GEMA- Buletin PMK FISIP Unsoed

download GEMA- Buletin PMK FISIP Unsoed

of 12

  • date post

    16-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    81
  • download

    0

Embed Size (px)

description

Syalom...,Sudah lama sekali penantian panjang seperti ini akhirnya terpenuhi. Dengan menyadari pasang-surut juga dialami oleh media di seputar kalangan mahasiswa kristiani. Langkah langkah menyaudarakan kita berusaha kami lakukan. Awalnya saat ini mungkin hanya sebatas tulisan tulisan ringan saja. Tapi rencana untuk membuat Buletin yang lebih tajam dan mampu bergema di kalangan mahasiswa kristen tetaplah menjadi yang terdepan. Dengan malu-malu, kami pun berniat menerbitkan kembali buletin yang lama sudah berisi

Transcript of GEMA- Buletin PMK FISIP Unsoed

  • Gema Buletin Mahasiswa Kristen Unsoed

    #Edisi Pertam

    a

    Paskah

    Tema Paskah : Tema Paskah :

    Bangkit, sama seperti Kristus Bangkit, sama seperti Kristus

    telah bangkittelah bangkit

    Tema Paskah :

    Bangkit, sama seperti Kristus

    telah bangkit

    PMK FISIP UNSOED

  • Gema Buletin Mahasiswa Kristen Unsoed

    PMK FISIP UNSOED

    Persekutuan Mahasiswa Kristiani

    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

    Universitas Jenderal Soedirman

    Ketua :

    Nathania Riris M Tambunan

    Bendahara :

    Nike Vanmita Sianipar

    Sekretaris:

    Citra Prameswari

    Kepala Bidang :

    Rachel Diah Ayu

    Bidang Kerohanian:

    Ria Panjaitan (Koor)

    Elizabeth Tiurma

    Bidang Kreatifitas :

    Zabdi Josua Balang (Koor)

    Eva Amanda

    Paulina Herasmaranindar

    Bidang Intelektual :

    Yoshua Abib Mula Sinurat (Koor)

    Maris Sinambela

    Redaktur Pelaksana :

    Yoshua Abib Mula Sinurat

    Tim Media:

    Maris Sinambela, Rica Angelina,

    Risma, Revina Magdalena,

    Lintang.

    Layout :

    Yoshua Abib Mula Sinurat

    Dari PMK Fisip

    Syalom...,

    Sudah lama sekali penanan panjang

    seper ini akhirnya terpenuhi. Dengan menyadari

    pasang-surut juga dialami oleh media di seputar

    kalangan mahasiswa krisani. Langkah langkah

    menyaudarakan kita berusaha kami lakukan.

    Awalnya saat ini mungkin hanya sebatas tulisan

    tulisan ringan saja. Tapi rencana untuk membuat

    Bulen yang lebih tajam dan mampu bergema di

    kalangan mahasiswa kristen tetaplah menjadi yang

    terdepan. Dengan malu-malu, kami pun berniat

    menerbitkan kembali bulen yang lama sudah

    berisirahat.

    GEMA bukan media biasa. Dia luar biasa.

    Tuhan telah dan terus berkarya di dalamnya. Terlalu

    sayang apabila dia harus berisrahat kembali, lebih-

    lebih jika harus diakhiri hidupnya. Puji Tuhan, Edisi

    pertama GEMA bertepatan dengan Hari Raya

    Paskah. Ya. Isinya seputar Paskah.

    Bagi umat Krisani, pengorbanan Kristus

    sebagai penebus dosa, adalah karunia Illahi yang

    memberikan pengampunan bagi mereka yang

    percaya. Kebangkitan yang mengatasi maut adalah

    wujud pengharapan bagi umat tebusan. Roh Kasih

    memberi pengetahuan akan kebenaran yang

    memerdekakan umat Krisani dari hukum dosa.

    Kasih sea verkal serta cinta kasih horisontal dalam

    ha nurani terpancar dalam perilaku hidup yang

    mendatangkan berkat kebaikan bagi sesama dan

    bagi kemuliaan Tuhan.

    Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia,

    dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai

    selama-lamanya!" (Roma 11:36)

    1

    PMKFisip_U

    nsoedPMK F

    isip Unsoed

  • Gema Buletin Mahasiswa Kristen Unsoed

    2

    Dari PMK Fisip 1Editorial 2Cerpen 3Komik & Ilustrasi 5Cerpen 6Opini 8Pojok Info 9

    Daftar Isi

    Editorial Paskah udah pasti udah sering banget kita lewatin, apalagi buat kita orang

    Kristen. Tapi menurut aku, banyak juga

    orang-orang Kristen yang masih ngelewatin

    paskah ya udah, biasa aja gitu hanya sebagai

    rutinitas biasa yang gak ada maknanya

    sama sekali. Sekarang menurut pandangan

    aku, paskah ini adalah momen dimana titik

    balik kita ke Bapa di surga. Maksudnya

    adalah momen untuk mengingat dan

    kembali lagi bertobat ke Bapa atas semua perlakuan kita yang

    udah gak layak lagi buat diampuni. Bapa yang begitu dashyat ini,

    mengorbankan dir iNya lewat putra tunggalNya demi

    mengampuni kita. Bagaimana dengan kamu dan aku? Sudahkah

    mengampuni orang lain? Atau sudahkah kita memohon

    pengampunan kepada orang yang telah kita sakiti?

    Bapa di surga yang begitu besar dan dashyat bagi kita,

    mampu mengampuni segala kesalahan dan dosa kita. So, kenapa

    kita gak? Ketika kita sedang dikecewakan dan disakiti oleh teman,

    pacar ataupun orang yang ada disekitar kita sering kali kita marah

    dan berkata aku gak bakal ampuni dia, dia keterlaluan.

    Seketerlaluan apapun orang yang melukai kita itu, kita harus

    mampu untuk mengampuninya. Caranya adalah dengan

    membawanya dalam doa, menyerahkan hati kita kepada Bapa,

    dan mohon untuk dikuatkan, niscaya kamu akan dikuatkan dan

    diberi pengertian dari permasalahan yang kamu dapat. Bapa selalu

    tahu apa yang terbaik untuk kita, dan selalu mampu untuk

    mengampuni kita, so kalo Bapa yang begitu kudus mampu,

    kenapa kita yang hanya sebagai hamba hina ini, tidak mampu

    untuk mengampuni orang tersebut? apakah gengsi yang masih kita

    perlihatkan? Lalu bagaimana dengan Bapa? Apakah Bapa gengsi

    untuk mengampuni kita yang sudah berlumur dosa ini? tentunya

    tidak. Buatlah hidupmu lebih bermakna, agar hidup menjadi lebih

    indah, dan berkaryalah agar nama Tuhan dipermuliakan didalam

    dunia ini. Amin. (RAS)

    Oleh :

    Rica Angelina

  • Gema Buletin Mahasiswa Kristen Unsoed

    3

    CerpenBelajar Dari

    SeorangTokohOleh : Citra Prameswari

    Waktu menunjukkan pukul 18.30 Berawal dari sebuah perjalanan yang membingungkan, sebuah perjalanan dengan tujuan menemukan seorang narasumber yang aku harap akan memberikan j awaban a t a s pe r t any a an -pertanyaan dalam penelitianku. Di tengah hiruk pikuknya jalan raya dan tidak tahu arah mana yang harus aku tempuh, tiba-tiba teringat sebuah nama, nama seniman yang luar biasa dan b a n y a k d i p e r b i n c a n g k a n masyarakat Banyumas, Om Titut Edi Purwanto. Aku cuma pernah mendengar namanya, bertemu p u n b e l u m p e r n a h . J a d i kuputuskan menelpon seorang pegawai Dinas Kebudayaan dan bertanya nomor HP Om Titut yang bisa kuhubungi. Setelah beberapa menit menelpon pegawai tersebut, aku mendapatkan nomor HP Om Titut,, berhubung aku sendiri tidak tahu alamat rumah Om Titut, kuputuskan untuk menjemput dan membawa serta ayahku untuk bersamaku berkunjung ke rumah Om Titut. Om Titut, yang rupanya menjadi sahabat ayahku pada masa lalu. Sebuah rumah un ik , sederhana tapi menurutku sangat menarik, dihiasi puluhan lukisan dan cowongan karya Om Titut yang dibiarkan berserakan di halaman rumahnya. Berjalan menuju pintu dengan sedikit rasa takut oleh berdirinya sebuah cowongan. Meskipun semua cowongan yang terdapat di sana sama rupa dan bentuk, yah memang cowongan seperti itu

    bentuknya, tapi entah kenapa, hanya satu cowongan yang membuat aku ngeri. Yasudah lah, aku percepat saja langkah kakiku menuju pintu utama karena tanpa sadar, ayahku sudah meninggalkan aku jauh di depan. Kuketuk beberapa kali,, kudengar ada suara langkah kaki sedang menuju ke arahku,, ternyata putri beliau yang bernama Analis Hazby membukakan pintu untukku. Dengan senyum ramah dan manis, mempersilahkan aku untuk duduk menunggu di ruang tamu yang sebelumnya telah kujelaskan terlebih dahulu siapa aku dan dengan tujuan apa aku kemari.Aku duduk, hanya 3 menit. Suara langkah kaki berat sedang menuju kemari. Sesosok pria, tinggi, mengenakan kaos dan celana berbahan jatuh, berkulit coklat dan berjanggut cukup panjang, namun tidak terlalu tua, beliau lah Om Titut.. Om Titut tersentak kaget ketika melihat ayahku yang berada di depanku, mereka berpelukan saling melepas rindu. Bisa kubayangkan seberapa dekatnya mereka dan selama apa mereka tidak bertemu. Tak lupa, segera kuperkenalkan namaku dan menjelaskan kalau aku kemar i un tuk . . . . . , dengan semangat, beliau menjawab, ooh, begitu,, kebetulan karena sudah lama sekali Om dengan bapakmu t i d a k b e r t e mu , k i t a a k a n ngomong-ngomong panjang ya. Om kaget lho tadi, kok bapakmu bisa sampai kemari. Om dengan bapak satu perjuangan saat D e w a n K e s e n i a n B a n y u m a s m a s i h b e r d i r i

  • Gema Buletin Mahasiswa Kristen Unsoed

    4

    dulu..namun sejak dewan sudah kekurangan aktivis kebudayaan, kami jarang sekali bertemu..

    Ketika aku mendengar kalimat itu, tiba-tiba aku merasa sudah sangat dekat dan akrab dengan beliau,, orang yang ramah, dan santai, membuatku merasa sedang menghadapi keluargaku sendiri.

    Cukup lama aku berceloteh dan berbincang dengan beliau, aku mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang kususun untuk penelitian singkatku. Yahh, dengan sangat santai, dan aura wibawanya, membuatku tidak memikirkan apapun saat itu. Kudengarkan semua yang beliau katakan, cerita-cerita, mitos masyarakat dan disertai dengan pesan-pesan beliau yang bijak, jujur, pada saat itu juga, aku merasa dunia sangat tenang dan damai. Sungguh aku terbawa suasana saat itu.

    Tak lupa aku bertanya satu hal, yang berhasil membuat aku sedikit terganggu. Tanpa basa-basi, kutanyakan langsung sebuah cowongan yang membuat aku sedikit takut saat berjalan di halaman depan tadi. Selalu diawali dengan senyum, beliau menjelaskan pelan-pelan, bahwa cowongan yang aku lihat tadi adalah cowongan yang telah memiliki Indhang.. (Indhang biasanya disebut sebagai roh)..saat itu pula aku merinding, ternyata intuisiku benar. Di antara cowongan yang lain, hanya cowongan

    i t u y a n g paling

    mencolok buatku, yang paling menarik perhatianku, sampai-sampai aku tidak melepaskan pandanganku dari halaman parkir hingga depan pintu saking takutnya.

    Aku tidak ingin mendengarkan lagi, takut jika penyakit parno ku kembali. Kuputar arah perbincangan kami. Dan kembalilah kami ke perbincangan kami yang menyenangkan.

    Begitu aku sangat menikmati waktuku b e r b i n c a n g - b i n c a n g dengan beliau. Sesaat kulihat sebuah lukisan besar terpajang tepat di depanku. Aku bertanya, lukisan apa itu. Dengan senyuman, beliau