Ekologi Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda

download Ekologi Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda

If you can't read please download the document

  • date post

    07-Jan-2017
  • Category

    Environment

  • view

    277
  • download

    6

Embed Size (px)

Transcript of Ekologi Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda

Slide 1

TAMAN HUTA RAYAWHAT?Taman hutan raya atau biasa disingkat Tahura merupakankawasan hutan yang ekosistemnya dilindungi, termasuk tumbuhan dan satwa yang ada di dalamnya. Tahura biasanya berlokasi tak jauh dari perkotaan atau permukiman yang gampang diakses, tidak terletak di tengah hutan belantara.Taman hutan raya adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan atau satwa yang alami atau buatan, jenis asli dan atau bukan asli, yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi.

KRITERIA TAMAN HUTAN RAYA:Memilikiciri khas dari sisi ekosistem, satwa atau tumbuhannya. Bisa asli ataupun buatan, baik ekosistemnya masih utuh maupun sudah berubah.Kawasan tersebut memiliki keindahan alam atau gejala alam tertentu yang unik.Mempunyai luas wilayah yang memungkinkan untukperkembangan tumbuhan dan satwa yang ada di dalamnya.

MANFAAT TAMAN HUTAN RAYA:Penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.Pendidikan dan peningkatan kesadartahuan konservasi.Koleksi kekayaan keanekaragaman hayati.Penyimpanan karbon, pemanfaatan air serta energi air, panas, dan angin serta wisata alam.Pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar dalam rangka menunjang budidaya dalam bentuk penyediaan plasma nuftah.Pembinaan populasi melalui penangkaran dalam rangka pengembangbiakan satwa atau perbanyakan tumbuhan secara buatan dalam lingkungan yang semi alami.Pemanfaatan tradisional oleh masayarakat setempat, dapat berupa kegiatan pemungutan hasil hutan bukan kayu, budidaya tradisional, serta perburuan tradisional terbatas untuk jenis yang tidak dilindungi.

TAHURA IR. H. DJUANDALUAS TAHURA: 526,98 hektare (membentang dari kawasan Dago Pakar sampai Maribaya). sampai sekarang.Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda merupakan kawasan konservasi yang terpadu antara alam sekunder dengan hutan tanaman yang terletak di Kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia.Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda sebagai Taman Hutan Raya pertama di Indonesia.

SEJARAH & LATAR BELAKANGTaman Hutan Raya Ir H. Djuanda dulunya merupakan sebagian areal dari Kelompok Hutan Lindung Gunung Pulosari dan dirubah fungsinya menjadi Taman Wisata Curug Dago dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 575/ Kpts/Um/8/1980. Pada kurun waktu tahun 1980 hingga tahun 1984 atas dasar prakasa dan Sesepuh Jawa Barat diantaranya Bapak Mashudi serta hasil kajian teknis pakar lingkungan dan ITB dan UNPAD dan dukungan pemerintah pada waktu itu mengusulkan agar fungsi kawasan hutan TWA Curug Dago ditingkatkan sebagai Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda dalam upaya untuk menghargai dan mengabadikan Pahlawan Nasional dan Tatar Sunda yang diharapkan jiwa dan semangat nasionalismenya akan menjadi suritauladan untuk generasi yang akan datang. Maka berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1985 dan peresmiannya dilakukan pada tanggal 14 Januari 1985 bertepatan dengan kelahiran Bapak Ir. H. Djuanda, maka kawasan hutan TWA Curug Dago secara resmi dirubah fungsinya menjadi Taman Hutan Raya lr. H. Djuanda.

VISI & MISI TAHURA IR. H. DJUANDAVisi pengembangan Pengelolaan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda adalah :Terciptanya pengembangan pengelolaan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda yang berwawasan lingkungan untuk mewujudkan kelestarian hutan sebagai sistem penyangga kehidupan bagi kesejahteraan rakyat .Misi Pengembangan Pengelolaan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda adalah :Meningkatkan kontribusi pemanfaatan kawasan hutan melalui pariwisata alam untuk kepentingan konservasi, sosial, ekonomi dan budaya masyarakat.Mengoptimalkan distribusi manfaat pariwisata alam bagi para pihak.Meningkatkan kesadaran dan pemahaman pentingnya manfaat sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bagi kehidupan umat manusia.Meningkatkan pengembangan produksi aneka pariwisata alam.Menciptakan mekanisme keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan, pengelolaan dan kemitraan dengan para penyelenggara pariwisata alam.

FUNGSI TAHURA IR. H. DJUANDATaman Hutan Raya diharapkan mempunyai fungsi: -Perlindungan sistem penyangga kehidupan, -pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa asli atau bukan asli -keunikan panorama alam asrinya dapat dimanfaatkan secara lestari untuk konservasi, koleksi, edukasi, rekreasi dan secara tidak langsung-meningkatkan sosial ekonomi masyarakat sekitarnya dan PAD Propinsi Jawa Barat.

Secara harfiah tertuang dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Taman Hutan Raya adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai fungsi sebagai koleksi tumbuhan dan satwa, baik jenis asli maupun bukan asli untuk dimanfaatkan untuk kepentingan ilmu pengetahuan, penelitian, pendidikan, budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi

Ekosistem alami ( Darat )Hutan hujan tropisKawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda merupakan hutan alam sekunder dan hutan tanaman yang mempunyai potensi flora cukup variatif, terdiri dari tumbuhan tinggi dan tumbuhan rendah. Untuk tumbuhan tinggi didominasi oleh jenis pinus sedangkan untuk tumbuhan rendah didominasi oleh lumut dan pakis sehingga berfungsi sebagai laboratorium alam (arboretum). Taman hutan raya ir. H djuanda memiliki suhu yang sejuk dan cukup dingin, kelembapannya tinggi, curah hujannya tinggi, terdiri dari berbagai tanaman greencover sampai tanaman kanopi dan memiliki keanekaragaman hayati.BENTUK- BENTUK EKOSISTEM

EKOSISTEMEkosistem Alami ( perairan )Curug DagoCurug Dago merupakan sebuah objek wisata Air terjun di bandung yang memiliki ketinggian air sekitar 12 m saja dan berada pada ketinggian sekitar 800 meter diatas permukaan laut. Terbentuknya curug ini berasal dari aliran sungai Cikapundung yang mengalir dari Maribaya dan memasuki kota Bwisata Curug Dago menyimpan jejak sejarah dari Kerajaan Thailand. Tidak jauh dari air terjun, terdapat dua buah prasasti batu tulis bekas peninggalan sejarah pada tahun 1818 M. Menurut penafsiran dari para ahli sejarah, dua prasasti tersebut merupakan peninggalan dari Raja Rama V atau Raja Chulalonkorn dan Raja Rama VII atau Pradjathipok Pharaminthara yang berasal dari dinasti Chakri dan pernah berkunjung ke Curug Dago.andung.Curug OmasCurug Omas lokasinya terletak di dalam Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda di kawasan wisata Maribaya. Curug ini mempunyai ketinggian air terjun kurang lebihnya sekitar 30 meter dengan kedalaman air sekitar 10 m yang berada pada aliran sungai Cikawari. Di atas air terjun ini terdapat sebuah jembatan yang bisa digunakan untuk melintas serta melihat air terjun dari atas.BENTUK-BENTUK

CURUG DAGOCURUG OMAS

EKOSISTEMEkosistem BuatanGoa Jepangsetelah Jepang masuk ke Indonesia, tentara Jepang kemudian mengambil alih tempat ini dan membangun gua lainnya sebagai basis pertahanan mereka tidak jauh dari gua Belanda. Jepang menggunakan tenaga kerja paksa sehingga konon tidak sedikit korban yang berjatuhan selama pembuatan gua ini. Saat Jepang menyerah terhadap tentara sekutu, tempat ini adalah pertahanan terakhir bagi tentara Jepang yang ada di Bandung. Setelah Jepang meninggalkan Indonesia, gua inipun terlantar, tertutup oleh semak belukar dan hutan. Sampai kemudian ditemukan kembali pada sekitar tahun 1965, konon pada waktu itu masih banyak ditemukan sisa-sisa peninggalan tentara Jepang seperti senjata dan amunisi di dalamnya.Goa BelandaBelanda membuat terowongan ini untuk keperluan saluran air bagi pembangkit listrik tenaga air pertama di Indonesia yaitu PLTA Bengkok. Namun pada perkembangannya, air untuk pembangkit listrik kemudian disalurkan menggunakan pipa-pipa besar, sedangkan terowongan yang membelah bukit tersebut digunakan untuk kepentingan militer khususnya sebagai pusat telekomunikasi. selanjutnya terowongan-terowongan tersebut ditambah sehingga di dalamnya terdapat ruangan-ruangan lain termasuk penjara dan tempat interogasi.

GOA BELANDAGOA JEPANG

Komponen HutanLapisan teratas (emegergent layer) terdiri dari pohon-pohon yang tingginya mencapai lebih dari 80 m, tumbuh menjulang tinggi dan tidak saling bersentuhan.Lapisan Kanopi (canopy layer) terdiri dari pohon-pohon dengan ketinggian 30-40 m dengan tajuk beraturan, rapat dan saling bersentuhan sehingga menaungi tanaman yang ada di bawahnya.

Lapisan bagian bawah kanopi (subcanopy layer) terdiri dari pohon yang memiliki tinggi 18-40 m dan biasanya pohon pada lapisan ini memiliki sifat tahan terhadap naungan.Lapisan semak (shrub layer) terdiri atas pohon yang lebih rendah dengan cabang banyak dan sangat rapat.Lapisan herbs (herb layer) tumbuh dekat tanah seperti bunga, rumput, dan lain-lain.Lapisan lantai hutan (floor layer) yang terdiri dari tumbuh-tumbuhan penutup tanah dengan tinggi 0-1 m.

KOMPONEN HUTAN

Hutan di kawasan ini merupakan vegetasi campuran yang terdiri dari 40 famili, 112 species diantaranya berasal dari luar negeri seperti pohon sosis (kegelia aethiopica) dari afrika, Mahoni Uganda (khaya anthoteca) dari Afrika barat, Pinus Meksiko (pinus montecumae) berasal dari Meksiko, cengal pasir (hopea odorata) dari Burma, Cedar Hondura (cedrela maxicum m roem) dari Afrika Tengah dan lain sebagainya, sedangkan yang berasal dari dalam negeri diantaranya : Pinus (pinus merkusi jung), Bayur Sulawesi (pterospermum celebicum) dari Sulawesi, Kayu manis (cinnamonum burmanii) dari daerah Jawa Barat, Damar (agathis damara) dari Maluku, Cemara Sumatera (casuarina sumatrana) dari Sumatra, dan lain-lain.

Selain itu terdapat berbagai jenis binatang yang tinggal di dalamnya antara lain Musang (Paradoxurus herma paproditus), Tupai (Callosciurus notatus), Kera (Macaca insularis) serta berbagai jenis burung seperti Kepondang (Oriolus chinensis), Kutilang (Pycnontus caferaurigaster), Ayam hutan (Gallus gallus bankiva), babi hutan, monyet, keleawar ( dalam goa jepang dan belanda) dan beberapa spesies lainnya.

BIOTIK

ABIOTIKTANAH TAHURAUnsur tanah yang terka