Inovasi Teknologi Penangkapan Ikan Karang dengan Bubu Dasar

download Inovasi Teknologi Penangkapan Ikan Karang dengan Bubu Dasar

If you can't read please download the document

  • date post

    31-Jan-2017
  • Category

    Documents

  • view

    273
  • download

    33

Embed Size (px)

Transcript of Inovasi Teknologi Penangkapan Ikan Karang dengan Bubu Dasar

  • INOVASI TEKNOLOGI PENANGKAPAN IKAN KARANG DENGAN BUBU DASAR

    BERUMPON

    FONNY J.L RISAMASU

    SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

    BOGOR 2008

  • SURAT PERNYATAAN

    Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi dengan judul Inovasi

    Teknologi Penangkapan Ikan Karang dengan Bubu Dasar Berumpon adalah

    karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada Perguruan

    Tinggi dimanapun. Sumber informasi berasal dari hasil penelitian saya sendiri dan

    dikutip dari karya ilmiah yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan oleh penulis lain.

    Semuanya telah saya sebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka

    pada bagian akhir disertasi.

    Bogor, 6 Maret 2008

    Fonny J.L Risamasu

    NRP. C 561030041

  • ABSTRACT

    FONNY JOSANE LAURA RISAMASU. Innovation in fishing technology for reef fish: bottom trap with fish aggregating device. Under supervision of Mulyono S. Baskoro, M. Fedi A. Sondita, and Dedi Soedharma.

    The research was aimed to study fish behaviour and the influence of FAD on zone of influence of traps, and studying the influence of FAD on the fish caught using traps in terms of the species, number and size. This study was conducted in Hansisi waters, Semau, Kupang.

    The research observed periphyton shelter to FAD attractor made from lontar leaves (Borrasus flabellifer) and gewang leaves (Corypha gebanga). The observation on the community of reef fish and their behaviour around zone of influence of traps with FAD and without FAD using visual census method. The data observed on the FAD and traps included number of fish, radius, length of time, swimming and movement pattern of reef fish. The observation reef fish species behaviour inside and outside the traps was carried out in a fish cage. The catch traps was obtained from experimental fishing which was done at night and during the day. The data collected were fish species, number and size. In addition, the measurement of environmental parameter on research site was also conducted. The data analysis was carried out to find out periphyton density, diversity, similarity, and periphyton dominance and reef fish, abundance of reef fish, and to see the difference between fish catch using traps with FAD and without FAD using statistical analysis t test.

    The research shows that the FADs were able to attract reef fish as seen from existence of food web through the presence of periphyton. This made the FADs feeding sites for reef fish. The periphyton composition varied among the attractors Borrasus flabellifer and Corypha gebanga, but was dominated by Bacillariophyceae. The periphyton consisted of 87 spesies (71 genus, 31 family and 15 class). The most abundant periphyton species were Leptocylindrus sp on Borrasus flabellifer and Chroococcus sp on Corypha gebanga.

    There were 1190 individuals of reef fishes consisting of 62 species (42 genus and 22 families) around the FADs and around the traps were 1230 fish individuals consisting of 47 species (34 genus and 20 families). The fish of major groups dominated the fish asemblages both around the FADs and the traps

    The distance between the reef fish to the FAD and traps commonly ranged from 1 to 2 m; the time spent by the fish around the FADs and traps was commonly more than 30 minutes. The fish swam around the FADs and the traps were commonly soliter, while the their movement were commonly from the front side of the traps (funnel side) then up and down movement, either above or beside the FADs and the traps. The reef fish that approached the FADs and the traps became generally the residents of the FADs and the traps. Reef fish influenced by the traps within four positions, these are near surface, above the traps, beside the traps and near the seabed. The behavior pattern of the reef fishes around the traps, the time needed before entering the traps and the time before escaping from traps varied among fish species.

  • The fish caught by the traps consisted of 107 species (54 genus and 22 families). In the location where soft corals were abundant, the traps without FAD caught more species than the traps near small FADs. In general, most fish caught were immature; the largest reef fish caught by the traps was Cephalopolis miniata. The three most abundant fish species were Chaetodon kleinii and Ctenochaetus striatus, and Scarus ghobban. In the location dominated by hard corals, the two most dominant genus caught by the traps with FAD and without FAD in at night were Chaetodon and Ctenochaetus while for the day catch were Chaetodon and Cheilinus. In the location dominated by soft corals, the night catch was dominated by Chaetodon and Cheilinus while the day catch was dominated by Chaetodon, Cheilinus and Siganus. There was no significant difference in the total catch commonly between the three types of fishing methods (with small FADs, with big FADs, and without FAD) at night and the day time (t test, = 0,05).

    Key words: Innovation, fishing technology, reef fish, bottom traps, FAD.

  • RINGKASAN

    FONNY JOSANE LAURA RISAMASU. Inovasi Teknologi Penangkapan Ikan Karang dengan Bubu Dasar Berumpon. Di bawah bimbingan: Mulyono S. Baskoro, M. Fedi A. Sondita, dan Dedi Soedharma.

    Penelitian bertujuan untuk mengkaji tingkah laku ikan dan pengaruh rumpon terhadap zona pengaruh (zone of influence) alat tangkap bubu, dan mengkaji pengaruh rumpon terhadap ikan hasil tangkapan bubu baik jenis, jumlah, maupun ukuran. Penelitian ini dilaksanakan di perairan Hansisi, Semau, Kupang.

    Penelitian ini mengamati perifiton yang menempel pada atraktor rumpon yang terbuat dari daun lontar (Borassus flabellifer) dan gewang (Corypha gebanga). Pengamatan komunitas ikan karang serta tingkah lakunya di sekitar zona pengaruh (zone of influence) alat tangkap bubu dioperasikan bersama rumpon dan tanpa rumpon menggunakan metode sensus visual. Data yang diamati di rumpon dan bubu meliputi jumlah ikan, radius, lama waktu, pola renang dan pola gerak ikan karang. Pengamatan tingkah laku setiap spesies ikan karang di luar dan di dalam bubu dilakukan dalam ruang tertutup di dalam keramba. Hasil tangkapan bubu diperoleh melalui uji coba penangkapan (experimental fishing) yang dilakukan pada malam dan siang hari. Data yang dikumpulkan meliputi jenis, jumlah dan ukuran ikan. Selain itu, dilakukan juga pengukuran parameter lingkungan lokasi penelitian. Data yang dianalisis meliputi kepadatan perifiton, keragaman, keseragaman dan dominansi perifiton dan ikan karang, serta untuk melihat perbedaan hasil tangkapan bubu menggunakan rumpon dan tanpa rumpon dianalisis pakai statistik uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumpon mampu mengumpulkan ikan karang sebagaimana terlihat dari akumulasi berbagai jenis ikan di sekitarnya. Pada bagian atraktor rumpon tumbuh komunitas perifiton yang potensial sebagai makanan bagi sebagian jenis ikan yang berkumpul. Perifiton didominasi oleh kelas Bacillariophyceae, namun komposisi perifiton berbeda diantara kedua jenis atraktor, yaitu atraktor lontar (Borassus flabellifer) dan gewang (Corypha gebanga). Pada rumpon lontar, jenis perifiton dominan adalah Leptocylindrus sp. sedangkan pada rumpon gewang/gebang adalah Chroococcus sp.

    Ikan karang berkumpul di rumpon sebanyak 1190 individu, terdiri atas 62 spesies (42 genus dan 22 famili), di bubu sebanyak 1230 individu, terdiri atas 47 spesies (34 genus dan 20 famili). Kelompok ikan karang dari famili utama (mayor)mendominasi hasil tangkapan di rumpon dan bubu.

    Jarak (radius) ikan karang dari rumpon dan bubu umumnya masing-masing antara 0 2 m. Lama waktu ikan hadir di sekitar rumpon dan bubu umumnya lebih dari 30 menit (menetap). Pola renang ikan karang di sekitar rumpon dan bubu umumnya bersifat soliter. Ikan umumnya bergerak mendekati rumpon/bubu dari arah depan rumpon/depan mulut bubu, kemudian bergerak naik turun dan berada di atas dan di samping rumpon/bubu. Zona pengaruh (zone of influence) bubu terhadap ikan ada pada empat posisi, yaitu ikan berada dekat permukaan, pertengahan, di samping

  • dan di dasar bubu dan rumpon. Tingkah laku ikan karang di luar bubu, lama waktu ikan karang masuk dan meloloskan diri dari dalam bubu berbeda menurut jenis ikan.

    Hasil tangkapan bubu terdiri atas 107 spesies (54 genus dan 22 famili). Di lokasi yang didominasi oleh karang lunak (L2), bubu tanpa rumpon mempunyai hasil tangkapan lebih banyak dibandingkan dengan hasil tangkapan dari bubu rumpon kecil. Ikan-ikan yang tertangkap umumnya tergolong masih muda. Jenis ikan karang terpanjang yang tertangkap adalah Cephalopolis miniata. Tiga jenis ikan yang paling banyak tertangkap adalah Chaetodon kleinii, Ctenochaetus striatus dan Scarus ghobban. Di lokasi yang didominasi karang keras (L1), dua genus ikan karang yang banyak tertangkap pada malam hari oleh bubu, baik dengan rumpon maupun tanpa rumpon, adalah Chaetodon dan Ctenochaetus, sedangkan jenis ikan yang banyak tertangkap pada siang hari adalah Chaetodon dan Cheilinus. Di lokasi yang didominasi karang lunak (L2), genus ikan karang yang banyak tertangkap pada malam hari adalah Chaetodon dan Cheilinus, sedangkan pada siang hari adalah Chaetodon, Cheilinus dan Siganus. Hasil tangkapan bubu pada malam dan siang hari umumnya tidak berbeda nyata di antara ketiga jenis metode penangkapan ikan (dengan rumpon kecil, rumpon besar, dan tanpa rumpon) hasil uji t, = 0,05. Kata kunci : Inovasi, teknologi penangkapan, ikan karang, bubu dasar, rumpon.

  • @Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2008

    Hak Cipta dilindungi Undang-undang

    1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan

    atau menyebutkan sumber

    a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan

    ka