Jenis2 Dan Pasien Yg Beresiko Interaksi Obat (Pertemuan 2)

Click here to load reader

  • date post

    04-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    37
  • download

    13

Embed Size (px)

description

pdf

Transcript of Jenis2 Dan Pasien Yg Beresiko Interaksi Obat (Pertemuan 2)

  • JENIS_JENIS INTERAKSI BESERTA MEKANISME INTERAKSI DAN PASIEN YANG BERESIKO TERJADINYA INTERAKSI

  • TIPE INTERAKSI OBAT

    1. Interaksi Farmakokinetik2. Interaksi Farmakodinamik3. Interaksi Farmasetika

  • INTERAKSI FARMAKOKINETIK

    Faktor yang berpengaruh:Faktor yang berpengaruh:Faktor yang berpengaruh:Faktor yang berpengaruh: pH lambung adsorpsi, khelasi dan mekanisme pembentukkan kompleks lain waktu pengosongan lambung

    Sebagian besar interaksi yang berkaitan dengan absorbsi, tidak bermakna secara klinis dan dapat diatur dengan memisahkan waktu pemberian obat, biasanya dengan selang waktu minimum 2 jam.

    Contoh Metoklorpropamid mempercepat waktu pengosongan lambung, sedangkan opiat memperlambat waktu pengosongan lambung.

    ABSORBSI

  • Berhubungan dengan ikatan obat-protein Interaksi pendesakan obat terjadi bila dua obat berkompetisi

    pada tempat ikatan dengan protein plasma yang sama. Hal ini akan mengakibatkan peningkatan sementara konsentrasi obat bebas (aktif), biasanya peningkatan tersebut diikuti dengan peningkatan metabolisme atau ekskresi.

    Interaksi ini melibatkan obat-obat yang ikatannya dengan protein tinggi, misalnya fenitoin, warfarin dan tolbutamid.

    Bagaimanapun, efek farmakologi keseluruhan minimal kecuali bila pendesakan tersebut diikuti dengan inhibisi metabolik.

    DISTRIBUSI

  • Banyak obat dimetabolisme di hati, terutama oleh sistem enzim sitokrom P450 monooksigenase.

    Induksi enzim oleh suatu obat dapat meningkatkan kecepatan metabolisme obat lain dan mengakibatkan pengurangan efek. Induksi enzim melibatkan sintesa protein, jadi efek maksimum terjadi setelah 2-3 minggu.

    Sebaliknya, inhibisi enzim dapat mengakibatkan akumulasi dan peningkatan toksisitas obat lain. Waktu terjadinya reaksi akibat inhibisi enzim merupakan efek langsung, biasanya lebih cepat daripada induksi enzim.

    Contoh: warfarin dibersihkan dari tubuh melalui metabolisme. Hepatik penghambat enzim seperti simetidin dan antibiotik golongan makrolida (eritromisin, klaritomisin) memperkuat efek warfarin. Karbamazepin, barbiturat, fenitoin dapat menyebabkan kegagalan terapeutik warfarin.

    METABOLISME

  • Obat dieliminasi melalui ginjal dengan filtrasi glomerulus dan sekresi tubuler aktif. Jadi, obat yang mempengaruhi ekskresi obat melalui ginjal dapat mempengaruhi konsentrasi obat lain dalam plasma.

    Contoh: Metotreksat dan obat antiinflamasi nonsteroid (AINS) berkompetisi dalam ekskresi melalui ginjal peningkatan kadar metotreksat toksik

    Yang perlu diperhatikan tentang interaksi tipe ini adalah tergantung pada jumlah obat dan/atau metabolitnya yang diekskresi melalui ginjal.

    Asam lemah dan basa lemah berkompetisi pada bagian sistem transpor tubuler ginjal yang berbeda.

    ELIMINASI

  • INTERAKSI FARMAKODINAMIK a.a.a.a. SinergisSinergisSinergisSinergis

    dua obat yang bekerja pada sistem, organ, sel atau inti yang sama dengan efek farmakologi yang sama.

    b. Antagonisb. Antagonisb. Antagonisb. Antagonis

    terjadi bila obat yang berinteraksi memilki efek farmakologi yg berlawanan. Hal ini mengakibatkan pengurangan hasil yang diinginkan dari satu / lebih obat.

    c. Efek reseptor tidak Efek reseptor tidak Efek reseptor tidak Efek reseptor tidak langsunglangsunglangsunglangsung

    Kombinasi obat dapat bekerja melalui mekanisme saling mempengaruhi efek reseptor

    d. Gangguan cairan dan d. Gangguan cairan dan d. Gangguan cairan dan d. Gangguan cairan dan elektrolit elektrolit elektrolit elektrolit

    Interaksi obat dapat terjadi akibat gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.

  • INTERAKSI FARMASETIK

    Disebut sebagai Drug incompatibility yaitu tidak dapat bercampurnya obat interaksi yang terjadi karena adanya perubahan/reaksi fisika dan kimia antara 2 obat atau lebih yang dapat dikenal/dilihat,yang berlangsung diluar tubuh dan mengakibatkan aktivitas farmakologi obat tersebut hilang/berubah

    Contoh: hidrolisis, perubahan pH, degradasi sinar matahari

  • Pencegahan terhadap interaksi obat Farmakokinetik dan Farmakodinamik

    Waspada terhadap pasien yang memperoleh obat-obat yang mungkin dapat berinteraksi dengan obat lain, diantaranya yaitu :

    1. Hindari kombinasi obat dengan memilih obat pengganti

    2. Penyesuaian dosis obat

    3. Pemantauan pasien

    4. Interval waktu antara obat dan makanan5. Lanjutkan pengobatan seperti sebelumnya bila

    kombinasi obat yang berinteraksi tersebut merupakan pengobatan yang optimal atau bila interaksi yang terjadi tidak bermakna secara

    klinis.

  • 1. Hindari kombinasi obat Dengan memilih obat pengganti

    Jika resiko>manfaatnyaobat pengganti.

    Pemilihan obat pengganti tergantung pada interaksi obat: berkaitan dengan kelas obat atau merupakan efek obat yang spesifik.

    Contoh: Simetidin memperlambat metabolisme hepatic oksidatif obat dengan mengikat mikrosomal sitokrom P450 (menghambat enzim) sedangkan antagonis H2 yang lain, Ranitidin tidak bermakna dalam menghambat metabolisme hepatic mikrosomal obat.

  • 2. Penyesuaian dosis obat

    Jika hasil interaksi obat meningkatkan atau mengurangi efek obat, maka perlu dilakukan modifikasi dosis salah satu atau kedua obat untuk mengimbangi kenaikan atau penurunan efek obat tersebut.

    Contoh: dosis pemeliharaan glikosida jantung digoksin harus dikurangi menjadi setengahnya pada saat kita mulai memberikan Amiodaron (Antiaritmia).

  • 3. Pemantauan pasien Pemantauan diperlukan untuk pasien yang menggunakan obat

    pada penykit-penyakit tertentu, obat yang indeks terapi sempit, yang respon segaranya sulit diperkirakan, dan bila kadar obat dalam darah dan efek terapi diperkirakan saling berhubungan. Contoh obat-obat golongan glikosida jantung dan antiiotika golongan aminoglikosida.

    Jika kombinasi obat yang berinteraksi tersebut merupakan pengobatan yang optimal, atau bila interaksi tersebut tidak bermakna secara klinis. Maka dapat tetap digunakan kombinasi obat tersebut.

    4. Interval waktu obat dan makanan5. Lanjutkan pengobatan

  • Pencegahan interaksi farmasetik: Bacalah petunjuk pemakaian obat dari brosurnya Obat intravena diberikan secara suntikan bolus, kecuali

    cairan glukosa dan salin Hindari pencampuran obat dalam cairan infuse atau jarum

    suntik Mencampur cairan infuse dengan seksama dan amati

    adanya perubahan. Tdk ada perubahan belum tentu tdk ada interaksi

    Penyiapan larutan obat hanya kalau diperlukan Bila lebih dari 1 obat yang diberikan secara bersamaan,

    gunakan jalur infuse yang berbeda Jam pencampuran obat dan cairan infu harus dicatat dalam

    label. Dan tuliskan infus harus habis

  • CONTOH PENCEGAHAN 1. ADSORBEN dengan DIGOKSIN1. ADSORBEN dengan DIGOKSIN1. ADSORBEN dengan DIGOKSIN1. ADSORBEN dengan DIGOKSIN efek digoksin dapat berkurang. Akibatnya: Kondisi penderita tdk terkendali dgn baik. Pencegahan : Jarak penggunaan digoksin dengan adsorben tidak boleh kurang dari 2jam.

    2. DIFENOKSILAT(LOMOTIL) dengan DIGOKSIN2. DIFENOKSILAT(LOMOTIL) dengan DIGOKSIN2. DIFENOKSILAT(LOMOTIL) dengan DIGOKSIN2. DIFENOKSILAT(LOMOTIL) dengan DIGOKSIN efek dari digoksin dapat meningkat. Akibatnya : terlalu banyak digoksin aritmia jantungPencegahan : Efek ini dapat diperkecil bila obat jantung yang digunakan merupakan obat yang mudah larut seperti LANOXIN.

  • Contoh-Contoh Interaksi Obat 1. Warfarin dan Simetidin1. Warfarin dan Simetidin1. Warfarin dan Simetidin1. Warfarin dan Simetidin Interaksi yang terjadi yaitu farmakokinetik, jadi efek warfarin diperpanjang dan meningkat. Saran untuk interaksi ini yaitu dapat dilakukan dengan pemeriksaan nilai INR (International Normalized Ratio) secara rutin dan bila mungkin mengurangi dosis Warfarin. Pilihan lain dapat menggunakan antagonis H2 lain seperti Ranitidin yang tidak berinteraksi dengan Warfarin.

  • 2. Penghambat enzim pengubah angiotensin dan 2. Penghambat enzim pengubah angiotensin dan 2. Penghambat enzim pengubah angiotensin dan 2. Penghambat enzim pengubah angiotensin dan diuretika hemat kalium. diuretika hemat kalium. diuretika hemat kalium. diuretika hemat kalium. Interaksi yang terjadi yaitu farmakodinamik (gangguan kesetimbangan cairan dan elektrolit). Saran untuk interaksi ini : Bila perlu dosis dikurangi, atau salah satu obat dihentikan pemakaiannya dan diganti obat lain, misalnya dengan menggunakan loop diuretik (yang dapat menyebabkan hipokalemia) dan pertimbangkan pula untuk menggunakan kaptopril (penghambat enzim pengubah angiotensin yang hasil kerjanya pendek) pada pasien yang fungsi ginjalnya jelek.

  • 3. Eritromisin dan Teofilin3. Eritromisin dan Teofilin3. Eritromisin dan Teofilin3. Eritromisin dan Teofilin Tipe interaksi obat : Farmakokinetik (penghambatan

    enzim). Eritromisin menghambat metabolisme teofilina oleh hati; oleh sebab itu eritromisin mengurangi klirens teofilina dan meningkatkan konsentrasi teofilina dalam darah.

    Saran: pemantauan kadar Teofilin dalam darah diperlukan untuk menentukan apakah pasien tersebut berisiko mengalami keracunan akibat interaksi obat. Disarankan untuk mengurangi dosis teofilina bila pasien tersebut memperoleh pengobatan dengan eritromisina, namun semuanya bergantung pada kadar teofilina dalam darah.

  • 4. Makanan yang mengandung kalsium dan 4. Makanan yang mengandung kalsium dan 4. Makanan yang mengandung kalsium dan 4. Makanan yang mengandung kalsium dan tetrasiklintetrasiklintetrasiklintetrasiklin Makna klinis : merupakan interaksi yang sudah dikenal. Pengurangan kadar tetrasiklin dalam plasma dapat mencapai 50-80 %, menghasilkan efek antibiotika yang dapat diabaikan (tidak efektif). Saran : pemberian tetrasiklin dan makanan yang mengadung kalsium (atau antasida yang mengandung kalsium, aluminium, magnesium) harus dipisah. Biasanya, pasien disarankan untuk minum tetrasiklin satu jam sebelum makanan. Untuk mengatasi efek iritasi pada lambung, pasien disarankan untuk minum banyak air.

  • PASIEN YANG RENTAN TERHADAP INTERAKSI OBAT Orang lanjut usia Orang yang minum lebih dari satu

    macam obat Pasien yang mempunyai gangguan

    fungsi ginjal dan hati Pasien dengan penyakit akut Pasien dengan penyakit yang tidak

    stabil Pasien yang memiliki karakteristik

    genetik tertentu Pasien yang dirawat oleh lebih dari satu

    dokter

  • Pasien lanjut usia mempunyai resiko yang lebih tinggi , karena:

    1.Lebih berkemungkinan memperoleh terapi berbagai macam obat sehingga berpotensi gangguan fungsi ginjal dan hati.

    2.Kepatuhan pasien yang kurang3.Adanya gangguan degeneratif yang

    mempengaruhi banyak sistem dan mengganggu mekanisme kompensasi homeostatik.

  • Untuk memperkirakan akibat yang mungkin terjadi kombinasi dua atau lebih obat, seorang farmasis perlu memiliki:

    Pengetahuan praktis tentang mekanisme farmakologi yang terlibat dalam interaksi obat.

    Waspada terhadap obat-obat yang berisiko tinggi menyebabkan interaksi obat.

    Persepsi terhadap kelompok pasien yang rentan mengalami interaksi obat.

    PENANGANAN DAN PENANGANAN DAN PENANGANAN DAN PENANGANAN DAN PENANGGULANGAN PENANGGULANGAN PENANGGULANGAN PENANGGULANGAN

    INTERAKSI OBAT INTERAKSI OBAT INTERAKSI OBAT INTERAKSI OBAT

  • Penanggulangan interaksi obat1. Penambahan senyawa dari makanan Contoh :Fenitoin dengan vitamin D efek vitamin D

    berkurang defisiensi riketsia pada anak-anak. Cara penanggulangannya adalah memakan makanan yang kaya vitamin D dan cukup terkena sinar matahari.

    2. Mengeluarkan obat dari saluran cerna dengan cara merangsang muntah atau emesis, lavage, laksansia dan adsorben (contoh : norit, bersifat menyerap racun dan zat-zat lain dilambung).

    3. Dialisis Adalah suatu proses untuk membersihkan darah berguna

    untuk menghilangkan atau mengurangi zat-zat sisa metabolisme yang berbahaya.