contoh bagus

of 104 /104
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kejang demam pada anak merupakan suatu peristiwa yang menakutkan pada kebanyakan orang tua karena kejadiannya yang mendadak dan kebanyakan orang tua tidak tahu harus berbuat apa. Kejang demam adalah kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal >380C) yang disebabkan oleh suatu proses diluar otak. Tidak jarang orang tua khawatir jika anaknya panas, apakah nanti akan kejang atau tidak. Dari penelitian, kejadian kejang demam sendiri tidaklah terlalu besar yaitu sekitar 2-4 %, artinya dari 100 anak dengan demam ada sekitar 2-4 yang mengalami kejang. Kejang demam terjadi pada usia 6 bulan – 5 tahun dan terbanyak terjadi pada usia 17-23 bulan. Kejang demam anak perlu diwaspadai karena kejang yang lama (lebih dari 15 menit)

description

medical

Transcript of contoh bagus

Page 1: contoh bagus

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kejang demam pada anak merupakan suatu peristiwa yang

menakutkan pada kebanyakan orang tua karena kejadiannya yang

mendadak dan kebanyakan orang tua tidak tahu harus berbuat apa. Kejang

demam adalah kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal

>380C) yang disebabkan oleh suatu proses diluar otak. Tidak jarang orang

tua khawatir jika anaknya panas, apakah nanti akan kejang atau tidak. Dari

penelitian, kejadian kejang demam sendiri tidaklah terlalu besar yaitu

sekitar 2-4 %, artinya dari 100 anak dengan demam ada sekitar 2-4 yang

mengalami kejang. Kejang demam terjadi pada usia 6 bulan – 5 tahun dan

terbanyak terjadi pada usia 17-23 bulan. Kejang demam anak perlu

diwaspadai karena kejang yang lama (lebih dari 15 menit) dapat

menyebabkan kematian, kerusakan saraf otak sehingga menjadi epilepsi,

kelumpuhan bahkan retardasi mental. (www. Mardiati, tanggal 12 agustus

2008).

Saat menghadapi si kecil yang sedang kejang demam, sedapat

mungkin cobalah bersikap tenang. Sikap panik hanya akan membuat kita

tidak tahu harus berbuat apa yang mungkin saja akan membuat

penderitaan anak tambah parah kesalahan orang tua adalah kurang tepat

dalam menangani kejang demam itu sendiri yang kemungkian terbesar

Page 2: contoh bagus

2

adalah disebabkan karena kurang pengetahuan orang tua dalam menangani

kejang demam.(www. Published, 17 Februari 2010).

Sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan para orang tua dalam

mengatasi kejang demam pada anak sebelum selanjutnya membawa anak

mereka ke rumah sakit. Antara lain seperti beri obat penurun panas apabila

suhu anak melewati angka 37,5ºC, kompres dengan lap hangat (yang

suhunya kurang lebih sama dengan suhu badan si kecil). Jangan kompres

dengan air dingin, karena dapat menyebabkan “korsleting”/ benturan kuat

di otak antara suhu panas tubuh si kecil dengan kompres dingin tadi, agar

si kecil tidak cedera, pindahkan benda-benda keras atau tajam yang berada

dekat anak. Tidak perlu menahan mulut si kecil agar tetap terbuka dengan

mengganjal/ menggigitkan sesuatu di antara giginya.

Miringkan posisi tubuh si kecil agar penderita tidak menelan cairan

muntahnya sendiri yang bisa mengganggu pernapasannya. Jangan

memberi minuman/ makanan segera setelah berhenti kejang karena hanya

akan berpeluang membuat anak tersedak, apabila keadaan anak sudah

mulai stabil bawa anak ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan

selanjutnya. (www. Wordpress, 08November 2010).

Insiden terjadinya kejang demam terutama pada golongan anak umur

6 bulan sampai 4 tahun. Hampir 3 % dari anak yang berumur di bawah 5

tahun pernah menderita kejang demam. Kejang demam lebih sering

didapatkan pada laki-laki daripada perempuan. Hal tersebut disebabkan

Page 3: contoh bagus

3

karena pada wanita didapatkan maturasi serebral yang lebih cepat

dibandingkan laki-laki. (ME. Sumijati, 2000;72-73).

Kejadian kejang demam diperkirakan 2 - 4% di Amerika Serikat,

Amerika Selatan dan Eropa Barat. Di Asia lebih tinngi kira-kira 20%

kasus merupakan kejang demam komplek. Akhir-akhir ini kejang demam

diklasifikasikan menjadi 2 golongan yaitu kejang demam sederhana yang

berlangsung kurang dari 15 menit dan umum, dan kejang demam komplek

yang berlangsung lebih dari dari 15 menit, fokal atau multifel (lebih dari 1

kali kejang demam dalam 24 jam. (Arif Mansjoer, 2000).

Masloman dkk pada tahun 1997-2001 di RSUP Manado mendapatkan

327 penderita kejang demam dengan usia terbanyak 2-4 tahun. Eka dkk

pada tahun 1999-2001 di RS Moh. Hoesin Palembang mendapatkan 429

penderita kejang demam, terutama pada usia 12-17 bulan.(www.

Wordpress, 08 November 2010).

Dari studi pendahuluan pada tanggal 12 Mei 2010, pada tahun 2009

bayi yang terkena kejang pada usia 1 sampai 3 tahun berjumlah 231 orang

dan anak yang terkena demam berjumlah 102 orang. Bayi yang terkena

kejang pada usia 1-5 tahun berjumlah 294 orang dan yang terkena demam

berjumlah 178 orang. Tahun 2010 pada bulan Januari sampai bulan April,

bayi yang terkena kejang pada usia 1-3 tahun berjumlah 79 orang dan yang

terkena demam berjumlah 31 orang. Bayi yang terkena kejang pada usia 1-

5 tahun berjumlah 101 orang dan yang terkena demam berjumlah 56

orang.

Page 4: contoh bagus

4

Berdasarkan uraian diatas dan terjadinya peningkatan angka

kejadiaan kejang demam, maka penulis tertarik untuk mengetahui

lebih dalam tentang hubungan pengetahuan, pendidikan, dan sikap ibu

dengan penanganan kejang demam pada balita sebelum dirawat di

paviliun Theresia RS. RK Charitas Palembang tahun 2010.

B. Perumusan Masalah

Karena masih banyaknya ibu-ibu yang kurang tahu dalam

penanganan pertama pada kejang demam dan tingginya angka kejadian

kejang demam di RS. RK Charitas, maka peneliti tertarik untuk meneliti

Hubungan Pengetahuan, pendidikan, dan sikap ibu dengan penanganan

kejang demam pada balita sebelum dirawat di paviliun Theresia RS. RK

Charitas Palembang Tahun 2010. ”

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui

“Hubungan Pengetahuan, Pendidikan, dan sikap ibu Dengan Penanganan

kejang demam pada balita sebelum dirawat di paviliun Theresia RS. RK

Charitas Palembang Tahun 2010.”

2. Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus dalam penelitian ini adalah:

a. Untuk mengidentifikasi gambaran pengetahuan pada ibu dengan

penanganan kejang demam pada balita sebelum dirawat.

Page 5: contoh bagus

5

b. Untuk mengidentifikasi gambaran sikap pada ibu dengan penanganan

kejang demam pada balita sebelum dirawat.

c. Untuk mengidentifikasi gambaran pendidikan pada ibu dengan

penanganan kejang demam pada balita sebelum dirawat.

d. Untuk mengidentifikasi hubungan pengetahuan pada ibu dalam

penanganan kejang demam pada balita sebelum dirawat.

e. Untuk mengidentifikasi hubungan sikap pada ibu dalam penanganan

kejang demam pada balita sebelum dirawat.

f. Untuk mengidentifikasi hubungan pendidikan pada ibu dalam

penanganan kejang demam pada balita sebelum dirawat.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan peneliti

terutama dalam metodologi penelitian dan penerapan proses keperawatan

guna mengatasi masalah penyakit kejang demam pada balita, serta

penginformasian yang tepat guna kepada orang tua dalam mengatasi

masalah penyakit kejang demam pada balita.

2. Bagi Peneliti Lain

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan

informasi untuk penelitian lebih lanjut mengenai pentingnya penerapan

proses keperawatan guna mengatasi masalah penyakit kejang demam pada

balita.

Page 6: contoh bagus

6

3. Bagi Institusi Pendidikan

Memberikan masukan kepada institusi Pendidikan khususnya

pengetahuan dibidang keperawatan anak tentang pentingnya penerapan

mengenai proses keperawatan guna mengatasi masalah penyakit kejang

demam pada balita.

4. Basgi Perawat

Hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan bagi perawat untuk

menyusun upaya-upaya yang sesuai dalam mengatasi kejang dan berperan

serta pada penerapan proses keperawatan guna mengatasi masalah

penyakit kejang demam pada balita.

5. Bagi orang tua

Meningkatkan keterampilan orang tua yang akan memungkinkan

para orang tua untuk mempunyai pengetahuan bagaimana penanganan

pertama pada balita yang terserang kejang demam, sebelum balita tersebut

dibawa ke rumah sakit.

E. Ruang lingkup Penelitian

Penelitian ini dilakukan di ruang Keperawatan Anak. Penelitian ini

dilakukan untuk mengetahui “Hubungan Pengetahuan, pendidikan, dan

Sikap Ibu dengan penanganan Kejang Demam pada balita sebelum

Page 7: contoh bagus

7

dirawat di Paviliun Theresia RS. RK. Charitas Palembang pada bulan Juni

tahun 2010”

F. Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN,yang terdiri dari latar belakang, rumusan

masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, yang terdiri dari definisi pengetahuan,

tingkatan pengetahuan, factor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan,

definisi sikap, komponen pokok sikap, berbagai tingkatan sikap, cara

pengukuran sikap, definisi kejang demam, anatomi fisiologi kejang

demam, etiologi kejang demam, patofisiologi kejang demam, manifestasi

klinik kejang demam, klasifikasi kejang demam, komplikasi kejang

demam, penatalaksanaan medis kejang demam.

BAB III KERANGKA KONSEP, yang terdiri dari kerangka konsep

penelitian, definisi operasional, hipotesis.

BAB IV METODE PENELITIAN, yang terdiri dari jenis penelitian,

tempat/ lokasi dan waktu penelitian, populasi dan sampel, tehnik

pengumpulan data, jadwal penelitian, etika penelitian.

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN, yang terdiri dari

gambaran umum RS. RK. Charitas, gambaran umum Paviliun Theresia

RS. RK. Charitas, dan Pembahasan.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

Page 8: contoh bagus

8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengetahuan

1. Definisi

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah

orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek. Penginderaan

terjadi melalui panca indera manusia yakni indra penglihatan,

pendengaran, penciuman, perasa, dan peraba (Notoadmojo, 2007).

2. Tingkat Pengetahuan

Tingkat pengetahuan menurut (Notoadmojo, 2007) mempunyai 6

tingkatan yaitu:

a. Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah

dipelajari dari sebelumnya. Termasuk di dalam  pengetahuan ini  

adalah mengingat kembali terhadap suatu yang spefisik dari   seluruh

bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.

b. Memahami (comprehension)

Memahami diartikan suatu kemampuan untuk menjelaskan secara

benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan

materi tersebut secara benar.

Page 9: contoh bagus

9

c. Aplikasi (Aplication)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi

yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya.

d. Analisa (Analisa)

Suatu kemampuan untuk menjabarkan suatu materi atau objek

kedalam   komponen-komponen tetapi   masih di  dalam struktur

organisasai tersebut dan ada kaitannya satu sama lain

e. Sintesis (Senthesis)

Sintesis menunjukan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan

atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk  keseluruhan

yang baru.

f. Evaluasi ( Evaluation)

Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi

atau penilaian suatu materi atau objek penilaian-penilaian itu

berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan

kriteria-kriteria yang telah ada.

3. Pengetahuan ibu dalam penanganan kejang demam

Pengetahuan ibu dalam penanganan kejang demam dirumah

diharapkan dapat mengetahui pentingnya penanganan pertama pada

kejang demam, sebelum balita dibawa ke rumah sakit.

Page 10: contoh bagus

10

B. Pendidikan

1. Definisi Pendidikan

Pendidikan merupakan proses menumbuh kembangkan seluruh

kemampuan dan perilaku manusia melalui pengajaran, sehingga dalam

pendidikan itu perlu dipertimbangkan umur (proses perkembangan

klien) dan hubungan dengan proses belajar. Tingkat pendidikan juga

merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang

untuk lebih menerima ide-ide dan tehnologi baru (SDKI,1997).

Pendidikan adalah suatu proses pembentukan kecepatan seseorang

secara intelektual dan emosional kearah dalam sesama manusia.

Pendidikan juga diartikan sebagai suatu usaha sendiri untuk

mengembangkan kepribadian dan kemampuan didalam dan diluar

sekolah dan berlansung seumur hidup (Notoamodjo, 2003).

Pendidikan adalah proses pertumbuhan semua kemampuan dan

perilaku melalui pengajaran sehingga dalam pendidikan perlu

dipertimbangkan umur (proses perkembangan ) dan  hubunganya

dengan proses belajar tingkat pendidikan juga merupakan salah satu

faktor yang mempengaruhi presepsi seseorang untuk lebih mudah

menerima ide-ide dan teknologi baru (Arinkunto, 2002).

Page 11: contoh bagus

11

2. Pendidikan ibu tentang penanganan kejang demam

Pendidikan ibu yang cukup tentang penanganan kejang demam

diharapkan mampu meminimalkan kegawat daruratan pada balita yang

terserang kejang demam.

C. Sikap

Sikap dikatakan sebagai suatu respon evaluative. Respon hanya akan

timbul apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki

adanya reaksi individual. Respon evaluative berarti bahwa bentuk reaksi yang

dinyatakan sebagai sikap itu timbulnya didasari oleh proses evaluasi dalam

diri individu yang memberi kesimpulan pada stimulus dalam bentuk nilai

baik-buruk, positif-negatif, menyenangkan-tidak menyenangkan, yang

kemudian mengkristal sebagai potensi reaksi terhadap objek sikap.Sikap

adalah kebiasaan berpikir dan kebiasaan dalam berpikir tersebut dapat dilatih.

Dan, suatu tindakan yang selalu diulang akan menjadi suatu sikap (Azwar,

1998).

Menurut Notoadmojo,(2003) sikap merupakan reaksi atau respon yang

masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap belum

merupakan suatu tindakan atau aktifitas, akan tetapi merupakan predisposisi

tindakan suatu perilaku.

1. Komponen Pokok Sikap

Page 12: contoh bagus

12

Dalam bagian lain Allport, 1954 menjelaskan bahwa sikap itu

mempunyai 3 komponen sikap yaitu:

a. Kepercayaan (keyakinan), ide, dan dan konsep terhadap suatu objek.

b. Kehidupan emosional atau evalusi terhadap suatu objek.

c. Kecenderungan untuk bertindak.

Ketiga komponen ini bersama-sama membentuk sikap yang utuh

(total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan pikiran,

keyakinan, dan emosi memegang peranan penting.

2. Berbagai Tingkatan Sikap

Seperti halnya dengan pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai

tingkatan yang meliputi:

a. Menerima (receiving)

Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan

stimulus yang diberikan (objek). misalnya sikap ibu terhadap penanganan

pertama pada kejang demam pada anak, dapat dilihat dari kesediaan dan

perhatian ibu terhadap ceramah-ceramah dan simulasi penanganan kejang

demam pada anak.

b. Merespon (responding)

Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan

menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.

Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan

Page 13: contoh bagus

13

tugas yang diberikan, terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah, adalah

berarti bahwa orang menerima ide tersebut.

c. Menghargai (valving)

Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu

masalah adalah suatu indikasi dari sikap ini, misalnya seorang ibu

mengajak ibu yang lain (tetangganya, saudaranya, dan sebagainya) untuk

pergi mengikuti ceramah-ceramah dan simulasi penanganan kejang

demam pada anak.

d. Bertanggung jawab (responsible)

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dipilihnya dengan segala

resiko merupakan sikap yang paling tinggi. Misalnya seorang ibu yang

mau dipilih menjadi kader untuk pencegahan dan penangan pertama pada

kejang demam pada anak, dengan segala resiko dan tantangan yang ada.

3. Cara Pengukuran Sikap

Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung.

Secara langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat anda tentang

pelayanan dokter di rumah sakit RK. Charitas Palembang? Secara tidak

langsung dapat dilakukan dengan pernyataan-pernyataan hipotesis,

kemudian ditanyakan pendapat responden. Misalnya, apa yang ibu ketahui

tentang penyakit kejang demam pada anak? (tahu, kurang tahu, tidak tahu).

Page 14: contoh bagus

14

4. Sikap ibu dalam penanganan kejang demam

Sikap ibu yang positif, tetap tenang dalam menghadapi balita

dengan kejang demam diharapkan dapat meminimalkan kegawat

daruratan pada balita dengan kejang demam.

D. Kejang Demam

1. Definisi Kejang Demam

Kejang demam merupakan kedaruratan medis yang memerlukan

pertolongan segera. Diagnosa secara dini serta pengelolaan yang tepat

sangat diperlukan untuk menghindari cacat yang lebih parah, yang

diakibatkan bangkitan kejang yang sering. Untuk itu tenaga perawat/

paramedis dituntut untuk berperan aktif dalam mengatasi keadaan

tersebut serta mampu memberikan asuhan keperawatan kepada

keluarga dan penderita, yang meliputi aspek promotif, preventif,

kuratif dan rehabilitatif secara terpadu dan berkesinambungan serta

memandang klien sebagai satu kesatuan yang utuh secara bio-psiko-

sosial-spiritual. Prioritas asuhan keperawatan pada kejang demam

adalah : Mencegah/ mengendalikan aktivitas kejang, melindungi

pasien dari trauma, mempertahankan jalan napas, meningkatkan harga

diri yang positif, memberikan informasi kepada keluarga tentang

proses penyakit, prognosis dan kebutuhan penanganannya (I Made

Kariasa, 1999; 262).

Page 15: contoh bagus

15

Kejang demam merupakan kejang yang dapat terjadi karena

peningkatan suhu akibat proses ekstrakranium dengan cirri terjadi

antara usia 6 bulan - 4 tahun, lamanya kurang dari 15 menit dapat

bersifat umum dan dapat terjadi 16 jam setelah timbulnya demam

(Hidayat, 2008).

Kejang demam adalah bangkitan kejang terjadi pada kenaikan suhu

tubuh (suhu rektal di atas 38° c) yang disebabkan oleh suatu proses

ekstrakranium (Ngastiyah, 1997).

Kejang demam adalah terbebasnya sekelompok neuron secara tiba-

tiba yang mengakibatkan suatu kerusakan kesadaran, gerak, sensasi

atau memori yang bersifat sementara (Hudak and Gallo,1996).

Kejang demam adalah serangan pada anak yang terjadi dari

kumpulan gejala dengan demam (Walley and Wong’s edisi III,1996).

Kejang demam adalah bangkitan kejang terjadi pada kenaikan suhu

tubuh (suhu rektal di atas 38° c) yang disebabkan oleh suatu proses

ekstrakranium. Kejang demam sering juga disebut kejang demam

tonik-klonik, sangat sering dijumpai pada anak-anak usia di bawah 5

tahun. Kejang ini disebabkan oleh adanya suatu awitan hypertermia

yang timbul mendadak pada infeksi bakteri atau virus. (Sylvia A.

Price, Latraine M. Wikson, 1995).

1. Anatomi Fisiologi

Page 16: contoh bagus

16

Gambar 2.1 Gambar Anatomi Otak Manusia

(handokoluo.wordpress.com/2008/01/22/dalam-arsip-di-otak-hidup-kita-disimpan-atau-lenyap/gambar-otak/)

Otak merupakan alat tubuh yang sangat penting karena merupakan

pusat komputer dari semua alat tubuh. Bagian dari saraf sentral yang

terletak di dalam rongga tengkorak (kranium) dibungkus oleh selaput otak

yang kuat. Otak terletak dalam rongga kranium (tengkorak) berkembang

dari sebuah tabung yang mulanya memperlihatkan tiga gejala pembesaran

otak awal.

a. Otak awal menjadi hemisfer serebri, korpus stiatum, talamus, serta

hipotalamus.

Page 17: contoh bagus

17

b. Otak tengah, tegmentum, krus serebrum, korpius kuadrigeminus.

c. Otak belakang, menjadi pons paroli, medula oblongata, dan serebelum.

Serebrum (otak besar) merupakan bagian terluas dan terbesar dari otak,

mengisi penuh bagian depan atas rongga tengkorak. Otak mempunyai dua

permukaan yakni permukaan atas dan permukaan bawah. Kedua

permukaan ini dilapisi oleh kelabu (zat kelabu) yaitu pada bagian korteks

serebral dan zat putih terdapat pada bagian dalam yang mengandung

serabut saraf.

Serebrum melekat pada batang otak di bagian medula oblongata. Pons

varoli dan mesensefalon. Hubungan serebelum dengan medula oblongata

disebut korpus retiformi, serebelum dengan pons varoli disebut brakium

pontis, dan serebelum dengan mesensefalon disebut brakium konjungtiva.

Batang otak terdiri dari diensefalon, mesensefalon, pons varoli, dan

medula oblongata.

Serebelum (otak kecil) terletak pada bagian bawah dan belakang

tengkorak dipisahkan dengan serebrum oleh fisura transversalis

dibelakangi oleh pons varoli dan di atas medula oblongata. Organ ini

banyak menerima serabut aferen sensoris, merupakan pusat koordinasi dan

integrasi. Serebelum berhubungan dengan batang otak melalui pendukulus

serebri inferior (korpus retiformi). Permukaan luar serebelum berlipat-lipat

menyerupai serebrum, tetapi lipatannya lebih kecil dan lebih teratut.

Page 18: contoh bagus

18

Permukaan serebelum ini mengandung zat kelabu. Pada serabut saraf yang

masuk dan keluar dari serebelum harus melewati serebelum.

2. Etiologi Kejang Demam

Kejang dapat disebabkan oleh berbagai kondisi patologis, termasuk

tumor otak, trauma, bekuan darah pada otak, meningitis, ensefalitis,

gangguan elektrolit, dan gejala putus alkohol dan obat gangguan

metabolik, uremia, overhidrasi, toksik subcutan dan anoksia serebral.

Sebagian kejang merupakan idiopati (tidak diketahui etiologinya).

1) Intrakranial

a) Asfiksia : Ensefolopati hipoksik – iskemik.

b) Trauma (perdarahan) : perdarahan subaraknoid, subdural, atau

intra ventrikular.

c) Infeksi : Bakteri, virus, parasit.

d) Kelainan bawaan : disgenesis korteks serebri, sindrom

zelluarge, Sindrom Smith – Lemli – Opitz.

2) Ekstra kranial

a) Gangguan metabolik : Hipoglikemia, hipokalsemia,

hipomognesemia, gangguan elektrolit (Na dan K).

b) Toksik : Intoksikasi anestesi lokal, sindrom putus obat.

c) Kelainan yang diturunkan : gangguan metabolisme asam

amino, ketergantungan dan kekurangan produksi kernikterus.

3) Idiopatik

Page 19: contoh bagus

19

Kejang neonatus fanciliel benigna, kejang hari ke-5 (the

fifth day fits)

4) Patofisiologi Kejang Demam

Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel / organ otak

diperlukan energi yang didapat dari metabolisme. Bahan baku untuk

metabolisme otak yang terpenting adalah glucose,sifat proses itu

adalah oxidasi dengan perantara pungsi paru-paru dan diteruskan

keotak melalui system kardiovaskuler.

Berdasarkan hal diatas bahwa energi otak adalah glukosa yang

melalui proses oxidasi, dan dipecah menjadi karbon dioksidasi dan air.

Sel dikelilingi oleh membran sel. Yang terdiri dari permukaan dalam

yaitu limford dan permukaan luar yaitu tonik. Dalam keadaan normal

membran sel neuron dapat dilalui oleh ion NA + dan elektrolit lainnya,

kecuali ion clorida.

Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi

NA+ rendah. Sedangkan didalam sel neuron terdapat keadaan

sebaliknya,karena itu perbedaan jenis dan konsentrasi ion didalam dan

diluar sel. Maka terdapat perbedaan membran yang disebut potensial

nmembran dari neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial

membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim NA, K, ATP yang

terdapat pada permukaan sel.

Page 20: contoh bagus

20

Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah dengan

perubahan konsentrasi ion diruang extra selular, rangsangan yang

datangnya mendadak misalnya mekanis, kimiawi atau aliran listrik dari

sekitarnya. Perubahan dari patofisiologisnya membran sendiri karena

penyakit/ keturunan. Pada seorang anak sirkulasi otak mencapai 65 %

dari seluruh tubuh dibanding dengan orang dewasa 15 %. Dan karena

itu pada anak tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel

neuron dalam singkat terjadi dipusi di ion K+ maupun ion NA+

melalui membran tersebut dengan akibat terjadinya lepasnya muatan

listrik.

Lepasnya muatan listrik ini sedemikian besarnya sehingga dapat

meluas keseluruh sel maupun membran sel sekitarnya dengan bantuan

bahan yang disebut neurotransmitter sehingga mengakibatkan

terjadinya kejang. Kejang yang yang berlangsung singkat pada

umumnya tidak berbahaya dan tidak meninggalkan gejala sisa.

Tetapi kejang yang berlangsung lama lebih 15 menit biasanya

disertai apnea, NA meningkat, kebutuhan O2 dan energi untuk

kontraksi otot skeletal yang akhirnya terjadi hipoxia dan menimbulkan

terjadinya asidosis.

3. Manifestasi Klinik

Page 21: contoh bagus

21

Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan

bersamaan dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat, yang

disebabkan oleh infeksi di luar susunan saraf pusat : misalnya tonsilitis,

otitis media akut, bronkhitis, serangan kejang biasanya terjadi dalam 24

jam pertama sewaktu demam berlangsung singkat dengan sifat bangkitan

dapat berbentuk tonik-klonik.

4. Klasifikasi kejang

Kejang yang merupakan pergerakan abnormal atau perubahan tonus

badan dan tungkai dapat diklasifikasikan menjadi 3 bagian yaitu : kejang,

klonik, kejang tonik dan kejang mioklonik.

a. Kejang Tonik

Kejang ini biasanya terdapat pada bayi baru lahir dengan berat

badan rendah dengan masa kehamilan kurang dari 34 minggu dan bayi

dengan komplikasi prenatal berat. Bentuk klinis kejang ini yaitu

berupa pergerakan tonik satu ekstrimitas atau pergerakan tonik umum

dengan ekstensi lengan dan tungkai yang menyerupai deserebrasi atau

ekstensi tungkai dan fleksi lengan bawah dengan bentuk dekortikasi.

Bentuk kejang tonik yang menyerupai deserebrasi harus di bedakan

dengan sikap epistotonus yang disebabkan oleh rangsang meningkat

karena infeksi selaput otak atau kernikterus.

b. Kejang Klonik

Page 22: contoh bagus

22

Kejang Klonik dapat berbentuk fokal, unilateral, bilateral dengan

pemulaan fokal dan multifokal yang berpindah-pindah. Bentuk klinis

kejang klonik fokal berlangsung 1 – 3 detik, terlokalisasi dengan baik,

tidak disertai gangguan kesadaran dan biasanya tidak diikuti oleh fase

tonik. Bentuk kejang ini dapat disebabkan oleh kontusio cerebri akibat

trauma fokal pada bayi besar dan cukup bulan atau oleh ensepalopati

metabolik.

c. Kejang Mioklonik

Gambaran klinis yang terlihat adalah gerakan ekstensi dan fleksi

lengan atau keempat anggota gerak yang berulang dan terjadinya

cepat. Gerakan tersebut menyerupai reflek moro. Kejang ini

merupakan pertanda kerusakan susunan saraf pusat yang luas dan

hebat. Gambaran EEG pada kejang mioklonik pada bayi tidak spesifik.

5. Komplikasi

Menurut Taslim S. Soetomenggolo dapat mengakibatkan:

a) Kerusakan sel otak

b) Penurunan IQ pada kejang demam yang berlangsung lama

lebih dari 15 menit dan bersifat unilateral

c) Kelumpuhan (Lumbatobing,1989)

6. Penatalaksanaan Medis

Page 23: contoh bagus

23

Pada penatalaksanaan kejang demam ada 3 hal yang perlu dikerjakan

yaitu :

a. Pengobatan Fase Akut

Seringkali kejang berhenti sendiri. Pada waktu kejang pasien

dimiringkan untuk mencegah aspirasi ludah atau muntahan. Jalan

napas harus bebas agar oksigennisasi terjami. Perhatikan keadaan

vital seperti kesadaran, tekanan darah, suhu, pernapasan dan fungsi

jantung. Suhu tubuh tinggi diturunkan dengan kompres air dan

pemberian antipiretik.

Obat yang paling cepat menghentikan kejang adalah diazepam

yang diberikan intravena atau intrarektal. Dosis diazepam intravena

0,3-0,5 mg/kgBB/kali dengan kecepatan 1-2 mg/menit dengan

dosis maksimal 20 mg. bila kejang berhenti sebelum diazepam

habis, hentikan penyuntikan, tunggu sebentar, dan bila tidak timbul

kejang lagi jarum dicabut. Bila diazepam intravena tidak tersedia

atau pemberiannya sulit gunakan diazepam intrarektal 5 mg

(BB<10>10kg). bila kejang tidak berhenti dapat diulang selang 5

menit kemudian. Bila tidak berhenti juga, berikan fenitoin dengan

dosis awal 10-20 mg/kgBB secara intravena perlahan-lahan 1

mg/kgBb/menit. Setelah pemberian fenitoin, harus dilakukan

pembilasan dengan Nacl fisiologis karena fenitoin bersifat basa dan

menyebabkan iritasi vena.

Page 24: contoh bagus

24

Bila kejang berhenti dengan diazepam, lanjutkan dengan

fenobarbital diberikan langsung setelah kejang berhenti. Dosis

awal untuk bayi 1 bulan -1 tahun 50 mg dan umur 1 tahun ke atas

75 mg secara intramuscular. Empat jama kemudian diberikan

fenobarbital dosis rumat. Untuk 2 hari pertama dengan dosis 8-10

mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis, untuk hari-hari berikutnya

dengan dosis 4-5 mg/kgBB/hari dibagi 2 dosis. Selama keadaan

belum membaik, obat diberikan secara suntikan dan setelah

membaik per oral. Perhatikan bahwa dosis total tidak melebihi

200mg/hari. Efek sampingnya adalah hipotensi,penurunan

kesadaran dan depresi pernapasan. Bila kejang berhenti dengan

fenitoin,lanjutkna fenitoin dengan dosis 4-8mg/KgBB/hari, 12-24

jam setelah dosis awal.

b. Mencari dan Mengobati Penyebab

Pemeriksaan cairan serebrospinalis dilakukan untuk

menyingkirkan kemungkinan meningitis, terutama pada pasien

kejang demam yang pertama. Walaupun demikian kebanyakan

dokter melakukan pungsi lumbal hanya pada kasus yang dicurigai

sebagai meningitiss, misalnya bila ada gejala meningitis atau

kejang demam berlangsung lama.

c. Pengobatan Profilaksis

Page 25: contoh bagus

25

Ada 2 cara profilaksis, yaitu 1) profilaksis intermiten saat

demam atau 2) profilaksis terus menerus dengan antikonvulsan

setiap hari. Untuk profilaksis intermiten diberian diazepam secara

oral dengan dosis 0,3-0,5 mg/kgBB/hari dibagi menjadi 3 dosis

saat pasien demam. Diazepam dapat diberikan pula secara

intrarektal tiap 8 jam sebanyak 5mg (BB<10kg)>10kg) setiap

pasien menunjukkan suhu lebih dari 38,5 0 C. efek samping

diazepam adalah ataksia, mengantuk dan hipotonia.

Profilaksis terus menerus berguna untuk mencegah

berulangnya kejang demam berat yang dapat menyebabkan

kerusakan otak tapi tidak dapat mencegah terjadinya epilepsy

dikemudian hari. Profilaksis terus menerus setiap hari dengan

fenobarbital 4-5mg.kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis. Obat lain yang

dapat digunakan adalah asam valproat dengan dosis 15-40

mg/kgBB/hari. Antikonvulsan profilaksis selama 1-2 tahun setelah

kejang terakhir dan dihentikan bertahap selama 1-2 bulan.

Profilaksis terus menerus dapat dipertimbangkan bila ada 2

kriteria (termasuk poin 1 atau 2) yaitu:

1. Sebelum kejang demam yang pertama sudah ada kelainan

neurologist atau perkembangan (misalnya serebral palsi atau

mikrosefal).

Page 26: contoh bagus

26

2. Kejang demam lebih dari 15 menit, fokal, atau diikuti kelainan

neurologist sementara dan menetap.

3. Ada riwayat kejang tanpa demma pada orang tua atau saudara

kandung.

4. Bila kejang demam terjadi pada bayi berumur kurang dari 12

bulan atau terjadi kejang multiple dalam satu episode demam.

Bila hanya memenuhi satu criteria saja dan ingin memberikan

obat jangka panjang maka berikan profilaksis intermiten yaitu pada

waktu anak demam dengan diazepam oral atau rectal tuap 8 jam

disamping antipiretik.( Arif Mansyoer,2000).

BAB III

KERANGKA KONSEP

A. Kerangka Konsep Penelitian

Page 27: contoh bagus

27

Kerangka konsep penelitian adalah kerangka hubungan antara hal, konsep

atau variable yang ingin di amati/ di ukur melalaui penelitian yang akan

dilakukan ( Notoatmodjo, 2005 ). Kerangka konsep penelitian ini didasarkan

pada teori Laurence Green yang terdiri dari dua variable independent dan satu

variable dependent. Variable independent tersebut adalah pengetahuan,

pendidikan, dan sikap sedangkan variable dependent adalah penanganan

pertama pada kejang demam.

Tabel 3.1 Kerangka Konsep

Variable Independen Variabel Dependen

B. Defenisi Operasional

Table 3.2 Defenisi Operasional

Bagaimana Hubungan Pengetahuan, Pendidikan, dan sikap Ibu dengan penanganan kejang demam pada balita sebelum dirawat di RS. RK Charitas

Palembang Tahun 2010

Variabel Defenisi Cara ukur Alat Hasil Ukur Skala Ukur

Penanganan/Tindakan

mengatasi Kejang Demam

Pengetahuan

Pendidikan

Sikap

Page 28: contoh bagus

28

Operasional Ukur

Penanganan

Kejang

demam

Upaya yang

dilakukan ibu/

kegiatan dalam

upaya

mengatasi

demam

anaknya

sebelum

dibawa ke RS

Wawancara Quesioner

1. Baik, jika jawaban

benar ≥ mean.

2. Kurang, jika jawaban

benar < mean.

Ordinal

PengetahuanSegala sesuatu

yang diketahui

responden

tentang kejang

demam pada

balita, dan

penanganannya

sebelum

dibawa ke RS.

Wawancar

a Quesioner

1. Baik, jika jawaban

benar ≥ mean.

2. Kurang, jika jawaban

benar < mean.

Ordinal

Sikap Reaksi ibu

terhadap balita/

anaknya yg

demam dan

penangannya

sebelum

dibawa ke RS.

wawancara Quesioner

1. Baik, jika jumlah

skor ≥ mean .

2. Kurang, jika jawaban

benar < mean.

Ordinal

Page 29: contoh bagus

29

Pendidikan jenjang

pendidikan

formal yang

pernah

diselesaikan

responden.

Wawancara Quesioner a. Rendah = SD-

SMP

b. Tinggi = SMA-

PT

Ordinal

C. Hipotesis

1. Ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan penanganan kejang

demam pada balita sebelum dirawat di rumah sakit.

2. Ada hubungan antara pendidikan ibu dengan penanganan kejang

demam pada balita sebelum dirawat di rumah sakit.

3. Ada hubungan antara sikap ibu dengan penanganan kejang demam

pada balita sebelum dirawat di rumah sakit.

Page 30: contoh bagus

30

BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah menggunakan metode

penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional untuk mengetahui

hubungan pengetahuan, pendidikan, dan sikap ibu dengan penanganan

kejang demam pada balita sebelum diawat di RS. RK Charitas Palembang

Page 31: contoh bagus

31

tahun 2010. Survey analitik cross sectional adalah suatu penelitian yang

dilakukan dengan tujuan untuk mempelajari adanya suatu dinamika

korelasi (hubungan) antara faktor resiko dengan efek. Kegiatan yang

dilakukan dari penelitian surve cross sectional adalah melakukan

observasi, yang dilaksanakan sekaligus pada saat yang sama terhadap

variable-variabel. Varibel-variabel tersebut adalah variable independent

yang termasuk faktor resiko dan variable dependent yang termasuk faktor

efek. Hasil observasi tersebut kemudian dilakukan suatu analisis korelasi

dengan cara membandingkan proporsi antara faktor resiko dan faktor efek

(Imron, 2010).

B. Tempat/ Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di paviliun Theresia I RS. RK. Charitas

Palembang dan penelitian dilakukan pada bulan Juni-Juli tahun 2010.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalis yang terdiri atas obyek/ subyek

yang mempunyai kuantitas dan karakteristik terttentu yang ditetapkan

oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya

(Sugiono, 2004). Populasi pada penelitian ini adalah ibu-ibu yang

mempunyai balita yang terkena kejang demam dan memeriksakan

anaknya kerumah sakit RK. Charitas Palembang.

2. Sampel

Page 32: contoh bagus

32

Sampel merupakan bagian populasi yang akan diteliti atau

sebagian jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Pada

penelitian ini yang menjadi sampel adalah sebagian ibu-ibu yang

mempunyai anak balita yang terkena kejang demam dan

memeriksakannya ke RS. RK. Charitas Palembang. Adapun tehnik

pengambilan sampel menggunakan tehnik non probability dengan

tehnik sampling accidental, yaitu dengan cara pengambilan sampel

yang dilakukan dengan kebetulan bertemu.

Dalam penelitian keperawatan, kriteria sampel meliputi kriteria

inklusi dan kriteria ekslusi, dimana kriteria tersebut menetukan dapat

dan tidaknya sampel tersebut digunakan. Kriteria inklusi merupakan

kriteria dimana subjek penelitian mewakili sampel penelitian yang

memenuhi syarat sebagai sampel. Pertimbangan ilmiah harus menjadi

pedoman dalam menentukan kriteria inklusi (Nursalam, 2003). Kriteria

ekslusi merupakan kriteria dimana subjek penelitian tidak dapat

mewakili sampel karena tidak memenuhi syarat sebagai sampel

penelitian.

Kriteria inklusi

1. Ibu-ibu yang mempunyai anak balita yang terkena kejang demam yang

memeriksakan bayinya ke RS. RK. Charitas Palembang tahun 2010.

2. Ibu-ibu yang mempunyai anak balita yang terkena kejang demam yang

memeriksakan bayinya ke RS. RK. Charitas Palembang tahun 2010

yang bersedia menjadi responden.

Page 33: contoh bagus

33

Kriteria ekslusi

1. Ibu-ibu yang mempunyai anak balita yang terkena kejang demam dan

tidak memeriksakan bayinya ke RS. RK. Charitas Palembang tahun

2010.

2. Ibu-ibu yang mempunyai anak balita yang terkena kejang demam yang

memeriksakan bayinya ke RS. RK. Charitas Palembang tahun 2010

yang tidak bersedia menjadi responden.

D. Tehnik Pengumpulan Data

1. Menurut nursalam (2005) pengumpulan data suatu proses pendekatan

kepada responden dan proses pengumpulan karakteristik responden

yang diperlukan dalam suatu penelitian.

2. Prosedur pengumpulan data pada penelitian ini adalah: Meminta surat

izin dari STIkes Perdhaki Charitas Palembang.

3. Meminta surat izin dari puket 1 STIkes Perdhaki Charitas Palembang.

4. Menyampaikan surat izin penelitian kepada Direktur RS. RK Charitas

Palembang.

5. Menyampaikan surat izin kepada Dinas Kesehatan provinsi Sumatra

Selatan.

6. Memilih responden yang sesuai dengan krtiteria sampel.

7. Memberikan penjelasan tentang tujuan dan manfaat penelitian kepada

responden, sebelum mengisi lembar kuesioner, meminta responden

menandatangan informed consent.

Page 34: contoh bagus

34

8. Responden diminta mengisi kuesioner dengan didampingi oleh peneliti

atau di damping oleh teman mahasiswi sebagai enumerator data.

9. Pengumpulan kuisioner yang telah selesai oleh responden.

10. Melakukan pengelolaan data dari tanggal

Data dapat diperoleh secara langsung atau tidak langsung, hal ini

sangat tergantung dari kebutuhan informasi, tenaga, waktu dan dana yang

tersedia. Untuk dapat mengumpulkan data. Ada beberapa cara, yakni:

1. Pengamatan (Observasi)

Suatu perbuatan jiwa yang aktif dan penuh perhatian untuk menyadari

adanya suatu ransangan atau gejala nyata. Yang dilakukan pada

pengamatan ini adalah mengamati gejala-gejala nyata (dalam kategori

skala), yang ada secara berulang-ulang. Alat bantu yang sering digunakan

adalah daftar cek, skala penilaian serta mekanik.

2. Wawancara

Peneliti dalam mendapatkan data melalui bercakap-cakap dan

berhadapan muka dengan responden. Alat yang dipakai pada wawancara

ini adalah kuisioner. Kuesioner ini merupakan daftar pertanyaan dalam

rangka wawancara terstruktur oleh peneliti dengan responden. Daftar

pertanyaan mana telah disusun sedemikian rupa, sehingga responden

hanya memberikan jawaban dengan memeberikan tanda-tanda atau symbol

atau mencontreng dari pilihan jawaban yang telah disediakan.

Page 35: contoh bagus

35

3. Angket

Mendapatkan data melalui penyebaran formulir yang berisi pertanyaan

dan diajukan secara tertulis pada sekumpulan orang. Alat bantuannya

berupa formulir isian.

4. Pengukuran

Dilakukan dengan mengukur orang atau obyek mengenai hal yang

dipelajari dengan mempergunakan berbagai macam alat ukur, kemudian

dicatat. Alat bantu yang dipergunakan adalah alat pengukuran panjang,

berat, suhu, hydrometer dan lain sebagainya.

1. Alat Pengumpul Data

Pengumpulan data ini didapat dari:

1. Data primer

Pengumpulan data primer pada penelitian ini diperoleh melalui

kuesioner yang secara langsung dibagikan kepada responden.

Kuesioner ini digunakan untuk mengetahui sejauhmana

pengetahuan dan sikap ibu dalam mengatasi kejang demam pada

balita sebelum dirawat di rumah sakit. Kuesioner ini dibuat oleh

sendiri oleh peneliti dan akan dilakukan uji validitas dan reabilitas

di RS. Myria, yang memiliki karakteristik yang sama dengan

dijadikan sampel. Agar di peroleh distribusi nilai hasil pengukuran

mendekati normal,maka dilakukan uji coba dengan paling sedikit

dari sampel penelitian, dalam penelitian di ambil responden untuk

uji validitas (Notoadmodjo,2005).

Page 36: contoh bagus

36

2. Data sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber-sumber

yang telah ada, mengenai jumlah balita yang terkena kejang

demam di Sumsel, khususnya di RS. RK. Charitas Palembang.

E. Tehnik Analisis dan Metode Penulisan

Data yang telah diperoleh tidaka kan banyak manfaatnya apabila tidak

diolah dan dianalisis. Sebuah data akan banyak bercerita, apabila telah

dilakukan pengolahan dan analisa, sehingga dapat dengan mudah dipahami

untuk kemudian disimpulkan. Pengolahan data sering disebut juga dengan

kegiatan proses penataan data, karena data hasil pengumpulan dalam

rangkaian kegiatan penelitian, masih merupakan data kasar atau data dasar

(raw data). Pengolahan data digunakan agar data kasar atau data dasar tersebut

dapat diorganisir, disajikan serta dianalisa untuk kemudian ditarik suatu

kesimpulan.

1. Proses kegiatan pengolahan data (data processing) ini terdiri dari 3 jenis

kegiatan, yakni:

a. Memeriksa data (Editing)

Dimaksud dengan memeriksa data atau proses editing, adalah

memeriksa data hasil pengumpulan data, yang berupa daftar

pertanyaan, kartu, buku register, dan lain-lain.

b. Member kode (Koding)

Page 37: contoh bagus

37

Untuk memudahkan pengolahan data, maka semua jawaban atau

data hasil penelitian dianggap sangat perlu untuk disederhanakan agar

supaya pada saat pengolahan dapat dilakukan dengan mudah. Salah

satu cara menyederhanakan data hasil penelitian tersebut adalah

dengan memberikan symbol-simbol tertentu untuk masing-masing data

yang sudah diklasifikasikan.

c. Tabulasi data (tabulating)

Yang dimaksud dengan kegiatan tabulasi data (tabulating), yakni

menyusun dan mengorganisir data sedemikian rupa, sehingga akan

dapat dengan mudah untuk dilakukan penjumlahan, disusun dan

disajikan dalam bentuk table atau grafik.

2. Teknik Analisa Data

Analisa data dapat dimulai dari yang sangat sederhana, kemudian

melangkah menuju suatu analisis yang lebih sulit dan rumit. Pedoman

sederhana ini kadang sering dilupakan orang, seperti misalnya

penyaringan data (editing).

Dalam melakukan kegiatan analisis data dapat dibedakan menjadi 3

macam cara, yaitu:

a. Analisa univariat

Teknik ini dilakukan terhadap setiap variable hasil dari penelitian.

Hasil dari analisis ini berupa distribusi frekuensi, tendensi sentral,

ukuran penyebaran maupun presentase dari setiap variable, ataupun

Page 38: contoh bagus

38

dengan melihat gambaran histogram dari variable tersebut. Dengan

menggunakan analisis univariat ini dapat diketahui apakah konsep

yang kita ukur tersebut sudah siap untuk dianalisis serta dapat dilihat

gambaran secra rinci. Untuk kemudian disiapkan kembali ukuran dan

bentuk konsep yang akan digunakan dala analisis berikutnya.

b. Analisis bivariat

Model analisis ini digunakan unutk melihat apakah ada hubungan

antara variable. Hubungan tersebut yang terjadi mempunyai 3

kemungkinan, yaitu:

1) Ada hubungan tetapi sifatnya simetris, tidak saling

mempengaruhi.

2) Saling mempengaruhi antara 2 variabel.

3) Sebuah variabel mempengaruhi variable yang lain.

Dari ketiga kemungkinan tersebut, ternyata hubungan yang ketiga

inilah yang menjadi focus perhatian utama, yakni sebuah variable

mempengaruhi variable yang lain. Hal tersebut bukan berarti hubungan

yang lain tidak penting, akan tetapi juga mempunyai fungsi sendiri

dalam penelitian.

F. Jadwal Penelitian

Jadwal pelaksanaan tahun 2010, yaitu penyusunan proposal dan

penyempurnaan alat dan bahan dilakukan pada bulan April sampai Mei.

Page 39: contoh bagus

39

Pengajuan seminar proposal pada minggu ke-3 dan 4 bulan Mei. Seminar

proposal pada minggu ke-4 bulan Mei dan minggu pertama bulan Juni.

Perbaikan proposal minggu ke-1 dan 2 bulan Juni. Uji coba kuesioner pada

minggu ke-2 bulan Juni. Pengumpulan kuesioner pada minggu ke-3 bulan

Juni. Pengamatan dan pengumpulan data dilokasi penelitian pada minggu ke-4

bulan Juni. Analisa data dan interpretasi data pada minggu ke-4 bulan Juni dan

minggu pertama bulan Juli. Pengajuan seminar hasil pada minggu pertama

bulan Juli. Seminar hasil pada minggu ke-2 dan 3 bulan Juli. Penyusunan hasil

seminar hasil pada minggu ke-3 dan 4 bulan Juli. Perbaikan hasil konsultasi

pada minggu ke-4 bulan Juli dan minggu pertama bulan Agustus. Pengajuan

usul ujian skripsi pada minggu pertama dan ke-2 bulan Agustus. Ujian skripsi

pada minggu ke-2 dan 3 bulan Agustus. Penyusunan hasil skripsi pada minggu

ke-3 dan 4 bulan Agustus.

G. Etika Penelitian

Dalam melaksanakan penelitian khususnya jika yang menjadi subyek

penelitian adalah manusia, maka peneliti harus memahami hak dasar manusia.

Manusia memiliki kebebasan dalam menentukan dirinya sehingga penelitian

yang akan dilaksanakan benar-benar menjunjung tinggi kebebasan mannusia.

Masalah etika penelitia kperawatan merupakan masalah yang penting

dalam penelitian mengingat penelitian keperawatan berhubungan langsung

Page 40: contoh bagus

40

dengan manusia, maka segi etika penelitian harus diperhatikan. Masalah eteika

yang harus diperhatikan antara lain adalah sebagai berikut:

1. Informed Consent

Informed consent merupakan bentuk persetujuan anatara peneliti

dengan responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan.

Informed consent ini diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan

memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden. Tujuan

informed consent adalah agar subjek mengerti maksud dan tujuan

penelitian, mengetahui dampaknya. Jika subyek bersedia, maka

mereka harua menandatangani lembar persetujuan. Jika responden

tidak bersedia, maka peneliti harus menghormati hak pasien.

2. Anomity (tanpa nama)

Masalah etik keperawatan merupakan masalah yang memberikan

jaminan dalam penggunaan subjek penelitian dengan cara tidak

memberikan atau mencantumkan nama responden pada lembar alat

ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau

hasil penelitian yang akan disajikan.

3. Kerahasiaan (Confidentiality)

Masalah ini merupakan masalah etika dengan memberikan jaminan

kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah

lainnya. Semua informasi yang dikumpulkan dijamin kerahasiaannya

Page 41: contoh bagus

41

oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada

hasil riset (Notoatmodjo, 2005).

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum RS. RK Charitas

1. Sejarah RS. RK Charitas Palembang

RS. RK Charitas berdiri sejak tahun 1926 yang dipelopori oleh

lima orang suster dari kongregasi charitas Rosendaal Belanda dengan

Page 42: contoh bagus

42

membawa semangat cita-cita “menolong sesama dengan kegembiraan,

kesederhanaan, dan terutama cinta kasih”. Kelima suster tersebut adalah

Sr. M. Raymunda, Sr. M. Alacoque, Sr. M. Caecilia, Sr. M. Wilhelmina

dan Sr.M Catharina. Pada saat itu rumah sakit baru bisa menampung 14-16

orang penderita yang terletak diseberang RS. RK. Charitas saat ini

(disamping gereja Santo Yoseph).

Karena dirasa bahwa perlu membangun rumah sakit yang baru

maka pada tanggal 18 Januari 1938 Rumah Sakit RK. Charitas

dipindahkan ke lokasi baru yang saat itu letakknya di puncak bukit kecil,

jauh dari keramaian tetapi strategis dan seiring dengan perkebangan kota

Palembang, saat ini RS. RK Charitas justru terletah ditengah-tengah kota.

Dalam kurun waktu yang cukup lama RS. RK. Charitas merupakan satu-

satunya rumah sakit di Sumatera Selatan dan sampai tahun 1947 tenaga

perawat dan bidan didatangkan dari rumah induk konggregasi Roosedal-

Negeri Belanda.

Rumah sakit RK. Charitas mendapat pengesahan secara resmi

dengan surat-suratnya:

a. Permohonan pengembalian RS. RK. Charitas Palembang oleh Moeder

M. Alacoque selaku Direktris/ Ketua Konggregasi Suster Charitas

Indonesia No. 208/ AC, tanggal 14 April 1948.

b. Surat rekomendasi dari Central Misse Bureau, tanggal 21 Appril 1948

No. 314.

Page 43: contoh bagus

43

c. Surat rekomendasi dari Gouv, Secretariat, tanggal 27 Februari 1948,

No. 17824.

d. Surat Keputusan dari Dients der Volk Gezondheid (DVD) yang isinya:

memutuskan pengembalia RS. RK. Charitas Palembang terhitung 1

Juli 1948 kepada konggregasi Charitas termasuk pengelolaannya. Surat

Keputusan ini dikeluarkan pada tanggal 25 Agustus 1948

ditandatangani oleh Sekretaris Kepala Departemen Kesehatan Batavia

Dr. Y. E. Karamoy.

RS. RK. Charitas memiliki unit-unit sampai ke daerah-daerah

maka, untuk mempermudah pengelolaan pada tanggal 3 November 1981

dibentuk Yayasan “RS. RK. Charitas” dengan Akta Pendirian No. 8 yang

membawa RS. RK. Charitas.

2. Identitas Rumah Sakit

a. Nama Rumah Sakit : RS. RK. Charitas Palembang

b. Alamat : Jl. Jend. Sudirman No. 1054 Palembang

c. Telepon : 0711-353374, 353375

d. Faksimile : 0711-362205

e. Email : [email protected]

f. Tipe : B/ Madya

g. Luas tanah/ bangunan : 24.121 m²/ 16.061 m²

h. Akreditasi : terakreditasi 12 bidang pelayanan

3. Jumlah Tempat Tidur

Page 44: contoh bagus

44

RS. RK. Charitas memiliki 370 tempat tidur.

4. Sumber Daya Manusia

Jumlah keseluruhan karyawan di RS. RK. Charitas Palembang

adalah 1062 orang.

Tenaga keperawatan di RS. RK. Charitas Palembang berjumlah

403 orang dengan jumlah tenaga perawat 206 orang, jumlah tenaga

bidan 50 orang, dan 147 orang tenaga perawat yang berpendidikan

SPR/ SPK.

5. Falsafah, Visi, Misi dan Tujuan RS. RK. Charitas Palembang

a. Falsafah

Dengan dilandasi cinta kasih ilahi, dalam kegembiraan dan

kesederhanaan, memberikan pelayanan kesehatan bagi sesama

sebagai manusia seutuhnya dengan tidak membedakan suku,

bangsa agama, dan golongan terutama mereka yang lemah dan

kurang mendapat perhatian

b. Visi

Tahun 2015 menjadi rumah sakit terbaik di Indonesia

dalam keselamatan pasien dan mutu pelayanan, yang mampu

menyenangkan pelanggan.

c. Misi

Page 45: contoh bagus

45

1) Memberikan pelayanan sesuai standar pelayanan terkini

didukung dengan IPTEK dan SDM yang profesional dengan

biaya yang terjangkau oleh masyarakat.

2) Memberikan pelayanan yang paripurna, bersifat transparan,

aman, adil, bertanggung jawab, akuntabilitas, dan berlandaskan

dimensi spiritualitas.

3) Menciptakan SDM yang kompeten, berempati, berperilaku

baik, visioner dan mengembangkan budaya komunikasi dengan

sikap mendengarkan, membangun kerja sama, dialog

interpesonal, jernih dalam berpikir, berbicara, dan bertindak.

4) Memperhatikan kesejahteraan karyawan dan memperlakukqan

karyawan sebagai keluarga besar RS. RK. Charitas.

d. Tujuan

1) Terselenggaranya sistem pelayanan kesehatan sesuai standar

pelayanan terkini didukung dengan IPTEK dan SDM yang

profesional dengan biaya yang terjangkau oleh masyarakat.

2) Terselenggaranya sistem pelayanan yang paripurna, bersifat

transparan, aman, adil, bertanggungjawab, akuntabilitas, dan

berlandaskan dimensi spiritualitas.

3) Terciptanya sumber daya manusia yang kompeten, berempati,

berperilaku baik, visioner, dan mengembangkan budaya

komunikasi dengan sikap mendengarkan, membangun

Page 46: contoh bagus

46

kerjasama, dialog interpersonal, jernih dalam berpikir,

berbicara, dan bertindak.

4) Terbangunnya kerja sama antar rumah sakit RK. Charitas

dengan pemerintah dan dinas kesehatan provinsi sumatera

selatan, fasilitas kesehatan (pemerintah/ swasta) lainnya serta

pihak yang berkepentingan (stakeholders) yang dilandasi

dengan prinsip kemitraan perundang-undangan dibidang

pelayanan kesehatan yang terkait.

5) Terselenggaranya pelayanan unggulan medik dan keperawatan.

6) Meningkatkan kesejahteraan karyawan sebagai keluarga besar

rumah sakit RK. Charitas.

B. Gambaran Umum Paviliun Theresia RS. RK. Charitas Palembang

Paviliun Theresia RS. RK. Charitas Palembang adalah unit

perawatan anak. Paviliun Theresia dibagi atas 2 bagian yaitu Paviliun

Theresia I yaitu unit care perawatan anak, dan Theresia II unit care

perawatan anak khusus anak dengan pre/post operasi. Pemberian metode

pemberian asuhan menggunakan metode asuhan keperawatan.

Sumber daya yang ada di Paviliun Theresia Iadalah terdiri dari 1

orang kepala ruangan, koordinator CI 1 orang berpendidikan D3

Keperawatan, perawat 17 orang dengan 10 orang berpendidikan D3

Keperawatan, 6 orang SPK, 1 orang SPR.

Page 47: contoh bagus

47

Untuk sarana dan prasarana yang dimiliki oleh Paviliun Theresia

RS. RK. Charitas Palembang terdiri dari 49 tempat tidur, yaitu kelas I

terdiri dari 3 kamar, kelas II 20 kamar, dan kelas III 4 kamar dengan 26

tempat tidur.

C. Hasil Penelitian

1. Hasil Analisa Univariat

a. Tingkat pengetahuan ibu tentang penanganan kejang demam pada

balita dirumah, sebelum dirawat di rumah sakit

Analisis ini dilakukan terhadap tiap variabel dari penelitian untuk

mengetahui hubungan dari proporsi dan persentasi dari tiap variabel

Page 48: contoh bagus

48

independen ( pengetahuan) dan variabel dependen (penanganan pertama

kejang demam). Untuk menilai tingkat pengetahuan responden maka

peneliti membuat soal dalam bentuk pertanyaan check list dengan jumlah

soal 5, dengan skor bila jawabannya salah di beri nilai nol dan jika

jawabannya benar di berikan nilai 1.

Data digunakan dalam bentuk tabel dan teks yang dapat dilihat

dibawah ini.

Tabel 5.1

Distribusi Frekuensi Responden Menurut Tingkat Pengetahuan Ibu di Ruang

Keperawatan Anak Paviliun Theresia RS. RK. Charitas Palembang Tahun 2010

No Pengetahuan Frekuensi Persen (%)

1. Sedang 14 41.2

2. Baik 20 58.8

Total 34 100

Dari tabel 5.1 dapat kita lihat bahwa pengetahuan responden lebih dari

separuh yang memiliki pengetahuan baik 58.8% (20 orang). Dan responden

yang memiliki pengetahuan sedang sebanyak 41.2% (14 orang).

b. Sikap ibu tentang penanganan kejang demam pada balita dirumah,

sebelum dirawat di rumah sakit

Analisis ini dilakukan terhadap tiap variabel dari penelitian untuk

mengetahui hubungan dari variabel independen (sikap) dan variabel

dependen (tindakan pertama mengatasi kejang demam). Untuk menilai

Page 49: contoh bagus

49

sikap responden maka peneliti membuat soal dalam bentuk pertanyaan

check list dengan jumlah soal 10, dengan skor bila jawaban pernyataan

yang dijawab responden sangat setuju diberi nilai 3, setuju nilai 2, tidak

setuju 1, sangat tidak setuju 0.

Data digunakan dalam bentuk tabel dan teks yang dapat dilihat

dibawah ini.

Tabel 5.2

Distribusi Frekuensi Responden Menurut Sikap Ibu di Ruang Keperawatan

Anak Paviliun Theresia RS. RK. Charitas Palembang Tahun 2010

No Sikap Frekuensi Persen(%)

1. Negatif 19 55.9

2. Positif 15 44.1

Total 34 100

Dari tabel 5.2 dapat kita lihat bahwa sikap responden lebih dari

separuh yang memiliki sikap negatif yaitu sebanyak 55.9% (19 orang).

Dan responden yang memiliki sikap positif sebanyak 44.1% (15 orang).

c. Tingkat pendidikan ibu tentang penanganan kejang demam pada

balita dirumah, sebelum dirawat di rumah sakit

Analisis ini dilakukan terhadap tiap variabel dari penelitian untuk

mengetahui hubungan dari proporsi dan persentasi dari tiap variabel

independen ( pendidikan) dan variabel dependen (penanganan pertama

Page 50: contoh bagus

50

kejang demam). Untuk menilai tingkat pendidikan responden maka

peneliti membagi menjadi dua kategori, yaitu pendidikan rendah (SD-

SMP), pendidikan tinggi (SMA-PT).

Data digunakan dalam bentuk tabel dan teks yang dapat dilihat

dibawah ini.

Tabel 5.3

Distribusi Frekuensi Responden Menurut pendidikan Ibu di Ruang Keperawatan

Anak Paviliun Theresia RS. RK. Charitas Palembang Tahun 2010

No Pendidikan Frekuensi Persen(%)

1. Rendah 7 20.6

2. Tinggi 27 79.4

Total 34 100

Dari tabel 5.3 dapat kita lihat bahwa pendidikan responden lebih

dari separuh yang memiliki pendidikan tinggi yaitu sebanyak 79.4% (27

orang). Dan responden yang memiliki pendidikan rendah sebanyak 20.6%

(7 orang).

d. Tindakan ibu tentang penanganan kejang demam pada balita

dirumah, sebelum dirawat di rumah sakit

Untuk menilai tindakan responden dalam mengatasi kejang

demam dirumah maka peneliti membuat soal dalam bentuk

pertanyaan check list dengan jumlah soal 10, dengan skor bila

Page 51: contoh bagus

51

jawaban pernyataan yang dijawab responden sering diberi nilai 2,

kadang-kadang nilai 1, tidak pernah nilai 0.

Data digunakan dalam bentuk tabel dan teks yang dapat dilihat

dibawah ini.

Tabel 5.4

Distribusi Frekuensi Responden Menurut tindakan Ibu di Ruang Keperawatan

Anak Paviliun Theresia RS. RK. Charitas Palembang Tahun 2010

No Tindakan Frekuensi Persen(%)

1. Kurang 20 58.8

2. Baik 14 41.2

Total 34 100

Dari tabel 5.4 dapat kita lihat bahwa tindakan responden lebih dari

separuh yang memiliki tindakan kurang yaitu sebanyak 58.8% (20 orang).

Dan responden yang memiliki tindakan baik sebanyak 41.2% (14 orang).

Page 52: contoh bagus

52

2. Hasil Analisa Bivariat

a. Analisa ini dilakukan untuk mengetahui hubungan anatara variabel

independen ( pengetahuan) dengan variabel dependen (penanganan

pertama kejang demam)

Dari 34 responden, pada variabel pengetahuan ibu

dikelompokkan menjadi 2 kategori yaitu pengetahuan baik dan

pengetahuan sedang. Sehingga dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 5.5

Hubungan Pengetahuan Responden Dengan Penanganan Pertama Kejang Demam

Pada Balita di Ruang Keperawatan Anak Paviliun Theresia

RS. RK. Charitas Palembang Tahun 2010

Pengetahuan Tindakan pertama kejang demam Total p value

Page 53: contoh bagus

53

Baik Kurang

F % F % F %

Baik 11 55 9 45 20 100 0.109

Sedang 3 21.4 11 78.6 14 100

Total 14 41.2 20 58.8 34 100

Dari table diatas, responden dengan kategori pengetahuan baik dari 20

responden yang melakukan tindakan pertama mengatasi kejang dengan baik

sebanyak 11 responden (55 %), dan pada responden dengan kategori pengetahuan

sedang dari 14 responden yang melakukan tindakan pertama mengatasi kejang

dengan baik sebanyak 3 responden (21.4%).

Hasis uji statistik Chi-Square didapatkan p value 0.109 dengan batas

kemaknaan α = 0.05 berarti p value lebih besar dari α, maka disimpulkan tidak

ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan responden dengan tindakan

pertama mengatasi kejang demam dan hipotesis yang menyatakan ada hubungan

antara pengetahuan dengan tindakan pertama mengatasi kejang demam ditolak.

Page 54: contoh bagus

54

b. Analisa ini dilakukan untuk mengetahui hubungan anatara variabel

independen (sikap) dengan variabel dependen (tindakan pertama

mengatasi kejang demam).

Dari 34 responden, pada variabel sikap ibu dikelompokkan

menjadi 2 kategori yaitu sikap positif dan sikap negatif. Sehingga

dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 5.6

Hubungan Sikap Responden Dengan Penanganan Pertama Kejang

Demam Pada Balita di Ruang Keperawatan Anak Paviliun

Theresia RS. RK. Charitas Palembang Tahun 2010

Sikap Tindakan pertama kejang demam Total p value

Baik Kurang

Page 55: contoh bagus

55

F % F % F %

Positif 7 46.7 8 53.3 15 100 0.820

Negatif 7 36.8 12 63.2 19 100

Total 14 41.2 20 58.8 34 100

Dari table diatas, responden dengan kategori sikap positif dari 15

responden yang melakukan tindakan pertama mengatasi kejang dengan baik

sebanyak 7 responden (46.7 %), dan pada responden dengan kategori sikap

negatif dari 19 responden yang melakukan tindakan pertama mengatasi kejang

demam dengan baik sebanyak 7 responden (36.8%).

Hasis uji statistik Chi-Square didapatkan p value 0.820 dengan batas

kemaknaan α = 0.05 berarti p value lebih besar dari α, maka disimpulkan tidak

ada hubungan yang bermakna antara sikap responden dengan tindakan pertama

mengatasi kejang dan hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara sikap

dengan tindakan pertama mengatasi kejang ditolak.

Page 56: contoh bagus

56

c. Analisa ini dilakukan untuk mengetahui hubungan anatara variabel

independen (pendidikan) dengan variabel dependen (penanganan

pertama kejang demam)

Dari 34 responden, pada variabel pendidikan ibu

dikelompokkan menjadi 2 kategori yaitu Pendidikan tinggi dan

pendidikan rendah Sehingga dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 5.7

Hubungan Pendidikan Responden Dengan Penanganan Pertama Kejang Demam

Pada Balita di Ruang Keperawatan Anak Paviliun Theresia

RS. RK. Charitas Palembang Tahun 2010

Pendidikan Tindakan pertama kejang demam Total p value

Baik Kurang

Page 57: contoh bagus

57

F % F % F %

Tinggi 9 33.3 18 66.7 27 100 0.097

Rendah 5 71.4 2 28.6 7 100

Total 14 41.2 20 58.8 34 100

Dari tabel diatas, responden dengan kategori pendidikan tinggi dari 27

responden yang melakukan tindakan pertama mengatasi kejang dengan baik

sebanyak 9 responden (33.3%), dan pada responden dengan kategori pendidikan

rendah dari 7 responden yang melakukan tindakan pertama mengatasi kejang

dengan baik sebanyak 5 responden (71.4%).

Hasis uji statistik Chi-Square didapatkan p value 0.097 dengan batas

kemaknaan α = 0.05 berarti p value lebih besar dari α, maka disimpulkan tidak

ada hubungan yang bermakna antara pendidikan responden dengan tindakan

pertama mengatasi kejang demam dan hipotesis yang menyatakan ada hubungan

antara pendidikan dengan tindakan pertama mengatasi kejang demam ditolak.

Page 58: contoh bagus

58

D. Pembahasan Hasil Penelitian

HASIL ANALISA UNIVARIAT

1. Tingkat pengetahuan ibu tentang penanganan kejang demam

pada balita dirumah, sebelum dirawat di rumah sakit

Pada penelitian ini pengetahuan responden lebih dari separuh

yang memiliki pengetahuan baik 58.8% (20 orang). Dan responden

yang memiliki pengetahuan sedang sebanyak 41.2% (14 orang).

Dikarenakan banyaknya responden yang memiliki pengetahuan

baik, maka dalam melakukan penelitian ini, peneliti tidak banyak

menemukan kesulitan yang berarti. Dengan pendidikan yang baik

maka responden akan mengetahui apa itu penyakit kejang demam,

Page 59: contoh bagus

59

apa tanda dan gejala dari penyakit kejang demam, dan bagaimana

penanganan dari penyakit kejang demam itu sendiri.

2. Sikap ibu tentang penanganan kejang demam pada balita

dirumah, sebelum dirawat di rumah sakit

Pada penelitian ini sikap responden lebih dari separuh yang

memiliki sikap negatif yaitu sebanyak 55.9% (19 orang). Dan

responden yang memiliki sikap positif sebanyak 44.1% (15 orang).

Dikarenakan masih banyaknya sikap responden yang

memiliki sikap negative, maka dari itu Mengingat keterkaitkan hal

ini penting bagi petugas kesehatan untuk memberikan informasi

yang lebih jelas, menyeluruh dan terpadu kepada ibu-ibu balita

guna meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan motivasi mereka

untuk melakukan tindakan pertama mengatasi kejang demam pada

balita sebelum dirawat di rumah sakit dengan baik.

3. Tingkat pendidikan ibu tentang penanganan kejang demam pada

balita dirumah, sebelum dirawat di rumah sakit

Pada penelitian pendidikan responden lebih dari separuh

yang memiliki pendidikan tinggi yaitu sebanyak 79.4% (27 orang).

Dan responden yang memiliki pendidikan rendah sebanyak 20.6%

(7 orang).

Dengan berkembangnya zaman pendidikan semakin

meningkat. Tidak dapat dipungkiri pendidikan berkembang dengan

pesat juga di Indonesia. Ibu berpendidikan tinggi akan lebih mudah

Page 60: contoh bagus

60

mencerna informasi yang didapat, dibandingkan ibu yang

berpendidikan rendah. Semakin banyak informasi yang diterima

ibu tentang bagaimana cara tindakan pertama mengatasi kejang

demam pada balita sebelum dirawat di rumah sakit maka ankan

meningkatkan kemandirian dan keseriusan ibu untuk melakukan

tindakan pertama mengatasi kejang demam pada balita sebelum

dirawat di rumah sakit.

4. Tindakan ibu tentang penanganan kejang demam pada balita

dirumah, sebelum dirawat di rumah sakit.

Tindakan responden lebih dari separuh yang memiliki

tindakan kurang yaitu sebanyak 58.8% (20 orang). Dan responden

yang memiliki tindakan baik sebanyak 41.2% (14 orang).

Pada penelitian kebanyakan responden masih belum

mengetahui bagaimana cara penanganan kejang demam pada balita

dirumah, sebelum dirawat di rumah sakit. Oleh karena itu dengan

penyuluhan oleh tenaga kesehatan ataupun dengan membaca

selebaran atau dari media cetak, diharapkan Semakin banyak

informasi yang diterima ibu tentang bagaimana cara tindakan

pertama mengatasi kejang demam pada balita sebelum dirawat di

rumah sakit maka ankan meningkatkan kemandirian dan

keseriusan ibu untuk melakukan tindakan pertama mengatasi

kejang demam pada balita sebelum dirawat di rumah sakit.

Page 61: contoh bagus

61

HASIL ANALISA BIVARIAT

1. Hubungan Pendidikan dengan Tindakan Pertama Mengatasi

Kejang Demam Pada Balita Sebelum Dirawat di Rumah Sakit.

Pada penelitian ini jumlah responden dengan kategori

berpendidikan rendah sebanyak 7 responden dan kategori

responden yang berpendidikan tinggi sebanyak 27 responden. Dari

7 responden kategori berpendidikan rendah yang melakukan

tindakan pertama mengatasi kejang demam dengan baik sebanyak

5 responden (71.4%), dan dari 27 responden kategori

berpendidikan tinggi yang melakukan tindakan pertama mengatasi

kejang demam dengan baik sebanyak 9 responden (33.3%).

Page 62: contoh bagus

62

Dari uji hasil statistik Chi-Square diperoleh p value 0.097

dengan batas kemaknaan α = 0.05 berarti p value lebih besar dari α,

maka disimpulkan tidak ada hubungan yang bermakna antara

pendidikan responden dengan tindakan pertama mengatasi kejang

demam dan hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara

pendidikan dengan tindakan pertama mengatasi kejang demam

ditolak.

Pendidikan merupakan suatu proses yang akan

menghasilkan perubahan prilaku. Secara konkret perubahan prilaku

tersebut berbentuk peningkatan kesadaran dan kemampuan dari

sasaran pendidikan (Notoatmojo 2003). Sesuai dengan pernyataan

tersebut pendidikan adalah salah satu faktor penting yang

mendukung dan mendorong seorang ibu untuk dapat melakukan

tindakan pertama mengatasi kejang demam pada balita sebelum

dirawat di rumah sakit. Pendidikan yang baik akan membentuk

pola pengetahuan yang baik terhadap seorang individu.

Pendidikan ibu merupakan suatu hal yang penting dalam

meningkatkan pengetahuan ibu tentang tindakan pertama

mengatasi kejang demam pada balita sebelum dirawat di rumah

sakit, dengan pendidikan yang baik maka ibu akan mengetahui

bagaimana cara mengatasi kejang demam pada balita sebelum

dirawat dirumah sakit sehingga dengan ibu berpendidikan tinggi

akan lebih mudah mencerna informasi yang didapat, dilihat baik

Page 63: contoh bagus

63

secara langsung misalnya dengan penyuluhan oleh tenaga

kesehatan ataupun dengan membaca selebaran atau dari media

cetak. Semakin banyak informasi yang diterima ibu tentang

bagaimana cara tindakan pertama mengatasi kejang demam pada

balita sebelum dirawat di rumah sakit maka ankan meningkatkan

kemandirian dan keseriusan ibu untuk melakukan tindakan pertama

mengatasi kejang demam pada balita sebelum dirawat di rumah

sakit.

2. Hubungan Pengetahuan dengan Tindakan Pertama Mengatasi

Kejang Demam Pada Balita Sebelum Dirawat di Rumah Sakit.

Pada penelitian ini jumlah responden dengan kategori

berpengetahuan sedang sebanyak 14 responden dan kategori

responden berpengetahuan baik sebanyak 20 responden. Dari 14

responden berpengetahuan sedang yang melakukan tindakan

pertama mengatasi kejang demam pada balita sebelum dirawat di

rumah sakit dengan baik sebanyak 3 responden (21,4%). Dan dari

20 responden berpengetahuan baik yang melakukan tindakan

Page 64: contoh bagus

64

pertama mengatasi kejang demam sebelum dirawat di rumah sakit

dengan baik sebanyak 11 responden (55.0%).

Dari hasil uji statistik Chi-Square didapatkan p value 0.109

dengan batas kemaknaan α = 0.05 berarti p value lebih besar dari α,

maka disimpulkan tidak ada hubungan yang bermakna antara

pengetahuan responden dengan tindakan pertama mengatasi kejang

demam dan hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara

pengetahuan dengan tindakan pertama mengatasi kejang demam

ditolak.

Teori menunjukkan bahwa pengetahuan didapat dari belajar

dan belajar itu sendiri merupakan hasil dari asosiasi antara stimulus

dan respon sehingga pemecahan masalah dapat dihadapi.

Pengetahuan juga merupakan bentuk tahu dari manusia yang

diperoleh dari pengetahuan , akal, pikiran seseorang melakukan

penginderaan terhadap objek tertentu yang pada akhirnya

memungkinkan seseorang untuk melakukan suatu tindakan.

(Notoatmojo, 2003).

Adanya kecenderungan melakukan tindakan pertama

mengatasi kejang demam pada balita sebelum dirawat di rumah

sakit dengan baik oleh kelompok ibu yang memiliki pengetahuan

baik, dikaitkan oleh adanya kesadaran dari diri mereka akan

manfaat atau pentingnya pelayanan kesehatan dan penyuluhan

Page 65: contoh bagus

65

kesehatan tentang pentingnya melakukan tindakan pertama

mengatasi kejang demam pada balita sebelum dirawat di rumah

sakit dengan baik, sehingga mereka mempunyai motivasi dan

kesadaran yang lebih baik untuk melakukan tindakan pertama

mengatasi kejang demam pada balita sebelum dirawat di rumah

sakit dengan baik. Mengingat keterkaitkan hal ini penting bagi

petugas kesehatan untuk memberikan informasi yang lebih jelas,

menyeluruh dan terpadu kepada ibu-ibu balita guna meningkatkan

pengetahuan, kesadaran dan motivasi mereka untuk melakukan

tindakan pertama mengatasi kejang demam pada balita sebelum

dirawat di rumah sakit dengan baik.

3. Hubungan Sikap dengan Tindakan Pertama Mengatasi Kejang

Demam Pada Balita Sebelum Dirawat di Rumah Sakit.

Pada penelitian ini jumlah responden dengan kategori sikap

negatif sebanyak 19 responden dan kategori responden yang

mempunyai sikap positif sebanyak 15 responden. Dari 19

responden kategori bersikap negatif yang melakukan tindakan

pertama mengatasi kejang demam dengan baik sebanyak 7

responden (36.8%), dan dari 15 responden kategori bersikap

Page 66: contoh bagus

66

positif yang melakukan tindakan pertama mengatasi kejang demam

dengan baik sebanyak 7 responden (46.7%).

Sikap dikatakan sebagai suatu respon evaluative. Respon

hanya akan timbul apabila individu dihadapkan pada suatu

stimulus yang menghendaki adanya reaksi individual. Respon

evaluative berarti bahwa bentuk reaksi yang dinyatakan sebagai

sikap itu timbulnya didasari oleh proses evaluasi dalam diri

individu yang memberi kesimpulan pada stimulus dalam bentuk

nilai baik-buruk, positif-negatif, menyenangkan-tidak

menyenangkan, yang kemudian mengkristal sebagai potensi reaksi

terhadap objek sikap.Sikap adalah kebiasaan berpikir dan

kebiasaan dalam berpikir tersebut dapat dilatih. Dan, suatu

tindakan yang selalu diulang akan menjadi suatu sikap (Azwar,

1998).

Sedangkan menurut Notoadmojo,(2003) sikap merupakan

reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap

suatu stimulus atau objek. Sikap belum merupakan suatu tindakan

atau aktifitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu

prilaku.

Adanya kecenderungan melakukan tindakan pertama

mengatasi kejang demam pada balita sebelum dirawat di rumah

sakit dengan baik oleh kelompok ibu yang memiliki sikap positif

terhadap pentingnya melakukan tindakan pertama mengatasi

Page 67: contoh bagus

67

kejang demam pada balita sebelum dirawat di rumah sakit dengan

baik, sehingga mereka mempunyai motivasi dan kesadaran yang

lebih baik untuk melakukan tindakan pertama mengatasi kejang

demam pada balita sebelum dirawat di rumah sakit dengan baik.

Mengingat keterkaitkan hal ini penting bagi petugas kesehatan

untuk memberikan informasi yang lebih jelas, menyeluruh dan

terpadu kepada ibu-ibu balita guna meningkatkan pengetahuan,

kesadaran dan motivasi mereka untuk melakukan tindakan pertama

mengatasi kejang demam pada balita sebelum dirawat di rumah

sakit dengan baik.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Page 68: contoh bagus

68

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab V, peneliti

menyimpulkan hal-hal sebagai berikut:

1. Kategori pendidikan responden yang berpendidikan tinggi sebesar 27

responden (79.4%) dan responden yang berpendidikan rendah sebesar

7 responden (20.6%).

2. Kategori pengetahuan responden yang mempunyai pengetahuan baik

sebesar 20 responden (58.8%) dan yang mempunyai pengetahuan

sedang sebesar 14 responden (41.2%).

3. Kategori sikap responden yang mempunyai sikap positif sebesar 15

responden (44.1%) dan yang mempunyai sikap negative sebesar 19

orang (55.9%).

4. Kategori tindakan responden yang mempunyai tindakan baik sebesar

14 responden (41.%) dan yang mempunyai tindakan kurang sebesar 20

responden (58.8%).

5. Tidak ada hubungan yang bermakna antara pendidikan, pengetahuan,

dan sikap dengan tindakan pertama mengatasi kejang demam di

paviliun Theresia RS. RK. Charitas Palembang.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas, maka peneliti mengajukan saran-saran

sebagai berikut:

1. Hendaknya petugas kesehatan lebih meningkatkan pemberian

penyuluhan tentang tindakan pertama mengatasi kejang demam dengan

Page 69: contoh bagus

69

berbagai metode, salah satunya dengan menggunakan media cetak,

dengan membuat leaflet tentang tindakan pertama dalam mengatasi

kejang demam pada balita sebelumdirawat di rumah sakit, dan dapat

diberikan langsung kepada ibu-ibu yang pernah melakukan perawatan

balita di rumah sakit.

2. Hendaknya pihak paviliun Theresia mendampingi ibu-ibu yang sedang

melakukan perawatan balita di rumah sakit agar ibu merasa lebih

tenang dan nyaman atas informasi yang didapat dari perawat yang

sedang bertugas.

3. Hendaknya dilakukan penelitian lanjutan dengan sampel yang lebih

besar, variabel penelitian yang luas dan dengan desain penelitian serta

uji statistik yang berbeda.