JURNAL ILMIAH ISSN 1693-7562 -...

of 119/119
JURNAL ILMIAH ISSN 1693-7562 PENGURUS VOL. 12, NO. 1, JANUARI 2015 Penanggung Jawab Zainuddin Ketua Penyunting Safrilsyah Sekretaris Penyunting Mulyadi Abd Anggota Penyunting Hisyami bin Yazid Damanhuri Basyir Agusni Yahya Taslim H.M.Yasin Abd. Wahid Samsul Bahri Muhammad Zaini Lukman Hakim Muslem Djuned Finansial Nuraini Sirkulasi Zulihafnani Muhammad Iqbal Diterbitkan Oleh: SEAR FIQH, Banda Aceh Alamat Redaksi: Kantor SEAR FIQH Jl. Tgk. Chik Pantekulu No. 13 Dusun Utara, Kopelma Darussalam, Kota Banda Aceh, 23111, telp. 08126950111 Email: [email protected], Website: al-muashirah.com Media Kajian Al-Qur’an dan Al-Hadits Multi Perspektif
  • date post

    19-Mar-2019
  • Category

    Documents

  • view

    247
  • download

    3

Embed Size (px)

Transcript of JURNAL ILMIAH ISSN 1693-7562 -...

JURNAL ILMIAH ISSN 1693-7562

TERBIT 2 KALI SETAHUN PADA BULAN JANUARI DAN JULI

PENGURUS

VOL. 12, NO. 1, JANUARI 2015

Penanggung JawabZainuddin

Ketua PenyuntingSafrilsyah

Sekretaris PenyuntingMulyadi Abd

Anggota PenyuntingHisyami bin YazidDamanhuri Basyir

Agusni YahyaTaslim H.M.Yasin

Abd. WahidSamsul Bahri

Muhammad ZainiLukman HakimMuslem Djuned

FinansialNuraini

SirkulasiZulihafnani

Muhammad Iqbal

Diterbitkan Oleh: SEAR FIQH, Banda AcehAlamat Redaksi:

Kantor SEAR FIQH Jl. Tgk. Chik Pantekulu No. 13 Dusun Utara, Kopelma Darussalam,Kota Banda Aceh, 23111, telp. 08126950111

Email: [email protected], Website: al-muashirah.com

Media Kajian Al-Quran dan Al-Hadits Multi Perspektif

Al-Muashirah Vol. 12, No. 1, Januari 2015 (i)

Issn 1693-7562

Vol. 12, Nomor 1, Januari 2015

Daftar Isi

Daftar Isi, I

Burhanuddin Banta Cut: Pemikiran An-Naim Seputar Kehujjahan Hadis Ahad >> 1

Hamdiah : : 12,

Soufyan Ibrahim : Pencatatan Hadits Di Masa Hidup Nabi Saw >> 21

Nasaiy Aziz : Diam Gadis Sebagai Indikasi Persetujuan Nikah: SuatuKajian terhadap Pemahaman Ulama Hadis secara Tekstualdan Kontekstual >> 27

Nuraini dan Zulihafnani: Klarifikasi Buku Suara Khatib Baiturrahman Edisi 8Tahun 2012 >>41

Nurdinah Muhammad : Konsep Al-Quran Sebagai Modal Membangun InteraksiSosial Yang Harmonis dalam Pluralisme Agama DiIndonesia >> 57

Suhaimi : Pandangan Imam Zarkasyi terhadap Majaz dalam Al-Quran(Kajian Analisis Terhadap Kitab Al-Burhan Fi `Ulum Al-Quran) >> 73

Arfah Ibrahim : Aqiqah Dalam Perspektif Hadis Nabi Saw >> 88

A. Shamad : Memahami Hadis-Hadis Tentang Tanda-Tanda DatangnyaHari Kiamat >> 104

Pedoman Penulisan>> 116

Al-Muashirah Vol. 12, No. 1, januari 2015 1

PEMIKIRAN AN-NAIM SEPUTAR KEHUJJAHAN HADIS AHAD

Burhanuddin Banta CutFakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry

Kopelma Darussalam Kota Banda Aceh

ABSTRAKSebagian besar ulama hadits menyerukan kepada orang yang menolak

Hadts Ahd agar mengalihkan perhatian mereka kepada hadits, baik untukmengumpulkan, menelusuri jalur-jalurnya, mengenali kondisi para periwayat danbiografi mereka, serta menjadikan hal itu sebagai tumpuan tuntutan dan akhirtujuan mereka. Bila hal ini diakukan, maka ketika itu mereka akan mengetahuibahwa Hadts Ahd tersebut dapat memberikan informasi ilmu kepada kita.Sedangkan bila kita menanggapinya tanpa keseriusan, maka sudah tentu ia tidakakan memberikan informasi ilmu kepada kita. Abdullah Ahmad An-Na'imterkenal sebagai salah satu ulama modern, yang menolak hadis Ahad. Pada sisiyang lain, para ulama jumhur sebenarnya menerima hadis Ahad sebagai pedomanyang sifat dhanni dalalah, tidak qat'iy dalalah. Bagaiman argumen An-Naimberpendapat seperti itu? Tulisan ini mencoba mengupas dengan membandingkanpendapat tersebut dengan pendapat ulama modern lain.

Kata Kunci: Ahmed Abdullah An-Nai'm, Hadis Ahad, Dhanni Dalalah

PENDAHULUANPembahasan seputar Hadts Ahd sudah menjadi polemik sepanjang masa.

Selama para pengikut masing-masing pihak yang berpolemik masih ada, makaselama itu pula perdebatan seputar hal itu tetap berlangsung, kecuali sampai batasyang dikehendaki oleh Allah. Sekalipun demikian, yang menjadi tolok ukur suatukebenaran adalah sejauh mana keberpegangan kepada al-Qur'an dan as-Sunnahmelalui argumentasi-argumentasi yang kuat, valid dan meyakinkan.

Ada golongan yang berkeyakinan bahwa Hadits Ahd bukan hujjah bagi'aqidah. Karena menurut mereka, Hadits Ahd itu bukan Qath'iy ats-Tsubt(keberadaan/sumbernya pasti), maka mereka menganggap hadits tersebut tidakdapat memberikan informasi pasti (yang bersifat keilmuan dan yaqin).

An-Naim merupakan tokoh kontroversial dengan bukunya denganberbagai ide sekulernya. Di antara buku terbarunya yang cukup menyentakkanperhatian berbagai kalangan berjudul Islam dan Negara Sekuler. Melaluibukunya, An-Naim menafikan apa yang disebut Negara Islam dan pelaksanaanSyariat Islam dan ia cenderung berpendirian bahwa Islam tidak menghendakiadanya Negara berdasarkan agama. Menurutnya urusan Negara merupakanpersoalan duniawi yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan akhirat(agama). Tulisan ini ingin mengkaji sejauh mana An-Naim berpedoman kepadahadits dan bagaimana pendiriannya tentang otoritas hadits, dan khususnya otoritashadits ahad.

Burhanuddin Banta Cut : Pemikiran An-Na'im seputar Kehujjahan Hadis Ahad2

KEHUJJAHAN HADITS AHADHadits Ahd1 menurut Muhadditsin (para ahli hadits) dan Jumhur

(mayoritas) ulama muslimin, wajib diamalkan apabila memenuhi syaratkeshahihan dan diterimanya hadits itu.2 Dalam hal ini, terdapat 3 pendapatseputar masalah apakah Hadts Ahd dapat memberikan informasi yang pasti(bersifat keilmuan dan yaqin)?Pendapat Pertama:

Hadts Ahd dapat memberikan informasi yang pasti (bersifat keilmuandan yaqin) secara mutlak/total. Ini adalah pendapat yang dinisbahkan (dilekatkan)kepada Imam as-Sunnah, Imam Ahmad dan Madzhab Ahl azh-Zhhir (Zhiyyah),namun penisbahan ini ditolak oleh sebahagian besar ulama hadits.

Imam Ahmad dikenal sebagai Ahli al-Jarh wa at-Ta'dl (ulama kritikusHadits) dan tidak dapat dihitung berapa banyak bantahan beliau terhadap hadits-hadits yang diriwayatkan para periwayat kategori lemah. Hal ini cukup sebagaibantahan terhadap apa yang dituduhkan kepada dirinya itu.Sedangkan Ibn Hazm, sebagai salah seorang Ahl azh-Zhhir mengaitkanberfungsinya Hadts Ahd sebagai pemberi informasi ilmu (hal yang yaqin danpasti) dengan 'adlah (keadilan) sang perawi hadits.

Argumen yang dikemukakan oleh ulama yang menolak pendapat pertamadi atas antara lain menyebutkan bahwa pendapat tersebut cenderung tidak dapatditerima akal, sebab dalam penelusuran para ulama rijal hadits, ternyata tidaksemua mereka memiliki reputasi yang dapat dipertanggung jawabkan tentangkejujuran mereka, di samping itu tdak sedikit juga yang dinilai sebagai orang-orang yang dianggap lalai dan sering mengalami kealpaan. Karena itu,penerimaan yang mutlak terhadap hadits ahad tidak dapat dipertahankan dandapat merusak ajaran Islam ketika terdapat hadits yang tidak mencukupi syaratsebagai hadits yang maqbul.

Pendapat Kedua:Hadts Ahd tidak dapat memberikan informasi yang pasti (bersifat

keilmuan dan yaqin) secara mutlak/total. Ini adalah pendapat sebagian AhliKalam (Mutakallimin) dan Ulama Ushul Fiqh (Ushuliyyun) sekalipun sebagiandari ulama Ushul ini seperti al-Juwainiy dan Abu Manshur al-Baghdadiy telahmenyebutkan di dalam sebagian kitab mereka pendapat yang justeru sepakatdengan pendapat ketiga nanti. Demikian juga, penisbahan pendapat ini kepadamayoritas Ahli Fiqih dan Ahli Hadits perlu dikritisi dan diberikan catatan terlebihdahulu.

Karena itu, sebagian besar ulama hadits menyerukan kepada orang yangmenolak Hadts Ahd tersebut agar mengalihkan perhatian mereka kepada hadits,baik untuk mengumpulkan, menelusuri jalur-jalurnya, mengenali kondisi paraperiwayat dan biografi mereka, serta menjadikan hal itu sebagai tumpuan tuntutandan akhir tujuan mereka. Bila hal ini diakukan, maka ketika itu mereka akan_____________

1 Hadits Ahad atau disebut juga khabar al-wahid adalah hadits yang periwayatannya tidakmencapai jumlah banyak orang, hingga tidak mencapai mutawtir (yaitu kebalikannya). HaditsAhad yang diriwayatkan oleh satu orang pada setiap jenjangnya maka dinamakan hadits gharb.Bila diriwayatkan oleh dua orang pada setiap jenjangnya disebut dengan Hadits 'Azz. SedangkanHadits Ahd yang diriwayatkan oleh jama'ah (banyak orang) namun tidak mencapai derajatmutawatir disebut Hadits Masyhr. Jadi, Hadits Ahd itu hadits yang tidak sampai pada syarat-syarat mutawatir.

2 Buletin an-Nur, tahun VI, No. 247/Jum'at I/Jumadal ula 1421 H.

Al-Muashirah Vol. 12, No. 1, januari 2015 3

mengetahui bahwa Hadts Ahd tersebut dapat memberikan informasi ilmukepada kita. Sedangkan bila kita menanggapinya tanpa keseriusan, maka sudahtentu ia tidak akan memberikan informasi ilmu kepada kita.Pendapat Ketiga:

Hadts ahd memberikan informasi yang pasti (bersifat keilmuan danyaqin) secara bersyarat. Pendapat ini merupakan pendapat yang didukung olehmayoritas ulama hadits. Karena itu, perlu ditegaskan kepada umat Islam bahwameyakini bahwa pendapat inilah lebih mendekati kebenaran. Khabar yangdimaksud di sini adalah Khabar (berita) yang dipertegas dengan Qar`in (dalil-dalil penguat), sementara Qarnah bisa jadi terkait dengan khabar itu sendiri; bisajadi terkait dengan Mukhbir (pembawa berita) dan bisa jadi terkait dengan kedua-duanya. Termasuk dalam hal ini, Khabar Mustafdl (berita yang demikian banyak,tak terhingga) yang pada awalnya hanya diriwayatkan oleh seorang, lalu menjadibanyak dan masyhur dan khabar yang sudah mendapatkan penerimaan dari umat(al-Khabar al-Mutalaqqa 'Indal Ummah bi al-Qabl), atau oleh sebagian ulamaterkait di bidangnya yang di antaranya ada diriwayatkan oleh asy-Syaikhn (ImamBukhariy dan Muslim) atau salah seorang dari keduanya, di antaranya juga adayang merupakan hadits Musalsal (bermata rantai) dengan para Imam yang Hfizhseperti Imam Malik dari Nafi' dari Ibn 'Umar. Khabar ini dan sejenisnya jelasmemberikan informasi ilmu menurut jumhur Ahli Hadits, Ahli Ushul, mayoritasAhli Kalam, semua Ulama Salaf dan para Ahli Fiqih umat. Dalam masalah ini,antara ulama Salaf tidak terdapat perselisihan pendapat.

Adapun dalil-dalil (argumentasi-argumentasi) bagi pendapat ketiga inibanyak sekali, di antaranya:

1. Ada ulama yang berpendapat bahwa membeda-bedakan antara HadtsAhd dan Hadits Mutawatir di dalam menginformasikan ilmu merupakanperistilahan (term) yang dibuat-buat, tidak didukung oleh dalil dariKitabullah, sunnah Rasul-Nya, tidak pernah dikenal oleh para shahabatataupun para Tabi'in. 3

Realitasnya, informasi yang disampaikan langsung oleh NabiMuhammad Saw. dibenarkan oleh kaum Mukminin (para shahabat) tanpamereka perlu mendapatkannya melalui pembawa-pembawa berita yangmutawatir (dalam jumlah banyak). Demikian pula sebaliknya, NabiMuhammad sendiri membenarkan berita/informasi yang disampaikan olehpara shahabatnya. Para shahabat, satu sama lainnya juga salingmembenarkan, demikian pula dengan para tabi'in, mereka membenarkanberita yang dibawa oleh para shahabat dan sejawat-sejawat mereka. Tidakada seorang pun dari mereka yang berkata terhadap orang yangmemberikan informasi kepada mereka dengan perkataan: "Khabar yangkamu bawa adalah Khabar Ahd, tidak memberikan informasi pasti (yangbersifat keilmuan dan yaqin) sehingga kemudian ia bisa menjadiMutawatir.

Masalah adanya di antara mereka, orang yang abstain (tawaqquf)terhadap suatu informasi hingga mendapatkan penegasan dari orang lain,tidak berarti sama sekali bahwa mereka semua menolak Khabar Ahd.

_____________3 http://www.alsofwah.or.id.

Burhanuddin Banta Cut : Pemikiran An-Na'im seputar Kehujjahan Hadis Ahad4

Hanya saja, memang dalam momen yang amat jarang, mereka sangatekstra hati-hati di dalam menerima informasi.

Oleh karena itu, dapat ditegaskan bahwa Khabar Ahd memberikaninformasi pasti (yang bersifat keilmuan dan yaqin) secara bersyarat. Sebab,pendapat yang menyatakan bahwa Khabar Ahd tidak memberikaninformasi ilmu secara mutlak justeru dapat memandegkan urusan agamadan dunia sekaligus. Upaya ini juga dapat dianggap sebagai bentukpembatalan yang terang-terangan terhadap ijma' para shahabat, Tabi'in danpara ulama setelah mereka.

2. Nabi Muhammad Saw. pernah mengirimkan para shahabatnya kepada pararaja dan penguasa untuk menyampaikan risalah Rabb-nya secara orangper-orang (Ahd). Andaikata khabar yang mereka bawa tidak memberikaninformasi pasti (yang bersifat keilmuan dan yaqin), tentu beliau tidak akanpernah mengirimkan mereka secara per-orangan seperti itu, sebab jelas halitu perbuatan sia-sia yang amat jauh dari kepribadian seorang pembawaRisalah yang seharusnya bersih dari melakukan kesia-siaan seperti itu.

3. Ketika ada seorang yang memberitakan kepada kaum Muslimin saatmereka sedang shalat shubuh (atau shalat lainnya) di Quba` bahwa kiblattelah dialihkan ke arah Ka'bah, mereka serta-merta menerima khabar yangdibawanya dan meninggalkan hujjah yang masih mereka pegang danbersifat pasti, lalu mereka memutar ke belakang mengarah ke Kiblatsebagai pemenuhan terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya yangdisampaikan kepada mereka sekalipun hanya melalui jalur satu orang.Kenyataannya, Rasulullah tidak mengingkari sikap mereka terhadap halitu, bahkan sebaliknya, berterimakasih atas tindakan mereka tersebut.

Berhujjah Dengan Hadits Ahad Di Dalam Masalah 'AqidahPara pemegang pendapat kedua diatas, yang menyatakan bahwa Hadts

Ahd tidak memberikan informasi pasti (yang bersifat keilmuan dan yaqin),melandasi pendapat mereka tersebut dengan kerangka berfikir: tidak bolehberhujjah dengannya di dalam masalah 'Aqidah karena masalah 'Aqidah bersifatYaqiniyyah yang hanya memerlukan sesuatu yang pasti (Qath'iy).Dalam hal ini, Kaum Mu'tazilah tidak menerima Hadts Ahd di dalam masalah'Aqidah kecuali bila sealur dengan Akal/logika, baru dapat dijadikan argumentasitetapi itupun hanya dalam rangka sebagai penegas/penguat bukan hujjah. Jikatidak demikian, maka khabar seperti itu ditolak dan dianggap bathil, kecuali bilamengandung interpretasi yang bukan dipaksa-paksakan.

Teori berfikir kaum Mu'tazilah ini diamini oleh kebanyakan kaum AhliKalam (Mutakallimin) dari tokoh Asy'irah (Madzhab Asy'ariyyah) seperti Abual-Ma'liy al-Juwainiy dan al-Fakhr ar-Rziy. Untuk membantah pendapat ini,cukup dengan menyatakan pernyataan sebelumnya bahwa Hadts Ahd yangdipertegas dengan Qar`in (dalil-dalil penguat) dapat memberikan informasi pasti(yang bersifat keilmuan dan yaqin) sebab alasan utama yang dijadikan peganganoleh mereka yang menolak tersebut hanyalah: Hadts Ahd tidak boleh dijadikanhujjah di dalam masalah-masalah 'Aqidah karena informasi yang diberikannyabersifat Zhanniy (tidak pasti) dan tidak dapat memberikan informasi ilmu.

Argumentasi-Argumentasi Pendapat Ketiga (Madzhab Salaf)

Al-Muashirah Vol. 12, No. 1, januari 2015 5

1. Membeda-bedakan antara masalah-masalah 'aqidah dan hukum di dalamberargumentasi dengan Hadts Ahd merupakan perbuatan bid'ah (mengada-ada)yang tidak pernah dilakukan oleh ulama-ulama terdahulu (Salaf). Bahkan biografidan karya-karya tulis mereka menunjukkan hal yang amat kontras sama sekalidengan hal itu. Para shahabat, Tabi'in, Tabi'ut Tabi'in dan Ahl al-Hadits dan as-Sunnah masih senantiasa berhujjah dengan khabar-khabar seperti itu di dalammenetapkan masalah Shifat Allah, Qadar, Asm`, Hukum-hukum, dan lainsebagainya.2. Adanya khabar-khabar (hadits-hadits) yang mutawatir dari Nabi Shallallhu'alaihi Wa Sallam tentang tindakan beliau mengirimkan para utusan dan Da'ibeliau ke pelbagai pelosok negeri, demikian juga kepada para raja, kisra, kaisardan selain mereka dalam rangka mendakwahi mereka kepada Allah. Sudah barangtentu, hal pertama yang disampaikan oleh mereka ketika itu adalah masalah'Aqidah.Diantara indikasinya adalah sabda beliau Shallallhu 'alaihi Wa Sallam kepadaMu'adz bin Jabal ketika hendak mengutusnya ke negeri Yaman:

: . - - ...""

Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari kalangan Ahli Kitab;maka hendaklah hal pertama yang engkau dakwahi/ajak mereka kepadanya(adalah) agar beribadah kepada Allah 'Azza Wa Jalla."Di dalam riwayat yang lain, "Maka, ajaklah mereka agar bersaksi bahwa TiadaIlah (Tuhan) -yang haq disembah- selain Allah."

4. Membeda-bedakan antara masalah 'Aqidah dan Hukum di dalamberargumentasi dengan Hadts Ahd pada dasarnya hanya berpijak padakerangka berfikir bahwa: amal perbuatan tidak ada kaitannya dengan'Aqidah dan 'Aqidah tidak ada kaitannya dengan hukum-hukum'amaliyyah (praktis). Kedua statement ini adalah Bathil dan termasukbid'ah (hal yang diada-adakan) oleh Ahli Kalam. Islam justeru membawahal yang amat kontras dengan itu semua; Tidak ada hukum yang bersifat'amaliy (praktis) kecuali ia selalu berkaitan dengan dasar-dasar 'aqidah,yaitu Iman kepada Allah; bahwa Dia telah mengutus Rasul-Nya agarmenyampaikan dari-Nya hukum ini; beriman akan kebenaran Rasul,amanahnya di dalam menyampaikan risalah kemudian beriman kepadakonsekuensi-konsekuensi dari hukum 'amaliy tersebut yang berupa pahalaatau dosa; kesenangan atau kesengsaraan. Hal ini sebagaimana firmanAllah Ta'ala:"Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihankepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah"Ayat diatas menunjukkan hukum 'amaliy, kemudian Allah Ta'alaberfirman :

"jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akherat" (Q.s., an-Nr :2)

Burhanuddin Banta Cut : Pemikiran An-Na'im seputar Kehujjahan Hadis Ahad6

Jadi, (dalam penutup ayat ini) Allah Ta'ala mengaitkan hukum 'amaliydengan 'aqidah beriman kepada Allah dan Hari Akhir.4

Sekilas Tentang pandangan Imam Asy-Syafi'iyImam asy-Syfi'iy dijuluki oleh kalangan Ahlu al-Hadts sebagai Nshir

as-Sunnah (pembela as-Sunnah). Ini tentu saja merupakan penghargaantertinggi terhadap sosoknya dan bukan hanya sekedar simbol belaka. Sikap,ucapan dan karya-karya tulisnya menjadi saksi untuk itu.Di masa hidupnya, timbul bermacam-macam aliran keagamaan yangmayoritasnya selalu menyerang as-Sunnah. Mereka dapat dibagi menjadi tigakelompok: Pertama, mengingkari as-Sunnah secara keseluruhan. Kedua, tidakmenerima as-Sunnah kecuali bila semakna dengan al-Qur'an. Ketiga,menerima as-Sunnah yang mutawatir saja dan tidak menerima selain itu aliasmenolak Hadits Ahd.

Ia menyikapi ketiga kelompok tersebut dengan tegas; kelompok pertamadan kedua tersebut secara terang-terangan ingin merontokkan as-Sunnah dantidak menganggapnya sebagai salah satu sumber utama hukum Islam yangbersifat independen sementara kelompok ketiga, tidak kurang dari itu.Terhadap kelompok pertama, ia menyatakan bahwa tindakan mereka tersebutamat berbahaya karena dengan begitu rukun Islam, seperti shalat, zakat, hajidan kewajiban-kewajiban lainnya menjadi tidak dapat dipahami bila hanyaberpijak kepada makna global dari al-Qur'an kecuali dari makna secaraetimologisnya saja. Demikian pula terhadap kelompok kedua, bahwaimplikasinya sama saja dengan kelompok pertama.

Sedangkan terhadap kelompok ketiga, ia membantah pendapat merekadengan argumentasi yang valid dan detail. Di antara bantahan tersebut adalahsebagai berikut:1. Di dalam mengajak kepada Islam, Nabi Muhammad mengirim para utusan

yang jumlahnya tidak mencapai angka mutawatir. Maka bila memangangka mutawatir tersebut urgen sekali, tentu Rasulullah tidak merasacukup dengan jumlah tersebut sebab pihak yang dituju oleh utusan tersebutjuga memiliki hak untuk menolak mereka dengan alasan tidak dapatmempercayai dan mengakui berita yang dibawa oleh mereka.

2. Bahwa di dalam peradilan perdata dan pidana yang terkait dengan harta,darah dan nyawa harus diperkuat oleh dua orang saksi padahal yangmenjadi landasannya adalah khabar (hadits) yang diriwayatkan olehjumlah yang tidak mencapai angka mutawatir alias Hadits Ahd tetapimeskipun demikian, asy-Syri' (Allah Ta'ala) tetap mewajibkan hal itu.

3. Nabi Saw. membolehkan orang yang mendengar darinya untukmenyampaikan apa yang mereka dengar tersebut meskipun hanya olehsatu orang saja. Nabi bersabda: "Mudah- mudahan Allah memperbaikiakhlaq dan derajat seseorang (seorang hamba) yang mendengar hadits darikami lantas menghafalnya hingga menyampaikannya; (sebab) betapabanyak orang yang membawa ilmu (hanya berilmu dan tidak lebihilmunya namun dia menghafal dan menyampaikannya) kepada orang yanglebih berilmu darinya dan betapa banyak orang yang membawa ilmu tetapi

_____________4 'Utsman 'Ali Hasan, Mashdir al-Istidll 'Ala Mas`il al-I'tiqd , Hal.42-48.

Al-Muashirah Vol. 12, No. 1, januari 2015 7

dia tidak berilmu (namun mendapatkan pahala menyampaikannya).(H.R.Abu Daud)

4. Para shahabat menyampaikan hadits-hadits Nabi secara individu-individudan tidak mensyaratkan harus diriwayatkan oleh orang yang banyak sekali.Demikianlah diantara bantahan beliau di dalam menegaskan wajibnya

menerima hadits Ahd.5

Fatwa Ulama KontemporerSyaikh Muhammad bin Shlih al-'Utsaimn ditanya tentang orang yang

menganggap hadits-hadits Ahd tidak dapat dijadikan landasan dalam masalah'aqidah menjawab:

"Tanggapan kami terhadap orang yang beranggapan bahwa hadits-haditsAhad tidak dapat menjadi landasan dalam masalah 'aqidah dengan alasan ia hanyamemberikan informasi secara zhann (tidak pasti) sedangkan masalah 'aqidah tidakdapat dilandasi oleh sesuatu yang bersifat zhann adalah bahwa pendapat semacamini tidak tepat sebab dilandaskan kepada sesuatu yang tidak tepat pula. Ini dapatdibuktikan dengan beberapa tinjauan:

1. Pendapat bahwa hadits Ahad hanya memberikan informasi secara zhanntidak dapat digeneralisir sebab ada banyak khabar/berita yang bersifatAhd (individuil) dapat memberikan informasi secara yakin, yaitu bila adaqar-in (dalil-dalil penguat) yang mendukung kebenarannya seperti iatelah diterima secara luas oleh umat. Contohnya, hadits yang diriwayatkanoleh 'Umar bin al-Khaththab radhiallaahu 'anhu: "Sesungguhnya semuapekerjaan itu tergantung kepada niat" .

Ini merupakan khabar Ahd, meskipun demikian kita tahu bahwaNabi Shallallhu 'alaihi wasallam -lah yang mengucapkannya. Statementseperti ini telah dianalisis oleh Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyyah, al-HfizhIbnu Hajar, dan lainya.

2. Bahwa Nabi Shallallhu 'alaihi wasallam mengirimkan individu-individu(orang per-orang) guna mengajarkan permasalahan 'aqidah yang prinsipil(Ushl al-'Aqdah), yakni dua kalimat syahadat (L ilha illallh ,Muhammad Raslullh) sedangkan pengiriman yang dilakukan oleh beliaumerupakan hujjah yang tidak dapat ditolak. Indikatornya, beliaumengirimkan Mu'adz bin Jabal ke negeri Yaman. Mu'adz menganggappengiriman dirinya sebagai hujjah yang tidak dapat ditolak oleh pendudukYaman dan harus diterima.

3. Bila kita mengatakan bahwa masalah 'aqidah tidak dapat dilandaskankepada khabar Ahd, maka berarti bisa dikatakan pula bahwa al-Ahkmal-'Amaliyyah (hukum-hukum yang terkait dengan perbuatan/aktivitas)tidak dapat juga dilandaskan kepada khabar Ahd sebab al-Ahkm al-'Amaliyyah selalu disertai oleh suatu 'aqidah bahwa Allah Ta'alamemerintahkan begini atau melarang begitu. Bila pendapat semacam ini(yang mengatakan bahwa al-Ahkm al-'Amaliyyah tidak dapat jugadilandaskan kepada khabar Ahd) diterima, tentu banyak sekali hukum-hukum syara' yang tidak berfungsi. konsekuensinya, bila pendapatsemacam ini harus ditolak, maka tentunya pendapat yang mengatakan

_____________5Penggalan dari materi Buletin an-Nur, dengan tema: Imam asy-Syafi'iy; pembelaannya

terhadap as-Sunnah)

Burhanuddin Banta Cut : Pemikiran An-Na'im seputar Kehujjahan Hadis Ahad8

bahwa masalah 'aqidah tidak dapat dilandaskan kepada khabar al-Ahdharus ditolak pula karena tidak ada bedanya.

4. Bahwa Allah Ta'ala memerintahkan orang yang jahil/tidak tahu agarmerujuk kepada pendapat Ahl al-'Ilm (ulama) terhadap salah satupermasalahan 'aqidah yang maha penting, yaitu tentang risalah. AllahTa'ala berfirman: "Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecualiorang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; makabertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidakmengetahui". (Q.,S. 16/an-Nahl: 43) dan hal ini mencakup pertanyaanyang diajukan oleh individu atau kelompok. 6

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bila ada qar-in yangmendukung kebenaran khabar al-Ahd/al-Whid, maka ia dapatmenginformasikan ilmu pasti (yang bersifat keilmuan dan yaqin) dan dapatdijadikan landasan dalam al-Ahkm al-'Amaliyyah dan 'Ilmiyyah. Sedangkanorang yang membedakan antara kedua hukum ini tidak memiliki dalil untukmembedakannya, bila dia menisbatkan pendapat ini kepada salah seorang imam(ulama mazhab yang empat, misalnya -red) tentang adanya pembedaan antarakeduanya, maka dia harus menguatkan statementnya itu dengan sanad (landasan)yang shahh dari imam tersebut, kemudian juga menjelaskan landasan yangdijadikannya sebagai dalil.

PANDANGAN AN-NAIM TENTANG HADITSAbdullahi Ahmed An-Naim adalah seorang pemikir asal Sudan yang kini

menetap di AS. Sebuah Buku yang kontroversi bertajuk Islam dan NegaraSekuler merupakan hasil penelitian selama lebih kurang tiga tahun (2004-2006)yang dilakukannya di beberapa negara Muslim termasuk Turki, Mesir, Sudan,Indonesia, Nigeria, dan lain-lain. Jika kita mencermati pemikiran Prof An Naimselama ini, sebenarnya tidak ada yang baru. Ia hanya ingin menegaskan kembaliapa yang pernah diungkapkannya dalam karyanya Towards an IslamicReformation (1990) yang intinya menolak intervensi negara dalam penerapansyariat Islam karena hal itu dinilainya bertentangan dengan sifat dan tujuan syariatitu sendiri yang hanya bisa dijalankan dengan sukarela oleh penganutnya.Menurut An Naim, syariah akan kehilangan otoritas dan nilai agamanya biladiterapkan melalui negara. Ia menekankan perlunya menjaga netralitas negaraterhadap agama dan pemisahan secara kelembagaan antara Islam dan negara, agarsyariah bisa berperan positif dan mencerahkan bagi kehidupan umat danmasyarakat Islam.7

Ia juga mengingkari institusi mufti yang dalam salah satu diskusidikecamnya sebagai very unIslamic (sangat tidak Islami). Bagi An Na'im, syariahadalah persoalan hubungan pribadi manusia dengan Tuhannya. Dalam kontekstersebut, murid Mahmud Muhammad Taha ini sepertinya berpijak pada pemikiranpostmodernis yang menolak segala bentuk otoritas.

_____________6Fahd bin Nshir bin Ibrhm al-Sulaimn (editor), Majm' Fatwa wa Rasil Fadllah

asy- Syaikh Muhammad bin Shlih al-'Utsaimn, (Riyadl: Dr at-Tsurayya, 1414 H/1994 M), Cet.II, hal. 31-32.

7 Abdullahi Ahmed An-Naim, Islam dan Negara Sekular: Menegosiasikan Masa DepanSyariah, terj. Sri Murniati, (Bandung: Mizan, 2007), hal. 18.

Al-Muashirah Vol. 12, No. 1, januari 2015 9

Na'im selanjutnya menegaskan relativitas syariah, karena ia merupakanproduk pikiran manusia terhadap Alquran dan Sunnah, dan oleh sebab itu ia tidakbisa terlepas dari pengaruh ruang dan waktu, konteks historis, sosial, dan politikpenafsirnya. Syariah dengan demikian tidak suci, apalagi kekal dan permanenyang bisa berlaku untuk semua waktu dan tempat. Di sini Na'im seolah-olahmengasumsikan bahwa setiap orang memiliki kemampuan mengakases,memahami, dan berinteraksi dengan Alquran dan Sunnah.

Na'im menawarkan kemungkinan penerapan syariah melalui jalurdemokrasi. Ia mengatakan bahwa untuk menjadikan hukum Islam sebagaiperaturan dan hukum publik, ia hendaklah mendapatkan approval dari apa yangdisebutnya sebagai public reason. Bagaimanapun, Naim dengan cepatmengikatnya dalam bingkai konstitusionalisme modern dan prinsip HAMinternasional.

Sepintas konsep Naim ini seperti logis dan menyejukkan. Ia memberikanangin segar bagi umat Islam untuk menjalankan syariahnya. Apalagi Na'imdengan tegas menyatakan bahwa setiap perundangan dan peraturan publikharuslah merefleksikan keyakinan dan nilai-nilai masyarakatnya. Logikanya, jikapublik menghendaki penerapan hukum qishash, hudud, poligami, dan berbagaiproduk hukum lain yang selama ini dikecam keras, seharusnya hukum itu diadopsidan dijadikan peraturan serta hukum publik. Tapi ternyata Na'im menolak haltersebut. Karena dalam penilainnya, hukum-hukum tersebut bertentangan dengannorma, nilai, dan prinsip HAM.8

Di sini Na'im terlihat tidak konsisten. Pada satu sisi ia menginginkandemokrasi, tapi pada tarikan napas yang sama ia juga bersifat otoriter, karenamemaksakan sesuatu yang tidak diinginkan masyarakat. Na'im juga terlihat tidakkonsisten dalam mengapresiasi prinsip HAM. Apa yang mendorong Naimmengabsolutkan dan mengidealkan International Convention of Human Rights.Bukankah ia juga produk pikiran manusia yang dipengaruhi oleh setting sosial-politik dan kerangka filosofis religius sekuler para pencetusnya.

Atas alasan apa Naim kemudian menjadikan HAM tersebut memilikikekuatan hukum yang mengikat (binding) atas masyarakat dunia lain. BukankahNaim percaya bahwa sebuah hukum harus lahir dari nilai masyarakat itu sendiri?Bukankah pemaksaan convention ini sama dengan pengingkaran atas nilai-nilaiyang diyakini masyarakat.9

Dari uraian di atas, paling tidak terdapat gambaran kecil tentangpandangan An-Naim berkaitan dengan dalil-dalil keagamaan. Pernyataannyamengenai syariah merupakan produk manusia mengenai al-Qur'an dan sunnah,agaknya menjadi salah satu indikasi bahwa ia mendudukkan kedua sumber dasartersebut pada tempat yang asli. Dengan kata lain, ia menginginkan setiap orangdari ummat Islam mampu mencerna secara langsung ungkapan-ungkapan yangterdapat dalam al-Qur'an maupun hadits Nabi tanpa harus mengikuti penafsiranatau pensyarahan dari para ulama. Namun, realitasnya hal ini tidak mungkinterjadi mengingat tidak semua orang mempunyai keahlian memahami teks-teks

_____________8Farid Wadjdi, Gagasan Usang Negara Sekuler An-Naim, www. Khalidwahyudin.

wordpress.com.9Nirwan Syafri, www. Republika.co.id. Edisi Januari 2003.

Burhanuddin Banta Cut : Pemikiran An-Na'im seputar Kehujjahan Hadis Ahad10

dari al-Qur'an dan hadits tersebut tanpa perantaraan para ahli dalam kedua bidangtersebut.

Mengenai bagaimana sikapnya terhadap hadits ahad, sejauh ini belumditemukan pernyataannya secara khusus, apakah ia menempatkannya sebagai dalilyang dapat diyakini atau sebaliknya. Hanya saja, ketika ia membahas tentangpemerintahan Abu Bakar. Menurutnya, ketundukan para sahabat kepadapemerintahan Abu Bakar merupakan keputusan politis para sahabat demikemaslahatan umat. Padahal, keputusan Abu Bakar dimaklumi dan dipahami olehsahabat sebagai suatu kekeliruan. Namun alasan relegius juga bisa dikemukakanuntuk memperkuat faktor-faktor tersebut seperti: QS. An-Nisa: 59. Ia jugamengedepankan satu hadits riwayat Muslim: Kewajiban seorang muslim adalahmendengar dan taat dalam melakukan perintah yang disukai ataupun yang tidakdisukai, kecuali bila diperintahkan melakukan maksiat. Bila diperintahkanmelakukan maksiat, maka tidak ada kewajiban untuk mendengar serta taat.10

Hadits riwayat Muslim di atas merupakan hadits ahad, yang diriwayatkanoleh Ibnu Umar. Oleh karena itu, analisis An-Naim tentang ketaatan para sahabatkepada Abu Bakar berdasarkan hadits riwayat Imam Muslim, boleh jadi sebagaiindikator awal namun mendasar, bagi posisi An-Naim berkenaan dengan haditsNabi. Dengan kata lain, An-Naim tidak menolak hadits namun iamemposisikannya sejajar dengan prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia yangmencakup kesetaraan hak setiap warga tanpa membedakan mereka dari segiapapun. Di samping itu, ia juga mensejajarkan dalil-dalil naqli (al-Qur'an danhadtis) tersebut dengan analisis-analisisnya dalam berbagai pendekatan.

Sehubungan dengan persoalan penolakan An-Naim tentang syariat, adayang berpendapat bahwa Pemahaman Naim tentang syariat itu sendiri jugakeliru. Dalam wawancara dengan Koran The Jakarta Post, edisi 26 Juli 2007,Naim menyatakan, bahwa syariah adalah produk interpretasi akal dan pengalamanmanusia. Karena itu, katanya, syariah tidak memiliki unsur ketuhanan, sehinggabersifat relatif, tidak abadi, dan tidak mengikat. (But it must be the product ofhuman interpretation, human reason and human experience. So when we say thatsharia is divine it is misleading. Since sharia is the product of humaninterpretation, any understansing of it is not divine, not eternal and not binding).

Para ulama Islam memahami syariah tidak seperti Naim. Bagi kaumMuslim, hukum-hukum Islam jelas-jelas dipahami sebagai ketentuan Allah danRasul-Nya. Bukan hukum karangan ulama. Para ulama hanyalah menggali danmerumuskan hukum-hukum Allah yang tercantum dan bersumberkan pada Al-Quran dan Sunnah Rasul. Oleh karena itu, seorang Muslim yang bermazhabSyafii, misalnya, ketika melaksanakan shalat, ia yakin benar, bahwa syarat danrukun shalat yang dia kerjakan bukanlah karangan dan rekaan Imam Syafii atauulama lain. Tetapi, syarat dan rukun itu memang secara tegas disebutkan dalamwahyu (Al-Quran dan Sunnah). Karena itu, hukum tentang wajibnya shalat,wajibnya zakat, haramnya zina, haramnya khamr, haramnya daging babi, dansebagainya, jelas-jelas merupakan hukum Allah yang bersifat abadi dan mengikatkaum Muslim. Akal ulama siapapun asalkan bukan merupakan ulama yang jahat(ulama su) pasti akan mengatakan bahwa shalat lima waktu adalah wajib, syirikadalah jahat, dan durhaka kepada orang tua adalah dosa besar. Itu semua

_____________10 Imam Muslim, Shahih Muslim, Hadits No. 3423.

Al-Muashirah Vol. 12, No. 1, januari 2015 11

merupakan hukum dan ketentuan Allah. Bukan rekaan para ulama. Karena itu,syariah memang memiliki unsur ketuhanan (divine) dan bersifat abadi sertamengikat.

Di zaman sekarang ini, kita mewarisi agama Islam, Al-Quran dan SunnahRasul, jelas melalui akal manusia, yaitu akal para sahabat Nabi, dan para ulamasesudahnya. Sebab, Nabi Muhammad saw adalah Nabi terakhir. Para ulama-lahyang kemudian melanjutkan risalah kenabian. Kita menerima hadits Rasulullahjuga berdasarkan periwayatan yang disampaikan oleh para perawi hadits yangmereka juga manusia. Allah mengkaruniai kita dengan akal pikiran yang mampumenyeleksi, mana informasi yang benar dan mana yang salah. Mana ulama yangberkualitas, dan mana yang dipaksakan sebagai ulama. Karena itu, dengan akalkita, kita mampu menerima mana berita yang salah dan mana yang pastikebenarannya.11

KESIMPULANAn-Naim, sejauh ini tidak termasuk dalam rangkaian ulama yang bergelut

dalam bidang hadits, sehingga reputasinya tentang ini sulit diteliti danmenghasilkan suatu kesimpulan yang tegas. Lebih jauh dapat dikatkaan bahwaAn-Naim merupakan seorang pemikir yang cenderung memposisikan al-Qur'andan sunnah sejajar dengan beberapa aspek kehidupan manusia seperti prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia dan prinsip-prinsip lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullahi Ahmed An-Naim, Islam dan Negara Sekular: Menegosiasikan MasaDepan Syariah, terj. Sri Murniati, Bandung: Mizan, 2007.

Buletin an-Nur, tahun VI, No. 247/Jum'at I/Jumadal ula 1421 H.

Fahd bin Nshir bin Ibrhm al-Sulaimn (editor), Majm' Fatwa wa RasilFadllah asy- Syaikh Muhammad bin Shlih al-'Utsaimn, Riyadl: Dr at-Tsurayya, 1414 H/1994 M, Cet. II.

Farid Wadjdi, Gagasan Usang Negara Sekuler An-Naim, www. Khalidwahyudin.wordpress.com.

Nirwan Syafri, www. Republika.co.id. Edisi Januari 2003.

'Utsman 'Ali Hasan, Mashdir al-Istidll 'Ala Mas`il al-I'tiqd .

www.hidayatullah.com

www.alsofwah.or.id.

_____________11 www.hidayatullah.com

12 :

:

HamdiahFakultas Tarbiyah Keguruan (FTK)

UIN Ar-Raniry Banda AcehKopelma Darussalam Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh

[email protected]

ABSTRACTThis article deals with the development of liberal Islam in Indonesia by

concentrating on the group Jaringan Islam Liberal (Liberal Islam Network;henceforward JIL). The term of liberal Islam refers to a trend among a particulargroup of Muslims who argue that understanding the text of Islamic teachingsshould be complemented by the context in which it is being reinterpreted becausethe text does not exhaust all the meanings of the revelation. This group alsospreads basic ideas such as the opening of the gates of ijtihad, stressing the spiritof religious ethics, pluralism and relativism, the support of minorities andreligious freedom. The presence of this group has aroused many responses to theideas that it promotes. One of the responses and critics is inadequate method thatJIL used in order to reach an authoritative understanding. Besides, the using ofpublic interest argument (mashlahah) in improper way has driven into a fallacyconclusion in the spirit of Islamic renewal of thought in Indonesia.

:

2001

(Jaringan Islam Liberal)" " .

.

Al-Muashirah Vol. 12, No. 1, januari 2015 13

.

, 1.

.

.

2.

. 3

.

.

_____________1 . 1965 : :

: Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, Stanford University

Press, 20132 : Ulil Absar Abdalla, "Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam", Kompas, 18 November

20023 :Wawancara Masdar F. Mas'udi, "Waktu Pelaksanaan Haji Perlu Ditinjau Ulang" dalam

situs www.islamlib.com, diakses pada 21 Agustus 2010

14 :

.

.

. :

4."

. . :

". : "

" "

.

_____________4 3/3 1973 :

Al-Muashirah Vol. 12, No. 1, januari 2015 15

: " ""

. :

5".

.

: " ""

."

: ": " " . : 6". .

.

7.

: " ...

_____________5 1997 . 6 2000 . 7 131 2014 :

16 :

8".

: . ""

. .

.

". " .

.

: : (( 219

)).

. .

. .

9.

.

_____________8 :

)32/233( 1389 9 139-134

Al-Muashirah Vol. 12, No. 1, januari 2015 17

. " "" "

1924 (Charles Kurzman) .

). (

Nurcholis) Madjid) 10.

11". "

.

) 1: (

) 2( ) 3(

" " ) 4(

12). (

_____________10 : Charles Kurzman, Liberal Islam A Source Book, ed. Charles Kurzman, New York:

Oxford University Press, 199811 :Greg Barton, Gagasan Islam Liberal di Indonesia: Pemikiran Neo-Modernisme

Nurcholis Madjid, Djohan Effendi, Ahmad Wahib dan Abdurrahman Wahid 1968-1980, Jakarta:Paramadina, 1999

12 : Ulil Absar Abdalla, "Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam", Kompas, 18 November

2002

18 :

.

13.

14.

) 1: (

) 2( ) 3(

.

". "

15.

_____________13 :Wawancara Masdar F. Mas'udi, "Waktu Pelaksanaan Haji Perlu Ditinjau Ulang" dalam

situs www.islamlib.com, diakses pada 21 Agustus 201014 :Hamdiah A. Latif, "Konsep Mashlahat dan Tafsir Kaum Liberal", Jurnal Al-Mu'ashirah,

Vol. 7, No. 2, Juli 201015 :Adian Husaini, Membedah Islam Liberal: Memahami dan Menyikapi Manuver Islam

Liberal di Indonesia, Jakarta: Syamil Cipta Media, 2003; Sohirin Mohammad Solihin, Emergenceand Development of Liberal Islam in Indonesia: A Critical Evaluation, Kuala Lumpur: IIUMPress, 2009; Adian Husaini & Nuim Hidayat, Islam Liberal: Sejarah, Konsepsi, Penyimpangan,

Al-Muashirah Vol. 12, No. 1, januari 2015 19

. :

. . :

. .

.

.

.

:

: 1389

1973 : 2014 :

: 1965 .

dan Jawabannya, Jakarta: GIP, 2002; Adian Husaini, Islam Liberal, Pluralisme Agama &Diabolisme Intelektual, Risalah Gusti, 2005

20 :

. 2000

1997 .

: Adian Husaini & Nuim Hidayat, Islam Liberal: Sejarah, Konsepsi,

Penyimpangan, dan Jawabannya, Jakarta: GIP, 2002

-----, Islam Liberal, Pluralisme Agama & Diabolisme Intelektual, Risalah Gusti,2005

-----, Membedah Islam Liberal: Memahami dan Menyikapi Manuver IslamLiberal di Indonesia, Jakarta: Syamil Cipta Media, 2003

Charles Kurzman, Liberal Islam A Source Book, ed. Charles Kurzman, New York:Oxford University Press, 1998

Greg Barton, Gagasan Islam Liberal di Indonesia: Pemikiran Neo-ModernismeNurcholis Madjid, Djohan Effendi, Ahmad Wahib dan AbdurrahmanWahid 1968-1980, Jakarta: Paramadina, 1999

Hamdiah A. Latif, "Konsep Mashlahat dan Tafsir Kaum Liberal", Jurnal Al-Mu'ashirah, Vol. 7, No. 2, Juli 2010

Masdar F. Mas'udi, " Wawancara Waktu Pelaksanaan Haji Perlu Ditinjau Ulang"dalam situs www.islamlib.com, diakses pada 21 Agustus 2010

Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, StanfordUniversity Press, 2013

Sohirin Mohammad Solihin, Emergence and Development of Liberal Islam inIndonesia: A Critical Evaluation, Kuala Lumpur: IIUM Press, 2009

Ulil Absar Abdalla, "Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam", Kompas, 18November 2002

Al-Muashirah Vol. 12, No. 1, januari 2015 21

PENCATATAN HADITS DI MASA HIDUP NABI SAW

Soufyan IbrahimFakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry

Kopelma Darussalam Kota Banda Aceh

ABSTRAKPada satu sisi, terdapat Hadits Nabi yang secara tegas melarang mencatat

dan menuliskan sesuatu dari Nabi selain Al-Quran, atau tegasnya melarangmenulis dan mencatat Hadits. Larangan Rasullullah SAW tersebut mungkindipengaruhi oleh berbagai faktor berikut. Pertama : Amat sedikit para sahabat diwaktu itu yang mampu menulis, pada hal usaha pencatatan dan penulisan Haditsadalah suatu kerja besar yang memerlukan banyak sekali tenaga mereka. Kedua :adalah selayaknya, jika usaha penulisan dan pencatatan Al-Quran sebagai sumberpokok ajaran islam didahulukan pelaksanaannya, sehingga generasi berikutnyadapat dengan mudah menyusun kembali tanpa kekurangan satu hurufpun. Ketiga :Sifat ummi bangsa Arab pada waktu itu, yang hanya mengandalkan kekuatanhafalan, mengharuskan mereka mendahulukan penghafalan Al-Quran dari hadits.Adapun untuk melakukannya bersama-sama adalah suatu pekerjaan yang amatberat. Keempat : adalah kerena adanya kekhawatiran akan terjadinyapencampuran antara Al-Quran dan Hadits, yang pada akhirnya akan membukapeluang bagi musuh-musuh Islam untuk meragukan Kitab Allah tersebut.

Kata Kunci: Sunnah, Kodifikasi, Periode Awal Islam

PENDAHULUAN

Hadits tersebut secara tegas melarang mencatat dan menuliskan sesuatudari Nabi selain Al-Quran, atau tegasnya melarang menulis dan mencatat Hadits.Larangan Rasullullah SAW tersebut mungkin dipengaruhi oleh berbagai faktorberikut. Pertama : Amat sedikit para sahabat di waktu itu yang mampu menulis,pada hal usaha pencatatan dan penulisan Hadits adalah suatu kerja besar yangmemerlukan banyak sekali tenaga mereka. Kedua : adalah selayaknya, jika usahapenulisan dan pencatatan Al-Quran sebagai sumber pokok ajaran islamdidahulukan pelaksanaannya, sehingga generasi berikutnya dapat dengan mudahmenyusun kembali tanpa kekurangan satu hurufpun. Ketiga : Sifat ummi bangsaArab pada waktu itu, yang hanya mengandalkan kekuatan hafalan, mengharuskanmereka mendahulukan penghafalan Al-Quran dari hadits. Adapun untukmelakukannya bersama-sama adalah suatu pekerjaan yang amat berat. Keempat :adalah kerena adanya kekhawatiran akan terjadinya pencampuran antara Al-Qurandan Hadits, yang pada akhirnya akan membuka peluang bagi musuh-musuh Islamuntuk meragukan Kitab Allah tersebut.

Al-Quran Al-Karim dan Hadits Al-Syarif adalah merupakan petunjuk yangdiwariskan Rasul kepada umatnya Beliau telah menegaskan bahwa barang siapa

Soufyan Ibrahim : Pencatatan Hadis masa Hidup Nabi22

yang selalu berpegang teguh dengan keduanya. Niscaya akan selalu ada dalampetunjuk dan hidayah Allah SWT. Sebagaimana tersebut dalam sabdanya :

. Artinya : Aku wariskan dua hal kepada kalian, yang kalian tidak akan sesat

selama berpegang teguh dengan keduanya, yaitu Kitab Allah (Al-Quran) dan Sunnah (Hadits) Rasul-Nya.

Al-Quran telah mendapat perhatian penuh untuk pencatatan danpenulisannya sejak hayat Rasul SAW. Para sahabat diwaktu itu sesuai denganpetunjuk rasul selain menghafal setiap ayat yang diturunkan, juga menulis danmencatatkannya. Hanya saja yang belum dilakukan pada waktu itu adalahmengumpulkannya dalam satu mushaf.

Berbeda halnya Hadits, keadaannya sangat berbeda dengan Al-Quran. Disatu sisi ditemukan berbagai dalil yang melarang penulisan dan pencatatannya,akan tetapi di sisi lain juga didapatkan berbagai bukti yang membenarkan bahwapencatatan dan penulisan Hadits telah dilakukan sejak hayat Rasul SAW.

Pertentangan dua hal ini, mendorong kita untuk mengkajinya lebih jauh,sehingga pada akhirnya diharapkan akan ditemukan perpaduan antara dua segiyang nampak bertentangan tersebut, sekaligus juga dengan menggunakan metodediskriptis analisis ingin dibuktikan bahwa usaha penulisan dan pencatatan Haditstelah dilakukan sejak hayat Rasul SAW, sekalipun dalam bentuk tidak resmi.

DALIL-DALIL PENULISAN HADITS MASA NABI MUHAMMADJika penulisan dan pencatatan Al-Quran telah dilakukan sejak masa Rasul,

dan untuk itu hanya ditemukan dalil-dalil yang memerintahkan hal tersebut, makaberbeda halnya dengan penulisan dan pencatatan Hadits, yang dalam hal ituditemukan dua bukti yang nampak seperti saling bertentangan, yaitu di satu pihakterdapat bukti bahwa Nabi melarang setiap usaha untuk mencatat dan menulisHadits, akan tetapi dipihak lain, juga tidak sedikit bukti-bukti yangmengisyaratkan bahwa beliau membolehkan hal tersebut.

Di dapat bukti bahwasanya Rasullullah SAW melarang sahabatnyamenuliskan sesuatu dari beliau selain Al-Quran. Hal ini ditegaskan dalam Haditsyang diriwayatkan Muslim :

.

Artinya: Jangan engkau tulis sesuatu dariku, barang siapa yang telahmenuliskannya selain Al-Quran, maka hendaklah dihapuskannya. Danceritakanlah dariku, Tidak ada larangan bagimu untuk melakukan halitu. Barang siapa yang dengan sengaja berdusta terhadap diriku,hendaklah dia bersedia menempati tempatnya di neraka.

Hadits tersebut secara tegas melarang mencatat dan menuliskan sesuatudari Nabi selain Al-Quran, atau tegasnya melarang menulis dan mencatat Hadits.Larangan Rasullullah SAW tersebut mungkin dipengaruhi oleh berbagai faktorberikut. Pertama : Amat sedikit para sahabat di waktu itu yang mampu menulis,pada hal usaha pencatatan dan penulisan Hadits adalah suatu kerja besar yangmemerlukan banyak sekali tenaga mereka. Kedua : adalah selayaknya, jika usaha

Al-Muashirah Vol. 12, No. 1, januari 2015 23

penulisan dan pencatatan Al-Quran sebagai sumber pokok ajaran islamdidahulukan pelaksanaannya, sehingga generasi berikutnya dapat dengan mudahmenyusun kembali tanpa kekurangan satu hurufpun. Ketiga : Sifat ummi bangsaArab pada waktu itu, yang hanya mengandalkan kekuatan hafalan, mengharuskanmereka mendahulukan penghafalan Al-Quran dari hadits. Adapun untukmelakukannya bersama-sama adalah suatu pekerjaan yang amat berat. Keempat :adalah kerena adanya kekhawatiran akan terjadinya pencampuran antara Al-Qurandan Hadits, yang pada akhirnya akan membuka peluang bagi musuh-musuh Islamuntuk meragukan Kitab Allah tersebut.

Di samping adanya larangan Rasul untuk menulis dan mencatat Haditsdimasa hayat beliau, juga didapati bukti-bukti yang membolehkan hal itu. Bukti-bukti dimaksud dapat berupa perintah Nabi untuk menuliskannya, persetujuanbeliau kepada para sahabat yang dengan prakarsa sendiri menulis atau mencatatHadits ataupun berupa surat-surat beliau kepada penguasa diwaktu itu dan kepadapetugas-petugas beliau di daerah.

Di antara perintah Rasul SAW untuk menuliskan Hadits terjadi pada tahunpenaklukan Mekkah, seperti tersebut berikut ini :

: . . .

) ( Artinya : Dari Abi Hurairah r.a. berkata : bahwasanya golongan Khuzaah

membunuh seseorang dari Bani Laits pada tahun penaklukan Mekkahdisebabkan oleh suatu pembunuhan yang dilakukan Bani Laitssebelumnya. Hal itu diberitahukan kepada Nabi SAW, maka denganmengendarai kendaraannya beliau berkhutbah sabdanyaLalu datanglah seorang penduduk Yaman, ia berkata : Tulislah untukkuYa Rasulullah lalu Nabi bersabda : Tulislah untuk Abu Fulan. (HR.Bukhari)

Hadits di atas menjelaskan tentang perintah Rasul kepada para sahabatnyauntuk menuliskan khutbah beliau memenuhi permintaan seorang laki-laki dariYaman yang telah meminta beliau melakukan hal itu.

Dalil lain tentang adanya penulisan dan pencatatan Hadits dimasa hidupNabi adalah berupa persetujuan beliau kepada sahabatnya untuk menulis danmencatat Hadits, seperti tersebut di bawah ini :

) . ( Artinya : Dari Abdullah bin Amr katanya : Adalah saya menulis segala sesuatu

yang saya dengar dari Rasulullah SAW, saya bermaksudmenghafalnya, orang-orang Quraisy melarang saya melakukan hal itu.Mereka mengatakan : Anda menulis semua yang anda dengar dari

Soufyan Ibrahim : Pencatatan Hadis masa Hidup Nabi24

Rasulullah SAW, padahal beliau seorang manusia yang berbicarapada waktu marah dan juga pada waktu senang. Lalu saya hentikanpencatatan dan hal itu saya sampaikan kepada Rasulullah SAW, makabeliau mengisyaratkan dengan tangan ke mulutnya, lalu beliaubersabda : Tulislah : Demi yang diri ku di dalam kekuasaanNya, tidakada apapun yang keluar dari padanya kecuali kebenaran. (HR. AbuDaud)

Abdullah ibn Amir ibn Ash yang tersebut dalam Hadits di atas adalah seorangsahabat Rasul yang banyak menulis dan mencatat Hadits. Sebagai tergambar dalampengakuan Abu Hurairah berikut :

.

Artinya: Tidak ada seorangpun dari sahabat Nabi SAW yang paling banyakmempunyai Hadits melebihi dari yang aku punya, kecuali apa yangada pada Abdullah ibn Amr. Kerena dia mencatat, sedangkan sayatidak melakukan seperti itu.

Kumpulan catatan Abdullah ibn Amr ini dikenal dengan nama ShahifahAl-Shadiqah, memuat tidak kurang dari seribu Hadits. Shahifah ini dipandangpenting, kerena secara khusus mendapat keizinan Rasul untuk pencatatan danpenulisannya.

Bukti lain bahwa pencatatan dan penulisan Hadits telah dilakukan sejakmasa Nabi adalah, pertama : Surat Nabi kepada Raja Himyar, yang isinyamenjelaskan berbagai hal sehubungan dengan islamnya Raja tersebut. Kedua :Surat Nabi kepada Khalid ibn Walid Panglima perang yang diutus ke Najran padabulan Rabiul Akhir tahun 10 Hijriah. Surat tersebut menggambarkan tentang telahditerimanya surat Khalid sebelumnya dan hal-hal lain sehubungan dengan telahislamnya Bani Hirs tanpa harus diperangi. Ketiga : Surat Nabi yang dikirimkankepada Amr ibn Hazm, salah seorang petugas yang beliau utus ke Yaman, berisiberbagai hal dalam hubungan dengan tugas yang dibebankan kepadanya.

ANALISIS Dalam uraian terdahulu telah dijelaskan bahwasanya Nabi melarang

sahabatnya mencatat dan menulis Hadits, dan seiring dengan itu, pada waktu yangbersamaan beliau juga membolehkan hal itu dilakukan para sahabatnya. Berbagaipendapat para ulama dalam menemukan perpaduan dua hal yang nampakbertentangan itu.

Asqalani, mengelompokkan berbagai pendapat dimaksud kepada dua.Pendapat pertama, mengabungkan antara Hadits yang melarang danmembolehkan, dengan kemungkinan salah satu hal tersebut ini. (a) Larangandikhususkan hanya pada saat Al-Quran diturunkan, karena dikhawatirkan akanterjadi pencampuran antara Al-Quran dengan yang lain; Sedangkan keizinandiberikan pada waktu selain itu; (b) Larangan diperlakukan apabila di lakukanpada suatu tempat bersama Al-Quran, dan diizinkan penulisan dan pencatatannya,apabila dilaksanakan pada tempat terpisah; (c) Hadits yang melarang dibatalkanoleh Hadits yang membolehkan. Pendapat lain senada dengan ini mengemukakanbahwa larangan diperuntukkan bagi mereka yang dikhawatirkan bercampur aduk

Al-Muashirah Vol. 12, No. 1, januari 2015 25

catatannya, tanpa hafalan, sedang keizinan diberikan kepada yang dapatmengamankan hal itu.

Pendapat kedua, menyatakan bahwa Hadits yang melarang yang diterimadari Abi Said Al-Khudry sebagai Hadits Mauquf.

Al-Qadhi, sebagaimana dijelaskan oleh An-Nawawi, berpendapat bahwamemang ada perbedaan pendapat antara boleh dan tidaknya penulisan Hadits padamasa hidup Nabi, akan tetapi pada akhirnya kaum muslimin sependapat bahwa halitu kemudian dibolehkan. Lalu perbedaan pendapat timbul tentang apa yangdimaksudkan oleh Hadits larangan, dan untuk ini, ia mengelompokkan perbedaantersebut dalam tiga hal.

Pendapat pertama, mengemukakan bahwa larangan itu ditujukan kepadaorang-orang yang mampu menghafal dan kalau ia catat, dikhawatirkan bercampurbaur dengan yang lain. Dan keizinan diberikan kepada mereka yang tidak mampumenghafal.

Pendapat kedua, mengemukakan bahwa Hadits yang melarang yangdikeluarkan karena kekhawatiran bercampurnya Hadits dengan Al-Quran,dibatalkan oleh Hadits yang membolehkan penulisan, kerena kekhawatirantersebut telah teratasi.

Pendapat ketiga, mengatakan bahwa yang dilarang adalah menuliskanHadits bersama Al-Quran pada suatu tempat, dan membolehkannya, jika hal itudilakukan terpisah.

Dari uraian di atas dapat terlihat bahwa para ulama tak melihat adanyapertentangan antara dalil-dalil yang melarang dan membolehkan penulisan Hadits.Pendapat yang mengemukakan bahwa Hadits larangan yang diterima dari AbiSaid Al-Khudry sebagai mauquf ditolak oleh Dr. Muhammad Ujjaj Khatib. Beliauberpendapat sebagai berikut :1. Bahwa larangan penulisan Hadits diperlakukan pada mereka yang menuliskannya

pada suatu tempat bersama Al-Quran, karena dikhawatirkan akan bercampur baurantara keduanya.

2. Atau juga bukan tak mungkin bahwa larangan itu diperlakukan di masa permulaanIslam, dengan maksud supaya umat tidak menyibukkan diri dengan Hadits.

3. Adalah juga mungkin bahwa penulisan Hadits diizinkan kepada mereka yang tidakdikhawatirkan ketelitiannya, sehingga bercampur baur dengan Al-Quran dapatdihindari. Atau hal ini diperkenankan bagi mereka yang tak mampu menghafal,sehingga perlu dibantu dengan catatan.

Hal lain yang perlu dikemukakan bahwa berdasarkan Hadits yang diriwayatkanoleh Bukhary, dijelaskan pada saat menjelang Rasulullah SAW wafat, telah ada penegasantentang keizinan menulis dan mencatat Hadits, sehingga jika pun ada yang memahamisecara mutlak larangan menulis dan mencatat Hadits berdasarkan Hadits dari Abi Said Al-Khudry, maka dengan Hadits terakhir itu, terhapuslah larangan sebelumnya.

KESIMPULANBahwa larangan penulisan dan pencatatan Hadits dimasa Rasulullah SAW

adalah bersifat umum, dengan pengertian bahwa beliau tidak pernah menyuruhsahabatnya menulis dan mencatat Hadits, sebagaimana beliau memerintahkanmereka menulis dan mencatat Al-Quran. Adapun keizinan penulisan danpencatatan Hadits dimasa hidup beliau adalah bersifat khusus, dengan pengertianbahwa Nabi secara khusus membolehkan para sahabatnya melakukan hal itu,karena tuntutan suatu keadaan tertentu.

Soufyan Ibrahim : Pencatatan Hadis masa Hidup Nabi26

Referensi :1. Mohd Fuad Abd. Baqi , Al-Muwatta. Juz II. Isa Al-Baby Al-Halaby. 1951. Hal. 899

2. Penegasan Al-Quran antara lain terdapat dalam surat An-Nahl ayat 64

): (

3. Pengumpulan Al-Quran dalam suatu mushhaf dilakukan pada masa pemerintahanKahalifah Usman bin Affan (Ahmad Amin, Fajr Al-Islam. 1965. Hal. 195 )

4. Hadits menurut para muhadditsin adalah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi SAWberupa perkataan, perbuatan, penetapan, kepribadian, akhlaq dan sejarah kehidupannya,baik itu dilakukan sebelum atau sesudah beliau diutus sebagai Rasul Allah ( musthafaAs-Shibaiy, As-Sunnah Wa Makanatuha fi al-Tasyriil al-Islamy. 1966. Hal. 53).Adapun Ahmad Amin menjelaskan bahwa Hadits atau Sunnah adalah : segala sesuatuyang datang dari Rasulullah SAW berupa perkataan, perbuatan atau penepatannya.Setelah masa Rasul, yang dimaksud dengan Hadits adalah juga semua yang datang darisahabat, sebab mereka selalu bergaul dengan beliau, mendengarkan perkataannya danjuga menyaksikan perbuatan beliau. (Ahmad Amin, Fajr Al-Islam. 1965. Hal. 208).

5. Ahmad Amin, Fajr Al-Islam, Maktabah wa Mathbaah Sulaiman mariy, Singapore, 1965.hal. 195.

6. Muslim, Shahih Muslim, Juz II, Dahlan Bandung, t.t., hal. 598.7. Musthafa As-Shibaiy, As-Sunnah Wa Makannatuha fi al-Tasyriiy al-Islamy. Dan Al-

Qafamiyah li Al-Thabah wa Al-Nasyr, Qairo, 1966. hal. 63.8. Ibnu Hajr, Fath Al-Bary, Juz I, Mathbaah Musthafa Al-Baby Al-Halaby, Mesir, 1959.

hal. 216-217.9. Lelaki dari Yaman yang dimaksudkan dalam Hadits tersebut adalah Abu Syah. (Ibid.)10.Al-Darimy, Sunan Al-Darimy, Juz I, Mathbaah Al-Haditsah, Damsyik, 1349. hal. 125.11.Al-Zahaby, Tazkirat Al-Huffadl, Juz I, Darirat Al-Maarif Al-Usmany, Hudrabad, India,

1955. hal. 4212.Bukhary, Shahih Bukhary, Juz I Dar wa Mathabial-Syaby, t.t., hal. 39.13.Muhammad Ujjaj Khatib, Ushul Al-Hadits, Ulumuhu wa Musthalahuhu, Dar Al-Fikr,

1975. hal. 194.14.Ibn Hisyam, Sirat Al-Nabi SAW, Juz IV, Maktabah Hijazi, Qairo, t.t., hal. 258-260.15.Ibid., hal. 262.16.Ibid., hal. 265-26617.Ibn Hajar, Op, Cit., hal. 218.18.Al-Nawawy, Shahih Muslim, Juz XVIII, Maktabah Al-Mishriyah, 1924. hal. 129-130.19.Ibid.20.Muhammad Ujjaj Khatib, Op, Cit., hal. 150.21.Bukhary, Op, Cit., hal. 3922.Ibn Hajar, Op, Cit., hal. 220.

Al-Muashirah Vol. 12, No. 1, januari 2015 27

DIAM GADIS SEBAGAI INDIKASI PERSETUJUAN NIKAH: Suatu Kajian Terhadap Pemahaman Ulama Hadis

secara Tekstual dan Kontekstual

Nasaiy AzizFakultas Syari'ah dan Hukum UIN Ar-Raniry

Kopelma Darussalam Kota Banda Aceh

ABSTRAKPersetujuan calon pengantin perempuan atau gadis dalam sebuah

pernikahan diukur dengan sikap diam. Hal ini lebih didasarkan kepadapemahaman secara tekstual terhadap hadis-hadis yang berkaitan dengan perllunyapersetujuan calon pengantin perempuan ketika diajak menikah yang terdapatdalam kitab al-Kutub al-Sittah . Justru itu, para wali menganggap diamnya ituadalah persetujuan gadis tersebut untuk dinikahkan. Akan tetapi kalau hadistersebut dipahami secara kontekstual dan dihubungkan dengan keadaan gadis padasaat mau dinikahkan bahwa persetujuan gadis itu tidak selamanya diukurberdasarkan sikap diam mereka, karena boleh jadi diam itu bermaksud tidaksetuju sesuai dengan indikasi yang ditunjukkan oleh gadis dimaksud.

Kata kunci: Sikap diam, Calon pengantin perempuan,Para Wali dan dianggap setuju

PENDAHULUANDalam sebuah pernikahan, salah satu unsur yang sangat penting yang harus

dipenuhi dan bahkan merupakan salah satu syarat sahnya pelaksanaan akad nikahialah adanya pernyataan setuju pihak yang ingin melangsungkan pernikahan,bukan karena ada tekanan atau paksaan dari pihak lain.

Calon pengantin perempuan yang ingin melangsungkan pernikahan,keizinannya cukup diketahui melalui sikap diamnya pada saat ia dimintakanpersetujuannya. Hal ini berdasarkan pemahaman secara tekstual terhadap haditsRasulullah SAW berkaitan dengan pernikahan yang terdapat dalam beberapariwayat.

Namun apabila hadis-hadis tersebut dipahami secara kontektual denganmelihat dan mempertimbangkan situasi yang berkembang di saat hadis itudipahami akan diperoleh arti lain. Ddalam arti diammya gadis ketika ditanya waliuntuk menikah belum tentu semuanya terindikasi setuju untuk menikah. Hal iniseperti yang tergambar pemahaman ahli hadis yang terdapat dalam al-Kutub al-Sittah yang sekaligus menjadi tujuan utama dari tulisan ini.

Nasaiy Aziz : Diam Gadis sebagai Indikasi Persetujuan Nikah28

HADIS-HADIS YANG TERINDIKASIDIAM GADIS SETUJU UNTUK MENIKAH

Sebelum melihat lebih jauh berkaitan dengan hadis-hadis yang berkaitandengan diam gaddis untuk persetujuan nikah kiranya tidak salah di sini jikaterlebih dahulu dijelaskan sedikit pengertian diam.

Kamus Besar Bahasa Indonesia, mengartikan diam dengan tidak bersuara(berbicara).1.

Machnun Husein, yang dikutip melalui tulisan di dalam blognya, diam itudiartikan dengan tidak berbicara atau bersuara atau tidak berbuat atau bergerak.Machnun juga memaknakan diam itu sebagai salah satu alat komunikasi ataubahasa isyarat. Namun, ia tetap berbeda dengan bahasa lisan atau tulisan yangsudah jelas maksudnya. Sedangkan makna diam ini tidak jelas dan lebihcenderung berbeda-beda.2

Machnun menambahkan, diam juga merupakan gejala fisik ataujasmaniah. Namun ia didorong atau dimotivasi oleh faktor psikologis, dan bahkanmerupakan manifestasi dari gejala kejiwaan orang yang bersangkutan. Olehkarena itu, untuk mengetahui sebab-sebab atau maknanya perlu dilakukanpenelitian terhadap faktor-faktor kejiwaan yang melatarbelakanginya. Denganperkataan lain, tulisan ini bertujuan untuk mencari jawaban atas pertanyaan,mengapa orang yang bersangkutan diam? Selain itu, faktor-faktor non-kejiwaanjuga ikut berperan, terutama yang berkaitan dengan pemuasan atau pemenuhankebutuhan-kebutuhan dasar manusia yang bersifat fisik-material ataupun sosial,seperti makanan, pakaian, tempat tinggal dan sebagainya. Itulah alasan mengapasering didapati orang tidak mengemukakan pendapat atau diam, karena dia merasabahwa tindakan atau sikapnya itu ada kaitannya secara langsung atau tidaklangsung dengan kebutuhan-kebutuhan tersebut.3

Oleh karena itu diam di sini dapat diartikan dengan tidak bersuaranyaseorang gadis bila diajak wali untuk menikah baik dalam bentuk lisan maupundalam bentuk tulisan

Terdapat sejumlah hadis yang dijadikan dasar oleh ahli hadis dan fuqaha`dalam melihat diam seorang gadis sebagai indikasi setuju untuk menikah yaituhadits-hadits yang diriwayatkan oleh penyusun kitab al-Kutub al-Sittah sepertiberikut.

Hadits Riwayat Bukhari:

, : , : . 4). (. :

Artinya: Dari Abu Salamah, sesungguhnya Abu Hurairah menceritakan kepadamereka, sesungguhnya Nabi SAW bersabda, Perempuan janda tidakdinikahkan hingga diajak musyawarah dan perempuan perawan tidak

_____________1Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cet. 3, (Jakarta: Badan

Pustaka, 2005), hlm. 261.2Machnun Husein, Diam dan Maknanya, Sebuah Kajian Psikologi Agama. Diakses pada tanggal

22 April 2013 dari situs: http://baninadiah.blogspot.com/2009/09/diam-dan-maknanya-sebuah-kajian.html.3Ibid.4Imam Ahmad bin Ali Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Baari Bi Syarh Shahih al-Bukhari, Jilid 10,

(Beirut: Dar al-Fikr,1993), hlm. 240.

Al-Muashirah Vol. 12, No. 1, januari 2015 29

dinikahkan hingga dimintai izin , Mereka berkata, Wahai Rasulullah,bagaimana izinnya? Beliau bersabda, Dia diam. (HR : Bukhari).

Hadits Riwayat Abu Daud:

, : : , 5). (.

Maksudnya: Dari Ibnu Abbas Ra., beliau berkata bahwa Rasulullah SAWbersabda: Janda lebih berhak terhadap dirinya daripada walinya,sedangkan seorang gadis dimintai izinnya. Dan diamnya seoranggadis menunjukkan izinnya . (H.R. Abu Daud).

Hadis riwayat Abu Daud:

: 6). .( Artinya: Dari Aisyah r.a dia berkata, Wahai Rasulullah, sesungguhnya seorang wanita

yang perawan malu untuk berbicara . Kemudian Nabi SAW menjawab,Diamnya berarti izinnya (persetujuannya). (H.R.Abu Daud).

Hadits Riwayat Muslim yaitu:

: : 7). (. :

Artinya: Dari Ibnu Abbas Ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda, Seorang jandalebih berhak atas dirinya dibandingkan dengan walinya, sedangkanseorang gadis hendaknya sang bapak meminta izinnya, dan izinnyaadalah diamnya. Boleh jadi Rasulullah berkata, dan diamnya adalahpersetujuannya. (H.R. Muslim).

Semua hadits-hadits tersebut di atas secara tekstual dijadikan sebagai dalilbahwa diamnya seorang gadis atau calon pengantin perempuan berarti dia setujuuntuk dinikahkan. Pemahaman yang terdapat dalam hadits di atas menjadi sumberpegangan masyarakat khususnya para wali yang mau menikahkan anak gadismereka. Mereka berpendapat walaupun telah bertanya atau meminta izin terlebihdahulu kepada gadis yang dilamar, namun sikap diamnya gadis tersebut telahmenjadi ukuran persetujuan, serta sebagai cara pemberian izin dalam pernikahan.

Sebagaimana halnya juga diamnya Fatimah, putri Rasulullah SAW,dalam menyikapi lamaran saidina Ali, Rasulullah SAW segera melangsungkanmajlis pernikahan putrinya dengan Saidina Ali. Menurut Rasulullah SAW, reaksidiam Fatimah itu menunjukkan bahwa dia menyetujui lamaran yang telah dibuatoleh Saidina Ali terhadapnya. Sekiranya Fatimah tidak setuju pasti dia akanmenutup tirai kamarnya sebagai tanda tidak setuju atau tidak suka. Dari perbuatan

_____________5Abi Dawud Sulaiman bin as-Asy as-Sajistany, Sunan Abi Dawud, Jilid 2, (Beirut: Dar al-Fikr,

2003), hlm.197.6Abi Dawud Sulaiman bin as-Asy as-Sajistany, Sunan Abi Dawud, Jilid 2, (Beirut: Dar al-Fikr,

2003), hlm. 196.7Imam Abi Husaini Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Shahih Muslim, Jilid 2,

(Kaherah, Dar al-Hadits, 1997), hlm. 474.

Nasaiy Aziz : Diam Gadis sebagai Indikasi Persetujuan Nikah30

atau sikap Fatimah itu juga dapat dijadikan alasan bahwa diam itu merupakantanda persetujuan gadis yang akan dinikahkan.8

KRITERIA DIAM SEBAGAI TANDA SETUJU DALAM PERNIKAHANUntuk menentukan sikap diam gadis itu setuju atau sebaliknya di saat

ditanya wali untuk menikah, perlu dilihat kepada kriterianya. Kriteria inilah yangakan menentukan bahwa diam itu dianggap setuju atau tidak setuju. Diam yangmenunjukkan tanda setuju memang telah dinyatakan dalam beberapa haditsRasulullah SAW. Namun pada dasarnya Rasulullah SAW menyatakan gadis perludimintakan izinnya secara lisan. Akan tetapi karena menurut Aisyah r.a, gadis-gadis yang ada pada waktu itu malu untuk memberi jawaban secara lisan, makaRasulullah SAW menyatakan keizinannya cukup dengan diamnya saja. Itulahyang menjadikan diamnya perawan itu sebagai persetujuannya.

Namun dalam kenyataannya tidak semua sikap diam gadis itumenunjukkan persetujuannya, terutama gadis-gadis masa kini dimana sebagiandari mereka terkadang tidak merasa malu untuk memberikan jawaban langsung,tetapi karena faktor-faktor lain, seperti karena takut dimarahi orang tuanya ataukarena segan pada orang tuanya sehingga membuat mereka diam. Hanya sajadiamnya itu dibarengi dengan eksperasi wajah yang menunjukkanketidaksenangannya dengan calon yang dinikahkan. Itulah sebabnya persetujuangadis tidak cukup dilihat pada sikap diamnya saja, tetapi perlu dilihat kepadaindikasi-indikasi lain yang menyertai sikap diamnya gadis tersebut, yang dalambahasa usul fiqih disebut dengan al-siyak (konteks peristiwa).

Dalam hal ini dikenal sebuah kaedah yang berbunyi: 9. Artinya: Konteks atau indikasi-indikasi yang menyertai sebuah peristiwa, menjadi

pembatas dari peristiwa itu.Dengan kata lain, siyak itu adalah sesuatu yang memberi petunjuk

tentang makna yang sebenarnya. Sebagaimana yang dicontohkan di dalam kitabDurus al-Syaykh Abu Ishak al-Hawaini, yaitu tentang senyum. Ada dua jenissenyum, yaitu senyum dengan maksud ridha atau setuju dan senyum denganmaksud marah, tidak menyetujui atau membantah.10 Sebagai contoh senyumdengan maksud marah, hal ini dilihat pada peristiwa yang terjadi pada Kaab BinMalik semasa perang tabuk. Ia tidak bersama Rasulullah SAW ketika peperangantabuk, sekembalinya Rasulullah SAW dari medan peperangan tersebut, ia lantasmenemui Rasulullah SAW. Ketika bertemu baginda Rasulullah SAW, Kaab BinMalik memberikan gambaran bahwa Rasulullah SAW menunjukkan senyumanyang berarti kemarahan kepadanya karena ia tidak ikut serta dalam peperangantabuk.11 Hal ini memberikan gambaran bahwa senyuman Rasulullah SAW itutidak memberikan maksud senyum yang sebenarnya tetapi mengandung rasamarah dan sindiran kepada Kaab Bin Malik.

_____________8Alyahya.blogspot, Hak Wanita Memilih Jodoh, Diakses pada tanggal 9 Desember 2012, dari situs:

http:alyahya.blogspot.com/2011/08/hak-wanita-memilih-jodoh.html.

9Abu Ishak Al Hawaini al-Asri Hijazi Muhammad Syarif, Durus al-Syaykh Abu Ishak al-Hawaini,Jilid 92, (Durus Soutiyah Koma Bitafrighiha Maukiu as-Syabkah al-Islamiyah: Maktabah Syamilah, t.t),hlm. 11.

10Ibid.11Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Baari Syarah Shahih al-Bukhari Buku 25, hlm. 380.

Al-Muashirah Vol. 12, No. 1, januari 2015 31

Sedangkan contoh senyum yang menunjukkan keridhaan, kagum atausebagai tanda menyukai adalah seperti satu kisah tentang Nabi Sulaiman AlaihiSalam dan semut, yang diabadikan dalam Al-Quran surat Al-Naml, ayat 19,berikut:

Maksudnya: Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa karena (mendengar)

perkataan semut itu. Dan dia berdoa: "Ya Tuhanku anugerahkanlahaku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkauanugerahkan kepadaku dan kepada dua orang tuaku dan agar akumengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai; dan masukkanlah akudengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yangsaleh". (Qs. An Naml: 19).

Ayat di atas ada yang mengatakan bahwa, Nabi Sulaiman senyum danketawa ketika mendengarkan perkataan semut itu menunjukkan bahwa bagindakagum dengan perkataan semut tersebut dan tidak memarahi semut dimaksud,malah baginda bersyukur kepada Allah SWT atas kelebihan yang dimiliki olehbaginda. Oleh karena itu Senyumnya Nabi Sulaiman itu tidak menunjukkan tandamarah, karena ada juga senyum tetapi bermaksud mencela atau marah.12 Justru,apabila dikembalikan kepada permasalahan diam, ia juga sama seperti senyum diatas, dapat disimpulkan bahwa diam yang menunjukkan setuju atau tidak setujuitu mempunyai kriteria-kriteria tersendiri. Itulah yang menjadi asas penting untukmenentukan bahwa seorang gadis atau perawan itu setuju atau tidak untukmenikah dengan lelaki yang melamarnya.

Selain itu, kriteria diam yang menunjukkan tanda tidak setuju jugadidasarkan kepada peristiwa yang terjadi kepada Rasululllah SAW seperti yangtelah dirangkumkan penjelasannya yang panjang dalam kitab Shahih Bukhari,13

yaitu setelah Nabi Muhammad SAW menceraikan istrinya Hafsah, karena istrinyatelah melakukan kesalahan yang mengundang kemurkaan baginda. Berita tersebutsampai kepada Saidina Umar r.a, maka Umar r.a pergi berjumpa denganRasulullah SAW pada waktu pagi. Pada waktu itu Rasulullah SAW mengasingkandiri dalam sebuah kamar dan memberitahukan kepada pembantu baginda agartidak membolehkan siapa pun masuk ke kamar tersebut untuk bertemu denganbaginda. Ketika itu, Umar r.a menemui pembantu baginda untuk meminta izinmasuk bertemu dengan baginda. Namun setelah pembantu Rasulullah SAWbertemu dan menyatakan hajat Umar tersebut, Rasulullah SAW hanya diam dantidak berkata apa pun. Hanya setelah beberapa hari, akhirnya Rasulullah SAWmau bertemu dengan saidina Umar r.a. 14

Dari peristiwa itu, saidina Umar r.a memahami bahwa diamnya RasulullahSAW ketika disampaikan keinginannya untuk bertemu dengan beliau merupakandiam karena marah. Kondisi Rasulullah SAW yang sedang marah itumenyebabkan baginda diam dan diam dengan sebab marah tjidak dapatdiindikasikan ssebagai setuju, bahkan menunjukkan sebaliknya. Hal ini sama

_____________12Abu Ishak al-Hawaini al-Asri Hijazi Muhammad Syarif, Durus al-Syaykh Abu Ishak Al-Hawaini,

hlm. 11.13Abi Abdullah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Matan al-Bukhari Maskul, Jilid 3, ( Dar Syub:

Bierut, t.t), hlm 208-209.14Abu Ishak al-Hawaini al-Asri Hijazi Muhammad Syarif, Durus al-Syaykh Abu Ishak al-Hawaini,

Jilid 17, hlm 4.

Nasaiy Aziz : Diam Gadis sebagai Indikasi Persetujuan Nikah32

seperti melihat persetujuan gadis dalam pernikahannya. Meskipun gadis tersebutdiam, itu tidak boleh langsung dianggap setuju sebelum dipastikan maksud dibalikdiamnya tersebut .

Tetapi, Saidina Umar menganggap diam Rasulullah SAW ketika itusebagai tanda setuju dan mengizinkan beliau menyambung bacaannya. Olehkarena itu hadits tersebut menjadi dalil bahwa diam Rasulullah SAW ketika itutidak berarti setuju. Hal ini menunjukkan bahwa adanya perbuatan diam yangmembawa maksud tidak setuju atau tidak memberikan keizinan. Namun tetap sajatidak berlawanan dengan hadits Rasulullah SAW tentang keizinan perawan itudengan diam, tetapi ia menjadi bukti bahwa adanya diam yang menunjukkansebagai tidak setuju.

Selanjutnya, dalam kitab Fath Al-Bari juga dinyatakan bahwa para ulamaberbeda pendapat apabila si gadis tidak berbicara atau bahkan memperlihatkantanda-tanda marah dan suka sekaligus, misalnya tersenyum atau menangis.Menurut Malikiyah, jika dia lari atau menangis atau berdiri, atau memperlihatkantanda ketidak senangan yang lain maka ia tidak boleh dinikahkan. Sedangkanmenurut Asy-Syafiyah, semua itu tidak memberi pengaruh terhadap laranganpernikahan, kecuali misalnya ia menangis disertai berteriak atau menjerit.Sebagian mereka membuat perincian, bila air matanya hangat maka inimenunjukkan tidak setuju, bila air mata itu dingin maka itu menunjukkan tandapersetujuan.15

Dalam kitab fiqih karangan Wahbah az-Zuhaili, dinyatakan bahwa jikaseorang perempuan perawan, maka rasa ridhanya dia ungkapkan dengan caradiam, karena anak perawan biasanya merasa malu untuk mengungkap rasaridhanya untuk kawin secara terang terangan. Dia cukup tunjukkan rasa ridhadengan diamnya untuk menjaga rasa malunya. Menurut Mazhab Maliki,disunahkan memberitahu kepadanya bahwa diamnya adalah tanda keridhaan danizinnya. Karena dia tidak dikawinkan jika dia menolak. Perumpamaan diamadalah setiap perbuatan yang menunjukkan rasa ridha, seperti tertawa bukandengan nada ejekan. Tersenyum dan menangis dengan tanpa suara, atau teriakanatau memukul pipi. Jika senyuman atau tertawa dengan tujuan untuk mengejek,dan tangisan dengan teriakan atau pukulan pipi, tidak cukup dan tidak dianggapsebagai izin ataupun jawaban karena dia berasa tidak rela. Jika diamengungkapkan rasa ridhanya secara terang terangan setelah itu makaterlaksanalah akad pernikahan.16

Berdasarkan keterangan di atas, dapat dinyatakan di sinni bahwa kriteriadiam itu perlu dilihat dari dua sisi, yaitu diam tanda setuju dan diam tanda tidaksetuju. Kriteria di antara keduanya adalah berbeda, karena diam tanda setuju itubiasanya akan disertai ciri-ciri yang menunjukkan seorang gadis itu setuju danmenyukai akan pernikahannya itu, seperti menangis disertakan dengan air matadingin dan dia hanya tunduk atau tersenyum malu. Demikian juga kriteria diamyang merupakan tidak setuju, maka ciri-cirnya akan memperlihatkan bahwa gadistersebut tidak menyukai pernikahan dimaksud. Sebagai contoh, gadis tersebutmenjerit-jerit, menangis disertai dengan memukul badannya atau tidakmenunjukkan minat pada pernikahannya.

_____________15Falih bin Muhammad bin Falih Ash-Shughayyir, Majelis Wanita Pesan dan Wasiat Rasulullah

Untuk Kaum Wanita, hlm. 329.16Wahbah az-Zuhaili, Fiqih Islam Wa Adillatuhu, Jilid 9, hlm. 200.

Al-Muashirah Vol. 12, No. 1, januari 2015 33

PEMAHAMAN AHLI HADITS17 TENTANG MAKNA SUKUT (DIAM)SECARA KONTEKSTUAL.

Andaikata hadits-hadits yang berbicara tentang keizinan gadis untukmenikah di atas hanya dipahami secara tekstual, maka sudah cukup jelas bahwatanda persetujuan seorang gadis itu cukup dilihat kepada sikap diam mereka. Parafuqaha juga sudah jelas mengatakan bahwa indikasi setuju mereka diukur padadiam tersebut, karena secara umum diangga seorang gadis sangat malu dalam soalpernikahannya. Namun sebaliknya, bila hadits-hadits tersebut, dipahami secarakontekstual, munkin ada makna lain di balik sikap diam seorang perawan itusendiri .

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab syarahnya Fathul Baari, menjelaskanbahwa pembahasan tentang diam ini dinyatakan oleh imam al-Bukhari dalam babSeorang bapak dan selainnya tidak boleh menikahkan perempuan perawanmaupun janda kecuali atas keridhaan keduanya. Hal ini karena al-Bukharibertujuan untuk menyebutkan persyaratan keridhaan perempuan yang hendakdinikahkan. Sebagaimana diketahui, izin dari seorang perawan itu adalah dengansikap diamnya, itulah yang dipahami dari makna teks hadits, karena rasa maluyang senantiasa menghambat para perawan untuk berbicara secara terus terang.Oleh karena itu banyak dari mereka lebih bersikap diam. Namun, ia masih tampaktidak jelas, maka lebih baik mereka diberi tempo waktu atas sikap diamnya itu,sehingga dapat diyakini bahwa diamnya itu benar-benar merupakan tandakeizinan dan keridhaan darinya, Sehingga saat itu para wali tidak ada hambatanlagi untuk menikahkannya.18

Dalam penjelasan hadits Shahih Bukhari juga disebutkan pendapat IbnuMunzir yang menyatakan bahwa perlunya diketahui bahwa diamnya perawantersebut benar-benar menunjukkan keridhaannya. Sebab pemberitahuan kepadagadis sebelum dinikahkan bahwa diam tersebut menunjukkan setuju merupakansuatu anjuran saja. Akan tetapi apabila ia menyatakan tidak mengetahui bahwadiamnya dianggap ridha pada saat telah dinikahkan, pernikahan itu tetap sahmenurut jumhur ulama. Namun menurut sebagian ulama Malikiyah pernikahantersebut menjadi batal. Ini menunjukkan bahwa, Ibnu Munzir meyakini bahwaadanya diam yang bukan bermaksud setuju dari perawan tersebut. Sementara IbnuSyuban salah seorang dari ulama madzhab mereka menambahkan, hendaknyaditanya kepada perawan tersebut sebanyak tiga kali, jika sekiranya perawantersebut ridha, maka hendaknya dia diam, namun jika tidak, hendaknya gadis ituberbicara atau mengatakan langsung.19 Selain itu, sebagian lagi ulama dari merekaberkata, hendaklah diperlama keberadaan di sisinya agar tidak merasa malu, dan

_____________17Ibnu Taimiyah menjelaskan Ahli hadits ialah orang-orang yang memerhatikan hadits Rasulullah

SAW, baik dari segi riwayat maupun dari segi dirayah. Mereka mencurahkan segala kemampuan untukmengkaji hadits-hadits nabi dan periwayatannya, mengikuti isinya berupa ilmu dan amal, serta menjalankansunnah dan menjauhi bidah. Beliau juga menambahkan bahwa ahli hadits itu bukan terbatas pada orang-orang yang mendengar, menulis atau meriwayatkan hadits saja, tetapi mencakupi semua orang yang lebihpatut memelihara, mengetahui, memahami dan mengikutinya secara lahir batin. Lihat, Abdul Rahman binMuhammad bin Qasim al-Ashimi an-Najdi Hanbali, Majmu Fatawa Syaikh Islami Ahmad bin Taimiyah,Jilid 4, (hlm. 91-95.

18Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Baari Syarah Shahih al-Bukhari, (terj. Amiruddin), (Jakarta:Pustaka Azzam, 2008), hlm. 313.

19Muhammad bin Ismail al-Amir ash-Shanani, Subulus as-Salam Syarah Bulughul Maram, (terj.Muhammad Isnan, Ali Fauzan, Darwis), Cet. 6, (Jakarta: Darus Sunnah, 2011), hlm. 631.

Nasaiy Aziz : Diam Gadis sebagai Indikasi Persetujuan Nikah34

rasa malu itu dapat mencegahnya memberikan jawaban secepatnya20 yangmungkin akan menyebabkan dia keliru atau salah dalam memberikan jawaban.

Hal ini memberikan gambaran bahwa para wali tidak boleh langsungberkesimpulan bahwa diam anak mereka itu sebagai tanda persetujuannya, tetapiseharusnya perlu diberi waktu untuknya berpikir secara rasional serta tidakterburu-buru dalam membuat keputusan. Menanyakan kepada perawan sebanyaktiga kali itu adalah untuk memastikan bahwa setiap jawaban yang diberikan olehperawan itu adalah yang betul dan tidak dipengaruhi oleh unsur lain sepertipemaksaan atau tekanan.

Selain itu, jika sekiranya para wali ingin menikahkan anaknya denganseorang lelaki yang datang melamar, maka para wali sebaiknya tidak hanyasekadar meminta persetujuan dari anaknya saja, tetapi haruslah memberitahupengenalan secara menyeluruh, tentang calon lelaki yang melamarnya itu sepertiusia, keelokan, kedudukan, nasab, profesi dan lain-lainnya yang dapatmendatangkan kemaslahatan untuk perawan dimaksud.21 Hal ini akan memberipengaruh kepada persetujuan atau tidaknya perawan tersebut, karena mereka jugamempunyai hak untuk memilih dan mendapatkan yang terbaik untuk diri merekasendiri.

Sebagian pengikut mazhab al-Zhahiri juga mengatakan bahwa hadits diatas tidak boleh dijadikan landasan untuk menikahkan perempuan hanyaberdasarkan makna zahir sabda nabi tersebut yaitu izinnya adalah diam.22Walaupun tiada penjelasan yang lebih lanjut tentang pendapat pengikut al-Zhahiriini, namun dari kalangan mereka yang memahami secara tekstual jugamemberikan gambaran bahwa diam itu tidak hanya menunjukkan persetujuanperawan dalam pernikahannya.

Menurut Imam Nawawi, dalam syarah Shahih Muslim, mengenai haditsRasulullah SAW yang mengatakan izinnya adalah diamnya bermaksud bahwadiamnya seorang perawan itu sudah cukup dianggap sebagai izinnya secarazahirnya. Hal ini karena mayoritas ulama berpendapat diam perawan itu sudahcukup sebagai izin karena perawan itu kebiasaannya adalah pemalu. Hal ini lebihkhusus sekiranya wali perawan tersebut adalah ayah atau kakeknya. Namunsekiranya, yang menjadi wali itu bukan ayah atau kakeknya, maka sang perawanharus berbicara untuk menunjukkan keizinannya. Ini karena rasa malu yangdimiliki seorang perawan terhadap ayah dan kakeknya lebih besar daripada yanglainnya. Tetapi tetap saja pendapat yang shahih itu menurut mayoritas ulamaadalah bahwa diam itu sudah cukup sebagai izin perawan dan ia berlaku untuksemua wali tanpa membedakan siapapun walinya.23

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih Muslimjuga sangat jelas membedakan antara seorang perempuan janda dan perawan,yaitu seorang janda itu lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkanseorang perawan itu harus dimintai persetujuannya. Walaupun pendapat yangshahih menurut Imam Nawawi yaitu diamnya perawan itu menunjukkan tandasetuju namun ia hanya berdasarkan keumuman hadits tersebut. Hal ini_____________

20Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Baari Syarah Shahih al-Bukhari Buku 25, hlm. 315.21Abdurrahman bin Shalih Ali Bassam, Syarah Hadits Pilihan Bukhari-Muslim, (terj. Kathur

Suhardi), Cet. 4, (Jakarta: Darul Falah, 2005), hlm. 762.22Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Baari Syarah Shahih al-Bukhari Buku 25, hlm. 319.23Imam An-Nawawi, Shahih Muslim Bi Syarh an-Nawawi, (terj. Ahmad Khotib), Cet. 1, (Jakarta:

Pustaka Azzam, 2011), hlm. 577-579.

Al-Muashirah Vol. 12, No. 1, januari 2015 35

menunjukkan bahwa ada maksud lain yang tidak disebutkan secara khusus tentangmaksud hadits itu.24 Di sinni dapat dipahami bahwa keumuman tersebut sebagaimakna teks hadits.

Sedangkan, menurut mazhab Maliki yang dikutip dalam kitab AunulMabud syarah Sunan Abu Dawud, disunahkan untuk memberitahu kepadaperawan bahwa diamnya itu adalah tanda keridhaannya, karena dia tidak akandinikahkan jika dia menolak atau dengan berkata aku tidak merasa ridha, atauaku tidak mau kawin atau kalimat lain yang memiliki makna yang sama.Mazhab ini juga mengumpamakan diam itu sebagai perbuatan yang menunjukkanrasa ridha, seperti tertawa dengan bukan nada ejekan, tersenyum dan menangisdengan tanpa suara, atau teriakan atau pukulan pipi. Namun, jika senyuman atautertawa itu dengan tujuan untuk mengejek, dan tangisan dengan teriakan ataupukulan pipi, maka ia tidak dianggap sebagai izin ataupun jawaban keridhaanperawan tersebut.25 Namun menurut madzhab syafiI, hal-hal tersebut tidakmemberi pengaruh apapun, kecuali jika tangisan disertai teriakan, atau yangsepertinya. Sebagian lainnya membedakan hal ini dengan air mata, apabila panasberarti dia menolak dan jika dingin berarti dia ridha.26 Sementara Ibnu Abdil Barrmenukilkan dari Malik, bahwa diamnya seorang gadis sebelum pemberian izindan penyerahan diri kepada walinya untuk dinikahkan tidak berarti persetujuandarinya, tetapi jika hal itu dilakukan setelah penyerahan diri kepada walinya, diamitu adalah tanda setuju.27

Imam Malik juga membahas tentang persetujuan atau keridhaan perawandalam kitab al-Mudawwanah al-Kubra. Dalam bab keridhaan perawan dan janda,beliau menyatakan bahwa diam perawan itu adalah redha yang bermaksud setuju,dan sekiranya seorang ayah menikahkan anak gadisnya maka pernikahan tersebutsah walaupun anak gadis tersebut mengingkari pernikahan dimaksud. Namundijumpai riwayat lain yang juga dari riwayat Malik, diamnya seorang gadis itudikatakan ridha atau setuju apabila disertai dengan syarat, yaitu apabila gadistersebut mengetahui bahwa diamnya itu bermakna setuju.28

Selanjutnya, Imam Malik menyebutkan, dalam pernikahan dini yaituseorang perempuan dinikahkan sewaktu usianya masih dini. Oleh karena diamasih seorang yang dini, maka dia tidak tahu bahwa diamnya dia ketika walinyamau menikahkannya itu merupakan tanda persetujuannya. Maka, sewaktupernikahannya, dia melarikan diri karena dia sebenarnya tidak setuju untukdinikahkan. Beliau juga menyatakan mengenai wali yang menikahkan tanpasepengetahuan perempuan tersebut. Walinya setuju untuk menikahkan anakperempuannya selepas mengadakan musyawarah dengan pihak lelaki, namunmusyawarah tersebut tidak disertai oleh perempuan yang akan dinikahkan.29 Halini baru diketahui oleh perawan tersebut ketika sudah selesai diijabkabulkan.Berdasarkan pendapat Imam Malik di atas, maka ia menunjukkan bahwa Imam

_____________24Ibid.25Abi Tayyib Muhammad Shamsul Hak al-Azim Abadi, Aunul Mabud Syarah Sunan Abu Dawud,

Jilid 6, (Li al-Thaba`Ah Wa Al-Nasru Wa al-Tauri: Dar al-Fikr, t.t), hlm. 119.26Ibid.27Imam Muhammad asy-Syaukani, Nailul Authar, Jilid 6, (terj. KH. Adib Bisri Musthofa dkk),

(Semarang: CV. Asy-Syiafa, 1994), hlm. 483.28Imam Malik bin Anas al-Asbahi, al-Mudawwanah al-Kubra, Jilid 2, (Beirut: Dar al-Kutb al-

Ilmiyah, t.t), hlm. 102.29Ibid.

Nasaiy Aziz : Diam Gadis sebagai Indikasi Persetujuan Nikah36

Malik berpandangan tidak hanya tertumpu kepada makna zahir hadits sematayang menyatakan bahwa diamnya perawan itu merupakan tanda setuju.

Berdasarkan beberapa pandangan tersebut, ahli hadits serta ulama tidaksekadar memahami hadits-hadits yang terdapat dalam kitab al-Kutub al-Sittah ituseperti yang terdapat pada teks hadits saja, yaitu diam perawan itu merupakan izinatau keridhaan dia untuk dinikahkan oleh walinya, namun mereka juga memahamimakna secara kontekstual hadits-hadits tersebut yang menyatakan diam itu bukansekadar tanda setuju bahkan kadang-kadang juga mengandung pengertiansebaliknya.

Terlepas dari itu semua di sini dapat dinyatakan bahwa diam si gadis ataucalon pengantin perempuan ketika diajak wali untuk menikah belum berarti diasetuju. Hal ini mungkin disebabkan oleh berbagai faktir yang dihadapinya,misalnya saja keterbatasannya atau ketidaktahuan dia mengenai diam itubermaksud setuju. Boleh jadi juga faktor-faktor kejiwaan yang menyebabkan diatidak mau berbicara seperti perasaan takut, karena terpaksa, cemas dansebagainya. Justru itulah perlunya kepada penelitian terhadap faktor-faktorkejiwaan tersebut. Sekiranya diamnya itu disebabkan ketidaktahuannya, makadiam itu bermaksud netral yaitu bukan setuju dan juga bukan tidak setuju. Namun,sekiranya diamnya itu disebabkan oleh perasaan takut, terancam, tertekan,terpaksa dan sebagainya, berarti diam itu bermaksud penolakan atauketidaksetujuan secara tidak terang-terangan.

Hal ini menunjukkan bahwa kondisi sosial masyarakat arab pada masa itu,terutama golongan perawan atau anak gadis adalah pemalu, apalagi gadis padawaktu itu dipingit dan tidak banyak bergaul dengan masyarakat luar. Mereka tidakmengikuti perkembangan sosial diluar dari rumah mereka. Namun Setelah dewasadan tiba saat dinikahkan, ia menjadi penyebab kesukaran untuknya menentukansendiri calon suami, akibat tidak mendapat pendedahan atau pengetahuan yangluas tentang laki-laki dan hal yang berkait dengan pernikahan.

Banyak di antara umat Islam yang menggunakan pemahaman hadis-hadistersebut secara tekstual semata dibandingkan dengan menilai dan meneliti denganlebih mendalam dan cermat hadits tersebut. Apalagi untuk diaplikasikan padamasyarakat sekarang yang mayoritasnya lebih bersifat terbuka serta yangperempuannya tidak lagi sekadar menjadikan rumahnya adalah dunia mereka.Menurut penulis, hadits ini jika dipahami secara kontekstual, akan menampakkanbahwa Islam itu memberi penghormatan yang cukup besar kepada wanitasehingga dalam urusan pernikahannya, ia tidak menjadi milik mutlak seorang waliatau penjaga seperti yang dipahami sebelumnya. Meskipun wali itu mempunyaihak atas wanita yang masih perawan, namun dalam Islam telah digariskan bahwawanita juga mempunyai hak dalam urusan pernikahannya. Dia berhak untuksetuju atau tidak setuju dengan pilihan walinya.

Selain itu, persetujuan gadis atau perawan dengan tanda diam juga perludilihat dari dimensi yang berbeda dari pandangan fuqaha terdahulu. Karena,memahami hadits-hadits tersebut secara mutlaq merupakan suatu faktor yangmungkin akan berdampak negatif yang bukan sedikit risiko yang terpaksaditanggung oleh gadis tersebut sekiranya pernikahannya dengan orang yang tidakdisetujuinya berakhir dengan perceraian. Apalagi jika dinilai dari sudut pandangmasyarakat pada hari ini, golongan perempuan itu tidak lagi seperti kebanyakanperempuan pada wakt