hipertrofi kelenjar tiroid.docx

of 46/46
HIPERTROFI KELENJAR TIROID DISUSUN OLEH : 1.ISTIANAWATI 2.LIA HARTATI 3. SUKOCO PANGGIH RIZEKI
  • date post

    02-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    237
  • download

    3

Embed Size (px)

Transcript of hipertrofi kelenjar tiroid.docx

HIPERTROFI KELENJAR TIROID

DISUSUN OLEH :

1. ISTIANAWATI2. LIA HARTATI3. SUKOCO PANGGIH RIZEKI

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes)MUHAMMADIYAH PRINGSEWU TAHUN AJARAN 2014/2015KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah. SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya serta memberikan perlindungandan kesehatan sehingga penulis dapat menyusun makalah dengan judul HIPERTROFI KELENJAR TIROIDPenulis menyadari sepenuhnya bahwa selama penyusunan makalah ini masih banyak menemui kesulitan dikarenakan keterbatasan referensi dan keterbatasan penulis sendiri. Dengan adanya kendala dan keterbatasan yang dimiliki penulis maka penulis berusaha semaksimal mungkin untuk menyusun makalah dengan sebaik-baiknya.Sebagai manusia penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak demi perbaikan yang lebih baik dimasa yang akan datang.Akhirnya semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya, Amin.

Pringsewu, Maret 2015

Penyusun

DAFTAR ISIHalamanJuduliTim PenyususniiKata PengantariiiDaftar Isiiv

BAB I PENDAHULUAN11.1. LatarBelakang11.2. RumusanMasalah21.3. Tujuan2

BAB II PEMBAHASAN32.1.Pengertian KankerParu32.2. Etiologi32.3. Patofisiologi72.4. ManifestasiKlinik82.5. PemeriksaanPenunjang.2.6. PenatalaksanaanMedis.

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN133.1. Pengkajian13 3.2. DiagnosaKeperawatan113.3. PerencanaanKeperawatan16

BAB IV PENUTUP194.1. Kesimpulan194.2. Saran20

DAFTAR PUSTAKA21

ii

BAB 1PENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangKesehatan merupakan salah satu faktor penting dalam pengembangan sumber daya manusia. Tujuan dalam pengembangan kesehatan yang tercantum dalam fungsi kesehatan nasional (SKN) adalah tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan nasional (Sumarmo,1998).Struma koloid , difus, nontoksik dan nodular koloid merupakan gangguan yang sangat sering dijumpai dan menyerang 16 % perempuan dan 4 % laki-laki yang berusia antara 20 sampai 60 tahun seperti yang telah dibuktikan oleh suatu penyelidikan di Tecumseh, suatu komunitas di Michigan. Biasanya tidak ada gejala-gejala lain kecuali gangguan kosmetik, tetapi kadang-kadang timbul komplikasi-komplikasi. Struma mungkin membesar secara difus dan atau bernodula.Struma endemic merupakan salah satu masalah gizi di Indonesia. Sebab utamanya adalah efisiensi yodium, disamping factor-faktor lain misalnya bertambahnya kebutuhan yodium pada masa pertumbuhan, kehamilan dan laktasi atau pengaruh-pengaruh zat-zat goitrogenik.

1.2 Rumusan Masalah1.2.1 Bagaimana anatomi dan fisiologi kelenjar tiroid ?1.2.2 Apa definisi dari hipertrofi kelenjar tiroid ?1.2.3 Apa saja klasifikasi hipertrofi kelenjar tiroid?1.2.4 Bagaimana patofisiologi hipertrofi kelenjar tiroid?1.2.5 Bagaimana manifestasi klinis gangguan hipertrofi kelenjar tiroid?1.2.6 Apa saja pemerikasaan penunjang hipertrofi kelenjar tiroid?1.2.7 Bagaimana penatalaksanaan medis hipertrofi kelenjar tiroid ?1.2.8 Apa saja komplikasi yang ditimbulkan oleh hipertrofi kelenjar tiroid?1.2.9 Bagaimana prognosis dari hipertrofi kelenjar tiroid?1.2.10 Bagaimana pencegahan dari hipertrofi kelenjar tiroid?1.2.11 Bagaimana asuhan keperawatan pada klien gang hipertrofi kelenjar tiroid?

1.3 Tujuan1.3.1Tujuan UmumUntuk mengetahui dan memahami tentang penyakit hipertrofi kelenjar tiroid 1.3.2 Tujuan Khusus1.3.2.1 Mahasiswa dapat mengetahui anatomi dan fisiologi kelenjar tiroid1.3.2.2 Mahasiswa dapat mengetahui definisi dari hipertrofi kelenjar tiroid1.3.2.3 Mahasiswa dapat mengetahui klasifikasi hipertrofi kelenjar tiroid1.3.2.4 Mahasiswa dapat mengetahui patofisiologi hipertrofi kelenjar tiroid1.3.2.5 Mahasiswa dapat mengetahui manifestasi klinis hipertrofi kelenjar tiroid1.3.2.6 Mahasiswa dapat mengetahui pemerikasaan penunjang hipertrofi kelenjar tiroid1.3.2.7 Mahasiswa dapat mengetahui penatalaksanaan medis hipertrofi kelenjar tiroid1.3.2.8 Mahasiswa dapat mengetahui komplikasi yang ditimbulkan oleh hipertrofi kelenjar tiroid1.3.2.9 Mahasiswa dapat mengetahui prognosis dari hipertrofi kelenjar tiroid1.3.2.10 Mahasiswa dapat mengetahui pencegahan dari hipertrofi kelenjar tiroid1.3.2.11 Mahasiswa dapat mengetahui asuhan keperawatan pada klien hipertrofi kelenjar tiroid

.BAB IIPEMBAHASAN

A. Pengertian Hipertrofi Kelenjar Tiroid Kelenjar tiroid mengalami pembesaran akibat pertambahan ukuran sel/jaringan tanpa di sertai peningkatan atau penurunan sekresi hormon-hormon kelenjar tiroid. Disebut juga sebagai goiter nontosik atau simple goiter atau struma Endemik. Pada kondisi ini dimana pembesaran kelenjar tidak disertai penurunan atau peningkatan sekresi hormon-hormonnya maka dampak yang di timbulkannya hanya bersifat lokal yaitu sejauh mana pembesaran tersebut mempengaruhi organ di sekitarnya seperti pengaruhnya pada trakhea dan esophagus. Kelenjar gondok atau disebut kelenjar tiroid, adalah kelenjar yang normalnya berlokasi dibagian tengah-depan dari leher kita. Ada tiga bagian yaitu : lobus kanan, lobus kiri dan lobus intermedius yang menghubungkanlobus kanan dan lobus kiri. Dalam keadaan normal, kelenjar tiroid berukuran kecil, dengan berat hanya 2-4 gram posisinya dileher depan bagian tengah dan tidak teraba. Sehingga pada leher orang normal tidak tampak tonjolan atau massa yang mengganggu pemandangan seperti apa yang kita lihat pada penderita gondok. Penyakit Gondok adalah istilah umum untuk pembesaran kelenjar tiroid pada tenggorokan.Kelenjar tiroid yang membesar bisa berupa benjolan biasa yang bersifat setempat hingga terjadi pembengkakan pada kedua sisi kelenjar tiroid.Berat kelenjar tiroid adalah sekitar 30 gram, berbentuk dasi kupu-kupu. Kelenjar ini berperan penting dalam menjaga kesehatan tubuh, mengatur kecepatan metabolisme tubuh dan anak kelenjarnya (paratiroid) berfungsi dalam mengontrol kadar kalsium dalam darah. Struma adalah pembesaran kelenjar gondok yang disebabkan oleh penambahan jaringan kelenjar gondok yang menghasilkan hormon tiroid dalam jumlah banyak sehingga menimbulkan keluhan seperti berdebar - debar, keringat, gemetaran, bicara jadi gagap, mencret, berat badan menurun, mata membesar, penyakit ini dinamakan hipertiroid (graves disease). Struma disebut juga goiter adalah suatu pembengkakan pada leher oleh karena pembesaran kelenjar tiroid akibat kelainan glandula tiroid dapat berupa gangguan fungsi atau perubahan susunan kelenjar dan morfologinya.

Secara klinis pemeriksaan klinis struma toksik dapat dibedakan menjadi sebagai berikut : a) Struma Toksik Struma toksik dapat dibedakan atas dua yaitu struma diffusa toksik dan struma nodusa toksik. Istilah diffusa dan nodusa lebih mengarah kepada perubahan bentuk anatomi dimana struma diffusa toksik akan menyebar luas ke jaringan lain. Jika tidak diberikan tindakan medis sementara nodusa akan memperlihatkan benjolan yang secara klinik teraba satu atau lebih benjolan (struma multinoduler toksik).Struma diffusa toksik (tiroktosikosis) merupakan hipermetabolisme karena jaringan tubuh dipengaruhi oleh hormon tiroid yang berlebihan dalam darah. Penyebab tersering adalah penyakit Grave (gondok eksoftalmik/exophtalmic goiter), bentuk tiroktosikosis yang paling banyak ditemukan diantara hipertiroidisme lainnya.Perjalanan penyakitnya tidak disadari oleh pasien meskipun telah diiidap selama berbulan-bulan. Antibodi yang berbentuk reseptor TSH beredar dalam sirkulasi darah, mengaktifkan reseptor tersebut dan menyebabkan kelenjar tiroid hiperaktif.Meningkatnya kadar hormon tiroid cenderung menyebabkan peningkatan pembentukan antibodi sedangkan turunnya konsentrasi hormon tersebut sebagai hasil pengobatan penyakit ini cenderung untuk menurunkan antibodi tetapi bukan mencegah pembentukyna. Apabila gejala gejala hipertiroidisme bertambah berat dan mengancam jiwa penderita maka akan terjadi krisis tirotoksik. Gejala klinik adanya rasa khawatir yang berat, mual, muntah, kulit dingin, pucat, sulit berbicara dan menelan, koma dan dapat meninggal.

b) Struma Non Toksik Struma non toksik sama halnya dengan struma toksik yang dibagi menjadi struma diffusa non toksik dan struma nodusa non toksik. Struma non toksik disebabkan oleh kekurangan yodium yang kronik. Struma ini disebut sebagai simple goiter, struma endemik, atau goiter koloid yang sering ditemukan di daerah yang air minumya kurang sekali mengandung yodium dan goitrogen yang menghambat sintesa hormon oleh zat kimia. Apabila dalam pemeriksaan kelenjar tiroid teraba suatu nodul, maka pembesaran ini disebut struma nodusa. Struma nodusa tanpa disertai tanda-tanda hipertiroidisme dan hipotiroidisme disebut struma nodusa non toksik. Biasanya tiroid sudah mulai membesar pada usia muda dan berkembang menjadi multinodular pada saat dewasa. Kebanyakan penderita tidak mengalami keluhan karena tidak ada hipotiroidisme atau hipertiroidisme, penderita datang berobat karena keluhan kosmetik atau ketakutan akan keganasan. Namun sebagian pasien mengeluh adanya gejala mekanis yaitu penekanan pada esofagus (disfagia) atau trakea (sesak napas), biasanya tidak disertai rasa nyeri kecuali bila timbul perdarahan di dalam nodul.Struma non toksik disebut juga dengan gondok endemik, berat ringannya endemisitas dinilai dari prevalensi dan ekskresi yodium urin. Dalam keadaan seimbang maka yodium yang masuk ke dalam tubuh hampir sama dengan yang diekskresi lewat urin. Kriteria daerah endemis gondok yang dipakai Depkes RI adalah endemis ringan prevalensi gondok di atas 10 %-< 20 %, endemik sedang 20 % - 29 % dan endemik berat di atas 30 %.

Fungsi Kelenjar Tiroid1) Bekerja sebagi perangsang proses oksidasi2) Mengatur penggunaan oksidasi3) Mengatur pengeluaran karbon dioksida4) Metabolic dalam hati pengaturan susunan kimia dalam jaringan5) Pada anak mempengaruhi perkembangan fisik dan mental

Fungsi Hormon Tiroid1) Mempengaruhi pertumbuhan pematangan jaringan tubuh dan energy2)Mengatur kecepatan metabolism tubuh dan reaksi mnetabolik3) Menambah sintesis asam ribunukleat (RNA), metabolism meningkat4) Keseimbangan nitrogen negative dan sintesis protein menurun5)Menambah produksi panas dan menyimpan energy6) Absorpsi intestinal terhadap glukosa, toleransi glukosa yang abnormal sering ditemukan pada hipertiroidisme

Berikut hormon dari kelenjar tiroid dan fungsinyaa. Hormon tiroksin( T 4) dan triiodotironin( T 3) 1) Katabolisme protein, lemak, dan karbohidrat dalam semua sel. (Katabolisme adalah proses ketika zat yang kompleksd iu ba h menjadisederhana) 2) Mengatur kecepatan metabolisme semua sel 3) Mengatur produksi panas tubuh 4) Antagonisterhadapinsulin 5) Mempertahankan sekresi hormon pertumbuhan dan pematangan tulang 6) Mempertahankan mobilisasi kalsium

b. Hormon kalsitonin 1) Mengurangi kalsium dan fosfat serum 2) Mengurangi absorpsi kalsium dan fosfor oleh GI

Klasifikasi Goiter menurut WHO :1. Stadium O A :Tidak ada goiter.2. Stadium O B :Goiter terdeteksi dari palpasi tetapi tidak terlihat walaupun leher terekstensi penuh.3. Stadium I : Goiter palpasi dan terlihat hanya jika leher terekstensi penuh.4. Stadium II:Goiter terlihat pada leher dalam Potersi.5. Stadium III :Goiter yang besar terlihat dari Darun.

B.Anatomi & Fisiologi Kelenjar TiroidKelenjar tiroid ialah organ endokrin yang terletak di leher manusia. Fungsinya ialah mengeluarkan hormone tiroid. Hormon yang terpenting ialahThyroxine(T4) danTriiodothyronine(T3). Kelenjar tiroid terdiri dari dua lobus, satu di sebelah kanan dan satu lagi disebelah kiri. Keduanya dihubungkan oleh suatu struktur ( yang dinamakanisthmusatau ismus). Setiap lobus berbentuk seperti buah pir. Kelenjar tiroid mempunyai satu lapisan kapsul yang tipis danpretracheal fascia. Pada keadaan tertentu kelenjar tiroid aksesoria dapat ditemui di sepanjang jalur perkembangan embriologi tiroid.Sel tiroid adalah satu-satunya sel dalam tubuh manusia yang dapat menyerap iodin atau yodium yang diambil melalui pencernaan makanan. Iodin ini akan bergabung dengan asam amino tirosin yang kemudian akan diubah menjadi T3(triiodotironin)dan T4 (tiroksin). Dalam keadaan normal pengeluaran T4 sekitar 80% dan T3 15%. Sedangkan yang 5% adalah hormon-hormon lain seperti T2.T3 dan T4 membantu sel mengubah oksigen dan kalori menjadi tenaga (ATP = adenosin tri fosfat). T3 bersifat lebih aktif daripada T4. T4 yang tidak aktif itu diubah menjadi T3 oleh enzim 5-deiodinase yang ada di dalam hati dan ginjal. Proses ini juga berlaku di organ-organ lain seperti hipotalamus yang berada di otak tengah. Hormon-hormon lain yang berkaitan dengan fungsi tiroid ialah TRH (thyroid releasing hormon) dan TSH (thyroid stimulating hormon). Hormon-hormon ini membentuk satu sistem aksis otak (hipotalamus dan pituitari)- kelenjar tiroid. TRH dikeluarkan oleh hipotalamus yang kemudian merangsang kelenjar pituitari mengeluarkan TSH. TSH yang dihasilkan akan merangasang tiroid untuk mengeluarkan T3 dan T4. Oleh kerena itu hal yang mengganggu jalur di atas akan menyebabkan produksi T3 dan T4.Kelenjar tiroid/gondok terletak di bagian bawah leher, kelenjar ini memiliki dua bagian lobus yang dihubungkan oleh ismus yang masing-masing berbetuk lonjong berukuran panjang 2,5-5 cm, lebar 1,5 cm, tebal 1-1,5 cm dan berkisar 10-20 gram. Kelenjar tiroid sangat penting untuk mengatur metabolisme dan bertanggung jawab atas normalnya kerja setiap sel tubuh. Kelenjar ini memproduksi hormon tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3) dan menyalurkan hormon tersebut ke dalam aliran darah. Terdapat 4 atom yodium di setiap molekul T4 dan 3 atom yodium pada setiap molekul T3. Hormon tersebut dikendalikan oleh kadar hormon perangsang tiroid TSH (thyroid stimulating hormone) yang dihasilkan oleh lobus anterior kelenjar hipofisis. Yodium adalah bahan dasar pembentukan hormon T3 dan T4 yang diperoleh dari makanan dan minuman yang mengandung yodium.Kelenjar ini menghasilkan hormone tiroksin yang memegang peranan penting dalam mengatur metabolis yang dihasilkannya, merangsang laju sel-sel dalam tubuh melakukan oksidasi bahan makanan, memegang peranan penting dalam pengawasan metabolism secara keseluruhan. Hormone tiroid memerlukan bantuan TSH (thyroid stimulating hormone) untuk endositosis koloid oleh mikrovili, enzim proteolitik untuk memecahkan ikatan hormone T3 (triiodotironin) dan T4 (terataiodotironin) dari triglobulin untuk melepaskan T3 dan T4. Distribusi dari plasma terikat pada protein plasma (protein bound iodine, PBI). Sebagian besar PBI T4 dan sebagian PBI T3 terikat pada protein jaringan yang bebas dan seimbang. Reaksi diperlukan untuk sintesis dan sekresi hormone adalah :a. Transpor aktif iodida (senyawa yodium) dari plasma dalam tiroid dan lumen folikel dari folikel dibantu oleh TSH.b. Dalam kelenjar tiroid iodide dioksidasi menjadi ionin aktif dibantun oleh TSH.c. Iodine mengalami perubahan kondensasi oksidatif bantuan peroksidased. Tahap terakhir pelepasan iodotironin yang bebas ke dalam darah. Hormon tiroid memiliki efek pada pertumbuhan sel, perkembangan dan metabolisme energi. Selain itu hormon tiroid mempengaruhi pertumbuhan pematangan jaringan tubuh dan energi, mengatur kecepatan metabolisme tubuh dan reaksi metabolik, menambah sintesis asam ribonukleat (RNA), menambah produksi panas, absorpsi intestinal terhadap glukosa, merangsang pertumbuhan somatis dan berperan dalam perkembangan normal sistem saraf pusat. Tidak adanya hormon-hormon ini, membuat retardasi mental dan kematangan neurologik timbul pada saat lahir dan bayi.

C. Etiologi Banyak penyebab Gondok walau sebagian besar kasus tidak diketahui secara pasti, namun yang paling umum karena kekurangan asupan Yodium dalam makanan sehari-hari.Membesarnya tiroid dapat juga disebabkan pengaruh endemisitas daerah tersebut, genetik, infeksi, peradangan, pubertas, kehamilan, laktasi, menopause, menstruasi, atau stress, kejadian autoimun dan penyakit Graves. Pada masa-masa tersebut dapat ditemui hiperplasi dan involusi kelenjar tiroid. Penambahan ini dapat menimbulkan nodularitas kelenjar tim di serta kelainan arsitektur yang dapat berlanjut dengan berkurangnya aliran darah di daerah tersebutsehingga terjadi iskemia. Adanya gangguan fungsional dalam pembentukan hormon tyroid merupakan faktor penyebab pembesaran kelenjar tyroid antara lain :1) Defisiensi YodiumYodium sendiri dibutuhkan untuk membentuk hormon tyroid yang nantinya akan diserap di usus dan disirkulasikan menuju bermacam-macam kelenjar. Kelenjar tersebut diantaranya:a. Choroidb. Ciliary bodyc. Kelenjar susud. Plasentae. Kelenjar air ludahf. Mukosa lambungg. Intenstinum tenueh. Kelenjar gondokSebagaian besar unsur yodium ini dimanfaatkan di kelenjargondok. Jika kadar yodium di dalam kelenjar gondok kurang, dipastikan seseorang akan mengidap penyakit gondok.2) Tiroiditis Hasimotos Ini adalah kondisi autoimun di mana terdapat kerusakan kelenjar tiroid oleh sistem kekebalan tubuh sendiri. Sebagai kelenjar menjadi lebih rusak, kurang mampu membuat persediaan yang memadai hormon tiroid.3) Penyakit Graves Sistem kekebalan menghasilkan satu protein, yang disebut tiroid stimulating imunoglobulin (TSI). Seperti dengan TSH, TSI merangsang kelenjar tiroid untuk memperbesar memproduksi sebuah gondok.4) Multinodular GondokIndividu dengan gangguan ini memiliki satu atau lebih nodul di dalam kelenjar tiroid yang menyebabkan pembesaran. Hal ini sering terdeteksi sebagai nodular pada kelenjar perasaan pemeriksaan fisik. Pasien dapat hadir dengan nodul tunggal yang besar dengan nodul kecil di kelenjar, atau mungkin tampil sebagai nodul beberapa ketika pertama kali terdeteksi.5) Kanker TiroidThyroid dapat ditemukan dalam nodul tiroid meskipun kurang dari 5 persen dari nodul adalah kanker. Sebuah gondok tanpa nodul bukan merupakan resiko terhadap kanker.6) KehamilanSebuah hormon yang disekresi selama kehamilan Chorionic manusia (gonadotropin) dapat menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid.

7) TiroiditisPeradangan dari kelenjar tiroid sendiri dapat mengakibatkan pembesaran kelenjar tiroid. Hal ini dapat mengikuti penyakit virus atau kehamilan.8) Pada umumnya, penderita penyakit struma sering terdapat di daerah yang kondisi air minum dan tanahnya kurang mengandung iodium, misalnya daerah pegunungan.9) Kelainan metabolik kongenital yang menghambat sintesa hormon tyroid.10) Penghambatan sintesa hormon oleh zat kimia (seperti substansi dalam kol, lobak, kacang kedelai).11) Penghambatan sintesa hormon oleh obat-obatan (misalnya : thiocarbamide, sulfonylurea dan litium).

Penyebab gondok beraneka ragam, antara lain :1) Otoimun Pada penyakit ini tubuh mempunyai zat yang menolak keberadaan kelenjar tiroid dengan cara mengganggu/merusak kelenjar ini. Pada penyakit Basedow (Graves) zat anti ini merangsang produksi tiroid berlebihan tanpa menghiraukan pengaturan umpanbalik (otonom) sehingga kadar tiroid darah tinggi (hipertiroidi). Sebaliknya pada penyakit Hashimoto, zat anti merusak sel-sel tiroid sehingga kadar tiroid darah turun (hipotiroidi).2) Infeksi Penyebab tiroiditis infeksiosa dapat bakteri/virus. Gondok dalam hal ini karena mengalami peradangan, maka pada perabaan terasa nyeri. Suhu tubuh naik.3) Degenerasi Yaitu penurunan mutu jaringan tiroid sehingga bentuk dan/kinerjanya abnormal (disfungsi).4) Neoplasia Regresi proliferatif noduler menyebabkan neoplasma jinak (benigna)/ ganas(maligna).5) Goitrogen Goitrin, tioglikosida, tiosianat, disulfide, yodium berlebih dapat menyebabkan strumigenesis. Isoflavon dapat pula memicu gondok.6) Defisiensi nutrisi- Kekurangan yodium atau mineral tertentu menyebabkan kinerja tiroid inefisien sehingga memicu gondok.7)Dishormonogenesis Defek enzim pada tahapan tertentu, biasanya sejak lahir/turunan.8) Resistensi tubuh Kekebalan sel-sel tubuh terhadap pengaruh hormon tiroid meningkatkan produksi sehingga memicu gondok kompensasi.9) Pubertas/hamil Karena kebutuhan tiroid meningkat (struma kompensasi). HCG pada trimester I dapat keliru dianggap TSH, sehingga ditanggapi oleh kelenjar tiroid (struma toksik).10)Psikologi Akibat dari tekanan jiwa (distress).11)Causa ignota Gondok pada ibu pasca melahirkan, gondok Riedel belum diketahui penyebabnya.

D. Patofisiologi Aktifitas utama kelenjar tiroid adalah untuk berkonsentrasi yodium dari darah untuk membuat hormon tiroid. Kelenjar tersebut tidak dapat membuat hormon tiroid cukup jika tidak memiliki cukup yodium. Oleh karena itu, dengan defisiensi yodium individu akan menjadi hipotiroid. Akibatnya, tingkat hormon tiroid terlalu rendah dan mengirim sinyal ke tiroid. Sinyal inidisebut thyroid stimulating hormone(TSH). Seperti namanya, hormon ini merangsang tiroid untuk menghasilkan hormon tiroid dan tumbuh dalam ukuran yang besar Pertumbuhan abnormal dalam ukuran menghasilkan apa yang disebut sebuah gondok. Kelenjar tiroid dikendalikan olehthyroid stimulating hormone(TSH) yang juga dikenal sebagai thyrotropin. TSH disekresi dari kelenjar hipofisis, yang pada gilirannya dipengaruhi oleh hormonthyrotropin releasing hormon(TRH) dari hipotalamus.Thyrotropinbekerja pada reseptor TSH terletak pada kelenjar tiroid. Serum hormone tiroidlevothyroxinedantriiodothyronineumpan balik ke hipofisis, mengatur produksi TSH. Interferensi dengan sumbu ini TRH hormon tiroid TSH menyebabkan perubahan fungsi dan struktur kelenjar tiroid. Stimulasi dari reseptor TSH dari tiroid oleh TSH, TSH reseptor antibodi, atau agonis reseptor TSH, seperti chorionic gonadotropin, dapat mengakibatkan gondok difus. Ketika sebuah kelompok kecil sel tiroid, sel inflamasi, atau sel ganas metastasis untuk tiroid terlibat, suatu nodul tiroid dapat berkembang. Kekurangan dalam sintesis hormon tiroid atau asupan menyebabkan produksi TSH meningkat. Peningkatan TSH menyebabkan peningkatan cellularity dan hiperplasia kelenjar tiroid dalam upaya untuk menormalkan kadar hormon tiroid. Jika proses ini berkelanjutan, maka akan mengakibatkan gondok. Penyebab kekurangan hormon tiroid termasuk kesalahan bawaan sintesis hormon tiroid, defisiensi yodium, dan goitrogens. Gondok dapat juga terjadi hasil dari sejumlah agonis reseptor TSH. Pendorong reseptor TSH termasuk antibodi reseptor TSH, resistensi terhadap hormon tiroid hipofisis, adenoma kelenjar hipofisis hipotalamus atau, dan tumor memproduksi human chorionic gonadotropin. Pemasukan iodium yang kurang, gangguan berbagai enzim dalam tubuh, hiposekresi TSH, glukosil goitrogenik (bahan yang dapat menekan sekresi hormone tiroid), gangguan pada kelenjar tiroid sendiri serta factor pengikat dalam plasma sangat menentukan adekuat tidaknya sekresi hormone tiroid. Bila kadar kadar hormone tiroid kurang maka akan terjadi mekanisme umpan balik terhadap kelenjar tiroid sehingga aktifitas kelenjar meningkat dan terjadi pembesaran (hipertrofi).Dampak goiter terhadap tubuh terletak pada pembesaran kelenjar tiroid yang dapat mempengaruhi kedudukan organ-organ lain di sekitarnya. Di bagian posterior medial kelenjar tiroid terdapat trakea dan esophagus. Goiter dapat mengarah ke dalam sehingga mendorong trakea, esophagus dan pita suara sehingga terjadi kesulitan bernapas dan disfagia yang akan berdampak terhadap gangguan pemenuhan oksigen, nutrisi serta cairan dan elektrolit. Penekanan pada pita suara akan menyebabkan suara menjadi serak atau parau. Bila pembesaran keluar, maka akan memberi bentuk leher yang besar dapat simetris atau tidak, jarang disertai kesulitan bernapas dan disfagia. Tentu dampaknya lebih ke arah estetika atau kecantikan. Perubahan bentuk leher dapat mempengaruhi rasa aman dan konsep diri klien. Berbagai faktor di identifikasi sebagai penyebab terjadinya hipertropi kelenjar tiroid termasuk di dalamnya defisiensi jodium, goitrogenik glikosida agent (zat atau bahan ini dapat menekan sekresi hormon tiroid) seperti ubi kayu, jagung lobak, kangkung, kubis bila di konsumsi secara berlebihan, obat-obatan anti tiroid, anomali, peradangan dan tumor/neoplasma. Sedangkan secara fisiologis, menurut Benhard (1991) kelenjar tiroid dapat membesar sebagai akibat peningkatan aktifitas kelenjar tiroid sebagai upaya mengimbangi kebutuhan tubuh yang meningkat pada masa pertumbuhan dan masa kehamilan. Berdasarkan kejadiannya atau penyebarannya ada yang di sebut Struma Endemis dan Sporadis. Secara sporadis dimana kasus-kasus struma ini di jumpai menyebar diberbagai tempat atau daerah. Bila di hubungkan dengan penyebab maka struma sporadis banyak disebabkan oleh faktor goitrogenik, anomali dan penggunaan obat-obatan anti tiroid, peradangan dan neoplasma. Secara endemis, dimana kasus-kasus struma ini dijumpai pada sekelompok orang di suatu daerah tertentu, dihubungkan dengan penyebab defisiensi jodium.Pathway

E. Manifestasi KlinisGejala utama :1. Pembengkakan, mulai dari ukuran sebuah nodul kecil untuk sebuah benjolan besar, di bagian depan leher tepat di bawahAdams apple.2. Perasaan sesak di daerah tenggorokan.3. Kesulitan bernapas (sesak napas), batuk, mengi (karena kompresi batang tenggorokan).4. Kesulitan menelan (karena kompresi dari esofagus).5. Suara serak.6. Distensi vena leher.7. Pusing ketika lengan dibangkitkan di atas kepala8. Kelainan fisik (asimetris leher)

Dapat juga terdapat gejala lain, diantaranya :1. Tingkat peningkatan denyut nadi2. Detak jantung cepat3. Diare, mual, muntah4. Berkeringat tanpa latihan5. Goncangan6. Agitasi7. Berat badan menurun8. Gugup, mudah terangsang, gelisah, emosi tidak stabil, insomnia9. Gondok (mungkin disertai bunyi denyut dan getaran).10. Berkeringat11. Diare12. Kelelahan otot13. Tremor (jari tangan dan kaki)14. Oligomenore/amenore15. Telapak tangan panas dan lembab

F. Penanganan1. Rutin memeriksakan kesehatan Anda ke Dokter.2. Cukupilah makanan ber-Yodium dalam nutrisi sehari-hari, seperti mengkonsumsi garam beryodium.3. Diet yang bergizi baik.4. Olahraga yang teratur.5. Menghindari gaya hidup yang tidak sehat dan beresiko.6. Menaati nasehat dari Dokter dan minumlah obat yang diresepkan dengan teratur (anti-tirod dan Yodium radioaktif).7. Pilihan terapi terakhir adalah operasi jika ada indikasi.

G. Komplikasi1. Obstruksi jalan nafas2. Infeksi luka3. Hipokalsemia :4. Ketidakseimbangan hormone tiroid

H. Penatalaksanaan Ada beberapa macam untuk penatalaksanaan medis jenis-jenis struma antara lain sebagai berikut :1. Operasi/Pembedahan Pembedahan menghasilkan hipotiroidisme permanen yang kurang sering dibandingkan dengan yodium radioaktif. Terapi ini tepat untuk para pasien hipotiroidisme yang tidak mau mempertimbangkan yodium radioaktif dan tidak dapat diterapi dengan obat-obat anti tiroid. Reaksi-reaksi yang merugikan yang dialami dan untuk pasien hamil dengan tirotoksikosis parah atau kekambuhan. Pada wanita hamil atau wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal (suntik atau pil KB), kadar hormon tiroid total tampak meningkat. Hal ini disebabkan makin banyak tiroid yang terikat oleh protein maka perlu dilakukan pemeriksaan kadar T4 sehingga dapat diketahui keadaan fungsi tiroid.Pembedahan dengan mengangkat sebagian besar kelenjar tiroid, sebelum pembedahan tidak perlu pengobatan dan sesudah pembedahan akan dirawat sekitar 3 hari. Kemudian diberikan obat tiroksin karena jaringan tiroid yang tersisa mungkin tidak cukup memproduksi hormon dalam jumlah yang adekuat dan pemeriksaan laboratorium untuk menentukan struma dilakukan 3-4 minggu setelah tindakan pembedahan.

2. Yodium Radioaktif Yodium radioaktif memberikan radiasi dengan dosis yang tinggi pada kelenjar tiroid sehingga menghasilkan ablasi jaringan. Pasien yang tidak mau dioperasi maka pemberian yodium radioaktif dapat mengurangi gondok sekitar 50 %. Yodium radioaktif tersebut berkumpul dalam kelenjar tiroid sehingga memperkecil penyinaran terhadap jaringan tubuh lainnya. Terapi ini tidak meningkatkan resiko kanker, leukimia, atau kelainan genetic. Yodium radioaktif diberikan dalam bentuk kapsul atau cairan yang harus diminum di rumah sakit, obat ini ini biasanya diberikan empat minggu setelah operasi, sebelum pemberian obat tiroksin.

3. Pemberian Tiroksin dan obat Anti-Tiroid Tiroksin digunakan untuk menyusutkan ukuran struma, selama ini diyakini bahwa pertumbuhan sel kanker tiroid dipengaruhi hormon TSH. Oleh karena itu untuk menekan TSH serendah mungkin diberikan hormon tiroksin (T4) ini juga diberikan untuk mengatasi hipotiroidisme yang terjadi sesudah operasi pengangkatan kelenjar tiroid. Obat anti-tiroid (tionamid) yang digunakan saat ini adalah propiltiourasil (PTU) dan metimasol/karbimasol

I. Pencegahan Ada 3 cara pencegahan yaitu dengan cara pencegahan primer, sekunder dan tertier, antara lain :1. Pencegahan Primer Pencegahan primer adalah langkah yang harus dilakukan untuk menghindari diri dari berbagai faktor resiko. Beberapa pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya struma adalah : a) Memberikan edukasi kepada masyarakat dalam hal merubah pola perilaku makan dan memasyarakatkan pemakaian garam yodium.b) Mengkonsumsi makanan yang merupakan sumber yodium seperti ikan laut.c) Mengkonsumsi yodium dengan cara memberikan garam beryodium setelah dimasak, tidak dianjurkan memberikan garam sebelum memasak untuk menghindari hilangnya yodium dari makanan.d) Iodisai air minum untuk wilayah tertentu dengan resiko tinggi. Cara ini memberikan keuntungan yang lebih dibandingkan dengan garam karena dapat terjangkau daerah luas dan terpencil. Iodisasi dilakukan dengan yodida diberikan dalam saluran air dalam pipa, yodida yang diberikan dalam air yang mengalir, dan penambahan yodida dalam sediaan air minum. e) Memberikan kapsul minyak beryodium (lipiodol) pada penduduk di daerah endemik berat dan endemik sedang. Sasaran pemberiannya adalah semua pria berusia 0-20 tahun dan wanita 0-35 tahun, termasuk wanita hamil dan menyusui yang tinggal di daerah endemis berat dan endemis sedang. Dosis pemberiannya bervariasi sesuai umur dan kelamin.f) Memberikan suntikan yodium dalam minyak (lipiodol 40%) diberikan 3 tahun sekali dengan dosis untuk dewasa dan anak-anak di atas 6 tahun 1 cc dan untuk anak kurang dari 6 tahun 0,2-0,8 cc.

2. Pencegahan Sekunder Pencegahan sekunder adalah upaya mendeteksi secara dini suatu penyakit, mengupayakan orang yang telah sakit agar sembuh, menghambat progresifitas penyakit yang dilakukan melalui beberapa cara yaitu :a) InspeksiInspeksi dilakukan oleh pemeriksa yang berada di depan penderita yang berada pada posisi duduk dengan kepala sedikit fleksi atau leher sedikit terbuka. Jika terdapat pembengkakan atau nodul, perlu diperhatikan beberapa komponen yaitu lokasi, ukuran, jumlah nodul, bentuk (diffus atau noduler kecil), gerakan pada saat pasien diminta untuk menelan dan pulpasi pada permukaan pembengkakan.b) Palpasi Pemeriksaan dengan metode palpasi dimana pasien diminta untuk duduk, leher dalam posisi fleksi. Pemeriksa berdiri di belakang pasien dan meraba tiroid dengan menggunakan ibu jari kedua tangan pada tengkuk penderita.c) Tes Fungsi Hormon Status fungsional kelenjar tiroid dapat dipastikan dengan perantara tes-tes fungsi tiroid untuk mendiagnosa penyakit tiroid diantaranya kadar total tiroksin dan triyodotiroin serum diukur dengan radioligand assay. Tiroksin bebas serum mengukur kadar tiroksin dalam sirkulasi yang secara metabolik aktif. Kadar TSH plasma dapat diukur dengan assay radioimunometrik.Kadar TSH plasma sensitif dapat dipercaya sebagai indikator fungsi tiroid. Kadar tinggi pada pasien hipotiroidisme sebaliknya kadar akan berada di bawah normal pada pasien peningkatan autoimun (hipertiroidisme). Uji ini dapat digunakan pada awal penilaian pasien yang diduga memiliki penyakit tiroid. Tes ambilan yodium radioaktif (RAI) digunakan untuk mengukur kemampuan kelenjar tiroid dalam menangkap dan mengubah yodida.d) Foto Rontgen leher Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat struma telah menekan atau menyumbat trakea (jalan nafas).e) Ultrasonografi (USG) Alat ini akan ditempelkan di depan leher dan gambaran gondok akan tampak di layar TV. USG dapat memperlihatkan ukuran gondok dan kemungkinan adanya kista/nodul yang mungkin tidak terdeteksi waktu pemeriksaan leher. Kelainan-kelainan yang dapat didiagnosis dengan USG antara lain kista, adenoma, dan kemungkinan karsinoma.f) Sidikan (Scan) tiroid Caranya dengan menyuntikan sejumlah substansi radioaktif bernama technetium-99m dan yodium125/yodium131 ke dalam pembuluh darah. Setengah jam kemudian berbaring di bawah suatu kamera canggih tertentu selama beberapa menit. Hasil pemeriksaan dengan radioisotop adalah teraan ukuran, bentuk lokasi dan yang utama adalh fungsi bagian-bagian tiroid.g) Biopsi Aspirasi Jarum Halus Dilakukan khusus pada keadaan yang mencurigakan suatu keganasan. Biopsi aspirasi jarum tidak nyeri, hampir tidak menyebabkan bahaya penyebaran sel-sel ganas. Kerugian pemeriksaan ini dapat memberikan hasil negatif palsu karena lokasi biopsi kurang tepat. Selain itu teknik biopsi kurang benar dan pembuatan preparat yang kurang baik atau positif palsu karena salah intrepertasi oleh ahli sitologi.

3. Pencegahan Tertier Pencegahan tersier bertujuan untuk mengembalikan fungsi mental, fisik dan sosial penderita setelah proses penyakitnya dihentikan. Upaya yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :a) Setelah pengobatan diperlukan kontrol teratur/berkala untuk memastikan dan mendeteksi adanya kekambuhan atau penyebaran.b) Menekan munculnya komplikasi dan kecacatanc) Melakukan rehabilitasi dengan membuat penderita lebih percaya diri, fisik segar dan bugar serta keluarga dan masyarakat dapat menerima kehadirannya melalui melakukan fisioterapi yaitu dengan rehabilitasi fisik, psikoterapi yaitu dengan rehabilitasi kejiwaan, sosial terapi yaitu dengan rehabilitasi sosial dan rehabilitasi aesthesis yaitu yang berhubungan dengan kecantikan. Discharge Planning a. Anjurkanklien dankeluarga untuk mengkonsumsi garam beryodium b. Kontrol ulangke dokter apabila terjadikekambuhanpenyakit. c.Anjurkanklien untuk mengkonsumsisayuran, mengkonsumsi air kemasan, dan banyak mengkonsumsi makanan dari laut d. Melakukanpemeriksaan gondok secara rutin e. Menjaga kebersihan air minum agar tidak terkontaminasi oleh zat-zat yang dapat menyebabkan gangguanpadakelenjar tyroid

J.Asuhan Keperawatan pada Klien Hipertrofi Kelenjar Tiroida) Pengkajian1) Kaji Riwayat Penyakit.- Sudah sejak kapan keluhan dirasakan klien.- Apakah ada anggota keluarga yang berpenyakit sama.2) Tempat tinggal sekarang dan masa balita3) Usia dan Jenis kelamin.4) Kebiasaan makan.5) Penggunaan obat obatan : - Kaji jenis obat-obat yang sedang digunakan dalam 3 bulan terakhir.- Sudah berapa lama digunakan.- Tujuan pemberian obat.6) Keluhan klien :- Sesak napas, apakah bertambah sesak bila beraktivitas.- Sulit menelan.- Leher bertambah besar.- Suara serak/parau.- Merasa malu dengan bentuk leher yang besar dan tidak simetris.7) Pemeriksaan fisik :- Palpasi kelenjar tiroid, nodul tunggal atau ganda, konsistensi dan simetris tidaknya, apakah terasa nyeri pada saat di palpasi.- Inspeksi bentuk leher, simetris tidaknya.- Auskultasi bruit pada arteri tyroidea.- Nilai kualitas suara.- Palpasi apakah terjadi deviasi trachea.- Pemeriksaan diagnostic.- Pemeriksaan kadar T3 dan T4 serum.- Pemeriksaan RAI.- Test TSH serum.8) Lakukan pengkajian lengkap dampak perubahan patologis diatas terhadap kemungkinan adanya gangguan pemenuhan oksigen, nutrisi, cairan dan elektrolit serta gangguan rasa aman dan perubahan konsep diri seperti :- Status pernapasan.- Warna kulit.- Suhu kulit (daerah akral).- Keadaan / kesadaran umum.- Berat badan dan tinggi badan.- Kadar hemoglobin.- Kelembaban kulit dan teksturnya.- Porsi makan yang dihabiskan.- Turgor.- Jumlah dan jenis cairan per oral yang dikonsumsi.- Kondisi mukosa mulut.- Kualitas suara.- Bagaimana ekspresi wajah, cara berkomunikasi dan gaya interaksi klien dengan orang di sekitarnya.- Bagaimana klien memandang dirinya sebagai seorang pribadi.

b) Diagnosa KeperawatanDiagnosa keperawatan utama yang dijumpai pada klien dengan goiter nontoksik antara lain :1. Pola napas yang tidak efektif yang berhubungan dengan penekanan kelenjar tiroid terhadap trachea.2. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan asupan yang kurang akibat disfagia.3. Perubahan citra diri yang berhubungan dengan perubahan bentuk leher.4. Ansietas yang berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakit dan pengobatannya, atau persepsi yang salah tentang penyakit yang diderita.

c) Rencana Tindakan KeperawatanDx. 1 : Pola napas yang tidak efektif yang berhubungan dengan penekanan kelenjar tiroid terhadap trachea.Tujuan :Selama dalam perawatan, pola napas klien efektif kembali (sambil menunggu tindakan pembedahan bila diperlukan) dengan kriteria sebagai berikut :- Frekuensi pernapasan 16-20 x/menit dan pola teratur- Akral hangat- Kulit tidak pucat atau cianosis- Keadaan klien tenang/tidak gelisah

Intervensi Keperawatan :1) Batasi aktivitas, hindarkan aktivitas yang melelahkan2)Posisi tidur setengah duduk dengan kepala ekstensi bila diperlukan3) Kolaborasi pemberian obat-obatan4) Bila dengan konservatif gejala tidak hilang, kolaborasi tindakan operatif5) Bantu aktivitas klien di tempat tidur6) Observasi keadaan klien secara teratur7) Hindarkan klien dari kondisi-kondisi yang menuntut penggunaan oksigen lebih banyak seperti ketegangan, lingkungan yang panas atau yang terlalu dingin

Dx. 2 : Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan yang berhubungan dengan asupan nutrien kurang akibat disfagia.Tujuan :Nutrisi klien dapat terpenuhi kembali dalam waktu 1-2 minggu dengan kriteria sebagai berikut :- Berat badan bertambah- Hemoglobin : 12-14 gr% (wanita) dan 14-16 gr% (pria)- Tekstur kulit baik

Intervensi Keperawatan :1) Berikan makanan lunak atau cair sesuai kondisi klien2) Porsi makanan kecil tetapi sering3) Beri makanan tambahan diantara jam makan4) Timbang berat badan dua hari sekali5) Kolaborasi pemberian ruborantia bila diperlukan6) Ciptakan lingkungan yang menyenangkan menjelang jam makan

Dx. 3 : Perubahan citra diri yang berhubungan dengan perubahan bentuk leher.Tujuan :Setelah menjalani perawatan, klien memiliki gambaran diri yang positif kembali dengan kritria :- Klien menyenangi kembali tubuhnya-Klien dapat melakukan upaya-upaya untuk mengurangi dampak negatif pembesaran pada leher-Klien dapat melakukan aktivitas fisik dan sosial sehari-hari

Intervensi Keperawatan :1) Dorong klien mengungkapkan perasaan dan pikirannya tentang bentuk leher yang berubah2) Diskusikan upaya-upaya yang dapat dilakukan klien untuk mengurangi perasaan malu seperti menggunakan baju yang berkerah tertutup3) Beri pujian bila klien dapat melakukan upaya-upaya positif untuk meningkatkan penampilan diri4) Jelaskan penyebab terjadinya perubahan bentuk leher dan jalan keluar yang dapat dilakukan seperti tindakan operasi5) Jelaskan pula setiap risiko yang perlu di antisipasi dari setiap tindakan yang dapat dilakukan6) Ikut sertakan klien dalam kegiatan keperawatan sesuai kondisi klien7) Fasilitasi klien untuk bertemu teman-teman sebayanya

Dx. 4 : Ansietas yang berhubungan dengan kurang pengetahuan klien tentang penyakit dan pengobatannya atau persepsi yang salah tentang penyakit yang diderita.

Tujuan :Setelah diberikan pendidikan kesehatan sebanyak 2 kali, ansietas klien akan hilang dengan kriteria sebagai berikut :- Ekspresi wajah tampak rileks- Klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik- Klien mengetahui penyakit dan upaya pengobatan

Intervensi Keperawatan :1) Kaji pengetahuan klien tentang penyakit dan pengobatannya2) Identifikasi harapan-harapan klien terhadap pelayanan yang diberikan3) Buat rancangan pembelajaran yang mencakup :- Jenis penyakit dan penyebabnya- Upaya penanggulangan seperti pemberian obat-obatan, tindakan operasi bila ada indikasi- Prognosa dan prevalensi penyakit- Kondisi-kondisi yang dapat menyebabkan keadaan yang lebih buruk dan kondisi yang mempercepat penyembuhan4) Laksanakan pembelajaran bersama dengan anggota keluarga, perhatikan kondisi klien dan lingkungannya.

BAB IIIPENUTUP

Kesimpulan

Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (Iodine Deficiency Disorder) adalah gangguan tubuh yang disebabkan oleh kekurangan iodium sehingga tubuh tidak dapat menghasilkan hormon tiroid. Definisi lain, GAKY merupakan suatu masalah gizi yang disebabkan karena kekurangan Yodium, akibat kekurangan Yodium ini dapat menimbulkan penyakit salah satu yang sering kita kenal dan ditemui dimasyarakat adalah Gondok.

Penggunaan yodium yang cukup, makan makanan yang banyak mengandung yodium, seperti ikan laut, ganggang-ganggangan dan sayuran hijau. Untuk penggunaan garam beryodium dalam masakan perlu diperhatikan. Garam yodium bisa ditambahkan setelah masakan matang, bukan saat sedang memasak sehingga yodium tidak rusak karena panas.Hindari mengkonsumsi secara berlebihan makanan-makanan yang mengandung goitrogenik glikosida agent yang dapat menekan sekresi hormone tiroid seperti ubi kayu, jagung, lobak, kankung, dan kubis.

Saran Semoga makalah yang kami buat dapat bermanfaat bagi semua orang yang membacanya. Dengan adanya makalah ini diharapkan dapat membantu dalam proses, Selain itu diperlukan lebih banyak referensi dan penyusunan makalah yang lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8, Vol. 2. EGC. Jakarta.Mansjoer Arif, et al. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III. Jakarta: Media Aesculapius, 1999. Syaifuddin. Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan. Edisi 3. Jakarta: EGC, 2006.Irianto, Kus. Struktur & Fungsi Tubuh Manusia. Bandung: Yrama Widya. 2004.Departemen Kesehatan RI. Survei Nasional Pemetaan Gangguan Akibat Kekeurangan Yodium (GAKY). Jakarta, 1998.Makum AH, Ismail S, alatas H, Akib A, Firmansyah A, Sastroasmoro S, editor. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. Jilid I. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1991. Noer HMS, Waspadji s, Rachman AM, et al, Editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 1. Edisi ketiga. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1996.Tierney LJ. Current medical diagnosis and treatment Connecticut Appleton and Lange, 1997.