hibah bersaing 2015 - UNUD

of 32/32
251 / Kedokteran Hewan USULAN PENELITIAN HIBAH BERSAING IMUNOTERAPI IgY ASAL KUNING TELUR UNTUK MENINGKATKAN PROFIL LEUKOSIT ANJING YANG TERINFEKSI CANINE PARVOVIRUS Dr. drh. I Gusti Ayu Agung Suartini, M.Si NIDN : 0017126904 Dr.drh.Ni Nyoman Werdi Susari, M.Si. NIDN : 0012117308 UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR - BALI APRIL 2015
  • date post

    16-Oct-2021
  • Category

    Documents

  • view

    1
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of hibah bersaing 2015 - UNUD

Microsoft Word - hibah bersaing 2015MENINGKATKAN PROFIL LEUKOSIT ANJING YANG
TERINFEKSI CANINE PARVOVIRUS
NIDN : 0017126904
NIDN : 0012117308
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR - BALI
APRIL 2015
Bab 4. Biaya dan Jadwal Penelitian …………………………………... 13
4.1. Anggaran Penelitian ………………………………………………. 13
4.2. Jadwal Penelitian ………………………………………………….. 14
Lampiran 2 Ketersediaan sarana dan prasarana penelitian ……………... 14
Lampiran 3 Susunan organisasi tim peneliti dan pembagian tugas ……. 14
Lampiran 4 Format Biodata Ketua dan Anggota peneliti …………….. 15
Lampiran 5 Surat Pernyataan ……………………………………… 29
RINGKASAN
Canine parvovirus (CPV) adalah penyakit virus yang sangat infeksius dan
fatal pada anjing. Infeksi CPV ditandai dengan demam, muntah, diare berdarah,
leukopenia dan limfopenia. Morbiditas dapat mencapai 100% dan kematian
mencapai 90% pada anak anjing yang tidak divaksinasi. Vaksinasi terbukti efektif
dan metode paling ideal untuk mengendalikan infeksi CPV. Namun adanya
maternal antibodi dan perbedaan strain virus dalam vaksin dengan virus yang
menginfeksi anjing di lapangan menyebabkan kegagalan vaksinasi. Hingga saat
ini belum ada terapi yang efektif untuk mengobati infeksi CPV pada anjing.
Beberapa penelitian membuktikan antibodi yang diisolasi dari kuning telur
ayam (IgY) efektif untuk pencegahan dan pengobatan penyakit infeksius pada
manusia dan hewan. IgY memiliki keunggulan tidak mengaktivasi sistem
komplemen pada mamalia, sehingga aman diaplikasikan secara intravena.
Pengobatan IgY secara intravena diduga dapat memutus rantai infeksi CPV di
darah. Netralisasi IgY mencegah virus merusak organ limfoid dan saluran
pencernaan sehingga kematian anjing dapat dicegah. Adanya berbagai keunggulan
dan kemudahan produksi IgY dari kuning telur ayam dapat menjadi modalitas
baru untuk terapi infeksi CPV pada anjing.
Pada anjing sehat jumlah dan morfologi leukosit relatif stabil. Perubahan
jumlah dan morfologi leukosit memberikan informasi klinis tentang adanya suatu
penyakit. Perubahan nilai leukosit berguna untuk menentukan respon dan
keberhasilan suatu pengobatan dan menduga kesembuhan hewan. Penelitian ini
bertujuan untuk isolasi, pemurnian dan karakterisasi IgY anti CPV,
membuktikan efektivitas terapi IgY mencegah kematian anjing berdasarkan
indikator perbaikan profil leukosit anjing dan isolasi virus parvo lokal Bali untuk
uji tantang sehingga didapatkan isolat baru yang patogen. Isolat ini nantinya
dapat digunakan sebagai bibit vaksin yang homolog dengan virus yang
menginfeksi anjing di lapangan. Imunoterapi IgY secara intravena dilakukan pada
kelompok anjing setelah ditantang dengan CPV patogenik secara oral. Penelitian
Tahun I: produksi IgY di ayam dengan cara imunisasi ayam menggunakan CPV
referent, pemurnian IgY dengan eggs stract purification kit, karakterisasi IgY
dengan SDS-PAGE dan spesifisitas IgY diuji dengan HI dan serum netralisasi
(SN). Penentuan protective dose 50 (PD50) IgY di tissue culture. Penelitian
Tahun II: isolasi, propagasi virus parvo lokal Bali di tissue culture, karakterisasi
virus dengan uji HI dan serum netralisasi. Penentuan dosis virus untuk uji tantang
dengan uji HA dan tissue culture dan uji tantang virus secara invivo di anjing.
Parameter yang diamati : differensial leukosit dihitung dengan pewarnaan
Giemsa, titer antibodi IgY dalam serum dengan uji HI dan Elisa dan titer virus
dalam feses anjing dengan uji HA. Hasil penelitian diharapkan dapat
membuktikan perbaikan profil leukosit dapat dijadikan indikator efektivitas terapi
IgY sehingga dokter hewan dapat menduga kesembuhan anjing, diperoleh virus
parvo isolat lokal sebagai kandidat vaksin. Hasil penelitian ini sangat bermakna
di dunia kedokteran hewan karena akan mengurangi biaya dan waktu perawatan
anjing yang sangat mahal. Isolat lokal yang dihasilkan sangat tepat digunakan
sebagai bibit vaksin yang sesuai dengan virus yang menginfeksi anjing di
lapangan. Target hasil penelitian yaitu: Data efektivitas terapi IgY dan isolate
lokal Bali dapat dipublikasi di jurnal nasional dan internasional dan dihasilkan
satu buku ajar yang dapat digunakan oleh mahasiswa dan dokter hewan.
iii
Infeksi Canine parvovirus (CPV) adalah penyakit infeksius yang sangat
fatal pada anjing. Penyakit ini ditemukan di seluruh dunia karena virus parvo
dapat bertahan dalam kondisi lingkungan yang ekstrem dan resisten terhadap
berbagai desinfektan (Goddard dan Leisewitz 2010). Secara alami CPV dapat
menginfeksi anjing domestik, anjing hutan, kucing, beruang dan serigala (Nandi et
al. 2010). Gejala klinis infeksi CPV pada anjing adalah demam, muntah, diare
berdarah, dehidrasi, leukopenia dan limfopenia (Decaro et al. 2006). Penyakit
CPV sangat merugikan pemilik dan breeder anjing. Mortalitas pada anak anjing
umur 6 minggu sampai 6 bulan mencapai 100% (Godsall et al. 2010). Vaksinasi
pada anak anjing telah dilakukan untuk mencegah infeksi CPV. Namun adanya
maternal antibodi di dalam tubuh anjing mengganggu respon pembentukan
antibodi sehingga terjadi kegagalan vaksinasi (Prittie 2004). Ketika titer antibodi
maternal turun, anak anjing sangat peka terhadap infeksi CPV. Kegagalan
vaksinasi menyebabkan anjing mengalami infeksi subklinis. Anjing yang
terinfeksi CPV secara subklinis mengekskresikan virus infektif melalui fesesnya,
sedangkan anjing tersebut tidak menunjukkan gejala klinis sakit. Hal inilah yang
menyebabkan penyakit parvovirus pada anjing bersifat endemis di Indonesia
(Sendow & Syafriati 2004).
Penularan CPV pada anjing terjadi melalui mulut dan hidung (Prittie
.2004). Lingkungan yang terkontaminasi dapat menularkan virus parvo pada
anjing baik secara langsung dan tidak langsung. Virus parvo yang tertelan mula-
mula terkonsentrasi di jaringan limfoid orofaring, limfonodus mesenterika dan
timus. Virus melakukan replikasi, selanjutnya dikeluarkan ke pembuluh darah
sehingga terjadi viremia. Virus disebarkan ke jaringan limfoid, timus dan
limfonodus di seluruh tubuh. Infeksi CPV pada anjing bersifat sistemik karena
distribusi virus melalui viremia dan virus dapat diisolasi hampir di semua organ
tubuh seperti paru-paru, limpa, hati, ginjal dan jantung (Duffy et al. 2010).
Anjing yang terinfeksi CPV mengalami neutropenia dan limfopenia akibat
kerusakan pada sel-sel kripte epitel usus halus, sel punca di sumsum tulang dan
timus (Ling et al. 2012). Sel-sel kripte epitel mengalami pematangan di daerah
basal epitel usus halus. Selanjutnya sel kripte yang matang menuju ujung-ujung
vili usus dan melakukan fungsinya untuk absorbsi nutrisi. Infeksi CPV akan
merusak sel-sel kripte usus di bagian basal sehingga tidak berfungsi dan anjing
mengalami diare. Kerusakan epitel usus menjadi penyebab ditariknya netrofil
yang ada di peredaran darah menuju jaringan yang mengalami peradangan.
Infeksi CPV pada organ timus terjadi meluas di daerah germinal dan kortek. Pada
daerah kortek timus akan terjadi limfositolisis yang cepat. Ketidakseimbangan
antara produksi netrofil dan limfosit dengan kebutuhan tubuh untuk melawan
infeksi virus menyebabkan anjing mengalami neutropenia dan limfopenia.
Tingginya laju mitosis sel-sel limfoid dan epitel saluran pencernaan
berperan memperparah gejala klinis akibat infeksi CPV. Laju mitosis sel limfoid
yang tinggi berhubungan langsung dengan kecepatan replikasi virus dan
keparahan kerusakan organ (Ling et al. 2012). Durasi neutropenia dan limfopenia
yang lama akan meningkatkan resiko kematian anjing akibat sepsis (Duffy et al.
2010). Pengobatan yang cepat dan tepat untuk memperpendek waktu neutropenia
sangat dibutuhkan untuk mencegah kematian anjing. Pada anjing sehat jumlah
dan morfologi leukosit relatif stabil. Perubahan respon leukosit memberikan
informasi klinis adanya suatu penyakit. Perubahan nilai leukosit tidak menjadi ciri
khas suatu penyakit, tetapi dapat digunakan untuk diagnosa pembanding berbagai
penyakit, menentukan respon dan keberhasilan suatu pengobatan dan menduga
prognosis suatu penyakit (Goddard dan Leisewitz 2010).
Beberapa penelitian membuktikan bahwa IgY efektif untuk pencegahan
dan pengobatan penyakit infeksius pada manusia dan hewan. IgY memiliki
keunggulan tidak mengaktivasi sistem komplemen pada mamalia, sehingga aman
jika diaplikasikan secara intravena. Biaya produksi IgY dari kuning telur murah
dan mudah (Dubie et al. 2014). Imunoglobulin Y memiliki spesifisitas yang
tinggi terhadap antigen dan terbukti efektif digunakan secara intravena
(Meenatchisundaram dan Michael 2010). Pengobatan IgY secara intravena
diduga dapat memutus rantai infeksi CPV di darah. Netralisasi IgY akan menekan
kesempatan virus merusak organ limfoid dan saluran pencernaan sehingga
kematian anjing dapat dicegah.
Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa perbaikan
profil leukosit, titer antibodi dalam serum dan titer antigen di feses dapat
digunakan sebagai indikator efektivitas terapi IgY dalam mencegah kematian
anjing akibat infeksi CPV. Dapat diisolasi virus parvo isolate local yang nantinya
dapat digunakan sebagai kandidat vaksin yang homolog dengan isolate lapang.
PENTINGNYA/KEUTAMAAN RENCANA PENELITIAN INI
Hingga saat ini belum ada terapi yang efektif dapat menyembuhkan anjing
dari infeksi canine parvovirus. Terapi yang biasa dilakukan hanya untuk
menekan gejala klinis tetapi tidak dapat mencegah kematian anjing. Biaya terapi
yang dikeluarkan pemilik anjing sangat mahal sehingga pemilik hewan cenderung
membiarkan anjingnya mati daripada mengobati. Hal ini dirasa sangat merugikan
ketika harga anjing yang dimiliki mencapai jutaan rupiah.
Provinsi Bali memiliki plasma nutfah yang sangat berharga yaitu anjing
kintamani. Dari informasi dokter hewan di daerah Sukawana, populasi anjing
kintamani menurun drastis akibat penyakit rabies dan pemusnahan massal.
Dinformasikan pula bahwa anjing kintamani banyak yang terinfeksi canine
parvovirus sehingga sangat perlu dilakukan pencegahan dan terapi anjing ,baik
melaui vaksinasi dan terapi. Anjing kintamani sebagai plasma nutfah Bali yang
sudah diakui sebagai anjing trah asli Asia dan hanya ada di Bali sangat perlu
dijaga kesehatan dan kelestariannya.
Keutamaan penelitian ini adalah terapi infeksi CPV dengan IgY secara
intravena memberi peluang sembuh pada anjing. Efektivitas terapi dapat
diketahui melalui indikator perbaikan profil leukosit darah anjing, titer antibodi
dan titer virus di feses. Isolat virus lokal yang berhasil diisolasi dapat digunakan
sebagai bibit virus dalam vaksin sehingga homolog dengan virus parvo yang
menginfeksi anjing di lapangan.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
pengembangan ilmu kedokteran manusia dan hewan. Terapi sering tidak
berkhasiat akibat kuman yang resisten, ketiadaan obat yang efektif untuk sebagian
besar penyakit virus, atau akibat patogenesis agen yang berkembang dengan
sangat cepat dan menginfeksi organ vital (Dubie et al. 2014).
Imunisasi pasif buatan dengan pemberian antibodi untuk pencegahan dan
pengobatan penyakit infeksius telah dilakukan sejak jaman dahulu (Carlander et
al. 2000). Pengobatan dengan antibodi pasif disebut juga serum terapi karena
antibodi yang digunakan berasal dari serum manusia atau hewan yang sudah
dikebalkan (Baxter 2007). Produksi antibodi pasif memerlukan biaya yang sangat
mahal karena memerlukan donor yang banyak dan proses isolasi yang sulit
(Goddard et al. 2006). Kendala produksi dan biaya menyebabkan pemanfaatan
antibodi sangat terbatas. Pengobatan dengan antibodi pasif mulai ditinggalkan
sejak ditemukannya antibiotik. Namun penggunaan antibiotik yang tidak
terkendali menyebabkan sebagian besar kuman menjadi resisten, sehingga
pengobatan menjadi tidak efektif (Carlander et al. 2000).
Antibodi pasif kembali menjadi pilihan untuk pengobatan infeksi virus,
gangguan inflamasi dan tumor (Michael et al. 2010). Pengobatan dengan antibodi
menjadi pilihan karena memiliki spesifisitas yang tinggi pada agen target, dapat
digunakan dalam dosis tinggi dan tidak bersifat toksik (Casadevall 1999).
Masalah utama dalam imunoterapi adalah serum sickness dan hilangnya daya-
guna pada pemberian berulang dalam waktu yang lama. Walau demikian, potensi
antibodi sebagai bahan biologik yang efektifitasnya tidak tergantikan oleh bahan
kimia apapun, perlu dimanfaatkan dengan menemukan bahan atau cara yang dapat
menekan dampak jangka panjang. Ketersediaan antibodi pasif sangat dibutuhkan
untuk pencegahan dan pengobatan berbagai penyakit.
Imunoglobulin yang berasal dari bangsa burung, yang dikenal sebagai IgY
(Grindstaff et al. 2003) tampaknya berpotensi untuk menekan biaya produksi dan
dampak samping sebagai agen imunoterapi yang berkhasiat dan aman. Secara
alami, immunoglobulin dari serum induk ayam ditransfer pada kuning telur
sebagai bentuk kekebalan pasif alami untuk anak ayam setelah menetas (Kovac et
al. 2005). Karenanya, IgY khas terhadap agen yang diinginkan dan mudah
diperoleh dengan imunisasi induk ayam (Carlander et al. 2002).
Penggunaan IgY untuk imunoterapi juga bukan hal baru. IgY ayam
terbukti efektif untuk pencegahan dan pengobatan berbagai penyakit (Kovacs et
al. 2005). Antibodi ini efektif mencegah infeksi saluran pencernaan yang
disebabkan oleh E. coli, caries gigi yang disebabkan oleh Streptococcus mutans
,inaktivasi urease dari Helicobacter pylori (Al-Adwani et al. 2013) dan infeksi
canine parvovirus pada anjing. (Nguyen et al. 2006). Secara in vitro, IgY anti
canine parvovirus terbukti efektif mencegah terjadinya cythopathic effect pada
sel lestari feline kidney (Suartini et al.2015).
IgY memiliki keunggulan dibandingkan IgG yaitu tidak mengaktivasi
sistem komplemen pada mamalia (Carlander 2002) sehingga memungkinkan
aplikasinya secara intravena. Pada mencit IgY terbukti tidak menimbulkan reaksi
anafilaktik dan serum sikness ketika diaplikasikan secara intravena mencegah
terjadinya (Menaatchisundaram 2010).
Tropisme CPV adalah pada jaringan yang sel-selnya sedang aktif
membelah seperti epitel kripta usus halus, limfoid orofaring, limfoglandula
mesenterika dan sumsum tulang belakang (Meunier et al. 1985). Replikasi virus
yang terjadi di seluruh jaringan limfoid dan saluran pencernaan menyebabkan
lonjakan jumlah virus yang diekskresikan melalui feses. Anjing akan mengalami
imunosupresif dan diare berdarah akibat kerusakan se-sel limfoid dan epithel
saluran pencernaan.
Secara klinis infeksi CPV ditandai dengan leukopenia dan limfopenia
(Prittie et al. 2004). Infeksi CPV pada jaringan limfoid dan sumsum tulang
menyebabkan cadangan leukosit dan limfosit berkurang. Kerusakan epitel usus
halus menyebabkan migrasi netrofil di sumsum tulang dan darah menuju tempat
terjadinya infeksi. Ketidakseimbangan jumlah netrofil yang dihasilkan di sumsum
tulang dan migrasi netrofil menuju jaringan yang terinfeksi menyebabkan
neutropenia.
mengalami limfopenia dan netropenia pada 1-4 hari setelah infeksi. Panlekopenia
dapat terjadi akibat invasi virus pada jaringan limfoid dan hematopoietik. Derajat
panlekopaenia terjadi bertingkat dan mencapai puncaknya ketika gejala klinis
paling parah. Netropenia terjadi akibat ditariknya netrofil menuju daerah infeksi
di saluran pencernaan. Pada infeksi parvovirus lekopenia terjadi pada hari 5-8
pasca infeksi.
Anjing yang terinfeksi CPV memiliki total sel darah putih di bawah 2.0 x
10 9 /l (normalnya: 6.0-15.0 x 10
9 /l). Total sel darah putih antara 0.5-0.2 x 10
9 /l
terutama terjadi pada puncak infeksi. Leukopenia yang terjadi pada infeksi CPV
sebanding dengan keparahan gejala klinis yang ditimbulkannya. Mekanisme
terjadinya neutropenia pada infeksi CPV sebagai berikut: (1) invasi virus pada sel-
sel hematopoietik dan pusat proliferasi netrofil di sumsum tulang memicu
terjadinya neutropenia 5-8 hari pasca infeksi. (2) turunnya jumlah cadangan
netrofil di sumsum tulang akibat jaringan yang mengalami radang membutuhkan
banyak netrofil. Hal ini sering dijumpai pada kasus septikemia dan infeksi bakteri
saluran pencernaan. (3) perpindahan netrofil dari sirkulasi menuju ujung-ujung
pembuluh darah sebagai respon adanya endotoksemia dan migrasi netrofil ke
jaringan. (4) granulopoiesis yang tidak efektif akibat meningkatnya fagositosis
netrofil oleh makrofag di sumsum tulang. Pengobatan pendukung pada infeksi
CPV akan meningkatkan jumlah leukosit pada hari 1-6 pasca infeksi ditandai
peningkatan jumlah leukosit yang drastis (Goddard dan Leisewitz 2006).
Jumlah dan morfologi leukosit pada individu sehat relatif stabil.
Perubahannya yang drastis pada individu sakit dapat digunakan untuk diagnosa
secara klinis. Walaupun respon leukosit pada individu sakit bukan penciri utama
suatu penyakit namun perubahan keseimbangannya dapat memberikan informasi
klinis, sebagai diagnosa banding dan untuk mengetahui respon indivudu terhadap
suatu pengobatan (Goddard dan Leisewitz 2006).
BAB III. METODE PENELITIAN
tahapan penelitian yang runut dengan memberikan penekanan-penekanan khusus
pada setiap tahapan penelitian (Tabel 1).
Tabel 1. Tahapan penelitian pada Tahun I
No Tahapan
Mendapatkan antigen yang
imunogenik dan antigenic
dengan titer tinggi
2 Produksi IgY
parvovirus dosis 2 13
Mendapatkan IgY dalam
terbentuk spesifik terhadan canine
dan AGPT
haemaglutinasi inhibisi dan uji ELISA
Diketahui kemampuan
dengan parvovirus intramuskuler dan
Produksi IgY secara massal
1 Isolasi virus parvo isolat lokal, propagasi
dan identifikasi virus
identifikasi dengan uji HA/HI
tinggi untuk uji tantang.
ekor anjing
anti CPV
feses
antigen
darah anjing
leukosit
profil leukosit setelah terapi
Penelitian akan dilakukan di Laboratorium Bioteknologi Balai Besar
Veteriner Denpasar, Bali. Hewan dipelihara di kandang hewan coba Balai Besar
Veteriner Denpasar, Bali. Uji Serum Netralisasi, HA/HI dan isolasi virus di
laboratorium Virologi Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor. Pembuatan
preparat ulas darah dilakukan di Balai Besar Veteriner Denpasar, Bali dan
penghitungan profil leukosit dan limfosit dilakukan di Laboratorium Fisiologi
FKH-IPB Bogor.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: sepuluh ekor ayam
petelur galur Isabrown umur 20 minggu, antigen parvovirus diperoleh dari
Bbalitvet-Bogor, complete dan incomplete Freund’ s adjuvant. Virus berasal dari
isolat lapang yang diinaktivasi dengan formaldehid. Isolat parvovirus
diperbanyak dalam kultur sel FK, diberi medium Dulbecco’ s
Modified Eagle
Medium (DMEM) yang mengandung 2% Foetal Bovine Serum (FBS). Bahan
kimia untuk isolasi, karakterisasi kuning telur, Kit Egg Stract (Promega) untuk
pemurnian antibodi. Bahan untuk elektroforesis SDS-PAGE. Bahan kimia untuk
AGPT. Bahan untuk uji HA/HI dan bahan untuk uji serum netralisasi.
Peralatan
dialysis, kertas saring, seperangkat glasswares, tabung reaksi serta raknya, tabung
erlemeyer dan corong gelas.
Penelitian tahun pertama diutamakan untuk produksi, isolasi dan karakterisasi
IgY spesifik terhadap canine parvovirus. Uji spesifisitas IgY dilakukan untuk
memastikan bahwa antibodi yang berhasil diisolasi adalah benar spesifik terhadap
canine parvovirus.
Metode Penelitian
dengan virus parvo dosis 2 13
HA unit/ml serta adjuvant complete secara intra
muskular pada otot pektoral. Pada minggu ke-2 dan ke-4 dilakukan imunisasi
ulang menggunakan virus dan dosis yang sama dan adjuvant incomplete. Serum
diambil setiap minggu kemudian digabung. Penentuan titer IgY dalam serum dan
aktivitas hambatan hemaglutinasi diukur dengan metode HI standar. Jika titer
antibodi dalam serum sudah cukup tinggi, selanjutnya dilakukan koleksi telur.
Panen telur dimulai 4 minggu setelah vaksinasi dan dikoleksi selama 6 bulan.
Deteksi titer IgY murni dalam kuning telur dilakukan dengan metode Agarose Gel
Precipitation Test (AGPT). Pemurnian IgY kuning telur ayam dilakukan
menggunakan kit EGG Stract Purification System (Promega). Pola pita protein
IgY diidentifikasi dengan elektroforesis SDS-PAGE. Konsentrasi IgY ditentukan
dengan spektrofotometer Nanodrop ND-1000 dengan absorbansi panjang
gelombang 280 nm. Penentuan titer virus parvo (TCID50) dilakukan dengan
membiakkan virus parvo pengenceran 10 -1
sampai 10 -8
HA unit di dalam biakan
sel FK yang memiliki konsentrasi 2 x 10 5 /ml. Biakan tersebut diinkubasi pada
suhu 37ºC dengan tekanan CO2 5% selanjutnya diamati 5-7 hari. Hasil tersebut
digunakan sebagai dasar penentuan dosis uji tantang. Kemampuan IgY anti CPV
dalam menetralisasi virus parvo (PD50) diuji menggunakan teknik Serum
Netralisasi prosedur beta (Swayne dan Suarez 1998).
Parameter yang Diamati
Parameter yang diamati adalah konsentrasi IgY anti CPV dalam serum dan
kuning telur ayam, titer virus parvo yang dapat menginfeksi sel feline kidney
sebanyak 50% (TCID50) dan pengenceran tertinggi IgY anti CPV yang mampu
menetralisasi virus sebanyak 50% (PD50).
Rancangan Percobaan dan Analisa Data
Analisa data penelitian ini dilakukan secara deskriptif dan disajikan dalam
bentuk grafik, tabel dan gambar.
Rencana penelitian tahun II (2017)
Penelitian tahun kedua diutamakan untuk isolasi virus parvo isolat lokal
(Bali) agar diperoleh virus yang sangat pathogen sehingga memudahkan dalam
membedakan gejala klinis antara anjing sakit dan yang sembuh, mengetahui
efektivitas terapi IgY berdasarkan perbaikan profil leukosit dan titer antibodi di
serum dan titer virus di feses
Metode penelitian
Hewan Percobaan
Hewan yang digunakan adalah 16 ekor anak anjing umur antara 3-5 bulan
Anjing dipisahkan menjadi empat kelompok, masing-masing terdiri dari empat
ekor anjing. Anjing ditempatkan pada kandang terpisah, di ruangan yang
terisolasi. Kelompok 1 (kelompok sehat) adalah kontrol negatif yaitu anjing yang
tidak diberi perlakuan, kelompok 2 (kelompok sakit) adalah kontrol positif yaitu
anjing yang dicekok virus parvo dosis 100 TCID50 sebanyak 1ml, kelompok 3
(kelompok sembuh) adalah anjing yang dicekok virus parvo 100 TCID50 dan di
terapi IgY anti-CPV dosis 10000 PD50 dan kelompok 4 (kelompok plasebo)
adalah anjing yang disuntik IgY anti CPV dosis 10.000 PD50.
Bahan dan Alat
Pada penelitian ini digunakan bahan dan alat untuk pembuatan preparat
ulas darah yaitu sampel darah yang akan diperiksa, alkohol 70%, objek glass,
metil alkohol absolut, pewarna Giemsa 10%, aquades dan timer.
Virus untuk Uji Tantang
Sampel
Sampel feses diambil dari anjing yang sakit dengan gejala klinis diare
berdarah digunakan dalam penelitian ini. Sampel juga diambil dari kerokan
mukosa usus anjing yang mati akibat infeksi CPV. Sampel diperoleh dari
Rumah sakit hewan FKH UNUD. Sampel tersebut disimpan dalam media
pemelihara yang mengandung Dulbecco Minimum Earle’sMedia (DMEM).
Uji Serologi
Sampel serum dari anjing yang diambil fesesnya diuji menggunakan uji
Hemaglutinasi Inhibisi (HI) terhadap virus parvo, untuk mengetahui ada atau
tidaknya antibodi pada serum yang diperoleh. Referens virus dan antibodi
diperoleh dari Balitvet-Bogor. Uji serologi yang digunakan dalam penelitian ini
berdasarkan metode Sendow dan Syafriati (2004).
Isolasi Virus
dilakukan dengan membuat 20% suspense organ dalam PBS steril, selanjutnya
dicair-bekukan sebanyak tiga kali, lalu disentrifus dengan kecepatan 1000 x g
selama 10 menit. Supernatan difilter menggunakan milipore filter ukuran 450 nm,
sebelum diinokulasikan pada biakan jaringan Feline kidney (FK) yang telah
membentuk 50% jaringan selapis, dalam media pemelihara yang terdiri dari
DMEM berantibiotik dan 1% Foetal Bovine Serum. Biakan jaringan tersebut
diinkubasikan pada suhu 37°C selama enam hari dan diamati setiap hari ada
tidaknya Cythopathic effect (CPE). Apabila CPE tampak maka suspense tersebut
mengandung isolate virus. Apabila CPE tidak tampak, pasase buta dilakukan
sebanyak tiga kali sebelum inoculum tersebut dinyatakan negative mengandung
isolate virus. Inokulum yang akan dipasase lebih lanjut, dibeku-cairkan sebanyak
tiga kali, kemudian disentrifus dengan kecepatan 1000 x g. Supernatan yang
diperoleh digunakan sebagai inoculum untuk pasase selanjutnya.
Propagasi isolate virus pada biakan jaringan Feline kidney (FK)
Isolat yang diperoleh diperbanyak dalam biakan jaringan FK yang
ditumbuhkan pada Tissue culture flask. Apabila biakan jaringan FK telah
membentuk 50% jaringan selapis, media dibuang secara aseptis dan ditambah 300
µl isolate yang telah mengalami beku-cair sebanyak tiga kali dan dibiarkan dalam
incubator selama satu jam sebelum ditambahkan media DMEM berantibiotik dan
1 % Foetal bovine serum (FBS). Sel tersebut diamati selama lima hari. Apabila
terlihat CPE, maka sel dan cairan dipanen untuk diidentifikasi lebih lanjut.
Identifikasi isolate virus
Isolat yang telah diperbanyak dalam biakan jaringan FK dicair-bekukan
sebanyak tiga kali, lalu disentrifus dengan kecepatan 1000 x g selama 15 menit.
Supernatan digunakan dalam uji HA untuk mengetahui ada tidaknya daya
aglutinasi virus terhadap sel darah merah babi. Aglutinasi menunjukkan bahwa
isolate virus tersebut mempunyai daya aglutinasi dan dilanjutkan dengan
identifikasi isolate dengan menggunakan uji HI terhadap referens antisera CPV.
Metode dan Rancangan Penelitian
Enambelas ekor anjing dibagi menjadi empat kelompok percobaan. Masing-
masing kelompok terdiri dari empat ekor anjing (Gambar 1). Pengobatan
dilakukan saat anjing sudah menunjukkan gejala klinis infeksi CPV. Feses
dikoleksi menggunakan cotton swabs steril, dilakukan setiap hari sampai akhir
observasi. Sebelum dan selama perlakuan dilakukan pengambilan sampel darah
dan feses untuk deteksi titer antibodi dan antigen di feses anjing. Gejala klinis
tidak mau makan, demam, muntah, diare dan diare berdarah diamati mulai hari
pertama perlakuan. Temperatur tubuh anjing diukur melalui suhu rektal. Masing-
masing kelompok anjing diambil darahnya untuk dibuat preparat ulas darah.
Darah diambil mulai hari pertama sampai hari ketujuh penelitian. Darah
digunakan untuk preparat ulas darah, dengan tujuan untuk mengetahui persentase
leukosit. Pewarnaan preparat ulas darah dilakukan dengan larutan pewarna
Giemsa 10% dan nilai differensial leukosit dinyatakan dalam persen (Sodikoff CH
1995).
Efek pengobatan terhadap titer IgY anti-CPV dalam serum dan ekskresi
virus di feses dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA). Jika ada
pengaruh perlakuan dilanjutkan dengan uji Duncan dengan selang kepercayaan
95% (α=0.05). Analisa profil leukosit digunakan rancangan acak lengkap (RAL)
dengan empat perlakuan yaitu grup anjing sehat, sakit, sembuh dan plasebo.
Masing-masing perlakuan terdiri dari enam ulangan. Data dianalisis dengan
Analysis of Variance (ANOVA), dilanjutkan dengan Uji Duncan dengan selang
kepercayaan 95% (α=0.05). Analisis keseluruhan menggunakan perangkat lunak
SAS 9.1 for Microsoft Windows (Mattjik dan Sumertajaya 2006).
Parameter yang Diamati
Parameter yang diamati adalah gejala klinis, titer antibodi (IgY) di serum,
dan titer ekskresi virus di feses anjing. Prosentase monosit, limfosit, neutrofil
segmen, neutrofil batang, neutrofil total dan eosinofil dari masing-masing
kelompok perlakuan yang menunjukkan klinis sehat, sakit, sembuh dan plasebo.
Bagan alur penelitian tahun II
BAB IV. BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN
ANGGARAN PENELITIAN
Pelaksana (Honor dan Upah) 15.200.000,- 15.200.000,- 30.400.000,-
Peralatan dan Bahan Habis Pakai
29.100.000,- 20.630.000,- 49.730.000,-
Pengeluaran lain-lain
Total Anggaran 61.800.000,- 50.270.000,- 112.070.000,-
16 ekor anjing dibagi menjadi 4 group masing 4 ekor anjing
Group 1 Kontrol
1. Protektivitas IgY ditentukan berdasarkan kesembuhan anjing dan titer antibody di serum
2. Efektivitas IgY dalam menekan ekskresi virus di feses (titer virus di feses)
3. Profil leukosit dan limfosit anjing sembuh setelah diterapi IgY
Group 2 Kontrol
Positif (cekok CPV
Penelitian Tahun I
No Uraian Kegiatan Bulan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1. Persiapan di laboratorium
2. Persiapan pengadaan antigen
4. Isolasi, Pemurnian IgY,
karakterisasi dan penentuan dosis
yang steril
Penelitian Tahun II
No Uraian Kegiatan bulan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
1 Persiapan kandang ,pakan
dan hewan coba (anjing)
4 Analisis Laboratorium
5 Entry Data
DAFTAR PUSTAKA
Al-Adwani SR, Crespo R, Shah DH (2013). Production and evaluation of chicken
egg-yolk-derived antibodies against Campylobacter jejuni colonization-
ssociatedproteins. Foodborne Pathogens Dis., 10: 624-631
Baxter, D. (2007).Active and passive immunity, vaccine types, excipents and
licensing. Occup. Med. (Lond). 57:552-556.
Carlander V. 2002. Avian IgY Antibodi: in vitro and in vivo. Fakulty of Medicine
ACTA Universitatis Upsaliensis, UPPSALA. Swedia. Pp. 53.
Decaro N, Martella V, Desario C, Bellaciccio AL, Camero M, Manna L, d’Alojo
D, Buonavaglia C. 2006. First detection of canine parvovirus type 2c in
pups with haemorrhagic enteritis in Spain. J. Vet. Med 53:468-472.
Dubie Teshager, Seid Yimer, Mulie Adugna ,Tesfaye Sisa. (2014). Advanced
Research Journal of Biochemistry and Biotechnology: Vol. 1(3): pp 018-
030
Duffy A, Dow S, Ogilvie G, Rao S, Hackett T . 2010. Hematologic improvement
in dogs with parvovirus infection treated with recombinant canine
granulocyte-colony stimulating factor. J. vet. Pharmacol. Therap. 33: 352–
356
Goddard A, Leisewitz AL, Christopher MM, Duncan NM, Becker PL. 2006.
Prognostic usefulness of blood leukocyte changes in canine parvoviral
enteritis . J. Vet. Intern. Med. 22:309-316.
Goddard A, Leisewitz AL. 2010. Canine parvovirus. Vet. Clin. North Am. Small
Anim. Pract. 40: 1041-1053.
Godsall SA, Cleqq SR, Stavisky JH, Radford AD, Pinchbeck G. 2010.
Epidemiology of canine parvovirus and coronavirus in dogs presented
with severe diarrhoea to PDSA Pet Aid hospital. Vet. Rec. 7: (6) 196-201.
Grindstaff JL, Brodie III, ED, Ellen DK (2003). Immune function across
generations: Integrating mechanism and evolutionary process in maternal
antibody transmission. Proc. Biol. Sci.,270:2309–2319.
Ling, M. Jacqueline M. Norris, Mark Kelman, Michael P. Ward. (2012). Risk
factor for death from canine parvoviral- related disease in Australia.
Veterinary Microbiology. 158: 280-290.
Mattjik AA, Sumertajaya IM. 2006. Perancangan Percobaan dengan Aplikasi SAS
dan MINITAB. Ed ke-3. Bogor. IPB Press.
Meenatchisundaram S, Michael A. 2010. Comparison of four different
purification methods for isolation of anti Echis carinatis antivenom
antibodies from immunized chicken egg yolk. Iranian J. Biotechnol. 8(1):
50-55.
Michael A, Meenatchisudaram S, Parameswari G, Subbraj T, Selvaku R,
amalingam S (2010). Chicken egg yolk antibodies (IgY) as an alternative
to mammalian antibodies. Indian J. Sci. Technol., 3: 468-474.
Nguyen VS, Umeda K, Yokoyama H, Tohya Y, Kodama Y. 2006. Passive
protection of dogs against clinical disease due to canine parvovirus-2 by
specific antibody from chicken egg yolk. Canadian journal of veterinary
research 70: 62.
Prittie J. 2004. Canine parvoviral enteritis: A review of diagnosis. Management,
and prevention. Journal of Veterinary Emergency and Critical Care
14(3):167-176.
Sendow I, Syafriati T. 2004. Seroepidemiologi infeksi canine parvovirus pada
anjing. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner.
Sodikoff CH. 1995. Laboratory Profiles of Small Animal Disease. A Guide to
Laboratory to Laboratory Diagnosis. Ed 2. USA: Mosby.
Lampiran 1
RINCIAN ANGGARAN
1.1 Gaji Peneliti
Sub total 15.200.000,
No. Uraian Volume Biaya Satuan (Rp) Biaya (Rp.)
1. Ayam Isa Brown 10 ekor 100.000,- 1.000.000,-
2. pakan ayam 5 zak 250.000,- 1.250.000,-
3. Kandang ayam dan
4. Adjuvant complete dan
5. Spuite disposible syring 3 box 150.000,- 450.000,-
6. Kapas, alcohol, cotton bud 1 set 300.000,- 300.000,-
7. Kertas saring 100 lembar 3000,- 300.000,-
8. Botol sampel 150 buah 3000,- 450.000,-
9. Tabung ependorf 4 box 300.000,- 1.200.000,-
10 Kit EGGstract Purification 1 paket 8.000.000,- 8.000.000,-
11 ELISA Kit 1 Paket 3.000.000,- 3.000.000,-
12. Tissue culture flask 1 Box 1.500.000,- 1.500.000,-
13. Plate HA/HI 1 Box 750.000,- 750.000,-
14. Media DMEM 2 box 1.000.000,- 2.000.000,-
15. Foetal Calf Serum 0,5 botol 5.000.000 2.500.000.-
16. Agarosa serva 1 Botol 2.000.000,- 2.000.000,-
17. Millipore Sartorius 1 Box 1000.000,- 1.000.000,-
18. Fintips 200 ul 2 Box 350.000,- 700.000,-
19. Fintips 1000 ul 2 Box 450.000,- 900.000,-
Sub total 29.100.000,-
2. Pengolahan data dan
3. Penggandaan laporan Penggandaan laporan 500.000,-
4. Publikasi ilmiah Publikasi ilmiah 1.000.000,-
5 Seminar Nasional Biaya Seminar 3.000.000,-
Sub total 7.500.000,-
2. JUSTIFIKASI ANGGARANA TAHUN II
2.1 Gaji Peneliti
Sub total 15.200.000,-
No. Uraian Volume Biaya Satuan (Rp) Biaya (Rp.)
1. Hewan coba anjing 16 ekor 200.000,- 3.200.000,-
2. Pakan anjing 5 zak 350.000,- 1.750.000,-
3. Kandang anjing dan
4. Spuite disposable syring 2 box 150.000,- 300.000,-
5. Kapas, alcohol, cotton bud 1 set 380.000,- 380.000,-
6. NaCl fisiologis(infus) 2 dus 200.000,- 400.000,-
7. Botol sampel 150 buah 3000,- 450.000,-
8. Tabung ependorf 3 box 300,000,- 900,000,-
9 Methanol absolut 1 Botol 500.000,- 500.000,-
10. Biakan sel lestari feline
kidney 2 flask 500.000,- 1.000.000,-
11. Serum referent positif
12. Viral adjusting diluent 2 Botol 750.000,- 1.500.000,-
13. Sarung tangan 4 Boks 50.000,- 200.000,-
14. Kaolin 25% 1 botol 600.000,- 600.000,-
15. Giemsa 4 Botol 150.000,- 600.000,-
16. Objek glass 5 Boks 50.000,- 250.000,-
17. Fintips 200 ul 2 Boks 350.000,- 700.000,-
18. Fintips 1000 ul 2 Boks 450.000,- 900.000,-
Sub total 20.630.000,-
1. Total Protein Serum 32 sampel 35.000,- 1.120.000.-
2. Differensial leukosit 32 sampel 10.000.- 320.000,-
Sub total 1.440.000,-
2. Pengolahan data dan
3. Penggandaan laporan Penggandaan laporan 500.000,-
4. Publikasi ilmiah
(61.800.000 + 50.270.000) = Rp 112.070.000,-
Peralatan utama :
Refrigerator -20 0 C Lab. Biomedik
FKH-Unud
BBvet-Bali
Lab. Biomedik
No Nama / NIDN Instansi asal Bidang
Ilmu
Alokasi
waktu
(jam/ming
gu)
BBvet-Bali
Bioteknolo
gi
BIODATA KETUA PENELITI
A IDENTITAS DIRI
MSi. (P)
1.5 Alamat Rumah : Cemara Giri Graha Blok VIII/53,
Dalung, Kuta Utara, Badung
1.8 Alamat Kantor : Laboratorium Biokimia, FKH
Universitas Udayana, Kampus Unud
S-3 = - orang
Biokimia Veteriner 2 (S1)
2.2 Nama PT Unud IPB IPB
2.3 Bidang Ilmu Kedokteran
Khasiat obat
2.6 Judul Skripsi /
Urutkan judul penelitian yang pernah dilakukan(sebagai ketua) selama 5
tahun terakhir dimulai dari penelitian yang paling diunggulkan menurut
Saudara sampai penelitian yang tidak diunggulkan.
No
infeksi canine parvovirus pada anjing
Ketua/ hibah
anti CPV dan Uji Aktivitas Netralisasi
secara Invitro
Ketua/Mandiri 5.000.000,-
Ketua/mandiri 5.000.000,-
Hibah Pekerti, Hibah Pascasarjana, RAPID, atau sumber lainnya.
D. PENGALAMAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Urutkan judul pengabdian kepada masyarakat yang pernah
dilakukan(sebagai ketua) selama 5 tahun terakhir dimulai dari yang paling
diunggulkan menurut Saudara sampai pengabdian kepada masyarakat yang
tidak diunggulkan.
Masyarakat
Pendanaan
Sibermas, atau sumber lainnya.
(tidak termasuk makalah seminar/proceedings, artikel di surat kabar)
Urutkan judul artikel ilmiah yang pernah diterbitkan selama 5 tahun terakhir
dimulai dari artikel yang paling diunggulkan menurut Saudara sampai
penelitian yang tidak diunggulkan.
Nomor Nama Jurnal
Chicken Immunoglobulin Has a
Curative Effect in Experimental
Infection of Canine Parvovirus
therapy Canine parvovirus infection
in dogs (Review artikel)
tubuh anjing
NASIONAL.
- - - - - -
G. PENGALAMAN PENULISAN BUKU
Urutkan judul buku yang pernah diterbitkan selama 5 tahun terakhir dimulai
dari buku yang paling diunggulkan menurut Saudara sampai buku yang
tidak diunggulkan.
- - - - -
Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan
dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata
dijumpai ketidak-sesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima risikonya.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah
satu persyaratan dalam pengajuan Hibah Penelitian Skim: Hibah Unggulan
Program Studi
NIP. 196912171999032001
BIODATA ANGGOTA PENELITI
A. Identitas Diri
1. Nama Lengkap (dengan gelar) Dr.drh. Ni Nym. Werdi Susari, M.Si P
2. Pangkat/Golongan Penata/IIIc
3. Jabatan Lektor
5. NIDN 0012117308
7. Alamat Rumah Jl. Ir.Ida Bagus Oka No 15, Dps
8. Nomor Telepon/Faks /HP 0361-226345/081337505673
9. Alamat Kantor Jl. PB Sudirman Denpasar
10. Nomor Telepon/Faks 0361-223791
11. Alamat e-mail [email protected]
13. Mata Kuliah yg diampu Anatomi Veteriner I
Anatomi Veteriner II
Bidang Ilmu Kedokteran Hewan Bioteknologi pertanian Ilmu Kedokteran
Tahun Masuk 1992 1999 2009
Tahun Lulus 1998 2001 2013
Judul
Skripsi/Thesis
/Disertasi
Puja, M,Kes
Junitha, MS
(Bukan Skripsi, Tesis, maupun Disertasi)
No Tahu
based on DNA Microsatellite markers
(Global Veterinaria 9 (1): 113-116,
2012).
No Tahun Judul Pengabdian Kepada
Masyarakat
Pendanaan
Monyet Ekor panjang di Uluwatu, Desa
Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan,
H di Kota Denpasar
E. Pengalaman Penulisan Artikel Ilmiah dalam Jurnal dalam 5 Tahun
Terakhir
Jurnal
based on DNA Microsatellite markers.
Vol. 9 (1) : 113-
Seminar Ilmiah dalam 5 Tahun Terakhir
No Nama Pertemuan ilmiah/
Seminar Judul Artikel Ilmiah
No. Judul Buku Tahun Jumlah halaman Penerbit
1.
2.
3
H. Penghargaan yang Pernah Diraih dalam 10 tahun Terakhir (dari
pemerintah, asosiasi atau institusi lainnya)
No. Jenis penghargaan Institusi pemberi penghargaan Tahun
1.
2.
3
NIP 19731112 200112 2 001
SURAT PERNYAATAAN
1. Nama Lengkap : Dr.drh.I Gst Ayu Agung Suartini, M.Si
NIP/NIDN : 1969121719990320010 / 0017126904
Fakultas/P.S. : Kedokteran Hewan
Penelitian Hibah Bersaing tahun anggaran 2016 bersifat original dan belum
pernah dibiayai oleh lembaga/sumber dana lain. Bilamana dikemudian hari
ditemukan ketidaksesuaian dengan pernyataan ini, maka saya bersedia dituntut
dan diproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan mengembalikan
seluruh biaya penelitian yang sudah diterima ke kas Negara.
Demikian surat pernyataan ini dibuat dengan sesungguhnya dan dengan
sebenar-benarnya.
Mengetahui Yang menyatakan
Kepala lembaga Penelitian
Prof.Dr.Ir. I Nyoman Gde Antara,M.Eng. Dr.drh.I Gst Ayu Agung Suartini, M.Si
NIP. 196408071992031002 NIP. 1969121719990320010