Gangguan Perkembangan Psikologis Dan Assessment Psikologis

download Gangguan Perkembangan Psikologis Dan Assessment Psikologis

of 27

  • date post

    20-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    22
  • download

    6

Embed Size (px)

description

Gangguan Perkembangan Psikologis Dan Assessment Psikologis

Transcript of Gangguan Perkembangan Psikologis Dan Assessment Psikologis

BAB 1PENDAHULUAN Pribadi yang ada dalam setiap diri manusia timbul sebagai hasil dari proses perkembangan. Pada setiap tahapan perkembangan terdapat beberapa aspek perkembangan yang mengalami tumbuh kembang secara kompleks, memiliki karakterisitk yang berbeda sesuai dengan tahapan usia masing-masing. Aspek-aspek tersebut meliputi perkembangan fisik atau biologis, perkembangan kognitif, dan perkembangan sosio-emosional (Maramis WF et al, 2009).Bila salah satu aspek terganggu saat proses perkembangan maka tidak hanya berdampak pada aspek tersebut namun juga dapat menghambat perkembangan aspek lainnya. Dalam PPDGJ III gangguan perkembangan psikologis merupakan suatu gangguan pada diri seseorang yang memiliki gambaran seperti onset munculnya gejala bervariasi selama masa bayi atau anak, adanya hendaya atau keterlambatan perkembangan fungsi yang berlangsung erat dengan kematangan biologis dari susunan sistem saraf pusat serta berlangsung secara terus menerus tanpa remisi dan kekambuhan yang khas bagi banyak gangguan jiwa.

BAB 2ISI2. 1. Gangguan Perkembangan khas berbicara dan berbahasa (F80)

Gangguan ini adalah gangguan pola normal penguasaan bahasa sejak awal perkembangan. Kondisi ini secara tidak langsung berkaitan dengan kelainan neurologis, mekanisme bicara, gangguan sensori, retardasi mental, atau faktor lingkungan. Anak mungkin lebih mampu berkomunikasi atau mengerti pada situasi tertentu yang sangat dikenalnya daripada situasi lain, tetapi kemampuan berbahasa pada setiap keadaan sedikit terganggu (Maslim, 2001).Kesulitan utama diagnosis gangguan perkembangan khas berbicara dan berbahasa adalah membedakannya dengan variasi perkembangan anak normal. Anak dengan perkembangan yang normal mempunyai variasi yang besar pada usia saat pertama kali belajar berbicara dan berbahasa. Anak normal dengan keterlambatan berbicara (slow speaker) sebagian besar bisa berkembang menjadi normal. Sebaliknya, anak dengan gangguan perkembangan khas bicara dan berbahasa, meskipun pada akhirnya sebagian besar mencapai tingkat normal dari keterampilan berbahasa, namun juga akan diikuti oleh masalah-masalah yang lainnya seperti kesulitan dalam membaca dan mengeja, kelainan dalam hubungan interpersonal, serta gangguan emosional dan prilaku. Terdapat empat kriteria utama yang digunakan untuk menemukan terjadinya gangguan klinis yang nyata yaitu: a. Keparahan; b. Perjalanan penyakit; c. Pola; d. Masalah yang menyertai (Maslim, 2001).Kesulitan kedua dalam mendiagnosis gangguan perkembangan khas berbicara dan berbahasa adalah membedakannya dengan retardasi mental atau kelambatan perkembangan global. Kecurigaan pada gangguan perkembangan khas jika ditemukan bahwa kelambatan perkembangan yang ditemukan tidak menyimpang dari tingkat rata-rata umum fungsi kognitif. Pada umumnya, retardasi mental akan disertai dengan pola prestasi intelektual yang tidak merata dan hendaya berbahasa yang lebih berat (Maslim, 2001).Kesulitan ketiga dalam mendiagnosis gangguan perkembangan khas berbicara dan berbahasa adalah membedakannya dari suatu gangguan sekunder akibat dari ketulian yang berat atau beberapa kelainan neurologis atau struktur lain yang khas. Ketulian yang berat pada awal masa kanak-kanak hampir selalu dapat menimbulkan keterlambatan perkembangan bahasa yang menyolok. Kelainan artikulasi yang lansung disebabkan oleh langit-langit mulut yang terbelah atau disatria yang diakibatkan oleh cerebral palsy juga dapat menyebabkan gangguan berbicara. Gangguan berbicara dan berbahasa yang disebabkan oleh hal-hal ini tidak termasuk dalam gangguan khas berbicara dan berbahasa (Maslim, 2001).2.1.1Gangguan Artikulasi berbicara Khas (F80.0).Gangguan ini merupakan gangguan perkembangan khas dimana penggunaan suara untuk berbicara dari anak, berada di bawah tingkat yang sesuai dengan tingkat mentalnya, namun tingkat kemampuan bahasanya berada dalam batas normal. Perlu diperhatikan bahwa usia penguasaan suara untuk berbicara dan cara suara berkembang, menunjukan variasi yang cukup besar pada masing-masing individu. Pada perkembangan normal, anak berusia 4 tahun biasanya akan terjadi kesalahan mengungkapkan suara bicara, namun kesalahan ini dapat dimengerti dengan mudah oleh orang lain. Pada usia 6-7 tahun, sebagian besar suara untuk berbahasa akan diperoleh. Meskipun kesulitan berbicara dapat menetap dengan kombinasi suara tertentu, tetapi hal ini tidak menyebabkan masalah dalam komunikasi. Pada usia 11-12 tahun, penguasaan dari hampir semua suara untuk berbicara harus dicapai (Maslim, 2001).Pada perkembangan yang abnormal, kemahiran suara bicara akan terlambat dan/menyimpang sehingga hal ini dapat menimbulkan misartikulasi berbahasa anak dengan kesulitan orang lain memahami, subtitusi suara bicara dan inkontinensi mengeluarkan suara (anak dapat dengan benar mengucapkan beberapa kata tetapi tidak dapat untuk kata-kata yang lainnya). Diagnosis ditegakkan hanya jika beratnya gangguan artikulasi diluar batas variasi normal bagi usia mental anak. Pada gangguan ini, kecerdasan (intelegensia) non verbal anak masih dalam batas normal. kelainan artikulasi tidak langsung diakibatkan oleh suatu kelainan sensorik, struktural atau neurologis. Kesalahan ucap pada gangguan ini ditemukan tidak normal dalam konteks pemakaian bahasa percakapan sehari-hari (Maslim, 2001). Sebagian besar anak dengan gangguan artikulasi bahasa berespon baik pada pengobatan. Kesulitan artikulasi bahasa bisa ditangani dengan baik dan tidak menetap hingga dewasa. Namun, jika gangguan artikulasi ini juga diikuti dengan gangguan berbahasa ekspresif, prognosis gangguan akan menjadi lebih buruk dan perlu terapi bicara yang lebih spesifik untuk menanganinya (Maslim, 2001).2.1.2Gangguan berbahasa ekspresif (F80.1).Gangguan berbahasa ekspresif adalah gangguan perkembangan khas dengan kemampuan anak dalam mengekspresikan bahasa lisan/ucapan dibawah rata-rata usia mentalnya, namun pengertian bahasa dalam batas normal, dengan atau tanpa gangguan artikulasi (Sadock BJ et al, 2010).1) Epidemiologi

Prevalensi gangguan bahasa ekspresif berada pada rentang 3-10% dari semua anak usia sekolah, dengan sebagian besar perkiraan adalah 3 dan 5% lebih sering 2-3 kali pada anak laki-laki (Sadock BJ et al, 2010).2) Etiologi Penyebab spesifik gangguan bahasa ekspresif tidak diketahui. Kerusakan otak yang samar serta keterlambatan pematangan perkembangan otak dicurigai menjadi penyebab yang mendasari gangguan ini. Faktor genetik diperkirakan memainkan peran dalam gangguan ini. Terdapat bukti yang menunjukan bahwa gangguan bahasa terdapat dalam frekuensi yang lebih tinggi pada keluarga tertentu. Beberapa studi juga menunjukan bahwa pada anak kembar monozigot, ditemukan adanya kecenderungan kejadian bersama mengalami gangguan komunikasi yang signifikan. Faktor lingkungan dan pendidikan juga dicurigai turut berperan di dalam gangguan perkembangan bahasa dan perkembangan pada anak (Sadock BJ et al, 2010).3) Penegakan Diagnosis

Perlu diperhatikan bahwa pada umumnya terdapat variasi individu yang cukup besar dalam tingkat perkembangan bahasa yang normal. Namun, pada anak berusia 2 tahun yang ditemukan tidaknya ada kata yang terucap atau hanya kemunculan beberapa kata, hal ini dapat menjadi tanda yang bermakna dalam mencurigai keterlambatan pada anak. Tanda keterlambatan lain juga dapat diberikan pada anak berusia 3 tahun yang tidak mampu mengerti kata majemuk sederhana. Tanda lain yang muncul belakangan dapat berupa perkembangan kosakata yang terbatas, kesulitan dalam memilih dan mengganti kata-kata yang tepat, penggunaan berlebihan dari sekelompok kecil kata-kata umum, pemendekan ucapan yang panjang, struktur kalimat yang mentah, kesalahan kalimat (syntactical), kehilangan awalan dan akhiran yang khas serta kesalahan/kegagalan dalam menggunakan aturan tata bahasa seperti kata penghubung, kata ganti, artikel dan kata kerja/benda yang mengalami perubahan. Dapat dijumpai generalisasi yang tidak tepat dari aturan tata bahasa, seperti kekurangan dalam pengucapan kalimat dan kesulitan mengurut kejadian yang telah lewat. Ketidakmampuan dalam bahasa lisan sering disertai dengan kelambatan atau abnormalitas dalam bunyi kata yang dihasilkan (Sadock BJ et al, 2010).Diagnostik ditegakan jika tingkat keparahan dari kelambatan perkembangan berbahasa ekspresif telah melewati batas variasi normal dari umur mental anak, namun kemampuan pengertian bahasa masih dalam batas normal. Penggunaan bahasa non verbal (Senyum dan gerakan tubuh) dan bahasa internal yang tampak dalam imajinasi atau dalam permainan khayalan tetap utuh. Dalam hal ini, kemampuan dalam komunikasi sosial tanpa kata tidak terganggu. Anak sebagai kompensasi dari kekurangannya akan berusaha berkomunikasi dengan menggunakan demonsterasi, gerakan tubuh, mimik atau bunyi-bunyi non bahasa. Namun, anak sebagian besar akan menjumpai kesulitan dalam hubungan dengan teman sebayanya, gangguan emosional, gangguan prilaku dan/atau aktivitas berlebih serta kurang perhatian. Gangguan kehilangan pendengaran parsial sering ditemukan dalam kasus ini, namun hal ini tidak harus menjadi penyebab dari kelambatan bahasa. Gangguan dalam percakapan dapat dianggap sebagai penyebab terbesar dalam gangguan perkembangan berbahasa ekspresif (Sadock BJ et al, 2010).4) Perjalanan penyakit dan Prognosis

Prognosis pada umumnya baik. Kecepatan dan derajat pemulihan tergantung pada keparahan gangguan, motivasi anak untuk berperan dalam terapi, dan pemberian bahasa yang tepat waktu dan intervensi terapeutik lain (Sadock BJ et al, 2010).5) TerapiBerbagai tehnik telah digunakan untuk membantu seorang anak dalam memperbaiki penggunaan kata pada pembicaraan. Intervensi langsung melibatkan ahli patologi bahasa dan bicara yang langsung berhubungan dengan anak. Intervensi dengan melibatkan guru atau orang tua yang telah terlebih dahulu dilatih terbukti efektif dalam meningkatkan efektifitas terapi bahasa (Sadock BJ et al, 2010).2.1.3Gangguan berbahasa Reseptif (F80.2)Ganggua