HUBUNGAN SMARTPHONE ADDICTION DENGAN smartphone, atau yang disebut dengan . smartphone addiction....

download HUBUNGAN SMARTPHONE ADDICTION DENGAN smartphone, atau yang disebut dengan . smartphone addiction. Smartphone

of 30

  • date post

    19-Aug-2020
  • Category

    Documents

  • view

    5
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of HUBUNGAN SMARTPHONE ADDICTION DENGAN smartphone, atau yang disebut dengan . smartphone addiction....

  • HUBUNGAN SMARTPHONE ADDICTION DENGAN PROKRASTINASI

    AKADEMIK PADA SISWA/SISWI PENGGUNA SMARTPHONE DI

    SMA N 105 JAKARTA

    OLEH :

    DINAR MARGIA TANAYA

    802013171

    TUGAS AKHIR

    Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Guna Memenuhi Sebagian Dari Persyaratan

    Untuk Mencapai Gelar Sarjana Psikologi

    Program Studi Psikologi

    FAKULTAS PSIKOLOGI

    UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

    SALATIGA

    2017

  • 1

    PENDAHULUAN

    Prokrastinasi dapat terjadi pada setiap bidang kehidupan, salah satunya pada bidang

    pendidikan. Prokrastinasi yang dilakukan pada bidang pendidikan dinamakan prokrastinasi

    akademik dan banyak dilakukan oleh pelajar atau mahasiswa. Djamarah (2002) mengatakan

    bahwa selama menuntut ilmu di lembaga pendidikan formal baik pelajar maupun mahasiswa,

    tidak akan terlepas dari keharusan mengerjakan tugas-tugas studi. Tugas-tugas tersebut sangat

    penting untuk dikerjakan bagi siswa dan siswi di sekolah. Menurut Xu & Yuan (2003) sebagian

    besar siswa sekolah menengah mengerjakan tugas setiap malam, dan orang tua serta guru

    meyakini bahwa mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah memiliki peran penting dalam proses

    belajar, prestasi, dan pengembangan keterampilan. Apabila pelajar tidak mengerjakan tugas,

    maka akan berpengaruh pada nilai yang diperoleh atau bahkan dapat menyebabkan tidak naik

    kelas. Namun, menunda-nunda mengerjakan tugas masih tetap dilakukan oleh pelajar.

    Menghindar dari tugas, menjanjikan untuk mengerjakan nanti, menggunakan berbagai alasan

    untuk membenarkan penundaan tersebut serta mencegah dirinya disalahkan oleh orang lain

    merupakan tanda bahwa seseorang melakukan prokrastinasi akademik (Knaus, 2010).

    Menurut Frings (2003) seseorang melakukan prokrastinasi karena tidak ingin

    melakukannya, tugas yang diberikan terlalu berat, dan tugas tidak berada pada prioritas yang

    harus dikerjakan. Penudaan tugas juga terjadi karena mengerjakan tugas butuh usaha yang

    banyak dan menimbulkan kecemasan bahkan tugas dinilai sebagai tugas yang tidak

    menyenangkan (Scher & Osterman, 2003). Beberapa penelitian tentang pelajar yang

    melakukan prokrastinasi menemukan bahwa prokrastinasi menyebabkan stres, bahkan

    menimbulkan perasaan cemas dan bersalah (Ferrari, Johnson, & Mccown 1995). Prokrastinasi

    dinilai memberikan pengaruh negatif dalam fungsi akademik (Klassen dkk, 2009).

  • 2

    Prokrastinasi dapat disebabkan oleh beberapa faktor psikologis, seperti efikasi diri

    (Seo, 2008; Wolters, 2003), regulasi diri (Senécal & Koestner, 2012), perfeksionisme

    (Onwuegbuzie, 2000), motivasi (Lee, 2005) dan fail of failure (Elliott & Thrash, 2004).

    Penelitian yang dilakukan oleh Klassen & Kuzucu (2009) mengatakan bahwa mereka yang

    menunda mengerjakan tugas, menghabiskan waktunya dengan media elektronik, seperti

    menonton televisi, mengirim e-mail, online media sosial dan bermain game di komputer.

    Penggunaan media merupakan salah satu faktor yang juga dapat menyebabkan seseorang

    melakukan prokrastinasi. Media tersebut diawali dengan komputer, namun saat ini bergeser

    pada penggunaan ponsel, terutama smartphone (Underwood, dkk., 2012; Valkenburg & Peter,

    2011, dalam Santrock, 2014). Penggunaan smartthone sebagai ponsel pintar menjadi

    perbedaan pada ponsel biasa, hal ini dikarenakan bahwa pada smartphone terdapat varian dan

    keunggulan dalam sistem operasional (Gary, Thomas & Misty, 2007). Dalam sebuah

    smartphone terdapat banyak penggunaan dan para pengguna smartphone memfungsikan alat

    tersebut dengan berbagai tujuan positif, seperti daily life, mencari berbagai informasi maupun

    pengalihan stres untuk berkomunikasi dan bermain game (Salehan & Neghaban, 2015).

    Menurut survey yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet

    Indonesia pada tahun 2016, sebanyak 132,7 juta orang Indonesia telah terhubung ke internet.

    Hal tersebut mengindikasikan kenaikan jumlah pengguna internet dibandingkan hasil survey

    pada 2014 lalu. Data survei juga mengungkap bahwa rata-rata pengakses internet di Indonesia

    menggunakan perangkat genggam, yaitu sebanyak 63,1 juta orang mengakses internet dari

    smartphone. Survey yang dilakukan RapidValue Solution pada tahun 2014 menyatakan bahwa

    Indonesia berada di peringkat pertama daftar pengguna smartphone terbesar di Asia Tenggara

    dengan jumlah pengguna mencapai 57,5 juta. Bahkan sejumlah 72% remaja atau anak sekolah

    di Indonesia adalah pengguna smartphone (RapidValue Solution, 2014).

  • 3

    Salah satu hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan smartphone berkaitan

    dengan kerugian yang didapatkan, terutama bagi remaja (Attamimi, 2011). Semakin sering

    individu menggunakan smartphone, semakin mereka menjadi ketergantungan pada

    smartphone (Hong, Chiu & Huang, 2012). Bahkan adanya smartphone juga memiliki efek baru

    pada perilaku penggunanya (Bian & Leung, 2014). Kemunculan smartphone membuat banyak

    kalangan remaja lebih asik dan sibuk dengan fitur yang terdapat pada alat tersebut, mereka jauh

    lebih menyukai interaksi via jejaring sosial media, daripada bertatap muka langsung. Gejala

    perilaku tersebut yaitu seseorang jauh lebih peka pada sesuatu yang terjadi dengan smartphone

    yang dibawa daripada lingkungan sekitarnya, yang kemudian hal tersebut akan menjadi sebuah

    masalah bagi penggunanya (Salehan & Neghaban, 2013). Perilaku baru tersebut apabila tidak

    dapat terkontrol dan terkendali akan menjadikan individu tersebut menjadi addict terhadap

    smartphone, atau yang disebut dengan smartphone addiction. Smartphone addiction

    merupakan sebuah perilaku adiksi, hilangnya kontrol diri karena keasyikan dan terobsesi yang

    berlebih dengan penggunaan smartphone (Kim, Kim, Kim, Ju, Choi & Yu, 2015). Individu

    dengan kecanduan smartphone dilihat tidak pernah lepas dari gadget atau smartphonenya.

    Penelitian yang dilakukan oleh Mozes (2014), menemukan bahwa remaja memeriksa

    ponselnya setiap 60 kali sehari. Sebuah perusahaan periklanan mobile bernama Flurry

    mengeluarkan jumlah laporan mengenai jumlah pecandu smartphone saat ini. Dalam

    laporannya, Flurry mematok bahwa mobile addict atau smarhone addiction adalah orang yang

    membuka aplikasi pada smartphone mereka sebanyak lebih dari 60 kali. Dari 1,4 miliar

    pengguna smartphone yang diteliti, 176 juta orang diantaranya kecanduan smartphone. Survey

    yang juga dilakukan oleh SecurEnvoy menemukan seberapa besar ketergantungan orang-orang

    pada ponselnya. Usia muda, yaitu 18-24 tahun merupakan kelompok usia yang paling

    kecanduan terhadap ponsel mereka. Sebanyak 77% dari mereka mengaku tidak bisa jauh-jauh

    dari ponselnya lebih dari satu menit. Dilansir dari www.nytimes.com, menurut Nancy Colier

    http://www.nytimes.com/

  • 4

    seorang psikoterapis, sebagian besar orang memeriksa smartphone mereka sebanyak 150 kali

    setiap harinya atau setiap enam menit.

    Penelitian mengenai academic stress dengan smartphone addiction pada mahasiswa

    pengguna smartphone mengungkapkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kedua

    variabel (Karuniawan & Cahyanti, 2013; Samaha & Nawi, 2016). Ketika pelajar menggunakan

    smartphone sebagai coping stress karena stres akademik yang dialaminya, akan dapat

    menimbulkan penggunaan smartphone secara berlebihan dan tidak terkontrol. Pelajar yang

    menghabiskan waktu belajarnya untuk menggunakan smartphone dengan pemakaian yang

    berlebihan menyebabkan pelajar menjadi malas untuk mengerjakan pekerjaan sekolah yang

    harus diselesaikan. Hal tersebut menjadi penyebab pelajar menunda pekerjaan atau tugas yang

    harus diselesaikannya.

    Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan, timbul perilaku menunda-nunda dalam

    mengerjakan atau menyelesaikan tugas akademik di SMA Negeri 105 Jakarta. Ketika tiba

    waktu harus mengumpulkan tugas, beberapa pelajar datang ke sekolah lebih awal untuk

    mengerjakan tugas yang diberikan dengan mencontek pekerjaan temannya. Jauh sebelum

    waktu deadline pengumpulan tugas, mereka justru lebih tertarik untuk melakukan aktifitas lain

    yang lebih menyenangkan dengan smartphone yang mereka punya, baik itu bermain games,

    mengecek media sosial, chatting, browsing, dan lain sebagainya. Jadi, waktu yang seharusnya

    digunakan untuk mengerjakan tugas justru digunakan untuk menggunakan smartphone.

    Perilaku tersebut menunjukkan bahwa individu kurang dapat mengontrol dan mengendalikan

    diri dalam penggunaan smartphone.

  • 5

    Prokrastinasi Akademik

    Tuckman (1990) menjelaskan mengenai tiga aspek prokrastinasi yaitu: (1) tendency to

    delay or put off doing things / membuang waktu. Merupakan kecenderungan untuk membuang

    waktu secara sia-sia dalam menyelesaikan tugas yang perlu diprioritaskan demi melakukan hal-

    hal lain yang tidak penting. (2) tendency to have difficulty doing unpleasant thungs and when

    possible to avoid or circumvent the unpleasantness / kesulitan dan penghindaran dalam

    melakukan sesuatu yang ti