UMKM di Indonesia terdapat di perdesaan sehingga
diharapkan dapat menjadi penggerak pembangunan ekonomi perdesaan untuk
menanggulangi kemiskinan dan mengurangi kesenjangan pembangunan antara
perkotaan dan perdesaan. Selain itu, UMKM berperan penting dalam menyerap
kelebihan tenaga kerja di perdesaan karena be