Esai Esai Hukum

download Esai Esai Hukum

of 172

  • date post

    25-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    243
  • download

    7

Embed Size (px)

Transcript of Esai Esai Hukum

ESAI-ESAI HUKUM

BAGIAN PERTAMA : PEMBANGUNAN HUKUM NASIONAL

1

Sekumpulan Karangan Bidang Hukum

2

ESAI-ESAI HUKUM

REFLEKSI NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA DALAM BINGKAI PANCASILA1

Kita semua mengetahui bahwa tahun-tahun terakhir ini bahkan mungkin lebih dari satu dasawarsa, penghargaan kepada nilai-nilai dasar Pancasila semakin pudar, dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam lima sila pada Pancasila bahkan nyaris tidak digunakan lagi, lebih-lebih sejak bergulirnya era reformasi yang menghendaki pembaharuan di segala bidang. Hal ini tentunya sungguh sangat memprihatinkan. Kita akui bahwa telah terjadi aplikasi yang keliru terhadap pemahaman Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara, khususnya pada era pemerintahan Orde Baru. Kita tidak mampu melaksanakan dengan baik esensi dari lima dasar negara tersebut dan bahkan menjurus dijadikannya Pancasila sebagai alat kekuasaan. Sehingga kita bisa mengerti apabila terjadi penolakan oleh kelompok-kelompok masyarakat terhadap Pancasila yang pada waktu yang lalu dijadikan sebagai satu-satunya asas tungal. Sementara itu, penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P-4) di semua strata dilakukan di luar porsi kewajaran. Itulah yang kita alami dan kita ketahui selama ini. Padahal, seharusnya para penyelenggara negara tidak perlu menyalahartikan di dalam implementasi kelima dasar negara tersebut. Rumusan-rumusan indah dan bermakna telah digulirkan oleh founding fathers kita beberapa bulan sebelum Proklamasi Kemerdekaan, yang bersepakat untuk menjunjung Tuhan Yang Maha Esa, menghormati kemanusiaan, membangun persatuan Indonesia, menerapkan sistem kehidupan bernegara atas1 Makalah pada Seminar Nasional tentang Refleksi Negara Kesatuan Republik Indonesia Dalam Bingkai Pancasila, diselenggarakan oleh Universitas Pancasila, Jakarta, 18 Juni 2005

3

Sekumpulan Karangan Bidang Hukum

dasar musyawarah mufakat, dan menciptakan sebuah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kalau sekarang kita belum dapat bangkit dari keterpurukan dan bahkan ikatan persatuan di antara sesama komponen bangsa makin memprihatinkan, kita harus bertanya adakah sesuatu yang salah, yang tidak pada relnya di dalam mengelola perjalanan bangsa ke depan. Oleh karena itu, marilah kita melakukan refleksi kembali terhadap pelaksanaan pandangan hidup serta ideologi bangsa. Kita akui di dalam satu sisi proses demokratisasi di Indonesia sudah sangat maju, jauh ke depan meninggalkan negara-negara lain. Keterbukaan, kebebasan menyampaikan pendapat sudah dimiliki oleh setiap warna negara, bahkan sampai-sampai masyarakat akar rumput pun sudah bisa berbicara dengan lantang, berdialog, dan lain sebagainya dalam menanggapi berbagai persoalan. Ini satu sisi keberhasilan. Tapi di sisi lain, banyak hal yang membuat kita prihatin. Gerakan-gerakan separatisme di beberapa daerah yang dapat mengganggu Negara Kesatuan Republik Indonesia masih saja bermunculan dan belum dapat diselesaikan dengan tuntas. Gerakan separatis di Papua dan di Maluku. Ini semua merupakan kendala besar di samping permasalahan bangsa yang lain. Pengertian sederhana dari refleksi di sini menurut saya adalah cermin atau pantulan. Sementara itu Saudara Abdulkadir Besar dalam bukunya Pancasila, Refleksi Filsafati, Tansformasi Ideologi, Niscayaan Metoda Berfikir,, mengatakan bahwa refleksi atau refleksian sebagai kata benda adalah kemampuan intelektual menusia yang tidak hanya bergerak dinamik, melainkan juga sadar mengenai gerakannya dan mampu menelusuri kembali untuk mengetahui dirinya dan efektifitas gerakannya. Dengan demikian, dikaitkan pengertian tersebut dengan tema seminar, di sini berarti kemampuan para intelektual manusia Indonesia termasuk Civitas Akademika di Republik Indonesia, tidak hanya perlu bergerak dinamis, tetapi sadar dan mampu untuk merefleksi diri bagaimanakah efektifitas mereka dan efektifitas bangsa Indonesia di dalam gerakannya untuk tetap mempertahankan NKRI di dalam bingkai dasar negara kita Pancasila. Sebagaimana kita ketahui, para bapak bangsa, pendiri Republik, selain menetapkan dasar negara Republik Indonesia Pancasila yang secara tersurat tercantum di dalam Preambule / Pembukaan UUD 1945, juga menetapkan di dalam Pasal 1 UUD 1945 tersebut mengenai bentuk dan kedaulatan negara. Pasal 1 ayat (1), Negara Indonesia adalah Negara Kesatuan yang berbentuk Re4

ESAI-ESAI HUKUM

publik. Pasal 1 ayat (2), Kedaulatan adalah di tangan rakyat, dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat. Walaupun sejak era reformasi UUD 1945 telah empat kali diamandemen oleh MPR, namun baik Preambule yang memuat dasar negara dan ketentuan di dalam UUD 1945 yang mengatur bentuk dan kedaulatan negara, tidak mengalami perubahan. Preambule ini tidak berubah dan tidak boleh berubah sampai kapanpun, sebab mengubah Preambule berarti membentuk negara baru, bukan negara yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Saudara Siswono Yudo Husodo belum lama ini menulis di Harian Kompas, yang mengatakan bahwa berbeda dengan beberapa negara lain, negara kebangsaan Indonesia terbentuk oleh adanya kesamaan sejarah masa lalu dan karena banyaknya bahasa, etnik, ras dan kepulauan yang mempersatukan kita semua dalam suatu negara kesatuan. Sebuah negara membutuhkan Weltanschaung atau landasan filosofi. Atas dasar Weltanschaung itulah disusun visi, misi, dan tujuan negara yang tertuang di dalam Preambule UUD 1945. Saudara Prof. Dr. Yuwono Sudarsono juga menulis dalam sambutan atas penerbitan buku saudara Abdulkadir Besar menyatakan, bahwa orang-orang Indonesia kelahiran tahun 1910-an dan 1920-an (Generasi yang memberikan dasar kebangsaan dan kenegaraan Indonesia yang kemudian mendirikan Negara Proklamasi 17 Agustus 1945), berbeda dengan generasi kelahiran 1930-an, 1940-an, 1950-an, 1960-an, apalagi 1980-an ke atas tentang pandangan hidup mereka. Pandangan hidup dibentuk oleh ruang dan waktu serta tanda-tanda zaman, masalah-masalah politik, ekonomi, sosial, budaya, sains dan teknologi yang berbeda-beda. Rekaman ingatan setiap golongan pun ditentukan oleh tiap peristiwa serta hal-hal yang dialami oleh generasi yang bersangkutan. Saya sependapat dengan beliau-beliau tersebut. Oleh karena itu, sebagai generasi penerus kita harus menaruh hormat dan menghargai para bapak bangsa tersebut yang telah berjuang dengan gigih dengan darah dan pengorbanan yang tidak ternilai bagi kemerdekaan Indonesia. Tanpa adanya pengorbanan dan perjuangan beliau-beliau itu, kita belum tentu tahu kapan bangsa Indonesia dapat menjadi bangsa yang merdeka dan bagaimana dasar dan bentuk negara Indonesia. Bentuk penghargaan yang patut kita lakukan yaitu dengan segala daya upaya tetap mempertahankan NKRI dari segala bentuk ancaman, tantangan dan hambatan yang bisa membuat NKRI menjadi terpecah-pecah. Setiap jengkal 5

Sekumpulan Karangan Bidang Hukum

dari NKRI wajib kita pertahankan dari segala unsur yang ingin mengambil keuntungan dari negara kita. Mempertahankan NKRI adalah harga mati yang tidak dapat ditawar-tawar lagi oleh siapapun. Sudah hampir 60 tahun Negara Indonesia berdiri, dan sudah selama ini pula banyak peristiwa yang menimpa negara kita. Terutama di saat bencana alam menimpa wilayah Indonesia, khususnya bencana alam terbesar tsunami di Aceh dan daerah-daerah sekitarnya, membuat kita sadar ada sesuatu yang terlupakan atas bumi pertiwi kita ini. Selama ini kita disibukkan oleh berbagai masalah besar seperti masalah politik kaitannya dengan proses demokratisasi yang sedang berjalan, perekonomian nasional dengan berbagai tantangan dan kendala, masalah pudarnya nilai-nilai persatuan bangsa, serta menonjolnya kepentingan kelompok, sehingga lupa bahwa ada sesuatu yang nyaris terlupakan, yang justru menjadi obat penawar perekat persatuan bangsa. Oleh sebab itu, kita harus merefleksi ke belakang atas segala sesuatu yang menimpa bangsa dan negara kita. Saya juga setuju refleksi terhadap NKRI, haruslah refleksi terhadap pandangan hidup bangsa kita yaitu Pancasila, yang sekarang ini kurang dihargai di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Melalui refleksi atas Pancasila diharapkan diperoleh solusi terbaik bagi pembangunan bangsa, segala bentuk ketimpangan yang menimpa bangsa akhir-akhir ini dapat kita perbaiki bersama, baik melalui jalur pendidikan yang dilakukan oleh Civitas Akademika atau jalur-jalur lainnya, seperti lembaga-lembaga negara termasuk lembaga perwakilan rakyat baik pusat maupun daerah, partai-partai politik, lembaga swadaya masyarakat, dan lain-lain. Setelah melakukan refleksi, kita melangkah kepada revitalisasi dan refungsionalisasi pemahaman Pancasila melalui pemahaman tentang Wawasan Nusantara yaitu cara pandang bangsa Indonesia terhadap satu kesatuan wilayah Indonesia sebagai satu kesatuan ideologi, satu kesatuan politik, satu kesatuan budaya, satu kesatuan ekonomi yaitu perekonomian bagi kesejahteraan rakyat. Semua ini harus diperkuat oleh Ketahanan Nasional kita yaitu kualitas ketahanan bangsa atas segala ancaman, tantangan dan hambatan, baik oleh perangkat pertahanan negara maupun pertahanan rakyat semesta. Kalau kita melihat ke belakang, istilah Pancasila berasal dari zaman Majapahit, kata pancasila sendiri berasal dari bahasa Sansekerta. Ketika itu Mpu Prapanca menulis buku Negara Kertagama, yang mana Pancasila diartikan sebagai lima aturan tingkah laku yang harus ditaati. Menjelang Proklamasi 6

ESAI-ESAI HUKUM

Kemerdekaan Indonesia, oleh para bapak bangsa, Pancasila mulai digali dari budaya masyarakat bangsa. Nilai-nilai Pancasila yang semula merupakan filsafat hidup bangsa itu, kemudian diangkat menjadi filsafat dasar (ideologi) negara serta dijadikan sumber hukum bagi seluruh peraturan perundang-undangan di Republik Indonesia. Unsur yang terdapat dalam Pancasila (Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Tata Pemerintahan atas dasar musyawarah dan keadilan sosial) telah tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat di selur