GEZIT - Imigrasi

Click here to load reader

  • date post

    15-Oct-2021
  • Category

    Documents

  • view

    0
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of GEZIT - Imigrasi

BULETIN.indd1
soekarnohatta.imigrasi.go.id
GEZIT G E L O R A Z O N A I N T E G R I T A S
Kekuatan Kami
saatnya berubah
INOVASI PELAYANAN
PUBLIK#AMANAH
Bicara integritas bukanlah hal yang asing bagi seluruh jajaran Kementerian Hak dan Asasi Manusia (Kemenkumham). Meski demikian, manakala ditanya maknanya kadang masih kurang yakin untuk menjelaskannya. Hal tersebut yang menarik redaksi. Buletin Kinerja untuk mengangkatnya sebagai tema edisi kali ini. Harapannya dapatmendukung upaya memperkokoh makna dan implementasi integritas dalam perilakukerja serta menjadikan Kemenkumham sebagai institusi yang memiliki kesungguhan untuk mempraktikkan integritas.
Integritas sering disederhanakan maknanya sebagai kejujuran, kebajikan, berperilaku baik dan benar, atau bermoral. Maknanya seringkali berkembang dan dikaitkan dengan pencegahan korupsi. Kamus Besar Bahasa Indonesia memaknai integritas sebagai (1) mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; (2) kejujuran. Jika dikaitkan dengan integritas organisasi maka maknanya yaitu wujud keutuhan prinsip moral dan etika pegawai dalam kehidupan berorganisasi. Tahun 2011, Kemenkumham telah menetapkan
Integritas sebagai salah satu nilai Kemenkumham. Integritas menurut Kemenkumham adalah berpikir, berkata, berperilaku dan bertindak dengan baik dan benar serta memegang teguh kode etik dan prinsip-prinsip moral. Tentu tidak hanya dimaknai saja. Tidak kalah penting dari itu, bagaimana cara memperkuat implementasi budaya integritas di lingkungan Kemenkumham,
khususnya dikaitkan dengan mana- jemen kinerja dan risiko. Rubrik Laporan Utama akan mengulas lebih dalam terkait hal ini. Wawancara dengan Inspektur Jenderal Kemen-kumham pun dilakukan untuk mendapat pencerahan makna dan implementasi integritas secara lebih hakiki.
Untuk mewarnai buletin kinerja edisi I ini, redaksi menampilkan
Akhirnya, redaksi mengajak sahabat buletin kinerja, dengan memperkokoh implementasi integritas pada setiap individu dalam institusi Kemenkumham, mari bersama mewujudkan visi Indonesia 2020 (Ketetapan MPR-RI No.VII/MPR/2001) yaitu terwujudnya masyarakat Indonesia yang religius, manusiawi, bersatu, demokratis,
adil, sejahtera, maju, mandiri, serta baik dan bersih dalam penyelenggaraan negara.
Semoga integritas bukan mimpi lagi. Salam
Diterbitkan Oleh: Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno-Hatta
Pelindung Kepala Kantor
Pemimpin Redaksi Kepala Seksi Informasi Keimigrasian
Redaktur Melati Amaya
Kontributor Wisnu Firmansyah Riki Permana
Desain Grafis & Fotografer Yoga Aditya Badaruddin Ramdani Jimmy Asmoro
Pencetakan dan Distribusi PT Media Keadilan Indonesia
Alamat Redaksi: Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno-Hatta
Komplek Perkantoran Bandar Udara Internasional Seoakarno – Jl. C3, Pajang, Benda, Kota Tangerang, Banten. 15126
No. Telp: (021) 5507185
3
soekarnohatta.imigrasi.go.id
PEMBANGUNAN ZONA INTEGRITAS DALAM UPAYA MEWUJUDKAN GOOD GOVERNANCE DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN HUKUM DAN HAM
Ada beberapa asas umum penyelenggaraan pemerintahan yang baik  (good governance), yang dapat disarikan menjadi tiga hal yaitu akuntabilitas publik, kepastian hukum (rule of law), dan transparansi publik (Masthuri:2001).
Salah satu bentuk tata pemerintahan yang baik tersebut adalah terlaksananya pelayanan publik dengan baik (pelayanan prima). Unsur pelayanan yang harus dipenuhi diantaranya adalah kesederhanaan, kepastian, keamanan, keterbukaan, efisiensi, ekonomis, keadilan dan ketepatan waktu. Saat ini Indonesia berada di urutan 91 dunia dalam urusan pelayanan publik. Kedepan Indonesia menargetkan untuk memperbaiki peringkat tersebut di tahun- tahun mendatang. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) Asman Abrur pada 28 Agustus 2017 yang lalu. Pemerintah terus mengejar ketertinggalan Indonesia dalam hal pelayanan publik yang saat ini berada di posisi 91 menjadi posisi 40 peringkat dunia (Asman Abrur, 28 Agustus 2017, Denpasar).
Kesan yang dirasakan oleh masyarakat terhadap birokrasi di Indonesia adalah pelayanan yang berbelit-belit, biaya tinggi dan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk penyelesaian suatu perizinan. Dengan kondisi birokrasi seperti yang telah disampaikan diatas sesuai juga dengan tuntutan reformasi, pemerintah dituntut untuk melakukan reformasi terhadap birokrasi.
Reformasi birokrasi merupakan salah satu cara untuk mewujudkan tata pemerintahan yang baik (good governance). Prinsip-prinsip dari penerapan tata pemerintahan yang baik adalah terjadinya proses pengelolaan pemerintahan yang demokratis, profesional,
menjunjung tinggi supremasi hukum dan hak azazi manusia, desentralistik, partisipatif, transparansi, keadilan, bersih dan akuntabel, efektif dan efisien.
Di Indonesia birokrasi sering diidentikkan dengan pegawai negeri yang lamban dan korup. Korupsi merupakan salah satu dampak penyelewengan dari sikap ketidakjujuran dimana jujur merupakan poin utama dari integritas. Dalam nilai-nilai yang dianut oleh kementerian hukum dan HAM, integritas dalam hal ini jujur ditempatkan di posisi pertama dan utama.
      Isu integritas pegawai di lingkungan birokrat, masih menjadi salah satu topik yang sering muncul di berbagai media. Imigrasi mempunyai peran strategis di pemerintahan, hal ini menjadikan sebagai salah satu instansi yang menjadi sorotan masyarakat. Oleh karena itu, budaya integritas pegawai menjadi mutlak untuk terus ditingkatkan. Hal ini didukung dengan berbagai upaya yang tentunya harus dapat menjawab setiap pertanyaan atau keraguan yang muncul atas keberhasilan dari program reformasi birokrasi yang telah dibangun kementerian hukum dan HAM. Berbicara tentang integritas, tentunya sudah tidak asing di kalangan pegawai Imigrasi. Dalam Keputusan Permenkumham Nomor 29 tahun 2019 tentang Pembangunan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) di Lingkungan Kementerian Hukum dan HAM, dijelaskan definisi integritas yaitu bahwa dalam berpikir, berkata, berperilaku, dan bertindak, pimpinan dan seluruh Pegawai Negeri Sipil di lingkungan KEMENKUMHAM melakukannya dengan baik dan benar serta selalu memegang teguh kode etik dan prinsip-prinsip moral.
Good governance adalah
Reformasi Birokrasi di Kementerian Hukum dan HAM yang telah berjalan dengan baik dan mendapat apresiasi dari berbagai pemangku kepentingan, tentunya harus menjadi inspirasi bagi seluruh pegawai Kementerian Hukum dan HAM, baik tingkat pusat maupun daerah, untuk terus bekerja secara maksimal dalam memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh masyarakat Indonesia, dengan berlandaskan pada nilai profesionalisme, akuntabilitas, sinergi, transparan, integritas dan pelayanan Road Map Reformasi Birokrasi dan Transformasi Kelembagaan ini merupakan janji pegawai Kementerian Hukum dan HAM yang akan diimplementasikan dalam lima tahun ke depan. Road Map ini disusun dengan mempertimbangkan hasil reformasi tahun-tahun sebelumnya, ekspektasi para pemangku kepentingan, risiko utama organisasi, serta perubahan lingkungan strategis guna mengoptimalkan pencapaian tujuan Kementerian Hukum dan HAM. Road Map yang merupakan “living document” ini akan menjadi acuan dalam pelaksanaan reformasi birokrasi oleh 11 (sebelas) unit eselon I di lingkungan Kementerian Hukum dan HAM, baik tingkat pusat maupun daerah. Secara umum Road Map Kementerian Hukum dan HAM ini dikelompokan menjadi 8 Program yaitu: Manajemen Perubahan, Penataan Peraturan Perundang-undangan, Penataan dan Penguatan Organisasi, Penataan Tatalaksana, Penataan Sistem Manajemen Sumber Daya Manusia Aparatur, Penguatan Pengawasan, Penguatan Akuntabilitas Kinerja, Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik.
Dalam manajemen perubahan, Menkumham telah menetapkan dan me-launching 5 (lima) nilai-nilai Kementerian Hukum dan HAM yang akan menjadi dasar dan pondasi bagi institusi Kementerian Hukum dan HAM pimpinan dan seluruh pegawai dalam mengabdi, bekerja, dan bersikap, guna mewujudkan Kementerian Hukum dan HAM sebagai institusi pemerintahan terbaik, berkualitas, bermartabat, terpercaya, dihormati, dan disegani. Nilai-nilai tersebut meliputi professional, akuntabel, sinergi, transparan, dan inovatif.
Kementerian hukum dan HAM dalam upayanya untuk melaksanakan reformasi birokrasi telah melakukan langkah-langkah nyata. Di dalam Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia nomor M.HH-19.OT.03.01 tahun 2020 tentang road map reformasi birokrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia tahun 2020-2024 seluruh pegawai dari tingkat pimpinan tinggi sampai bawah wajib melaksanakan apa yang sudah menjadi aturan yang dalam pelaksanaannya dievaluasi dan dimonitor oleh tim reformasi birorasi nasional baik secara sendiri- sendiri maupun bersama-sama.
Dalam usaha untuk melakukan percepatan pencapaian terhadap sasaran program reformasi birokrasi, maka
pemerintah menuangkan program akselerasi tersebut dalam bentuk pilot project pencapaian sasaran RB yaitu Zona Integritas yang tertuang dalam Permenpan RB nomor 52 tahun 2014 tentang Pedoman Pembangunan Zona Integritas menuju Wilayah Bebas Korupsi / Wilayah Birokrasi Bersih Melayani. Zona Integritas (ZI) adalah predikat yang diberikan kepada instansi pemerintah yang pimpinan dan jajarannya mempunyai komitmen untuk mewujudkan WBK/WBBM melalui reformasi birokrasi, khususnya dalam hal pencegahan korupsi dan peningkatan kualitas pelayanan publik.
Perjalanan menuju WBK dan WBBM bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah, namun tuntutan reformasi birokrasi serta semangat perubahan yang selalu dipegang oleh Kementerian Hukum dan HAM adalah landasan bagi setiap unit kerja untuk membuktikan kesungguhannya dalam meraih predikat WBK dan WBBM. Untuk menuju WBK dan WBBM, langkah nyata yang dapat kita lakukan sebagai pegawai adalah dengan mempraktekkan nilai-nilai integritas dalam organisasi dengan cara selalu menjadi pribadi yang jujur kepada diri sendiri untuk bertugas dan tanggung jawab sesuai aturan, integritas dalam melindungi aset organisasi, integritas dalam melindungi informasi organsiasi, integritas dalam menggunakan komunikasi elektronik, integritas dalam menerapkan kesehatan dan keselamatan kerja, integritas dalam memelihara lingkungan kerja yang bebas dari suap, korupsi, kolusi, pelecehan, perbuatan asusila, ancaman dan kekerasan. Dengan integritas kita melakukan kebenaran, dengan integritas kita tidak perlu takut terhadap apapun sebab kita tidak perlu menyembunyikan apapun. Dan hal ini membenarkan bahwa perubahan dimulai dari sendiri dan dari hal yang paling kecil.
Majalah GEZIT | Gelora Zona Integritas
5
soekarnohatta.imigrasi.go.id
Edisi kali ini , kita mendapat kesempatan berbincang dengan sosok kebapakan yang lahir di Palembang 44 tahun lalu. Beliau adalah Romi Yudianto, yang akrab dipanggil Pak Romi. Anak pertama dari tujuh bersaudara dan ayah dari dua orang putri ini dikenal sebagai sosok yang penyayang. Ditemui di ruang kerjanya, Beliau menyambut kami dengan ramah disela-sela kesibukannya.
Bapak Romi Yudianto memulai karir sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada tahun 1997 dan diangkat menjadi PNS pada Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai pada tahun 1998. Pada tahun 2000, Beliau memulai karirnya sebagai Pejabat Imigrasi. Enam tahun kemudian, Beliau mendapat promosi menduduki jabatan struktural sebagai Kasubsi Pengawasan Keimigrasian pada Kantor Imigrasi Kelas I Bandung. Sepanjang 2008-2010 Pak Romi ditugaskan sebagai Kasi Forsakim pada Kantor Imigrasi Kelas II Tarakan. Selang dua tahun kemudian, Pak Romi menjabat sebagai Kasi Unit A pada Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Surabaya. Pada 2012, Pak Romi mengalami pemindahtugasan sebagai Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian pada Kantor Imigrasi Kelas I Malang. Lantas pada tahun 2014 jabatan baru yakni sebagai Kepala Bidang Wasdakim Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Surabaya.
Pak Romi menjabat sebagai Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno Hatta sejak Maret 2020. Sebelumnya, Beliau menjabat sebagai Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Tanjung Perak (2017-2019) juga di Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Batam (2019-2020). Prestasinya selama berkarir diantaranya berhasil mengantar Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Batam (Kanim
Batam) mendapatkan predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK). Tidak hanya Kanim Batam saja yang Beliau antar mendapatkan predikat WBK, namun juga Kantor Imigrasi Kelas I Tanjung Perak dan Kantor Imigrasi Mataram. Berbekal prestasi yang berhasil diraih, Beliau pun optimis dapat juga mengantar Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno Hatta (Kanim Soetta) mendapatkan Predikat WBK/WBBM, meski hal ini tidaklah mudah mengingat jumlah pegawai Kanim Soetta yang sangat banyak dan kompleks dengan segala permasalahan yang ada ditambah kondisi pandemi Virus Covid-19.
Meski dimasa kepemimpinannya Indonesia dihadapkan dengan kehadiran Virus Covid-19, sebagai Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno Hatta, Pak Romi beserta jajaran terus melakukan berbagai upaya dalam meningkatkan pelayanan keimigrasian. Lebih lanjut, pria yang memiliki hobi bermain motor trill ini memaparkan
bahwa beberapa langkah yang diambil diantaranya membuat Layanan Prioritas Satu Atap bagi kelompok rentan. Langkah ini diambil sebagai bentuk kepedulian dan ikut serta dalam pencegahan dan penularan Covid-19 khususnya bagi kelompok rentan, yang mana kelompok rentan yang dimaksud adalah orang dengan usia 50 tahun ke atas, bayi dan anak serta kaum difabel. Layanan prioritas ini, Imigrasi Soekarno Hatta tentu tidak bekerja sendirian, namun bekerja sama dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara Soekarno Hatta yang mempunyai tugas memeriksa kesehatan bagi penumpang yang baru masuk ke Indonesia dari luar negeri. Hambatan yang ada (Pandemi Covid-19), tidak menjadikan Pak Romi menyerah dan justru menjadikan itu sebagai sebuah tantangan. Menurut Beliau, “Tidak ada yang tidak bisa jika kita yakin kita bisa melakukannya”. Hal itu yang terus- menerus menjadi pegangan dan prinsip hidup Beliau. Dengan begitu pekerjaan apa pun akan menjadi mudah.
www.magazine.com
Mulai Dari Kita Saatnya Berubah
“Be the change you want to see in the world”. Kutipan Mahatma Gandhi –salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia- ini mungkin sudah sangat sering kita dengar atau baca. Berseliweran di banyak media, perkataan Gandhi yang amat powerful ini kemudian ramai dijadikan motto oleh banyak individu, kelompok, bahkan instansi. Tidak heran memang, karena jika diresapi lebih dalam ucapan Gandhi tersebut mampu menyalakan semangat perubahan. Lantas, apakah kutipan di atas dapat pula diterapkan di lingkungan pemerintahan, layaknya Kementerian Hukum dan HAM? Jawabannya, tentu saja!
Salah satu gaung yang didengugkan oleh Menteri Hukum dan HAM –Bpk.Yasonna H. Laoly- pada saat penerimaan ASN tahun 2017 lalu adalah, “Jadilah agen perubahan!”. Ucapan ini tentu saja bukan hanya merupakan jargon, tapi semangat yang coba dilekatkan pada seluruh insan Kementerian Hukum dan HAM. Dapat diasumsikan bahwa salah satu alasan mengapa Pak Menteri menekankan peran ‘Agen Perubahan’ pada setiap insan Pengayoman, khususnya ribuan CASN yang hadir di Balai Kartini kala itu, adalah karena rendahnya tingkat persepsi positif masyarakat pada peran aparatur sipil negara.
Menurut data yang dilansir dari laman World Bank pada tahun 2018 lalu, jika dibandingkan dengan beberapa negara
ASEAN –seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darusalam, dan Thailand-, capaian skor Indonesia berdasarkan indeks efektivitas pemerintahan tahun 2013-2017 hanya berada di kisaran angka 50,92. Indonesia tertinggal jauh jika dibandingkan dengan Thailand yang mendapatkan skor 65,30; Malaysia 77,08; Brunei 81; dan Singapura 99,91. Dari data tersebut, dapat disimpulkan bahwa salah satu masalah klasik yang harus segera ditangani adalah optimalisasi kinerja dan profesionalisme birokrasi.
Berdasarkan paparan data di atas, tidak heran jika kemudian salah satu nilai yang coba diterapkan secara sistematis di wilayah Kementerian Hukum dan HAM adalah ‘perubahan’. Beragam inovasi mulai diberlakukan di setiap level kementerian, mulai dari Sekertariat Jenderal, Direktorat, hingga UPT yang tersebar di banyak wilayah Indonesia –tidak terkecuali di Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno Hatta.
Sebagai UPT yang juga menaungi Tempat Pemeriksaan Imigrasi, Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno Hatta tentunya tidak ingin tertinggal dalam tren ‘revolusi birokrasi dan pelayanan’ yang tengah gencar dilakukan di wilayah Kementerian Hukum dan HAM. Buktinya, dalam beberapa tahun ini Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno Hatta telah mencetuskan beragam inovasi, diantaranya:
Oleh : Nur Roisah Pudiastuti (Ketua Pokja Manajemen Perubahan) dan Tim
Majalah GEZIT | Gelora Zona Integritas
7
soekarnohatta.imigrasi.go.id
Pemeriksaan Keimigrasian Satu Atap; inovasi ini ditujukan untuk mempermudah proses pemeriksaan keimigrasian bagi penumpang yang memerlukan pelayanan lebih, seperti ibu hamil dan balita, penumpang usia lanjut, serta penumpang sakit dan/atau difabel.
Konter Pemeriksaan PMI (Pekerja Migran Indonesia); inovasi ini ditujukan sebagai bentuk apresiasi terhadap para pegawai migran Indonesia yang sejatinya merupakan pejuang devisa negara, diharapkan dengan adanya konter ini memudahkan mereka yang telah lelah berjuang di negara orang merasa disambut dengan ramah di kampung halaman sendiri.
Duta layanan; ditujukan untuk meng-optimalkan pelayanan di beragam bidang, seperti pembuatan paspor dan pemeriksaan keimigrasian.
Optimaliasi penyebaran informasi keimigrasian melalui ragam media sosial; langkah ini ditujukan agar setiap publikasi/ informasi keimigrasian dapat diakses oleh setiap kalangan –mulai dari usia tua hingga para ‘milenial’- secara mudah dan cepat dengan memanfaatkan pesatnya perkembangan smartphone dan internet.
Dengan menerapkan inovasi di atas, Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno Hatta telah menunjukkan partisipasi aktif dalam rangka mendukung himbauan Menteri Hukum dan HAM, yaitu untuk menjadi ‘Agen Perubahan’ di lingkungan Kementerian Hukum dan HAM RI. Di masa yang akan datang, selain dengan terus menerapkan dan mengoreksi inovasi melalui pola ‘trial and error’, Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno Hatta juga dapat mecoba pendekatan lain demi merangsang peningkatan indeks persepsi masyarakat terhadap birokrasi pelayanan publik dan efisiensi kinerja ASN, seperti:
1. Strategi rebranding ASN. Seperti hasil FGD yang diselenggarakan tim UI-CSGAR di Jakarta pada tahun 2019 kemarin, salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan indeks persepsi masyarakat adalah dengan meningkatkan eksposur kinerja dan citra baik ASN melalui media sosial, seperti Twitter, Facebook, dan Instagram. Jika sebelumnya eksposur hanya dititikberatkan pada publikasi website saja, maka kini ASN dengan jumlah follower media sosial (minimal) 500 dapat turut membranding ulang citra diri dan instansinya.
2. Bureaucracy journalism. Diadaptasi dari tren citizen journalism, bureaucracy journalism dianggap dapat menjadi cara yang ampuh untuk mendongkrak persepsi positif masyarakat. Detailnya, ASN baik secara mandiri atau kolektif dapat merekam kegiatan positif apa saja yang dilakukan di lingkungan kerja, lalu menyebarkannnya dalam bentuk video blog melalui media sosial.
STRATEGI
8
soekarnohatta.imigrasi.go.id
Banner Elektronik
Duta Layanan
Banner Elektronik yang ada pada layar di TPI Soekarno- Hatta merupakan bentuk komitmen yang sangat tinggi dari Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno- Hatta demi mewujudkan Pembangunan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK)/ Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM). Tampilan Banner Elektronik terdiri dari Maklumat Pelayanan yang sudah ditandatangani oleh Kepala Kantor dan tampilan yang meyakinkan bahwa Layanan yang diberikan oleh Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno-Hatta anti-pungli dan gratifikasi, yang dituangkan dalam 2 (dua) bahasa yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Selain untuk memberitahu masyarakat luas bahwa Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno-Hatta benar- benar berkomitmen untuk mewujudkan Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK), Banner Elektronik ini juga sebagai pengingat bagi para petugas untuk selalu memberikan pelayanan yang cepat, tepat, dan profesional tanpa suap, pungli dan gratifikasi sebagaimana tertuang dalam Maklumat Pelayanan.
Duta layanan merupakan salah satu program unggulan yang tidak kalah penting dibandingkan program unggulan lainnya, karena langsung dirasakan manfaatnya oleh penerima layanan. Duta layanan sebagai ujung tombak pelayanan diharapkan mampu memberikan kemudahan kepada para penumpang yang masih bingung ketika akan melakukan proses pemeriksaan keimigrasian. Karena pada saat di lapangan, tidak sedikit penumpang WNI ataupun WNA yang kebingungan harus menuju konter yang mana. Disinilah peran lain Duta Layanan, yaitu mengarahkan penumpang menuju konter imigrasi yang sesuai. Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno-Hatta yang selalu
berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik kepada para masyarakat telah menyiapkan 2 (dua) petugas yang siap membantu para penumpang untuk memperoleh informasi terkait pelayanan dan pemeriksaan keimigrasian baik di Terminal 3 Keberangkatan maupun Terminal 3 Kedatangan Internasional Bandara Soekarno- Hatta. Dengan adanya Duta Layanan, penumpang diharapkan tidak sungkan untuk bertanya kepada petugas. Selain itu, Duta Layanan juga berperan membantu mengarahkan penumpang yang termasuk kelompok rentan seperti lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil, dan ibu yang membawa balita untuk mendapatkan layanan prioritas.
Majalah GEZIT | Gelora Zona Integritas
9
soekarnohatta.imigrasi.go.id
Layanan Satu Atap Dalam rangka mengimplementasikan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 27 Tahun 2018 tentang Pelayanan Publik Berbasis Hak Asasi Manusia, Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno-Hatta berkomitmen untuk memberikan pelayanan ramah HAM kepada seluruh penerima layanan keimigrasian, khususnya dalam hal ini penumpang penerbangan internasional. Berkolaborasi dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno- Hatta meluncurkan fasilitas Layanan Satu Atap di Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Terminal 3 Kedatangan Internasional Bandara Soekarno-Hatta. Layanan ini diresmikan pertama kali oleh Kepala Kantor Imigrasi bersama dengan Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan pada tanggal 30 November 2021 di Terminal 3 Kedatangan Internasional Soekarno-Hatta.
Apa itu Layanan Satu Atap? Layanan Satu Atap merupakan layanan prioritas yang khusus diberikan kepada penumpang yang termasuk dalam kategori kelompok rentan, meliputi lansia (lanjut usia), penyandang disabilitas, ibu hamil, dan ibu yang membawa balita untuk mendapatkan layanan proses pemeriksaan kesehatan
dan keimigrasian dalam satu tempat. Melalui layanan ini, diharapkan dapat membantu penumpang untuk mendapatkan pelayanan pemeriksaan keimigrasian yang cepat, tepat dan profesional sebagaimana tertuang dalam Maklumat Pelayanan Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno- Hatta. Yang utama, fasilitas ini diharapkan dapat mencegah penularan Covid-19 di masa pandemi ini, mengingat bandara, khususnya area imigrasi merupakan area yang sangat rawan penularan Covid-19 karena mobilitas orang yang keluar-masuk wilayah Republik Indonesia. Dengan adanya fasilitas ini, penumpang kelompok rentan tidak perlu lagi untuk mengantri bersama para penumpang umum lainnya karena adanya jalur dan konter khusus pemeriksaan.
Adapun alur Layanan Satu Atap ini yaitu setibanya di Indonesia, penumpang kelompok rentan diarahkan oleh petugas untuk melewati jalur khusus dan dapat menunggu di ruang tunggu prioritas untuk mengisi formulir kesehatan dengan nyaman dan aman karena tentu sudah sesuai dengan protokol kesehatan (jaga jarak). Setelah itu, dilakukan pemeriksaan suhu tubuh (saturasi) oleh petugas
KKP. Kemudian penumpang dibantu petugas maskapai akan mengikuti jalur khusus berupa yellow line untuk menuju Konter Pemeriksaan Satu Atap. Proses pemeriksaan yang pertama kali didapatkan oleh penumpang yaitu pemeriksaan kesehatan. Pada proses pemeriksaan ini, Petugas KKP melakukan pemeriksaan terhadap dokumen kesehatan penumpang dan dilakukan valiadasi terhadap dokumen tersebut. Setelah pemeriksaan kesehatan selesai dilakukan, penumpang akan diarahkan ke konter sebelah yatu konter imigrasi untuk dilakukan immigration clearance. Penumpang akan menerima kembali dokumen perjalanannya yang sudah diterakan cap izin masuk, yang merupakan tanda bahwa proses pemeriksaan keimigrasian telah selesai…